Peranan Ilmu dan Ulama dalam Membangun Peradaban Nusantara

PERANAN ILMU DAN ULAMA

DALAM MEMBANGUN PERADABAN NUSANTARA*

Saiful Bahri**

 

Ulama Nusantara

ABSTRACT

Science and scholars are important pillars of global Islamic civilization in the past. Likewise with the role of science and scholars in building the Nusantara archipelago civilization. The Nusantara Malay community, where majority of them are Muslims, at least, is an indication of the strong influence of scholars in guarding the character of Nusantara civilization. Even during the long period waves of European colonialism. It was proven that the Islamic identity of Malay Muslims has not been washed out, although, it was later stigmatized negatively.

Keywords : science, scholars, civilization, Nusantara, Malay

 

PENDAHULUAN

Membicarakan ilmu dan ulama adalah pintu diskusi dan membuka tabir kejayaan suatu bangsa. Apalagi jika makna ilmu dan ulama (ilmuwan) yang dimaksudkan lebih luas dan memasuki berbagai level dan kedisiplinan. Tak terkecuali peranan ilmu dan ulama dalam membangun peradaban Islam.

Ilmu di dalam al-Quran disebut secara single sebanyak dua puluh sembilan kali. Adapun kata ulama disebut sebanyak dua kali[1] sedangkan lafazh ûtu al-ilma disebut sebanyak sembilan kali[2]. Demikian halnya penyebutan kata kerja plural yang berakar dari kata ilmu seperti ya’lamûn (يعلمون) disebut sebanyak delapan puluh sembilan kali, ta’lamûn (تعلمون) sebanyak enam puluh empat kali, na’lam sebanyak empat belas kali. Ini belum terhitung kata kerja untuk personal (single) seperti alima, ya’lamu dan ta’lamu. Perhatian Al-Quran terhadap ilmu dan ulama semakin terlihat dengan pengangkatan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu oleh Allah[3], kemudian terdapat peringatan supaya tidak menjadi orang-orang bodoh[4].

Dengan demikian kata “ilmu” (العلم) disebut secara eksplisit di dalam al-Quran, baik fungsi, sifat, maupun pelakunya (ulama), jika dijumlah secara keseluruhan maka akan mencapai tujuh ratus tujuh puluh sembilan (779) kali penyebutan di dalam al-Quran. Dan jika dirata-rata dengan jumlah surat di dalam al-Quran maka terjadi pengulangan penyebutan ilmu sebanyak tujuh kali di setiap surat.

Perhatian al-Quran yang luar biasa ini tidak terjadi pada kata “al-aqlu” (العقل) yang tidak pernah disebut secara eksplisit di dalam al-Quran. Penyebutan yang dilakukan justru pada fungsinya saja seperti kata: (يعقلون)-(تعقلون) dan seterusnya.

Derivasi kata “a qa la” (عقل) diulang dalam al-Qur’an sebanyak empat puluh sembilan kali. Semuanya berbentuk fi`il mudhâri’ (present/countinuous tense) kecuali satu kali berbentuk fi`il mâdhî (past tense). (تعقلون) disebut dua puluh empat kali, (يعقلون) dua puluh dua kali. ‘Aqala, na’qilu dan ya’qilu; masing-masing sekali. Ini belum kata-kata derifatif dari “fakara” yang juga diulang sebanyak delapan belas kali. Keduanya berarti berpikir. Menariknya adalah ketika Allah mengulang-ulang “afalâ ta’qilûn” (Tidakkah kalian berpikir?) sebanyak tiga belas kali. Ini mengindikasikan bahwa agama bukan merupakan sebuah doktrin yang tak bisa diterima akal[5].

Hadis Rasulullah –shallalLâhu alaihi wa sallam– pun memuat keutamaan ilmu dan ulama. Setidaknya terdapat penyebutan akar kata ilmu dalam Shahih al-Bukhari –saja- tak kurang dari tiga ratus kali. Imam at-Tirmidzi memuat sebuah hadis yang menjelaskan derajat orang berilmu melebihi ahli ibadah[6].

ISLAM DAN PERAN PERADABAN MANUSIA

Nabi Muhammad memulai dakwahnya dari keluarga terdekat, kemudian kepada masyarakat di sekitarnya. Sehingga dakwah Islamiyah ini membawa hasil setelah hampir dua puluh tiga tahun lamanya. Jumlah sahabat Nabi Muhammad –shallalLâhu alaihi wa sallam– mencapai seratus empat belas ribu (114.000) jiwa, menurut seorang pakar hadits Abu Zur’ah ar-Râziy (w. 264 H)[7]. Dari jumlah tersebut terdapat tokoh sahabat sebanyak 9478 orang, menurut al-Hâfizh Ibnu Hajar al-Asqalâny (w. 852 H)[8]. Tokoh sahabat tersebut diukur dari jumlah periwayatan hadits dari Rasulullah –shallalLâhu alaihi wa sallam– yang ada di buku-buku hadis ototritatif. Standar ketokohan yang berpatokan pada kecerdasan (adh-dhabthu) dan moralitas/akhlak (al-adâlah).

