Catatan Keberkahan 021: Para Pemuda & Ruh Kolektivitas

PARA PEMUDA dan RUH KOLEKTIVITAS

Dr. Saiful Bahri, M.A

tim

Sebagai pusaka sakti dan mukjizat teragung peninggalan Rasulullah SAW, Al-Quran senantiasa menginspirasi untuk digali mutiara-mutiara motivasi di dalamnya. Salah satu motivasi menarik dalam al-Quran adalah cara Allah memanggil umat Islam, dengan sebutan “يا أيها الذين آمنوا” (wahai orang-orang yang beriman). Panggilan kolektif seperti ini belum pernah dikenal sebelumnya oleh orang-orang Arab. Juga belum pernah digunakan Allah ketika menurunkan wahyu-Nya di Mekah sebelum hijrah Nabi SAW ke Madinah. Panggilan seperti ini digunakan saat umat Islam telah memiliki sebuah komunitas yang eksis. Memiliki struktur pemerintahan dan kepala negara. Memiliki tatanan sosial yang lebih mapan di banding ketika mereka berada di Mekah. Hal ini mengindikasikan sebagai kuatnya kolektivitas (kejamaahan) dan wihdah (persatuan). Ini menandakan urgensi komunitas muslim untuk membumikan hukum-hukum Islam (semua lapisan masyarakat). Jika ayat-ayat hukum, maka yang menjadi pengawal dan pelaksana utama adalah para penguasa. Adapun secara personal pelaksanaan hukum dan aturan agama menjadi sangat terbatas di ranah privat. Karenanya di dalam al-Quran tidak ditemukan panggilan (nidâ’) dengan menggunakan “يا أيها الذي آمن” atau “يا أيها المؤمن”, sementara “يا أيها الذين آمنوا” diulang di dalam al-Quran delapan puluh sembilan kali.

Demikian juga kata-kata plural lebih sering disebut dari pada single. Seperti “قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ” (QS. 23:1) yang mengindikasikan bahwa kemenangan dan kebahagiaan dapat dicapai lebih mudah dengan kebersamaan. Juga firman Allah “وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَ” (QS. 30:47) mengindikasikan Allah SWT menurunkan pertolongan kepada umat Islam, secara bersama-sama maupun serentak dimenangkan dengan cara dan kuasa-Nya. Perhatikan pula dalam redaksi berikut “إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُم بُنْيَانٌ مَّرْصُوصٌ” (QS. 61:4) artinya “Sesungguhnya Allah menyintai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh”. Cinta Allah di ayat ini terkait dengan soliditas, kekompakan, persatuan, keteraturan dan koordinasi atau dimaknai sebaliknya, untuk meraih cinta Allah dapat diwujudkan dengan hal-hal tersebut.

Dalam sejarah praktisnya ruh kolektivitas di atas dilakukan oleh para pemuda penghuni gua “ashhâbul kahfi” dalam melawan rezim kezhaliman yang menggurita di mana-mana. Melawan keangkuhan kekaisaran Romawi. Para pemuda tersebut berbeda latar belakang dan strata sosial. Ada penasehat istana, ada perwira tinggi, ada tentara biasa, bahkan ada seorang penggembala. Tapi ruh kolektivitas menyatukan mereka pada satu tujuan; memurnikan akidah dan menjaga agama Allah. Kemudian Allah berikan ilham/petunjuk kepada mereka untuk berlindung dan bersembunyi di gua untuk sementara sambil menyusun strategi berikutnya.

Ruh kolektivitas  yang dipadu dengan usia muda menjadi salah satu sebab turunnya pertolongan Allah. Takdir Allah berjalan untuk mereka. Jarak bernama waktu didekatkan Allah untuk mereka. Dan saat mereka istirahat tiga ratus tahun lamanya, semua terasa sebentar karena kuasa dan keinginan Allah pada mereka. Saat mereka kembali dibangunkan Allah di zaman yang bukan zaman mereka, mereka pun menjadi salah satu tanda kebesaran Allah yang ditunjukkan pada manusia di zaman itu.

Ruh kolektivitas di dalam guna ditularkan Allah kepada para dai di luar gua untuk meneruskan mimpi mereka. Siang malam para penerus mereka tiada henti perjuangkan dakwah, tinggikan kalimat Allah. Para pemuda kahfi tiada mengetahui proses yang terjadi di luar. Mereka bahkan tidak sadar bahwa apa yang mereka lakukan, menyatakan keislaman dan memberanikan diri ungkap identitas ideologi yang sesungguhnya di depan khalayak memberi efek dan dampak luar biasa.

وَرَبَطْنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ إِذْ قَامُوا فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَن نَّدْعُوَ مِن دُونِهِ إِلَٰهًا ۖ لَّقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًا

Dan Kami meneguhkan hati mereka diwaktu mereka berdiri, lalu mereka pun berkata, “Tuhan kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran”. (QS. 18 :14)

Tabir identitas telah dibuka. Selama ini mereka memeluk Islam tapi dengan sembunyi-sembunyi dan dirahasiakan. Tapi kali ini mereka membukanya. Menyatakannya. Dengan segenap keyakinan dan tiada sedikitpun keraguan serta ketakutan menyertainya.

Dengan ini bukan hanya mereka yang Allah kuatkan, namun umat Islam yang selama ini tertindas termotivasi. Selama ini Islam identik dengan warga kelas dua dan hanya dianut oleh orang lemah dan rendah derajatnya. Tapi dengan peristiwa ini sebagian masyarakat pelan namun pasti makin tak ragu untuk mempelajari dan kemudian memeluk agama tauhid ini. Lambat laun jumlah mereka bertambah dan bahkan kemudian orang-orang zhalim yang tadi menindas menjadi minoritas bahkan kemudian sirna tanpa bekas. Saat waktunya tiba Allah bangkitkan para pemuda kahfi untuk sebuah keperluan. Membuktikan kekuasaan Allah sekaligus mengirim pesan adanya hari kebangkitan dan kehidupan setelah kematian.

Anak-anak muda dan ruh kolektivitas ini juga terlihat pada peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW. Abu Bakar ash-Shiddiq mengerahkan seluruh potensi yang ada pada keluarganya. Sejak dari para perempuannya, Asma’ dan adiknya; Aisyah turut menyiapkan logistik Rasulullah SAW. Bahkan kemudian Asma’ yang sedang hamil beranikan diri untuk mengantarnya. Abdullah bin Abi Bakar, berperan sebagai pemberi kabar dan berita yang terjadi di Mekah. Amir bin Fuhairah, budak Abu Bakar yang seorang penggembala juga berperan menghapus jejak-jejak perjalanan Rasulullah SAW bersama Abu Bakar, sekaligus menyediakan minuman susu segar. Juga objek dakwah Abu Bakar, Abdullah Uraiqith yang saat itu masih dalam kondisi musyrik berperan menjadi petunjuk jalan ke Madinah melalui jalur yang tak biasa ditempuh kebanyakan orang.

Dalam dua kisah di atas terdapat potensi pemuda yang luar biasa, terlebih saat dipadu dengan ruh kolektivitas dan kebersamaan.

Nabi-nabi Allah juga kebanyakan diutus saat mereka berusia muda. Bahkan saat mereka belum menjadi nabi pun potensi hebat mereka telah menggentarkan para rezim zhalim. Seorang pemuda Ibrahim menggemparkan kesakralan tempat ibadah Namrud.

 قَالُوا سَمِعْنَا فَتًى يَذْكُرُهُمْ يُقَالُ لَهُ إِبْرَاهِيمُ

Mereka berkata: “Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim” (QS. 21: 60)

Yahya putra Zakaria juga tak kalah lantangnya menentang pernikahan Raja Herodus dengan keponakannya Putri Herodia. Pernikahan yang melanggar syariat Allah. Yahya tetap berpegang teguh pada pendapatnya, juga terhadap keyakinannya. Meski akibatnya beliau menjadi buron Raja Bengis dan sadis dari Romawi tersebut. Bahkan Bani Israel juga merasakan akibatnya, banyak yang ditahan dan disiksa. Dan akhirnya berujung pada pembunuhan yang dialami oleh Nabi Yahya, juga ayahnya nabi Zakaria.

Juga kisah fenomenal yang diulang-ulang paling banyak di dalam Al-Quran. Yaitu perlawanan Musa muda terhadap ayah angkatnya yang juga sang zhalim dan angkuh serta mengaku tuhan paling tinggi bagi rakyatnya. Dengan lembut ia sampaikan kebenaran di hadapan ayah angkatnya. Pun saat ia ditantang tunjukkan kekuasaan Allah di depan masyarakat. Kekukuhannya melawan kezhaliman tak mampu dihentikan, meski oleh orang yang sangat berjasa padanya. Hingga sampai kesabaran rezim zhalim habis, saatnya perburuan dan pembunuhan dimulai lagi seperti saat ia membunuhi bayi-bayi laki-laki beberapa tahun silam, saat Musa masih kecil. Allah selamatkan Musa beserta kaumnya, dan tenggelamkan Firaun bersama keangkuhan dan pasukannya.

Dalam wilayah nasional, bangsa Indonesia juga tak lepas dari peran pemuda. Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 terjadi diantaranya karena desakan golongan muda. Demikian juga perang lima belas hari di Surabaya dikobarkan oleh para pemuda yang kemudian kita peringati setiap 10 November sebagai hari Pahlawan.

Saat para tokoh dan orang-orang tua penentang kudeta di Mesir ditangkap, dipenjara dan diadili, para pemuda tak henti-hentinya bergerak memotivasi perlawanan tiada henti. Berinovasi dan menemukan cara menyampaikan pesan anti kudeta kepada seluruh dunia, tak terkecuali para pelaku kudeta.

Usia muda dan ruh kolektivitas. Dua hal penting yang menjadi target perusakan terhadap para pemuda muslim; laki-laki dan perempuan. Dalam konteks Palestina, di tengah perjuangan melawan penjajahan dan pendudukan ilegal, para pemuda Palestina diserbu mafia obat-obatan terlarang. Terlebih tawaran menggiurkan tersebut datang di saat krisis menghimpit ketika terjadi embargo yang terus berkelangsungan dan menjadi lebih parah ketika pemerintah Mesir yang sah digulingkan awal bulan Juli 2013 lalu. Di samping untuk melumpuhkan ruh perlawanan yang seharusnya terus ada pada diri setiap pemuda Palestina. Sebagian melihat hal ini hanya wacana atau kabar tak bisa dipertanggungjawabkan. Tetapi sesungguhnya hal tersebut terjadi, secara khusus Zionis melakukan showdown –meminjam istilah Natsir dalam Capita Selectanya- secara bersamaan. Merusak potensi kekuatan fisik dan mental. Pemukiman ilegal terus menerus dibangun meski dunia mengecamnya. Pengusiran dan penangkapan terus dilakukan tanpa perlu sebuah alasan. Apalagi agresi dan pemaksaan militer, sudah bukan istilah asing didengar dan dialami bangsa Palestina. Satu lagi yang dilupakan, bahwa mereka melakukan demovitasi, demoralisasi melemahkan mental para pemuda yang menjadi asit penting perlawanan.

Kebijakan mengatur dan mempersulit kaum muslimin yang shalat di Masjid al-Aqsha adalah bukti nyata tersebut. Hanya para lelaki tua yang relatif dipermudah untuk melaksanakan shalat di sana. Anak-anak muda sepertinya harus dengan perjuangan sangat ekstra untuk dapat sampai ke pelataran Masjid al-Aqsha, masjid tempat beribadah umat Islam.

Namrud, Firaun, Jalut, Abu Jahal, Heraclius, Rustum adalah para simbol dan ikon kezhaliman.

Ibrahim, Musa, Dawud, Muhammad SAW, Usamah bin Zaid adalah para pemuda yang sanggup mengoleksi potensi protagonis tumbangkan kezhaliman.

Dengan pemuda dan ruh kolektivitas, sekuat apapun kezhaliman pasti akan menyerah dan akhirnya tumbang. Sekuat apapun. Sebesar apapun, nama dan popularitas mereka serta dukungan yang mereka peroleh dan selalu pertunjukkan.

Idzâ isytadda azh-zhalâm iqtaraba al-fajru…

Jika malam kian pekat, maka semakin dekatlah datangnya fajar.

