INTERNATIONAL PUBLIC FOUNDATION TO AID GAZA

delegasi Indonesia

Asia Pacific Community for Palestine (ASPAC) bersama beberapa NGO Indonesia; KNRP (Komite Nasional untuk Rakyat Palestina), RZ (Rumah Zakat), Lembaga Kemanusiaan Nasional PKPU, BSMI (Bulan Sabit Merah Indonesia), WAFAA International dan PAHAM (Pusat Advokasi Hukum dan Hak Asasi Manusia) bertolak menuju Istanbul untuk bergabung bersama NGO-NGO internasional untuk bersama membangun Gaza. Acara yang diprakarsai oleh para aktivis Miles to Smile ini mendeklarasikan komitmen bersama membangun kembali Gaza. Acara yang bertajuk Seminar 1, International Public Foundation to Aid Gaza ini berlangsung selama dua hari, 30-31 Agustus 2014. Bertempat di Ballroom, Gorrion Hotel Istanbul, dengan sponsor utama Qatar Charity.

Pada opening ceremony, acara ini dibuka dengan bacaan ayat suci al-Quran yang dilantunkan oleh Syeikh Ibrahim Jibril, seorang ulama dari Afrika Selatan, beliau mewakili Majelis Hakim Muslimin Internasional.

Sambutan pertama disampaikan oleh panitia seminar, Ir. Wael Saqqa, Jordania (Direktur arab Public Foundation to Aid Gaza). Dalam sambutannya beliau menekankan pentingnya networking berbagai pihak terkait yang memiliki komitmen dalam membangun kembali Gaza pasca serangan brutal zionis Israel. Melalui forum seperti ini, diharapkan lebih efektif dalam tukar menukar pengalaman dan mendengarkan langsung berita terkini dari sumbernya untuk kemudian ditindaklanjuti dengan bantuan riil terhadap bangsa Palestina, khususnya di Gaza. Karena berbagai kondisi kemanusiaan maka bantuan kemanusiaan tersebut diharapkan bisa segera disalurkan.

Secara khusus, mewakili panitia dan peserta menyampaikan terima kasih kepada Qatar Charity yang menjadi sponsor utama terselenggaranya acara ini.

Keynote speech disampaikan oleh penggagas acara ini, Dr. Isham Yusuf, aktivis Miles to Smile yang lahir di Palestina pada tahun 1955 dan terusir dari tanah kelahirannya pada tahun 1967. Pidato singkatnya cukup menggugah, meski diawali dengan sedikit isakan suara yang tercekat. Dalam kesempatan tersebut, beliau menyampaikan ucapan terima kasih dan memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada penduduk Gaza, setelah bersyukur kepada Allah.

Penghargaan atas kegigihan dan kesabaran penduduk Gaza. Kukuhnya mereka mempertahankan kehormatan umat Islam.

Setelah itu beliau memimpin para peserta mengalunkan takbir, layaknya takbir Idul Fitri. Takbir kemenangan. Menyambut kemenangan bangsa Palestina. Kemudian beliau secara khusus menyampaikan terima kasih kepada Turki khususnya melalui pimpinannya, Erdogan yang mendukung penuh perjuangan bangsa Palestina. Tak lupa beliau sampaikan terima kasih kepada Qatar Charity yang mendonasikan dana sekitar 70.000 USD untuk keperluan acara seminar ini.

“Tema utama pertemuan kita kali ini adalah bagaimana secara efektif mengakhiri blokade di Gaza dengan menyertakan sebanyak mungkin pihak dan bangsa. Kemudian melawan penjajahan yang juga sangat identik dengan pendudukan, pemukiman ilegal dan blokade Palestina dari berbagai sisi.” lanjut Dr. Isham Yusuf. “Meskipun upaya perdamaian telah dilakukan beberapa pihak. Namun, tak bisa mengakhiri blokade dan menghentikan penjajahan”

“Hari ini, amanah bersama kita adalah membangun kembali Gaza Baru” kata-kata Dr. Isham Yusuf menusuk hati para aktivis kemanusiaan, “Kerusakan parah terjadi akibat serangan brutal Israel. Sehingga lebih dari 300.000 orang tak bisa menghuni rumah mereka. Dan jumlah masjid yang dihancurkan sangat banyak. Ini sebuah kesengajaan menantang Allah”

“Maka, jika kita biarkan saudara kita di Gaza dengan berat hati harus meminta tolong kepada kita untuk membantu mereka, maka itu adalah kejahatan kemanusiaan yang berikutnya. Jangan kita lakukan hal itu. Jangan sampai mereka berat menyampaikan permintaan tolong. Jangan kita tambahkan penderitaan mereka dengan membiarkan mereka meminta tolong kepada kita. Hormati dan berterima kasihlah kepada mereka dengan bersama-sama membangun kembali Gaza.” Dr. Isham melanjutkan dengan semangat dan mengakhiri sambutannya dengan ungkapan heroic, “Setelah itu kita bebaskan al-Quds bersama-sama”

Dalam pertemuan ini, delegasi Aljazair, Dr. Muhammad ad-Duwaiby juga turut menyampaikan sambutannya, demikian juga kepala Kantor Kepresidenan dan Juru Bicara Presiden Tunis, Dr. Adnan Manshar. Keduanya menyampaikan dukungan penuh Aljazair dan Tunis, baik rakyat maupun pemerintah terhadap perjuangan bangsa Palestina. Terkhusus rakyat Gaza yang sudah bertahun-tahun hidup dalam blokade yang tak berperikemanusiaan.

