THALUT, DAWUD, JALUT

Anugerah Kepemimpinan, Seleksi Ketaatan dan Runtuhnya Mitos Kezhaliman[1]

Nabi Musa alaihissalam telah wafat. Tugas risalahnya telah purna dan pengorbanannya untuk Bani Israil juga berakhir. Ajal yang ditetapkan Allah tak dapat diundur atau diajukan, meski malaikat maut yang akan menjemputnya sempat “mengadu” kepada Allah ketika penyamarannya sebagai manusia berujung reaksi keras Nabi Musa as yang mencolok matanya. Malaikat mengadu pada Tuhannya, “Ya Rabb, Engkau utus aku kepada hamba-Mu yang tak menginginkan kematian”. Ternyata penggalan kisah tersebut hanya salah paham yang disebabkan minimnya informasi yang sampai kepada Nabi Musa juga kepada sang malaikat. Terbukti ketika Allah menitahkan kembali untuk menawarkan kepada Nabi Musa supaya beliau meletakkan telapak tangannya di perut sapi liar (tsaur) dan setiap bulu akan dihitung satu tahun kehidupan. Namun, Sang Nabi menolak, karena jika ajal sudah tiba berarti perjumpaannya dengan kekasihnya akan menjadi nyata. Nabi Musa memilih berdoa agar dimatikan di tempat yang semakin dekat dengan tanah suci yang –dulu- pernah dijanjikan kepada Bani Israil, tanah Palestina[2].

Sepeninggal Musa alaihissalam risalah kenabian tidaklah terhenti atau putus. Estafet tersebut berlanjut dengan diutusnya para nabi setelahnya. Ada yang berpendapat, Yusya’ lah penerus pertama beliau kemudian dilanjutkan oleh Samuel. Demikian tutur sebagian pakar tafsir, termasuk di antaranya Ibnu Katsir dalam Tafsîr al-Qur’ân al-Azhîm yang juga menuangkan pendapatnya dalam bukunya Qashash al-Anbiyâ’.

Rupanya, penyesalan Bani Israil sangat mendalam karena penolakan mereka atas tanah Palestina yang pernah dijanjikan Allah kepada mereka. Hukuman Allah yang membuat mereka terkatung-katung pada akhirnya menjadikan sebagian mereka tersadar akan kelalaian berjihad dan keengganan berkorban, menjemput kemenangan yang sudah dipastikan Allah melalui janji-Nya sebagaimana disampaikan Musa alaihissalam.

Hal inilah –mungkin- diantara sekian sebab yang menjadikan beberapa tokoh Bani Israil memberanikan diri menghadap Sang Nabi Penerus[3] untuk membicarakan mimpi-mimpi tanah suci dan perjuangan menuju ke sana. Keluar dari kehinaan, kenistaan dan keterpurukan yang Allah timpakan akibat maksiat dan penolakan berjihad di masa lampau. Al-Quran menuturkan:

Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israil sesudah Nabi Musa, yaitu ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka: “Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah”. Nabi mereka menjawab: “Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang”. Mereka menjawab: “Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari anak-anak kami?”. Maka tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, merekapun berpaling, kecuali beberapa saja di antara mereka. Dan Allah Maha Mengetahui siapa orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah [2]: 246)

Cerita singkat ini menggambarkan bahwa sifat pengecut tidak benar-benar telah hilang di tengah-tengah mereka. Ada kepribadian ganda menyelinap di antara rasa sesal sebagian mereka. Sebagian lagi sudah mulai nyaman dengan kondisi yang sebenarnya pun tak bisa disebut ideal. Terkatung-katung di tengah ketidakpastian dan berada di padang tîh dalam keadaan yang jauh dari nyaman.

Prediksi Sang Nabi menjadi kenyataan, bahwa kedatangan sebagian tokoh Bani Israil tidaklah mewakili keseluruhan Bani Israil yang ada atau bahkan yang telah insaf sekalipun.  Nabi mereka menjawab: “Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang”. Dan benar, meski kekhawatiran ini mereka jawab, “Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari anak-anak kami?”. Nantinya, hanya sedikit saja di antara mereka yang memenuhi panggilan jihad dan perlawanan terhadap rezim jabbârin di Palestina, Jalut yang zhalim.

