Catatan Keberkahan 021: Para Pemuda & Ruh Kolektivitas

PARA PEMUDA dan RUH KOLEKTIVITAS

Dr. Saiful Bahri, M.A

tim

Sebagai pusaka sakti dan mukjizat teragung peninggalan Rasulullah SAW, Al-Quran senantiasa menginspirasi untuk digali mutiara-mutiara motivasi di dalamnya. Salah satu motivasi menarik dalam al-Quran adalah cara Allah memanggil umat Islam, dengan sebutan “يا أيها الذين آمنوا” (wahai orang-orang yang beriman). Panggilan kolektif seperti ini belum pernah dikenal sebelumnya oleh orang-orang Arab. Juga belum pernah digunakan Allah ketika menurunkan wahyu-Nya di Mekah sebelum hijrah Nabi SAW ke Madinah. Panggilan seperti ini digunakan saat umat Islam telah memiliki sebuah komunitas yang eksis. Memiliki struktur pemerintahan dan kepala negara. Memiliki tatanan sosial yang lebih mapan di banding ketika mereka berada di Mekah. Hal ini mengindikasikan sebagai kuatnya kolektivitas (kejamaahan) dan wihdah (persatuan). Ini menandakan urgensi komunitas muslim untuk membumikan hukum-hukum Islam (semua lapisan masyarakat). Jika ayat-ayat hukum, maka yang menjadi pengawal dan pelaksana utama adalah para penguasa. Adapun secara personal pelaksanaan hukum dan aturan agama menjadi sangat terbatas di ranah privat. Karenanya di dalam al-Quran tidak ditemukan panggilan (nidâ’) dengan menggunakan “يا أيها الذي آمن” atau “يا أيها المؤمن”, sementara “يا أيها الذين آمنوا” diulang di dalam al-Quran delapan puluh sembilan kali.

Demikian juga kata-kata plural lebih sering disebut dari pada single. Seperti “قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ” (QS. 23:1) yang mengindikasikan bahwa kemenangan dan kebahagiaan dapat dicapai lebih mudah dengan kebersamaan. Juga firman Allah “وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَ” (QS. 30:47) mengindikasikan Allah SWT menurunkan pertolongan kepada umat Islam, secara bersama-sama maupun serentak dimenangkan dengan cara dan kuasa-Nya. Perhatikan pula dalam redaksi berikut “إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُم بُنْيَانٌ مَّرْصُوصٌ” (QS. 61:4) artinya “Sesungguhnya Allah menyintai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh”. Cinta Allah di ayat ini terkait dengan soliditas, kekompakan, persatuan, keteraturan dan koordinasi atau dimaknai sebaliknya, untuk meraih cinta Allah dapat diwujudkan dengan hal-hal tersebut.

Dalam sejarah praktisnya ruh kolektivitas di atas dilakukan oleh para pemuda penghuni gua “ashhâbul kahfi” dalam melawan rezim kezhaliman yang menggurita di mana-mana. Melawan keangkuhan kekaisaran Romawi. Para pemuda tersebut berbeda latar belakang dan strata sosial. Ada penasehat istana, ada perwira tinggi, ada tentara biasa, bahkan ada seorang penggembala. Tapi ruh kolektivitas menyatukan mereka pada satu tujuan; memurnikan akidah dan menjaga agama Allah. Kemudian Allah berikan ilham/petunjuk kepada mereka untuk berlindung dan bersembunyi di gua untuk sementara sambil menyusun strategi berikutnya.

Ruh kolektivitas  yang dipadu dengan usia muda menjadi salah satu sebab turunnya pertolongan Allah. Takdir Allah berjalan untuk mereka. Jarak bernama waktu didekatkan Allah untuk mereka. Dan saat mereka istirahat tiga ratus tahun lamanya, semua terasa sebentar karena kuasa dan keinginan Allah pada mereka. Saat mereka kembali dibangunkan Allah di zaman yang bukan zaman mereka, mereka pun menjadi salah satu tanda kebesaran Allah yang ditunjukkan pada manusia di zaman itu.

