Catatan Keberkahan 17: Nyonya Besar

Nyonya Besar

Shahibah

Dalam berbagai buku biografi, perempuan ini digelari sebutan unik. Sitti asy-Syâm, atau berarti Nyonya Besar Negeri Syam. Ia bernama Rabi’ah Khatun binti Ayyub (561-643 H) = (1166-1245 M). Memiliki usia yang cukup panjang yaitu 82 tahun, di samping berada di tengah orbit kekuasaan dan keilmuan yang memadai membuatnya benar-benar tumbuh menjadi seorang wanita yang memiliki pengaruh cukup besar. Beliau juga dikaruniai kekayaan materi yang lumayan baik dan mapan, bahkan berlebih dari kebanyakan masyarakat di zamannya.

Sang Nyonya Besar dijuluki demikian karena saudara-saudaranya, anak-anaknya, keponakannya dan famili dekatnya menjadi penguasa di wilayah Syam. Jumlahnya tak kurang dari 35 orang raja dan gubernur. Hampir semuanya dari Klan Ayyûbiyah dan sebagian kecil adalah ipar atau famili dari hasil pernikahan.

Saudara perempuan, ibu, bibi, sepupu dari para penguasa… Rabi’ah Khatun.Pengaruhnya yang demikian kuat tak hanya didapati karena berada di tengah jantung kekuasaan dan mendompleng nama besar dan popularitas kakaknya, Shalahuddin al-Ayyubi. Karena secara personal Rabi’ah adalah figur yang sangat berpengaruh.

Perempuan kuat tersebut juga dikenal dermawan. Menyayangi fakir miskin. Rumahnya selalu dijadikan base camp untuk penyaluran bantuan sosial berupa sedekah dan sebagainya. Tak jarang berupa emas, supply sembako (makanan pokok), obat-obatan (bantuan medis) dan segala hal yang berkaitan dengan hajat rakyat kecil.

Beliau juga memiliki andil besar di dunia pendidikan. Dua sekolah bernama Ash-Shâhibah di Shâlihiyyah, Damaskus dan “Al-Khatuniyah al-Jiwaniyah” adalah sumbangsih beliau sebagai pewakaf materi selain sumbangan pemikiran yang selalu diberikan, berupa ide gagasan atau bahkan terjun sebagai pengajar dan terlibat dalam manuver ilmiahnya.

Bukan hanya terlibat secara praktis, nyonya besar juga terlibat dalam karya ilmiah. Dalam sebuah manuskrip Sunan Abi Dawud, salah satu buku hadis yang otoritatif, ada beberapa pendapat beliau yang terekam, mengomentari buku hadits tersebut. Tak heran jika kemudian nama beliau dimasukkan dalam salah satu ulama muslimah. Muhammad Ahmad Ismail memuatnya dalam buku “Min Sîrah al-‘Âlimât al-Muslimât

Rabi’ah bersuamikan Sa’duddin Az-Zanky, anak dari Mu’inuddin Zanky (Emir Damaskus). Sa’duddin adalah Kakak dari Khatun Is’matuddin (istri mendiang Sultan Nuruddin Zanky yang kemudian diperistri oleh Shalahuddin Al-Ayyubi). Setelah suaminya meninggal, Rabi’ah menikah dengan Al-Muzhaffar Abu Sa’id al-Kaukibary, Gubernur Provinsi Erbil di Iraq Utara di era kepemimpinan Shalahuddin yang juga kakak iparnya. Muzhaffar juga ikut dalam kafilah jihad Shalahuddin dalam pengepungan benteng al-Karak di Yordaniya serta dalam perang hidup mati melawan pasukan salib di pertempuran Hithin. Rabi’ah mendampinginya selama empat puluh tahun. Dan setelah suaminya wafat ia kembali ke Damaskus.

Rabi’ah yang seorang alimah tersebut dengan sentuhan keberkahannya, ilmu dan wakafnya bermanfaat. Madrasah As-Shâhibah di Damaskus tersebut dibangun pada tahun 628 H/1231 M, bermadzhab bermadzhad Hanbali. Sekolah Islam Klasik ternama tersebut telah melahirkan nama-nama ulama besar madzhab Hanbali. Diantaranya pengajar pertamanya Nashihuddin Abdurrahman bin al-Hanbaly, kemudian diteruskan murid-murid beliau: Syeikh At-Taqiyy bin al-Wasithy, juga nama-nama lainnya; Asy-Syihab al-Maqdisy dan Ibnu Muflih.

Sekolah yang didirikan atas inisiatif sekaligus kreasi anak bungsu keluarga Ayyub ini sampai sekarang masih bisa dilihat dan dikunjungi sebagai salah satu peninggalan bersejarah Dinasti Ayyubiyah di Damaskus.

Ulama-ulamanya selain faqih dan mumpuni di bidang agama, juga mendapat sentuhan ruh jihad yang terus dikobarkan pendirinya Rabi’ah Khatun, yang berdampingan langsung dengan dua orang diantara pimpinan terbaik di zaman itu, Sa’duddin Zanki yang juga terlibat dalam perhelatan perang salib juga suami keduanya al-Muzhaffar yang terjun langsung bersama kakaknya, Shalahuddin al-Ayyubi di berbagai medan pertempuran penting.