Bila kezhaliman semakin nekad, maka tak lama lagi sambutlah kemenangan.

Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman” (QS. 30: 47)

Catatan Keberkahan 021

Jakarta, 31.10.2013

Iklan

Serial #Cinta Episode 3

Estafet Cinta

@L_saba

love1. Ketika #cinta bertanya maka bahasa yg digunakan dibaca sebagai perhatian. Ketika benci berucap pertanyaan adalah intervensi harga diri
2. Ketika #cinta menyapa dgn senyum maka dibaca sebagai harapan, motivasi & dukungan. Tp saat benci tersimpan senyum adalah ejekan menyakitkan
3. Ketika #cinta tawarkan bantuan itu adalah tindakan heroik yg terkenang. Sementara saat benci ulurkan tangan menolong itu artinya penghinaan
4. Ketika #cinta mencari tahu suatu masalah maka itu adalah mukaddimah keindahan. Saat benci melakukannya berarti melanggar privasi
5. Ketika #cinta memuji maka akan selalu memesona bak surga di langit tujuh. Tapi saat benci memuji itu sama dg menantang atau setidaknya basa-basi
6. Bahkan ketika #cinta tampakkan lemah & tiada daya menjelma kuat tak tergoyahkan. Tp saat benci lemah maka akan ditindas, digilas sekuatnya
7. Ketika #cinta curahkan isi hati itu bermakna kepercayaan luar biasa. Ketika benci melakukannya, seolah spt sampah tak berguna.
8. Ketika #cinta berbagi maka sangat indah terlihat sbg ungkapan hati. Bila benci yg melakukan maka akan dianggap rendahkan martabat diri.
9. Bahkan ketika #cinta tiada berita & kabar akan ada ribuan alasan tuk berbaik sangka. Namun bila benci berbuat maka selesailah, tamatlah cerita.
10. Ketika #cinta berbeda pendapat akan ada jeda memahami, menjembatani, cari titik temu perbaikan. Jika benci spt itu maka api yg membakar apa saja.
11. Ketika #cinta merasa sendiri, akan ada seribu jalan hadirkan bayangannya. Tp jika itu benci maka lengkaplah cara tuk menguburnya dalam-dalam
12. Ketika #cinta bertemu kata perpisahan, ia kan sanggup besarkan jiwa bhw itu sementara. Tp jk itu benci maka pertemuan menjadi mustahil
13. Jika #cinta bersua kesulitan, rintangan atau apa sj yg tak menyenangkan akan ada kekuatan lewatinya. Jk benci datang maka kata menyerah pun sertainya
14.#Cinta adalah empati, memberi, berkorban, menerima, bertahan, mengalah & menumbukan. Sedang benci…
15. Benci, iri, dengki saling bertautan. Lahirkan dendam & aksi tak terpuji. Merusak & menghancurkan pintalan #cinta yg terajut sejak lama.
16. Jika harus ada mengorbankan #cinta, tirulah Ibrahim sang teladan #cinta. Tau letakkan prioritas dan berikan totalitas penghambaan
17. Ibrahim yg korbankan Ismail tidaklah spt para org tua saat ini yg korbankan anak-anaknya. Demi obsesi matrealistiknya.
18. Ibrahim lakukan perintah sembelih anaknya karena semata penuhi totalitas ketundukan. Ia tak tahu apa yg akan terjadi setelahnya.
19. Sangat sulit & dilematis memang. Tp ia yakin Sang Maha #Cinta sedang mengujinya. Dan ia pun lulus dg penghargaan tingkat pertama.
20. #cinta datang tidak utk menyakiti atau mengekang atau mematahkan atau mematikan atau menelantarkan apalagi merusak & membunuh dg kejam
21. #cinta datang untuk menumbuhkan, hapuskan kata menyerah. Kuatkan yg lemah. Beranikan yg takut. Beri harapan tanpa lelah.
22. Itulah estafet #cinta Ibrahim ke Ishaq ke Ya’qub. Dan Yusuf. Tak lekang oleh niat jahat/keburukan yg dilakukan sebagian saudara2nya.
23. Atau estafet #cinta Ibrahim ke Ismail kemudian ke Nabi Muhammad Saw yg disebarkan utk kaumnya kemudian seluruh umatnya.
24. Tak ada dendam meski beliau dijuluki gila setelah digelari sbg org termulia. Karena #cinta mjd tameng kemarahan & angkara murka.
25. Tiada dendam meski beliau dijuluki pendusta setelah sblmnya digelari sang terpercaya (al-amin). #cinta hadir menghiburnya
26. Tiada pupus harapan meski seluruh penduduk Thaif lemparinya dg batu. Lukai fisik & hatinya. Malaikat pun geram tawarkan siksa bg mereka.
27. Dg #cinta beliau menolaknya, dg harapan dr keturunan2 mereka ada org2 yg mau dengar dakwahnya. Lembut, sabar & penuh kasih syg pd umatnya.
28. Dg #cinta beliau buktikan Islam adalah agama damai, tenang, sejuk & aman. Bisa dianut siapa saja, tanpa ada kasta & kelas-kelas sosial
29. #cinta nya pd umat buktikan tumbuh pesat dakwahnya di berbagai lini kehidupan, dari satu menjelma 114.000 jiwa
30. Sejarah kan bertutur bhw #cinta adalah kekuatan dahsyat tak terkalahkan. Selamanya. Oleh kejahatan & kezhaliman jenis apapun.
31. Tak ada yg kalahkan #cinta Nuh pd tugas dakwahnya, meski minim pengikut dgn waktu yg sgt lama. Bahkan anak & istrinya jg memusuhinya.
32. #cinta Ibrahim pun kuatkan istri & anaknya. Berkorban utk raih cinta yg lebih besar dr zhahirnya. Sang Pemilik cinta
33. #cinta yusuf ash-shiddiq pun kalahkan iri dengki & permusuhan. Berakhir dg kemuliaan & jabatan posisi yg diincar2 musuh-2nya
34. Namrud, Firaun, Jalut, Abu Jahal adalah simbol2 perusak #cinta. Semuanya binasa dg kehinaan yg nyata & dikenang org2 setelahnya
35. Nuh, Ibrahim, Yusuf, Dawud, Musa & Muhammad adalah simbol2 penebar #cinta yg tak menyerah digempur iri & dengki yg merongrongnya.
36. Demikian seharusnya kita rawat #cinta, sebarkan, tebarkan, sambungkan, dan estafetkan kpd sebanyak2 mungkin hamba-Nya. ~End~

Catatan Keberkahan 018

KEHORMATAN DI ATAS KEHORMATAN

Dr. Saiful Bahri, M.A

Ishmah Addîn Khâtûn

Salah seorang perempuan yang tak banyak disebut sejarah tapi memiliki peran penting dalam masa-masa sulit umat Islam. Perempuan yang pernah mendampingi dua lelaki besar. Dua pahlawan penting. Dua pejuang gagah. Dua tokoh yang diabadikan sejarah. Pertama, Sultan Nuruddin Zanky. Dan setelah beliau wafat Shalahuddin al-Ayyubi menjadi suami keduanya. Dua tokoh penting di balik perseteruan ideologis umat Islam dan tentara salib.

Perempuan ini berada dibalik lelaki bermental baja, Sultan Nuruddin yang telah bersiap dengan menyiapkan mimbar untuk digunakan di Masjid Al-Aqsha, namun hingga dirinya wafat mimpi dan rencana besarnya tersebut tidak juga terwujud di alam nyata. Inilah barangkali yang menjadikan Shalahuddin meminang beliau sekaligus menjaga warisan cita-cita Sultan Nuruddin Zanky untuk menaklukkan Bait al-Maqdis dari tangan tentara salib. Mewujudkan mimpi Sultan Nuruddin juga mimpi istrinya Ishmah Khatun.

Bapaknya, Atabik Mu’inuddin adalah seorang penasehat kerajaan di Damaskus di era pemerintahan Seljuk. Saat negara benar-benar lemah di bawah kepemimpinan Raja Mujiruddin Abeq, Sang Ayah bahkan berperan bak Nizhamul Mulk; Sang Raja yang sesungguhnya.

Ishmah tumbuh dan besar di benteng-benteng Seljuk, hingga keluarga Zanky memerintah. Dididik langsung oleh ayahnya yang pakar politik dan militer menjadikannya tidak seperti kebanyakan perempuan di zamannya. Selain itu pendekatan keluarga Zanky dengan Damaskus juga patut diacungi jempol. Sultan Nuruddin memerankan politik koalisi dan saling menolong serta saling membela sebagai ganti dari penaklukan-penaklukan sesama kaum muslimin. Maka jadilah Damaskus yang kuat, dan dengan sendirinya keluarga Zanky menjadi diterima di sana.

Dialog dan surat menyurat antara Mu’inuddin dan Nuruddin Zanki menjadikan keduanya sangat mengenal satu sama lain. Hingga akhirnya keduanya pun melanjutkkan hubungan yang sudah baik tersebut dengan semakin memperkuatnya melalui hubungan kekerabatan dan pernikahan. Nuruddin meminang putri Mu’inuddin, Ishmah Addin Khotun.

Beruntunglah sang pejuang yang memiliki seribu obsesi kebaikan tersebut. Ia dipertemukan Allah dengan seorang perempuan tangguh didikan ayahnya yang kuat dan cerdik serta terkenal keshalihannya. Cantik zhahirnya, berakhlak tinggi dan memiliki iffah serta rasa malu yang lebih dari perempuan lainnya.

Ibnu Katsir dalam al-Bidâyah wa an-Nihâyahnya bahkan secara eksplisit memuji Ishamh Addin Khatun, “Dia termasuk salah satu perempuan tercantik, paling iffah dan pemalu, banyak melayani rakyatnya, berpegang teguh pada ajaran agamanya”. Barangkali ini pula yang kemudian menjadikan Shalahuddin segera meminangnya setelah suami pertamanya, Sultan Nuruddin Zanky wafat dan habis masa iddahnya. Terlebih Abu Syamah al-Maqdisy menjelaskan dalam bukunya “Raudhatain fi Akhbâr An-Nûriyah wa Ash-Shalâhiyyah” bahwa Ishmah semakin rajin bersedekah sepeninggal Sultan Nuruddin. Beliau juga makin banyak berkeliling memenuhi hajat rakyatnya dan rakyat suaminya. Dan Abdul Qadir An-Nu’aimy dalam ad-Dâris fi Târîkh al-Madâris menambah, “… beliau punya kebijakan cerdas, alirkan sedekah-sedekah, menggaji para fuqaha…”

Dalam beberapa kesempatan Ishmah bahkan disebut sebagai seorang pakar fikih perempuan (faqîhah) yang bermadzhab hanafi. Beliau belajar di Madrasah al-Khatuniyah di Damaskus. Beliau bahkan dikenal kemudian sebagai donatur sekaligus inisiator kegiatan belajar mengajar di sekolah tersebut. Dengan semangat reformatifnya sekolah ini juga nantinya menjelma menjadi sekolah penting yang melahirkan banyak ulama madzhab hanafi yang terkenal.

Selain keshalihan dan kecerdasannya, Ishmah Khatun juga dikenal memiliki kesabaran yang luar biasa. Di antara contoh kesabaran beliau adalah, menantikan keturunan dari Sang Sultan Nuruddin yang baru dikarunia keturunan darinya nyaris hampir dua puluh tahun lamanya. Selama mendampingi Sang Sultan, Ishmah –hanya- dikaruniai tiga orang anak. Seorang anaknya meninggal ketika masih bayi, seorang lagi meninggal di usia kanak-kanak. Sehingga kemudian beliau hanya memiliki seorang anak saja dari Sultan Nuruddin bernama Isma’il yang nanti dijuluki dengan al-Malek Ash-Shalih.

Bentuk kesabaran kedua adalah penantian panjangnya untuk menyaksikan langsung penaklukan Masjid al-Aqsha dari tangan tentara salib. Namun Allah berkehendak lain. Ishmah ad-Din Khâtun wafat pada tahun 581 H, sebelum kedua matanya menyaksikan langsung pembebasan al-Aqsha tersebut. Mimpinya sebagaimana mimpi suaminya juga belum terwujud di masa hidupnya.