Pada ayat berikutnya Allah menuturkan proses turunnya pertolongan-Nya dengan sangat meyakinkan dan alur yang menegangkan. Dimulai dari pemilihan Thalut sebagai raja mereka.

Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu”. Mereka menjawab: “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?” Nabi (mereka) berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa”. Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 247)

Sang Nabi Penerus menjelaskan bahwa Allah telah mengutus Thalut dan mengangkatnya sebagai raja bagi Bani Israil. Para tokoh tersebut terkejut. Sebagian di antara mereka mengira bahwa yang akan terpilih adalah salah seorang di antara mereka yang dibahasakan al-Quran dengan al-mala’. Tapi, nyatanya yang muncul adalah figur yang unpredictable. Sosok yang sama sekali tidak diperkirakan oleh mereka sebelumnya. Bahkan nantinya muncul resistensi yang cukup kuat.

Mereka menjawab: “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?”

Mereka mengira bahwa otoritas kekuasaan dan pemerintahan akan berada di antara mereka. Tapi ternyata tidak. Penolakan mereka menurut ayat di atas berdasarkan dua hal:

  1. Kekuasaan dan pemerintahan lebih berhak dipegang oleh salah satu di antara mereka, karena mereka merasa mewakili Bani Israil
  2. Thalut tidaklah merupakan figur yang menonjol kekayaan materinya yang mereka tuturkan dengan “al-mâl

Dua hal tersebut dijawab langsung oleh Sang Nabi, “Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa”.

  1. Bahwa Thalut adalah “al-mushthafâ” (pilihan Allah).
  2. Bahwa Thalut diberikan keluasan ilmu.
  3. Bahwa Thalut dianugerahi fisik yang kuat dan perkasa.
  4. Bahwa standar materi sama sekali tidak dipakai oleh Allah.

Di dalam ayat ini Allah menggunakan dua redaksi yang berbeda yang saling menguatkan eksistensi kedua maknanya.

  1. Pertama, “ba’atsa” yang berarti mengutus/mengangkat (sebagai raja)
  2. Kedua, “isthafâ” yang berarti memilih (di antara akar katanya shafâ’ishthifâ > yang bermakna kemurnian)

Yang pertama menunjukkan “al-mab’uts” adalah otoritas pengangkatan sebagai raja berasal dari Allah. Dia adalah anugerah Allah yang tak terbantahkan. Harus diterima dengan taat dan penuh ketundukan. Raja Thalut, bukan dipilih manusia. Tidak pula direkomendasikan para malaikat. Bahkan tidak juga diusulkan oleh nabi mereka. Atau muncul dari kalangan yang menonjol di Bani Israil. Tapi Thalut adalah pilihan Allah. Titah langit untuk bumi.

Yang kedua menunjukkan “al-mushthafâ” sebagai proses pemilihan dan kemurnian yang dihasilkan dari proses tersebut. Terbaik di antara orang-orang baik. Bagaikan madu yang disarikan melalui lebah dari saripati bunga-bunga. Maka pengangkatan Thalut oleh Allah sebagai raja tidaklah seperti menghadirkan makhluk lain –superpower- di tengah-tengah Bani Israil. Tetapi ia adalah tetap manusia biasa dan berada di tengah-tengah mereka. Allah justru ingin menegaskan proses pemilihan tersebut berjalan natural dengan bimbingan-Nya. Dia adalah yang terbaik di antara yang ada. Dan nantinya menjadi pembuka dan sebagai pendahuluan untuk memunculkan figur lainnya yang lebih baik lagi, yaitu Dawud muda yang kelak akan menggantikan kedudukannya sebagai raja, sekaligus nabi bagi Bani Israil.

Sungguh lembut rekayasa Allah dalam memunculkan tokoh dan menganugerahi pemimpin yang diperlukan Bani Israil. Pemimpin yang diperlukan untuk mengeluarkan mereka dari kepengecutan. Mengangkat mereka dari kemalasan dan keengganan berkorban. Menarik kuat mereka dari kehinaan dan kenistaan akibat melanggar titah Tuhan. Pemimpin yang berwawasan dan berbadan kuat.

Sang Nabi Penerus melanjutkan kompetensi dan karakteristik kepemimpinan Thalut.

Dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; tabut itu dibawa malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang beriman.” (QS. Al-Baqarah [2]: 248)

Bahwa Thalut diyakini sebagai figur yang dijanjikan mampu mengembalikan tabut yang hilang dan dirampas dari mereka. Atau penafsiran kedua secara zhahir, Allah akan mengembalikan tabut tersebut melalui malaikat yang membawanya.

Ibnu Katsir, juga para pakar tafsir klasik lainnya memuat beberapa riwayat mengenai bentuk fisik tabut tersebut. Sebagian besar mendiskripsikannya berupa peti berbentuk kotak empat persegi panjang. Tapi penulis –sengaja- tidak menghadirkan riwayat-riwayat tersebut atau analisa dari riwayat tersebut demi ringkasnya tadabbur.

Yang menarik justru kalimat setelah tabut yang dituturkan dengan redaksi “فِيهِ سَكِينَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ” (di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu). Seolah Allah ingin menekankan makna tabut tersebut benar-benar menjadi “pusaka” spirit dan pasokan mental bagi Bani Israil. Secara fisik memang tabut tersebut memuat peninggalan Musa dan Harun alaihimassalam. Banyak pendapat mengungkapkan apa sesungguhnya tabut tersebut. Sebagian menyatakan berisi alwâh, lembaran-lembaran Kitab Taurat. Tetapi kata “sakinah” lebih berdimensi ruh dan sipiritual. Bahwa tabut tersebut adalah salah satu sumber spirit bagi Bani Israil. Ia ibarat sang saka merah putih di era perlawanan gerilyawan dan pejuang Indonesia melawan penjajahan Belanda atau Jepang.

Ia bagaikan seonggok besi tua berwujud becak di salah satu sudut rumah mewah di pelataran rumah megah seorang kaya raya. Ketika sang pemilik rumah bepergian sang anak mencoba merapikan halaman dan menjual besi tua tersebut dengan tujuan merapikan taman dan pekarangan rumah. Ketika sang ayah kembali ia terkejut karena besi tua tersebut telah hilang. Lalu ia memerintahkan anaknya untuk mencari becak tua sampai berhasil mendapatkannya kembali. Sang anak pun terheran-heran, mengapa besi tua itu sangat berarti bagi ayahnya yang sangat kaya raya. Sang ayah dengan penuh penekanan bertutur bahwa ia dulunya adalah “seorang tukang becak”. Ia ingin menjelmakan becak tersebut sebagai tabut bagi anak-anaknya yang akan memutar kembali kisah perjuangannya. Sebagai teladan dan buah tutur kekuasaan Allah terhadapnya.

Kira-kira demikianlah visualisasi tabut, agar terhadirkan di tengah Bani Israil kegigihan perjuangan Musa yang harus rela jauh dari keluarga aslinya. Besar di tengah rezim kezhaliman. Lalu melawan kezhaliman yang sumbernya juga adalah ayah angkatnya, Fir’aun. Setelah itu pun Musa dengan sabarnya menyertai kaumnya dengan berbagai permintaan yang melampaui batas. Musa menyertai mereka saat Allah menghukum mereka di padang Tih.

Umat Islam pun saat ini bisa menghadirkan tabut-tabut baru yang menjadi sarana datangnya sakinah. Tabut peninggalan Nabi Muhammad SAW itu bisa berupa mushaf-mushaf yang ada dalam genggaman kita. Dengan melihat mushaf yang kita pegang, memutar memori kita pada perjuangan Nabi Muhammad SAW saat menerima dan menyampaikan risalah kenabian-Nya.

Bagi sepasang suami istri tabut keluarga mereka bisa berupa cincin pernikahan yang disimpan. Saat usia pernikahan emas mereka, kotak kecil berisi cincin tersebut akan memutar kembali memori indah saat-saat mereka memadu cinta dan harmoni dalam ikatan suci yang dicatat malaikat-Nya.

Lalu Allah mengisahkan kepemimpinan Thalut.

Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata: “Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya; bukanlah ia pengikutku. Dan barangsiapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka dia adalah pengikutku”. Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata: “Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya”. Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah, berkata: “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar”. (QS. Al-Baqarah [2]: 249)

Thalut meninggalkan Bani Israil yang enggan memenuhi panggilan jihad dan kewajiban yang Allah turunkan untuk mereka. Thalut pun penuh percaya diri dan menyampaikan ujian atau seleksi pertama yaitu: SUNGAI. Thalut mengatakan, “Maka siapa di antara kamu meminum airnya; bukanlah ia pengikutku. Dan barangsiapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka dia adalah pengikutku”. Kenyataan mengungkapkan bahwa mereka yang lolos ujian ini sangat sedikit. Imam Qatadah menyebutkan jumlah mereka hanya empat ribu dari enam puluh atau tujuh puluh ribu pasukan. Dari pasukan yang sedikit itu muncul keraguan sebagian di antara mereka, “Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya”. Tapi sebagian mereka menguatkan lagi, mengukuhkan kembali iman dan keyakinan mereka, “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar”.

Golongan kecil itu disebut Allah sebagai “orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah”. Orang yang berkeyakinan akan berjumpa Allah bukanlah mereka yang frustasi dengan kehidupan ini. Mereka tidaklah orang yang menyia-nyiakan anugerah kehidupan ini. Justru mereka menegaskan pentingnya usaha untuk menjemput kemenangan yang dijanjikan Allah:

  1. Mengesampingkan apapun hasil perjuangan mereka, jika menang di dunia maka tugas mereka akan terus berlanjut untuk merekayasa kebaikan supaya tersebar dengan luas dan mudah. Jika mereka gugur sebagai syahid, maka takkan sia-sia, justru Allah akan menanti mereka dengan derajat dan kedudukan mulia di sisi-Nya.
  2. Dalam perjuangan kuantitas memang perlu, tapi di atas semuanya yang menentukan adalah Allah. Maka saat ini yang lebih diperlukan adalah kualitas dan meledakkan potensi kemenangan melalui ikhtiar dan usaha maksimal.

Alur cerita ini seolah menjadi tenang dengan penegasan, “Dan Allah beserta orang-orang yang sabar”. Tapi cerita berlanjut dengan ketegangan berikutnya.

Tatkala Jalut dan tentaranya telah nampak oleh mereka, mereka pun (Thalut dan tentaranya) berdoa: “Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir”.”(QS. Al-Baqarah [2]: 250)

Doa tulus ini muncul dari kekuatan iman di saat kondisi realitas seolah mereka akan segera dikalahkan Jalut dengan segala mitos dan kuantitas tentaranya ataupun perlengkapan fisik mereka yang melebihi Bani Israil yang dibawa Thalut. Maka mereka pun dengan segala ketundukan memohon kesabaran, kekuatan pertahanan dan pertolongan atas orang-orang kafir.

Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan Daud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Daud) pemerintahan dan hikmah (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya. Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam.” (QS. Al-Baqarah [2]: 251)

Dengan segala keangkuhan dan kesombongan, Jalut menantang Bani Israil untuk mengirim orang terbaiknya, tanding dengannya. Jalut pun menjanjikan pasukan dan kerajaan bagi siapa saja yang bisa mengalahkannya.

Jalut terpedaya oleh mitos yang dibuat-buat para penjilatnya. Benar ia perkasa dan kuat dengan prestasi-prestasinya. Tetapi ia lupa bahwa saat ia merendahkan orang lain dan menganggap dirinya paling kuasa sejatinya pelan-pelan ia telah menggali kuburnya. Ia terlalu silau dengan popularitasnya. Ia terbius oleh angin puji-puji yang tak sekalipun menyinggung kekurangannya. Tak ada yang berani mengkritiknya. Tak ada yang berani melawan titahnya. Ia terbiasa mendengar paduan kata iya. Telinganya selalu mendengar ketundukan padanya tanpa tahu apa motif ketundukan tersebut; loyalitas atau kemunafikan.

Tanpa diduga, tanpa dikira seorang remaja muncul dari barisan Bani Israil yang barangkali berpikir berkali-kali untuk maju menandingi Jalut dengan segala mitosnya. Dawud muda maju dengan sebuah ketapel mungil di tangannya.

Ribuan pasang mata memandanginya tak percaya. Bocah inikah yang maju? Waraskah akal sehatnya? Ia akan menyerahkan nyawanya di tangan sang zhalim durjana. Sejenak suasana hening penuh tanda tanya.

