Catatan Keberkahan 15: Rahim Para Ulama (Juga)

Dr. Saiful Bahri, M.A

Bait al-Maqdis selama ini dikenal sebagai bumi subur yang produktif melahirkan para pejuang. Dimulai dari para nabi, kemudian disambung oleh futûhat yang dilakukan oleh Umar bin Khattab ra., hingga seorang pejuang hebat semisal Shalâhuddin al-Ayyûbi. Demikian halnya pasca runtuhnya Daulah Usmaniyyah di awal abad XX, telah silih berganti tokoh-tokoh pejuang muncul memberikan inspirasi bagi umat Islam, seperti Abdullah Azam, Izzuddin al-Qassam dan kemudian Syeikh Ahmad Yasin serta muridnya Dr. Abdul Azz Ratisy, sebagai simbol perlawanan rakyat Palestina. Melawan penjajahan Inggris, kemudian menolak berdirinya negara Israel dan sampai sekarang kukuh memperjuangkan hak bangsa Palestina dari penjajahan modern Zionis, kooptasi, pendudukan ilegal dan berbagai pelanggaran kemanusiaan. Simbol kokoh perjuangan melawan segala penjajahan dan penindasan.

Sebenarnya selain menjadi lumbung para pejuang ternyata bumi al-Quds menjadi “sarang” para ulama. Tak sedikit ulama yang lahir di bumi Palestina, atau menetap di sana atau bahkan sekedar singgah dan menuntut ilmu.

Jika para nabi pernah singgah dan shalat di Bait al-Maqdis, ternyata beberapa ulama terkenal juga menapakkan kakinya di pelataran Bait al-Maqdis. Di antaranya adalah:

Imam Ibnu Hajar al-Asqalany (773-852 H).

Beliau bahkan sempat mengungkapkan perasaannya selepas kunjungan beliau ke Al-Aqsha. Bait-bait tersebut seperti di bawah ini

إلى بيت المقدس قد أتينا – جنان الخلد نزلا من كريم

قطعنا في محبته عقابا  – وما بعد العقاب سوى النعيم

Ke Bait al-Maqdis kami datang

Ke taman-taman surga keabadian yang diturunkan dari Yang Maha Mulia

Kami menempuhnya karena cinta padanya sebagai hukuman

Tiada terasa setelah hukuman itu  melainkan hanya kenikmatan

Bait-Bait syair Ibnu Hajar al-Asqalany diatas yang dinukil oleh Syeikh Abdul Ghani an-Nablusiy “Al-Hadhrah al-Unsiyah fi ar-Rihlah al-Qudsiyyah”.

Bait-bait di atas mengungkap pengalaman spiritual Ibnu Hajar al-Asqalany bahwa yang menyebabkannya terpanggil untuk mendatangi Bait al-Maqdis adalah cinta. Cinta ilmu dan keberkahan Allah. Meski perjalanan yang ditempuh sangat penuh aral dan rintangan, atau bahkan setara dengan siksaan seperti tutur beliau, maka sebagai gantinya beliau mendapatkan kenikmatan yang banyak di dalamnya. Berjumpa dengan para ulama, mendekat pada orbit keberkahan yang disunnahkan oleh Rasul SAW untuk mendekatinya setelah Al-Masjid Al-Haram dan Al-Masjid an-Nabawi.

Karena Palestina adalah pelataran dan taman surga yang Allah bentangkan di bumi-Nya. Penuh keberkahan.

Beliau adalah orang Mesir yang memiliki ayah seorang pedagang kaya, dermawan, santun dan pemalu. Ayahnya meninggal ketika beliau masih berusia kanak-kanak. Tapi sepeninggal ayahnya justru spirit menuntut ilmu semakin mengristal. Kecintaannya terhadap ilmu membawanya terbang ke berbagai tempat dan negara. Sehingga beliau pun menghafal banyak hadits dan berguru pada pakarnya. Inilah kemudian yang menyebabkan beliau dijuluki “al-Hâfizh”. Di samping pakar hadits beliau juga dikenal pakar hukum dan fikih serta sastra arab. Karya beliau sangat banyak. Di antara yang fenomenal adalah Fathul Bari, syarah Shahih Bukhari, Bulugh al-Marâm, Tahzîb at-Tahdzîb, Al-Ishâbah fi Tamyîz ash-Shahâbah dan sebagainya.