Ia bawa mimpi pembebasan al-Aqsha bersama ruhnya menjadi saksi obsesi mulia yang dimilikinya yang dititipkan pada suaminya juga umat Islam setelahnya untuk terus melakukan usaha penaklukan dengan gigih dan pantang menyerah. Dan enam tahun setelah wafatnya beliau suaminya yang pemberani dan pakar strategi perang itu berhasil taklukkan kembali Masjid al-Aqsha. Wakili istrinya juga Sultan Nuruddin wujudkan mimpi dan cita-cita. Maka kemudian beliau letakkan mimbar Nuruddin ini ke dalam Masjid al-Aqsha sebagai mimbar utama yang telah disiapkan selama dua puluh tahun sebelum penaklukannya. Dan kemudian menjelma menjadi mimbar utama sampai tahun 1969 M ketika mimbar bersejarah tersebut terbakar bersama terbakarnya Masjid al-Aqsha yang dilakukan oleh orang Zionis Israel.

Berita wafatnya Ishmah Khâtun sendiri dirahasiakan pihak istana. Kabar duka tersebut baru diketahui suaminya, Shalahuddin al-Ayyubi tiga bulan setelahnya.

Perempuan yang menjaga kehormatannya itu telah pergi dengan catatan prestasinya, namun namanya akan terus ada bagi mereka yang mencari tahu sejarah besarnya. Perempuan terhormat yang telah mendampingi orang-orang terhormat yang bergulat dengan sejarah taklukkan keangkuhan dengan kekuatan ilmu, senjata, fisik, mental dan kesatuan umat.

Lahir dan tumbuh di pusat-pusat pengambilan keputusan. Dewasa dan mendampingi aktor-aktor pengambil keputusan penting. Dan kemudian meninggal di balik bilik-bilik pemegang kebijakan super penting. Lahir, tumbuh, berkembang, dewasa, hidup dan bersama di bilik-bilik kepemimpinan.

Mesti namanya tak semoncer kedua suaminya, Ishmah Khâtun adalah orang penting di balik para decision maker di istana Damaskus dan Kerajaan Syam.

Dengan terbiasa di lingkungan istana tak menjadikannya sosok yang angkuh dan sombong. Justru sebaliknya, beliau menjelma dengan segala kerendahan hati dan ketawadhuan serta kezuhudannya. Harta yang melimpah beliau “larikan” untuk pengembangan ilmu, mendukung program-program ahli fikih dan ulama, kemudian mensuply penguatan mental para pasukan muslim yang sedang berjuang melawan tentara salib. Hampir tak ada waktu dan materi yang dinikmati untuk kepentingan pribadinya

Perempuan pemalu itu tak malu-malu untuk menerima pinangan Shalahuddin, sebagaimana ia tak malu menyandang sebutan janda sepeninggal suami pertamanya Sultan Nuruddin. Saat menjanda kegiatan sosial dan keilmuannya malah meningkat dan sedekahnya semankin bervariasi. Dengan menikahi Shalahuddin ia berharap mewujudkan mimpi suaminya, membebaskan tanah suci Bait al-Maqdis dari tangan para salibis.

Meski impian dan cita-citanya untuk shalat di Masjid al-Aqsha tak tercapai, tapi dengan terbebasnya al-Quds oleh Shalahuddin menandakan bahwa Ishmah memiliki sentuhan pantang menyerah untuk sebuah pembebasan bermakna, penaklukan penuh spirit dan kemenangan yang fenomenal di tangan suaminya, dengan pasukan yang jauh lebih sedikit dari jumlah tentara salib yang merupakan aliansi kerajaan di Eropa.

Di samping dua lelaki hebat itu terdapat seorang perempuan hebat… Ishmah Ad-Dîn Khâtun.

Semoga Allah memberkatimu, memberkati keluarga dan keturunanmu, berharap ada lagi perempuan-perempuan tangguh sepertimu yang berani menjadi spirit para lelaki untuk bebaskan negeri yang terjajah dari berbagai dimensi. AlLâhu al-Musta’ân.

Catatan Keberkahan 018

Jakarta, 17.10.2013

 

Tadabbur QS. Al-Qiyamah

PENYESALAN – PENYESALAN*

Dr. Saiful Bahri, M.A**

Surat al-Qiyâmah diturunkan Allah di Makkah setelah surat al-Qâri’ah [1]. Tema besar surat ini mengungkapkan kedahsyatan hari kiamat. Menggambarkan suasana yang sangat mengerikan dan menegangkan bagi siapa saja. Terlebih saat manusia dibangkitkan. Hal ini sekaligus sebagai jawaban bagi orang –orang yang mengingkari dan mendustakannya [2].

Ayat pertama surat ini yang sangat menyentak “Aku bersumpah demi hari kiamat”. (QS.75: 1). Pada ayat ini Allah menggunakan “lâ nafi lil qasam” yaitu menguatkan sumpah dengan cara menafikannya. Tujuannya untuk mengcounter pengingkaran orang-orang kafir [3].

Mengapa Allah perlu bersumpah? Hal ini menunjukan betapa pentingnya hari kiamat. Hari kebangkitan yang pasti terjadi itu masih saja banyak yang mengingkarinya. Dan pada hari kebangkitan itu nantinya semua manusia akan menyesali dirinya. Jika ia telah berbuat baik, maka ia menyesal mengapa tak menambah amal baiknya. Apalagi jika ia berlaku buruk, ia akan sangat menyesal. Karena semua kebenaran saat itu benar-benar terungkap. Cobalah kita renungi ayat berikutnya, “Dan Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri)”. (QS.75: 2)

Dan sangat mengherankan jika manusia meragukan atau bahkan mengingkari hari penentuan itu, “Apakah manusia mengira bahwa kami tidak mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya?”. (QS.75: 3). Kelak akan Allah susun lagi bagian-bagian tubuhnya hingga sempurna . “Bukan demikian, sebenarnya Kami kuasa menyusun (kembali) jari-jemarinya dengan sempurna”. (QS. 75: 4). Sayangnya, justru kebanyakan manusia memperturutkan hawa nafsunya. Kemudian memperbanyak maksiat serta menunda-nunda taubat. Tak segan-segan ia menantang Allah dan mengatakan, “Bilakah hari kiamat itu?”. (QS.75: 6)

Hari Kiamat yang Sesungguhnya

Saat hari kiamat datang. Sulit untuk dibayangkan apa yang terjadi pada alam semesta. “Maka apabila mata terbelalak (ketakutan). Dan apabila bulan telah hilang cahayanya. Dan matahari dan bulan dikumpulkan”. (QS. 75:  7-9). Mungkin saat itu orang-orang yang mengingkarinya baru benar-benar percaya dan ia benar-benar menyesal. Bahkan ia pun kebingungan apa yang harus dilakukannya. Berlari, kemanakah tempat berlari. “Pada hari itu manusia berkata: “Kemana tempat berlari?” Sekali-kali tidak ada tempat berlindung! Hanya kepada Tuhanmulah pada hari itu tempat kembali”. (QS. 75: 10-12) Hari yang lari tak bermanfaat dan tak bisa membantu menyelamatkan orang-orang yang mengingkarinya. Tidak juga ditemukan persembunyian yang benar-benar bisa dijadikan tempat berlindung [4].

Pada hari itu diberikan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya. Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya. Meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya”. (QS.75: 13-15)

Di hari pengadilan Sang Maha Adil itu, tak ada seorang pun yang bisa memungkiri dirinya sendiri. Karena seluruh anggota tubuhnya menjadi saksi atas segala sesuatu yang diperbuatnya. “Pada hari (ketika) lidah, tangan, dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan [5]”. Maka apapun alasannya takakan mampu meringankan keputusan yang Allah jatuhkan padanya. Karena pada tabiatnya manusia sangat menyukai alasan demi menutupi kesalahan dan keburukan yang dilakukannya untuk membela dirinya

Padahal sesungguhnya manusia telah dibekali akal untuk berpikir. Juga hati yang jernih untuk dimintai pertimbangan. Senada dengan petuah bijak dari seorang ahli hikmah dari asia tengah;al-Hakim at-Tirmidzi, ‘’Hari yang segala alasan menjadi tak berguna. Karena manusia telah dibekali dengan bashirah. Tapi ia menjadi buta karena hawa nafsunya. Padahal bashirah itu sebenarnya tahu bahwa ia takkan mampu mengingkari Tuhannya kalaulah tidak tertutup oleh nafsu’’[6].

Al-Qur’an Sumber Dakwah yang Dijaga

Al-Qur’an sebagai sumber yang membawa berita kebenaran tentang segala sesuatu. Termasuk diantaranya berita tentang hari kiamat; hari dibangkitkannya semua manusia untuk mempertanggung jawabkan segala perbuatannya.

Mungkin karena inilah yang mendorong Nabi Muhammad hendak cepat-cepat menghafalnya. Mungkin karena takut lupa. Atau supaya beliau bisa cepat menguasainya kemudian segera disampaikan kepada umatnya. Tapi kemudian Allah menegur beliau. Allah yang memberikan kekuatan hafalan seseorang atau melemahkannya. Membuatnya cepat menguasai suatu hal atau sebaliknya. ‘’Janganlah kamu gerakkan lidah mu untuk (membaca) al-Qur’an Karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila kami telah selesai membacanya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, Sesungguhnya atas tanggungan kamilah penjelasannya’’. (QS.75;16-19)

Karena itulah al-Qur’an benar-benar menjadi kitab yang dijaga Allah. Terjaga dari segala bentuk pemalsuaan baik dengan pengurangan atau penambahan bagian-bagiannya [7]. Karena itu, Allah menurunkan malaikat terbaik-Nya untuk mengajari Nabi Muhammad. Al-Qur’an disampaikan melalui talaqqi langsung Nabi saw kepada jibril as. Dan Nabi Muhammad baru diperbolehkan.

Membaca setelah jibril selesai membacanya. Orisinilitas inilah yang menjdi salah satu ciri dan karakteristik al-Qur’an, terutama bila dibandingkan dengan kitab-kitab Allah yang lain. Apalagi buku-buku buatan manusia atau modifikasi karya-karya sesat mereka

Namun demikian tak otomatis membuat manusia dengan mudah menerima atau mempercayainya. Tak sedikit yang mengingkari dan mendustakannya. Bahkan menghina dan merendahkannya.

Kelalaian yang Memperdayakan

Sikap angkuh dan masa bodoh yang mengambil manusia sebenarnya dipicu oleh kecintaannya yang sangat pada harta dan dunia ini. Sehingga ia benar-benar merasa eolah-olah ia akan hidup selamanya.

‘’ Sekali-kali janganlah demikian. Sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia. Dan meninggalkan (kehidupan) akhirat’’. (QS.75:20-21)

Manusia bermegah-megahan dalam urusan dunianya. Sehingga kecintaanya pada materi dan kebendaan menjadi sanagn menkristal dan sulit dikikis. Inilah sebuah penyakit yang disinyalir Nabi saw sebagai penyakit ‘’ al-Wahn’’ yaitu mencintai dunia dan terkejut mati. Dan saatnya kematian itu datang ia terperangah dan terkejut. Karena ia benar-benar tak memperkirakan sebelumnya. Bahkan mungkin ia berpikir akan hidup selama-lamanya.

Adapun orang yang beriman. Hari pertemuan dengan Tuhan-Nya adalah hari penantian yang sangat membahagiakan, ‘’Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat’’. (QS.75:22-23). Hari yang sempurna bagi orang-orang yang beriman. Karena mereka bisa melihat dan bertemu langsung dengan Allah. Tanpa ada hijab dan penghalang sedikit pun. Seperti sabda Nabi Muhammad saw yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas ra, ‘’Kalian akan melihat Tuhan kalian dengan mata kalian’[8]. Ibnu Abbas menjelaskan bahwa itu terjadi tanpa penghalang sedikit pun. Dalam riwayat Abu Said al-Khudry lebih ditegaskan lagi.”…….Seperti melihat bulan pada malam bulan purnama yang tek terhalangi oleh awan[9].

Karena itu orang beriman tidak pernah takut mati justru ia sangat mencintai kematian. Tergambar dalam sebuah hadits muttaqun ‘alaih, “Barang siapa yang mendambakan pertemanan dengan Allah, Allah pun mencintai pertemuaan dengannya” (HR. Bhukhari Muslim)

Mari kita simak, bait-bait puisi yang disenandungkan Khubaib bin Zaid menjelang penyaliban yang dilakukan kepada orang Kuffar Quraisy. Ini adalah bait-bait keberanian yang tak sedikitpun menampakkan ketakutan akan datangnya kematian. Justru dengan lantang ia menantinya.