Mari, visualisasikan kesombongan Jalut dengan tawa terbahak-bahak yang meledak sekaligus meremehkan Dawud kecil yang menurutnya bukan tandingannya. Bahkan jagoan mereka pun diragukan bisa menandingi Jalut. Apalagi Dawud. Apalagi bocah kecil itu tak bersenjata kecuali ketapel kecil di tangannya.

Tawa sombong dan angkuh itu segera terhenti. Kembali semua mata memandang. Mitos yang dibesar-besarkan itu tersungkur oleh sebiji batu kecil yang diayunkan Dawud muda.

Sang Zhalim itu lupa akhir kisah para pendahulunya. Namrud si angkuh terbunuh dengan seekor lalat yang Allah kirim memasuki tenggorokannya melalui hidungnya. Firaun si sombong lain yang mengaku tuhan tak berdaya diombang-ambingkan ombak Laut Merah. Ia mati tenggelam. Keduanya mati terhina. Bukan mati ditangan pendekar atau orang hebat. Tetapi mereka mati dengan cara terhinakan.

kemudian Allah memberikan kepadanya (Daud) pemerintahan dan hikmah (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya.”:

Dawud muda pun tidak instan menjelma raja. Tapi Allah menempanya untuk dijadikan pewaris kerajaan Thalut setelah ia wafat. Benar, setelah ia mengalahkan Jalut ia menjelma sebagai pahlawan yang Allah angkat dari posisi sebelumnya yang tak dikenal kaumnya. Dawud muda sang penggembala kambing, seorang pemuda biasa.

Yang menarik dari redaksi ayat di atas adalah, “فَهَزَمُوهُم بِإِذْنِ اللَّهِ” (mereka mengalahkan tentara Jalut). Dan bisa jadi kekalahan tersebut tanpa didahului pertumpahan darah. Karena Allah segera menjelaskan proses kekalahan mereka yaitu dengan “وَقَتَلَ دَاوُودُ جَالُوتَ” (dan Daud membunuh Jalut). Dawud membunuhnya dalam tanding dengan Jalut yang menantang Bani Israil dengan penuh keangkuhan dan kesombongan. Allah meruntuhkan simbol kezhaliman dan keangkuhan tersebut. Allah memupuskan semua mitos yang dipalsukan. Dengan satu kematian saja. Jalut. Meskipun tidak menutup kemungkinan prose situ terjadi di tengah kecamuk perang dan korban jiwa yang berjatuhan. Tetapi penulis memilih penafsiran pertama. Bahwa Allah cukup mematikan simbol dan ruh kezhaliman tersebut melalui seorang anak muda dengan senjata seadanya. Itulah kekalahan yang baik. Kemenangan yang berkah. Kemenangan dengan mengalahkan yang bukan berarti membunuh dan menghancurkan. Kemenangan yang diraih dengan sportifitas yang tinggi meski diremehkan lawan. Kemenangan yang diraih dengan keberanian yang penuh optimisme meski sangat tidak diunggulkan. Kemenangan yang berpijak pada keyakinan akan janji dari Sang Pemberi kemenangan.

Dan itulah sunnah Allah. Akan selalu Dia kirimkan tokoh protagonis yang akan hentikan kezhaliman, pupuskan mimpi angkuh sang durjana, robohkan mitos yang dibesar-besarkan dengan omong kosong dan rekayasa yang didengung-dengungkan untuk menakut-nakuti hamba Allah yang menebar kebaikan. Karena jika tidak demikian, kerusakan akan meluas. Dan Allah tidak menyukai kerusakan di bumi-Nya.

Itu adalah ayat-ayat dari Allah, Kami bacakan kepadamu dengan hak (benar) dan sesungguhnya kamu benar-benar salah seorang di antara nabi-nabi yang diutus.”(QS. Al-Baqarah [2]: 252)

Kisah di atas bukanlah dongeng atau cerita fiksi buatan manusia. Tetapi kisah nyata yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad SAW, sebagai tanda kerasulan dan membuktikan kekuasaan Allah yang tiada batas. Lalu beliau sampaikan kisah tersebut kepada kita untuk dipercayai sebagai spirit menjemput kemenangan yang dijanjikan Allah, di depan mata. Kemenangan itu dekat. Raihlah dengan ikhtiar dan taat.

