Catatan Keberkahan 24: PERANG DUA DUNIA

PERANG DUA DUNIA

Dr. Saiful Bahri, M.A 

Pertarungan dan benturan (clash) antara kebenaran dan kebatilan akan terus berlangsung sampai akhir zaman. Sebagian kebatilan menjasad dalam kezhaliman. Karena itulah, al-Quran terus mengulangi kisah perlawanan terhadap kezhaliman ini. Baik kezhaliman eksternal maupun kezhaliman internal. Meski tidak menjadi satu-satunya representasi kezhaliman, kisah Firaun seiring dijadikan kaca cermin untuk menilik akhir cerita dari sebuah rezim kezhaliman. Secara khusus cerita Firaun – Musa mendominasi kisah-kisah al-Quran. Ini adalah bentuk perlawanan kezhaliman eksternal. Setelah usainya kisah antagonis tersebut ada babak baru yang dijalani Bani Israil. Kisah ini panjang terurai sejak dari surat al-Baqarah sampai surat-surat setelahnya di dalam al-Quran.

Mengapa cerita perseteruan dua kubu tersebut selalu ada. Di mana pun, kapan pun dan diperankan oleh siapapun? Seolah keduanya menjadi salah satu sisi dari dua sisi mata uang logam.

Kisah perseteruan abadi ini setidaknya bisa kita baca dalam Firman Allah berikut:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا ۚ وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ ۖ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ

Artinya:

Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” (QS. Al-An’am [6]:112)

Setiap nabi yang diutus Allah di bumi untuk menyampaikan risalah tauhid-Nya maka akan selalu ada tokoh antagonis utama yang akan menentang mereka. Mereka disebut al-Quran dengan nama “syayathîn” (setan-setan). Dalam firman di atas –menariknya- dideskripsikan dengan detil jenis mereka. Yaitu setan dari kalangan jin dan manusia yang saling bekerjasama dan berbisik di antara mereka untuk menghalau dan menghalangi misi risalah para nabi.

Ciri utama mereka yaitu membuat “ifitrâ” (mengada-ada, mendustakan dan mengelabuhi). Dan ini menjadi ruh serta spirit perlawanan mereka serta secara kontinyu disampaikan antar mereka dan antar generasi. Sehingga saat seorang nabi diutus ke bumi oleh Allah maka yang akan menjadi musuhnya adalah setan dari dua alam. Setan yang berjenis manusia serta setan yang berjenis jin.

Setan-setan tersebut, baik dari kalangan manusia dan jin selalu menebarkan kebencian mereka kepada nabi Allah serta para penerus risalahnya. Maka mereka akan senantiasa menyusup dalam setiap pertikaian dan perseteruan. Memanfaatkannya untuk mendesak para penerus risalah kenabian.

Ada sebuah ideologi dalam setiap pertarungan besar. Meski disamarkan tetap akan terungkap dan bisa diketahui oleh banyak orang.

Demikian halnya setiap kezhaliman yang muncul maka itu adalah ideologi kebatilan yang sedang berusaha menghancurkan kebenaran. Menindas habis dan memberangus para pembelanya serta orang-orang memperjuangkannya.

Sangat naif untuk dikatakan bahwa yang terjadi di Palestina bukanlah pertarungan antara haq dan bathil. Dari sudut pandang humanis saja sudah bisa disimpulkan bahwa ada kezhaliman dipertontonkan dan dipertunjukkan serta disamarkan menjadi sebaliknya. Sebutlah satu persatu bukti tersebut: pengusiran paksa atas penduduknya, penangkapan, agresi militer, pembangunan pemukiman-pemukiman Zionis secara ilegal. Lebih dari itu hal-hal yang tersebut tadi tidaklah ada artinya tanpa pendudukan dan penjajahan terhadap tanah suci Al-Quds. Dan termasuk di dalamnya, Masjid al-Aqsha. Pelan namun pasti sejarah dipalsukan dan kebenarannya dihapuskan untuk kemudian dimonopoli dengan sebuah hegemoni keangkuhan dan perampasan kedaulatan yang sah serta merenggut kebebasan. Umat Islam tak lagi mengenal lagi “Hâ’ith Burâq” (tembok tambatan Buraq) dan pintu Maghâribah. Karena tempat tersebut sudah dirampas secara paksa oleh Zionis Israel dan dijadikan “tembok ratapan” tempat mengirim doa-doa dan memanjatkan permohonan bagi orang-orang Yahudi.

Mimbar bersejarah yang dibuat oleh Sultan Nuruddin Az-Zanky dua puluh tahun sebelum ditaklukkannya al-Quds oleh Shalahuddin. Adalah simbol keteguhan dan spirit tanpa menyerah untuk mengambil alih kembali hak yang dirampas. Sayangnya, pada tahun 1969 mimbar tersebut dibakar dan kemudian hanya menyisakan luka setiap kita mengingat kejadiannya.