Ruh kolektivitas di dalam guna ditularkan Allah kepada para dai di luar gua untuk meneruskan mimpi mereka. Siang malam para penerus mereka tiada henti perjuangkan dakwah, tinggikan kalimat Allah. Para pemuda kahfi tiada mengetahui proses yang terjadi di luar. Mereka bahkan tidak sadar bahwa apa yang mereka lakukan, menyatakan keislaman dan memberanikan diri ungkap identitas ideologi yang sesungguhnya di depan khalayak memberi efek dan dampak luar biasa.

وَرَبَطْنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ إِذْ قَامُوا فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَن نَّدْعُوَ مِن دُونِهِ إِلَٰهًا ۖ لَّقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًا

Dan Kami meneguhkan hati mereka diwaktu mereka berdiri, lalu mereka pun berkata, “Tuhan kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran”. (QS. 18 :14)

Tabir identitas telah dibuka. Selama ini mereka memeluk Islam tapi dengan sembunyi-sembunyi dan dirahasiakan. Tapi kali ini mereka membukanya. Menyatakannya. Dengan segenap keyakinan dan tiada sedikitpun keraguan serta ketakutan menyertainya.

Dengan ini bukan hanya mereka yang Allah kuatkan, namun umat Islam yang selama ini tertindas termotivasi. Selama ini Islam identik dengan warga kelas dua dan hanya dianut oleh orang lemah dan rendah derajatnya. Tapi dengan peristiwa ini sebagian masyarakat pelan namun pasti makin tak ragu untuk mempelajari dan kemudian memeluk agama tauhid ini. Lambat laun jumlah mereka bertambah dan bahkan kemudian orang-orang zhalim yang tadi menindas menjadi minoritas bahkan kemudian sirna tanpa bekas. Saat waktunya tiba Allah bangkitkan para pemuda kahfi untuk sebuah keperluan. Membuktikan kekuasaan Allah sekaligus mengirim pesan adanya hari kebangkitan dan kehidupan setelah kematian.

Anak-anak muda dan ruh kolektivitas ini juga terlihat pada peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW. Abu Bakar ash-Shiddiq mengerahkan seluruh potensi yang ada pada keluarganya. Sejak dari para perempuannya, Asma’ dan adiknya; Aisyah turut menyiapkan logistik Rasulullah SAW. Bahkan kemudian Asma’ yang sedang hamil beranikan diri untuk mengantarnya. Abdullah bin Abi Bakar, berperan sebagai pemberi kabar dan berita yang terjadi di Mekah. Amir bin Fuhairah, budak Abu Bakar yang seorang penggembala juga berperan menghapus jejak-jejak perjalanan Rasulullah SAW bersama Abu Bakar, sekaligus menyediakan minuman susu segar. Juga objek dakwah Abu Bakar, Abdullah Uraiqith yang saat itu masih dalam kondisi musyrik berperan menjadi petunjuk jalan ke Madinah melalui jalur yang tak biasa ditempuh kebanyakan orang.

Dalam dua kisah di atas terdapat potensi pemuda yang luar biasa, terlebih saat dipadu dengan ruh kolektivitas dan kebersamaan.

Nabi-nabi Allah juga kebanyakan diutus saat mereka berusia muda. Bahkan saat mereka belum menjadi nabi pun potensi hebat mereka telah menggentarkan para rezim zhalim. Seorang pemuda Ibrahim menggemparkan kesakralan tempat ibadah Namrud.

 قَالُوا سَمِعْنَا فَتًى يَذْكُرُهُمْ يُقَالُ لَهُ إِبْرَاهِيمُ

Mereka berkata: “Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim” (QS. 21: 60)

Yahya putra Zakaria juga tak kalah lantangnya menentang pernikahan Raja Herodus dengan keponakannya Putri Herodia. Pernikahan yang melanggar syariat Allah. Yahya tetap berpegang teguh pada pendapatnya, juga terhadap keyakinannya. Meski akibatnya beliau menjadi buron Raja Bengis dan sadis dari Romawi tersebut. Bahkan Bani Israel juga merasakan akibatnya, banyak yang ditahan dan disiksa. Dan akhirnya berujung pada pembunuhan yang dialami oleh Nabi Yahya, juga ayahnya nabi Zakaria.

