TANPA NEGARA, TANPA TENTARA

الأقصىTANPA NEGARA, TANPA TENTARA

Saiful Bahri

Nabi Muhammad SAW menjadi orang pertama di zamannya yang shalat di Masjid al-Aqsha. Mewakili umatnya yang masih sangat sedikit jumlahnya. Di saat beliau dirundung duka. Âmul Huzni, sejarah menamakannya demikian.

Su’ud Abu Mahfuzh, Wakil Ketua Umum Aliansi Internasional Pembelaan Al-Quds dan Palestina memulai ceramah subuhnya pagi ini.

Nabi Muhammad SAW diperjalankan Allah, meninggalkan tahun kesedihannya. Ia ke Bait al-Maqdis tanpa pengawalan tentara, karena ia tak memiliki tentara. Bahkan ia adalah seorang pejuang tanpa negara. Tapi Allah berikan nikmat kepadanya untuk menginjakkan kaki di bumi-Nya, menyentuhkan keningnya di tanah suci-Nya. Mengimami para utusan-Nya.

Dan orang pertama yang melakukan shalat shubuh di Masjid al-Aqsha dari kaum dan umatnya adalah Umar bin Khattab. Sebelumnya, proses negosiasi penaklukan Jerusalem berjalan alot. Karena Pendeta Sophronius menolak menyerahkan kunci gerbang kota Jerusalem kepada Panglima tertinggi umat Islam, Abu Ubaidah bin Jarrah. Kedatangan Umar lah yang ditunggu sang pendeta yang juga pemegang kebijakan tertingi di Jerusalem.

Dan Bilal adalah orang pertama yang mengumandangkan adzan di Masjid al-Aqsha. Sebelumnya, ia memilih pensiun menjadi muadzin, sepeninggal Nabi Muhammad SAW. Bahkan beliau juga terhalang mengikuti penaklukan-penaklukan dan peperangan di zaman Abu Bakar . Namun, khalifah Umar mengizinkannya ikut ke Bait al-Maqdis bersama kafilah muslimin sebelumnya yang dipimpin Abu Ubaidah dan panglima sebelumnya, Khalid bin Walid.

Jika Nabi Muhammad SAW adalah representasi kelemahan dan ketidakberdayaan yang didukung kekuatan yang serba maha, diizinkan Allah untuk melakukan shalat di Masjid al-Aqsha. Dan Umar adalah representasi izzah, yang mendapatkan cahaya hidayah Allah dari hasil kerja dakwah Sang Nabi mulia, dengan kekuatan akhlak dan kepribadiannya menjadi penentu dan kunci penyerahan kunci kota. Padahal sebelumnya bala tentaranya dengan telak mengalahkan segala kekuatan militer dan melakukan pengepungan berhari-hari lamanya.

Dan Bilal adalah representasi kerinduan dan dahaga bersujud bersama junjungannya, panutannya yang ingin mendengarkan suara merdunya mengumandangkan panggilan Allah tun menunaikan shalat. Kerinduan yang menyeruak bersama para mujahidin yang rela mengorbankan apa saja.

Maka, kelemahan dan ketidakberdayaan anak-anak dan orang tua di Palestina dan khususnya al-Quds berbalik menjadi kekuatan yang ditakuti tentara Israel. Nyatanya anak-anak tanpa negara dan tentara tersebut berani melakukan perlawanan. Jika dulu bersenjatakan batu, kini bersenjatakan pisau dapur. Orang-orang tua yang terlihat renta dan ringkih menjadi kuat dan tak takut berhadapan dengan siapa saja. Bagi mereka, usia adalah bonus pemberian Allah untuk berjuang di akhir hidupnya. Mereka lupa bahwa pejuang Libiya yang melawan dan melakukan perlawanan terhadap penjajahan Italia adalah seorang Umar yang sudah renta.

Maka, saksikanlah pagi ini. Fajar yang bertutur mengumpulkan keinginan kita yang satu. Shalat bersama di Masjid al-Aqsha. Membebaskan Masjid al-Aqsha dari segala bentuk kezhaliman dan penjajahan.

Lihatlah para delegasi dan peserta konferensi ini. Di berbagai pertemuan sebelumnya negara Irak mengirimkan delegasi besar namun berikutnya mereka mendapatkan cobaan sehingga tak mampu lagi mengirimkan delegasi kecuali sedikit. Demikian halnya negara Mesir dan lainnya. Jumlah yang silih berganti. Delegasi yang berbeda-beda. Namun, yang menyatukan mereka. Sebuah keinginan yang tak mengenal bahasa. Tak membedakan latar belakang dan berbagai perbedaan lainnya. Keinginan membebaskan al-Aqsha dari kezhaliman penjajahan dan pendudukan.

Masjid Al-Aqsha adalah jantung kehidupan dan denyut nadi umat Islam. Jika dokter memeriksa pasien yang sakit parah atau sedang koma atau sedang dalam kondisi sekarat. Dokter memeriksa jantungnya. Jika terdengar denyut jantungnya, masih ada pertanda kehidupan dari jantung, maka masih ada harapan melakukan pertolongan lainnya. Tapi jika tak lagi ada denyut jantung itu pertanda kehidupannya telah berakhir.

