Catatan Keberkahan 22: The Fallen Angel

THE FALLEN ANGEL

Dr. Saiful Bahri, M.A

Sejatinya sebelum lahir bahkan ketika lahir, hampir semua manusia belum disebut dengan nama panggilannya. Sebagian lagi bahkan belum disiapkan namanya oleh orang tuanya saat ia sudah terlahir dari rahim ibunya. Sebagian lagi sudah disiapkan nama dari jauh hari. Tetapi saat seseorang terlahir belum ada yang menyebut namanya atau memanggil namanya “lam yakun syai’an madzkura” meminjam istilah al-Quran di awal surat al-Insan.

Saat manusia keluar dari rahim ibunya, ia terlahir dalam keadaan suci. Superhero yang kita kenal saat ini, nama-nama besar yang diabadikan sejarah, atau sebaliknya para diktator, penguasa-penguasa zhalim; tadinya mereka adalah seorang bayi kecil tak berdaya dan masih tak memiliki dosa.

Demikian halnya iblis. Kita bahkan baru mengenal istilah ini setelah terjadi pembangkangan atas perintah Allah saat semua makhluk-Nya diminta dan dititahkan untuk bersujud kepada Adam ‘alaihissalâm sebagai bentuk penghormatan atasnya yang akan ditugaskan sebagai khalifah Allah di bumi-Nya. Tiba-tiba iblis mengubah citra baiknya menjadi buruk, bahkan meluncur deras ke bawah menjadi sangat rendah derajatnya dan terusir dari surga yang tadi didiaminya beberapa waktu lamanya. Karenanya iblis dikenal dengan sebutan “The Fallen Angel” (Malaikat yang Jatuh) selain disebut sebagai “satan”, “demons” atau  “watchers”. Memang menurut sebagian besar ulama iblis bukanlah malaikat. Ia adalah jenis lain yang nanti ditegaskan di dalam al-Quran dengan jenis makhluk lain bernama “jin”.

Berikut penuturan Al-Quran. Firman Allah:

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan keturanan-keturunannya sebagai pemimpin selain dari-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim”. (QS. 18: 50)

Letak jatuhnya martabat iblis bukan hanya pada materi “keengganan bersujud”, tetapi lebih kepada “penolakan terhadap titah, amar dan perintah Allah”. Dan itu adalah takabbur, angkuh yang mengkristal yang benihnya adalah iri, dengki dan ketidakpuasan serta ketidakmauan bersyukur atas segala nikmat dan karunia yang diberikan. Itulah yang menyebabkan status dan martabatnya berubah, dari penduduk dan penghuni langit menjadi makhluk yang beristana di dasar lautan yang dalam. Dari makhluk terang yang tercipta dari api menjadi makhluk penghuni kegelapan.

Kisah the fallen angel ini juga mirip dengan kisah para pengkhianat. Orang-orang berkepribadian ganda yang lupa asal-usulnya. Sebutlah para diktator dan ikon-ikon kezhaliman sepanjang masa, sudah bisa dipastikan akan terdapat orang-orang yang tadinya baik kemudian berbalik bersembunyi di belakang kezhaliman demi mereguk kenikmatan sesaat dan akan selalu berakhir dengan kehinaan dan kebinasaan. Sebuah ending yang buruk, sebagaimana kesudahan sebuah peristiwa kezhaliman; kapan dan di mana pun kejadiannya.

Sejarah mencatat Qarun yang tadinya adalah orang baik-baik, pengikut Nabi Musa yang shalih dan miskin. Tapi kemudian ia silau dengan muslihat dan fitnah dunia setelah menjadi kaya dan menjauh dari kehidupan normalnya. Haman, yang bahkan namanya tak disebut dalam taurat dan injil. Tadinya adalah orang biasa yang kemudian diorbitkan oleh Firaun karena keahlian teknik bangunan yang dimilikinya. Firaun membuatkan panggung popularitas untuknya sebagai imbalan kejeniusan otaknya merancang bangunan-bangunan tinggi untuk menghina Musa alaihissalam dan menakut-nakuti pengikutnya.

Sejarah memang akan lebih suka mencatat pengalaman heroik para pahlawan dibanding kepengecutan para pengkhianat atau orang-orang bermental pecundang.

Jika Fir’aun mengikuti jejak iblis yang ditenggelamkan ke dalam lautan. Bedanya: iblis tenggelam secara maknawi, sedangkan Fir’aun fisiknya benar-benar ditenggelamkan Allah dan kemudian dimunculkan kembali di atas laut untuk diselamatkan dan diabadikan sehingga bisa disaksikan oleh orang-orang setelahnya. Diambil ibrah dan perjalanan serta akhir dari sebuah keangkuhan dan kezhaliman.