Imam Muhammad bin Idrîs asy-Syâfi’i (150-204 H)

Salah satu imam madzhab empat yang sangat terkenal ini dilahirkan di Gaza, Palestina. Pakar hadits, fikih dan bahasa arab ini terlahir di sebuah keluarga sederhana. Ayahnya meninggal saat beliau masih kecil. Hidup sebagai yatim tak menjadikannya menyerah pada keadaan. Ibunya yang janda muda pun bahkan rela tak menikah lagi untuk memberi spirit sekaligus dukungan kepada anaknya untuk hijrah. Menuntut ilmu di negeri Mekah. Di sana beliau memperdalam al-Quran setelah kelas reguler selesai dilakukan. Sampai akhirnya beliau memiliki inisiatif untuk membantu teman-teman sejawatnya untuk belajar terlebih dahulu sebelum memasuki kelas. Dan guru-guru pun dibuatnya terkaget-kaget, karena murid-murid mereka cepat memahami pelajaran. Asy-Syafi’i lah aktor perubahan tersebut. Sang brilian ini pun akhirnya memasuki kelas reguler. Sementara ibunya berjibaku melawan kemiskinan. Perempuan tangguh itu mencari tulang-tulang pipih di tempat penyembelihan hewan dan tukang jagal. Untuk dijadikan catatan anaknya. Tak jarang ia pun pergi ke tempat pembuangan kertas, memilah-milah kertas-kertas bekas yang masih laik untuk dipakai anaknya. Sebelum berangkat belajar ia pun tak jarang berpesan pada Asy-Syafi’i kecil, “Nak, Duduklah di samping anak orang kaya”. Asy-Syafi’i tertegun mendengar nasehat bundanya. Beliau segera tahu maksud sang ibu, “… agar engkau bisa ikut membaca buku dan catatan yang ia punya

Syafi’i muda terkenal kecerdasannya, sehingga ia mendapatkan beasiswa pemda Mekah untuk melanjutkan studinya ke Madinah, di sebuah perguruan yang sangat terkenal. Berguru kepada Imam Besar, Imam Malik. Dengan masih dalam kondisi ekonomi yang terbatas beliau pun berpindah ke Madinah. Suatu ketika bahkan beliau pernah kehabisan kertas catatannya. Kemudian beliau melakukan gerakan menulis di atas telapak tangan kirinya. Imam Malik meliriknya, kemudian beliau bertanya, “Apa yang kamu lakukann wahai Muhammad?”

Syafi’i menjawab, “Aku berusaha membantu hafalanku dengan menulis hadits yang Anda sampaikan supaya aku tak lupa

Imam Malik kembali bertanya, “Apakah engkau mengingat yang baru saja aku katakana?

Asy-Syafi’i pun menjawab sambil anggukkan kepalanya, “Ya. Dengan seizin Allah wahai guruku

Imam Malik kemudian memerintahkan Syafi’i untuk mengulang semua hadits yang beliau ajarkan saat itu. Dan Imam Syafi’i pun sempurna mengulang hadits-hadits yang diajarkan Imam Malik tanpa ada kesalahan sedikit pun. Sejak saat itu, Syafi’i muda terkenal dengan hafalannya yang brilian, kemahirannya yang mumpuni dan penguasaan bahasa arab yang sangat bagus.

Setelah namanya naik di seantero Madinah, Beliau hijrah ke Baghdad dan menuntut ilmu serta berkarir di sana. Di kota inilah pendapat-pendapat beliau sering dibahasakan dalam ilmu fikih dengan “al-qaul al-qadîm” (madzhab lama). Beliau juga menuntut ilmu di Mesir, dan meninggal serta dimakamkan di sana. Di negeri ini beliau memiliki pendapat-pendapat baru dalam banyak hal. Karena dalam istilah fikih pendapat beliau selama di Mesir di kenal dengan sebutan “al-qaul al-jadîd” (madzhab baru).

Ibnu Qudamah al-Maqdisi (541-620 H = 1146-1223 M)

Beliau adalah Abu Muhammad, Abdullah bin Ahmad bin Qudamah al-Qurasyi al-Maqdisiy, keturunan Umar bin Khattab ra. Salah seorang imam besar Madzhab Hambali. Beliau dilahirkan di Jammâ’îl (sekarang Jammâ’în) di Nablus, Palestina. Di tahun kelahirannya meletus Perang Salib kedua yang dipimpin Louis VII dari Perancis dan Conrad III dari Jerman. Delapan tahun Palestina digempur hingga secara praktis berada di bawah penguasaan pasukan salibis. Ibnu Qudamah kecil hijrah ke Damaskus bersama keluarganya. Tumbuh dan besar sebagai pengungsi tak menjadikannya menyerah pada nasib yang terlunta-lunta. Beliau menuntut ilmu ke berbagai sekolah dan berguru ke para masyâyikh yang ada di negeri Syam. Ibnu Qudamah muda bersama sepupunya, Abdul Ghaniy al-Maqdisi pun melanjutkan ekspedisi ilmiahnya. Kali ini mereka melakukan rihlah menuntut ilmu ke negeri Baghdad yang saat itu terkenal sebagai salah satu “sarang” ilmu dan para pakar di berbagai bidangnya.

