Catatan Keberkahan 13: INNÂLILLÂHI WA INNÂ ILAIHI RÂJI’ÛN

Dr. Saiful Bahri, M.A

“Saya sengaja membawa semua keluarga saya, istri dan anak-anak saya ke Istanbul” itulah kata-kata yang diucapkan almarhum Ahmad al-Barghawi ketika datang Istanbul untuk mengikuti acara Seminar Internasional Baitul Maqdis dan Muntada al-Ummah li Bait al-Maqdis (Forum Umat Islam untuk Bait al-Maqdis) yang merupakan rangkaian acara yang biasa dikenal mukhayyam ta’akhi atau mukhayyam al’usari al-maqdisy (Perkemahan Keluarga ). Beliau datang dua hari sebelum dimulainya acara.

“Sengaja demikian. Dua hari sebelumnya. Agar istri dan anak-anak saya bisa berjalan-jalan menikmati keindahan Istanbul. Selama ini karena banyaknya kewajiban dan tugas-tugas serta pekerjaan saya, mereka jarang sekali menikmati liburan, kebersamaan mereka dengan saya juga sedikit karena banyaknya aktivitas. Saya ingin menghibur mereka kali ini. Semuanya” tambahnya ketika ditanya teman dekatnya yang anggota Parlemen Tunis dari Partai Nahdhah.

Ternyata niatnya yang tulus untuk membahagiakan keluarganya dikabulkan Allah. Tekadnya yang kuat untuk menjadikan semua keluarganya peduli dengan al-Quds dan Palestina juga dikabulkan Allah. Dua keinginan tersebut dipenuhi oleh Allah. Beliau menemui ajalnya di utara Istanbul, tepatnya di sebuah rumah sakit di distrik Riva.

Baru saja sessi kedua akan dimulai, seminar Muntada (Forum Umat Islam Internasional) yang diadakan oleh Taim (Türk Arap İlişkileri Merkezi)- Center for Turkish Arab Relations yang bekerja sama dengan al-I’tilâf al-Âlami li nushrati al-Quds wa Filisthin (Aliansi Internasional untuk Pembelaan al-Quds dan Palestina). Sebagian besar peserta forum yang akan menuju auditorium utama dikejutkan oleh kerumunan masa di pantai yang terlihat berbagai tempat. Karena memang semua view menghadap ke pantai. Dari penginapan peserta, yang selain bertingkat juga berlapis, juga dari auditorium utama acara. Belakangan diketahui ternyata kerumunan orang tersebut sedang memberikan pertolongan pertama kepada seseorang yang tenggelam, sebagian lainnya menyaksikan dan mendoakannya.

Ahmad al-Barghawi, baru saja secara heroik menyelamatkan anak bungsunya, Ahmad Yasin, yang sedang terbawa ombak Laut Hitam yang tiba-tiba tak bersahabat, menguat dan membesar.  Sang anak –alhamdulillah- berhasil diselamatkan oleh kakak-kakaknya juga orang-orang yang berada tak jauh dari tempat itu. Tapi tubuh Syeikh Ahmad menjauh dan baru bisa ditepikan ketika dua anggota tim penyelamat pantai membawanya ke tepi dengan sketboath. Tak begitu lama kemudian sebuah ambulan datang ke hotel. Tapi masih saja tubuh syeikh tak merespon pertolongan yang dilakukan oleh tim resque. Kerumunan baru terlihat bubar ketika denyut jantung syeikh berdenyut kembali dan dipindahkan dari tepi pantai ke dalam ambulan untuk selanjutnya dibawa ke rumah sakit.

Alhamdulillah” orang-orang memanjatkan syukur sebagai pertanda membaiknya kondisi beliau sambil berharap semoga cepat siuman dan sadar kembali serta menjadi sehat seperti semula.

