Catatan Keberkahan 28: THE UNTOUCHABLE WARRIORS (2)

THE UNTOUCHABLE WARRIORS (2)

Dr. Saiful Bahri, M.A

Meminjam istilah al-Quran “Lam yakun syai’an madzkûran”, maka setiap manusia akan melewati suatu fase, yaitu di saat ia tak bernama. Tak ada yang sanggup memanggilnya secara definitif. Ketika ia belum ada dan belum hadir di dunia. Bahkan saat ia terlahir dan keluar dari rahim ibunya, ia pun tak langsung tiba-tiba dipanggil dengan namanya. Meskipun orang tuanya telah menyiapkan sebuah nama untuknya, sejak dari jauh hari sebelum kelahirannya. Ia tak dikenal. Tak ada yang menyebutnya, kecuali ketika orang tuanya mengurus akte kelahirannya. Secara administratif, ia harus diberi nama. Dan Baginda Rasulullah saw. menyunnahkan untuk memberi nama kehidupan baru tersebut pada hari ke tujuh sekaligus disembelihkan satu atau dua ekor kambing yang dikenal dengan aqiqah, selain juga dianjurkan bersedekah untuknya seharga emas dengan berat rambut yang dicukur dari kepalanya.

Pelan namun pasti manusia mendefinisikan dirinya. Ia pun perlahan dikenal oleh lingkungannya. Baik lingkungan terdekat yang mencintainya, ataupun bahkan lingkungan jauh yang memusuhinya. Kadang ia didefinisikan sebagai kebaikan yang bermanfaat dan dicintai, namun kadang pula ia dikenal sebagai simbol kezhaliman dan kerusakan yang mesti dimusuhi dan dijauhi.

Identitas seseorang minimal ditandai dengan nama pribadi dan keluarganya. Kemudian menyusul pekerjaannya, pendidikannya, keahliannya, tempat tinggal dan lain sebagainya. Keperluan identifikasi tersebut sudah menjadi keniscayaan di era pergaulan modern sekarang, bahkan dari sejak adanya manusia ketika berkelompok dan hadirnya kelompok atau individu lain. Tujuannya sederhana, untuk memproteksi keamanan internal atau sebaliknya, sebagai salah satu bentuk eksternalisasi, marketing ide dan sebagainya kepada pihak lain.

Dalam suasana perang modern, identifikasi identitas menjadi lebih penting. Apalagi jika tidak digunakan untuk pengamanan internal ataupun penyerangan terhadap pihak musuh. Ingin memperjelas status seseorang, apakah ia sebagai teman ataupun sebaliknya.

Lihat konteks peperangan yang terjadi di Palestina saat ini. Lebih tepat sebenarnya disebut penyerangan, bukan peperangan apalagi disebut konflik. Karena kasus ini terjadi pada dua pihak yang tidak seimbang. Pihak terzhalimi yang ditindas oleh penjajah. Kekuatan besar kezhaliman yang merekayasa informasi untuk berpihak padanya -zionis Israel- dengan tema besar MEMBELA DIRI. Sementara pihak terzhalimi yang mempertahankan hak dan kedaulatan sering diverbalkan sebagai ancaman TERORISME dan KEBRUTALAN.

Serangan udara zionis Israel ke Gaza di bulan Ramadan lalu sedikitnya telah mengakibatkan gugurnya korban jiwa 1980 orang. Menurut data yang dipaparkan oleh Departemen Kesehatan Palestina, melalui juru bicaranya Asyraf Qudrah pada hari Sabtu (16/8/2014). Sementara korban lukan-luka mencapai angka 10.196 orang.

Biro PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan di Tanah Palestina (OCHA) mengatakan dalam laporan yang diterbitkan hari Sabtu (16/08/2014), jumlah orang-orang yang terlantar akibat agresi Zionis ke Jalur Gaza mencapai lebih dari 218 ribu warga. Mereka tersebar di 87 sekolah milik Badan Bantuan dan Pemberdayaan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) di berbagai penjuru Jalur Gaza.

Laporan tersebut menyatakan, lebih dari 100 ribu warga Palestina membutuhkan tempat tinggal alternatif setelah pasukan Zionis menghancurkan rumah-rumah mereka secata total atau rusak berat sebagiannya.

Kerugian materi yang besar tersebut dialami oleh Palestina. Secara sepihak biasanya mereka disebut-sebut sebagai pihak yang kalah perang. Padahal ini bukan peperangan. Tetapi sebuah pembunuhan masal. Sebuah genosida modern. Pembantaian masif yang dilakukan secara sistematis oleh penjajah Zionis Israel terhadap Bangsa Palestina.