Terdapat jutaan orang terusir dari tempat kelahirannya. Terkatung-katung di negeri orang. Meski sebagian mendapat penerimaan baik, namun seenak-enak tinggal di tempat asing tidaklah senyaman berada di rumah sendiri. Pemukiman-pemukiman sementara itu lantas menjelma tempat “abadi”. Bertahun-tahun para pengungsi itu hidup di sana. Sebagian kemudian meninggal di sana. Sebagian bertemu jodoh dan berketurunan di sana.

Yang masih berada di kota-kota tua merasakan setiap malamnya adalah ancaman penangkapan dan pengusiran. Jika ada seorang lelaki yang diringkus oleh serda-serdadu kezhaliman, maka seolah harapan untuk kembali ke rumah nyaris tiada. Terutama jika ia beridentitas “al-Maqdisy” (penduduk al-Quds). Jika ia tak memilih hijrah meninggalkan kotanya. Maka saat ia ditangkap itu berarti ia takkan kembali ke sana.

Sebagian tertekan hidupnya secara ekonomi harus terhimpit pajak-pajak kezhaliman yang menindasnya. Anak-anak muda dipersulit mendapatkan pekerjaan yang menghasilkan upah laik untuk sekedar menyambung hidupnya juga hidup keluarganya.

Semuanya tidak terjadi begitu saja. Ada kezhaliman yang menginginkan hal itu terjadi. Kesatuan ideologi kebathilan inilah yang terus membiarkan Gaza terus berada dalam blokade dan terisolir dari dunia luar. Sekaligus memisahkannya dari Tepi Barat serta mengadu domba antar mereka yang sedang diamanahi rakyat untuk mengelola keterbatasan tersebut.

Perbedaan latar belakang dan cara berinteraksi menjadikan faksi-faksi yang ada di dalamnya “seolah” pecah serta tak mampu padu. Dikarenakan sebagian mengambil jalan perundingan yang dijanjikan “sang penjajah”. Sebagian lagi melihat bahwa jalan “perlawanan” adalah bahasa yang tepat untuk mengusir “kezhaliman” dari negeri yang diberkahi tersebut.

Sebenarnya kedua faksi besar di atas bisa bergabung menjadi kekuatan yang ditakuti musuh-musuhnya. Sayangnya itu belum terjadi lagi saat ini. Karena berbagai faktor dan sebab.

Jika ada aksi perlawanan maka sejatinya itu bahasa yang sedang ditunjukkan merespon berbagai jenis kezhaliman yang terjadi dan didiamkan oleh sebagian besar penduduk dunia. Atau kalaupun direspon maka respon yang ada tidak berpengaruh banyak pada mentalitas para penjajah yang acuh dengan keputusan apapun. Pemukiman-pemukiman ilegal tetap saja berjalan meski menuai cela dan dikecam orang seluruh dunia. Agresi militer dan penangkapan tak manusiawi tergadap para aktivis perlawanan tetap saja terjadi ditengah protes dunia yang bertubi-tubi.

Umat Islam pada dasarnya tak pernah lebih menyukai untuk memilih pertempuran atau benturan fisik. Karena hal tersebut sangat merugikan. Tapi jika keadaan yang memaksa demikian maka tidaklah mungkin untuk mundur apalagi menyerah.

Karena Islam sangat menyintai kedamaian dan ketenangan serta kedamaian.

Setiap dua orang atau dua kelompok dari umat Islam bertemu dianjurkan untuk saling bertegur sapa dan memulainya dengan ucapan salam “as-salâmu alaikum warahmatulLâhi wa barakâtuh”. Mengingatkan misi kedamaian agama Islam sekaligus doa untuk orang yang ditemuinya. Demikian halnya dalam ritual shalat kita bisa melihat, kata yang diucapkan untuk mengakhiri shalat adalah “salâm”  (kedamaian) dan “rahmah” (kasih sayang). Allah juga menyediakan “rumah kedamaian” (dâr as-salâm) di surga-Nya seperti tutur al-Quran berikut:

Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam).” (QS. Yunus [10]: 25).

Islam menegaskan sebagai agama damai serta menjadikannya sebagai salah satu unsur penting serta prinsip dasar dalam al-Quran serta sebagai cahaya penerang. Al-Quran menamakannya sebagai jalan kedamaian dan keselamatan “subul as-salâm”. Firman Allah:

 يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلَامِ وَيُخْرِجُهُم مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (QS. Al-Maidah [5]: 16).

