Seminar Aqsa 2 Malaysia

BEBASKANLAH DENGAN CINTA

DSC01998

Dr. Saiful Bahri, M.A, Ketua Asia Pacific Community for Palestine kembali mendapat undangan untuk mengisi seminar tematik tentang Masjid al-Aqsha. Kali ini negeri jiran Malaysia yang berhajat mengadakan seminar tersebut. PACE (Palestine Centre of Excellence) bekerja sama dengan Aqsa Syarif dan Sahabat Aqsa Universiti Kebangsaan Malaysia menggelar acara tersebut dengan tajuk besar SEMINAR AQSA 2, Ke Arah Pembebasan Baitul Maqdis.

Acara ini diadakan di Universitas Kebangsaan Malaysia, Selangor pada hari Sabtu, 27 September 2014. Dimulai pada pukul 09.30 pagi dengan keynote speech oleh Dr. Aminurrasyid Yatiban, dosen pada Institute for Excellence for Islamicjerussalem Studies (IEIJS) di Universiti Utara Malaysia. Pemaparan yang lugas dan detil dari alumni Ph.D Aberdeen Univetrsity, UK ini mengundang decak kagum para peserta karena luasnya wawasan keilmuwan tentang Baitul Makdis yang menjadi spesialisasinya sejak mengambil program magister di Inggris. Beliau meneruskan inisiatif para pendahulunya di Inggris yang mempopulerkan terminologi Islamicjerussalem untuk menerjemahkan kata Baitul Makdis dalam berbagai artikel di berbagai jurnal internasional yang terbit di Inggris juga dalam riset-riset yang teruji secara ilmiah dan mendapatkan respon yang cukup bagus dari para akademisi. Meskipun terminologi ini pun masih debatable karena akan mengundang munculnya cristianjerussalem atau jewsjerussalem. Baitul Makdis sendiri adalah istilah yang dipakai dalam hadits yang berkaitan dengan Syam. Kemudian beliau mengurai penamaan istilah West Bank (Tepi Barat) padahal posisi dan letak geografisnya ada di sebelah timur Palestina. Lalu apa kaitannya dengan East Bank di Jordania. Apa national interest Jordania terhadap Tepi Barat.

Tampil sebagai Pembicara Utama Pertama, Dr. Saiful Bahri, M.A yang juga Wakil Ketua KSB-MUI Pusat mengurai sedikit tentang landmark dan sejarah Masjid al-Aqsha sebagai entry point menjelaskan bahaya penistaan zionisme internasional yang teringkas dalam sebelas poin. Dari penggalian terowongan, perampasan lahan dan pengusiran warga, perlakuan tidak manusiawi kepada jamaah shalat di masjid al-Aqsha berupa kekerasan fisik dan pelarangan bagi para pemuda, program wisata, tingginya pungutan pajak, perusakan fisik masjid, intervensi pengelolaan, dan yang utama adalah rasionalisasi semua yang mereka lakukan dari sebuah mitos Solomon Temple yang masih debatable.

Poin penting lainnya yang dipaparkan adalah bahwa Gaza dengan rangkaian agresi militer, kemudian blokade selama delapan tahun dan berbagai tindakan tidak manusiawi lainnya adalah korban kezhaliman dan bola panas untuk dua kepentingan Israel. Secara internal, sebagai salah satu percobaan dan jualan politik para elit Israel. Dan secara eksternal, memecah suara Palestina terutama antara faksi perlawanan di Gaza dan faksi politik di Tepi Barat. Diharapkan dengan serangan yang bertubi-tubi ini, kecaman datang mengalir, bantuan kemanusiaan dan solidaritas internasional tergalang. Tapi di waktu yang sama, proyek utama zionis tetap berlangsung. Pemukiman ilegal dan proyek penguasaan Jerussalem (Al-Quds) secara total. Dan khususnya adalah kompleks Masjid al-Aqsha. Israel tanpa Jerussalem menjadi tak bermakna, Israel Raya tanpa membuktikan mitos Solomon Temple adalah mimpi yang tak nyata.

Perbincangan hangat berlanjut, ketika sesi break dilakukan. Sambil menikmati santapan ringan, para pembicara melanjutkan diskusi tentang terminology Islamicjerussalem dan beberapa isu terkini di Timur Tengah sampai pada pembicaraan referendum Skotlandia.