Para sahabat Nabi Muhammad –shallalLâhu alaihi wa sallam– kemudian menyebar ke berbagai penjuru dunia, menyebarkan Islam, menyampaikan risalah ilmu dan iman. Membebaskan manusia dari kebodohan dan berbagai kezhaliman. Jejak-jejak peradaban mereka pun terekam oleh sejarah dengan tinta emas, dari sejak di berbagai penjuru di semenanjung Arab, di dataran Afrika, sampai Eropa, Asia Tengah, Timur Jauh hingga ke dataran Cina.

Ilmu dan ulama menjadi pilar utama peradaban Islam dan sumbangan berarti bagi kemanusiaan, di berbagai bidang. Di bidang ilmu-ilmu keagamaan sebagai benteng utama peradaban muncullah para ulama tafsir dan hadits, fikih dan kepakaran Bahasa Arab, ilmu-ilmu kaedah fikih, ilmu Al-Quran, ilmu Hadits dan lain sebagainya. Dari Ibnu Jarir ath-Thabari (w. 310 H), Ibnu Katsir (w. 774 H), sampai Jalaluddin as-Suyuthi (w. 911 H), Muhammad bin Ismail al-Bukhary (w. 256 H), Muslim bin Hajjâj (w. 261 H), Abu Dawud (w. 275 H), Ahmad bin Syu’aib An-Nasa’i (w. 303 H), Ibnu Majah (w. 273 H), at-Tirmidzi (w. 279 H), Ibnu Shalah (w. 643 H), Imam Malik (w. 179 H), Ahmad Ibnu Hanbal (w. 241 H), Abu Hanifah (w. 150 H), Muhammad bin Idris asy-Syafi’I (w. 204 H), Hasan al-Bashry (w. 110 H), Abu Ja’far An-Nahhâs (w. 338 H), Al-Farrâ’(w. 207 H), az-Zajjâj (w. 311 H), Al-Mubarrad (w. 286 H), Sibawaih (w. 148 H)[9].

Ilmu-ilmu sosial, politik, sejarah, humaniora, kedokteran, matematika, umat Islam juga memberikan peran signifikan melalui para ilmuwan seperti Ibnu Khaldun (w. 808 H), al-Mâwardi (w. 450 H), al-Mutanabbi (w. 354 H), al-Hasan ibnu al-Haitsam (w. 430 H), al-Khawârizmy (w. 235 H), Ibnu Sînâ (w. 427 H), Jâbir bin Hayyan (w. 212 H) dan lain-lain[10].

Para ulama atau ilmuwan tersebut disatukan dengan ruh kemanfaatan bagi umat manusia. Mereka merupakan putra-putra terbaik umat Islam dari berbagai etnis dan latar belakang, ada dari Bangsa Arab, Asia, Eropa atau percampuran dari berbagai etnis.

Bahkan para ulama hadis pun sebagian besar mereka bermukim di wilayah Asia Tengah, seperti al-Bukhari dari Uzbekistan, Imam Muslim dari Naisabur, Abu Dawud dari Sijistan. Maka hipotesis yang mengatakan bahwa peradaban Islam didominasi oleh Bangsa Arab tidak selamanya benar. Istilah Bahasa Arab yang tadinya menjadi pemersatu umat Islam dan sangat berkaitan dengan sumber-sumber ajaran Islam, kini mengalami penyempitan definisi. Istilah Arab modern dipersempit hanya sebagai sebuah batasan wilayah teritorial di bagian barat Asia dan sebelah utara Afrika. Faktanya, bahkan sampai ke belahan tenggara benua Asia, huruf-huruf Arab menjadi tulisan dasar dan aksara utama di berbagai media. Suku Barbar di Afrika Utara menjelma menjadi bangsa Arab karena berbicara bahasa Arab dan memeluk Islam sebagai agama mereka. Demikian Bangsa Mesir dan berbagai suku bangsa lainnya di Afrika, demikian halnya di Eropa dan Asia, semuanya adalah “orang-orang Arab” karena Islam dan bahasa komunikasi di antara mereka, bukan karena keturunan. Itulah universalitas Islam yang global yang saat ini tereduksi dan semakin diperburuk dengan stigma negatif dari media yang terjangkit Islamphobia.