Sessi kedua dimulai dengan membahas hubungan Turki dan Bangsa Arab dalam sorotan. Ketika sessi kedua selesai, para peserta kembali dikejutkan dengan datangnya para polisi dengan beberapa mobil dan membuat police line di pantai. Beberapa orang di antaranya membawa petugas hotel untuk turun ke pantai. Beberapa saat kemudian sessi ketiga diteruskan, meski peserta berkurang jumlah pesertanya. Diskusi yang membahas masalah Suriah dan Mesir  berhenti beberapa menit sebelum adzan maghrib berkumandang. Pertanyaan para peserta pun kembali mengerucut: Ada olah TKP?

Pertanyaan tersebut segera terjawab setelah datang berita duka bahwa Syeikh ahmad al-Barghawi meninggal dunia. Wafat di rumah sakit. Saat perawatan lanjutan, karena air sudah jauh memasuki otak beliau. Innâ lilLâhi wa inna ilaihi râji’un.

Para peserta berduka, terutama delegasi dari Tunisia. Semua segera melakukan shalat Maghrib dan Isya yang ditutup dengan qunut, sebuah doa yang diperuntukkan kepada almarhum. Syeikh yang sudah berumur lebih dari enampuluh tahun itu adalah aktivis pembela Palestina. Hidup dan kegiatannya selalu dikaitkan dengan nafas pembelaan pada Palestina apapun judul dan motifnnya. Ideologis? Ya, karena beliau seorang muslim yang baik, bahkan satu di antara sekian da’i di negeri Tunis. Humanis? Ya, karena beliau tak rela ada manusia-manusia merdeka dinistakan dan direnggut kebebasannya, bahkan dihinakan dan dibunuhi serta dirusak kebersamaannya. Situs-situs Islam yang suci dan bersejarah dijarah dan terancam dihancurkan. Identitas para penghuninya dikaburkan atau diganti.

Beliau selalu berharap untuk gugur sebagai syahid dalam membela Palestina dan berusaha memebaskan Bait al-Maqdis yang sedang dijajah zionis Israel. Allah takdirkan beliau gugur di track yang berdekatan dengan syahid Bait al-Maqdis. Karena selain beliau tenggelam saat menyelamatkan anaknya, beliau juga sedang mengikuti acara besar yang merupakan pertemuan berbagai delegasi negara-negara dari berbagai penjuru dunia untuk berdiskusi dan bertukar pengalaman mencari jalan dan usulan mengakhiri kezhaliman dan ketidakadilan yang terjadi di Palestina serta hal-hal yang berhubungan di sekitarnya. Dan perkembangan terakhir yang sedang terjadi di Mesir dan Suriah.

Sudah tentu dengan kondisi demikian, acara pasti berubah format atau bisa bahkan diselesaikan.

Selesai berdoa untuk almarhum di masjid, para peserta yang sedianya bersantap makan malam, segera diarahkan ke auditorium utama untuk melakukan takziah kepada almarhum dan keluarganya serta delegasi dari Tunisia.

Keluarga almarhum masih di rumah sakit dengan beberapa delegasi Tunisia. Setelah dibacakan beberapa ayat al-Quran acara takziyah diisi dengan penyampaian kata-kata penghormatan dan penghargaan serta sambutan rasa bela sungkawa dan duka kepada almarhum. Dimulai dari perwakilan delegasi Tunis kemudian Jordan, Yaman, Iraq, juga dari Palestina dan beberapa negara lainnya.

Teman-teman dekatnya menyampaikan kalimat-kalimat takziyah dan bela sungkawa. Bahkan para peserta yang tak mengenalnya pun turut berduka, bertakziyah.

Allah memiliki cara untuk menyampaikan pesan penting melalui mushibah yang barangkali hanya biasa-biasa saja jika dilakukan melalui sarana diskusi dan lokakarya sebagaimana dijadwalkan semula. Tapi dengan renungan kematian ini semua menjadi terperangah, terkejut dan mengambil ibrahnya. Bukan pada kejadian sebelum meninggalnya beliau, tapi pada ajal yang menjemputnya saat ia ingin bahagiakan keluarganya, saat ia kerahkan keluarganya untuk warisi perjuangan membela al-Quds dan Palestina. Tak heran jika delegasi Aljazair menyebutnya telah mendapatkan al-husnayayain (dua kebaikan), yaitu bahagiakan keluarga dan wariskan perjuangan membela Palestina.