Sesi berikutnya adalah giliran Palestine Centre for Excellence (PACE) yang mewakili pihak penyelenggara, Hussaini Abu Khalid salah satu peneliti pada PACE memaparkan makalahnya tentang gerakan perlawanan Palestina yang diprakarsai oleh HAMAS.

Setelah istirahat pendek untuk makan siang dan melaksanakan shalat zhuhur, acara seminar sehari ini berlanjut ke pararel session. Pada sesi ini menghadirkan para panelis.

Prof Madya Dr. Mohd Afandi Saleh, wakil dekan Fakultas Hukum di Universiti Sultan Zainal Abidin , Prof Madya Dr. Hafidzi Mohd Noor, dosen di Universiti Putra Malaysia dan kembali menghadirkan Dr. Saiful Bahri, M.A dosen pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Jakarta. Diskusi Panel ini dimoderatori oleh Mohd Taufik Hussin Mantan Ketua ISN (Ikram Siswa Nasional) Magister Islamic Banking yang bekerja sebagai Auditor Syariahpada CIMB.

Diskusi panel yang berlangsung dalam dua putaran ini membicarakan berbagai tema, dari sejak mitos-mitos penaklukan Baitul Maqdis sampai pada perpolitikan modern Timur Tengah.

Dr. Saiful yang ditanya pertama kali tentang proses dan cerita penaklukan Baitul Makdis menjelaskan dengan singkat strategi Umar dan perjanjian damai di Al-Quds. Pemaparan ini sekaligus mementahkan pertanyaan yang dilontarkan oleh moderator.

“Kita tak perlu memiliki Superman atau Spiderman untuk membebaskan Baitul Maqdis dari penjajahan dan penistaan. Kita memiliki Umar dan Shalahuddin. Mereka bukan mitos, tapi berwujud nyata sebagai manusia seperti kita” tegasnya, “Kita hanya perlu menelusuri faktor dan rahasia kesuksesan mereka. Tiru, lakukan dengan sidikit modifikasi sesuai zamannya”

Sedangkan Dr. Hafidzi yang juga ketua umum Aqsa Syarif menjawab pertanyaan tentang peta perlawanan Palestina dan apakah ini merupakan reaksi terhadap kondisi terkini. Dan Dr. Afandi sebagai dosen hukum dan hubungan internasional berbicara tentang Jordania dan hubungan bilateral dengan Israel.

Pada putaran kedua diskusi semakin seru setelah mendapat respon dari audiens yang menyorot peta politik kawasan Asia Tenggara utamanya serta Timur Tengah dan respon yang berbeda terhadap masalah Palestina.

Pada putaran kedua ini diskusi menghangat ketika para panelis berbeda pandangan terhadap beberapa masalah.

Dr. Hafidzi mengemukakan perlunya belajar sejarah perang atau setidaknya bisa mengambil pelajaran dari filem peperangan modern. Amerika Serikat yang kalah di Afganistan menyelamatkan airmuka dengan menggunakan exit strategy, padahal mereka kalah dan ingin keluar dengan kepala tegak. Hal yang sama dilakukan ketika di Vietnam. Maka strategi dan penguatan para pejuang perlawanan ini perlu dikristalisasi dengan banyak belajar sejarah perang. “Saya tak suka membaca novel-novel cinta” tegasnya.

Dr. Saiful menimpali justru dalam setiap episode perang selalu menghadirkan kisah cinta yang dahsyat. Sebut saja Shafiyah binti Huyay yang kehilangan dua orang penting terdekatnya, suaminya Kinanah bin Rabi’ pimpinan Yahudi Khaibar dan ayahnya Huyay bin Akhthab tokoh penting Yahudi Madinah. Keduanya terbunuh dalam peperangan melawan tentara muslim. Tapi cahaya Allah menjadi dominan dalam dada Shafiyah, ia menerima Islam dan sekaligus kemudian menjadi istri Rasulullah SAW. Kecurigaan umat Islam bahwa ia merencanakan balas dendam tak terbukti dan bahkan sebaliknya, ia membela Islam dengan pembelaan yang luar biasa.