MASUKNYA ISLAM DAN KESULTANAN ISLAM DI NUSANTARA

Ada beberapa teori masuknya Islam ke Nusantara[11]. Ada yang berpendapat Islam masuk melalui Gujarat[12] dan Yaman dengan cara interaksi perdagangan dan perkawinan. Pendapat lain mengatakan bahwa penyebaran Islam terjadi dengan jalur politik Kesultanan Islam di berbagai tempat, utamanya dari Arab, Turki dan Cina. Perbedaan pendapat ini bisa digabung dengan mengasumsikan bahwa Islam sudah ada sejak era awal[13], karena pada masa Khalifah Usman bin Affan (23-35 H/644-656 M) utusan muslim dari Tanah Arab mulai berdatangan ke istana Cina[14]. Terdapat bukti yang memperkuat pendapat terakhir berupa batu nisan seorang perempuan muslimah bernama Fatimah binti Maimun ditemukan di Leran, Gresik, Jawa Timur pada tahun 475 H/1082 M[15]. Kehadiran muslim Timur Tengah –kebanyakan Arab dan Persia- di Nusantara pada masa-masa awal ini pertama kali disebutkan oleh agamawan dan pengembara terkenal Cina, I-Tsing, ketika ia pada 51 H/671 M, dengan menumpang kapal Arab dan Persia dari Kanton berlabuh di pelabuhan muara sungai Bhoga (atau Sribhoga, atau Sribuza, sekarang Musi). Sribuza, sebagaimana diketahui, telah diidentifikasi oleh banyak sarjana modern sebagai Palembang, Ibukota Kerajaan Budha Sriwijaya[16].

Islam semakin berkembang dengan adanya interaksi sosial dan ekonomi masyarakat pribumi dengan umat Islam, utamanya yang berasal dari Semenanjung Arab dan Gujarat. Kemudian diperkokoh secara politis. Bahkan Kesultanan Turki -dalam salah satu versi- turut membidani diutusnya tim dakwah sembilan yang nantinya berkelanjutan dari generasi ke generasi dan dikenal dengan sebutan walisongo[17].

Berikut beberapa kesultanan Islam Melayu di wilayah Nusantara sejak pertama muncul dan kemudian berkembang ke berbagai tempat[18]:

  1. Samudra Pasai dianggap sebagai kekuatan politik Islam tertua di Nusantara. Didirikan oleh Nizamuddin al-Kamil pada tahun 1267 M. Ia adalah seorang laksamana angkatan laut dari Mesir saat Fatimiyah berkuasa. Tapi seiring dengan runtuhnya kekuasaan Fatimiyah yang beraliran syiah, kesultanan ini berganti madzhab ke sunni yang beraliran Syafi’iyah.
  2. Adapun Kesultanan Malaka didirikan oleh Paramesywara pada tahun 1403 M, saat pangeran kerajaan Sriwijaya ini melarikan dari serangan Majapahit, menikah dengan putri Sultan Samudra Pasai dan kemudian masuk Islam. Namun pasca kedatangan Portugis dan ambisi penyerangan yang bertubi-tubi mengakibatkan Kesultanan Malaka meredup. Kesultanan Johor muncul di tengah kondisi tersebut, didirikan oleh Sultan Alaudin Riayat Syah sekitar tahun 1530-1536 M. Kemudian membentuk aliansi kekuasaan dengan Kesultanan Riau dan menjadi kuat. Meski akhirnya ditaklukkan juga oleh Portugis. Kemunculan kerajaan Johor dan kemudian berkoalisi dengan VOC (Belanda) berhasil mengusir Portugis dari Malaka. Pada tahun 1641 resmi Malaka takluk di tangan VOC Belanda.[19]
  3. Sedangkan masuknya Islam ke Patani sangat unik. Seorang mubaligh (dai) yang juga tabib dari Kesultanan Pasai, Syeikh Said mengobati Raja Patani, Phaya Tu Nakpa (1486-1530 M) yang sedang sakit parah. Setelah sembuh Raja Patani tersebut memeluk Islam dan bergelar Sultan Ismail Syah.
  4. Selain kesultanan dan kerajaan di atas terdapat beberapa kesultanan Islam di Sulu (Filipina Selatan), Kutai (1525 M) dan Banjar (1595 M) di Kalimantan (Borneo), Kesultanan Brunei Darussalam (1406 M), Kesultanan Goa (1539 M) di Sulawesi, Kesultanan Palembang (1539 M) di Sumatera Selatan, Kesultanan Ternate di kawasan timur Nusantara.
  5. Peran dakwah walisongo yang kuat turut mengokohkan kekuatan Islam politik di Jawa. Ada sejumlah kerajaan dan kesultanan Islam di Jawa, di antaranya: Kesultanan Demak (Jawa Tengah), Kesultanan Cirebon (1450 M) di Jawa Barat, Kesultanan Pajang dan Mataram di Jawa Tengah. Bahkan Kesutanan Banten yang merupakan kesultanan terbesar di Jawa Barat didirikan oleh seorang dai walisongo yang dikenal dengan Sunan Gunung Jati pada tahun 1524 M. Banyak masjid dan sekolah agama (pesantren) didirikan hingga datang penjajahan Belanda.
  6. Di era perlawanan terhadap Portugis muncul kerajaan-kerajaan baru di wilayah barat Nusantara, seperti Aceh[20]. Bahkan nantinya Belanda tidak berhasil masuk wilayah ini dengan kekuatan militernya.