Salah satu dari sekian nama-nama Allah adalah “as-Salâm

Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.

(QS. Al-Hasyr [59]: 23)

Dalam kondisi tenang dan damai tidak berarti membuat seorang mukmin menjadi terlena. Ia harus terus menempa ketahanan dirinya serta siap dan waspada terhadap setiap serangan yang membahayakan dirinya. Karena orang yang nyaman dan merasa aman karena merasa berada dalam zona aman dan damai cenderung terlena sehingga tidak siap terhadap keadaan terburuk yang mungkin saja bisa terjadi.

Itulah barangkali rahasia yang terungkap dalam Firman Allah yang menyebutkan kuda-kuda  dengan berbagai kondisinya dalam surat al-‘Âdiyât berikut:

Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah, dan kuda yang mencetuskan api dengan pukulan (kuku kakinya), dan kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu pagi, maka ia menerbangkan debu, dan menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh.” (QS. al-‘Âdiyât [100]: 1-5)

Sebagai pendukung dalam firman Allah berikut:

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” (QS. Al-Anfal [8]: 60)

Kata “kuda-kuda yang ditambat” mengindikasikan bahwa umat Islam dalam kondisi apapun senantiasa harus siap secara mental serta fisik untuk mengantisipasi kondisi “terburuk” sekalipun. Untuk memberi efek psikis pada musuh-musuh yang selalu mengintai (lebih detil bisa dilihat dalam tulisan sebelumnya: PSY WAR)

Hal-hal di atas mengindikasikan perlunya membangun kekuatan citra persatuan dan kualitas pertahanan yang baik umat Islam. Agar para pengintai dan musuh berpikir berkali-kali untuk mempertontonkan kezhaliman yang mereka timbulkan.

Sebagaimana perjuangan umat Islam di manapun disatukan oleh sebuah ideologi, maka setiap kezhaliman sudah pasti akan didukung oleh kezhaliman serupa. Karena orang-orang mazhlum pun dibela oleh sesamanya yang juga orang-orang dizhalimi.

Itulah yang menjadikan orang-orang munafik bersaudara (ikhwan) dengan orang-orang kafir dari kalangan ahli kitab untuk memerangi Rasulullah SAW.

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang munafik yang berkata kepada saudara-saudara mereka yang kafir di antara ahli kitab: “Sesungguhnya jika kamu diusir niscaya kamipun akan keluar bersamamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh kepada siapapun untuk (menyusahkan) kamu, dan jika kamu diperangi pasti kami akan membantu kamu”. Dan Allah menyaksikan bahwa Sesungguhnya mereka benar-benar pendusta.” (QS. Al-Hasyr [59]: 11)

Sebagaimana kaum muhajirin bersaudara dengan kaum anshar padahal sebelumnya mereka adalah dua golongan berbeda yang bukan siapa-siapa, tak ada ikatan nasab dan kesukuan sebelumnya.

Perseteruan yang haq dan batil –sekali lagi- tidaklah terjadi di antara manusia. Karena setan itu menjelma dalam diri makhluk lain juga selain manusia. Setan dalam bentuk jin dan dalam bentuk manusia. Kedua golongan besar tersebut saling menopang kezhaliman yang mereka pertontonkan dan dukung. Maka pertarungan yang kita hadapi adalah pertarungan dua alam. Dan bisa jadi musuh kita adalah mereka yang tak terlihat baik oleh kasat mata, “Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka.” (QS. Al-A’râf [7]:) atau mereka yang selama ini kita kenal sebagai orang-orang dekat dengan kita, namun mereka mengkhianatai nilai dan tujuan perjuangan kita.

Maka kekuatan fisik saja tak cukup untuk melawan jenis kezhaliman-kezhaliman dua alam ini. Kita harus memohon kepada Allah untuk mengalahkan mereka sekaligus tunjukkan tanda-tanda kekuasann-Nya di depan para makhluk-Nya. Agar tetap ada jalan untuk bertaubat dan kembali bagi mereka yang tersesat sebelumnya. WalLâhu al-Musta’ân.

