Catatan Keberkahan 14: Damaskus dan Cairo

DAMASKUS DAN CAIRO: DUA PINTU PENTING

Dr. Saiful Bahri, M.A

Dua tahun lebih dunia internasional dipertontonkan peragaan kezhaliman yang dilakukan rezim Assad di Suriah. Yang juga berarti menistakan kemanusiaan. Mengorbankan ribuan nyawa rakyatnya untuk mempertahankan eksistensi kekuasaannya yang pasti akan pergi, rela atau pun tidak. Pasukan dan tentaranya yang seharusnya diperkhidmahkan untuk melindungi rakyat, yang terjadi justru sebaliknya. Membantai. Membunuhi dan mungkin lebih dekat dengan menghabisi semua lawan-lawan politiknya. Atau siapa saja yang terindikasi membahayakan eksistensi kekuasaannya.

Beberapa pekan lalu dunia membincangkan langkah Amerika Serikat yang berniat mengerahkan kekuatan militer terhadap Suriah. Pasca pembunuhan sipil yang dilakukan rezim Suriah yang ditengarai menggunakan senjata kimia pada agresi yang menewaskan lebih dari seribu delapan ratus rakyat sipil (21/8) lalu. Terlepas dari pro dan kontra rencana serangan militer AS, korban sipil di Suriah terus berjatuhan. Sebagian bahkan mulai bosan memandangi angka-angka yang “fantastik” untuk dikatakan sebagai korban perang atau kejahatan kemanusiaan.

Dalam KTT G 20 beberapa waktu lalu di Saint Petersburg, Rusia. Dua negara adidaya, Amerika Serikat dan Rusia adu kekuatan lobi internasional. AS melalui Obama bersikukuh hendak melakukan serangan udara ke Suriah. Sementara Putin sebagai representasi Rusia teguh dengan dukungannya terhadap Suriah. Dalam agenda KTT tersebut sebenarnya ada pembahasan penanggulangan krisis ekonomi global, tetapi isu politik seolah mendominasi. Terkhusus masalah Suriah.

Pro dan kontra serangan udara AS ke Suriah yang sempat mendominasi headline berita internasional kini seolah mencapai antiklimaks setelah AS kompromi dengan keinginan Rusia yang menginisiasi untuk melucuti senjata kimia Suriah. Selasa lalu (10/9) Obama mengumumkan untuk menunda rencananya menyerang Suriah. Penundaan terjadi setelah rezim Bashar al Assad menyetujui usulan Rusia untuk mengumpulkan dan menghancurkan senjata kimianya.

Sadar atau tidak, dunia internasional telah menggeser fokus lensa mereka, dari nasib yang dialami jutaan rakyat sipil di Suriah menjadi perdebatan politik mengenai rencana serangan Amerika Serikat ke Suriah. Pun pasca pengumuman penundaan serangan udara Amerika, rezim Assad masih terus memborbardir rakyatnya. Ahad lalu (15/9) sebuah distrik di pinggiran Damaskus kembali dibombardir pasukan udara rezim Assad. Lagi-lagi dunia luput mengangkat berita ini dan masih asyik dengan tema AS vs Rusia.

Perbincangan politik beberapa pekan di atas telah menjauhkan fokus perbincangan dunia dari tuntutan oposisi dan pasukan pembebasan Suriah. Sebenarnya mereka hanya menginginkan dua hal pokok saja:

  1. Zona larangan terbang, untuk mengisolasi kekuatan rezim sekaligus mencegah serangan udara yang dilakukan mereka untuk membunuhi rakyat sipil melalui udara. Tapi permintaan ini tak digubris oleh PBB tidak juga Nato atau kekuatan-kekuatan internasional lainnya
  2. Zona aman evakuasi korban perang, untuk meminimalisir bertambahnya korban perang dan menyelamatkan mereka yang terluka. Tapi karena tidak adanya jaminan zona aman ini, tak sedikit para korban agresi udara rezim Assad yang makin parah kondisinya. Bahkan, tak bisa sampai di tempat pengungsian.

Meskipun tentunya ada satu tuntutan utama lainnya yang sudah bisa dipahami bersama, yaitu: lengsernya rezim Basyar al-Assad.