Bila pengaruhnya di bidang keilmuan tak diragukan, demikian halnya di pemerintahan dan kerajaan. Sang nyonya besar memiliki sejumlah saudara, kakak, anak-anak, keponakan dan family yang menjadi sultan dan gubernur di masa keemasan dinasti Ayyubiyah.

Di antaranya yang paling utama: Shalahuddin al-Ayyubi (1137-1193 M), salah satu pendiri dinasti Ayyubiyah yang kemudian ditahbiskan sebagai Sultan Mesir dan Negeri Syam. Kemudian Saifuddin Abu Bakar al-Ayyubi (1145-1218 M), Emir Yaman Zhahiruddin Saiful Islam al-Ayyubi (W. 1197 M), Emir Ba’labak Nuruddaulah Syahansyah al-Ayyubi (W. 1148), Emir Aleksandria Syamsuddaulah Turansyah al-Ayyubi (W. 1181 M). Dan nama-nama lain seperti Nusha ad-Din Marwan, Imaduddin Syadi, Al-Manshur Abu Bakar, Al-Kamil Nashiruddin Abu al-Ma’ali, Muzhafaruddin Abu al-Fath dan lain-lain.

Nama-nama yang tersebut di atas adalah para raja, gubernur dan penguasa di berbagai daerah. Hampir semuanya memiliki sentuhan Ayyubiyah, pendidikan keilmuan, kekuatan militer dan diplomasi.

Selain dikenal dengan keilmuan dan andil besar beliau di bidang ilmiah juga di bidang pemerintahan dan kekuasaan, beliau dikenal sebagai seorang yang rajin melakukan shalat malam. Perempuan shalihah tersebut bahkan dikenal memiliki iffah dan wara’ yang tinggi. Kehati-hatiannya dalam bersikap bisa ditilik dari sikap hidup kesehariannya. Bahkan beliau juga seorang yang zuhud. Dengan harta yang melimpah, dikelilingi otoritas kekuasaan yang sangat luas, dikaruniai akal yang brilian juga penasehat-penasehat yang berilmu dan pakar di bidangnya, tak lantas menjadikannya jumawa dan angkuh.

Nyonya besar yang selama ini diidentikkan dengan kekuasaat absolut dan semena-mena nyaris tak dijumpai pada diri Rabi’ah Khatun yang sederhana, rendah hati, dermawan dan pecinta fakir miskin.

Nyonya besar yang terkesan tak mau tau urusan kecil, proyek ilmiah dan berbagai gagasan brilian lainnya, justru diperlihatkan sebaliknya oleh Rabi’ah. Ia mewakafkan hartanya, turun memimbing proyek ilmiah tersebut dan terlibat langsung dalam kegiatan keilmuannya.

Nyonya besar yang diidentikkan dengan kehidupan serba mewah ternyata jauh dari ekspektasi dan banyangan rakyat awwam. Hidup Rabi’ah sangat zuhud. Bahkan beliau akhirnya meninggal dan dimakamkan di pelataran rumah yang juga diwakafkannya untuk sekolah Ash-Shahibah di Damaskus.

Rabi’ah muda menyaksikan langsung kakaknya yang berhasil menaklukan kota al-Quds setelah berjibaku dalam berbagai pertempuran dan meladeni gempuran tentara salib. Rabi’ah pun terinspirasi kegigihan kakaknya.

Rabi’ah yang adik bungsu Shalahuddin ini sangat terpengaruh gaya hidup kakaknya, termotivasi spirit perjuangannya dalam membela kebenaran dan menolong orang-orang lemah dan zhalim. Dia melengkapi sisi-sisi kebutuhan umat Islam setelah kokoh secara militer dan ketahanan nasionalnya. Yaitu penguatan ilmu dan wawasan melalui sekolah-sekolah juga pendidikan mental dan jiwanya. Rabi’ah di akhir-akhir hidupnya juga menyediakan tempat ibadah yang dipakai oleh kalangan sufi.

Inilah trilogi kekuatan yang saat ini diperlukan umat Islam. Kekuatan Iman (mental dan jiwa), kekuatan militer dan kekuatan ilmu/wawasan (pendidikan). Dengan tiga kekuatan dasar ini kekuatan berikutnya lahir dan ikut menonjol, seperti stabilitas keamanan, kualitas kesejahteraan dan ekonomi serta suasana perpolitikan dan kekuasaan serta sektor-sektor kehidupan lainnya.

Semoga Allah memberkahimu Rabi’ah Sang Nyonya Besar Negeri Syam…

Umat Islam menanti, sangat menunggu-nunggu perempuan sepertimu terlahir kembali di masa kini. Perempuan yang berani melahirkan dan mendampingi para pejuang, para pahlawan, para ilmuwan dan para ahli ibadah. Untuk memujudkan masyarakat madani yang ideal, merekayasan tersebarnya kebaikan di berbagai sektor kehidupan manusia.

RahimakilLâh Ya Sitti asy-Syâm.

Catatan Keberkahan 017

Jakarta, 07.10.2013

Dr. Saiful Bahri, MA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s