Catatan Keberkahan 24

Jakarta, 18.11.2013

Kultwit #maaf

MAAF

maaf

1. Kata #maaf lazimnya diucapkan atau disampaikan utk menutup sebuah lembaran khilaf yg terjadi & kemudian disadari utk sebuah rekonsiliasi.
2. Salah & khilaf, baik sengaja ataupun tidak, sangat memungkinkan untuk di #maaf kan. Entah besar atau kecil kesalahan tersebut.
3. Me #maaf kan kesalahan di saat posisi brada di atas atau memungkinkan utk balas dendam adalah perbuatan mulia yg angkat derajat seseorang
4. Yusuf AS contohnya, ia me #maaf kan sdr-2nya yg dulu mezhaliminya saat ia mampu membalasnya. Pun demikian pada Zulaikha yg memfitnah…
5. sekaligus jebloskannya ke dalam penjara. Tanpa proses transparansi pengadilan, tanpa pembelaan & bahkan tanpa alasan yg rasional
6. Kata #maaf dimulai saat pihak yang “merasa” bersalah secara berani meminta maaf kepada ybs dgn permasalahan. Keberanian meminta maaf.
7. Respon yg diterima pun bisa dua: dimaafkan atau tidak dimaafkan. Tapi permintaan #maaf yang tulus adalah sebuah aksi luar biasa.
8. Tp memberi maaf merupakan sikap yang heroik. Apalagi jk dilakukan sblm yg bersalah minta #maaf kpdnya. Tanda kelapangan & kebesaran jiwa.
9. Yg menarik adl saat Allah ajarkan sikap me #maaf kan kpd Rasulullah terhadap sahabat (umatnya). Terutama saat peristiwa Uhud (QS.3:159).
10. Nabi Muhammad SAW diminta: 1. Me #maaf kan, kemudian 2. Meminta ampunan kepada Allah untuk mereka, 3. Bermusyawarah dengan mereka (lagi)
11. Padahal untuk melakukan nomer (1) tidaklah mudah. Karena me #maaf kan diperlukan kebesaran jiwa dan kelapangan dada. Tutup masa lalu.
12. Kdg yg akibatkan sulitnya me #maaf kan bermacam-2. Diantaranya: sikap org yg minta maaf yg tak konsisten atau ulangi kesalahan lagi.
13. Bisa juga karena orang tersebut tak merasa perlu utk minta #maaf. Ini pasti sangat menyakiti perasaan org yang diperlakukan dengan salah
14. Bahkan bs juga org tsb tak merasa bersalah shg perlu utk minta #maaf. Bs karena perbedaan perspektif atau bs karena kurang peka/sensitif
15. Diminta atau tidak, me #maaf kan adalah sikap kepahlawanan yg terlihat lembut, namun sejatinya muncul dr org2 yg kuat mentalnya. Kenapa?
16. me #maaf kan memerlukan energi positif yg luar biasa untuk mengubur masa lalu dan perbaiki dengan sebuah lembaran rekonsiliasi baru.
17. me #maaf kan memerlukan keberanian & pengorbanan terhadap perasaan seseorang. Karena nalurinya tetap tak terima diperlakukan scr salah.
18. me #maaf kan memerlukan kedewasaan terutama saat terbuka peluang utk membalas dendam atau setidaknya membuat seseorang merasakan sama
19. me #maaf kan memerlukan kebesaran jiwa. Karena org yg sanggup memaafkan biasanya mereka yg ringan untuk akui kesalahan kmd minta #maaf
20. Utk kemudian beristighfar kpd Allah memohonkan ampun utknya & tak kapok ambil pendapatnya adl sebuah tingkatan istimewa yg luar biasa
21. Kata #maaf memang mudah dikatakan, atau sekedar diteorikan. Tetapi sulit untuk dipraktekkan dan disebarluaskan.
22. Ungkapan dan kata terima kasih & #maaf adl dua unsur penting membangun bangsa yg kehilangan martabatnya. Tanpa penghargaan & penghormatan kpd org lain
23. #maaf bila saya salah menyimpulkan
24. #maaf bila saya juga jarang meminta maaf
25. #maaf jika ternyata masih ada kesalahan sebagian orang yg sulit dimaafkan.
26. Tapi apapun yg terjadi. Tebarkan #maaf dan terimakasih utk kembali bangun bangsa ini agar terselamatkan dari keterpurukan dan kenistaan.
27. Akibat saling curiga. Saling hantam. Saling menelanjangi aib & salah. Saling sandera. Saling tuding. Saling benci. Saling hina dsb
28. Akhirilah semuanya dgn kata #maaf & terima kasih. Gusurlah sgr kezhaliman dlm diri sebelum ia merajalela kuasai & tak sanggup disingkirkan
29. Masih ada waktu untuk insaf dan meminta #maaf sebagaimana ada kebesaran jiwa untuk me #maaf kan yg salah & khilaf.
30. Akhiri keterpurukan dan krisis kepercayaan dari bangsa dengan lembaran-lembaran baru.