Kisah heroik Shalahuddin al-Ayyubi tak bisa dilepaskan dari seorang perempuan Ismah Khotun yang merupakan Janda mendiang Sultan Nuruddin Zanky. Ia menerima pinangan Shalahuddin dan bersedia menjadi istrinya, untuk menyambung mimpi sang sultan membebaskan Masjid al-Aqsha.

Dalam peperangan modern selalu ada proxy war dan psy war yang sebenarnya juga pernah dilakukan oleh para sahabat dalam berbagai ekspedisi dan futuhat Islamiyah.

“Bebaskan Masjid al-Aqsha dengan cinta. Perangi manusia dengan cinta” tutup Saiful mengakhiri diskusinya.

Pada acara seminar ini terdapat pameran buku dan pernik-pernik Palestina. Buku The Forbidden Country karya Dr. Saiful Bahri, M.A habis terjual. Buku tebal Ensiklopedia Mini Masjid al-Aqsa karya bersama tim kajian Asia Pacific Community for Palestina pun laris dan diburu para peserta. Dai akhir sesi, para peserta asyik berfoto bersama setelah meminta tanda tangan dari Dr. Saiful Bahri.

Selangor, 28.09.2014

DSC02076

Iklan

ISTANBUL 8

YA MUSTHAFA… YA MUSTHAFA…

Semangka Super

Semangka Super

Ini adalah kunjungan saya ke Istanbul untuk ke delapan kalinya. Kesan luar biasa tetap saya dapatkan dari Turki yang membanggakan nasionalismenya. Sangat mudah menemukan bendera-bendera bulan sabit bintang putih di atas latar belakang merah berkibar. Dan di setiap ketinggian akan berkibar bendera dengan ukuran besar. Turki yang bergeliat, meski dihimpit tekanan konspirasi yang tak menginginkan para aktivis Islam sukses menawarkan program-program peradabannya. Setelah jatuh bangun beberapa kali kini sudah lebih dari sepuluh tahun mereka memimpin negara. AK Parti adalah representasi kekuatan politik Islam yang elegan. Menawarkan Islam dengan sangat rasional untuk diterima di tengah masyarakat yang terkikis nilai-nilai keagamaannya karena sudah lama diberangus dan ditekan. Maka sejak leading sepuluhan tahun yang lalu, sosok Erdogan yang melegenda itu sanggup melakukan internalisasi agama di berbagai sektor.

Ketika pertama kali partainya menang, dan Erdogan terpilih sebagai perdana menteri, ia melakukan kejutan besar untuk kaum sekuler yang kelihatan sangat kuat. Kalangan kuat yang pernah memenjarakannya. Emine, istrinya menampilkan simbol perlawanan itu di istana, sekaligus dengan mencolok menampakkan simbol islam, jilbab. Ketika tuduhan meruntuhkan sekuler di istana, Erdogan dengan sangat rasional bisa menjawab. Bahwa, baju yang dikenakan istrinya adalah karya dan hasil desain orang-orang sekuler. Yang ia pakai adalah merk ternama Armany, dan jilbab yang dikenakannya juga dari para perancang busana dari negara-negara non muslim. Maka perjuangan halus ini menuai hasil sepuluh tahun kemudian. Larangan berjilbab di lembaga-lembaga pendidikan dan pemerintahan bisa resmi dicabut.

Sebaliknya, di tahun 2012 ada kemajuan yang luar biasa ketika ada peraturan mengenai pengaturan penjualan minuman beralkohol. Siapa pun di larang menjual minuman keras (minuman beralkohol) dalam radius 100-300 meter di sekitar rumah ibadah, masjid, gereja dan sebagainya. Kemudian waktu penjualannya juga hanya bisa dilakukan antara jam 22.00 malam sampai jam 06.00 pagi.

Ketika tuduhan para oposisi sekuler begitu kuat, dengan enteng pemerintah menjawab. Bahwa jika mabuk adalah hak setiap orang, maka jangan sampai kegiatan turisme Turki terganggu dengan orang-orang mabuk di jam-jam produktif, juga untuk mengurangi angka kecelakaan lalu lintas. Jika mereka mau mabuk di dalam rumah atau ruangan, dipersilakan jika mereka ingin teler selama 24 jam. Pendekatan rasionalisasi yang sangat cerdas.