PERAN ULAMA NUSANTARA

Peradaban sering dikaitkan dengan materi, sehingga tidak jarang bahwa tanda sebuah peradaban biasanya ditengarai dengan gedung-gedung megah atau bangunan dengan gaya serta corak artistik tertentu. Hal tersebut adalah bagian dari produk peradaban. Adapun peninggalan peradaban yang kekal adalah ilmu. Seperti ilmu-ilmu tentang keislaman, kemanusiaan, serta pengembangan ilmu-ilmu modern. Umat Islam memiliki peran positif dan tak terhitung dalam membangun peradaban manusia. Misalnya, geliat ilmiah di era Umawiyah, Abbasiyah, Andalusia. Perpustakaan raksasa Darul Hikmah yang didirikan Nizhamul Mulk adalah salah satu bukti peran ilmiah yang nyata dari umat Islam.

Maka pada masa keemasan peradaban Islam di berbagai wilayah di dunia selalu identik dengan ilmu dan ulama, demikian halnya perkembangan Islam di Nusantara tak bisa dilepaskan dari peran para ulama.

Peran utama ulama Nusantara dalam membangun peradaban Melayu di Asia Tenggara bisa disimpulkan menjadi beberapa poin berikut:

  1. Transformasi ilmu pengetahuan dan ilmu-ilmu agama yang diperoleh dari ulama-ulama internasional, terutama di Timur Tengah.
  2. Kaderisasi ulama Nusantara dengan berdakwah dan berkeliling serta mendirikan pusat-pusat pengkajian dan ilmu serta melalui pernikahan.
  3. Membentengi masyarakat dan penguasa dari pemahaman dan pemikiran yang berpotensi menyesatkan serta disorientasi dari ajaran Islam yang lurus.
  4. Mengakomodasi budaya-budaya lokal sebagai sarana dakwah sehingga diterima oleh berbagai kalangan, dari para bangsawan kerajaan hingga meraih simpati publik yang luas dari berbagi lapisan masyarakat. Metode dakwah seperti ini dilakukan oleh para dai walisongo.
  5. Menulis dan memproduk karya-karya ilmiah yang nantinya menjadi warisan setelah mereka wafat dan bisa dipelajari bahkan dikembangkan atau dikritisi serta diperbaiki.
  6. Menghidupkan semangat perlawanan kepada kolonialisme dan selalu memperjuangkan kemerdekaan yang berdaulat untuk umat Islam dan masyarakat Nusantara.

Peran para ulama Nusantara semula konsentrasi pada penyebaran Islam dan pengemblengan keilmuwan untuk membibit para penerus mereka (kaderisasi). Namun, sejak akhir abad XVI masehi peran mereka bertambah dan justru kadang menitik beratkan pada perlawanan kepada setiap upaya penjajahan Bangsa Eropa[21].

Di antara para ulama yang menonjol[22] di Nusantara adalah sebagai berikut:

  1. Nûruddin ar-Râniry (w. 1068 H/1658 M). Ulama yang berkembang di Kesultanan Aceh yang tidak terlepas dari jejak dua ulama besar sebelumnya yaitu Hamzah Fansury dam Syamsuddin Samatrani. Keduanya diperkirakan meninggal sebelum 1016 H/1607 M[23]. Ar-Raniry ulama penulis yang produktif. Setidaknya ia menulis sebanyak 29 karya, kebanyakan membicarakan tentang tasawuf, fikih hadis, sejarah dan perbandingan agama[24]. Peran utama ar-Raniry adalah menghubungkan tradisi Islam di Timur Tengah dengan tradisi Islam di Nusantara.
  2. Abdurra’ûf as-Sinkily (w. 1105 H/1693 M). Meski tak ada keterangan terjadi pertemuan antara as-Sinkily dan ar-Raniry yang sama-sama berada di Aceh, namun keduanya memiliki peran utama membentuk jaringan ulama yang menjembatani tersebarnya Islam, pengajaran Islam di Nusantara serta menghubungkan tradisi Islam di sumber aslinya ke Nusantara. Ia juga pergi ke Arabia dan berinteraksi dengan ulama-ulama internasional di sana. Karyanya yang menonjol adalah Mir’at at-Thullâb fi Tasyil Ma’rifah al-Ahkam asy-Syar’iyyah li al-Mâlik al-Wahhâb. Selain aspek ibadah ia menjabarkan juga tentang muamalat, termasuk kehidupan politik, sosial, ekonomi dan keagamaan umat Islam[25].
  3. Muhammad Yûsuf al-Maqassary (w. 1111 H/1699 M). Alim dari Sulawesi selain luas memiliki jaringan internasional, beliau juga termasuk yang diasingkan ke Srilanka. Bahkan Belanda meyakini luasnya jaringan al-Maqassary mempunyai pengaruh besar bagi Muslim Nusantara. Mereka curiga melalui jamaah haji, al-Maqassary membentuk jaringan yang lebih kuat. Akhirnya ia diasingkan ke tempat yang lebih jauh, yaitu di Afrika Selatan. Dia berusia 68 tahun ketika dipaksa menaiki kapal “de Veotbong” yang membawanya ke Tanjung Harapan[26]. Namun ahli sejarah mengganjarnya dengan menobatkannya sebagai pendiri dan penyebar Islam di Afrika Selatan. Tidak disebutkan beliau menulis selama di Afrika Selatan. Karya-karya beliau ditulis sebelum beliau aktif berdakwah di pengasingan terakhirnya.
  4. Dawud bin Abdullah al-Fathany (w. 1265 H/ 1847 M). Dilahirkan di Kresik (juga dieja Gresik) sebuah kota pelabuhan tua di Patani, Maulana Malik Ibrahim salah seorang walisongo yang terkenal diriwayatkan pernah berkunjung dan mengajarkan Islam ke tempat ini sebelum ke Jawa (Timur) dan menetap serta wafat di tempat yang ia namakan dengan Gresik. Dikatakan Dawud memiliki hubungan leluhur dengan Malik Ibrahim[27]. Selain hijrah menuntut ilmu di Mekah dan Madinah ia juga memiliki hubungan kuat dengan ulama-ulama internasional terutama dari Mesir. Meski tak ada sumber yang mengatakan ia pernah melakukan perjalanan ke Mesir tapi ia banyak berguru dari ulama al-Azhar. Ia termasuk salah seorang yang produktif di antara ulama Melayu. Setidaknya ada 57 karya yang ditulisnya, yang membahas tentang hampir semua disiplin ilmu Islam[28].
  5. Ahmad bin Muhammad Zain al-Fatany (1325 H/1908 M). Dilahirkan di Jambu, Jerim, Patani, Thailand Selatan, pada tahun 1271 H/1856 M. Ia belajar dari ayahnya yang alim. Tahun 1860 ia hijrah menuntut ilmu ke Mekah. Bertemu jaringan ulama internasional dan bahkan sempat ke Bait al-Maqdis untuk belajar ilmu kedokteran di sana hingga ia menulis karya kedokterannya, Thayyib al-Ihsân fi Thibb al-Insân. Ia juga pernah mengunjungi dan belajar di Universitas Al-Azhar. Karyanya berbahasa Arab sebanyak 32 buah dan berbahasa Melayu 22 buah. Ia wafat di Mina pada tahun 1325 H/1908 M[29].
  6. Abdush-Shamad al-Falimbani (w. 1200 H/1785 M). Menurut sumber-sumber Melayu, ia bernama Abdush-Shamad bin Abdullah Al-Jawi Al-Falimbani. Sumber-sumber Arab menamakannya Sayyid Abdush-Shamad bin Abdur-Rahman Al-Jawi. Lahir pada tahun 1116H/1704M di Palembang. Ayahnya adalah seorang ulama, yang pernah menjadi Qadhi Kesultanan Kedah[30], sementara Ibunya adalah seorang puteri dari negeri Palembang. Ia juga memiliki kontak dan jaringan dengan ulama internasional ketika hijrah ke Mekah dan Madinah.
  7. Muhammad Arsyad al-Banjary (w. 1227 H/182 M) Islam memasuki Kalimantan Selatan jauh setelah masuk ke Sumatra Utara dan Aceh. Diperkirakan secara politis Islam baru masuk pada abad ke-16. Dan meskipun Kesultanan Banjar berdiri, Islam baru berada di wilayah sekitar istana dan terbatas pada orang Melayu serta mulai masuk ke suku Dayak. Hingga datangnya Muhammad Arsyad yang melakukan dakwah secara gigih dan lebih luas lagi. Ia belajar bersama al-Falimbany dan beberapa ulama Melayu lainnya di Arabia. Selain memiliki kepakaran di bidang fikih ia juga menguasai tasawuf. Selain karya ilmiah ia berdakwah dengan islamisasi di kerajaan dan melakukan pembaruan administrasi terutama di bidang peradilan dan penegakan hukum-hukum Islam, terutama dalam penanganan kriminalitas. Sultan mendukungnya dengan mendirikan pengadilan Islam terpisah untuk mengurus masalah-masalah hukum sipil murni[31].
  8. Tuanku Nan Tuo (w. 1246 H/1830 M) lahir di Agam, Minangkabau. Ia dikenal sebagai ulama yang moderat, yang banyak melakukan pembaruan serta pemurnian Islam di Sumatera Barat. Selain sebagai seorang sufi, Tuanku Nan Tuo juga dikenal sebagai tokoh yang cukup berpengaruh dalam kelahiran kaum Padri. Meskipun begitu ia tidak setuju dengan pandangan radikal golongan Padri. Surau Tuanku Nan Tuo terkenal sebagai pusat pengajaran ilmu fikih dan tasawuf di Minangkabau[32].
  9. Tuanku Imam Bonjol (w. 1281 H/1864 M). Salah seorang ulama yang lahir di Bonjol, Pasaman, Sumatera Barat, pemimpin dan pejuang yang berperang melawan Belanda dalam peperangan yang dikenal dengan nama Perang Padri sepanjang tahun 1803-1838[33].
  10. Fadhilah Khan atau Fatahillah. Ia dilahirkan di Pasai pada tahun 1471 M yang oleh Portugis disebut Falatehan sebagai Jenderal Demak. Pada tahun 1526 M ia menguasai Banten, dan berikutnya menguasai Sunda Kalapa dan merubahnya namanya menjadi Jayakarta, 22 Juni 1527. Tanggal ini kemudian diabadikan sebagai hari jadi kota Jakarta. Strategi Fatahillah dengan menguasai kedua bandar pelabuhan penting Banten lama dan Sunda Kalapa ,sebelum perjanjian Pakta Pertahanan Pajajaran-Portugis terealisasikan. Meskipun angkatan bersenjata Portugis dan Pajajaran mengadakan perlawanan keras, tetapi Fatahillah berhasil merontokkannya. Sebagai salah satu ulama juga terus menyiarkan syiar Islam ke berbagai wilayah[34].
  11. Selain ulama-ulama yang disebut di atas, tim dai sembilan atau yang dikenal sebagai walisongo juga merupakan fenomena dakwah yang mempunyai pengaruh besar bagi penyebaran Islam bukan hanya di Jawa tetapi di berbagai tempat di Nusantara. Walisongo juga mencontohkan keberhasilan dakwah secara damai melalui akulturasi budaya dan menyusupkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan harian di tengah masyarakat, selain tentunya mereka juga memiliki akses politik yang baik dengan para penguasa (kerajaan/kesultanan) di zamannya.