Berikutnya sambutan disampaikan oleh Yasyar Shad Oglu dari Turki mewakili persatuan NGO Islam yang tergabung di dalam IHH (İnsan Hak ve Hürriyetleri) Humanitarian Relief Foundation yang beranggotakan NGO-NGO di 100 negara.

Kerjasama yang perlu segera direalisasikan saat ini adalah dibidang kemanusiaan dan bantuan sosial terhadap Gaza yang dikenal sebagai simbol kegigihan dan kekukuhan terhadap berbagai penderitaan, penjajahan, blokade yang mereka alami. Beliau juga menambahkan bahwa IHH juga melakukan beberapa seminar keislaman untuk mengcounter isu Islamophobia yang berkembang di beberapa kalangan yang sering mengaku sebagai gerakan modernisasi.

Opening ceremony ini diakhiri dengan sambutan sponsor utama, Qatar Charity yang disampaikan oleh Dr. Ibrahim Zeinal Musa.

Acara ditutup sementara dengan sesi coffee break. Sesi ini digunakan delegasi Indonesia untuk memburu beberapa tokoh penting yang hadir dalam acara tersebut. Delegasi Indonesia menyempatkan diri untuk berfoto bersama di depan panggung utama.

Dalam sesi break ini Dr. Saiful Bahri, M.A sempat berbincang-bincang dengan Dr. Thahir Abdurrahman, salah seorang pendiri Aspac dari Malaysia untuk merumuskan acara seminar regional Asia Pasifik untuk mendukung Gaza.

Acara kembali dilanjutkan dengan penyampaian current issue di Gaza pasca agresi militer Israel. Dalam sesi kedua ini dilaksanakan juga telekonferens secara live dengan perwakilan kementrian sosial di Gaza melalui jaringan Skype.

“Apa yang diinginkan Gaza dari Anda sekarang? Milyaran bahkan lebih dari itu”. Untuk kesehatan, pendidikan, sosial, ekonomi, pembangunan dan kemanusiaan. Tapi bantuan yang sangat urgen, mendesak dan lebih diprioritaskan adalah bantuan kemanusiaan untuk kelayakan hidup para pengungsi. Ada 18.000 bangunan hancur. Ratusan ribu anak-anak dan orang tua yang terpaksa menggelandang karena tak memiliki apa-apa. Tak ada uang, pakaian, makanan dan standar kelayakan hidup sebagai manusia. Mereka tersebar di mana-mana. Di sekolah-sekolah dan pengungsian sementara, juga di rumah sakit-rumah sakit.

“Kami tahu, bahwa penting maknanya membangun kembali gedung-gedung, rumah sakit, sekolah, masjid dan rumah. Namun untuk saat ini, lebih mendesaj adalah membantu mereka yang tak punya apa-apa. Membantu mereka untuk hidup sebagai manusia. Meski dengan bantuan minimal. Ada lebih dari 6000 kegiatan ekonomi terhenti. Dan itu berarti ada banyak orang yang tak berpenghasilan, selain rumah mereka yang sudah hilang dan hancur.”

Syeikh Musthafa Abu Khalil, mewakili International Public Foundation to Aid Gaza menyampaiakn angka-angka terbaru terkait korban agresi Israel di Gaza. Ada 58.080 bangunan hancur dan rusak. 2.080 di antaranya hancur total dan 8.000 bangunan rusak berat serta tidak mungkin dipergunakan. Ada 38.000 bangunan dengan kerusakan yang perlu perbaikan, meski masih bisa dipakai. Sebanyak 461.643 orang tak memiliki tempat tinggal. Sebagian ke rumah saudaranya, sebagian mengungsi di sekolah-sekolah, sebagian berpindah-pindah tak menentu. Ada 121 masjid rusak akibat serangan ini. 71 di antaranya hancur dan rusak berat.

Korban jiwa selama lebih dari 50 hari agresi Israel di Gaza mencapai 2140 jiwa yang gugur. Ada 11.161 orang luka-luka. 2.088 di antaranya perempuan dan 3.374 dari anak-anak. Termasuk yang cacat permanen dan luka-luka berat.

Gaza saat ini tak ada listrik, minim makanan, obat-obatan, pakaian, dan air. Nyaris tak ada kehidupan. Dari mana mereka mendapatkan air minum? Bagaimana mereka melakukan kegiatan bersih-bersih (MCK), bagaimana mencuci baju yang juga terbatas?

Maka perkiraan sementara, satu keluarga rata-rata memerlukan bantuan minimal senilai 3000 USD untuk bertahan selama empat bulan ke depan.

Bersamaan dengan program bantuan kemanusiaan ini, maka pembangunan kembali Gaza menjadi tanggung jawab bersama. Pembangunan di berbagai sektor; kesehatan, pendidikan, sarana umum, ekonomi dan sosial.