Delegasi Iraq bahkan mengumpamakannya dengan sebuah cerita. Konon ada seorang raja yang terluka tangannya, salah satu jarinya terputus, terpotong. Seorang penasehatnya mengiburnya seraya berkata, “Di dalam setiap musibah terdapat kebaikan. Demikian juga di balik terpotongnya jari paduka ada berbagai kebaikan”. Tak di sangka perkataan ini membuat sang raja marah dan kemudian menjebloskannya ke dalam penjara. Ia pun bergumam, “Di balik penjara pun pasti ada kebaikan yang diinginkan-Nya” tambahnya.

Suatu hari sang raja berburu. Tapi naas nasibnya, ia ditangkap segerombolan orang dari pedalaman hutan. Kemudian mereka berencana menjadikannya kurban yang disembekih yang adan dipersembahkan darah dan nyawanya kepada arwah leluhur sesembahan mereka. Tapi kepala suku menolak persembahan dikarenakan adanya cacat di tangannya. Salah satu jarinya terpotong. Sang raja pun di bebaskan. Ia pun kemudian memahami maksud perkataan penasehatnya yang ia penjarakan. Ia pun bergegas menemui penasehatnya. “Aku telah menemukan kebaikan di balik terpotonya jari tangan saya. Lalu apa yang Anda temukan dari kebaikan yang ada di balik penjara.” Sang penasehat menyahutnya segera, “Kebaikan yang saya dapatkan adalah, seandainya Paduka tak memenjarakan saya, maka Padukan akan angkat saya bergabung dengan peburuan Paduka. Dan ketika ikut bersama Anda bisa jadi saya tertangkap dan kemudian mati di tangan suku yang menangkap Anda. Itulah kebaikan yang saya dapatkan di penjara ini”

Syeikh Ahmad al-Barghawi telah pergi. Menemui Dzat yang dicintainya. Yang ia beramal untuk meninggikan agama-Nya. Meski ia berharap meninggal seperti para pejuang pembela Palestina di medan peperangan. Allah pilihkan cara untuk menyampaikan pesan kepada para aktivis yang sedang berkumpul bersamanya.

Allah kirimkan banyak kebaikan bersama kepergiannya:

  1. Allah sampaikan nasihat yang membangunkan orang-orang tidur. Menyadarkan orang-orang lalai. Menyengat dan menyemangatkan orang-orang yang mungkin sedikit lupa bahwa ia akan menemui ajalnya dengan cara yang tak diketahuinya. Tempat dan waktunya pun menjadi ghaib bagi siapa saja. Kematian. Sesuatu yang ditakuti para pecinta dunia dan sangat dirindukan oleh orang-orang yang mencintai pemilik segala.
  2. Allah mengirimkan pesan bahwa cita-cita mulia terus dibawa sepanjang usia, bahkan sampai pun jiwa sudah meninggalkan jasadnya. Maka menjadikannya menyebar, meluas, menebarkannya ke berbagai orbit kehidupan menjadi sebuah keniscayaan. Dan dimulai dari sebuah keluarga kecil. Anak dan istri serta keluarga dekat untuk mendengungkan impian mulia. Memperdengarkan berita-berita gembira yang disampaikan para sahabat kepada para penerusnya. Memberikan estafet cita-cita membela al-Quds dan Palestina. Sebagaimana yang almarhum contohkan. Mengerahkan segala yang ada padanya, dari waktu, potensi dan segala yang dikaruniakan padanya. Kemudian beliau salurkan semangat itu kepada orang-orang yang ada disekitarnya.
  3. Membahagiakan keluarga, menjadi keinginan setiap manusia. Tetapi beberapa diantaranya melakukannya dengan cara yang kadang mengeluarkan dari orbit kebahagiaan sesungguhnya. Sebagian membahagiakan keluarga dengan memberikan fasilitas materi dunia. Sebagian membahagiakan dengan menyintainya melebihi segalanya. Sehingga apapaun yang dicarinya selalu bermotif mendahulukan keluarga. Akhirnya menjadikannya buta dari halal dan haram. Allah dan Rasulnya dijauhkan dari nafas hidupnya.