INTERAKSI ULAMA NUSANTARA DENGAN ULAMA INTERNASIONAL

Menilik kisah dan perjalanan hidup para ulama yang memiliki peran penting dalam penyebaran Islam serta pencapaian prestasi dakwah dan membangun peradaban Nusantara, rata-rata mereka memiliki akses dan jaringan dengan ulama internasional. Sarana yang digunakan untuk mengakses kajian keilmuan adalah ibadah haji.

Dengan pertemuan di tanah haram (haramain) para ulama memanfaatkan untuk menggali ilmu sebanyak-banyaknya. Selain itu mereka juga membuat jaringan internasional untuk digunakan berbagai kepentingan yang mendukung dakwah mereka serta pembinaan masyarakat tempat mereka bermukim sebelum dan sesudah kembali dari haramain.

Ibnu Bathûthah mengungkapkan banyaknya ulama dari berbagai tempat. Para ulama internasional tersebut bertemu dan saling membentuk jaringan luas. Berikut tabel yang disusun dari catatan perjalanan Ibnu Bathûthah di Mekah, menjelaskan negara asal ulama dan jumlah personilnya[35].

No Wilayah Jumlah
1 Anatolia 3
2 Andalusia 1
3 Hind (India) 1
4 Irak 1
5 Maghrib (Afrika Utara) 5
6 Makkah 5
7 Mesir 4
8 Persia 3
9 Suriah 1
10 Yaman 1
11 Tidak diketahui 7
Total 32

 

Jumlah aktual ulama di Mekah pastilah jauh lebih banyak dari angka yang dicatat Ibnu Bathuthah seperti tabel di atas. Ini diasumsikan ia hanya menyebut ulama yang terkenal dan kebetuan bertemu dengannya, karena di tinggal di Mekah dalam masa yang sangat singkat.

SARAN DAN PENUTUP

Untuk membangun kembali kejayaan peradaban Islam di Nusantara, para ulama perlu untuk memperkuat dan memperluas jaringan internasional. Hal ini dimulai dengan pengokohan jaringan regional ulama Melayu (Asia Tenggara). Proyek ini sangat penting dan mendesak untuk menghadapi stigma negatif yang belakangan dialamatkan kepada umat Islam, terutama dengan isu terorisme dan radikalisme. Media mainstream terlalu sering memblow up kekerasan yang mengatasnamakan agama (Islam) serta tidak imbangnya pemberitaan ketika umat Islam tersudut dengan tuduhan atau stigma negatif. Saatnya jejak-jejak ulama Nusantara di masa lalu diikuti ulama kontemporer Nusantara dan diperkuat kembali dengan jaringan-jaringan internasional untuk menangkal isu negatif yang makin memperburuk citra umat Islam. Di samping itu jaringan ulama ini akan lebih mendorong produktifitas umat Islam untuk selanjutnya berkontribusi positif dalam membangun tamaddun dan kemajuan.