Sesi kedua ini diakhir dengan penyampaian komitmen bantuan yang dipimpin langsung oleh Dr. Isham Yusuf selaku ketua International Public Foundation to Aid Gaza. Satu persatu perwakilan delegasi dan NGO menyampaikan komitmen yang diawali dengan nominal minimal satu juta USD. Qatar, Aljazair, Saudi, Bahrain, Rusia, Afrika Selatan, Perancis, Jordania, Malaysia dan sebagainya dengan jumlah yang bervariasi. Hingga akhirnya delegasi Indonesia menyepakati angka satu juta USD untuk bantuan program kesehatan, anak-anak dan pendidikan. Dalam sambutan mewakili delegasi Indonesia Dr. Saiful Bahri, M.A mendahului dengan ikatan sejarah yang kuat antara Palestina dan Indonesia, serta kedekatan rakyat dan bangsa Indonesia dengan Palestina meski jauh secara geografis. “Setelah beberapa kali gelombang bantuan ke Gaza tahun ini serta bantuan ambulan dan alat kesehatan”. “Dan sekarang…?” Dr. Isham memotong. “Insyaallah kami berkomitmen membantu satu juta US dollar” Dr. Saiful Bahri, M.A mengakhiri sambutannya.

komitmen 1

Dari Gaza, kita tak melihat sifat kekanak-kanakan dari anak-anak kecil yang dewasa secara cepat. Dari Gaza tak terlihat penuaan pada orang-orang tua dan manula. Tak juga kita temukan wajah sedih dan kelemahan pada wajah para perempuan Gaza.

Gaza simbol kegigihan dan kehormatan… melawan kezhaliman dan kebrutalan penjajahan.

Istanbul, 30.08.2014

Komitmen 5

Iklan

Catatan Keberkahan 28: THE UNTOUCHABLE WARRIORS (2)

THE UNTOUCHABLE WARRIORS (2)

Dr. Saiful Bahri, M.A

Meminjam istilah al-Quran “Lam yakun syai’an madzkûran”, maka setiap manusia akan melewati suatu fase, yaitu di saat ia tak bernama. Tak ada yang sanggup memanggilnya secara definitif. Ketika ia belum ada dan belum hadir di dunia. Bahkan saat ia terlahir dan keluar dari rahim ibunya, ia pun tak langsung tiba-tiba dipanggil dengan namanya. Meskipun orang tuanya telah menyiapkan sebuah nama untuknya, sejak dari jauh hari sebelum kelahirannya. Ia tak dikenal. Tak ada yang menyebutnya, kecuali ketika orang tuanya mengurus akte kelahirannya. Secara administratif, ia harus diberi nama. Dan Baginda Rasulullah saw. menyunnahkan untuk memberi nama kehidupan baru tersebut pada hari ke tujuh sekaligus disembelihkan satu atau dua ekor kambing yang dikenal dengan aqiqah, selain juga dianjurkan bersedekah untuknya seharga emas dengan berat rambut yang dicukur dari kepalanya.

Pelan namun pasti manusia mendefinisikan dirinya. Ia pun perlahan dikenal oleh lingkungannya. Baik lingkungan terdekat yang mencintainya, ataupun bahkan lingkungan jauh yang memusuhinya. Kadang ia didefinisikan sebagai kebaikan yang bermanfaat dan dicintai, namun kadang pula ia dikenal sebagai simbol kezhaliman dan kerusakan yang mesti dimusuhi dan dijauhi.

Identitas seseorang minimal ditandai dengan nama pribadi dan keluarganya. Kemudian menyusul pekerjaannya, pendidikannya, keahliannya, tempat tinggal dan lain sebagainya. Keperluan identifikasi tersebut sudah menjadi keniscayaan di era pergaulan modern sekarang, bahkan dari sejak adanya manusia ketika berkelompok dan hadirnya kelompok atau individu lain. Tujuannya sederhana, untuk memproteksi keamanan internal atau sebaliknya, sebagai salah satu bentuk eksternalisasi, marketing ide dan sebagainya kepada pihak lain.

Dalam suasana perang modern, identifikasi identitas menjadi lebih penting. Apalagi jika tidak digunakan untuk pengamanan internal ataupun penyerangan terhadap pihak musuh. Ingin memperjelas status seseorang, apakah ia sebagai teman ataupun sebaliknya.

Lihat konteks peperangan yang terjadi di Palestina saat ini. Lebih tepat sebenarnya disebut penyerangan, bukan peperangan apalagi disebut konflik. Karena kasus ini terjadi pada dua pihak yang tidak seimbang. Pihak terzhalimi yang ditindas oleh penjajah. Kekuatan besar kezhaliman yang merekayasa informasi untuk berpihak padanya -zionis Israel- dengan tema besar MEMBELA DIRI. Sementara pihak terzhalimi yang mempertahankan hak dan kedaulatan sering diverbalkan sebagai ancaman TERORISME dan KEBRUTALAN.

