Serial MINAL ‘ÂIDÎN (5) KEMBALIKAN TRADISI SALING MEMAAFKAN

ISLAMIC (97)

Di #RamadanDay21 mari kita lanjutkan telaah serial minal ‘âidîn yang kelima.

Memohon maaf ketika salah adalah akhlak, budi pekerti yang tinggi. Rasulullah shallalLâhu ‘alaihi wasallam mengajarkan demikian kepada para sahabatnya. Berikut adalah kisah permohonan maaf yang dahsyat di antara mereka.

Dalam sebuah majelis, para sahabat berkumpul. Rasulullah shallalLâhu ‘alaihi wasallam tidak berada di tengah-tengah mereka. Ada Khalid bin Walid, Abdurrahman bin Auf, Bilal bin Rabah, Abu Dzar dan beberapa sahabat lainnya. Mereka mendiskusikan sebuah masalah. Abu Dzar al-Ghifari mengusulkan sesuatu, “Saya memiliki usulan, jika dalam tentara kita begini… begitu… dan seterusnya…”. Belum selesai perkataan Abu Dzar, tiba-tiba Bilal berkata, “Usulan seperti ini tidak benar!”.

Abu Dzar kecewa dan marah, kemudian ia berkata, “Sampai engkapun berani menyalahkanku, wahai anak orang hitam!”

Dengan marah pula Bilal berdiri, ia tersinggung dan berkata, “Demi Allah, aku akan melaporkan kepada Rasulullah”. Kemudian ia pun segera bergegas menghadap Rasulullah shallalLâhu ‘alaihi wasallam. Setiba di sana Bilal menyeru, “Wahai Rasulullah, apakah engkau tahu apa yang dikatakan Abu Dzar tentang diriku?”

Rasulullah shallalLâhu ‘alaihi wasallam menjawab, “Apa yang ia katakana tentangmu?”

Bilalpun menjelaskan, “Ia mengatakan ini dan itu…”

Wajah Rasulullah shallalLâhu ‘alaihi wasallam berubah. Dipanggilnya Abu Dzar dan dimarahi dengan dahsyat, “Wahai Abu Dzar, apakah engkau juga mengina ibunya? Sungguh di dalam dirimu masih terdapat sifat jahiliyah!”

Abu Dzar tersentak. Ia tak mengira Rasulullah shallalLâhu ‘alaihi wasallam akan marah sedemikian dahsyatnya. Ia pun menangis dan segera mendekati Rasulullah.

“Ya Rasulallah, mohonkan ampunan untukku. Mintalah kepada Allah ampunan untukku” kemudian ia pun keluar masjid sambil terus menangis. Ia kemudian menjumpai Bilal. Tiba-tiba ia meletakkan pipi kanannya di tanah dekat kaki Bilal. Bilal terkejut dan berkata, “apa yang kamu lakukan Abu Dzar?”

“Demi Allah, aku takkan mengangkat wajahku, sebelum engkau injakkan kakimu di atasnya” pinta Abu Dzar kepada Bilal, “Engkaulah yang lebih mulia, sedangkan aku yang hina!”

Air mata Bilal tak terbendung. Ia angkat wajah saudaranya Abu Dzar, ia bersihkan pipinya dari debu dan diciuminya. Ia peluk erat dan berkata, “Demi Allah, Aku takkan pernah menginjak wajah yang bersujud pada Allah sekali saja. Bagaimana mungkin kulakukan di wajah yang ku saksikan setiap hari bersujud kepada-Nya?”

Begitulah akhlak keduanya. Mencontohkan kepada kita bahwa para sahabat pun manusia yang bisa saja berlaku salah atau menyakiti perkataannya. Namun, luar biasa saat mereka meminta maaf. Saat mereka member maaf. Itu lah akhlak yang kita rindukan saat ini.

Bukan sekali, mungkin puluhan atau lebih, ada kata-kata kita yang menyakiti saudara kita tapi bibir kita berat untuk mengatakan, “Afwan akhi, maaf kan saya”

Sebagian kita melukai perasaannya, dengan melabeli pada hal-hal yang tak disukai dan membuatnya sedih atau marah. Bibir kita juga berat meminta maaf.

Sebagian juga mungkin berani menelanjangi kehormatan saudaranya tapi ia enggan untuk sekedar mengatakan, “MAAF”

Permintaan maaf adalah sebuah tradisi kebaikan dan akhlak serta perilaku peradaban yang tinggi.

Allah, menggambarkan seburuk-buruk dan serapuh-rapuh rumah adalah rumah laba-laba. Padahal menurut sains jaring laba-laba sangatlah kuat. Kekuatannya bahkan bisa dikatakan melebihi baja buatan manusia. Para saintis menyebutnya dengan “biobaja”. Lantas mengapa Allah menyebutnya sebagai rumah yang sangat rapuh.

Pertama, fungsi rumah laba-laba tidaklah melindungi para penghuninya. Ia berfungsi menjebak mangsa.

Kedua, rapuhnya rumah itu bukan pada jaring atau bangunannya yang kokoh secara ilmiah. Tetapi kerapuhannya terletak pada para penghuninya, laba-laba itu sendiri. Jika sudah memiliki anak, maka laba-laba betina membunuh suaminya. Anak-anak mereka pun saling memakan dan membunuh saudaranya. Laba-laba, hidup dalam sebuah rumah yang tak mengenal cinta dan kasih sayang.

Janganlah kita tiru perilaku buruk laba-laba tersebut. Memiliki rumah kokoh tetapi tak ada cinta dan kasih sayang di dalamnya.

Di hari yang istimewa ini mari renungkan dan tadabburi dengan kuat doa yang diajarkan Rasulullah shallalLâhu ‘alaihi wasallam, “اللهم انك عفو كريم تحب العفو فَاعْفُوا عنا”

Dengan ini, saya juga memohon maaf kepada Anda. Dan kepada siapapun juga. Terutama kepada kaum muslimin dan muslimat. Para guru dan sahabat. Teman dan tetangga. Keluarga dekat dan jauh. Semua orang yang pernah berinteraksi dengan saya.

Sudah pasti ada kata dan perilaku yang menyinggung, disengaja atau tidak, disadari atau tidak dan saya belum sempat mengucapkan kata maaf.

“MOHON MAAF LAHIR BATIN”

 

#RamadanDay21

Alfaqîr Saiful Bahri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s