Takkan kupedulikan selama aku terbunuh dalam keadaan muslim

Bagaimanapun juga kematian di jalan Allah

Demikian keagungan Dzatnya

Ia berkehendak memberkahiku sesuka-Nya [10]

Kebalikan apa yang dialami oleh orang-orang yang mengingkari hari kiamat. ‘’Dan wajah-wajah (orang kafir) pada hari itu muram. Mereka yakin bahwa akan ditimpakan kepadanya malapetaka yang amat dahsyat’’. (QS.75: 24-25) Setidaknya tanda-tanda kemurkaan Allah telah mereka lihat. Mereka bisa merasakannya sebelum Allah benar-benar timpakan kepada mereka adzab-Nya. Dan hari itu semua penyesalan menjadi tidak berguna.

Tanda-Tanda Dari Allah

Sebagaimana pada kekuasaan-Nya terdapat tanda-tanda,demikian pula pada makhluk ciptaan-Nya, Allah berikan tanda padanya agar ia mau mengingat Allah. Demikian halnya menjelang kematian Allah tak jarang memberikan tanda pada kita. Saat kita sakit, semestinya kita segera menyadarinya bahwa allah mengirimkan sebuah tanda agar kita lebih siap lagi. Saat melihat atau mendengar kabar tentang kematian, itu juga sebuah tanda. Baik dia beriman pada Allah ataupun mengingkarinya

Ini adalah tanda-tanda kiamat kecil (sughrâ) yaitu kematian yang pasti dialami oleh semua makhluk-Nya yang bernafas. Sebelum kiamat besar (kubrâ) benar-benar datang. Yaitu hari kiamat yang meluluhlantakan apa saja. Bukan hanya yang hidup tapi apa saja dan siapa saja, saat itu menjumpai kebinasaannya. Karena kekekalan dan kehidupan hari itu hanya milik-Nya. Seorang saja. “Semua yang ada di bumi itu akan binasa[11].

Sekali-kali jangan, apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai ke kerongkongan. Dan dikatakan (kepadanya): “Siapakah yang dapat menyembuhkan?” Dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia)”. (QS. 75: 26-28)

Saat sakaratul maut dihadapinya ia benar-benar tak memiliki daya apapun. Yang ia tau bahwa saat perpisahan dengan segala yang dicintainya akan segera terjadi. Semua sangkaannya akan menjadi sia-sia. Hari yang ia takuti akan segera datang. Saat yang paling ia benci akan menyambanginya. Segala keangkuhan dan kekuasaannya, juga uangnya takakan mampu menggantikan suasana ketakutan itu sirna dan menjahuinya, “Siapakah yang dapat menyembuhkan?”. Sebuah pertanyaan yang sebenarnya ia tahu jawabannya. Tapi ia tak mampu mengatakannya, karena taubat di detik-detik itu tidak diterima Allah.

Simaklah satu lagi penggambaran Allah terhapat peristiwa menjelang kematian ini, “Dan bertaut betis (kiri) dan betis (kanan)” (QS.75: 29). Ia benar-benar menggigil ketakutan, dua betisnyapun mengatup. Tergambar didepannya segala bentuk kengerian dan kesendirian yang akan dijumpainya. Saat itu dua masalah bertemu. Adh-Dhahâk mengatakan, “Yaitu urusan jasad dan ruhnya. Keluarganya mengurus jasadnya. Sedang malaikat mengurus ruhnya. Ia bahkan tak tahu kemana jasad dan ruhnya dibawa oleh masing-masing mereka[12].

Mereka seolah lupa bahwa ini semua merupakan implikasi dan dampak dari apa yang mereka perbuat di dunia. “Dan ia tidak mau membenarkan (rasul dan al-Qur’an) dan tidak mau mengerjakan shalat. Tetapi ia mendustakan (rasul) dan berpaling (dari kebenaran). Kemudian ia pergi kepada keluarganya dengan berlagak (sombong)”. (QS.75” 31-33)

Ringkasannya ia melakukan empat dosa besar:

1.       Mendustakan Rasul Allah dan al-Qur’an

Mendustakan Rasul berarti tidak menerima segala hal yang dibawa olehnya. Termasuk al-Qur’an, wahyu Allah yang dimandatkan padanya untuk disampaikan isi dan redaksinya secara utuh kepada umatnya.

2.       Tidak mau mengerjakan shalat

Sebagaimana disinggung sebelumnya dalam surat al-Mudatsir ayat 43. Mereka tidak mengerjakan shalat, dan ini merupakan simbol keengganan untuk menundukan hati kepada Allah. Sebuah simbol keangkuhan, simbol kesombongan yang sangat dimurkai oleh Allah, karena kebesaran hanya milik-Nya.

3.       Berpaling dari kebenaran karena ego dan gengsinya

Sebagai akibat ia tak mau lagi mendengarkan nasihat dan masukan konstruktif. Ia abaikan kebenaran. Ia palingkan dirinya menjauhi kebenaran, demi gengsi dan egonya, apalagi jika kebenaran itu datang dari orang yang tidak disukainya atau karena ancaman polularitasnya atau karena takut kehilangan pengaruh di tengah kaumnya.

4.       Sombong di depan manusia

Di ayat 33 ini secara spesifik justru Allah mengambarkan ia berlaku sombong di depan keluarganya. Jika ia sudah berani berlaku sombong dan angkuh di depan keluarganya apalagi di depan orang lain. Selaiknya ia bela dan sayangi keluarganya. Ia tunjukkan keramahan, cinta dan keteduhan. Namun yang terjadi justru sebaliknya, ia berinteraksi dengan kasar dan keras demi menunjukan keangkuhannya.

Maka jatuhlah vonis celaka terhadap mereka dan apa yang mereka lakukan. “Kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaan bagimu. Kemudia Kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaan bagimu”. (QS.75: 34-35).

Kutukan ini diulang sampai empat kali. Sekali saat ia merenggang nyawa menghadapi kematian. Kedua, saat ia berada dalam kesendirian tanpa daya mendapatkan siksa kubur. Ketiga, saat ia dibangkitkan setalah hari kehancuran. Dan keempat kalinya, saat vonis terakhir benar-benar ia terima. Mendekam dalam kekekalan di neraka jahannam. Sepanjang masa yang hanya Allah saja tahu takarannya.

Petaka, Bermula Dari Kelalaian yang Berkelanjutan

Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa bertanggung jawab)?”.

Manusia lupa, bahwa ia diciptakan dengan misi memakmurkan bumi Allah dan membawa misi penghambaan yang benar pada Allah semata. Dan semua itu ada pertanggungjawabannya kelak dihadapan Allah. Lantas apa yang membuatnya berkeyakinan bahwa ia akan hidup dan kemudia mati serta berakhir segalanya? Sebagaimana ia diperintahkan untuk beribadah dan dilarang untuk membangkang serta mendustakan agama-Nya, maka semua ada saatnya manusia diganjar atas perbuatannya. Tentunya sebelum itu ia akan diminta terlebih dahulu tanggung jawab atas amal-amalnya.

Sebenarnya yang membuat lupa, karena ia melalaikan asal kejadiannya. Dan ia tak pernah merasakan bahwa wujud serta eksistensinya di dunia ini adalah sebuah kenikmatan yang Maha Agung. “Bukankah dia dulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim). Kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya. Lalu Allah menjadikan daripadanya sepasang laki-laki dan perempuan”. (QS. 75: 37-39)

Jika manusia mau mengingat asal kejadiannya ia akan segera sadar dan tahu bahwa Allah mampu membangkitkannya setelah dia mematikan semua makhluk-Nya, “Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?” (QS. 75: 40). Mahasuci Allah, Engkau Maha Besar.

Ibnu Katsir menukil sebuah hadits yang diriwayatkan Abu Dawud Shâhibussunan. Ibunda Aisya ra menuturkan sebuah riwayat, “Ada seorang laki-laki shalat di atas rumahnya. Dan ketika ia menbaca ….. ia berkata: Subhânaka fa balâ (mahasuci Engkau maka benarlah). Kemudia saat ia ditanya, ia menjawab aku mendengarnya dari Rasulullah saw”. Namun, Ibnu Katsir melemahkan hadits yang hanya diriwayatkan oleh Abu Dawud ini [13]. Sebgaimana pendapat Ibnu Jarir ath-Thabary, “hadits ini mursal dan saya tak menemukan satu pun yang marfu[14]. Namum jika dibaca diluar shalat maka hal tersebut tidak ada perbedaan pendapat. Karena Ibnu Abbas dan Said bin Jubair juga mengajurkannya demikian [15].

Mahasuci Allah. Jika manusia tak lalai dan mau mengingat asal usulnya, tentu ia akan jauh dari petaka dan azab Allah sejak berada di dunia. Sebagai gantinya kelak di akhirat akan Allah berikesempatan yang sangat mahal, yaitu bertemu langsung dengan-Nya dan mendapatkan pentulan cahaya-Nya yang menerangi segala kegelapan. Allâhumma Amin.

———————————————————————————–

                                                                                              Kalibata Selatan Jaksel

                                                                                                                                                                Jum’at, 13 Maret  2009


* Sebuah tadabur surat Al-Qiyâmah (Hari Kebangkitan): 75 Juz 29.

**  Alumni Program S3 Jurusan Tafsir dan Ilmu-ilmu al-Qur’an, Universitas Al-Azhar, Cairo.

[1]  Imam Jalaluddin as-Suyuthi, al-Itqân fi ‘Ulumi al-Qur’an, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2004 M/1425 H, hal.22, dan lihat Imam Badruddin az-Zarkasyi, al_Burhan fi Ulumi al-Qur’an, Beirut: Darul Fikr, Cet.I, 1988 M/1408 H, Vol.I, hal 249

[2] Prof Dr. Jum’ah Ali Abd Qader, Ma’âlim Suar al-Qur’an, Cairo: Universitas Al-Azhar, Cet.I, 2004 M/1424 H, Vol.2, hal .732

[3]  Lihat: Abu Zakaria al-Farrâ, Ma’aniy al-Qur’an, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyah, Cet.I, 2002 M/1423 H, Vol.III, hal.100, juga lihat: Imam az-Zamakhsyary, al-Kasysyâf ‘an Haqâ’iqu at-Tanzil, Cairo: Maktabah Musthafa al-Halaby, Cet.I, 1354 H, Vol.IV, hal.163

[4]  Imam al-Qurthuby, al-Jami’ li Ahkami al-Qur’an Cairo: Darul Hadits, 2002 M / 1422 H, Vol.X, hal.83

[5]  QS. Annur (24): 24

[6]  Imam al-Hakim at-Trimidzi, Nawadir al-Ushul fi Ma’rifai Ahadits ar-Rasul, Cairo: Dar ar-Rayyan, Cet.I, 1988 M / 1413 H, Vol.2, hal.457

[7]  Prof. Dr. Yusuf al-Qaradhawy, Kaifa Nata’ âmal ma’a al-Qur’an, Beirut: Darusysyuruq, Cet.I, 1999 M/1419 H, hal 28

[8]  HR. Al-Bukhary dalam kitab Tauhid, hadits nomer: 7435 (Ibnu Hajar al-‘Asqalany, Fathul Bâri bi Syarhi Shahih al-Bukhary, Cairo: Darul Hadits, Cet.1, 1998 M / 1419 H, Vol.XIII, hal.497)

[9] HR. Al-Bukhary dalam kitab Tauhid, hadits nomer: 7436 (Fathul Bâri, Ibid, hal.499)

[10] Prof. Dr. Yusuf al-Qaradhawy, al-Imân wa al-Hayâh, Cairo: Maktabah Wahbah, Cet.16, 2007 M /1428 H, hal.160

[11]  QS. Ar-Rahmân (55): 26

[12]  Imam Ibnu Jarir at-Thabary, Jâmi’ al-Bayân, Beirut: Dar Ihya Turats a-Araby, Cet.I, 2001 M/1421 H, Vol.29, hal.233

[13]  Imam Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Azhim, Cairo: al-Maktabah al-Qayyimah Vol.IV, hal.586

[14] Imam Ibnu Jarir ath Thabary, Jâmi’ al-Bayân, Ibid, Vol.XXIX. hal.29, lihat juga tesis penulis , Kitab Lawami’ al-Burhan wa Qawathi’ al-Bayan fi Ma’any al-Qur’an li al-Ma’iny, Dirasah wa Tahqiq, Cairo: Universitas Al-Azhar, 2006 M, Vol.II, hal.758

[15]  Imam Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Azhim, Ibid

Tadabbur QS. Al-Mudatsir

PENAMPILAN LUAR DALAM*

Dr. Saiful Bahri, M.A**

Mukaddimah: Saatnya Mulai Bangkit

Surat al-Mudatsir diturunkan Allah di Makkah, setelah surat al-Muzammil sebagaimana urutannya dalam al-mushaf al-utsmânya [1]. Surat ini secara umum memiliki isi yang serupa dengan surat sebelumnya. Yaitu tentang perintah langsung Allah kepada Nabi Muhammad saw untuk menyerukan dakwanya. Menyampaikan dakwa kepada kaum beliau. Selain itu juga membicarakan tentang kondisi neraka dan orang-orang musyrik yang mengingkari dakwa Rasulullah saw [2].

