ISTANBUL 8

YA MUSTHAFA… YA MUSTHAFA…

Semangka Super

Semangka Super

Ini adalah kunjungan saya ke Istanbul untuk ke delapan kalinya. Kesan luar biasa tetap saya dapatkan dari Turki yang membanggakan nasionalismenya. Sangat mudah menemukan bendera-bendera bulan sabit bintang putih di atas latar belakang merah berkibar. Dan di setiap ketinggian akan berkibar bendera dengan ukuran besar. Turki yang bergeliat, meski dihimpit tekanan konspirasi yang tak menginginkan para aktivis Islam sukses menawarkan program-program peradabannya. Setelah jatuh bangun beberapa kali kini sudah lebih dari sepuluh tahun mereka memimpin negara. AK Parti adalah representasi kekuatan politik Islam yang elegan. Menawarkan Islam dengan sangat rasional untuk diterima di tengah masyarakat yang terkikis nilai-nilai keagamaannya karena sudah lama diberangus dan ditekan. Maka sejak leading sepuluhan tahun yang lalu, sosok Erdogan yang melegenda itu sanggup melakukan internalisasi agama di berbagai sektor.

Ketika pertama kali partainya menang, dan Erdogan terpilih sebagai perdana menteri, ia melakukan kejutan besar untuk kaum sekuler yang kelihatan sangat kuat. Kalangan kuat yang pernah memenjarakannya. Emine, istrinya menampilkan simbol perlawanan itu di istana, sekaligus dengan mencolok menampakkan simbol islam, jilbab. Ketika tuduhan meruntuhkan sekuler di istana, Erdogan dengan sangat rasional bisa menjawab. Bahwa, baju yang dikenakan istrinya adalah karya dan hasil desain orang-orang sekuler. Yang ia pakai adalah merk ternama Armany, dan jilbab yang dikenakannya juga dari para perancang busana dari negara-negara non muslim. Maka perjuangan halus ini menuai hasil sepuluh tahun kemudian. Larangan berjilbab di lembaga-lembaga pendidikan dan pemerintahan bisa resmi dicabut.

Sebaliknya, di tahun 2012 ada kemajuan yang luar biasa ketika ada peraturan mengenai pengaturan penjualan minuman beralkohol. Siapa pun di larang menjual minuman keras (minuman beralkohol) dalam radius 100-300 meter di sekitar rumah ibadah, masjid, gereja dan sebagainya. Kemudian waktu penjualannya juga hanya bisa dilakukan antara jam 22.00 malam sampai jam 06.00 pagi.

Ketika tuduhan para oposisi sekuler begitu kuat, dengan enteng pemerintah menjawab. Bahwa jika mabuk adalah hak setiap orang, maka jangan sampai kegiatan turisme Turki terganggu dengan orang-orang mabuk di jam-jam produktif, juga untuk mengurangi angka kecelakaan lalu lintas. Jika mereka mau mabuk di dalam rumah atau ruangan, dipersilakan jika mereka ingin teler selama 24 jam. Pendekatan rasionalisasi yang sangat cerdas.

Di tahun 2012 juga terjadi internalisasi pelajaran agama di sekolah-sekolah. Maka kali ini tuduhan lebih keras karena dikhawatirkan memunculkan paham radikalisme yang membahayakan negara. Maka jawaban pemerintah pun segera hadir dan tersosialisasikan dengan baik. Adalah hak setiap warga negara untuk menjadi apa dan siapapun. Mau menjadi atheis pun adalah hak setiap orang. Tapi jika kebebasan tersebat kemudian memasung hak warga negara untuk mendapatkan pengetahuan dan informasi keagamaan maka itu adalah pemasungan hak asasi manusia. Masuknya pendidikan agama di sekolah pun dengan cara sangat lembut. Di mulai dari materi pilihan ekstrakurikuler. Maka seorang pelajar akan bisa memilih pelajaran al-Quran, fikih ibadah dan lain sebagainya yang dikenal dengan ilahiyat.

Erdogan menjadi sangat fenomenal dengan revolusi Turki modernnya. Konsep peradaban yang ditawarkan partainya pun sangat leading dan mendapat dukungan dari berbagai sektor. Ekonomi, sosial politik dengan kemapanan infrastrukturnya.

Dia begitu cerdas memproteksi petani dari kartel-kartel impor. Dia juga memberi sambungan nafas pada para kontruktor bangunan dengan berbagai proyek renovasi gedung-gedung bersejarah. Sepanjang tahun di setiap waktu akan selalu ada proyek renovasi. Para kontruktor pun bersahabat dan menghormatinya. Di saat yang sama sektor tourisme semakin bergeliat dan bersaing dengan kota-kota metropolitan di Eropa dan di dunia.

Dengan peraturan penjualan minuman keras Turki tidak kehilangan daya tarik tourismenya. Tahun 2013, tak kurang dari 35 juta wisatawan mengunjungi Turki, dan Istanbul adalah magnet kuat yang menariknya. Hampir 30 juta Istanbul menyumbang devisa dari pengunjung dari berbagai negara. Visa on arrival yang diterapkannya merupakan strategi jituh yang menarik para wisatawan dari manca negara. Kemudahan sarana transportasi, ketertiban lingkungan, keramahan orang Istanbul yang meski tak pandai berbahasa Inggris maupun Arab tapi mereka adalah para pembelajar yang sangat responsif ketika ditanya atau berkomunikasi.