Jika Libya, Suriah, Iraq, Yaman hari-hari ini sangat terluka. Itu adalah badan besar umat Islam. Tapi perhatikan jika yang terluka adalah Al-Quds dan Masjid al-Aqsha maka denyut nadi dan jantung kehidupan umat Islam berada dalam bahaya.

Maka Anda yang berkumpul di tempat ini sebarkan dan sampaikan terus dan jangan pernah berhenti kepada siapa saja bahwa Masjid al-Aqsha menunggu pembelaan Anda semua. Jika umat Islam masih mau memikirkan dan menghidupkan harapan pembebasan maka luka-luka besar di sekitarnya akan bisa disembuhkan biiidznillah. Tapi jika umat Islam mulai melupakannya maka selakipun tak terjadi apa-apa di sekitar Masjid al-Aqsha maka sesungguhnya Umat Islam telah mati dan kehilangan jantungnya.

Zionisme hanya menjadikan Negara Israel sebuah sarana saja. Tanpa Jerusalem, seandainya mereka menguasai 90% wilayah Palestina maka itu menjadi hampa tanpa makna. Dan Jerusalem tanpa Masjdi al-Aqsha juga tanpa makna. Karena kliam dan mitos Solomon Temple lah yang sesungguhnya mereka jadikan jantung pembenaran segala tindakan kezhaliman mereka. Gerakan internasional zionisme telah mengumpulkan orang-orang terbaik mereka dari 112 negara untuk mengawal back up ideologis ini.

Serangan udara Rusia kemarin ke Suriah yang diklaim untuk menargetkan IS*S tetapi faktanya menyasar sebuah desa. Puluhan korban jiwa dan luka-luka semuanya dari kalangan sipil, anak-anak dan wanita. Satu-satunya rumah sakit di sebuah desa di pinggiran selatan Aleppo hancur berantakan tak berfungsi. Bersamaan dengan pergerakan darat pasukan loyalis rezim Asad. Di saat yang bersamaan, serangan udara pasukan multinasioal ke utara Baghdad yang juga konon menyasar IS*S ternyata korban penyerangan ini adalah rakyat sipil yang tak tahu apa-apa.

Tak ada permintaan maaf dan kerendahan hati dari para pemegang kebijakan penyerangan tersebut. Tak ada kecaman dan pernyataan pedas para pejuang HAM. Diam, membiarkan darah dan nyawa yang menjadi korban.

Tapi semangat perlawanan intifadhah al-Quds menjadi darah segar yang mengembalikan semangat dari suasana kelesuan serta berita-berita duka tersebut. Memasuki pekan ketiga yang terus memanas dan banyak korban jiwa berjatuhan. Perlawanan yang diberitakan negatif, dicitrakan sebagai kebrutalan dan tindakan nekat. Menutup kebrutalan yang sesungguhnya. Menghalangi tindakan tak manusiawi yang sebenarnya yang berlangsung bertahun-tahun lamanya, dengan pembiaran dan tanpa dukungan yang berani. Dunia internasional tak berkutik menghentikannya.

Jika Nabi Muhammad SAW, Umar dan Bilal adalah bagian sejarah masjid mulia ini, maka jadikanlah diri Anda bagian sejarah yang akan membela pembebasannya kembali. Sekalipun –mungkin- cita-cita dan keinginan shalat bersama di sana akan tertunda sampai suatu masa yang hanya Allah saja yang mengetahui.

 

Oleh-oleh kuliah shubuh, Kaya Ramada Hotel,

Istanbul, 17.10.2015

TITIK NOL

TITIK NOL

Saiful Bahri

Pagi ini, Jumat 16 Oktober 2015 sepertinya terlihat biasa sebagaimana pagi hari lainnya. Namun, tidak bagi para peserta Forum Internasional ke-7 bagi para aktivis dari berbagai kalangan dan profesi dari berbagai penjuru dunia yang dipertemukan oleh sebuah visi mendukung perjuangan bangsa Palestina meraih kedaulatannya.

Pagi itu di sebuah ruangan yang tak terlalu besar di samping Ballroom Kaya Ramada Hotel, Istanbul, yang oleh panitia disulap menjadi masjid, dipenuhi sesak oleh para peserta dari berbagai negara. Sebagian bahkan memadati ruangan luar karena tempat utama tak cukup menampung para jamaah shalat shubuh yang sangat membludak.

Usai Shalat Shubuh, Ceramah singkat disampaikan oleh Dr. Jamal Amr, seorang peneliti Baitul Maqdis yang juga dosen Universitas Berzeth dan tinggal di Jerusalem.

Beliau memulai dari sebuah perenungan sederhana. Dari sebuah suasana emosional yang dirasakannya saat melaksanakan secara berjamaah shalat shubuh pada pagi hari ini. Jamaah shalat yang saling merapatkan shaff demi member ruang para saudaranya untuk turut serta dalam shalat ini.