Jika dalam surat al-Muzammil Allah lebih menitikberatkan pada persiapan mental dan bekal seorang dai atau nabi yang akan mengemban risalah dakwah-Nya, maka dalam surat ini Allah memberitahukan langkah praktis yang mesti diambil seorang pengemban risalah.

“Hai orang yang berselimut. Bangunlah, lalu berilah peringatan!” (QS.74: 1-2)

Ini adalah sebuah seruan langsung. Untuk menanggalkan kemalasan dan melawat tabiat serta sesuatu yang disukai oleh manusia, yaitu bersantai-santai, tidur atau menjahui resiko dan bekerja keras. “Bangunlah. Lakukan sesuatu yang berarti. Peringatkan kaummu selagi masih ada kesempatan” kira-kira seperti itulah pesan Allah pada kekasih-Nya.

Inilah saatnya segera bangkit. Menyampaikan risalah Allah, karena yang memerintahkannya adalah dzat yang kekuasaan-Nya tanpa batas dan sudah memiliki semua jaminan.

Pertama, “Dan Tuhanmu agungkanlah!” (QS.74:3)

Seorang penyampai risalah, baik dia seorang dai atau nabi sekalipun, dia harus mengagungkan Allah yang mengutusnya. Jika ia memahami hal ini dan benar- benar ia jiwai maka segala bentuk kemegahan, kebesaran dan kemewahan dunia akan kecil dimatanya. Ia takkan tergiur oleh gemerlapnya dunia. Juga tidak akan silau dengan tipu kekuasaan dunia. Tidak pula takut oleh segala bentuk acaman yang datang dari selain Allah. Siapapun dia, raja atau penguasa dari belahan manapun. Kekuasaan dan kesombongannya takakan ada yang bisa mengalahkan Yang Maha Perkasa dan Agung. Dan kelak Allah akan menghukum hamba-hamba-Nya yang berani menyombongkan diri. Sehingga takakan ada kebesaran yang tersisa di dunia ini selain kebesaran dan keagungan-Nya [3].

Kedua, “Dan pakaianmu bersihkanlah”. (QS.74: 4)

Setelah itu, ia perlu memperhatikan penampilan fisiknya, bersih dan menarik. Karena ini merupakan salah satu strategi marketing, dengan performance yang meyakinkan setidaknya kesan pertama akan dikenali oleh masyarakat saat berhadapan dengan kita. Karena itulah risalah yang dibawa Nabi Muhammad saw selalu sarat dengan kebersihan. Makin dalam dan matang keimanan seseorang maka ia akan semakin memelihara kebersihan. Pakaian yang suci menjadi syarat sahnya shalat.

Ketiga, “Dan perbuatan dosa tinggalkanlah”. (QS.74: 5)

Setelah ia memelihara kebersihan fisik, maka ia menyempurnakannya dengan kebersihan batin. Yaitu dengan menjahui serta meninggalkan segala macam bentuk dosa. Ini adalah bentuk penaggalan hal-hal yang negatif dari dalam diri seorang dai. Dosa dan maksiat akan mengakibatkan hati seseorang terkotori sehingga kata-katanya juka takakan lagi memiliki kekuatan. Penafsiran ini senada dengan apa yang dikatakan Ikrimah dan Ibrahiman-Nakha’iy [4]. Dan idealnya memang penampilan fisik yang bagus dibarengi dengan kebersihan hati dan kejernihan jiwa. Hal tersebut akan mengundang pesona dan kharisma yang sangat kuat.

Keempat, “Dan Jangan kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak”. (QS.74: 6)

Keikhlasan, juga merupakan penyempurnaan hati yang sudah dijauhkan dari dosa dan maksiat. Akhlak ini juga akan membuat seorang dai kuat dan tangguh. Kerja tanpa pamrih, dan kemurnian dakwah pun terjaga dengan jernihnya hati pelakunya. Larangan ini bertujuan supaya para dai penerus dakwah para nabi terus berbuat dan berbuat,  lebih gigih berusaha dan ringan berkorban serta mudah melupakannya setelah itu [5]. Juga tak terlalu menganggap dirinya sudah berbuat banyak sehingga ia merasa hebat dan berjasa bagi orang banyak. Karena hanya orang berjiwa kerdillah yang selalu merasa besar. Sehingga satu-satunya harapan yang ia inginkan hanya dari Dzat yang tak pernah habis kedermawanannya serta kepemilikannya tiada batas.

Kelima, “Dan untuk (memenuhi) perintah Tuhanmu, bersabarlah”. (QS.74: 7)

Pesan terakhir ini mengindikasikan dan memberi isyarat bahwa dakwah Rasulullah saw tidaklah berjalan mulus dan otomatis mendapat penerimaan yang baik. Kesabaran dan persiapan mental yang telah disinggung dalam surat al-Muzammil setidaknya diharapkan membuat Rasul makin siap menerima reaksi apapun terhadap dakwah yang diserunya. Dan benar, Rasul pun mendapat reaksi yang sangat berat. Teror fisik dan psikis dihadapinya. Juga para pengikutnya tak henti-hentinya menerima acaman dan teror.

Sekilas tujuh ayat pertama ini terkesan sederhana. Tapi kandunga pesannya sangat luar biasa. Berangkat dari pijakan normatif inilah Rasulullah semakin kuat dan gigih dalam berdakwah. Tak takut lagi atas ancaman apapun yang akan menimpa atau diarahkan pada beliau, karena beliau memiliki Sang Penolong yang sangat hebat dan tak terkalahkan.

Hari yang Dijanjikan

Salah satu misi mengingatkan yang dibawa Rasul saw adalah dengan selalu dan terus mengingatkan kaumnya akan adanya hari kehancuran dan kebangkitan. Supaya orang – orang yang berbuat zhalim mau kembali kepada Allah. Setidaknya selama masih ada kesempatan untuk memperbaiki sebelum hari kepastian yang sudah ditentukan Allah itu datang.

“Apabila ditiup sangkala. Maka waktu itu adalah waktu (datangnya) hari yang sulit. Bagi orang-orang kafir lagi tidak mudah”. (QS. 74: 8-10)

Dan hari yang paling sulit bagi siapa saja. Karena setiap orang memikirkan nasinya di depan pengadilan Sang Maha Adil. Pengadilan yang sangat transparan. Tak akan ada yang bisa disembunyikan. Dan orang-orang kafir akan memenuhi kesulitan yang berlipat-lipat.

Seperti halnya al-Wahid bin Mughirah yang akan mendapatkan pembalasan Allah kelak. Firman Allah berikut membicarakannya, sebagaimana pendapat Ibnu Abbas dan Mujahid serta sebagian besar para ahli tafsir [6]. “Biarkan aku bertindak terhadap orang yang aku telah menciptakannya sendiri”. (QS.74: 11). Ibnu Katsir menafsirkan, sendirian artinya saat ia dilahirkan. Tak ada harta, anak dan kekuasaan. Kemudia Allah memberikannya berbagai kenikmatan. “Dan Aku jadikan baginya harta benda yang banyak. Dan anak-anak yang selalu bersamanya. Dan kulapangkan baginya (rezki dan kekuasaan) dengan selapang – lapangnya”. (QS.74: 12-14). Al-Walid bin Mughirah memiliki sepuluh anak. Tiga diantaranya masuk Islam, yaitu sang panglima Khalid bin Walid, kemudian dua adiknya Hisyam dan Ammarah [7].

Allah mengaruniakannya harta yang berlimpah. Juga anak-anak yang selalu dekat dengannya. Tapi hal ini tak membuatnya bersyukur dan lupa akan asal kejadiannya. Ia selalu tamak, “Kemudian dia ingin sekali supaya Aku menambahnya:. (QS.74: 15). Tapi itu takakan pernah dikabulkan oleh Allah, “Sekali-kali tidak (akan aku tambah), Karena Sesungguhnya dia menetang ayat-ayat kami (Al-Qur’an)”. (QS.74: 16)

Kelak akan Allah berikan hukuman yang setimpal atas dosa dan kesombongannya. “Aku akan membenahinya mendaki pendakian yang memayahkan”. (QS.74: 17). Sebuah kiasan akan beratnya beban yang ia tanggung di akhirat kelak. Siska yang tak terbayangkan beratnya.

Kebohongan dan Kesombongan yang tak Terampuni

Sebelumnya selama di dunia al-Walid juga orang – orang kafir tak mengindahkan peringatan yang dibawa para nabi dan para dai. “Kemduian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongka diri. Lalu dia berkata: “(Al-Qur’an) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu). Ini tidak lain hanyalah perkataan manusia”. (QS.74: 23-25).

Dan sebagai balasannya Allah akan memberikannya sejelek-jelek hunian di dalam neraka. “Aku akan memasukkannya ke dalam (neraka) saqar. Tahukah kamu apakah (neraka) saqar itu? saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan, (Neraka saqar) adalah pembakar kulit manusia”. (QS.74: 26-29)

Selain panasnya yang tak tertahankan, neraka – neraka itu dijaga oleh para malaikat yang takakan membiarkan mereka sedikitpun beristirahat dan mengambil nafas.

“Dan diatasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga). Dan tiada kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat. Dan tidaklah kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk menjadi coabaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi al-Kitab menjadi yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi al-Kitab dan orang-orang mukmin itu tidak ragu-ragu dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafis (mengatakan): “Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai suatu perumpamaan?” Demikian Allah membiarkan sesat orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk pada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melaikan dia sediri, dan saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manusia”. (QS.74: 30-31)

Golongan Kanan

Jika orang-orang kafir di atas harus mempertanggung jawabkan semua perbuatannya, maka Allah akan memberi kelleluasaan bagi orang-orang yang menimani dakwah Rasulullah saw.

“Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya. Kecuali golongan kanan”. (QS.74: 38-39)

Bahkan mereka bisa menanyakan kondisi orang-orang yang diadzab Allah. Hal demikian akan semakin membuat mereka bersyukur. Betapa beruntungnya orang-orang yang mendapatkan petunjuk. Simaklah saat mereka bertanya kepada para penghuni neraka Saqar, “Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)? Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat. Dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin. Dan kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya. Dan adalah kami mendustakan hari pembalasan. Hingga datang kepada kami kemtian”. Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa’at dari orang-orang yang memberikan syafa’at”. (QS. 74: 42-48)

Hal diatas bisa kita ambil pelajaran. Bahwa para penghuni Saqar tersebut setidaknya memiliki empat kesalahan fatal.

Pertama, tidak mengerjakan shalat. Merupakan simbol keenganan untuk menundukan hati kepada Allah. Sebuah simbol kengkuhan. Simbol kesombongan yang sangat dimurkai oleh Allah, karena kebesaran hanya milik-Nya.

Kedua, tidak menunaikan zakat dan tidak menyayangi fakir miskin. Ini merupakan simbol kejahatan sosial. Menjadi sebuah akumulasi keburukan, setelah tak mampu menundukan kepala kepada Allah karena memusuhi fakir miskin dan kaum lemah berarti memusuhi Allah, Sang Pengasih yang sangat menyayangi mereka.

Ketiga, selalu membicarakan dan menggunjingkan kebatilan. Jika membicarakan sebuah kebatilan saja sudah dicela, apalagi kebatilan itu kemudia dipergunjingkan, disebarluaskan, dibisniskan. Maka merugi dan celakalah mereka yang mengambil keungtungan dibalik pergunjingan kebatilan ini.

