Guru, Ustadz, Motivator dan Orang Tua

KH. ROSYIDI ASYROFI, LC

Ruh & Motivator Penuntut Ilmu bagi Murid-Muridnya

ustadz_rosyidi

Dua puluh dua tahun yang lalu, saya mendengar kalimat-kalimat motivasi yang aneh tapi luar biasa. “Jika kalian ingin melanjutkan sekolah di Al-Azhar, Mesir. Mulailah sekarang dengan menabung. Belilah seekor anak sapi. Rawatlah dan nanti menjelang Anda lulus, juallah untuk bekal Anda sekolah di sana” tutur beliau menyemangati murid-muridnya di MAPK Surakarta.

Bagi pelajar dari keluarga seperti saya mana mungkin akan mampu membeli seekor sapi saat itu, membeli seekor kambing pun belum tentu mampu. Tetapi analog motivasi beliau luar biasa. Hal tersebut semakin saya ketahui di saat perjuampaan-perjumpaan dengan beliau berikutnya. Apalagi deskripsi beliau tentang musim panas yang luar biasa. Debu-debu kota Cairo nampak dengan jelas di depan mata menguji para penuntut ilmu di perguruan al-Azhar. Menariknya yang selalu menjadi penyejuk adalah visualisasi nikmatnya juz mangga. Luar biasa! Beliau bahkan menggambarkan bagi yang meminumnya seusai kuliah di musim panas akan membuat telinga berdiri. Menyegarkan tenggorokan. Kata-kata itulah yang kemudian menjadi nyata. Pada tahun 1995 dua puluh dua dari empat puluh siswa beliau mendaftarkan diri ke IAIN Walisongo Semarang untuk mengikuti seleksi beasiswa sebagai calon mahasiswa di Universitas al-Azhar di Mesir. Sayangnya tak satupun dari siswa-siswa beliau yang lulus pada seleksi beasiswa tersebut. Namun, siapa menyangka dari jumlah tersebut kemudian terdapat tiga belas siswanya yang menghadap beliau membulatkan tekad untuk berangkat ke Mesir. Meski tanpa beasiswa. Sebagian di antaranya bermodalkan tekad yang kuat dengan persiapan seadanya bahkan dengan segala keterbatasan dan kekurangan.

Yang membuat beliau dan keluarga beliau menjadi sangat spesial adalah karena teman-teman saya kebanyakan di antar keluarganya hingga Bandara Internasional Soekarno Hatta, Cengkareng. Sedangkan saya di antar bapak dan ibu ke rumah beliau di Solo. Bapak ibu saya menyerahkan saya kepada Ustadz Rosyidi Asyrofi untuk selanjutnya bersama ustadz ke Jakarta dan kemudian ke Mesir. Detik dan saat itulah yang saya takkan lupakan seumur hidup saya. Saat di sisi saya tak ada orang tua. Saya selalu menganggap beliau ayah saya. Saat dari kaca bandara teman-teman saya melambaikan tangan pada keluarganya. Saat-saat mereka berpisah dengan ayah ibu mereka, ada peluk haru dan isak tangis mengiringi kafilah penuntut ilmu. Tapi tidak dengan saya. Saya tak punya air mata. Karena saya tak melihat bapak ibu saya di bandara. Tak juga ada peluk haru dengan mereka karena mereka mengirim peluk haru dari kejauhan. Bahkan sekedar suara saja saya pun tak mampu mendengarnya. Waktu itu belum ada telpon seluler seperti sekarang. Saya hanya memeluk cinta. Saya memeluk harapan dan tekad untuk nanti kembali membawa ilmu yang bermanfaat sebagai bentuk bakti orang tua. Saya hadirkan ayah dan ibu sekaligus dalam diri ustadz Rosyidi. Beliau saya peluk erat. Meski tanpa air mata. Saya ingin menjadi tegar. Karena ayah, ibu dan adik-adik saya juga orang-orang yang menyintai saya ingin saya sukses dan kembali mengabdi di tanah air.

Kemudian…

Berlalu 5151 hari di Mesir. Strata satu, dua dan tiga –bi’idznilLâh awwalan wa akhîran– selesai di Universitas al-Azhar. Saya kembali ke Jakarta dan menetap di sana bersama keluarga kecil saya. Sebagai orang baru di tanah air saya pasang gigi satu untuk persiapan take off, berkhidmah di masyarakat sekaligus berkarir di ibukota yang sering divisualisasikan dengan kehidupan keras dan penuh persaingan kompetitif. Saya beri kabar kepulangan saya. Bahagia mendengar keceriaan di balik telepon di sana di Solo. Orang tua saya yang satu ini merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Beberapa saat kemudian saya mendengar berita pernikahan putrinya. Momen kebahagiaan ini pun saya belum bisa menjumpai beliau secara fisik. Menghadiri walimah tersebut.

Hingga saat beliau sakit dan semakin parah sakitnya, maka saya terus berdoa kepada Allah supaya beliau diberi kesembuhan dan saya bisa bertemu langsung. Saya ingin mencium kening dan kedua tangan mulianya. Sentuhan ikhlasnya berbuah banyak. Saya adalah salah satu hasil sentuhan tersebut. Sentuhan keberkahan yang Allah kirimkan melalui beliau dalam hidup saya.

Akhirnya Allah berikan kesempatan itu, saya bersama pasukan lengkap (Nusaibah, Fatma dan Umar serta ibu mereka, Nurbaiti) berazam menjumpai beliau. Apapun yang terjadi saya harus bertemu beliau. Menggunakan jalan darat via jalur selatan saya mengemudikan mobil berpenumpang keluarga kecil saya. Bertolak ke Magelang sesuai informasi awal bahwa beliau ada di Muntilan. Ternyata beliau sudah tak di sana kurang lebih sejak dua bulan. Keluarga beliau di sana memberitahu. Kondisi ini diperparah karena saat ganti telpon, ada sebagian nomer yang tidak terselamatkan dan belum sempat terlacak. Alhamdulillah, pada akhirnya saya menjumpai beliau terbaring tiada daya di rumah beliau di Surakarta. Tepatnya pada hari Kamis, 22 Mei 2014 saat adzan Maghrib berkumandang. Shalat Maghrib di rumah beliau menjadi pengalaman lain penuh makna bersama anak-anak dan istri saya. Bercerita meski tak bisa lama dengan ibu yang demikian tegar menerima putusan Allah atas kondisi ustadz yang belum ada perkembangan.

Hingga akhirnya, tadi malam saya menerima beberapa sms bertanya kondisi ustadz. Sebagian status bbm dan media sosial teman-teman dan adik-adik kelas saya menyebut beliau sudah kembali kepada Allah. Saya konfirmasi berita tersebut dan benar adanya. Ustadz KH. Rosyidi Asyrofi meninggal dunia petang Rabu kemarin dan akan dikebumikan hari ini sesuai wasiatnya di tempat asalnya di Muntilan, Magelang.

Allahummaghfir lahû warhamhu wa’âfihî wa’fu ‘anhu. Ya Rabb karuniakan rahmat-Mu kepadanya di alam penantian. Balaslah dengan cinta-Mu segala jasa-jasa dan amal baiknya. Ampunilah segala khilaf dan salahnya dan kumpulkanlah beliau bersama orang-orang yang Engkau cintai.

Jakarta, 05.06.2014

SAIFUL BAHRI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s