Serangan udara zionis Israel ke Gaza di bulan Ramadan lalu sedikitnya telah mengakibatkan gugurnya korban jiwa 1980 orang. Menurut data yang dipaparkan oleh Departemen Kesehatan Palestina, melalui juru bicaranya Asyraf Qudrah pada hari Sabtu (16/8/2014). Sementara korban lukan-luka mencapai angka 10.196 orang.

Biro PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan di Tanah Palestina (OCHA) mengatakan dalam laporan yang diterbitkan hari Sabtu (16/08/2014), jumlah orang-orang yang terlantar akibat agresi Zionis ke Jalur Gaza mencapai lebih dari 218 ribu warga. Mereka tersebar di 87 sekolah milik Badan Bantuan dan Pemberdayaan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) di berbagai penjuru Jalur Gaza.

Laporan tersebut menyatakan, lebih dari 100 ribu warga Palestina membutuhkan tempat tinggal alternatif setelah pasukan Zionis menghancurkan rumah-rumah mereka secata total atau rusak berat sebagiannya.

Kerugian materi yang besar tersebut dialami oleh Palestina. Secara sepihak biasanya mereka disebut-sebut sebagai pihak yang kalah perang. Padahal ini bukan peperangan. Tetapi sebuah pembunuhan masal. Sebuah genosida modern. Pembantaian masif yang dilakukan secara sistematis oleh penjajah Zionis Israel terhadap Bangsa Palestina.

Tapi sesungguhnya mereka para kaum tertindas, bangsa Palestina adalah pemenangnya. Serangan zionis Israel yang membabi-buta adalah indikasinya. Mereka menarget faksi perlawanan (HAMAS) namun nyatanya tak sedikit pun sasaran mereka memenuhi target. Justru yang terjadi adalah serangan brutal kepada pihak sipil. Dan korban sipil terbesar tersebut adalah anak-anak dan kaum wanita.

Sementara itu para pejuang perlawanan (HAMAS) masuk dari satu terowongan dan keluar dari terowongan lainnya. Inilah yang membuat mereka nyaris “tak tersentuh”. Sebaliknya para serdadu zionis masuk perangkap dengan nyali yang tidak stabil meski mereka sesumbar dengan mulut besar di berbagai media masa. Sebut saja satuen elit Brigade Golani yang menangis di pusara Sersan Shachar Tase, di desa Pardesiya, di Israel, Selasa, 22 Juli 2014. Shachtar salah satu dari 13 tentara penjajah tewas dalam beberapa insiden terpisah di Syuja`iyah. Mereka menyulut api di Syuja`iyah dan menciptakan neraka untuk diri mereka sendiri.

Bukan tak mustahil, pejuang-pejuang tak tersentuh tersebut juga dibantu oleh jenis pasukan lain yang tak bisa diukur, disadari atau disentuh oleh standar manusia biasa. Apalagi di bulan Ramadhan mentalitas dan spiritual umat Islam sedang berada pada tingkatan tertingginya. Inilah yang dilupakan oleh para pemegang kebijakan pasukan zionis.

The untouchable warriors ini tak pernah berhenti atau bahkan surut nyalinya untuk memperjuangkan satu hal penting dalam hidup mereka. Bahkan jika harus melawan arus media seluruh dunia yang memojokkan, yang memberikan stigma negatif kepada mereka. Bahkan di saat bantuan materi pun sulit untuk sampai kepada mereka karena kepungan blokade yang tak kunjung dibuka dan diselesaikan. Bahkan ketika bantuan moril tetangga-tetangga mereka lebih terkesan formalitas dan basa-basi belaka. Para pejuang itu dengan lantang menyampaikan pesan, bahwa ketika sedikit kepedulian atau bahkan nihil kepedulian di dunia. Mereka dikepung dengan berbagai tuduhan keji dan konspirasi yang tak kunjung usai.

Para pejuang tersebut bukan hanya tak diketahui identitas mayoritas anggotanya, tapi mereka juga tak diketahui di mana keberadaannya. Di mana pusat-pusat persenjataan mereka. Seperti apa persediaan persenjataan mereka. Tak juga diketahui strategi perlawanan mereka. Dan satu hal yang bisa dipastikan adalah bahwa korban jiwa yang gugur adalah dari sipil, yaitu anak-anak dan para perempuan. Tak satu pun terdengar komentar miring dari keluarga korban yang menyalahkan para pejuang tersebut. Semua rakyat Gaza kompak mendukung HAMAS. Semua bahkan seolah memperbarui “pembaiatan” mereka pada perlawanan penuh untuk mengusir kezhaliman dan penjajahan dari bumi dan kedaulatan mereka. Para pejuang itu tak bisa disentuh oleh senjata-senjata terbarukan dari sistem persenjataan modern sekalipun. Tak juga mereka bisa disentuh oleh strategi perang secanggih apapun. Tak juga bisa disentuh oleh maker atau tipu daya yang keji sekalipun. Tapi, para pejuang yang tak nampak tersebut telah mampu –dengan izin Allah- menyentuh hati rakyat Palestina untuk tidak menyerah terhadap gempuran kezhaliman Zionis Israel. Bahkan sentuhan hati ini terdengung ke seluruh penjuru dunia. Tak hanya di kalangan umat Islam. Tapi di hati mereka yang masih memiliki rasa kemanusiaan. Karena perlakuan Zionis Israel sudah sangat melewati batas untuk dinamakan sebagai perilaku manusia. Apalagi manusia modern yang sering mengaku beradab dan bermartabat.