Keempat, mengingkari adanya hari pembalasan. Jika hari pembalasan diingkari, maka orang-orang dzalim itu semakin menjadi – jadi. Tak ada lagi yang mereka takuti. Jika sangkaan mereka dibenarkan, maka berapa banyak orang-orang terdzhalimi dan tertindas tak terlindungi. Lantas siapa yang akan membalas mereka. Kaum tertindas yang dijanjikan kemenangan dan pertolongan. Jika tak didunia mereka sangat mengharapkannya di akhirat. Sementara orang-orang dzhalim itu ditanguhkan oleh Allah sampai datangnya hari pembalasan.

Di samping itu ini menjadi dalil dan bukti bahwa ada dialog dan perbincangan yang terjadi pada penghuni surga dan neraka. Jika di surat ini penghuni surga menanyai penghuni neraka. Maka dalam surat lain para penghuni neraka meminta belas kasihan para penghuni surga yang sarat dengan berbagai kenikmatan.

“Dan penghuni-penghuni surga berseru kepada penghuni-penghuni neraka (dengan mengatakan): “Sesunguhnya kami dengan sebenarnya telah memperoleh apa yang Tuhan kami janjikannya kepada kami. Maka apakah kamu telah memperoleh dengan sebenarnya apa (azab) yang Tuhan kamu menjanjikannya (kepadamu)?” mereka (penduduk neraka) menjawab: “Betul”. Kemudian seorang penyeru (malaikat) mengumunkan di antara kedua golongan itu: “Kutukan Allah ditimpakan kepada orang-orang yang zalim[8].

Keterlambatan

Sangat aneh. Peringatan yang demikian jelas seperti diatas justru di dustakan. “Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah)”. (QS.74: 49). Padahal jika mereka mau mengunakan akalnya mereka takakan melakukan kebodohan itu. karena hal tersebut hanya akan mendatangkan penyesalan kelak.

Kita telaah sejenak penggambaran Allah tentang kedunguan mereka, “Seakan-akan mereka itu keledai liar yang lari terkejut. Lari dari pada singa”. (QS.74: 50-51). Bukankah keledai adalah perumpamaan yang menghinakan. Binatang yang dungu, namun itu lebih baik karena ia tak memiliki akal untuk berbikir. Sementara orang-orang kafir itu diberi akal oleh Allah, tapi mereka takmau menggunakannya. Jadi mereka lebih buruk dari keledai.

Peringatan yang diberikan Allah seharusnya mereka terima dengan lapang dada dan terbuka. Karena peringatan itu membuat dan menstimulus mereka untuk memperbaiki kualitas hidup dengan penghambaan yang benar kepada Allah. Tapi justru mereka lari menghindar, seperti menghindarnya keledai dari kejaran singa. Jika keledai tak mampu dari kejaran singa. Sanggupkah mereka lari dari takdir Allah, menghindari keputusan dan ketentuan yang telah digariskan oleh Allah. Atau dapakah mereka bersembunyi dari siksaan Allah yang telah menunggu mereka setelah hari perhitungan. Takakan ada yang bisa melarikan diri dari keputusan Allah.

Sebaik-baik Peringatan

“….Sesunguhnya al-Qur’an itu adalah peringatan. Maka barang siapa menghendaki, niscaya dia mengambil pelajaran daripadanya (Al-Qur’an). Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran daripadanya kecuali (jika) Allah menghendakinya. Dia (Allah) adalah Tuhan yang patut (kita) bertakwa kepada-Nya dan berhak memberi ampun”. (QS.74: 54-56)

Al-Qur’an yang dibawa Rasulullah saw merupakan pengingat terutama bagi mereka yang mau membacanya dan mau berusaha memahaminya serta menginginkan kebaikan darinya. Beruntunglah orang-orang yang dibukakan hatinya oleh Allah serta dimudahkan untuk berinteraksi dan memahami al-Qur’an dengan baik.

Karena al-Qur’an adalah pedoman langgeng serta aturan yang berlaku untuk manusia dimana saja sepanjang masa. Ia merupakan salah satu mukjizat terbesar Nabi Muhammad saw. Dan hingga sekarang kemurnian al-Qur’an masih tetap terjaga, berbeda dengan kitab-kitab suci lainya. Hal ini dikarenakan Allah menjaganya dari segala macam perubahan, penggantian, dan pengurangan isinya [9]. Sebagai mukjizat terbesar Nabi Muhammad saw, al-Qur’an memiliki berbagai karakteristik yang mampu menunjukkan keagungannya. Di antaranya al-Qur’an sebagai kitab ilahy (wahyu dari Allah), kitab yang dijaga Allah, sebagai Mukjizat, jelas dan mudah dipahami, kitab agama yang integral (mencakup berbagai aspek kehidupan), kitab yang berlaku untuk sepanjang masa, dan kitab yang memiliki muatan humanisme [10].

Dan barang siapa yang mau berpegang teguh pada al-Qur’an maka ia akan lapang dalam menjalani hidup yang sarat dengan berbagai macam rintangan. Apalagi jika seorang nabi atau dai. Maka kedekatannya dengan Al-Qur’an menjadi spirit tersendiri yang akan menjadi ruh dan motivasi dakwahnya. Wallâhu al-Musta’ân.

                                                                                                ———————————————————————————–

Kalibata Selatan Jaksel

                                                                                                                                                                Jum’at, 13 Maret  2009


*  Sebuah tadabur surat Al-Mudatsir (yang berselimut): 74 Juz 29.

**  Alumni Program S3 Jurusan tafsir dan Ilmu-ilmu al-Qur’an, Universitas Al-Azhar, Cairo.

[1]  Imam Jalaluddin as-Suyuthi, al-itqân fi ‘Ulumi al-Qur’an, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2004 M/1425 H, hal.21, Imam Badruddin az-Zarkasyi, al_Burhan fi Ulumi al-Qur’an, Beirut: Darul Fikr, Cet.I, 1988 M/1408 H, Vol.I, hal 249

[2]  Syeikh Muhammad Ali ash-Shabuny, Ijazu al-Bayan fi Suar al-Qur’an, Cairo: Dar Ali ash-Shabuny, 1986 M/1406 H, hal 267-268

[3] Lihat Shafiurrahman al-Mubarakfury, Ar-Rahîq al-Makhtûm, edisi terjemah, Jakarta Pustaka al-Kautsar, Cet.II, Januari 2009, hal.65

[4]  Imam Ibnu Jarir at-Thabary, Jâmi’ al-Bayân, Beirut: Dar Ihya Turats a-Araby, Cet.I, 2001 M/1421 H, Vol.29, hal.176, juga Imam Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Azhim, Cairo: al-Maktabah al-Qayyimah Vol.IV, hal.572

[5]  Shafiurrahman al-Mubarakfury, Ar-Rahîq al-Makhtûm, Op.Cit, hal.66

[6]  Tesis penulis, Kitab Lawami’ al-Burhan wa Qawathi’ al-Bayan fi Ma’any al-Qur’an li al-Ma’iny, Dirasah wa Tahqiq, Cairo: Universitas Al-Azhar, 2006 M, Vol.II, hal.738

[7] Ibid. Hal, 739

[8]  Lihat QS. Al-A’raf: 44

[9]  Lihat QS. Al-Hijr: 09

[10]  Prof. Dr. Yusuf al-Qaradhawy, Kaifa Nata’ âmal ma’a al-Qur’an, Beirut: Darusysyuruq, Cet.I, 1999 M/1419 H, hal 17

Tadabbur QS. Al-Muzammil

PEMBEKALAN YANG EFEKTIF*

Dr. Saiful Bahri, M.A**

Mukaddimah: Persiapan Mental

Surat Al-Muhzamil diturunkan Allah di Makkah setelah surat Al-Qalam (Nûn), kecuali ayat terakhir diturunkan di Madinah[1]. Yaitu ayat yang menasakh (menghapus) hukum wajib shalat malam kecuali bagi Nabi Muhammad saw. Surat ini tidak memiliki nama selain “al-Muzammil” yang berarti orang berselimut, yaitu melingkarkan kain di tubuhnya[2], atau berselimut si waktu malam[3]. Surat ini diturunkan diawal – awal masa risalah beliau. Sebagai shock terapi bagi Rasul saw, yang saat itu menggigil dan kemudian berselimut, sakit, dan ketakutan, juga saat tidur dan beristirahat di waktu malam. Maka Allah memerintahkannya untuk bangun dan bankit menyampaikan risalah Allah, apapun resikonya[4].

“Hai orang yang berselimut (Muhammad). Bangunlah (untuk sebahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. dan bacalah a-Qur’an itu dengan perlahan-lahan”. (QS. 73: 1-4)

Sebuah perintah yang diturunkan Allah, sebagai pembekalan efektif Shalat malam dan membaca al-Qur’an . Karena Allah sedang menyiapkan seorang dai dan nabi yang tangguh. Dan karena nantinya tantangan yang dihadapinya tidak ringan.

Shalat malam atau yang sering dikenal dengan qiyâmullail merupakan bentuk pembekalan yang efektif. Ada perlawanan terhadap keinginan hawa nafsu di sana. Saat orang sedang enak tidur atau bersembunyi dibalik ketakutanya, justru Allah memerintahkan untuk melawannya. “Bangunlah”. Menariknya Allah memberikan perkiraan waktu yang ideal untuk latihan penguatan mental ini. Dari sejak “al-laila” [5] yang berarti seluruh malam [6] , kecuali sedikit. Ini untuk tingkatan pertama. Kemudian, Allah menurunkannya menjadi standar. Qiyâmullail ini pertama kali diwajibkan, kemudian dinasakh dengan ayat ke 20 [7]. Adapun Imam Syafi’i, Muqatil bin Sulaiman dan Ibnu Kîsân mendukung pendapat Aisyah ra yang menyatakan kewajiban diatas dihapus dengan turunya kewajiban shalat lima waktu[8]. Dengan kebiasaan bangun pada waktu malam seperti ini seseorang akan benar-benar manpu melawan dirinya. Inilah persiapan dan penguatan mental yang sangat bagus.

Setelah itu perintah untuk menartilkan bacaan Al-Qur’an, bertujuan agar selain untuk bisa dipahami dengan mudah, juga supaya lebih terasa dan memungkinkan untuk dijiwai. Yaitu bacaan yang dibaca dengan pelan – pelan sehingga memberi hak yang cukup dalam mengartikulasikan bacaan huruf-huruf al-Qur’an juga hukum-hukum yang berkaitan dalam membacanya (tajwid), panjang pendeknya, idghâm izh-hârnya dan sebagainya.

Mengenai alasan, betapa pentingnya malam bagi seorang nabi juga para dai. Allah menegaskannya di ayat keenam dan tujuh. “Sesungguhnya bangun diwaktu malam adalah lebih tepat (supaya khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak)”. (QS.73: 6-7)

Dengan suasana yang hening akan membantu seseorang dan memudahkannya dalam mengatur suasana hatinya supaya sesuai dengan ritme bacaan al-Qur’an yang dibacanya. Sehingga hati bisa mengikuti gerak mulut. Sementara diwaktu siang, kondisi seperti ini sangat langka untuk didapatkan. Karena banyak urusan dan orang tergesa – gesa dalam urusannya. Kata “as-sabhu” aslinya berjalan cepat di dalam air. Untuk mengambarkan betapa sulitnya kondisi dalam kesibukan. Ini kiasan untuk orang yang berpergian[9] dan banyak urusannya.

Tugas Berat Siap Menanti

Setelah itu tugas yang berat pun tidak akan membebani atau menjadi tanggungan yang berlebihan.karena pemikul amanahnya benar-benar telah siap.baik dalam menerima atau menyampaikan risalah,ataupun menanggung resiko yang akan ditemuinya sebagai konsekuensi dakwah tersebut.’’sesungguhnya kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat’.(QS.73:5) Qatadah berpendapat,bahwa yang dimaksud dalam ayat ini adalah hukuman-hukum Allah.sebagian ahli tafsir yang lainnya menerjemahkannya dengan janji dan ancaman Allah [10].