Di tahun 2012 juga terjadi internalisasi pelajaran agama di sekolah-sekolah. Maka kali ini tuduhan lebih keras karena dikhawatirkan memunculkan paham radikalisme yang membahayakan negara. Maka jawaban pemerintah pun segera hadir dan tersosialisasikan dengan baik. Adalah hak setiap warga negara untuk menjadi apa dan siapapun. Mau menjadi atheis pun adalah hak setiap orang. Tapi jika kebebasan tersebat kemudian memasung hak warga negara untuk mendapatkan pengetahuan dan informasi keagamaan maka itu adalah pemasungan hak asasi manusia. Masuknya pendidikan agama di sekolah pun dengan cara sangat lembut. Di mulai dari materi pilihan ekstrakurikuler. Maka seorang pelajar akan bisa memilih pelajaran al-Quran, fikih ibadah dan lain sebagainya yang dikenal dengan ilahiyat.

Erdogan menjadi sangat fenomenal dengan revolusi Turki modernnya. Konsep peradaban yang ditawarkan partainya pun sangat leading dan mendapat dukungan dari berbagai sektor. Ekonomi, sosial politik dengan kemapanan infrastrukturnya.

Dia begitu cerdas memproteksi petani dari kartel-kartel impor. Dia juga memberi sambungan nafas pada para kontruktor bangunan dengan berbagai proyek renovasi gedung-gedung bersejarah. Sepanjang tahun di setiap waktu akan selalu ada proyek renovasi. Para kontruktor pun bersahabat dan menghormatinya. Di saat yang sama sektor tourisme semakin bergeliat dan bersaing dengan kota-kota metropolitan di Eropa dan di dunia.

Dengan peraturan penjualan minuman keras Turki tidak kehilangan daya tarik tourismenya. Tahun 2013, tak kurang dari 35 juta wisatawan mengunjungi Turki, dan Istanbul adalah magnet kuat yang menariknya. Hampir 30 juta Istanbul menyumbang devisa dari pengunjung dari berbagai negara. Visa on arrival yang diterapkannya merupakan strategi jituh yang menarik para wisatawan dari manca negara. Kemudahan sarana transportasi, ketertiban lingkungan, keramahan orang Istanbul yang meski tak pandai berbahasa Inggris maupun Arab tapi mereka adalah para pembelajar yang sangat responsif ketika ditanya atau berkomunikasi.

Saat saya menapakkan kaki kembali di Masjid Sultan Ahmad yang dikenal dengan Blue Mosque saya teringat cerita sang sultan yang menginginkan dibangunkan masjid agung khusus dengan menara emas (altın) tapi sang arsitek mendengarnya (altı) –tanpa huruf N- yang berarti enam. Setelah berdiri dengan megah masjid dengan menara enamnya sang sultan sangat kaget mengapa tak ada emas di ujung menara. Dan setelah sang arsitek paham, akhirnya di enam menara masjid ternal tersebut dibubuhi emas. Itulah mengapa Blue Mosque yang terkenal dengan interior birunya itu memiliki menara enam, jumlah terbanyak dan tak ada sebuah masjid pun di Turki memiliki menara sebanyak itu. Rata-rata menaranya dua sampai empat saja. Dan masjid kecil di kampung-kampung bahkan hanya memiliki satu menara saja. Ada banyak kisah menarik dari masjid megah yang berhadapan dengan Aya Sophia yang menjadi icon kota Konstantinopel yang ditundukkan oleh Muhammad al-Fatih.

Di kantor Aliansi Internasional Pembelaan al-Quds dan Palestina

Di kantor Aliansi Internasional Pembelaan al-Quds dan Palestina

Sehari setelah usainya acara konferensi kami manfaatkan untuk berkunjung ke kantor Aliansi Internasional untuk Pembelaan al-Quds dan Palestina. Dalam pertemuan terbatas tersebut kami mematangkan persiapan acara annual meeting dan progress kegiatan aliansi dan serta persiapan pembentukan aliansi perempuan internasional untuk Palestina di bulan Oktober mendatang. Setelah penggalangan NGO-NGO kemanusiaan kemarin maka langkah berikutnya perlu memperluas sektor-sektor di berbagai infrastruktur sosial kemasyarakatan untuk memperluas dukungan dari berbagai lapisan masyarakat internasional. Dan perempuan adalah simpul masyarakat terpenting yang menjadi tulang punggung peradaban.