 

 

 

 

 

KEPUSTAKAAN

Abdullah, H.W.N Shaghir, Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani: Ulama dan Pengarang Terulung asia Tenggara, Kuala Lumpur, Hizbi, 1990

Al-Asqalany, Ahmad bin Hajar, al-Ishâbah fi Tamyîz ash-Shahâbah, Cairo, Maktabah Mishr, t.t

Al-Azizi, Abdul Syukur, Kitab Sejarah Peradaban Islam Terlengkap, Yogyakarta, Saufa, Cet. 1, 2014

Al-Mausû’ah al-Qur’ân al-Karîm, produksi al-Hâdi li at-Tiknologia, Giza, Mesir, 2002

Al-Qazwiny,Ibnu Mâjah Muhammad Yazid, Sunan Ibni Mâjah, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiah, Cet. I, 1424 H-2003 M

As-Sarjaniy, Raghib, Mâdza Qaddama al-Muslimûna li al-Âlam: Ishâmât al-Muslimîn fi al-Hadhârah al-Insâniyah, Cairo, Muassasah Iqra, cet. V, 1431 H-2010 M

As-Sijistany, Abu Dawud, Sunan Abî Dâwud, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiah, Cet. I, 1424 H-2003 M

At-Tirmidzi, Muhammad bin Isa, Sunan at-Tirmidzi, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiah, Cet. I, 1424 H-2003 M

Azra, Azyumardi, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, Jakarta, Kencana, Edisi revisi, Cet.3,  2007

Indonesia an Official Hand Book, Jakarta: Department of Information of Republic of Indonesia, 1984

Israeli, R. dan John (peny), Islam in Asia: Volume II Southeast and East Asia, Boulder: West view, 1984

Lombard, Denys, Kerajaan Aceh Jaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636), Jakarta, Balai Pustaka, Cet. 2, 1991

Mushaf al-Quran King Saud University versi 1.3.2.

Radjab, M., Perang Paderi di Sumatera Barat, 1803-1838 M, Jakarta, Balai Pustaka, 1964

Riklefs, M.C., Sejarah Indonesia Modern, 1200-2008, Jakarta, Serambi, Cet. I, 2008

http://islamqa.info/

http://melayuonline.com/

http://www.jakarta.go.id/

 

 

 

 

_________________________________

* Keynote Speech dalam Persidangan Antarbangsa Tokoh Ulama Melayu Nusantara, International Islamic University College Selangor dan Jabatan Agama Islam Selangor, Selasa 28 April 2015

** Wakil Ketua Komisi Seni Budaya Islam, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Jakarta, Ketua Asia Pacific Community for Palestine, Direktur Pusat Pengkajian Islam dan Timur Tengah Jakarta (www.drsaifulbahri.com dan www.saifulelsaba.wordpress.com)

[1] QS. Asy-Syu’arâ’ [26]: 197, dan QS. Fâthir [35]: 28

[2] Lafazh tersebut menandakan bahwa Allah-lah pemberi ilmu. Karena ûtu al-Ilma berarti mereka yang dikaruniai ilmu (oleh Allah).

[3] Seperti tertera dalam QS. al-Mujâdilah [58]: 11

[4] Lihat: QS al-An’âm [6]: 35 dan QS. Hud [11]: 46

[5] Dalam penghitungan akar kata ilmu dan aqal di atas beserta kata bentukannya, penulis menggunakan aplikasi Al-Mausû’ah al-Qur’ân al-Karîm, produksi al-Hâdi li at-Tiknologia, Giza, Mesir, 2002 dan Software Mushaf al-Quran King Saud University versi 1.3.2.

[6] At-Tirmidzi, Kitâb: al-Ilmi, Bâb: Fadhl al-Fiqh ala al-Ibâdah, hadis nomer 2682, 2685. Riwayat senada juga disebut oleh Abu Dawud (nomer 3641) dan Ibnu Mâjah (nomer223).

[7] Al-Hâfizh Abu Zur’ah Ar-Râzy adalah guru dari Imam Muslim. Perkiraan jumlah tersebut banyak didukung oleh para ulama, meskipun tentunya tidak bisa dipastikan dengan angka (http://islamqa.info/ar/108008 diakses pada 6 April 2015)

[8] Dalam buku Biografi Sahabat Nabi, al-Ishâbah fi Tamyîz ash-Shahâbah.