Catatan Keberkahan 27

Jakarta, 04.06.2014

Dr. Saiful Bahri, M.A

 

 

———————————————

[1] Tadabbur QS. Al-Baqarah [2]: 246 – 252, disampaikan pada Halaqah Tadabbur al-Quran (halaqah ke 40 dan 41) pada 16 dan 30 Rajab 1435 H (16 dan 30 Mei 2014)

[2] Lihat hadits Bukhari nomer 3407, riwayat Abu Hurairah. Imam Muslim dengan riwayat mirip dari Abu Hurairah (nomer 2372). Hadits yang sejenis juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnadnya.

[3] Menurut kebanyakan pakar tafsir nabi yang dimaksud di sini adalah Samuel bin Bali bin Alqamah. (lihat dalam Tafsir Ibnu Katsir dan Qashash al-Anbiya’ Ibnu Katsir)

Iklan

Guru, Ustadz, Motivator dan Orang Tua

KH. ROSYIDI ASYROFI, LC

Ruh & Motivator Penuntut Ilmu bagi Murid-Muridnya

ustadz_rosyidi

Dua puluh dua tahun yang lalu, saya mendengar kalimat-kalimat motivasi yang aneh tapi luar biasa. “Jika kalian ingin melanjutkan sekolah di Al-Azhar, Mesir. Mulailah sekarang dengan menabung. Belilah seekor anak sapi. Rawatlah dan nanti menjelang Anda lulus, juallah untuk bekal Anda sekolah di sana” tutur beliau menyemangati murid-muridnya di MAPK Surakarta.

Bagi pelajar dari keluarga seperti saya mana mungkin akan mampu membeli seekor sapi saat itu, membeli seekor kambing pun belum tentu mampu. Tetapi analog motivasi beliau luar biasa. Hal tersebut semakin saya ketahui di saat perjuampaan-perjumpaan dengan beliau berikutnya. Apalagi deskripsi beliau tentang musim panas yang luar biasa. Debu-debu kota Cairo nampak dengan jelas di depan mata menguji para penuntut ilmu di perguruan al-Azhar. Menariknya yang selalu menjadi penyejuk adalah visualisasi nikmatnya juz mangga. Luar biasa! Beliau bahkan menggambarkan bagi yang meminumnya seusai kuliah di musim panas akan membuat telinga berdiri. Menyegarkan tenggorokan. Kata-kata itulah yang kemudian menjadi nyata. Pada tahun 1995 dua puluh dua dari empat puluh siswa beliau mendaftarkan diri ke IAIN Walisongo Semarang untuk mengikuti seleksi beasiswa sebagai calon mahasiswa di Universitas al-Azhar di Mesir. Sayangnya tak satupun dari siswa-siswa beliau yang lulus pada seleksi beasiswa tersebut. Namun, siapa menyangka dari jumlah tersebut kemudian terdapat tiga belas siswanya yang menghadap beliau membulatkan tekad untuk berangkat ke Mesir. Meski tanpa beasiswa. Sebagian di antaranya bermodalkan tekad yang kuat dengan persiapan seadanya bahkan dengan segala keterbatasan dan kekurangan.

Yang membuat beliau dan keluarga beliau menjadi sangat spesial adalah karena teman-teman saya kebanyakan di antar keluarganya hingga Bandara Internasional Soekarno Hatta, Cengkareng. Sedangkan saya di antar bapak dan ibu ke rumah beliau di Solo. Bapak ibu saya menyerahkan saya kepada Ustadz Rosyidi Asyrofi untuk selanjutnya bersama ustadz ke Jakarta dan kemudian ke Mesir. Detik dan saat itulah yang saya takkan lupakan seumur hidup saya. Saat di sisi saya tak ada orang tua. Saya selalu menganggap beliau ayah saya. Saat dari kaca bandara teman-teman saya melambaikan tangan pada keluarganya. Saat-saat mereka berpisah dengan ayah ibu mereka, ada peluk haru dan isak tangis mengiringi kafilah penuntut ilmu. Tapi tidak dengan saya. Saya tak punya air mata. Karena saya tak melihat bapak ibu saya di bandara. Tak juga ada peluk haru dengan mereka karena mereka mengirim peluk haru dari kejauhan. Bahkan sekedar suara saja saya pun tak mampu mendengarnya. Waktu itu belum ada telpon seluler seperti sekarang. Saya hanya memeluk cinta. Saya memeluk harapan dan tekad untuk nanti kembali membawa ilmu yang bermanfaat sebagai bentuk bakti orang tua. Saya hadirkan ayah dan ibu sekaligus dalam diri ustadz Rosyidi. Beliau saya peluk erat. Meski tanpa air mata. Saya ingin menjadi tegar. Karena ayah, ibu dan adik-adik saya juga orang-orang yang menyintai saya ingin saya sukses dan kembali mengabdi di tanah air.