Beliau juga mengingatkan bahwa suasana seperti ini juga bisa didapatkan di berbagai tempat di dunia. Semua umat Islam di berbagai tempat mendapatkan kesempatan untuk bisa melakukan shalat berjamaah dan setelah itu berkumpul bersama, kecuali di Masjid al-Aqsha. Berapa banyak dari kaum muslimin hanya bisa melaksanakan shalat di lorong-lorong pintu masuk area Masjid al-Aqsha. Mereka dihadang oleh penjagaan ketat tentara Israel yang menutup pintu masuk di sebagian besar pintu-pintu kompleks Masjid al-Aqsha. “Kita saling merapatkan shaff pagi ini, bagaikan mereka yang berdesakan rapi di pintu Asbath. Sebagian pemuda kukuh bertahan shalat di depan pintu Ghawanimah. Sebagian lagi memadati lorong depan pintu Silsilah dan harus berurusan dengan tongkat-tongkat pentungan tentara Israel dan dibawah todongan senjata-senjata mutakhir mereka.

Para peserta Forum Aktivis Pembela Palestina ini diberikan nikmat Allah yang belum dirasakan bahkan oleh mereka yang berasal dan bermukim di kota Jerusalem. Sebagian besar bahkan hanya bisa menyaksikan tempat transit Isra’ Rasul SAW tersebut di balik pagar-pagar manusia menyeramkan yang kejam dan zhalim. Siapa yang lebih zhalim dari orang yang menghalangi umat ini untuk melaksanakan shalat di masjid-masjid Allah.

Pagi ini usai adzan shubuh ada jeda waktu yang lumayan sebelum dikumandangkan iqamah. Meski demikian masih ada beberapa jamaah yang masbûq. Jika diundur sedikit lagi maka shaff shalat pun akan bertambah banyak. Demikian halnya, -mungkin- tertundanya pembebasan Masjid al-Aqsha adalah takdir Allah untuk memperbanyak lagi shaff-shaff yang akan bergabung dalam kafilah perjuangan ini. Saat gendering perlawanan ditabuh bagaikan seruang perjuangan untuk membebaskan al-Quds dan Masjid al-Aqsha maka takkan ada lagi yang sanggup menahan gelombangnya yang sangat besar dan kuat.

Bagaimana tidak. Mereka dan perjuangan ini terisnpirasi oleh para pejuang yang tangguh. Pejuang yang memulai segala perjuangannya dari titik-titik nol. Dari sebuah titik ketidakberdayaan.

Para pejuang itu adalah para perempuan, tua atau muda yang tak lagi takut melawan tentara Israel yang bersenjara lengkap. Di saat para perempuan umumnya memanjakan perawatan fisiknya.

Anak-anak kecil yang terlihat seolah tak berdaya, mereka gagah berani melawan tentara itu meski hanya dengan batu-batu kecil yang sepertinya tak berpengaruh banyak tapi ternyata menciutkan nyali para tentara yang menghalangi mereka.

Para pejuang yang pernah terjebak berhari-hari di bawah tanah tanpa makan dan minum kecuali beberapa butir kurma dan air yang sangat terbatas.

Bangsa Palestina yang tertekan dengan segudang masalah kezhaliman. Tapi mereka tegar dan terus melawan. Perlawanan dari titik nol yang justru menjadi kekuatan. Titik nol yang berarti meniadakan keberdayaan mereka. Titik nol yang berarti tak punya harapan apa-apa pada manusia. Titik nol berarti seolah kehilangan dunia normalnya. Titik nol berarti sangat nadir dan bukan seperti manusia umumnya. Saat titik nol tersebut justru menjadi kuat karena mereka kemudian melesat naik ke langit mengharap pertolongan dari Sang Maha Kuat, Dzat yang memiliki segala. Dzat yang serba maha yang sanggup mengembalikan kebahagiaan dan kepuasan shalat bersama di pelataran Masjid al-Aqsha.

Dan semua ini adalah masalah waktu. Menunggu saat yang tepat saja. Karena janji Allah tak pernah meleset dan tak pernah dusta. Jamaah shalat shubuh ini lah buktinya. Yang duduk dan shalat adalah mereka dari berbagai penjuru dunia. Masing-masing memiliki benderanya tapi semuanya disatukan dengan sebuah bendera dan keinginan untuk membebaskan Masjid al-Aqsha. Menyertai keberkahan yang diraih Rasulullah di bumi Isra’ Bait al-Maqdis.

Istanbul, 16.10.2015

30 menit menjelang dilaksanakannya opening ceremony Forum Aktivis Pembela al-Quds dan Palestina ke-7 di Istanbul. Sebelumnya sudah dilaksanakan pertemuan para anggota parlemen dunia Islam untuk mendeklarasikan dukungan pembelaan Al-Quds dan Palestina yang dihadiri oleh mantan Sekjen OKI Ekmeleddin İhsanoğlu dan Ketua Aliansi Internasional Pembelaan al-Quds dan Palestina, Su’ud Abu Mahfuzh.