Respon yang cerdas justru dilakukan Khaled Mesy’al, pimpinan HAMAS tersebut mengatakan: “Kami tak rela jika seandainya harga pembebasan Palestina ditebus dengan genangan darah rakyat sipil di Suriah”. Karena sejatinya pergulatan di Suriah merupakan mata rantai dari masalah inti di Timur Tengah, yaitu permasalahan Palestina. Meskipun Suriah tercitrakan kontra terhadap Israel, faktanya militer Suriah lebih kejam mengarahkan senapan dan senjatanya ke rakyat sipil dibanding untuk melawan atau mengarahkannya ke Israel.

Tak jauh berbeda dengan Mesy’al, PM Turki, Erdogan beberapa waktu menanggapi rencana serangan udara AS ke Suriah, “Kami siap membantu segala upaya yang bisa mempercepat jatuhnya rezim Assad yang zhalim”. Erdogan tetap fokus pada permasalahan dan tak mencoba mengikuti alur deras yang didengungkan media internasional. Di saat yang sama ia terlihat smart, walau bagaimana ia takkan rela Suriah menjadi Iraq atau Afghanistan berikutnya. Ia tak terjebak wacana dilematis antara mendukung serangan udara yang bisa membahayakan siapa saja di Suriah dan antara anti serangan yang berarti pro rezim Assad. Nyatanya, Erdogan menegaskan sumber masalah yang terjadi di Suriah. Kezhaliman rezim yang melampaui batas.

***

Pun demikian, hampir tiga bulan terakhir dunia internasional juga dikejutkan dengan peristiwa kudeta militer yang dilakukan terhadap presiden Mesir terpilih, Dr. Muhammad Morsi.

Mengiringi kudeta ini korban nyawa melayang di depan markas pasukan khusus Garda Republik (haras jumhuri) kemudian pembantaian Rab’ah yang menginspirasi gerakan perlawanan dan denyut perlawanan terhadap kudeta militer.

Semula banyak yang melokalisir masalah di Mesir hanya terjadi antara Ikhwanul Muslimin sebagai partai pemenang pemilu versus para seteru politiknya dari oposisi liberal dan kaum sekuler. Tapi pelan namun pasti masalah sebenarnya semakin terkuak. Pasca kudeta militer 3 Juli  terhadap presiden Mesir terpilih masalah bergeser menjadi lebih besar. Setidaknya berikut ini tahapan pergeseran masalah tersebut:

  1. Ikhwanul Muslimin (dan koalisi pemerintah) versus oposisi liberal melalui berbagai media dan aksi demonstrasi. Disusul dengan keluarnya Partai An-Nur (Salafi) dari koalisi.
  2. Ikhwanul Muslimin (dan koalisi pemerintah) versus militer dan oposisi liberal pasca kudeta 3 Juli
  3. Ikhwanul Muslimin, koalisi islamis versus junta militer pasca penembakan militer di depan markas Garda Republik
  4. Demokrasi yang ditandai kemenangan IM dan partai-partai Islam versus junta militer (yang memanfaatkan/dimanfaatkan) sedikit dari kalangan/kelompok liberal
  5. Kemanusiaan versus kezhaliman yang dilakukan pemerintah junta militer Mesir

Peta konflik terakhir semakin meruncing dengan makin banyaknya penangkapan yang tidak rasional. Pelarangan liputan media (lokal/asing) terutama yang tajam mengritik kebijakan junta militer, seperti al-Jazeera yang ditangkap beberapa wartawannya dan diganggu sinyalnya, sebelumnya beberapa stasiun televisi lokal ditutup.

Kini model demonstrasi dan perlawanan terhadap rezim militer semakin variatif, inovatif dan berskala melumpuhkan. Demonstrasi dari yang sebelumnya turun ke jalan, kini beralih aksi menjadi pembangkangan sipil (al-ishyân al-madani).

Satu bulan setelah pembantaian Rab’ah al Adawiyah dan Nahdah Square (14/8) lalu demonstran anti kudeta memulai aksi mereka secara serentak. Beberapa saat setelah menyerukan untuk menolak membayar tagihan rekening listrik para aktivis anti kudeta melancarkan serangan baru yang cukup dahsyat.

Kali ini sasarannya adalah metro bawah tanah (subway). Ahad, (15/9) mereka menduduki beberapa stasiun utama. Mereka berdiam di atas metro dan memadati  stasiun selama tiga jam mulai pukul tujuh hingga sepuluh pagi. Mereka berkeliling dari stasiun ke stasiun lainnya. Tanpa keluar stasiun dan hanya berputar-putar saja keluar masuk metro. Aksi ini menyebabkan produktifitas metro lumpuh. Sehingga dalam waktu tiga jam saja perusahaan metro mengalami kerugian 1,5 juta pound Mesir.