Ada kisah lain yang lebih modern dari kisah perseteruan abadi antara Musa dan Firaun…

Yaitu kisah dari sebuah daratan Eropa Timur di Transylvania, Hungaria, tentang seorang Pangeran Wallacia yang bernama Vlad III yang lebih dikenal dengan sebutan Vlad Drăculea. Drăculea, nama belakang sang pangeran dalam bahasa Latin dan Yunani berasal dari kata “dracul” berarti naga (dragon). Dalam bahasa Rumania, drac berarti “iblis”. Dalam bahasa Ottoman ia dikenal dengan “Kazıklı Voyvoda” yang berarti “Pangeran Penyula”. Julukan tersebut diberikan padanya karena kegemarannya menghukum musuh-musuhnya dengan cara disula yaitu metode pembunuhan dengan cara menusukkan tiang pancang sebesar lengan orang dewasa ke bagian dubur korbannya hingga bagian belakang leher atau kepala dan mendirikan pancang tersebut. Kesadisan tersebutlah yang kemudian mengidentikkannya sebagai “penghisap darah”. Sehingga Bram Stoker pada tahun 1897 M dalam novelnya memunculkan karakter vampir sang penghisap darah, terinspirasi oleh sosok sang pangeran yang kejam di atas.

Sang Pangeran berayahkan Vlad II. Tapi kemudian turun tahta dengan cara paksa, digulingkan oleh saingannya pada tahun 1442. Sang Pangeran kemudian mendapat jaminan keamanan dan suaka oleh Ottoman. Vlad III dan Radu adiknya dididik dan dipelihara oleh keluarga kesultanan Ottoman sesuai tradisi Turki.

Dua kakak beradik ini memiliki watak berbeda. Radu yang berkarakter lembut akhirnya memeluk Islam dan menjadi bagian penting dari kesultanan Ottoman. Di masa Sultan Mehmet II (Muhammad Al-Fatih) ia digelari dengan gelar kehormatan Bey. Sementara Vlad yang keras semakin membenci Ottoman dan adiknya. Kebenciannya semakin menjadi-jadinya karena ia melihat ayahnya tak terlalu tegar menangani musuh-musuhnya serta menduga dirinya ditukar dan digadaikan ke Kesultanan Ottoman.

Pada akhirnya Vlad III meraih kebebasannya. Dia dikembalikan ke Wallachia. Ia bahkan didukung oleh Ottoman untuk naik tahta melawan kerajaan Hongaria. Dengan perjuangan yang berliku-liku dan sempat menjadi pelarian akhirnya Vlad kembali ke Wallachia dan menjadi penguasa di sana. Hal radikal pertama yang dilakukannya adalah membunuh lawan-lawannya dengan sadis, yaitu dengan cara menyula. Korban pertamanya adalah para bangsawan Wallachia.

Ia melupakan budi baik Ottoman yang membesarkan dan memfasilitasinya. Ia pun memberontak dan melawan kesultanan Ottoman yang secara tak langsung berjasa menyelamatkan nyawanya kemudian membantu memuluskan kenaikan tahtanya. Beberapa kali pengiriman pasukan Ottoman gagal menaklukan Vlad Sang Drakula. Hingga diutuslah adiknya, Radu yang tergabung dalam pasukan khusus Ottoman kesatuan Yasinari. Sayangnya, setelah dikepung beberapa waktu Vlad berhasil melarikan diri. Vlad pun terpaksa meminta perlindungan ke raja Hongaria yang baru yang sejatinya adalah musuhnya juga, Matthias Cornivus. Sesampainya di sana ia tidak dijamu atau disambut tapi ia dijebloskan ke dalam tahanan. Tak tahan menyendiri ia pun kemudian menampakkan karakter lain dengan “pura-pura” memeluk agama Katolik.  Hingga lambat laun ia padu dengan para bangsawan. Naluri perlawanan dan pembunuhnya pun masih terjaga. Di dukung oleh Pangeran Transilvania, Stephen Bathory dan pangeran Moldovia, ia kembali menyerang Wallachia. Di saat yang sama Radu, adiknya meninggal dunia karena terjangkit sebuah penyakit menular berbahaya. Satu-persatu sekutunya meninggalkannya. Di akhir hidupnya ia menjadi pemurung dan dihantui oleh dosa-dosanya menyiksa dan membunuhi banyak orang. Ia pun meninggal dengan tragis. Kepalanya dipenggal, dipisahkan dari badannya. Mayat Dracula tanpa kepala ini ditemukan di tepian Danau Snagov, 40 kilometer sebelah utara Bucharest, Rumania.

