THE UNBEATEN MAN

THE UNBEATEN MAN

Me and Erdogan

The Sick Man adalah sebuah julukan untuk Imperium Turki Usmani di detik-detik akhir menjelang runtuhnya kekhilafahan islamiyah tersebut. Khilafah Usmaniyah resmi tutup dengan dideklarasikannya Turki baru pada tahun 1924.

Namun, kini jika boleh menyebut maka kita lah yang saat ini hidup di dunia yang sedang sakit, the sick world. Lihatlah, stabilitas keamanan kawasan Timur Tengah dan konstalasi politik dunia saat ini, rasanya hanya akan membuat kita sedih dan sulit move on. Khusus untuk Timur Tengah tak ada kata yang pas untuk menggambarkan carut marutnya kondisi. Terlebih kalau membicarakan Suriah (atau Syam) dan Palestina khususnya. Tensi ketegangan, korban kekerasan makin hari makin mencapai pada titik yang tidak manusiawi untuk sebuah peradaban manusia itu sendiri. Darah dan nyawa manusia terasa tida berharga.

Kondisi internal negara-negara kawasan benar-benar berat, baik di dalam negeri atau bersinggungan dengan konflik regional. Libya, Tunis, Yaman, bahkan negara-negara teluk. Khususnya Saudi Arabia yang menjadi salah satu negara adidaya di kawasan terlibat konflik dengan berbagai negara sekitarnya. Secara aktif dengan Yaman yang sedang memerangi kelompok pemberontak Khutsy, secara politik hubungan diplomatic dengan Iran tamat. Dengan Libanon pun kemudian dikabarkan memburuk. Kini ikut masuk pusaran konflik Suriah, berkoalisi bersama Qatar, Turki dan kemudian Pakistan.

Bangsa Palestina makin merana karena konsentrasi negara-negara kawasan makin terpecah-pecah. Terutama pengungsi Palestina di wilayah-wilayah konflik, seperti Suriah. Praktis, kamp pengungsi Palestina di Yarmuk juga berubah dari menjadi tempat yang relatif aman -meski berstatus sebagai penampungan- berubah menjadi neraka dunia yang mengerikan. Mereka pun kemudian mencari jalan keluar dengan berhijrah ke berbagai tempat. Tempat paling banyak diserbu pengungsi Suriah ini tentunya Turki.

Turki adalah fenomena kebangkitan umat Islam. Saat negara-negara kawasan Timur Tengah bermasalah, saat ekonomi dunia mengalami tren menurun, Turki justru bangkit dengan mimpi-mimpi besarnya. Di bawah pemerintahan AKP yang sudah melewati lebih dari satu dasawarsa. Kini memegang tampuk pemerintahan untuk keempat kalinya. Maka, tentunya secara kawasan dan internasional Turki yang Islam tersebut menjadi ancaman global (common enemy) bagi kekuatan status quo yang terjangkit islamophobia.

Bom-bom yang meledak dalam waktu berdekatan di dua kota pentingnya (Ankara dan Istanbul), termasuk belum sepekan yang lalu. Adalah salah satu upaya menjatuhkan mental secara internal serta membangun opini publik dan pencitraan negatif di luar negeri. Sehingga diharapkan daya magis Turki melemah. Magnet pariwisata yang menjadi salah satu nadi perekonomian ikut terpukul, dan kemudian stabilitas nasionalnya ikut terguncang.

Namun, Erdogan adalah seorang politikus dan pemimpin yang cerdas. Ia tidaklah bekerja sendiri membangun negerinya. Ia bahkan bukan menjadi target utama operasi dan konspirasi buruk tersebut. Karena saat ini tak sedikit umat Islam dan termasuk negara-negara non statusquo banyak berharap kepada Turki.

Erdogan adalah wajah politik Islam internasional. Erdogan menjalankan politik ofensif untuk mengamankan sejumlah target dan visi misinya. Cobalah cek konflik-konflik yang mengakibatkan umat Islam tertindas, Erdogan secara umum selalu menjadi yang pertama hadir dan mendukungnya. Kashmir, Rohingya adalah contohnya. Maka tak heran jika permasalahan Bangsa Palestina menjadi prioritas utama dalam proyek besarnya. Dunia terhenyak ketika dengan beraninya Erdogan mengritik PM Israel Simon Perez dalam momen internasional, World Economic Forum 2009 di Davos, Swiss. Mengingat di tahun tersebut Israel dengan brutal melakukan agresi militer ke Gaza.

Hanya saja saat ini masalah yang dihadapi oleh Turki sangat kompleks. Turki “dipaksa” bersinggungan dengan bangsa Kurdi yang berbeda-beda. Bangsa Kurdi yang berada di Turki didorong untuk menjadi oposisi yang radikal, ini diperparah oleh dukungan politis Rusia bahkan Amerika. Bangsa Kurdi yang di Rusia, yang bermetamorfosis dalam Partai Demokrat Suriah berkiblat kepada Amerika. Salah satu anggotanya ditengarai berada di balik otak peledakan bom mobil pekan lalu di Ankara. Anehnya dengan Kurdi Irak, Turki sangat akrab dan bahkan terlibat pelatihan militer bersama. Inilah yang kemudian digunakan oleh media untuk mengaitkan Turki secara mesra dengan ISIS (Islamic State in Iraq and Syria). Maka ikut masuknya Turki ke dalam konflik Suriah adalah dilematis. Tak ada pilihan. Turki harus mengamankan negaranya. Ditambah lagi tekanan serangan-serangan udara Rusia yang semakin brutal di Suria semakin membuat gelombang pengungsi membesar ke arah perbatasan Turki dan tentunya lambat laun akan memperlambat ekonomi Turki. Baik karena keterlibatan dalam operasi militer maupun dalam penanganan pengungsi.