Kepergian Syeikh Ahmad al-Barghawi mengirim pesan pada kita untuk tidak lupa memanusiakan istri dan anak-anak kita. Memberikan beberapa waktu untuk bahagikan mereka yang kadang terhalang karena banyaknya kesibukan kita. Tetapi tetap dalam orbit perjuangan. Tetap berada pada sunnah-Nya.

  1. Kepergian Syeikh al-Barghawi menyalakan semangat para peserta, sekaligus merupakan berita gembira. Kesulitan-kesulitan yang dialami umat Islam di mana-mana: dinistakan dan dibunuhi secara kejam di Suria dan Palestina. Dilemahkan dan dikejar-kejar seperti di Mesir dan Rohingya. Dan mulai diredupkan perannya di Tunis dan Libya. Sebagaimana pendahulu mereka ketika sampai ke jantung pemerintahan di Aljazair pada tahun 1992.
  2. Ditengah perdebatan dunia tentang ancaman serangan Amerika Serikat ke Suriah, kita terus mengingatkan diri dan orang-orang disekitar kita untuk tak lupa bahwa keinginan rakyat Suriah untuk membebaskan diri mereka dari berbagai kezhaliman yang membelenggu mereka puluhan tahun lamanya. Untuk ekspresikan ajaran Islam sebagaimana mestinya.
  3. sKudeta militer yang mulai terlihat hakikatnya dan pendukungnya. Pelan namun pasti Allah buka tabir kemunafikan dan hijab kedengkian yang melahap persahabatan dan persaudaraan yang sanggup menjadi motivasi berbuat kekejian di luar batas. Membunuh, menistakan, memfitnah dan merendahkan kemanusiaan.
  4. Kematiannya, bagaikan ghulam dalam cerita ashâbul uhdûd. Kematiannya menyalakan semangat tauhid. Kematiannya, bagaikan Hamzah dalam cerita Uhud. Yang menyulut semangat para pejuang untuk memenuhi panggilan jihad yang disampaikan Rasulullah untuk melanjutkan angkat senjata ke Hamra’ al-Asad. Kematiannya bagaikan, Zakaria dan Yahya yang nabi-nabi Allah tapi dinistakan kaumnya, kemudian menyalakan semangat bertahan di dada pengikut Isa hingga masa yang ditentukan Allah terlihatnya tanda-tanda kekuasaan-Nya melalui cerita Ashâbul Kahfi.

Innâ lilLâhi wa inna ilaihi râji’un. Semua kita berasal dari Allah, Dialah pemilik semua. Kepemilikan yang sempurna. Maka seharusnya hidup manusia semua diperuntukkan, dipersembahkan, ditujukan untuk memurnikan ibadah kepadanya. Inilah semangat inna lillah. Sehingga saat semua dikembalikan kepada Allah termasuk diri, jiwa atau pun apa saja yang bersama kita. Kita bisa benar-benar kembali kepada-Nya dengan sepenuh ridha-Nya. Kembali pada-Nya mendapatkan apa yang dijanjikannya, cinta dan surga-Nya. Berkumpul bersama orang-orang yang diberi nikmat dan cinta-Nya.

Berharap Allah segera hilangkan berbagai bentuk kezhaliman yang ada di dunia saat ini. Allah angkat derita para pengungsi Palestina, Suriah dan Rohingya. Allah balaskan keangkuhan Fir’aun-Fir’aun baru dengan segera tumbangkan kekuasaan dan kezhalimannya.

HasbunalLâhu wa ni’ma al-wakîl.

Catatan Keberkahan 013

Istanbul, 05.09.2013

Dedicated to: Syeikh Ahmad al-Barghawi, aktivis Palestina anggota delegasi Tunis pada Muntada al-Ummah li Bait al-Maqdis di Istanbul, Penasehat Menteri Urusan Agama Islam di Tunis.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s