Sore menjelang petang, saya manfaatkan untuk mengunjungi Bosphorus. Berlayar di antara dua benua besar, Asia dan Eropa. Ditemani Ari Julianto, mahasiswa S3 jurusan ekonomi, Yildiz Teknik Universitasi waktu satu setengah jam di atas kapal terasa sangat singkat sekali. Saat turun kembali di Eminonu, kami menyantap sea food di bawah jembatan yang disulap menjadi restoran-restoran. Luar biasa, ide yang sangat cerdas. Di bawah jembatan pun ada kehidupan dan kegiatan ekonomi produktif. Alasan sederhana kami duduk di Restoran YUNUS BALIK adalah ada tulisan Berbahasa Arab di depan resto tersebut, “Di sini tidak menyediakan minuman beralkohol”.

Restorant Yunus Balik

Restorant Yunus Balik

Di tengah santapan malam tersebut tiba-tiba ada dua pemuda dengan pakaian khas Turki mendatangi kami. “Ya Musthafa… Ya Musthafa…” ooo… suara pengamen melantun dengan sebuah musik khasnya. Sudah beberapa menit berlalu pengamen tersebut masih saja menggumamkan, “Ya Musthafa… Ya Musthafa…” Setengah mati saya menahan tawa. Setelah memberikan 1 TL untuk mengapresiasi mereka tawa saya pun meledak. Bagaimana mereka begitu pede dengan hanya berbekal satu kata “Ya Musthafa… Ya Musthafa…” ia bisa menghibur banyak orang dengan senyum ramahnya. Barangkali kalau Anda mau request lagu artis terkenal di dunia atau di negara Anda, mereka akan menjawab, “BISA” dn saat Anda menunggu mereka melantunkan lagu sambil bersantap malam di tepi laut. Maka jangan kaget jika kemudian yang terdengar adalah “Ya Musthafa… Ya Musthafa…”

Itulah sepotong kenangan kunjungan saya yang ke delapan ke Turki. Turki yang kuat dengan nasionalismenya. Turki yang terinternalisasi dengan agama tapi masyarakat begitu nyaman menerimanya. Turki yang sangat menyintai pemimpinnya. Turki yang begitu percaya diri bahwa mereka pernah memimpin dunia. Dan akan mampu kembali memimpin dunia. Itulah setidaknya yang mereka tunjukkan dengan menjadi tameng utama dan garda terdepan dalam urusan membela Palestina. Kompak, rakyat dan pemimpinnya. Maka sangat wajar jika di tempat ini pernah ada pusat peradaban dunia yang dipimpin umat Islam. Kiblat peradaban dunia yang memberikan sumbangsih kemanusiaan di zamannya.

 Saiful Bahri

Istanbul, 02.09.2014

Jelang check out dan ke Bandara Internasional, Ataturk Havalimani. Jakarta, I’m Coming Biidznillah.

Bersama Mas Ari Julianto

Bersama Mas Ari Julianto

CLOSING STATEMENT INTERNATIONAL PUBLIC FOUNDATION TO AID GAZA

Prof. Dr. Yassin Aktay

Prof. Dr. Yassin Aktay

Jika sesi terakhir di hari pertama tema yang diangkat cukup hangat, yaitu tentang advokasi tawanan Palestina dan tema hukum serta kejahatan perang. Maka di hari kedua konferensi International Public Foundation to Aid Gaza, kembali membicarakan beberapa hal yang berkenaan dengan pembangunan kembali Gaza pasca agresi militer Israel. Kali ini lebih kepada infrastuktur di Gaza dan didahului beberapa presentasi tentang blokade di Gaza juga disampaikan progress aktivitas dari beberapa persatuan dokter (regional negara Arab, Eropa dan internasional).