Jika malam semakin kelam, maka fajar akan segera menyingsing

Kemenangan bermartabat sudah semakin dekat. WalLâhu al-Musta’ân.

 

Catatan Keberkahan 28

Jakarta, 18.08.2014

*) Selamat HUT RI ke 69 semoga semakin mendorong terwujudnya bangsa dan negara yang maju dan bermartabat dan memakmurkan rakyatnya. Serta tak hentikan dukungan untuk bangsa Palestina untuk menentukan nasibnya sendiri, dari penjajahan dan kezhaliman yang masih mereka alami.

**) Sambungan tulisan > http://www.aspacpalestine.com/id/item/870-the-untouchable-warriors

 

Safari Dakwah Ramadan 1435 H

DSCN6287

DIE BERLINER SONNE

Bertolak dari Jakarta, menuju Amsterdam merupakan perjalanan yang melelahkan. Apalagi, beberapa hari terakhir sebelumnya sangat padat agenda. Tak heran jika dalam perjalanan yang saya lakukan hanya mengubah posisi duduk, dan tetap dengan mata terpejam. Bangun-bangun hanya untuk makan, ke toilet dan shalat shubuh. Alhamdulillah sesampai di Schiphol Airport Belanda, sempat berkeliling ke beberapa obyek di Amsterdam diiringi udara sejuk pagi menjelang siang. Transit yang efektif dan karena memang schengen visa saya dapatkan dari Belanda, maka saya harus masuk Eropa melalui Belanda. Alhamdulillah, Allah memudahkan prosesnya.

Sore harinya perjalanan sesungguhnya dimulai. Ke Berlin. Di sinilah nantinya saya dijadwalkan mengikuti serangkaian agenda Ramadan 1435 H. Masjid al-Falah Berlin – Lembaga Kemanusiaan PKPU Jakarta – KBRI Berlin, merencanakan serangkaian program Ramadan di Berlin.

Acara dimulai keesokan harinya, Khutbah dan Shalat Jumat, kemudian penyambutan Ramadan yang ditandai dengan shalat tarawih bersama. Didahului sambutan singkat Ketua Masjid al-Falah, Dipl.-Ing. Dimas Abdirama, dilanjutkan dengan prakata sambutan Duta Besar RI di Berlin, Dr. -Ing. Fauzi Bowo. Saya juga sempat menyampaikan beberapa kata perkenalan.

Putaran jarum jam pada waktu itu terasa sangat lambat. Namun, padatnya kegiatan menjadikan seolah waktu demikian cepatnya berlalu. Masjid al-Falah yang merupakan EO utama kegiatan Ramadan ini bermitra dengan Lembaga Kemanusiaan Nasional PKPU di Jakarta dan KBRI Berlin, menjadi magnet bagi masyarakat Indonesia (khususnya) di Berlin untuk turut serta aktif menyemarakkan kegiatan Ramadan tahun ini.

Kegiatan-kegiatan yang cukup variatif. Dimulai dari sahur bersama yang dirangkai dengan shalat shubuh dan kajian Islam Ba’da Shubuh (KIBAS). Semula saya underestimate terhadap kajian ini, karena waktunya sangat “kritis” yaitu setelah shubuh yang saat itu jam 02.30. Tapi -justru- ternyata antusias peserta menjadikan kajian ini hidup dan menjadi inspirasi-inspirasi yang bagus –khususnya bagi saya-. Inilah satu-satunya rangkaian kegiatan yang seluruh pesertanya lengkap tanpa ada yang terlambat mengikutinya. Karena dilakukan langsung setelah dzikir singkat seusai menunaikan shalat shubuh. Alhamdulillah, Ramadan kali ini melalui kajian ini, seluruh surat al-Quran di Juz Amma (juz 30) selesai ditadabburi. Dimulai dari Surahan-Naba’ hingga akhir ayat Surah an-Nâs.

Pagi menjelang siang, pengajian muslimah dilakukan dengan penekanan harmonisasi keluarga, manajemen hati dan perasaan, melengkapi fikih ibadah yang disampaikan pada beberapa sesi. Siang menjelang sore tak ketinggalan pula, setiap Rabu para pemuda mengkhususkan waktu untuk mereka sebagaimana para pemudi mengambil hari Kamis. Kajian kepemudaan atau kepemudian ini ditekankan pada kajian fikih motivasi, mulai dari manajemen diri dan potensi, sampai pada kajian peradaban dan mengrikitisi metodologi liberal sambil menelaah metodologi penafsiran al-Quran. Khusus untuk para pemudi diakhiri dengan kajian fikih perempuan.