Saat saya menapakkan kaki kembali di Masjid Sultan Ahmad yang dikenal dengan Blue Mosque saya teringat cerita sang sultan yang menginginkan dibangunkan masjid agung khusus dengan menara emas (altın) tapi sang arsitek mendengarnya (altı) –tanpa huruf N- yang berarti enam. Setelah berdiri dengan megah masjid dengan menara enamnya sang sultan sangat kaget mengapa tak ada emas di ujung menara. Dan setelah sang arsitek paham, akhirnya di enam menara masjid ternal tersebut dibubuhi emas. Itulah mengapa Blue Mosque yang terkenal dengan interior birunya itu memiliki menara enam, jumlah terbanyak dan tak ada sebuah masjid pun di Turki memiliki menara sebanyak itu. Rata-rata menaranya dua sampai empat saja. Dan masjid kecil di kampung-kampung bahkan hanya memiliki satu menara saja. Ada banyak kisah menarik dari masjid megah yang berhadapan dengan Aya Sophia yang menjadi icon kota Konstantinopel yang ditundukkan oleh Muhammad al-Fatih.

Di kantor Aliansi Internasional Pembelaan al-Quds dan Palestina

Di kantor Aliansi Internasional Pembelaan al-Quds dan Palestina

Sehari setelah usainya acara konferensi kami manfaatkan untuk berkunjung ke kantor Aliansi Internasional untuk Pembelaan al-Quds dan Palestina. Dalam pertemuan terbatas tersebut kami mematangkan persiapan acara annual meeting dan progress kegiatan aliansi dan serta persiapan pembentukan aliansi perempuan internasional untuk Palestina di bulan Oktober mendatang. Setelah penggalangan NGO-NGO kemanusiaan kemarin maka langkah berikutnya perlu memperluas sektor-sektor di berbagai infrastruktur sosial kemasyarakatan untuk memperluas dukungan dari berbagai lapisan masyarakat internasional. Dan perempuan adalah simpul masyarakat terpenting yang menjadi tulang punggung peradaban.

Sore menjelang petang, saya manfaatkan untuk mengunjungi Bosphorus. Berlayar di antara dua benua besar, Asia dan Eropa. Ditemani Ari Julianto, mahasiswa S3 jurusan ekonomi, Yildiz Teknik Universitasi waktu satu setengah jam di atas kapal terasa sangat singkat sekali. Saat turun kembali di Eminonu, kami menyantap sea food di bawah jembatan yang disulap menjadi restoran-restoran. Luar biasa, ide yang sangat cerdas. Di bawah jembatan pun ada kehidupan dan kegiatan ekonomi produktif. Alasan sederhana kami duduk di Restoran YUNUS BALIK adalah ada tulisan Berbahasa Arab di depan resto tersebut, “Di sini tidak menyediakan minuman beralkohol”.

Restorant Yunus Balik

Restorant Yunus Balik

Di tengah santapan malam tersebut tiba-tiba ada dua pemuda dengan pakaian khas Turki mendatangi kami. “Ya Musthafa… Ya Musthafa…” ooo… suara pengamen melantun dengan sebuah musik khasnya. Sudah beberapa menit berlalu pengamen tersebut masih saja menggumamkan, “Ya Musthafa… Ya Musthafa…” Setengah mati saya menahan tawa. Setelah memberikan 1 TL untuk mengapresiasi mereka tawa saya pun meledak. Bagaimana mereka begitu pede dengan hanya berbekal satu kata “Ya Musthafa… Ya Musthafa…” ia bisa menghibur banyak orang dengan senyum ramahnya. Barangkali kalau Anda mau request lagu artis terkenal di dunia atau di negara Anda, mereka akan menjawab, “BISA” dn saat Anda menunggu mereka melantunkan lagu sambil bersantap malam di tepi laut. Maka jangan kaget jika kemudian yang terdengar adalah “Ya Musthafa… Ya Musthafa…”

Itulah sepotong kenangan kunjungan saya yang ke delapan ke Turki. Turki yang kuat dengan nasionalismenya. Turki yang terinternalisasi dengan agama tapi masyarakat begitu nyaman menerimanya. Turki yang sangat menyintai pemimpinnya. Turki yang begitu percaya diri bahwa mereka pernah memimpin dunia. Dan akan mampu kembali memimpin dunia. Itulah setidaknya yang mereka tunjukkan dengan menjadi tameng utama dan garda terdepan dalam urusan membela Palestina. Kompak, rakyat dan pemimpinnya. Maka sangat wajar jika di tempat ini pernah ada pusat peradaban dunia yang dipimpin umat Islam. Kiblat peradaban dunia yang memberikan sumbangsih kemanusiaan di zamannya.

 Saiful Bahri

Istanbul, 02.09.2014

Jelang check out dan ke Bandara Internasional, Ataturk Havalimani. Jakarta, I’m Coming Biidznillah.

Bersama Mas Ari Julianto

Bersama Mas Ari Julianto

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s