@L_saba

Jakarta, 11.11.2013

Catatan Keberkahan 22: The Fallen Angel

THE FALLEN ANGEL

Dr. Saiful Bahri, M.A

Sejatinya sebelum lahir bahkan ketika lahir, hampir semua manusia belum disebut dengan nama panggilannya. Sebagian lagi bahkan belum disiapkan namanya oleh orang tuanya saat ia sudah terlahir dari rahim ibunya. Sebagian lagi sudah disiapkan nama dari jauh hari. Tetapi saat seseorang terlahir belum ada yang menyebut namanya atau memanggil namanya “lam yakun syai’an madzkura” meminjam istilah al-Quran di awal surat al-Insan.

Saat manusia keluar dari rahim ibunya, ia terlahir dalam keadaan suci. Superhero yang kita kenal saat ini, nama-nama besar yang diabadikan sejarah, atau sebaliknya para diktator, penguasa-penguasa zhalim; tadinya mereka adalah seorang bayi kecil tak berdaya dan masih tak memiliki dosa.

Demikian halnya iblis. Kita bahkan baru mengenal istilah ini setelah terjadi pembangkangan atas perintah Allah saat semua makhluk-Nya diminta dan dititahkan untuk bersujud kepada Adam ‘alaihissalâm sebagai bentuk penghormatan atasnya yang akan ditugaskan sebagai khalifah Allah di bumi-Nya. Tiba-tiba iblis mengubah citra baiknya menjadi buruk, bahkan meluncur deras ke bawah menjadi sangat rendah derajatnya dan terusir dari surga yang tadi didiaminya beberapa waktu lamanya. Karenanya iblis dikenal dengan sebutan “The Fallen Angel” (Malaikat yang Jatuh) selain disebut sebagai “satan”, “demons” atau  “watchers”. Memang menurut sebagian besar ulama iblis bukanlah malaikat. Ia adalah jenis lain yang nanti ditegaskan di dalam al-Quran dengan jenis makhluk lain bernama “jin”.

Berikut penuturan Al-Quran. Firman Allah:

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan keturanan-keturunannya sebagai pemimpin selain dari-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim”. (QS. 18: 50)

Letak jatuhnya martabat iblis bukan hanya pada materi “keengganan bersujud”, tetapi lebih kepada “penolakan terhadap titah, amar dan perintah Allah”. Dan itu adalah takabbur, angkuh yang mengkristal yang benihnya adalah iri, dengki dan ketidakpuasan serta ketidakmauan bersyukur atas segala nikmat dan karunia yang diberikan. Itulah yang menyebabkan status dan martabatnya berubah, dari penduduk dan penghuni langit menjadi makhluk yang beristana di dasar lautan yang dalam. Dari makhluk terang yang tercipta dari api menjadi makhluk penghuni kegelapan.

Kisah the fallen angel ini juga mirip dengan kisah para pengkhianat. Orang-orang berkepribadian ganda yang lupa asal-usulnya. Sebutlah para diktator dan ikon-ikon kezhaliman sepanjang masa, sudah bisa dipastikan akan terdapat orang-orang yang tadinya baik kemudian berbalik bersembunyi di belakang kezhaliman demi mereguk kenikmatan sesaat dan akan selalu berakhir dengan kehinaan dan kebinasaan. Sebuah ending yang buruk, sebagaimana kesudahan sebuah peristiwa kezhaliman; kapan dan di mana pun kejadiannya.

Sejarah mencatat Qarun yang tadinya adalah orang baik-baik, pengikut Nabi Musa yang shalih dan miskin. Tapi kemudian ia silau dengan muslihat dan fitnah dunia setelah menjadi kaya dan menjauh dari kehidupan normalnya. Haman, yang bahkan namanya tak disebut dalam taurat dan injil. Tadinya adalah orang biasa yang kemudian diorbitkan oleh Firaun karena keahlian teknik bangunan yang dimilikinya. Firaun membuatkan panggung popularitas untuknya sebagai imbalan kejeniusan otaknya merancang bangunan-bangunan tinggi untuk menghina Musa alaihissalam dan menakut-nakuti pengikutnya.

Sejarah memang akan lebih suka mencatat pengalaman heroik para pahlawan dibanding kepengecutan para pengkhianat atau orang-orang bermental pecundang.

Jika Fir’aun mengikuti jejak iblis yang ditenggelamkan ke dalam lautan. Bedanya: iblis tenggelam secara maknawi, sedangkan Fir’aun fisiknya benar-benar ditenggelamkan Allah dan kemudian dimunculkan kembali di atas laut untuk diselamatkan dan diabadikan sehingga bisa disaksikan oleh orang-orang setelahnya. Diambil ibrah dan perjalanan serta akhir dari sebuah keangkuhan dan kezhaliman.