Sang Pangeran, Vlad Dracula punya banyak musuh. Sangat banyak yang tersakiti oleh kekejaman dan kesadisannya. Inilah mungkin yang mendasari sebuah legenda bahwa ia dibunuh oleh prajuritnya sendiri. Konon di antara prajurit-prajuritnya terdapat pembunuh bayaran dari lawan-lawannya. Musuhnya pun mencari celah agar dapat membunuhnya di saat lengah. Versi lain mengatakan bahwa ia dibunuh seorang prajurit Ottoman yang menyamar sebagai pelayan. Sultan Mehmed II telah membentuk unit khusus bernama Yanisari yang tujuan utamanya adalah membunuh Dracula. Pada saat menjelang kematiannya, salah seorang Yanisari berhasil menyusup dan membunuh Dracula di saat sedang istirahat. Ia pun konon meninggal terbunuh oleh prajuritnya sendiri karena berpakaian seperti prajurit Ottoman, padahal Dracula menyamar untuk memasuki pertahanan Ottoman.

Bagaimanapun terbunuhnya Dracula, semua mengarah pada satu cerita. Kepalanya terpenggal dan mayat yang tak berkepala tersebut ditemukan di sebuah danau di utara Rumania.

Kisah Vlad Sang Drakula tak bisa dipisahkan dengan kisah Sultan Mehmed II dan Perang Salib. Kisah Vlad adalah buruknya cerita pengkhianatan. Perjalanan hidup Vlad memberikan cerminan buruk pada orang tak mengenal hutang budi baik. Kisahnya akan terekam terus sebagai makhluk penghisap darah. Bahkan ia lebih buruk dari itu. Menghisap kebaikan dirinya dan kebaikan orang lain. Menistai kepercayaan. Menodai arti kesetiaan. Menghancurkan karirnya sendiri dengan syahwat kekuasaan dan hawa dendam yang tak beralasan.

Lihat juga sebelum ini, kisah Namrud dan kemudian Fir’aun. Firaun sang pengaku tuhan itu mati ternistakan dengan cara tenggelam. Namrud sang angkuh lain itu mati dengan seekor nyamuk/lalat yang memasuki kepalanya melalui salah satu lubang hidungnya.

Simaklah akhir kisah Abu Jahal yang sombong dan durjana. Ia tak tewas di tangan Hamzah atau Umar. Tapi ia tersungkur dibunuh oleh salah satu dari dua anak kecil, Muadz dan Muawwidz seperti penuturan Ibnu Mas’ud dalam riwayatnya.

Amatilah kisah Vlad III Sang Drakula penghisap darah. Ia mati terhinakan. Kepalanya hilang tak terlacak, mayat tanpa kepalanya ditemukan mengapung di sebuah danau. Danau Snagov di Rumania.

Juga Qarun orang sombong yang lupa asal-usulnya, tenggelam jauh ke perut bumi bersama seluruh kekayaannya yang selalu dibangga-banggakan. Padahal tadinya ia seorang miskin dan terlantar.

Atau Haman yang bukan siapa-siapa. Terpesona sendiri oleh nafsu dan pujian serta magnet kekuasaan. Menyusul majikannya tenggelam bersama keangkuhan dan kebanggaan semunya. Namanya pun akan dijadikan sebuah pelajaran buruk bagi orang setelahnya.

Ada banyak kisah pengkhianatan dalam setiap perjuangan. Selalu ada pribadi ganda yang memanfaatkan momentum untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Selalu dan akan terus ada mental-mental hipokrit. Dan tak satu pun dari mereka mengakhiri hidupnya dengan kemuliaan.

Mungkin inilah salah satu rahasia Allah tak menampilkan nama-nama kaum munafiq dalam sejarah Islam. Kecuali Abdullah bin Ubai bin Salul. Tidak ditampilkan dalam kitab-Nya tidak juga ditemukan dalam saduran riwayat hadits nabi-Nya. Hal ini mengindikasikan bahwa kemunafikan akan terus berlanjut sampai hari kiamat. Bahwa kemunafikan selalu menjadi musuh berbahaya dalam setiap perjuangan. Dan supaya tak terbersit dalam hati setiap muslim bahwa kemunafikan sudah tiada dengan wafatnya orang-orang munafik yang secara definitif disebut Allah. Karena itu Allah tak menyebut orang perorangnya, namun menyebut banyak sifat dan karakternya dalam al-Quran dan Hadits nabi-Nya. Selain itu Allah membuka peluang kebaikan untuk mereka kembali. Allah akan selalu siap mengampuni mereka yang sadar akan kezhalimannya. Allah Sang Maha Pengampun dan penerima taubat hamba-Nya.

Buruknya pengkhianatan ini akan menempatkan orang-orang munafik ke dasar neraka, “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.” (QS. 4: 145)

Pengkhianatan dan kemunafikan akan membawa seseorang ke dasar kehinaan.