Kegiatan harian ini ditutup dengan Kajian Islam Jelang maghrib (KARIB). Dengan tema-tema variatif, sejak menggali lebih dalam esensi Ramadan, Puasa dan Zakat, maupun kisah-kisah al-Quran, serial manajemen resiko, manajemen pengelolaan masjid dan beberapa tema lainnya. Kajian ini menandai usainya puasa dengan buka bersama di Masjid al-Falah setelah menunaikan puasa rata-rata berdurasi 19 jam lamanya. Durasi yang cukup lama untuk menahan lapar dan dahaga dengan tuntutan masih beraktivitas seperti biasa, apalagi beberapa mahasiswa juga mengikuti ujian semester mereka. Yang bekerja juga tetap masuk seperti biasa. Masyaallah, Allah memberikan kekuatan fisik dan mental melakukan ibadah puasa di tengah tantangan iklim dan suasana sosial yang jauh berbeda. Alhamdulillah.

Pada setiap Jumat sore rangkaian kegiatan kajian keislaman, buka puasa bersama dan shalat taraweh berjamaah dilakukan di aula utama KBRI Berlin. Sedangkan buka bersama masyarakat Indonesia selain hari-hari biasa, lebih semarak dan dipadati banyak orang pada hari Sabtu di Masjid al-Falah. Bapak-bapak juga tak mau ketinggalan. Setiap Ahad sore menjelang buka bersama, forum kajian al-Hisab juga melaksanakan pengajian yang didahului dengan tilawah bersama kemudian tadabbur serta diskusi keislaman.

Ada hal menarik dalam pelaksanaan shalat kali ini. Yaitu untuk maghrib dan isya, sesuai rekomendasi Majelis Ulama Eropa yang membolehkan menjamak shalat Maghrib dan Isya dengan jamak takdim. Untuk di Masjid al-Falah, usai berbuka ringan jamaah melakukan shalat maghrib dan isya berjamaah dengan jamak takdim. Setelah itu baru menikmati hidangan makan malam bersama, kira-kira hingga 40-50 menit. Kemudian acara ditutup dengan melakukan shalat sunnah tarawih dan witir berjamaah.

Banyak pertimbangan pembolehan jamak ini. Secara khusus Majelis Ulama Eropa menerbitkan fatwa tentang hal-hal yang berkaitan dengan puasa khususnya, di puncak musim panas. Diantara para anggota Majelis Ulama Eropa (the European Council for Fatwa and Research) adalah:

  1. Dr. Yusuf Al-Qaradawi, President of ECFR (Egypt, Qatar)
  2. Judge Sheikh Faisal Maulawi, Vice-President (Lebanon)
  3. Sheikh Hussein Mohammed Halawa, General Secretary (Ireland)
  4. Sheikh Dr. Ahmad Jaballah (France)
  5. Sheikh Dr. Ahmed Ali Al-Imam (Sudan)
  6. Sheikh Mufti Ismail Kashoulfi (UK)
  7. Ustadh Ahmed Kadhem Al-Rawi (UK)
  8. Sheikh Ounis Qurqah (France)
  9. Sheikh Rashid Al-Ghanouchi (UK)
  10. Sheikh Dr. Abdullah Ibn Bayya (Saudi Arabia)
  11. Sheikh Abdul Raheem Al-Taweel (Spain)
  12. Judge Sheikh Abdullah Ibn Ali Salem (Mauritania)
  13. Sheikh Abdullah Ibn Yusuf Al-Judai, (UK)
  14. Sheikh Abdul Majeed Al-Najjar
  15. Sheikh Abdullah ibn Sulayman Al-Manee’ (Saudi Arabia)
  16. Sheikh Dr. Abdul Sattar Abu Ghudda (Saudi Arabia)
  17. Sheikh Dr. Ajeel Al-Nashmi (Kuwait)
  18. Sheikh Al-Arabi Al-Bichri (France)
  19. Sheikh Dr. Issam Al-Bashir (Sudan)
  20. Sheikh Ali Qaradaghi (Qatar)
  21. Sheikh Dr. Suhaib Hasan Ahmed (UK)
  22. Sheikh Tahir Mahdi (France)
  23. Sheikh Mahboub-ul-Rahman (Norway)
  24. Sheikh Muhammed Taqi Othmani (Pakistan)
  25. Sheikh Muhammed Siddique (Germany)
  26. Sheikh Muhammed Ali Saleh Al-Mansour (UAE)
  27. Sheikh Dr. Muhammed Al-Hawari (Germany)
  28. Sheikh Mahumoud Mujahed (Belguim)
  29. Sheikh Dr. Mustafa Ciric (Bosnia)
  30. Sheikh Nihad Abdul Quddous Ciftci (Germany)
  31. Sheikh Dr. Naser Ibn Abdullah Al-Mayman (Saudi Arabia)
  32. Sheikh Yusuf Ibrahim (Switzerland)

 

Para ulama di atas melakukan beberapa kajian dan menerbitkan beberapa fatwa, diantaranya adalah pembolehan jamak takdim shalat maghrib dan isya dengan beberapa konsideran yang cukup banyak. Diantaranya, masuknya waktu isya yang sulit diperkirakan karena malam hari di puncak musim panas langit tidak benar-benar gelap. Mega merah bertahan cukup lama dikhawatirkan menyerupai datangnya waktu fajar. Waktu isya baru bisa dipastikan benar-benar masuk dengan hilangnya mega merah setelah tengah malam dan memasuki waktu fajar. Disamping itu, waktu malam yang hanya (5) lima jam menjadi tantangan tersendiri untuk umat Islam melakukan rangkaian kegiatan malam di Bulan Ramadan. Sementara keesokan harinya mereka tetap harus beraktivitas seperti biasanya. Sebagian pelajar bahkan sedang menempuh ujian semesternya, sebagian bersiap-siap melakukan interview, sebagian lagi dengan setumpuk pekerjaannya. Dengan pertimbangan tersebut dan berbagai kondisi lainnya, maka untuk shalat maghrib dan isya dilakukan dengan jamak takdim.