Ada kisah lain yang lebih modern dari kisah perseteruan abadi antara Musa dan Firaun…

Yaitu kisah dari sebuah daratan Eropa Timur di Transylvania, Hungaria, tentang seorang Pangeran Wallacia yang bernama Vlad III yang lebih dikenal dengan sebutan Vlad Drăculea. Drăculea, nama belakang sang pangeran dalam bahasa Latin dan Yunani berasal dari kata “dracul” berarti naga (dragon). Dalam bahasa Rumania, drac berarti “iblis”. Dalam bahasa Ottoman ia dikenal dengan “Kazıklı Voyvoda” yang berarti “Pangeran Penyula”. Julukan tersebut diberikan padanya karena kegemarannya menghukum musuh-musuhnya dengan cara disula yaitu metode pembunuhan dengan cara menusukkan tiang pancang sebesar lengan orang dewasa ke bagian dubur korbannya hingga bagian belakang leher atau kepala dan mendirikan pancang tersebut. Kesadisan tersebutlah yang kemudian mengidentikkannya sebagai “penghisap darah”. Sehingga Bram Stoker pada tahun 1897 M dalam novelnya memunculkan karakter vampir sang penghisap darah, terinspirasi oleh sosok sang pangeran yang kejam di atas.

Sang Pangeran berayahkan Vlad II. Tapi kemudian turun tahta dengan cara paksa, digulingkan oleh saingannya pada tahun 1442. Sang Pangeran kemudian mendapat jaminan keamanan dan suaka oleh Ottoman. Vlad III dan Radu adiknya dididik dan dipelihara oleh keluarga kesultanan Ottoman sesuai tradisi Turki.

Dua kakak beradik ini memiliki watak berbeda. Radu yang berkarakter lembut akhirnya memeluk Islam dan menjadi bagian penting dari kesultanan Ottoman. Di masa Sultan Mehmet II (Muhammad Al-Fatih) ia digelari dengan gelar kehormatan Bey. Sementara Vlad yang keras semakin membenci Ottoman dan adiknya. Kebenciannya semakin menjadi-jadinya karena ia melihat ayahnya tak terlalu tegar menangani musuh-musuhnya serta menduga dirinya ditukar dan digadaikan ke Kesultanan Ottoman.

Pada akhirnya Vlad III meraih kebebasannya. Dia dikembalikan ke Wallachia. Ia bahkan didukung oleh Ottoman untuk naik tahta melawan kerajaan Hongaria. Dengan perjuangan yang berliku-liku dan sempat menjadi pelarian akhirnya Vlad kembali ke Wallachia dan menjadi penguasa di sana. Hal radikal pertama yang dilakukannya adalah membunuh lawan-lawannya dengan sadis, yaitu dengan cara menyula. Korban pertamanya adalah para bangsawan Wallachia.

Ia melupakan budi baik Ottoman yang membesarkan dan memfasilitasinya. Ia pun memberontak dan melawan kesultanan Ottoman yang secara tak langsung berjasa menyelamatkan nyawanya kemudian membantu memuluskan kenaikan tahtanya. Beberapa kali pengiriman pasukan Ottoman gagal menaklukan Vlad Sang Drakula. Hingga diutuslah adiknya, Radu yang tergabung dalam pasukan khusus Ottoman kesatuan Yasinari. Sayangnya, setelah dikepung beberapa waktu Vlad berhasil melarikan diri. Vlad pun terpaksa meminta perlindungan ke raja Hongaria yang baru yang sejatinya adalah musuhnya juga, Matthias Cornivus. Sesampainya di sana ia tidak dijamu atau disambut tapi ia dijebloskan ke dalam tahanan. Tak tahan menyendiri ia pun kemudian menampakkan karakter lain dengan “pura-pura” memeluk agama Katolik.  Hingga lambat laun ia padu dengan para bangsawan. Naluri perlawanan dan pembunuhnya pun masih terjaga. Di dukung oleh Pangeran Transilvania, Stephen Bathory dan pangeran Moldovia, ia kembali menyerang Wallachia. Di saat yang sama Radu, adiknya meninggal dunia karena terjangkit sebuah penyakit menular berbahaya. Satu-persatu sekutunya meninggalkannya. Di akhir hidupnya ia menjadi pemurung dan dihantui oleh dosa-dosanya menyiksa dan membunuhi banyak orang. Ia pun meninggal dengan tragis. Kepalanya dipenggal, dipisahkan dari badannya. Mayat Dracula tanpa kepala ini ditemukan di tepian Danau Snagov, 40 kilometer sebelah utara Bucharest, Rumania.