Dalam aksi tersebut para demonstran tak melakukan perusakan fasilitas umum, mereka laiknya seperti penumpang biasa. Karena tampilan mereka biasa: tanpa simbol R4BIA, tanpa mushaf, tanpa atribut apa-apa bahkan mereka pun tidak saling berbincang satu sama lainnya. Sehingga pihak militer kesulitan melacak inisiator dan korlap aksi tersebut.

Setelah beristirahat empat jam mereka memulai aksi kembali di rush hour kedua (siang menjelang sore) saat orang-orang keluar kantor dan hendak kembali ke rumahnya. Yaitu jam dua siang (14.00 CLT)

Di lain kesempatan para pengendara mobil pribadi juga melakukan aksi pembangkangan sipil dengan turun ke jalan-jalan utama Kairo dan Giza dan memadatinya. Aksi ini juga tidak menyertakan simbol-simbol R4BIA dan anti militer.

Pemerintah militer semula hanya mengerahkan kesiagaannya menjelang hari Jumat yang sudah menjadi kebiasaan masyarakat untuk turun ke jalan ekspresikan sikap bersama mereka: melawan kudeta. Tapi kini respon masyarakat lebih kuat meski pemerintah memperpanjang masa darurat dua bulan lamanya. Satu yang pasti akan dicatat siapapun bahwa aksi-aksi perlawanan sipil ini dilakukan di saat penangkapan terhadap aktivis IM dan aktivis anti kudeta militer. Yang tersisa di jalan adalah para anak muda yang kreatif. Menyambungkan nurani mereka dengan keinginan rakyat yang sudah tak takut lagi dengan senjata atau berbagai intimidasi lainnya.

***

Damaskus dan Cairo dalam sejarahnya pernah menjadi benteng Palestina. Pernah menjadi pintu utama Syam yang mengisolasi kekuatan yang berada di Al-Quds, hingga akhirnya tunduk pada umat Islam. Umar bin Khattab dan Shalahuddin al-Ayubi menyontohkannya. Ketundukan yang kemudian membawa rahmat dan kemakmuran serta kedamaian, karena umat Islam memasukinya tanpa kekerasan bahkan membawa serta memelihara esensi kedamaian.

Maka, ketika pertempuran di Suriah makin sengit. Saat fakta di lapangan sang rezim hanya 20 % menguasai wilayah Suriah. Di tepian Damaskus pun sudah direbut oleh pasukan perlawanan. Semoga menjadi pertanda segera tumbangnya kezhaliman.

Saat Mesir dipenuhi oleh pembangkangan sipil masal yang terjadi di mana-mana. Di tabuh genderangnya dari Cairo dan disambut di Alexandria, Giza, Thanta dan berbagai kota lainnya. Pertanda bahwa senjata akan tumpul di depan kehendak rakyat.

Damaskus akan kembali tenang dengan punahnya rezim lalim yang angkuh yang tak pernah merasa berdosa bunuhi rakyatnya. Pun, Cairo akan kembali berkisah menjadi Sang Pemaksa (al-Qâhirah) yang akan paksa para durjana yang tak bernurani yang sanggup bunuhi rakyat sipil tanpa senjata yang ingin ekspresikan sikapnya. Dipaksa memilih antara dua: kehinaan atau tersingkir dari arena.

Dan saat suara kebesaran Allah menggema bebas di ribuan menara-menara rumah-Nya di Damaskus dan Cairo. Akan bersahut-sahutan segera di pusat negeri Syam sesungguhnya Bait al-Maqdis yang masih dikungkungi kezhaliman yang terorganisir.

Kemudian setelah itu menjadi pelengkap ketiga dari anjuran Baginda Rasul SAW dari sunnah berkelana: al-Masjid al-Haram, al-Masjid an-Nabawi serta Al-Masjid al-Aqsha.

Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman” (Ar-Rûm [30]: 47)

HasbunalLâhu wa ni’ma al-wakîl.

Catatan Keberkahan 014

Jakarta, 16.09.2013

Terinspirasi dari:

Perlawanan tanpa lelah rakyat Suriah dan pembangkangan sipil (al-Ishyân al-Madani) rakyat Mesir.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s