Saat Shalahuddin al-Ayyubi bermaksud menaklukkan kembali Al-Quds dan Palestina dan mengembalikannya ke wilayah Islam, beliau bergabung dalam kafilah jihad yang dipimpin Shalahuddin.

Beliau ikut dalam pengepungan Akka, an-Nashirah, al-Qaisariyah, Shafuriyah. Demikian juga ikut mengangkat senjata dalam peperangan Hithin. Kemudian turut dalam pasukan pembebasan Asqalan dan penaklukan al-Quds pada hari Jumat, 27 Rajab 583 H bertepatan dengan 2 Oktober 1187 M. Beliau kemudian menaiki mimbar Shalahuddin yang dibuat oleh Nuruddin Mahmud Zankiy 20 tahun sebelumnya. Saat itu usia beliau 42 tahun. Beliau mewakafkan diri untuk berkhidmah menuntut ilmu, mengajar serta berjihad di jalan Allah. Hingga akhirnya menghembuskan nafas terakhir di pagi hari Idul Fitri pada tahun 620 H bertepatan dengan tahun 1223 M, dimakamkan di Damaskus.

Di antara karya beliau yang terkenal: Al-‘Umdah, al-Muqni’, al-Kâfi fi fiqhi al-Imâm Ahmad bin Hanbal, al-Mughni.

Sebagian orang mengira bahwa aktivitas menuntut ilmu, baik belajar dan mengajar bisa jadi sangat jauh dengan jihad di jalan Allah dalam artian angkat senjata membela agama Allah. Seolah-olah terjadi pemahaman dikotomis, bahwa seorang alim/ulama tugasnya hanya berkaitan dengan pena, kertas dan mimbar-mimbar ilmu serta khutbah. Sementara tugas jihad dan pembelaan terhadap agama (hanya) diemban oleh para pejuang, tentara dari umat Islam. Dua fungsi yang menurut sebagian orang ini sangat sulit disatukan ternyata mengristal pada diri Imam Ibnu Qudamah. Menyatu. Mendarah daging dan dibawa ke mana-mana untuk dikobarkan dalam diri dan ditularkan serta disebarkan kepada murid-murid dan masyarakat di sekitarnya.

Sebelum menjadi seorang alim Ibnu Qudamah adalah seorang pengungsi yang terusir dari kampung halamannya, tempat kelahirannya. Beliau menyaksikan kezhaliman yang merampas kesempatan untuk berkembangnya kebaikan dan nilai-nilai luhur agama Allah. Karenanya, panggilan jihad tak menghalanginya menyatukan antara ilmu dan angkat senjata.

Dalam beberapa buku biografi beliau sering dijuluki al-‘Âlim al-Mujâhid. Sang Imam, Sang Pejuang.

Demikianlah seharusnya para pemimpin menyontohkan. Ketinggian ilmu yang diikuti ketawadhu’an dan semangat perjuangan yang tak lapuk. Melawan kezhaliman. Perjuangkan kebenaran. Mengembalikan hak-hak yang dirampas dengan sewenang-wenang. Selama nafas dan jiwa menempel dalam raga.

Rahimahumullahu jamî’an. Semoga Allah merahmati para imam di atas. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani, Imam Syafi’i, Imam Ibnu Qudamah serta banyak ulama’ lainnya yang terlahir di bumi berkah ini, juga yang wafat di sana serta menyempatkan singgah di tanah suci, bumi para nabi.

Catatan Keberkahan 015

Jakarta, 23.09.2013

Sebagian isi tulisan di atas terinspirasi dari Buku “A’lâm al-Hudâ fi Bilâd al-Masjid al-Aqshâ” Biografi singkat para ulama di tanah suci (al-Ardhu al-Muqaddasah) (2019 biografi singkat para ulama dan da’). Karya kakak beradik Yasin Thahir al-Agha dan Nabilah Fakhri al-Agha. (Terbitan Markaz al-I’lam al-Arabiy, Giza, Mesir, 2006)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s