‘’Sebutlah nama tuhanmu,dan beribadahlah kepadanya dengan penuh ketekunan’’(QS.73:8)

Tugas berat selain di atas, perlu penambahan bekal lagi.berdzikir.dengan mengingat Allah selalu,juga akan menguatkan mental Rasulullah dalam menjalankan misi risalahnya,bahwa Allah maha kuat, maka siapapun takkan mampu melawannya. Allah lah sebaik-baik penolong. Allah maha mendengar, sebaik hamba-nya. Allah maha penyayang, dan kisahnya takkan pernah memiliki batas.

Dengan berdzikir, kita akan semakin mengenal Allah.Semakin menatapkan keimanan dan keyakinan kita sebagai penerus risalah Nabi saw.Itulah yang dikehendaki Allah dalam membekali kekasihnya, Muhammad saw.

 ‘’(Dia-lah) Tuhan masyrik dan magrhib, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Maka ambillah dia sebagai Pelindung’’. (QS.73:9)

Karena dzikir ini merupakan salah satu sumber kekuatan seorang mukmin dalam kondisi apapun. Senada dengan pesan arif Ibnu ‘Atha illah as-Sakandary [11], ‘’Jangan tinggalkan berdzikir. Sebab kelalaianmu saat berdzikir. Semoga allah berkenan mengangkat derajatmu dari dzikir yang penuh dengan kelalaian menuju dzikir yang penuh kesadaran. Dan dari dzikir yang penuh kesadaran menuju dzikir yang disemangati oleh kehadiran-Nya menuju dzikir yang meniadakan segala sesuatu selain-Nya. Dan yang demikian itu bagi Allah bukanlah merupakan sesuatu yang sulit” [12]. Hanya tinggal kita membiasakannya dan mau terus berusha.

Sikap Terabik Dalam Menghadapi Rintangan Dakwah

“Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik’’. (QS. 73:10)

Kenilaian kelembutan Allah dengan bersabar. Dengan kesabaran ini akan semakin membuat seseorang dekat dengan Allah.Dan semakin membuatnya kokoh serta istiqomah. Keyakinan terhadap takdir Allah, juga akan membantu kita dalam bersabar dan membuat segala rintangan menjadi sebuah bumbu kehidupan. Justru akan terasa lebih manis [13].

Sabar merupakan salah satu bentuk kepasrahan yang positif.Bukan sikap menyerah atau apatis dalam merespon sebuah masalah. Maka siakap sabar seperti ini akan semakin membuat seseorang kuat. Dan akan semakin dewasa dalam mengambil sikap. Karena ia telah mengalahkan ego dan perasaannya.

Bagaimana tidak, bukankah yang memerintah bersikap sabar telah memberikan jaminan. Dia akan membuat perhitungan terhadap orang-orang yang selalu menyakiti dan menghalangi Rasulullah saw. Mendustakan risalahnya dan memandangkan permusuhan terhadap risalah yang diembannya. Maka biarlah Allah yang mengurusi mereka.

Dan biarkan Aku (saja) bertindak terhadap orang-orang yang mendustakan itu, orang-orang yang mempunyai kemewahan dan beri tangguhlah mereka barang sebentar”. (QS. 73: 11)

Allah tangguhkan mereka. Sebenarnya agar mereka mau berpikir untuk bertaubat dan menyadari kekeliruannya. Kemudian segera memperbaiki kesalahannya. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Mereka semakin menjadi-jadi, memusuhi Rasulullah dan orang-orang yang mengikuti dakwahnya. Menindas dan menyakiti mereka, baik secara fisik ataupun dengan tekanan dan teror psikis yang mereka terus lancarkan.

Untuk Para Pendusta

‘’Karena sesungguhnya pada sisi kami ada belenggu-belenggu yang berat dan neraka yang menyala-nyala. Dan makanan yang menyumbat di kerongkongan dan azab yang pedih. Pada hari bumi dan gunung-gunung bergoncangan, dan menjadilah gunung-gunung itu tumpukan-tumpukan pasir yang berterbangan’’. (QS.73: 12-14)

Siksaan yang sangat pedih telah Allah siapkan untuk mereka yang memusuhi kekasih-Nya. Adzab yang akan membuat mereka kering dan haus. Tak ada makanan kecuali hanya menambah kepedihan dan rasa kering yang tak terbayangkan.

Sebelumnya, saat sangkakala Israfil ditiup alam semesta ini menjadi demikian rapuh dan lebur dalam kehancuran. Termasuk orang-orang yang ada di atas bumi. Semua mengalami kefanaan. Karena kekekalan hanya dimiliki oleh Dzat Yang Maha Hidup.

Para pendusta yang memusuhi Rasulullah bukannya tak tahu, bahwa sunnah Allah berlaku untuk orang-orang yang mendustakan utusan-Nya. Umat-umat sebelum mereka telah dibinasakan. Sia-sia kengerian itu bahkan sebagian masih bisa dilacak. Lihatlah apa yang dialami Fir’aun. Manusia kerdil yang sombong yang menahbisakan dirinya sebagai Tuhan. Kemudian hanya menjumpai kebiasaan yang menghinakan. Ditengelamkan Allah dan kemudian jasadnya diperlihatkan kepada banyak orang yang datang setelahnya. Bahkan hingga saat ini, jasadnya masih dijaga dan terawat baik dalam museum. Yang demikian untuk diambil pelajaran bagi kaum mukminin juga bagi mereka yang mendustakan dan memusuhi risalah Allah.

“Sesungguhnya kami telah mengutus kepada kamu (hai orang kafir Mekah) seorang rasul, yang menjadi saksi terhadapmu, sebagaimana kami telah mengutus (dahulu) seorang Rasul kepada Fir’aun. Maka Fir’aun mendurhakai Rasul itu, lalu kami siksa dia dengan siksaan yang berat”. (QS. 73: 15-16)

Dan seperti kisah kezhaliman dan pendustaan ini masih akan berlangsung terus hingga saat ini, sampai pada hari ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah. Padahal Allah tak henti-hentinya mengingatkan manusia dan memperingatkan orang-orang dzalim tersebut agar menghentikan kedzalimannya.

“Maka bagaimana kamu akan dapat memelihara dirimu jika kamu tetap kafir kepada hari yang menjadikan anak-anak beruban”. (QS. 73: 17)

Ini adalah sebuah perumpamaan yang sangat dahsyat. Hari kiamat yang sangat menakutkan itu seperti yang dikisahkan Allah di ayat ini, bahkan akan sanggup mumutihkan rambut anak-anak kecil. Sebuah gambaran yang menakutkan. Hari yang sangat mengerikan [14].

Ambilah Sebuah Keputusan

“Sesunguhnya ini adalah suatu peringatan. Maka barang siapa yang menghendaki niscaya ia menempuh jalan (yang menyampaikannya) kepada Tuhannya”. (QS.73: 19)

Peringatan telah dan terus disampaikan Allah maka sekarang semuanya kembali pada diri masing-masing manusia. Dialah yang akan memilih. Mengikuti petunjuk Allah atau berpaling dan memusuhi serta mendustakan peringatan itu. Inilah kebijakan Allah, setelah itu semua manusialah yang akan menanggung semua pilihannya. Karena Allah pun tak pernah memaksa. Karena ketaqwaan ataupun kemaksiatan manusia tak berpengaruh sedikitpun terhadap kekuasaan Allah. Tidak mengurangi ataupun menambahnya.

Jika seluruh manusia dan jin yang pernah dan akan ada, semua tunduk dalam kepasrahan kepada-Nya; maka tidaklah yang demikian itu menambah kemanfaatan bagi-Nya. Bila seluruh manusia dan jin yang pernah dan akan ada, semua menentang-Nya. Maka tidaklah hal itu mengurangi kebesaran-Nya. Dan bila seluruh manusia dan jin yang pernah dan akan ada, semua memohon kepada-Nya. Dan semua permohonan itu dikabulkan-Nya, tidaklah hal itu mengurangi kekuasaan dan kebesaran kerajaan-Nya. Kecuali seperti sehelai benang yang dicelupkan kedalam bentangan samudera [15].

Penutup: Kasih Sayang dan Kemudahan-Kemudahan Allah

Salah satu bentuk kasih sayang Allah terhadap hamba-Nya adalah dengan memberikan kemudahan-kemudahan. Termasuk diantaranya keringanan-keringanan yang kita dapatkan, atau sebagian kita kenal dengan “rukhshah”. Demikian juga tentang perintah shalat malam ini. Dari yang semula wajib, kemudia dengan turunya ayat ke dua puluh ini menjadi sunnah.

“Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam, atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak mampu menentukan batas-batas waktu-waktu itu, Maka dia memberi keringanan kepadamu. Karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari al-Qur’an. Dia mengetahui bahwa akan ada diantara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan dimuka bumi mencari sebgaian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi berperang dijalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari al-Qur’an dan dirikanlah sembahyang, tunaikan zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu berbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampuna kepada Allah. Sesunggunya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS.73:20)

Karena Allah Maha Mengetahui kondisi hamba-hamba-Nya. Akan ada yang sanggup melakukannya semalam, dan itupun tak akan bisa dilakukan terus menerus karena badan kita memliki hak untuk diistirahatkan. Ada juga yang bisa melakukannya sedikit bahkan ada yang kadang-kadang saja melakukan shalat malam. Karena ada yang tua dan muda, ada yang sehat dan yang sakit. Ada yang sibuk berperang, memiliki karakter pekerjaan yang melelahkan ada yang sedang stabil imannya dan ada yang labil dan seterusnya.

Maka kemudia Allah jadikan shalat malam hukumnya sunnah. Tapi tetap berfungsi sebagai pembekalan secara efektif bagi penerus risalah Nabi Muhammad saw, sekaligus sebagai jalan untuk meraih kemuliaan di sisi Allah. Seperti dalam firman-Nya. “Dan pada sebagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ketempat yang terpuji”. (QS.17: 79)

Sungguh luas kasih sayang-Nya. Allah memberikan kesempatan bagi hamba-Nya untuk berlomba meraih kemuliaan bagi siapa saja yang  mau berusaha meraihnya. Coba kita renungkan pesan Ibnu Athaillah as-Sakandary, “Allah sengaja menetapkan waktu –waktu tertentu untuk beribadah agar engaku tidak sampai tertinggal karena menunda mengerjakannya. Dan Allah memberi keluasaan waktu bagimu agar tetap ada kesempatan untuk memilih” [16].  

                                                                              —————————————————————————————-

                                                                                               Kalibata Selatan Jaksel

                                                                                                                                                                Selasa, 10 Maret 2009


* Sebuah tadabur surat Al-Muzammil (yang berselimut): 73 Juz 29.

** Alumni Program S3 Jurusan Tafsir dan Ilmu-ilmu al-Qur’an, Universitas Al-Azhar, Cairo.

[1] Imam Jamaluddin as-Suyuthi, al-Itqân fi ‘Ulumi al-Qur’an, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, cet.I, 2004 M/ 1425 H,  hal 20, Imam Badruddin az-Zaekasyi, al-Burhan fi Ulumi al-Qur’an, Beirut: Darul Fikr, cet.I, 1988 M/ 1408 H, Vol.I, hal.294

[2] Lihat: Kamus al-Munjid fi al-lughah wa al-A’lam, Beirut Dar al-Masyriq, cet.36, 1997, hal.306

[3]  Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Azhim, Cairo: al-Maktabah al-Qayyimah, Vol.IV, hal.563

[4]  Prof. Dr. Jum’ah Ali Abd Qader, Ma’âlim suar al-Qur’an, Cairo: Universitas Al-Azhar, Cet.I, 2004 M / 1424 H, Vol.2, hal.716

[5]  Muhyiddin Darwisy, I’rabul al-Qur’an al-Karim wa Bayanuhu, Beirut: Dar Ibnu Katsir, Cet.9, 2005 M / 1426 H, Vol.VIII. Hal 109

[6]  Sedikit saja dari waktu malam. (Lihat: Imam az-Zamakhsyar, al-Kasysâf’an Haqâ’iqu at-Tanzil, Cairo: Maktabah Musthafa al-Halaby, Cet.I, 1354 H, Vol.IV, Hal 152

[7] Iman al-Qurthuby, al-Jami’ li Ahkami al-Qur’an Cairo: Darul Hadits, 2002 M / 1422 H, Vol.X, hal.33

[8] Ibid. Lihat Juga: Imam al-Baghawy, Ma’alim at-Tanzil, Beirut: Darul Kutub Ilmiah. Cet.1, 2004 M / 1424 H, Vol. IV, hal. 376 dan tesis penulis, Kitab Lawami’ al-Burhan wa Qawathi al-Bayan fi-Ma’any, Dirasah wa tahqiq, Cairo: Universitas Al-Azhar, 2006 M, Vol.II, hal.730

[9] Imam syihabuddin al-Alusy, Ruh al-Ma’any, Beirut: Darul Fikr, 1997 M/1417 H, vol.XXIX, hal.182

[10] lihat tesis penulis; Kitab lawani’ al-Burhan, Ibid. Vol.II, hal.730

[11]  Seorang alim dari Mesir, kelahiran Alexandria tahun 1250 M dan meninggal pada tahun 1309. Beliau adalah syeikh ketiga dalam tarekat asy-Syadzili. Beliau telah menulis buku lebih dari 20 karya. Dan kitab al-Hikam adalah pesan-pesan penuh hikmah yang menjadi magnum opusnya, sebuah karya monumental yang dibaca dan diterjemahkan ke dalam banyak bahasa.