Tapi sesungguhnya mereka para kaum tertindas, bangsa Palestina adalah pemenangnya. Serangan zionis Israel yang membabi-buta adalah indikasinya. Mereka menarget faksi perlawanan (HAMAS) namun nyatanya tak sedikit pun sasaran mereka memenuhi target. Justru yang terjadi adalah serangan brutal kepada pihak sipil. Dan korban sipil terbesar tersebut adalah anak-anak dan kaum wanita.

Sementara itu para pejuang perlawanan (HAMAS) masuk dari satu terowongan dan keluar dari terowongan lainnya. Inilah yang membuat mereka nyaris “tak tersentuh”. Sebaliknya para serdadu zionis masuk perangkap dengan nyali yang tidak stabil meski mereka sesumbar dengan mulut besar di berbagai media masa. Sebut saja satuen elit Brigade Golani yang menangis di pusara Sersan Shachar Tase, di desa Pardesiya, di Israel, Selasa, 22 Juli 2014. Shachtar salah satu dari 13 tentara penjajah tewas dalam beberapa insiden terpisah di Syuja`iyah. Mereka menyulut api di Syuja`iyah dan menciptakan neraka untuk diri mereka sendiri.

Bukan tak mustahil, pejuang-pejuang tak tersentuh tersebut juga dibantu oleh jenis pasukan lain yang tak bisa diukur, disadari atau disentuh oleh standar manusia biasa. Apalagi di bulan Ramadhan mentalitas dan spiritual umat Islam sedang berada pada tingkatan tertingginya. Inilah yang dilupakan oleh para pemegang kebijakan pasukan zionis.

The untouchable warriors ini tak pernah berhenti atau bahkan surut nyalinya untuk memperjuangkan satu hal penting dalam hidup mereka. Bahkan jika harus melawan arus media seluruh dunia yang memojokkan, yang memberikan stigma negatif kepada mereka. Bahkan di saat bantuan materi pun sulit untuk sampai kepada mereka karena kepungan blokade yang tak kunjung dibuka dan diselesaikan. Bahkan ketika bantuan moril tetangga-tetangga mereka lebih terkesan formalitas dan basa-basi belaka. Para pejuang itu dengan lantang menyampaikan pesan, bahwa ketika sedikit kepedulian atau bahkan nihil kepedulian di dunia. Mereka dikepung dengan berbagai tuduhan keji dan konspirasi yang tak kunjung usai.

Para pejuang tersebut bukan hanya tak diketahui identitas mayoritas anggotanya, tapi mereka juga tak diketahui di mana keberadaannya. Di mana pusat-pusat persenjataan mereka. Seperti apa persediaan persenjataan mereka. Tak juga diketahui strategi perlawanan mereka. Dan satu hal yang bisa dipastikan adalah bahwa korban jiwa yang gugur adalah dari sipil, yaitu anak-anak dan para perempuan. Tak satu pun terdengar komentar miring dari keluarga korban yang menyalahkan para pejuang tersebut. Semua rakyat Gaza kompak mendukung HAMAS. Semua bahkan seolah memperbarui “pembaiatan” mereka pada perlawanan penuh untuk mengusir kezhaliman dan penjajahan dari bumi dan kedaulatan mereka. Para pejuang itu tak bisa disentuh oleh senjata-senjata terbarukan dari sistem persenjataan modern sekalipun. Tak juga mereka bisa disentuh oleh strategi perang secanggih apapun. Tak juga bisa disentuh oleh maker atau tipu daya yang keji sekalipun. Tapi, para pejuang yang tak nampak tersebut telah mampu –dengan izin Allah- menyentuh hati rakyat Palestina untuk tidak menyerah terhadap gempuran kezhaliman Zionis Israel. Bahkan sentuhan hati ini terdengung ke seluruh penjuru dunia. Tak hanya di kalangan umat Islam. Tapi di hati mereka yang masih memiliki rasa kemanusiaan. Karena perlakuan Zionis Israel sudah sangat melewati batas untuk dinamakan sebagai perilaku manusia. Apalagi manusia modern yang sering mengaku beradab dan bermartabat.

Jika malam semakin kelam, maka fajar akan segera menyingsing

Kemenangan bermartabat sudah semakin dekat. WalLâhu al-Musta’ân.

 

Catatan Keberkahan 28

Jakarta, 18.08.2014

*) Selamat HUT RI ke 69 semoga semakin mendorong terwujudnya bangsa dan negara yang maju dan bermartabat dan memakmurkan rakyatnya. Serta tak hentikan dukungan untuk bangsa Palestina untuk menentukan nasibnya sendiri, dari penjajahan dan kezhaliman yang masih mereka alami.

**) Sambungan tulisan > http://www.aspacpalestine.com/id/item/870-the-untouchable-warriors

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s