Pada kesempatan kali ini, penasehat Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan, Prof. Dr. Yassin Aktay yang juga Deputi Presiden AK Party menyampaikan sambutannya. Menariknya beliau berbicara dengan Bahasa Arab.

“Kepedulian terhadap Gaza adalah panggilan nurani kemanusiaan. Seruan untuk kita semua, kaum muslimin dan  seluruh umat manusia.” tutur Aktay “Berbuat zhalim adalah hal yang biasa dilakukan oleh Israel, tapi bukan suatu hal yang wajar jika umat Islam kemudian berpangku tangan menyaksikan kezhaliman ini terus berlangsung dan tak berbuat apa-apa. Seandainya umat Islam dan seluruh manusia berdiam diri dan membiarkan kezhaliman ini terjadi, maka Turki dengan segenap pimpinan dan rakyatnya takkan pernah diam dan berpangku tangan Gaza diperlakukan dengan semena-mena.” Orasi ini disambut dengan tepuk tangan yang meriah.

Setelah coffee break, sesi terakhir konferensi ini adalah pembangunan infrastruktur di Gaza. Ada tiga pemateri yang menyampaikan proposalnya. Yang pertama, Ir. Hasyim Syawa selaku wakil presiden direktur Palestine Real Estate Investment Co. Kemudian pemaparan dari Ir. Ibrahim Abu Tsarayya dari Jerman yang merupakan representasi dari Palestinian Engineers Union di Eropa. Pada kesempatan ini Dr. Riyadh Ahmad dari Inggris sebagai perwakilan Asosiasi Dokter Palestina di Eropa juga menyampaikan presentasinya.

Grafik data korban

Tiba saatnya rangkaian konferensi International Public Foundation to Aid Gaza sampai di akhir acara. Closing ceremony dipimpin langsung oleh ketua panitia, Dr. Wael Saqqa.

Beliau membuka prakata pengantarnya dengan berterima kasih kepada seluruh peserta yang bersedia memenuhi undangan panitia untuk mendatangi tempat ini serta bergabung dengan kegiatan ini.

“Dengan nama-nama Anda, kita kukuhkan bersama International Public Foundation to Aid Gaza” kata-kata Dr. Wael penuh semangat. “Saya mohon Anda mendoakannya semoga Allah memberkahinya. Dan melalui forum ini mari kita kukuhkan Dr. Isham Yusuf sebagai ketua International Public Foundation to Aid Gaza. Dan mari kita minta beliau menyebutkan nama-nama orang yang akan membantu kerja-kerja networking beliau”

Kemudian Dr. Ishom Yusuf menyebutkan beberapa nama. Beliau memulainya, “Semoga Allah menolong kita semua dan menjadikan kegiatan ini sebagai amal yang ikhlas dan diterima Allah” kemudian beliau melanjutkan “Setelah berdiskusi dengan tim kecil, mendengar masukan-masukan dari berbagai negara, maka saya meminta nama-nama berikut ini mendampingi kami menunaikan amanah yang tak ringan ini”

  1. Syeikh Ibrahim Zeinal (Qatar)
  2. Hisyam Syathir (Bahrain)
  3. Ahmad Ibrahim (Aljazair)
  4. Riyadh Ahmad (representasi Eropa)
  5. Wael Saqqa (Yordania)

“Saya sebagai panitia berterima kasih kepada media masa dan segenap panitia atas kerja kerasnya. Kemudian kepada yayasan-yayasan Turki yang berjuang keras membantu Palestina. Khususnya memfasilitasi pengobatan para korban perang” tutur Dr. Wael Saqqa, kemudian beliau mempersilakan representasi Qatar Charity.

Dalam sambutannya, Ibrahim Zeinal yang mewakili Qatar Charity berdoa semoga Allah selalu menguatkan para aktivis untuk terus mendukung perjuangan rakyat Gaza dan semoga pertemuan ini menjadi pendahuluan yang baik untuk memperkokoh dan memperkuat jaringan organisasi kemanusiaan.