Allah telah karuniakan banyak nikmat-Nya. Terkhusus untuk kaum muslimin di Berlin. Satu syawal yang ditunggu-tunggu Allah datangkan dengan kemenangan untuk mereka yang menantinya. Kemenangan mendapatkan pengampunan dan pembebasan-Nya dari neraka dan murka-Nya yang tiada tertandingi. Idul Fitri semakin syahdu dengan iringan rintik-rintik hujan. Tak berapa lama hujan berhenti, seolah member kesempatan untuk kaum muslimin memanfaatkan berjalan-jalan dengan kerabat, family dan teman-temannya. Menikmati nafas baru yang Allah berikan pada mereka. Nafas harapan untuk tetap pertahankan spirit perjuangan mengalahkan diri sendiri. Nafas baru untuk tetap bertahan pada kebaikan yang sudah dibiasakan selama sebulan. Nafas baru yang Allah karuniakan dengan berbagai rekayasa kebaikan yang ditawarkan-Nya selama sebulan penuh. Mudah menjadi ramah dan menebar cinta, hati terasa lembut menyayangi sesame. Ringan memaafkan dan lapang dada. Memburu prestasi dengan perbanyak sedekah dan tilawah serta menghidupkan malam dengan munajat dan shalat malam. Berharap Allah karuniakan kebaikan malam lailatul qadar-Nya. Malam yang diistimewakan-Nya melebihi seribu bulan lainnya. Jika seorang muslim dikaruniai Allah kebaikan seribu malam ini, niscaya ia akan menjadi pribadi yang menandingi –bahkan- melebihi kualitas dan kuantitas seribu komunitas yang ada di bumi-Nya. Semoga Allah benar-benar menjaga nikmat dan karunia mahal-Nya ini untuk kita. Amin. (Baca: Khutbah Idul Fitri 1435 H, Nafas Kemenangan). Umat Islam dan Msyarakat Indonesia di Berlin melakukan rangkian Shalat Idul Fitri di KBRI Berlin.

Segenap pengurus al-Falah, IWKZ. E.V melengkapi suasana liburan Idul Fitri kali ini dengan jalan-jalan santai bersama di Spandau sambil menikmati Gelato dan es krim di tengah hari, sesuatu yang sudah sebulan lebih tak bisa dilakukan di siang hari.

Sekembali di masjid, ada perasaan lain. Ada sesuatu yang beda dengan masjid al-Falah. Yang semula ramai penuh dengan masyarakat, mendadak menjadi sepi. Hening. Saat menjelang shubuh, biasanya ada berbagai aktivitas di sana. Ada yang belajar, ada yang mengerjakan tugas. Ada yang shalat malam, dan ada yang membaca al-Quran. Ada yang berdiskusi dan berkonsultasi. Dan ada yang menyiapkan santap sahur bersama. Kini, mendadak sepi. Hening. Ada sesuatu yang hilang. Sungguh kerinduan itu keluar dari relung hati yang dalam. Untung kondisi “kesepian” ini tidak berlanjut lama. Saya berkesempatan melakukan kunjungan, sekaligus liburan ke Italia. Terimakasih terkhusus kepada Dr. Ir. Hamim, MS.I (Atase Pertanian KBRI di Roma) yang menyambut sekaligusbanyak membantu selama kami berada di Roma. Juga kemudian melanjutkan perjalanan ke kota air di Italia, Venesia.

IMG_8590

Ketika kembali ke Berlin, para remaja dan pengurus masjid sudah sibuk menyiapkan acara Halal Bihalal dan Ramah Idul Fitri 1435 H. Acara ini sekaligus menjadi perpisahan simbolik dari Pengurus IWKZ dan Masyarakat Indonesia di Berlin dengan saya. Menariknya, para pemuda sempat melakukan pertandingan sepakbola dengan saya keesokan harinya. Meskipun sudah sebulan lebih tak berolahraga, Alhamdulillah pertandingan berjalan seru. Bermain di atas lapangan sintetis yang bagus membuat saya bebas mengeksplorasi lapangan. Hanya saja memang faktor usia tak bisa dibohongi. Saya tak lagi selincah dulu. Tapi untuk pertandingan kali ini tak buruk-buruk amat. Sebuah gol dan dua assist buat saya itu sudah cukup lumayan. Alhamdulillah tubuh ini masih bugar. Allah karuniakan kesehatan. Bahkan menariknya lagi, berat badan saya naik nyaris dua kilogram. Dan ternyata puasa 19 jam tidak menyusutkan berat badan saya.

