TITIK NOL

TITIK NOL

Saiful Bahri

Pagi ini, Jumat 16 Oktober 2015 sepertinya terlihat biasa sebagaimana pagi hari lainnya. Namun, tidak bagi para peserta Forum Internasional ke-7 bagi para aktivis dari berbagai kalangan dan profesi dari berbagai penjuru dunia yang dipertemukan oleh sebuah visi mendukung perjuangan bangsa Palestina meraih kedaulatannya.

Pagi itu di sebuah ruangan yang tak terlalu besar di samping Ballroom Kaya Ramada Hotel, Istanbul, yang oleh panitia disulap menjadi masjid, dipenuhi sesak oleh para peserta dari berbagai negara. Sebagian bahkan memadati ruangan luar karena tempat utama tak cukup menampung para jamaah shalat shubuh yang sangat membludak.

Usai Shalat Shubuh, Ceramah singkat disampaikan oleh Dr. Jamal Amr, seorang peneliti Baitul Maqdis yang juga dosen Universitas Berzeth dan tinggal di Jerusalem.

Beliau memulai dari sebuah perenungan sederhana. Dari sebuah suasana emosional yang dirasakannya saat melaksanakan secara berjamaah shalat shubuh pada pagi hari ini. Jamaah shalat yang saling merapatkan shaff demi member ruang para saudaranya untuk turut serta dalam shalat ini.

Beliau juga mengingatkan bahwa suasana seperti ini juga bisa didapatkan di berbagai tempat di dunia. Semua umat Islam di berbagai tempat mendapatkan kesempatan untuk bisa melakukan shalat berjamaah dan setelah itu berkumpul bersama, kecuali di Masjid al-Aqsha. Berapa banyak dari kaum muslimin hanya bisa melaksanakan shalat di lorong-lorong pintu masuk area Masjid al-Aqsha. Mereka dihadang oleh penjagaan ketat tentara Israel yang menutup pintu masuk di sebagian besar pintu-pintu kompleks Masjid al-Aqsha. “Kita saling merapatkan shaff pagi ini, bagaikan mereka yang berdesakan rapi di pintu Asbath. Sebagian pemuda kukuh bertahan shalat di depan pintu Ghawanimah. Sebagian lagi memadati lorong depan pintu Silsilah dan harus berurusan dengan tongkat-tongkat pentungan tentara Israel dan dibawah todongan senjata-senjata mutakhir mereka.

Para peserta Forum Aktivis Pembela Palestina ini diberikan nikmat Allah yang belum dirasakan bahkan oleh mereka yang berasal dan bermukim di kota Jerusalem. Sebagian besar bahkan hanya bisa menyaksikan tempat transit Isra’ Rasul SAW tersebut di balik pagar-pagar manusia menyeramkan yang kejam dan zhalim. Siapa yang lebih zhalim dari orang yang menghalangi umat ini untuk melaksanakan shalat di masjid-masjid Allah.

Pagi ini usai adzan shubuh ada jeda waktu yang lumayan sebelum dikumandangkan iqamah. Meski demikian masih ada beberapa jamaah yang masbûq. Jika diundur sedikit lagi maka shaff shalat pun akan bertambah banyak. Demikian halnya, -mungkin- tertundanya pembebasan Masjid al-Aqsha adalah takdir Allah untuk memperbanyak lagi shaff-shaff yang akan bergabung dalam kafilah perjuangan ini. Saat gendering perlawanan ditabuh bagaikan seruang perjuangan untuk membebaskan al-Quds dan Masjid al-Aqsha maka takkan ada lagi yang sanggup menahan gelombangnya yang sangat besar dan kuat.

Bagaimana tidak. Mereka dan perjuangan ini terisnpirasi oleh para pejuang yang tangguh. Pejuang yang memulai segala perjuangannya dari titik-titik nol. Dari sebuah titik ketidakberdayaan.

Para pejuang itu adalah para perempuan, tua atau muda yang tak lagi takut melawan tentara Israel yang bersenjara lengkap. Di saat para perempuan umumnya memanjakan perawatan fisiknya.

Anak-anak kecil yang terlihat seolah tak berdaya, mereka gagah berani melawan tentara itu meski hanya dengan batu-batu kecil yang sepertinya tak berpengaruh banyak tapi ternyata menciutkan nyali para tentara yang menghalangi mereka.

Para pejuang yang pernah terjebak berhari-hari di bawah tanah tanpa makan dan minum kecuali beberapa butir kurma dan air yang sangat terbatas.

Bangsa Palestina yang tertekan dengan segudang masalah kezhaliman. Tapi mereka tegar dan terus melawan. Perlawanan dari titik nol yang justru menjadi kekuatan. Titik nol yang berarti meniadakan keberdayaan mereka. Titik nol yang berarti tak punya harapan apa-apa pada manusia. Titik nol berarti seolah kehilangan dunia normalnya. Titik nol berarti sangat nadir dan bukan seperti manusia umumnya. Saat titik nol tersebut justru menjadi kuat karena mereka kemudian melesat naik ke langit mengharap pertolongan dari Sang Maha Kuat, Dzat yang memiliki segala. Dzat yang serba maha yang sanggup mengembalikan kebahagiaan dan kepuasan shalat bersama di pelataran Masjid al-Aqsha.

Dan semua ini adalah masalah waktu. Menunggu saat yang tepat saja. Karena janji Allah tak pernah meleset dan tak pernah dusta. Jamaah shalat shubuh ini lah buktinya. Yang duduk dan shalat adalah mereka dari berbagai penjuru dunia. Masing-masing memiliki benderanya tapi semuanya disatukan dengan sebuah bendera dan keinginan untuk membebaskan Masjid al-Aqsha. Menyertai keberkahan yang diraih Rasulullah di bumi Isra’ Bait al-Maqdis.

Istanbul, 16.10.2015

30 menit menjelang dilaksanakannya opening ceremony Forum Aktivis Pembela al-Quds dan Palestina ke-7 di Istanbul. Sebelumnya sudah dilaksanakan pertemuan para anggota parlemen dunia Islam untuk mendeklarasikan dukungan pembelaan Al-Quds dan Palestina yang dihadiri oleh mantan Sekjen OKI Ekmeleddin İhsanoğlu dan Ketua Aliansi Internasional Pembelaan al-Quds dan Palestina, Su’ud Abu Mahfuzh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s