Sang Pangeran, Vlad Dracula punya banyak musuh. Sangat banyak yang tersakiti oleh kekejaman dan kesadisannya. Inilah mungkin yang mendasari sebuah legenda bahwa ia dibunuh oleh prajuritnya sendiri. Konon di antara prajurit-prajuritnya terdapat pembunuh bayaran dari lawan-lawannya. Musuhnya pun mencari celah agar dapat membunuhnya di saat lengah. Versi lain mengatakan bahwa ia dibunuh seorang prajurit Ottoman yang menyamar sebagai pelayan. Sultan Mehmed II telah membentuk unit khusus bernama Yanisari yang tujuan utamanya adalah membunuh Dracula. Pada saat menjelang kematiannya, salah seorang Yanisari berhasil menyusup dan membunuh Dracula di saat sedang istirahat. Ia pun konon meninggal terbunuh oleh prajuritnya sendiri karena berpakaian seperti prajurit Ottoman, padahal Dracula menyamar untuk memasuki pertahanan Ottoman.

Bagaimanapun terbunuhnya Dracula, semua mengarah pada satu cerita. Kepalanya terpenggal dan mayat yang tak berkepala tersebut ditemukan di sebuah danau di utara Rumania.

Kisah Vlad Sang Drakula tak bisa dipisahkan dengan kisah Sultan Mehmed II dan Perang Salib. Kisah Vlad adalah buruknya cerita pengkhianatan. Perjalanan hidup Vlad memberikan cerminan buruk pada orang tak mengenal hutang budi baik. Kisahnya akan terekam terus sebagai makhluk penghisap darah. Bahkan ia lebih buruk dari itu. Menghisap kebaikan dirinya dan kebaikan orang lain. Menistai kepercayaan. Menodai arti kesetiaan. Menghancurkan karirnya sendiri dengan syahwat kekuasaan dan hawa dendam yang tak beralasan.

Lihat juga sebelum ini, kisah Namrud dan kemudian Fir’aun. Firaun sang pengaku tuhan itu mati ternistakan dengan cara tenggelam. Namrud sang angkuh lain itu mati dengan seekor nyamuk/lalat yang memasuki kepalanya melalui salah satu lubang hidungnya.

Simaklah akhir kisah Abu Jahal yang sombong dan durjana. Ia tak tewas di tangan Hamzah atau Umar. Tapi ia tersungkur dibunuh oleh salah satu dari dua anak kecil, Muadz dan Muawwidz seperti penuturan Ibnu Mas’ud dalam riwayatnya.

Amatilah kisah Vlad III Sang Drakula penghisap darah. Ia mati terhinakan. Kepalanya hilang tak terlacak, mayat tanpa kepalanya ditemukan mengapung di sebuah danau. Danau Snagov di Rumania.

Juga Qarun orang sombong yang lupa asal-usulnya, tenggelam jauh ke perut bumi bersama seluruh kekayaannya yang selalu dibangga-banggakan. Padahal tadinya ia seorang miskin dan terlantar.

Atau Haman yang bukan siapa-siapa. Terpesona sendiri oleh nafsu dan pujian serta magnet kekuasaan. Menyusul majikannya tenggelam bersama keangkuhan dan kebanggaan semunya. Namanya pun akan dijadikan sebuah pelajaran buruk bagi orang setelahnya.

Ada banyak kisah pengkhianatan dalam setiap perjuangan. Selalu ada pribadi ganda yang memanfaatkan momentum untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Selalu dan akan terus ada mental-mental hipokrit. Dan tak satu pun dari mereka mengakhiri hidupnya dengan kemuliaan.

Mungkin inilah salah satu rahasia Allah tak menampilkan nama-nama kaum munafiq dalam sejarah Islam. Kecuali Abdullah bin Ubai bin Salul. Tidak ditampilkan dalam kitab-Nya tidak juga ditemukan dalam saduran riwayat hadits nabi-Nya. Hal ini mengindikasikan bahwa kemunafikan akan terus berlanjut sampai hari kiamat. Bahwa kemunafikan selalu menjadi musuh berbahaya dalam setiap perjuangan. Dan supaya tak terbersit dalam hati setiap muslim bahwa kemunafikan sudah tiada dengan wafatnya orang-orang munafik yang secara definitif disebut Allah. Karena itu Allah tak menyebut orang perorangnya, namun menyebut banyak sifat dan karakternya dalam al-Quran dan Hadits nabi-Nya. Selain itu Allah membuka peluang kebaikan untuk mereka kembali. Allah akan selalu siap mengampuni mereka yang sadar akan kezhalimannya. Allah Sang Maha Pengampun dan penerima taubat hamba-Nya.

Buruknya pengkhianatan ini akan menempatkan orang-orang munafik ke dasar neraka, “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.” (QS. 4: 145)

Pengkhianatan dan kemunafikan akan membawa seseorang ke dasar kehinaan.