Juga kisah fenomenal yang diulang-ulang paling banyak di dalam Al-Quran. Yaitu perlawanan Musa muda terhadap ayah angkatnya yang juga sang zhalim dan angkuh serta mengaku tuhan paling tinggi bagi rakyatnya. Dengan lembut ia sampaikan kebenaran di hadapan ayah angkatnya. Pun saat ia ditantang tunjukkan kekuasaan Allah di depan masyarakat. Kekukuhannya melawan kezhaliman tak mampu dihentikan, meski oleh orang yang sangat berjasa padanya. Hingga sampai kesabaran rezim zhalim habis, saatnya perburuan dan pembunuhan dimulai lagi seperti saat ia membunuhi bayi-bayi laki-laki beberapa tahun silam, saat Musa masih kecil. Allah selamatkan Musa beserta kaumnya, dan tenggelamkan Firaun bersama keangkuhan dan pasukannya.

Dalam wilayah nasional, bangsa Indonesia juga tak lepas dari peran pemuda. Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 terjadi diantaranya karena desakan golongan muda. Demikian juga perang lima belas hari di Surabaya dikobarkan oleh para pemuda yang kemudian kita peringati setiap 10 November sebagai hari Pahlawan.

Saat para tokoh dan orang-orang tua penentang kudeta di Mesir ditangkap, dipenjara dan diadili, para pemuda tak henti-hentinya bergerak memotivasi perlawanan tiada henti. Berinovasi dan menemukan cara menyampaikan pesan anti kudeta kepada seluruh dunia, tak terkecuali para pelaku kudeta.

Usia muda dan ruh kolektivitas. Dua hal penting yang menjadi target perusakan terhadap para pemuda muslim; laki-laki dan perempuan. Dalam konteks Palestina, di tengah perjuangan melawan penjajahan dan pendudukan ilegal, para pemuda Palestina diserbu mafia obat-obatan terlarang. Terlebih tawaran menggiurkan tersebut datang di saat krisis menghimpit ketika terjadi embargo yang terus berkelangsungan dan menjadi lebih parah ketika pemerintah Mesir yang sah digulingkan awal bulan Juli 2013 lalu. Di samping untuk melumpuhkan ruh perlawanan yang seharusnya terus ada pada diri setiap pemuda Palestina. Sebagian melihat hal ini hanya wacana atau kabar tak bisa dipertanggungjawabkan. Tetapi sesungguhnya hal tersebut terjadi, secara khusus Zionis melakukan showdown –meminjam istilah Natsir dalam Capita Selectanya- secara bersamaan. Merusak potensi kekuatan fisik dan mental. Pemukiman ilegal terus menerus dibangun meski dunia mengecamnya. Pengusiran dan penangkapan terus dilakukan tanpa perlu sebuah alasan. Apalagi agresi dan pemaksaan militer, sudah bukan istilah asing didengar dan dialami bangsa Palestina. Satu lagi yang dilupakan, bahwa mereka melakukan demovitasi, demoralisasi melemahkan mental para pemuda yang menjadi asit penting perlawanan.

Kebijakan mengatur dan mempersulit kaum muslimin yang shalat di Masjid al-Aqsha adalah bukti nyata tersebut. Hanya para lelaki tua yang relatif dipermudah untuk melaksanakan shalat di sana. Anak-anak muda sepertinya harus dengan perjuangan sangat ekstra untuk dapat sampai ke pelataran Masjid al-Aqsha, masjid tempat beribadah umat Islam.

Namrud, Firaun, Jalut, Abu Jahal, Heraclius, Rustum adalah para simbol dan ikon kezhaliman.

Ibrahim, Musa, Dawud, Muhammad SAW, Usamah bin Zaid adalah para pemuda yang sanggup mengoleksi potensi protagonis tumbangkan kezhaliman.

Dengan pemuda dan ruh kolektivitas, sekuat apapun kezhaliman pasti akan menyerah dan akhirnya tumbang. Sekuat apapun. Sebesar apapun, nama dan popularitas mereka serta dukungan yang mereka peroleh dan selalu pertunjukkan.

Idzâ isytadda azh-zhalâm iqtaraba al-fajru…

Jika malam kian pekat, maka semakin dekatlah datangnya fajar.

Bila kezhaliman semakin nekad, maka tak lama lagi sambutlah kemenangan.

Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman” (QS. 30: 47)

Catatan Keberkahan 021

Jakarta, 31.10.2013

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s