Secara umum ancaman eksternal ini tidaklah mengkhawatirkan selama kondisi internal Turki solid. Maka, memakai oposisi dan pergerakan anti pemerintah adalah modus lain untuk meruntuhkan mental kebangkitan Turki.

Jika Erdogan sering menjalankan politik ofensif ke luar negeri, maka ia memainkan politik mengayomi dan merangkul berbagai kelompok untuk menguatkan pemerintahannya. Ekonomi dan pendidikan adalah aspek utama yang dikuatkannya. Erdogan juga sangat dekat dengan rakyatnya. Ia pandai memaintanance, merawat hubungan emosional dengan bangsanya, dari rakyat jelata hingga pengusaha. Dari para politikus sampai para insinyur. Dari para petani dan pemilik kebun dengan memproteksi hasil-hasil kebun dan pertanian mereka, hingga para nelayan yang terayomi.

Untuk menjaga demografi dan menguatkan populasi pemerintah Erdogan bahkan memberi bonus kepada ibu-ibu yang melahirkan. Bonus yang luar biasa menjadi motivasi untuk menjaga eksistensi di saat bangsa-bangsa lain sedang mengerem angka kelahiran, justru Turki memacunya dengan penuh kepercayaan diri. (selanjutnya bisa dilihat dalam tautan berikut: Dogum Yapan Kadina 720 TL). Para pemuda yang didorong untuk mandiri dan menikah di usia produktif juga mendapat bantuan pernikahan. Kemudahan-kemudahan juga merambah dunia property, sehingga rakyat Turki bisa merealisasikan mimpinya untuk memiliki rumah dan hunian permanen milik sendiri. Sarana komunikasi dan transportasi di Turki cukup menggeliat mengikuti perkembangan modernisasi dan kemajuan teknologi. Fasilitas publik yang semakin baik.

Meskipun demikian, Erdogan tak luput daru usaha-usaha percobaan pembunuhan dan percobaan penggulingan (kudeta). Dalam sebuah kasus percobaan kudeta yang memasuki lapis-lapis keamanan tapi berhasil digagalkan, tentunya dengan izin dan bukti kekuasaan serta pertolongan Allah.

Suatu ketika, Erdogan dijadwalkan akan mendapatkan perlakuan medis yaitu suatu operasi kecil dengan durasi operasi sekitar tiga jam. Itu artinya dalam tiga jam tersebut Erdogan tak bisa diakses oleh orang didekatnya. Menteri Pertahanan dan Ketua Badan Intelijen mendapat order gelap untuk pergi ke Kejaksaan Agung. Saat itulah perintah tak bisa dikonfirmasi ke Erdogan dan jika dalam keadaan genting seperti itu maka negara dalam keadaan genting dan harus diambil alih. Namun, takdir allah tertulis lain. Beberapa saat menjelang operasi Erdogan menunda operasinya, karena ia ingat memiliki janji akan menemui sebuah keluarga miskin yang tak jauh dari rumah sakit. Saat dihubungi oleh dua pejabat penting tersebut, Erdogan mencium sebuah aroma pengkhianatan dan usaha kudeta. Ia pun segera memerintahkan menangkap aktor dibalik usaha kudeta tersebut. Rencana tak berjalan sesuai scenario pengkhianat karena faktanya Erdogan bisa diakses oleh kedua pejabat pentingnya. Lebih dari itu, Allah ingin tunjukkan keajaiban mencintai para dhuafa dan kaum miskin.

Pelemahan tergadap Erdogan, konspirasi internal dan eksternal terhadapnya tidaklah semata untuk menjatuhkan Erdogan seorang diri atau bahkan partainya AKP. Tapi kekuatan statusquo tak ingin menyaksikan Turki yang bangkit menginspirasi dunia Islam lainnya, sehingga peta politik dunia sudah pasti akan berubah dan itulah kiamat bagi kolonialisme dan kapitalisme.

Jika suatu masanya dulu Turki pernah disebut sebagai the sick man, rasanya ungkapan yang tepat justru disematkan pada dunia modern saat ini. Dan di saat yang sama sepertinya lebih pas menyebut Erdogan dan Turki saat ini dengan sebutan the unbeaten man. Semoga bisa menginspirasi kebangkitan dunia Islam lainnya yang sedang di rundung berbagai duka dan menjadi proxy bagi kepentingan berbagai ideologi dunia saat ini. Saatnya kebangkitan segera datang. Allâhu al-Musta’ân.

 

Catatan Keberkahan 37

Jakarta, 22.02.2016

 

DR. SAIFUL BAHRI, M.A

Iklan