Kemudian…

Berlalu 5151 hari di Mesir. Strata satu, dua dan tiga –bi’idznilLâh awwalan wa akhîran– selesai di Universitas al-Azhar. Saya kembali ke Jakarta dan menetap di sana bersama keluarga kecil saya. Sebagai orang baru di tanah air saya pasang gigi satu untuk persiapan take off, berkhidmah di masyarakat sekaligus berkarir di ibukota yang sering divisualisasikan dengan kehidupan keras dan penuh persaingan kompetitif. Saya beri kabar kepulangan saya. Bahagia mendengar keceriaan di balik telepon di sana di Solo. Orang tua saya yang satu ini merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Beberapa saat kemudian saya mendengar berita pernikahan putrinya. Momen kebahagiaan ini pun saya belum bisa menjumpai beliau secara fisik. Menghadiri walimah tersebut.

Hingga saat beliau sakit dan semakin parah sakitnya, maka saya terus berdoa kepada Allah supaya beliau diberi kesembuhan dan saya bisa bertemu langsung. Saya ingin mencium kening dan kedua tangan mulianya. Sentuhan ikhlasnya berbuah banyak. Saya adalah salah satu hasil sentuhan tersebut. Sentuhan keberkahan yang Allah kirimkan melalui beliau dalam hidup saya.

Akhirnya Allah berikan kesempatan itu, saya bersama pasukan lengkap (Nusaibah, Fatma dan Umar serta ibu mereka, Nurbaiti) berazam menjumpai beliau. Apapun yang terjadi saya harus bertemu beliau. Menggunakan jalan darat via jalur selatan saya mengemudikan mobil berpenumpang keluarga kecil saya. Bertolak ke Magelang sesuai informasi awal bahwa beliau ada di Muntilan. Ternyata beliau sudah tak di sana kurang lebih sejak dua bulan. Keluarga beliau di sana memberitahu. Kondisi ini diperparah karena saat ganti telpon, ada sebagian nomer yang tidak terselamatkan dan belum sempat terlacak. Alhamdulillah, pada akhirnya saya menjumpai beliau terbaring tiada daya di rumah beliau di Surakarta. Tepatnya pada hari Kamis, 22 Mei 2014 saat adzan Maghrib berkumandang. Shalat Maghrib di rumah beliau menjadi pengalaman lain penuh makna bersama anak-anak dan istri saya. Bercerita meski tak bisa lama dengan ibu yang demikian tegar menerima putusan Allah atas kondisi ustadz yang belum ada perkembangan.

Hingga akhirnya, tadi malam saya menerima beberapa sms bertanya kondisi ustadz. Sebagian status bbm dan media sosial teman-teman dan adik-adik kelas saya menyebut beliau sudah kembali kepada Allah. Saya konfirmasi berita tersebut dan benar adanya. Ustadz KH. Rosyidi Asyrofi meninggal dunia petang Rabu kemarin dan akan dikebumikan hari ini sesuai wasiatnya di tempat asalnya di Muntilan, Magelang.

Allahummaghfir lahû warhamhu wa’âfihî wa’fu ‘anhu. Ya Rabb karuniakan rahmat-Mu kepadanya di alam penantian. Balaslah dengan cinta-Mu segala jasa-jasa dan amal baiknya. Ampunilah segala khilaf dan salahnya dan kumpulkanlah beliau bersama orang-orang yang Engkau cintai.

Jakarta, 05.06.2014

SAIFUL BAHRI