Selanjutnya, Dr. Wael Saqqa membacakan Closing Statement, Konferensi International Public Foundation to Aid Gaza. Sebagai berikut:

Closing Statement International Public Foundation to Aid Gaza di Istanbul

“Serangan brutal Israel dengan agresi senjatanya telah menggugurkan lebih dari dua ribu jiwa manusia, serta melukai ribuan orang lainnya. Kekejaman juga berkelanjutan dengan menghancurkan bangunan-bangunan, seperti masjid-masjid, gedung sekolah, rumah sakit, yayasan-yayasan kemanusiaan, fasilitas-fasilitas umum, tempat layanan sipil dan tempat-tempat lain yang tak ada hubungannya dengan kemiliteran. Inilah bentuk penindasan yang nyata dan kejam. Tapi penduduk Gaza tak pernah menyerah. Kuat. Gigih. Berani. Tunjukkan kepahlawanan mereka. Maka dengan berbekal panggilan dan amanah kemanusiaan, moralitas dan agama; NGO-NGO dari berbagai penjuru dunia berkomitmen untuk membangun kembali Gaza. Ada ratusan ribu orang terusir dari rumahnya, ada orang-orang yang hidup jauh di bawah standar kemanusiaan. Korban kezhaliman yang disengaja.

Maka selama dua hari ini, kita berkumpul. Peserta yang mencapai 250 orang dari 35 negara dan 70 NGO dengan sponsor utama Qatar Charity, merasa bertanggungjawab untuk turut serta merumuskan pembangunan kembali Gaza. Memulihkan berbagai kondisi pasca agresi militer selama 51 hari.

Maka, kami berkomitmen dan menyatakan:

  1. Berterima kasih kepada Turki, terkhusus kepada Presiden Recep Tayyip Erdoğan yang bersedia menjadi tuan rumah acara konferensi internasional ini. Keseriusan Presiden Erdogan terlihat dengan mengutus penasehatnya untuk datang memenuhi undangan kami. Demikian juga Presiden Tunis Mohamed Moncef Marzouki, yang mengirimkan utusannya, anggota watimpres Tunis.
  2. Para peserta mengukuhkan International Public Foundation to Aid Gaza sebagai konsorsium organisasi kemanusiaan untuk membangun Gaza.
  3. Para delegasi NGO dari berbagai negara telah berkomitmen membantu pembangunan Gaza dengan donasi minimal satu juta US dollar sebagai kontribusi dalam berbagai program kemanusiaan, pembangunan infrastruktur, layanan sosial, pendidikan, kesehatan dan sebagainya.
  4. Mengajak kepada seluruh masyarakat dunia untuk mempercepat berakhirnya blokade yang mengurung penduduk Gaza bertahun-tahun lamanya. Mengajak para praktisi hukum untuk merumuskan cara dan bergerak menyeret para penjahat perang dari zionis Israel yang terlibat pembantaian dan penyerangan di Gaza. Semoga tahun 2014 ini adalah akhir dari blokade tak berperikemanusiaan.
  5. Menyeru kepada pemerintah koalisi Palestina untuk bersatu dan bekerja keras dalam memperjuangkan berakhirnya blokade terhadap Gaza.
  6. Menyeru kepada pemerintah Mesir untuk membuka perbatasan Refah yang menjadi pintu masuk ke Gaza untuk penyaluran bantuan kemanusiaan dan obat-obatan, juga sebagai pintu keluar para korban perang yang terluka sekaligus memberi kesempatan mereka terjangkau oleh pertolongan medis.
  7. Berterima kasih kepada seluruh warga internasional dari berbagai penjuru dunia yang terus memberikan dukungan terhadap penduduk Gaza. Terkhusus, dua negara saudara Qatar dan Turki yang diketahui bersama dukungannya, pemerintah dan rakyatnya.

Istanbul, 31.08.2014

Tertanda

International Public Foundation to Aid Gaza”

IPFAG

Setelah pembacaan closing statement, berakhirlah rangkaian acara konferensi International Public Foundation to Aid Gaza yang berlangsung selama dua hari di Istanbul. Di penghujung acara semua peserta kembali menerima informasi update donasi yang terkumpul, baik dari lembaga maupun dari perorangan. Takbir kemenangan kembali menggema, Dr. Isham Yusuf memimpin takbir selayaknya takbir Idul Fitri dan Idul Adha. Setelah itu acara dilanjutkan dengan sesi foto bersama dan makan siang.

hari kedua