Dalam hidupnya, orang-orang berkhianat dan munafik akan jauh lebih rendah dari binatang, “Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi.” (QS. 7: 179), “Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu)” (QS. 25: 44)

Padahal manusia telah Allah angkat derajatnya setinggi langit, melebihi kedudukan malaikat-Nya. Tapi ia sendiri yang menjatuhkan martabat dirinya. “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya” (QS. 95: 4-5)

Dengan ketaatan dan kesabaran dalam orbit ketaatan manusia melayang bahkan di atas langit, seolah menyertai Nabi Muhammad SAW mi’raj ke sidratul muntaha dengan kekhusyukan shalat dan kepasrahan. Dengan ketundukan hati dan kemurnian tawadhu, keikhlasan perjuangan dan totalitas penyerahan pada Dzat yang serba maha.

Dengan kezhaliman, kesombongan, penolakan terhadap titah Allah dan melawannya seseorang meluncur ke dasar kehinaan. Tenggelam ke alam kegelapan. Seperti jatuhnya iblis, tenggelamnya Fir’aun dan Qarun serta Haman. Dan berakhir nista seperti Namrud, Abu Jahal, Abdullah bin Ubay bin Salul, juga akhir kisah Sang Drakula, Vlad III.

Dengan mengingat kisah kezhaliman dan ending yang mengakhiri pelakunya, orang-orang mazhlum akan terus optimis hidupkan harapan. Nyalakan semangat melawan kezhaliman yang merampas kesucian dan kemurnian tauhidnya, yang merampok totalitas penghambaannya pada Rabb yang Kuasa. Yang membatasi kebaikan secara terminologi belaka. Mengebiri segala potensi kebaikan dan tersebarnya kebaikan secara natural dan masif. Dan karena orang-orang mazhlum itu memiliki satu nyawa tapi mereka punya kehidupan yang tiada habisnya. Sekalipun mereka mati dengan cara yang dipandang nista oleh manusia, “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.” (QS. 3: 169) Sekalipun mereka diolok-olok dan dihinakan di depan sesamanya, ditertawakan dan direndahkan martabatnya. “… mereka menertawakan orang-orang yang beriman” (QS. 83: 29)

Tapi orang-orang mazhlum itu berada persis di depan gerbang kemenangan yang Allah buka lebar-lebar. Sementara orang-orang zhalim tanpa disadari meluncur deras ke arah kehancuran yang mereka takuti. Pelan namun pasti akan berujung pada dua titik berbeda. Kemenangan bagi sang mazhlum dan orang-orang yang melawan serta tak menyerah pada kezhaliman. Dan kehinaan serta kehancuran menemui orang-orang zhalim, pasti dan tak bisa ditolak kedatangannya.

Nyawa-nyawa yang diperdebatkan jumlahnya di Suriah telah terbang memasuki gerbang kemenangan abadi dan kemuliaan yang dijanjikan. Nyawa-nyawa tanpa senjata yang dibunuhi tanpa dakwaan dan pengadilan serta tanpa senjata dan perlawanan di Mesir akan menuntut balas, dengan pasukan yang dikirim Allah dalam berbagai bentuknya. Jiwa-jiwa yang terpasung di Baq’a Jordania, atau terperangkap di penampungan Yarmuk di Suriah, tertahan di penjara terbesar di dunia di Gaza bisa jadi dibela oleh orang-orang lemah tak bersenjata dan sedikit pengaruhnya. Melawan rezim zhalim yang memiliki kekuatan militer mutakhir, bersenjatakan supermodern, memiliki tentara yang sulit dihitung yang punya kemampuan terlatih serta disiapkan khusus untuk memusnahkan apa dan siapa saja.

Tapi orang-orang zhalim itu semua bermula sama, seorang bayi kecil yang hanya bisa menangis dalam ketidakberdayaannya. Menunggu uluran tangan dan dekapan ibunya.

Saat Allah samarkan nama-nama mereka yang masih hidup dan tidak dibuka tabir rahasia mereka, barangkali inilah kesempatan untuk mundur dan kembali ke jalan kebenaran. Peluang taubat yang terus dibuka. Bila tidak, sejarah sudah dipenuhi kisah mereka. Baik mereka yang berlaku zhalim, maupun para pengikutnya dari kalangan penjilat dan orang-orang yang diam serta menyetujui kezhaliman terjadi di bumi Allah. Semua akan menemui akhir yang sama dengan bentuk yang berbeda-beda.

Saatnya untuk memperpanjang nafas perjuangan melawan kezhaliman serta menularkannya kepada sebanyak mungkin orang-orang di sekitar kita. Simaklah janji Allah di akhir surat Asy-Syuara “Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.” (QS. 26: 227).

Catatan Keberkahan 022

Jakarta, 06.11.2013