[12]  Ibnu Atha’illah as-Sakandary, Kitab Al-Hikam, (terj. Dr. Ismail Ba’adillah), Jakarta: Khatulistiwa Press. Cet.I, hal.64, Hikmah ke-44.

[13]  Prof. Dr. Yusuf al-Qaradhawy, al-Imân wa al-Hidayâh, Cairo: Maktabah Wahbah, Cet.16, 2007 M / 1428 H, hal 173

[14]  Iman Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Azhim, Op.Cit, Vol.IV, hal 568

[15]  Seperti hadits qudsy yang diriwayatkan Imam Muslim dalam shahilnya, kitab  al-Birr wa ash-Shilah, hadits no: 2577. Dari sahabat Nabi saw, Abu Dzar al_Ghifary. (Ibnu Daqiq, al-‘Id, Sayrhu al-Arba’in an-Nawawiyah, Cairo: Darussalam, Cet.III, 2007 M / 1428 H, hal 207-208)

[16]  Ibnu Atha’illah as-Sakandary, Kitab Al-Hikam, Op.Cit, hal. 226 hikmah ke-170

Catatan Keberkahan 17: Nyonya Besar

Nyonya Besar

Shahibah

Dalam berbagai buku biografi, perempuan ini digelari sebutan unik. Sitti asy-Syâm, atau berarti Nyonya Besar Negeri Syam. Ia bernama Rabi’ah Khatun binti Ayyub (561-643 H) = (1166-1245 M). Memiliki usia yang cukup panjang yaitu 82 tahun, di samping berada di tengah orbit kekuasaan dan keilmuan yang memadai membuatnya benar-benar tumbuh menjadi seorang wanita yang memiliki pengaruh cukup besar. Beliau juga dikaruniai kekayaan materi yang lumayan baik dan mapan, bahkan berlebih dari kebanyakan masyarakat di zamannya.

Sang Nyonya Besar dijuluki demikian karena saudara-saudaranya, anak-anaknya, keponakannya dan famili dekatnya menjadi penguasa di wilayah Syam. Jumlahnya tak kurang dari 35 orang raja dan gubernur. Hampir semuanya dari Klan Ayyûbiyah dan sebagian kecil adalah ipar atau famili dari hasil pernikahan.

Saudara perempuan, ibu, bibi, sepupu dari para penguasa… Rabi’ah Khatun.Pengaruhnya yang demikian kuat tak hanya didapati karena berada di tengah jantung kekuasaan dan mendompleng nama besar dan popularitas kakaknya, Shalahuddin al-Ayyubi. Karena secara personal Rabi’ah adalah figur yang sangat berpengaruh.

Perempuan kuat tersebut juga dikenal dermawan. Menyayangi fakir miskin. Rumahnya selalu dijadikan base camp untuk penyaluran bantuan sosial berupa sedekah dan sebagainya. Tak jarang berupa emas, supply sembako (makanan pokok), obat-obatan (bantuan medis) dan segala hal yang berkaitan dengan hajat rakyat kecil.

Beliau juga memiliki andil besar di dunia pendidikan. Dua sekolah bernama Ash-Shâhibah di Shâlihiyyah, Damaskus dan “Al-Khatuniyah al-Jiwaniyah” adalah sumbangsih beliau sebagai pewakaf materi selain sumbangan pemikiran yang selalu diberikan, berupa ide gagasan atau bahkan terjun sebagai pengajar dan terlibat dalam manuver ilmiahnya.

Bukan hanya terlibat secara praktis, nyonya besar juga terlibat dalam karya ilmiah. Dalam sebuah manuskrip Sunan Abi Dawud, salah satu buku hadis yang otoritatif, ada beberapa pendapat beliau yang terekam, mengomentari buku hadits tersebut. Tak heran jika kemudian nama beliau dimasukkan dalam salah satu ulama muslimah. Muhammad Ahmad Ismail memuatnya dalam buku “Min Sîrah al-‘Âlimât al-Muslimât

Rabi’ah bersuamikan Sa’duddin Az-Zanky, anak dari Mu’inuddin Zanky (Emir Damaskus). Sa’duddin adalah Kakak dari Khatun Is’matuddin (istri mendiang Sultan Nuruddin Zanky yang kemudian diperistri oleh Shalahuddin Al-Ayyubi). Setelah suaminya meninggal, Rabi’ah menikah dengan Al-Muzhaffar Abu Sa’id al-Kaukibary, Gubernur Provinsi Erbil di Iraq Utara di era kepemimpinan Shalahuddin yang juga kakak iparnya. Muzhaffar juga ikut dalam kafilah jihad Shalahuddin dalam pengepungan benteng al-Karak di Yordaniya serta dalam perang hidup mati melawan pasukan salib di pertempuran Hithin. Rabi’ah mendampinginya selama empat puluh tahun. Dan setelah suaminya wafat ia kembali ke Damaskus.

Rabi’ah yang seorang alimah tersebut dengan sentuhan keberkahannya, ilmu dan wakafnya bermanfaat. Madrasah As-Shâhibah di Damaskus tersebut dibangun pada tahun 628 H/1231 M, bermadzhab bermadzhad Hanbali. Sekolah Islam Klasik ternama tersebut telah melahirkan nama-nama ulama besar madzhab Hanbali. Diantaranya pengajar pertamanya Nashihuddin Abdurrahman bin al-Hanbaly, kemudian diteruskan murid-murid beliau: Syeikh At-Taqiyy bin al-Wasithy, juga nama-nama lainnya; Asy-Syihab al-Maqdisy dan Ibnu Muflih.

Sekolah yang didirikan atas inisiatif sekaligus kreasi anak bungsu keluarga Ayyub ini sampai sekarang masih bisa dilihat dan dikunjungi sebagai salah satu peninggalan bersejarah Dinasti Ayyubiyah di Damaskus.

Ulama-ulamanya selain faqih dan mumpuni di bidang agama, juga mendapat sentuhan ruh jihad yang terus dikobarkan pendirinya Rabi’ah Khatun, yang berdampingan langsung dengan dua orang diantara pimpinan terbaik di zaman itu, Sa’duddin Zanki yang juga terlibat dalam perhelatan perang salib juga suami keduanya al-Muzhaffar yang terjun langsung bersama kakaknya, Shalahuddin al-Ayyubi di berbagai medan pertempuran penting.

Bila pengaruhnya di bidang keilmuan tak diragukan, demikian halnya di pemerintahan dan kerajaan. Sang nyonya besar memiliki sejumlah saudara, kakak, anak-anak, keponakan dan family yang menjadi sultan dan gubernur di masa keemasan dinasti Ayyubiyah.

Di antaranya yang paling utama: Shalahuddin al-Ayyubi (1137-1193 M), salah satu pendiri dinasti Ayyubiyah yang kemudian ditahbiskan sebagai Sultan Mesir dan Negeri Syam. Kemudian Saifuddin Abu Bakar al-Ayyubi (1145-1218 M), Emir Yaman Zhahiruddin Saiful Islam al-Ayyubi (W. 1197 M), Emir Ba’labak Nuruddaulah Syahansyah al-Ayyubi (W. 1148), Emir Aleksandria Syamsuddaulah Turansyah al-Ayyubi (W. 1181 M). Dan nama-nama lain seperti Nusha ad-Din Marwan, Imaduddin Syadi, Al-Manshur Abu Bakar, Al-Kamil Nashiruddin Abu al-Ma’ali, Muzhafaruddin Abu al-Fath dan lain-lain.

Nama-nama yang tersebut di atas adalah para raja, gubernur dan penguasa di berbagai daerah. Hampir semuanya memiliki sentuhan Ayyubiyah, pendidikan keilmuan, kekuatan militer dan diplomasi.

Selain dikenal dengan keilmuan dan andil besar beliau di bidang ilmiah juga di bidang pemerintahan dan kekuasaan, beliau dikenal sebagai seorang yang rajin melakukan shalat malam. Perempuan shalihah tersebut bahkan dikenal memiliki iffah dan wara’ yang tinggi. Kehati-hatiannya dalam bersikap bisa ditilik dari sikap hidup kesehariannya. Bahkan beliau juga seorang yang zuhud. Dengan harta yang melimpah, dikelilingi otoritas kekuasaan yang sangat luas, dikaruniai akal yang brilian juga penasehat-penasehat yang berilmu dan pakar di bidangnya, tak lantas menjadikannya jumawa dan angkuh.

Nyonya besar yang selama ini diidentikkan dengan kekuasaat absolut dan semena-mena nyaris tak dijumpai pada diri Rabi’ah Khatun yang sederhana, rendah hati, dermawan dan pecinta fakir miskin.

Nyonya besar yang terkesan tak mau tau urusan kecil, proyek ilmiah dan berbagai gagasan brilian lainnya, justru diperlihatkan sebaliknya oleh Rabi’ah. Ia mewakafkan hartanya, turun memimbing proyek ilmiah tersebut dan terlibat langsung dalam kegiatan keilmuannya.

Nyonya besar yang diidentikkan dengan kehidupan serba mewah ternyata jauh dari ekspektasi dan banyangan rakyat awwam. Hidup Rabi’ah sangat zuhud. Bahkan beliau akhirnya meninggal dan dimakamkan di pelataran rumah yang juga diwakafkannya untuk sekolah Ash-Shahibah di Damaskus.

Rabi’ah muda menyaksikan langsung kakaknya yang berhasil menaklukan kota al-Quds setelah berjibaku dalam berbagai pertempuran dan meladeni gempuran tentara salib. Rabi’ah pun terinspirasi kegigihan kakaknya.

Rabi’ah yang adik bungsu Shalahuddin ini sangat terpengaruh gaya hidup kakaknya, termotivasi spirit perjuangannya dalam membela kebenaran dan menolong orang-orang lemah dan zhalim. Dia melengkapi sisi-sisi kebutuhan umat Islam setelah kokoh secara militer dan ketahanan nasionalnya. Yaitu penguatan ilmu dan wawasan melalui sekolah-sekolah juga pendidikan mental dan jiwanya. Rabi’ah di akhir-akhir hidupnya juga menyediakan tempat ibadah yang dipakai oleh kalangan sufi.

Inilah trilogi kekuatan yang saat ini diperlukan umat Islam. Kekuatan Iman (mental dan jiwa), kekuatan militer dan kekuatan ilmu/wawasan (pendidikan). Dengan tiga kekuatan dasar ini kekuatan berikutnya lahir dan ikut menonjol, seperti stabilitas keamanan, kualitas kesejahteraan dan ekonomi serta suasana perpolitikan dan kekuasaan serta sektor-sektor kehidupan lainnya.

Semoga Allah memberkahimu Rabi’ah Sang Nyonya Besar Negeri Syam…

Umat Islam menanti, sangat menunggu-nunggu perempuan sepertimu terlahir kembali di masa kini. Perempuan yang berani melahirkan dan mendampingi para pejuang, para pahlawan, para ilmuwan dan para ahli ibadah. Untuk memujudkan masyarakat madani yang ideal, merekayasan tersebarnya kebaikan di berbagai sektor kehidupan manusia.

RahimakilLâh Ya Sitti asy-Syâm.

Catatan Keberkahan 017

Jakarta, 07.10.2013

Dr. Saiful Bahri, MA