Dalam hidupnya, orang-orang berkhianat dan munafik akan jauh lebih rendah dari binatang, “Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi.” (QS. 7: 179), “Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu)” (QS. 25: 44)

Padahal manusia telah Allah angkat derajatnya setinggi langit, melebihi kedudukan malaikat-Nya. Tapi ia sendiri yang menjatuhkan martabat dirinya. “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya” (QS. 95: 4-5)

Dengan ketaatan dan kesabaran dalam orbit ketaatan manusia melayang bahkan di atas langit, seolah menyertai Nabi Muhammad SAW mi’raj ke sidratul muntaha dengan kekhusyukan shalat dan kepasrahan. Dengan ketundukan hati dan kemurnian tawadhu, keikhlasan perjuangan dan totalitas penyerahan pada Dzat yang serba maha.

Dengan kezhaliman, kesombongan, penolakan terhadap titah Allah dan melawannya seseorang meluncur ke dasar kehinaan. Tenggelam ke alam kegelapan. Seperti jatuhnya iblis, tenggelamnya Fir’aun dan Qarun serta Haman. Dan berakhir nista seperti Namrud, Abu Jahal, Abdullah bin Ubay bin Salul, juga akhir kisah Sang Drakula, Vlad III.

Dengan mengingat kisah kezhaliman dan ending yang mengakhiri pelakunya, orang-orang mazhlum akan terus optimis hidupkan harapan. Nyalakan semangat melawan kezhaliman yang merampas kesucian dan kemurnian tauhidnya, yang merampok totalitas penghambaannya pada Rabb yang Kuasa. Yang membatasi kebaikan secara terminologi belaka. Mengebiri segala potensi kebaikan dan tersebarnya kebaikan secara natural dan masif. Dan karena orang-orang mazhlum itu memiliki satu nyawa tapi mereka punya kehidupan yang tiada habisnya. Sekalipun mereka mati dengan cara yang dipandang nista oleh manusia, “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.” (QS. 3: 169) Sekalipun mereka diolok-olok dan dihinakan di depan sesamanya, ditertawakan dan direndahkan martabatnya. “… mereka menertawakan orang-orang yang beriman” (QS. 83: 29)

Tapi orang-orang mazhlum itu berada persis di depan gerbang kemenangan yang Allah buka lebar-lebar. Sementara orang-orang zhalim tanpa disadari meluncur deras ke arah kehancuran yang mereka takuti. Pelan namun pasti akan berujung pada dua titik berbeda. Kemenangan bagi sang mazhlum dan orang-orang yang melawan serta tak menyerah pada kezhaliman. Dan kehinaan serta kehancuran menemui orang-orang zhalim, pasti dan tak bisa ditolak kedatangannya.

Nyawa-nyawa yang diperdebatkan jumlahnya di Suriah telah terbang memasuki gerbang kemenangan abadi dan kemuliaan yang dijanjikan. Nyawa-nyawa tanpa senjata yang dibunuhi tanpa dakwaan dan pengadilan serta tanpa senjata dan perlawanan di Mesir akan menuntut balas, dengan pasukan yang dikirim Allah dalam berbagai bentuknya. Jiwa-jiwa yang terpasung di Baq’a Jordania, atau terperangkap di penampungan Yarmuk di Suriah, tertahan di penjara terbesar di dunia di Gaza bisa jadi dibela oleh orang-orang lemah tak bersenjata dan sedikit pengaruhnya. Melawan rezim zhalim yang memiliki kekuatan militer mutakhir, bersenjatakan supermodern, memiliki tentara yang sulit dihitung yang punya kemampuan terlatih serta disiapkan khusus untuk memusnahkan apa dan siapa saja.

Tapi orang-orang zhalim itu semua bermula sama, seorang bayi kecil yang hanya bisa menangis dalam ketidakberdayaannya. Menunggu uluran tangan dan dekapan ibunya.

Saat Allah samarkan nama-nama mereka yang masih hidup dan tidak dibuka tabir rahasia mereka, barangkali inilah kesempatan untuk mundur dan kembali ke jalan kebenaran. Peluang taubat yang terus dibuka. Bila tidak, sejarah sudah dipenuhi kisah mereka. Baik mereka yang berlaku zhalim, maupun para pengikutnya dari kalangan penjilat dan orang-orang yang diam serta menyetujui kezhaliman terjadi di bumi Allah. Semua akan menemui akhir yang sama dengan bentuk yang berbeda-beda.

Saatnya untuk memperpanjang nafas perjuangan melawan kezhaliman serta menularkannya kepada sebanyak mungkin orang-orang di sekitar kita. Simaklah janji Allah di akhir surat Asy-Syuara “Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.” (QS. 26: 227).

Catatan Keberkahan 022

Jakarta, 06.11.2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s