Serial MINAL ‘ÂIDÎN (2) KEMBALIKAN TRADISI CINTA DAN PERSAUDARAAN

ISLAMIC (13)

Di #RamadanDay14 mari kita lanjutkan telaah minal ‘âidîn yang kedua. Kali ini kita akan berbicara tentang cinta dan persaudaraan. Tentang sebuah kisah nyata dari negeri cinta.

Alkisah, sahabat Ali bin Abi Thalib ra hendak sarapan. Ia bertanya kepada istrinya, pagi itu hidangan apa yang akan mereka santap. Fatimah menjawab sedih, bahwa mereka tak memiliki apa-apa. Makanan terakhir mereka sudah dimakan oleh anak-anak mereka semalam. Pagi itu tiada sarapan untuk Ali dan anak istrinya.

Ali bergegas bangkit. Kondisi lapar dan keadaannya keluarganya tak menjadikannya lesu dan lemah. Justru sebaliknya, ia bersemangat segera keluar rumah untuk mencari rizki Allah menafkahi keluarganya. Hari yang sulit, dilaluinya dengan penuh semangat. Terik matahari yang membakar tak membuat nyalinya menyusut.

Siang yang panas itu dengan jelas menggambar mukanya yang berpeluh. Ia telah menggenggam beberapa keping dirham. Penuh syukur, wajahnya berseri menyiratkan tanda gembira. Ia bersiap untuk segera pulang. Bahagiakan anak istrinya.

Di perjalanan, ia bersua dengan sahabat karibnya. Al-Miqdad saudara seimannya. Wajahnya pucat, badannya basah oleh keringat. Tergurat keletihan yang sangat dalam dirinya. Ia bertanya kabar. Al-Miqdad membalas dengan senyuman yang tertahan. Ali membaca dengan samar tumpukan duka di wajahnya.

“Demi Tuhan yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, aku takkan menggerakkan kedua tepalak kakiku sebelum engkau bicara jujur kepadaku apa masalahmu saudaraku?” Ali mengguncangkan badan al-Miqdad. Lirih, ia menjawab bahwa telah dua hari lewat ia tak sanggup memberi makan istri dan anak-anaknya.

Ali tertegun sejenak kemudian mencengkeram bahu sahabatnya. Ia mengangkatnya seraya berdiri.

“Saudaraku, terimalah ini. Meski tak banyak, terimalah. Bergegaslah pulang. Beri makan keluargamu!” Ali meraih tangan kanan saudaranya, al-Miqdad ia berikan beberapa dirham yang didapatkannya hari itu.

Miqdad merangkulnya bahagia. Ia berterima kasih dan segera melaksanakan apa yang dikatakan saudaranya, Ali.

Ali menatap tubuh al-Miqdad menjauh dan kemudian menghilang.

Sejenak kemudian, ia kebingungan. Apa yang akan dibawanya pulang. Kegundahan yang kemudian menghantarkannya untuk menuju Masjid Nabawi menjelang sore. Di masjid itu Ali berjumpa dengan mertuanya, Nabi Muhammad SAW. Wajah tegarnya membuatnya kembali tersengat semangat. Senyum ramahnya membuatnya sesaat dukanya sirna. Tatapan wibawanya, membuatnya takzhim dan membalasnya.

“Bagaimana keadaanmu Ali?” Sang mertua bertanya kepada menantunya, Ali.

“Alhamdulillah baik, wahai Rasulallah” Ali menjawab santun.

Kalimat-kalimat selanjutnya lah yang kemudian membuat Ali benar-benar tertegun. Rasulullah SAW menyatakan bahwa mala mini beliau berhasrat ingin makan malam di rumah Ali!

Deg. Jantung Ali serasa berhenti sejenak. Ali mengiyakan apa yang dikatakan oleh mertuanya, Nabi Muhammad SAW. Malamnya dengan langkah ragu Ali mengiringi manusia agung itu bertamu ke rumahnya. Keringat dinginnya terus keluar sambil berpikir apa yang akan dihidangkan untuknya.

Setiba dirumahnya, wajah ceria Fatimah menyambut dengan suka cita. Ali keheranan. Karena saat melepasnya pagi tadi wajahnya pucat dan lesu. Keheranannya bertambah ketika istrinya mempersilakan mereka untuk bersiap menyantap hidangan makan malam.

“Wahai suamiku, wahai ayahku. Aku telah menyiapkan hidangan makan malam untuk kalian”

Terbengong Ali menatap istrinya. Fatimah merasa tatapan aneh suaminya membawa curiga, ia pun segera berkata, “Maaf suamiku. Sore tadi ada seseorang membawa pesan dari sahabatmu, fulan. Ia berkirim makanan untukmu dan keluargamu”

Rasulullah SAW tersenyum, menambahkan. “Ali, menjelang sore tadi Jibril mendatangiku. Ia menyuruhku untuk makan malam di rumahmu”

Wajah Ali berseri-seri. Tiada henti ia bertahmid memuji Dzat yang Maha Pemurah dan Penyayang.

Itulah sepenggal kisah persaudaraan yang nyata. Bukan sebuah dongeng. Ada puluhan bahkan ratusan kisah serupa. Menjelang Muhajirin hijrah ke Madinah, sahabat Anshar menerima mereka yang bukan siapa-siapa bagi mereka. Kisah cinta dan persaudaraan yang diabadikan sejarah. Yang menjelma menjadi kekuatan dahsyat, saat umat Islam menjalani episode cinta dan persaudaraan dengan baik, maka umat ini benar-benar berwibawa dan bermartabat.

Saatnya kita kembalikan tradisi cinta dan persaudaraan ini. Semoga madrasah Ramadan ini menjadikan diri kita kembali sebagai pribadi-pribadi yang saling mencintai sesame muslim. Sehingga tak ada ruang dalam hati kita bernama dengki dan iri. Cerita saling mengkafirkan hanya menjadi bagian kelam masa lalu yang terkubur dalam-dalam. Orang-orang yang menyulut fitnah, membenci, mencaci dan membenci sahabat Nabi SAW juga tak mendapatkan kesempatan berada di tengah-tengah kisah cinta ini. Takkan ada lagi celah untuk mengadu domba. Takkan ada lagi godaan saling menyalahkan dan memojokkan saudaranya. Yang ada adalah saling topang dan menyintai.

Musuh-musuh takkan berani lagi mengusik umat ini, karena mereka memahami dahsyatnya kekuatan cinta dan persaudaraan.

 

#RamadanDay14

Alfaqîr Saiful Bahri

@L_saba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s