TUNISIANA

???????????????????????????????

Saiful Bahri

Memulai perjalanan dengan jeda transit yang panjang setelah terbang selama 12 jam sungguh sangat melelahkan. Tetapi, mengingat acara yang akan saya hadiri menjadikan kondisi-kondisi demikian menjadi dinamika yang unik. Transit di Istanbul selama 13 jam saya pergunakan untuk keluar bandara sambil melihat-lihat suasana Istanbul di musim dingin. Selama ini jika ada kunjungan atau singgah di Istanbul seringnya di musim panas atau musim gugur atau semi.

Saat sudah di pesawat pun kembali diuji dengan delay selama satu jam, padahal posisi sudah siap landing. Selidik punya selidik ternyata ada “pertengkaran” antara seorang penumpang yang dari tutur bahasanya serta penampilannya adalah seorang gadis aristokrat. Ia sudah lama transit di Beirut kemudian di Istanbul dan merasa ditipu oleh Maskapai Tunisia. Singkat cerita respon maskapai sangat keras. Gadis tersebut beserta ibunya diminta untuk turun dari pesawat. Lebih tepatnya diusir, sebagai punishment. Karena sudah dianggap merendahkan maskapai dengan menyinggung masalah krusial, safety flight dan kenyamanan. Proses turun inilah yang sangat panjang. Di antara penumpang ada yang membela sang gadis dan ini dimediasi oleh banyak pihak agar pihak maskapai mencabut keputusannya. Sebagian kecil mendukung keputusan maskapai. Perdebatan panjang terjadi hingga akhirnya kedua penumpang tersebut harus “rela” diturunkan.

Tiba di tunis jam dua dini hari. Sepi. Karena memang sudah sangat larut. Menunggu proses imigrasi yang cukup lama. Lebih dari setengah jam. Alhamdulillah senyum panitia yang mengundang kami di luar mencairkan kebekuan. Menghangatkan cuaca yang cukup dingin.

Panitia “al-Markaz al-Magharibi Li at-Tanmiyah al-Maqdisiyah” (Pusat Pengembangan dan Riset Masalah al-Quds di Negara Arab Barat) menyambut kami dan menghantarkan ke hotel al-Mouradi di salah satu kota penyangga Tunis, Ibukota Tunisia yaitu Gammarth.

Saya mewakili Asia Pacific Community for Palestine sebuah konsorsium LSM Palestina regional di wilayah Asia Pasifik, dijadwalkan mengikuti sesi-sesi pra seminar dan merumuskan beberapa hal yang berkaitan dengan konsep dan tatanan organisasi serupa di wilayah Arab bagian Barat. Alhamdulillah beberapa presentasi berjalan lancer bahkan sangat padat karena banyaknya delegasi dan tamu undangan serta pakar dari berbagai negara di undang.

Dalam salah satu presentasi, saya katakan di antara cara membantu bangsa Palestina selain yang sudah dilakukan perlu juga dengan pendekatan sejarah dan riset selain kemanusian dan pendekatan emosional. Karena itulah, Aspac for Palestine tahun ini menerbitkan dua buku sekaligus. Ensiklopedi Mini Masjid al-Aqsha dan Buku Kontemplasi Sejarah “The Forbidden Country”.

“Beberapa hal yang saya katakan tadi saya tulis dalam buku ini” saya angkat buku saya “The Forbidden Country”.

Melihat judulnya yang berbahasa Inggris, kontan saja membuat beberapa peserta request buku. Saya tersenyum sambil menjawab, “Buku yang saya pegang ini saya tulis dengan Bahasa Indonesia”.

“Ada yang diterbitkan edisi Bahasa Inggris atau Bahasa Arab?”

“Ada Bahasa Inggrisnya. Tapi belum dicetak dan diterbitkan seperti ini” saya menunjukkan print out terjemah The Forbidden Country dalam Bahasa Inggris yang sudah dijilid.

Dalam sesi break seorang Doktor Mikrobiologi dari London menyarankan saya menerbitkan buku ini di Afrika Selatan. Jika akan diterbitkan di London biayanya sangat mahal dan persaingan bukunya lumayan berat, tutur beliau. Delegasi Malaysia bahkan meminta naskah berbahasa Inggris untuk diterjemahkan ke dalam Bahasa Melayu.

Pelaksanaan seminar ini sempat terganggu dengan adanya demonstrasi kecil di depan hotel yang meneriakkan yel-yel anti Ikhwanul Muslimin. Saya bertanya-tanya, mereka mendemo siapa? Untuk apa? Kenapa di sini?

Saat melihat koran-koran lokal dan beberapa media online saya baru sadar ternyata. Acara seminar internasional yang diadakan oleh al-Markaz al-Maghariby ini disinyalir dan dianggap sebagai pertemuan kader-kader IM internasional untuk merespon referendum undang-undang di Mesir.

Saat silaturrahmi dengan Duta Besar RI di Tunis saya sempat menduskusikan sekaligus mengonfirmasi hal ini . Menurut beberapa mahasiswa juga para staf KBRI memang sedang terjadi manuver-manuver politik terhadap partai pemerintah. Mengingat sebelumnya secara pribadi Syeikh Rasyid Ghanusi pimpinan spiritual Nahdha mengatakan siap menampung suaka politik dari Mesir. Beliau sendiri dua puluh tahun lebih hidup di London dengan suaka politik dan baru kembali bersama puluhan bahkan ratusan ulama setelah runtuhnya rezim Ben Ali. Ruwaq-ruwaq pengajian di Zaituna bahkan baru dibuka setelah puluhan tahun digembok oleh rezim sekuler Habib Borgiba dan Ben Ali.

Suasana tegang tersebut diperparah ketika panitia memberikan warning kepada kami untuk tidak keluar hotel tanpa sepengetahuan mereka. Padahal saya belum ke mana-mana.

Alhamdulillah, saya bisa berkomunikasi dengan sahabat saya Dede Permana Nugraha mahasiswa program S3 di Universitas Zaituna, juga Pak Yazid Staf KBRI Tunis Bidang Politik suasana tersebut cair. Sehingga Tunis yang eksotik bisa saya nikmati. Sejak menelusuri jalan protokol Habib Borgeba yang menjadi pusat revolusi pelengseran Ben Ali. Napak tilas sejarawan muslim Ibnu Khaldun. Belanja buku. Menikmati pantai yang indah, kampung Andalus yang sangat-sangat cantik dengan nuansa serba putih dan biru. Sayangnya keindahan tersebut tak bisa lama-lama dinikmati baik secara langsung maupun di balik kamera. Anginnya sangat kencang dan yang kedua ada musibah: kacamata saya patah!

Sebelumnya kami sempat mengantarkan Bu Maryam Rahmayani (Ketua Adara Relief International yang juga Bendahara Asia Pacific Community for Palestine) untuk meneruskan perjalanan beliau ke Amsterdam.

Pak Heri Efendi (Anggota Dewan Penasehat KNRP – Komite Nasional untuk Rakyat Palestina, yang juga salah satu pendiri Aspac for Palestine) dan saya saatnya meninggalkan Tunisia. Dan kini terdampar di Istanbul selama tiga belas jam. Menanti penerbangan ke Jakarta.

Istanbul, 21.01.2014

???????????????????????????????

Iklan

3 thoughts on “TUNISIANA

  1. Kisah perjalanan yang eksotik.. Mantap ustadz…!

  2. Sri Rejeki berkata:

    Barokallaaah ustadz

  3. saiful bahri berkata:

    Allahu yibarik fik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s