[9] Secara detail informasi tersebut terdapat di buku Mâdza Qaddama al-Muslimûna li al-Âlam: Ishâmât al-Muslimîn fi al-Hadhârah al-Insâniyah, karya Dr. Raghib as-Sarjaniy (Cairo, Muassasah Iqra, cet. V, 1431 H-2010 M)

[10] Ibid.

[11] Nusantara adalah paduan dua suku kata “nusa” yang berarti kepulauan atau tanah air dan “antara” yang dimaksudkan terletak di antara dua samudera, Samudra Pasifik dan Samudra Hindia, dan terletak di antara dua benua; Asia dan Australia. (Indonesia an Official Hand Book, Jakarta: Department of Information of Republic of Indonesia, 1984, p. 9)

[12] Teori Islam Masuk Indonesia abad 13 melalui pedagang Gujarat (India) bisa ditolak dan tidak dibenarkan. Apabila benar maka tentunya Islam yang akan berkembang kebanyakan di Indonesia adalah aliran Syi’ah karena Gujarat pada masa itu beraliran Syiah, akan tetapi kenyataan Islam di Indonesia didominasi Mazhab Syafi’i.

[13] Yaitu antara abad 7 dan 8 Masehi.

[14] M.C. Riklefs, Sejarah Indonesia Modern, 1200-2008, Jakarta, Serambi, Cet. I, 2008, p. 3-4. Lihat juga M. Nakahara, “Muslim Merchants in Nan Hai” dalam R. Israeli dan John (peny), Islam in Asia: Volume II Southeast and East Asia, Boulder: West view, 1984, p. 1-2 sebagaimana dinukil Prof. Dr. Azyumardi Azra, M.A, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, Jakarta, Kencana, Edisi revisi, Cet.3,  p.21

[15] Abdul Syukur al-Azizi, Kitab Sejarah Peradaban Islam Terlengkap, Yogyakarta, Saufa, Cet. 1, 2014, p. 448

[16] Lihat Prof. Dr. Azyumardi Azra, M.A, Jaringan Ulama…, p. 22-23

[17] Adalah Sultan Muhammad 1 yang menyeleksi dan mengutus tim dakwah Sembilan yang diketuai oleh Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik) sebagai korps dai angkatan pertama yang terdiri dari sembilan dai dari berbagai kebangsaan yang berada di wilayah kekuasan Kesultanan Turki saat itu (1404 M). Setelah sukses pada gelombang pertama, pada waktu berikutnya terjadi komunikasi dengan Kesultanan Cina/Burma. Versi lainnya menyebutkan bahwa walisongo adalah tim dakwah para dai dari Yaman. Berbagai pendapat tentang walisongo merujuk pada sumber sekunder dan menjadi perdebatan panjang karena ketiadaan sumber primer.

[18] Disarikan dari Abdul Syukur al-Azizi, Kitab Sejarah …, p. 437-448

[19] M.C. Riklefs, Sejarah Indonesia Modern…, p. 61

[20] Secara khusus Denys Lombard menulisnya dalam Kerajaan Aceh Jaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636), Jakarta, Balai Pustaka, Cet. 2, 1991.

[21] Dimulai dari penjajahan Portugis, Inggris, Belanda dan Spanyol.

[22] Karena keterbatasan penulis memilih beberapa nama saja untuk dijadikan sampel peranan penting mereka dalam membangun peradaban Nusantara dan mempertahankan dari bahaya eksternal baik secara fisik (kolonialisme) ataupun non fisik (penyesatan/disorientasi) dari ajaran Islam.

[23] Lihat Prof. Dr. Azyumardi Azra, M.A, Jaringan Ulama…, p. 197-198

[24] Ibid. p. 216

[25] Ibid. p. 245

[26] Ibid. p. 282

[27] Lihat Prof. Dr. Azyumardi Azra, M.A, Jaringan Ulama…, p. 329. Lihat juga H.W.N Shaghir Abdullah , Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani: Ulama dan Pengarang Terulung asia Tenggara, Kuala Lumpur, Hizbi, 1990, p. 32

[28] Karya-karyanya beserta deskripsi, lihat H.W.N Shaghir Abdullah, Syeikh Daud …, p. 55-99

[29] Lihat http://melayuonline.com/ind/personage/dig/320/syekh-ahmad-al-fathani diakses pada tanggal 6 April 2015.

[30] Lihat Prof. Dr. Azyumardi Azra, M.A, Jaringan Ulama…, p. 307.

[31] Ibid, p. 314, 319.

[32] Ibid, p. 368-369.

[33] M. Radjab, Perang Paderi di Sumatera Barat, 1803-1838 M, Jakarta, Balai Pustaka, 1964, p. 6

[34] Lihat http://www.jakarta.go.id/web/encyclopedia/detail/555/Fatahillah diakses pada tanggal 6 April 2015

[35] Lihat Prof. Dr. Azyumardi Azra, M.A, Jaringan Ulama…, p. 83.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s