Sepak Bola pasca Ramadan

Dalam kesempatan ini saya juga terharu melihat acara pertemuan khusus dengan adik-adik pelajar/mahasiswa angkatan 2014 yang bersemangat menyongsong masa depannya di Jerman. Doa khusus saya semoga mereka semuanya dikaruniai kesuksesan dan prestasi yang baik. Kelak mereka dapat membangun bangsa Indonesia lebih maju dan bermartabat.

Tiba saatnya saya harus kembali ke Indonesia. Purna sudah safari dakwah Ramadan saya kali ini. Sama halnya saat Ramadan pergi ada dua perasaan yang paradoks menyesaki dada saya. Kebahagiaan menyambut janji kemenangan Allah dan nafas baru optimisme dengan bulan Syawal. Tapi keajaiban dan kebaikan bulan Ramadan berlalu dengan sangat cepat sebelum saya bisa maksimalkan dan optimalkan kesempatan mahal tersebut.

Kali ini dua hal tersebut kembali menyusup ke relung hati saya. Bahagia, karena ini adalah akhir dari perpisahan saya dengan keluarga saya selama sebulan lebih. Saya memvisualisasikan pertemuan yang sangat dinanti-nantikan dengan istri dan anak-anak saya. Karunia istimewa Allah yang lain kepada saya di dunia ini. Di saat yang sama saya harus meninggalkan sejuta kenangan dan harapan. Kesan dan rasa yang tak terekspresikan secara verbal mengenai banyak hal di Bulan Ramadan kali ini. Berlin dengan julukan metropolitan Eropanya, menantang siapa saja untuk mempertahankan prinsip atau larut dengan arus budaya kota besar. Kegigihan masyarakat muslim di sana menjadikan ada sisi sejuk lain di kota Berlin. Di puncak summer yang sangat identik dengan baju minim serba terbuka, masih cukup mudah menemukan para muslimah yang konsiten menutup auratnya. Sejuk berbalut ketakwaan dan ketaatan pada Rabbnya. Kaum muslimin secara umum berjibaku dengan durasi yang lama berpuasa. Disaat-saat rekan kerja atau masyarakat terheran-heran, mengapa perlu menahan lapar dan dahaga sepanjang itu? Andai mereka mengetahui hakikat perintah langit ini. Andai mereka menyelami kenikmatan yang Allah janjikan ini. Andai mereka merasakan nikmatnya nafas-nafas harapan yang Allah berikan kepada kita, dengan persaudaraan. Dengan kebersamaan. Tantangan-tantangan menjadi sangat ringan. Secara umum, mencari makanan halal di Berlin tidaklah sesulit di kota-kota lainnya di Eropa. Karena lebih dari 30% penduduk Berlin adalah umat Islam dari berbagai lapisan masyarakat dan warga negara. Dan yang lebih menarik, makanan di Berlin jauh lebih murah di banding tempat-tempat lainnya. Apalagi untuk ukuran kota metropolitan di Eropa.

Ada banyak kenangan di sana. Menenggelamkan kerinduan pada keluarga dengan berbagai aktivitas dan diselingi berwisata di tempat-tempat bersejarah dan pemandangan alam yang indah. Menjadikan saya banyak bersyukur atas karunia Allah yang selalu melebihi ekspektasi saya. Selalu tak sanggup saya perkirakan. Selalu melebihi dari kemampuan saya menghitungnya. Bahkan melebihi dari apa yang saya pinta setiap harinya.

Doa saya terselip setiap saat semoga matahari yang ditunggu-tunggu setiap musim dingin menjadi biasa di musim panas. Kini matahari itu telah terang benderang hadir di tengah-tengah Eropa. Umat Islam kian berperan dan bisa menunjukkan prestasinya, semoga Allah meninggikan kalimat-Nya di mana saja. Semoga Allah lanjutkan nafas kemenangan ini dengan makin mudahnya umat Islam melaksanakan ajaran agamanya. Di tengah-tengah keterbatasan dan kekurangannya.

Secara khusus saya berterima kasih kepada Pengurus Masjid al-Falah, IWKZ e.V, Lembaga Kemanusiaan Nasional PKPU, Bapak Duta Besar di Berlin & segenap staf KBRI Berlin, Pengajian al-Hisab dan al-Hikmah, Para pemuda and pemuda al-Falah, Forum Pengajian Muslimah al-Falah. Segenap masyarakat Indonesia di Berlin. Juga kepada nama-nama yang tak bisa saya sebut satu persatu, karena terlalu banyaknya. Atas semuanya. Dari sejak penerimaan dan antuasiasnya selama mengikuti kegiatan Ramadan 1435 H di Berlin. Semoga membuahkan spirit dan motivasi positif untuk berkembang lebih baik. Mohon maaf atas segala khilaf, salah dan keterbatasan saya.

 

Amsterdam, 06.08.2014

Saiful Bahri

(memanfaatkan waktu transit di Schipol Airport, Amsterdam)

???????????????????????????????

 

???????????????????????????????