Kultwit: Memohon Keberkahan #waktu

S a i f u l   B a h r i

jam tangan
Memohon keberkahan #waktu …
1. Allah berikan durasi #waktu yg sama kpd setiap makhluknya. 1 hari di bumi sbg tempat kehidupan sama dgn 24 jam lamanya. Tanpa dibedakan.
2. Dgn #waktu yg sama tsb kondisi orang berbeda2. Ada yg sukses, jd org hebat yg bermanfaat & produktif. Sbagian lg ada yg tak berbuat apa2
3. Dgn karunia #waktu org2 shalih manfaatkan utk perbaiki diri, tebar kebaikan, ajak sbanyak2 orang utk dekat dgn orbit kebaikan & kesalihan
4. Dgn karunia #waktu org2 btaqwa jg diri dr kelalaian & ktidakmanfaatan hidup. Pertahankan kualitas hidup standar dg menaati petunjuk Allah
5. Dg #waktu yg sama org2 zhalim puaskan diri utk tindas sesamanya. Tenggelamkan dlm kebencian manusia & murka Allah, tambah pundi-2 dosanya
6. Dg #waktu yg sama org-2 bodoh buang-2 banyak kesempatan utk perbaiki hidupnya, tuntut ilmu, berguru pd ulama, banyak membaca & berdialog
7. Para ulama dg karunia #waktu wakafkan diri utk ilmu, mencarinya ke berbagai pelosok bumi kmd sebarkan ke mana-2, maksimalkan pengaruhnya.
8. Ilmu yg bermanfaat memberi pengaruh positif pd jiwa ulama & pencerahan bg masyarakat sekitarnya. Itulah keberkahan #waktu yg
sebenarnya
9. Imam Nawawi yg hidupnya (hanya) berusia 45 th. Sumbangkan karya2 terbaiknya sbg warisan utk umat setelahnya. Bermanfaat & sgt inspiratif
10. Nabi Nuh as tempuh #waktu yg panjang dlm dakwahnya; 950 th. Tp hasilnya tak sedikitpun memengaruhi semangat & kualitas dirinya. Berkah.
11. Yahya as muda berani sampaikan kebenaran kpd penguasa yg zhalim. Meski berakibat terbunuhnya beliau. #waktu pendek tp berefek dahsyat
12. Pemimpin alim & adil, Umar bin Abd Aziz hanya 2,5 thn sj. Sejahterakan rakyatnya, hadirkan keadilan bg masyarakatnya. #waktu yg
singkat
13. Nabi Muhammad saw, miliki istri lebih dr satu, pemimpin negara, panglima perang, penyayang yatim & janda, pahlawan fakir miskin. #waktu
14. Beliau jg guru bg para sahabat, qiyamullail setiap malam, khusyu’ dlm shalat, pergi ke pasar, beraktivitas padat. #waktu yg dipangkas?
15. Org2 hebat itu miliki #waktu yg sama spt kita. Tp keberkahan telah membedakan hidup mreka. Bermanfaat utk masyarakatnya & makin bertaqwa
16. Saat tak produktif mengapa ada rasionalisasi: “AKU TAK PUNYA #waktu !” sesibuk apakah org yg mengatakannya,lebih sibuk dr Nabi Muhammad?
17. Saat tak bisa tolong si mazhlum dg bantuan, bahkan sekedar doa pun tidak. Ada yg berkata juga: “AKU TAK PUNYA #waktu” sesibuk apakah dia
18. Saat hidup stagnan, biasa2, atau penuh perbuatan sia2. Segera bangkit & katakan: “AKU MASIH PUNYA #waktu . Setidaknya kesempatan
berubah
19. Mungkin ini hikmah Allah bersumpah dg beberapa #waktu : malam, siang, shubuh & dhuha. Bahkan dirangkum dlm istilah “wal-ashr”. DEMI
MASA
20. Akar katanya mirip “ashir” yg berarti jus buah; saripati buah. Maka “al-ashru” adl saripati & intisari #waktu. Waktu produktif manusia.
21. Sgt wajar dikatakan bahwa manusia sungguh “sangat merugi”. Yaitu mereka yg tak tahu, tak sadar ada karunia keberkahan dlm #waktun ya.
22. Manusia merugi adl mereka yg tak tahu #waktu produktifnya. Tak bisa gunakan sebaik-baiknya. Tak mampu syukuri nikmat & karunia mahal tsb
23. Allah berikan solusi utk melacak #waktu produktif tsb dgn: kristalisasi iman pd Allah, realisasikan dg tindakan nyata & saling
berwasiat
24. Saling berwasiat dlm kebenaran. Membela, menjunjung, pertahankan & sebarkan kebenaran (al-haq) serta bersabar melakukannya terus-menerus
25. Di usia 40 th Sang Nabi SAW mulai kebaikan dr sendiri. 13 th setelahnya diikuti oleh 114.000 org dr berbagai suku. Inilah berkah
#waktu
26. Al-Bukhori kumpulkan hadits 600.000 slm 16 th.Diperas jd 7563 hadis dlm Shahihnya,jd referensi penting bg setiap muslim.Berkah #waktunya
27. Keberkahan #waktu adl misteri. Tp setiap kita punya kesempatan sama utk meraihnya. Usaha-Tekad-Saling ingatkan. Yakin pd Pemilik waktu.
28. Jangan berhenti berbuat… sambil memohon keberkahan #waktu agar diri kita bermanfaat untuk sebanyak mungkin para makhluk-Nya. ~ tamat ~

Jakarta, 26.09.2013

Iklan

Catatan Keberkahan 15: Rahim Para Ulama (Juga)

Dr. Saiful Bahri, M.A

Bait al-Maqdis selama ini dikenal sebagai bumi subur yang produktif melahirkan para pejuang. Dimulai dari para nabi, kemudian disambung oleh futûhat yang dilakukan oleh Umar bin Khattab ra., hingga seorang pejuang hebat semisal Shalâhuddin al-Ayyûbi. Demikian halnya pasca runtuhnya Daulah Usmaniyyah di awal abad XX, telah silih berganti tokoh-tokoh pejuang muncul memberikan inspirasi bagi umat Islam, seperti Abdullah Azam, Izzuddin al-Qassam dan kemudian Syeikh Ahmad Yasin serta muridnya Dr. Abdul Azz Ratisy, sebagai simbol perlawanan rakyat Palestina. Melawan penjajahan Inggris, kemudian menolak berdirinya negara Israel dan sampai sekarang kukuh memperjuangkan hak bangsa Palestina dari penjajahan modern Zionis, kooptasi, pendudukan ilegal dan berbagai pelanggaran kemanusiaan. Simbol kokoh perjuangan melawan segala penjajahan dan penindasan.

Sebenarnya selain menjadi lumbung para pejuang ternyata bumi al-Quds menjadi “sarang” para ulama. Tak sedikit ulama yang lahir di bumi Palestina, atau menetap di sana atau bahkan sekedar singgah dan menuntut ilmu.

Jika para nabi pernah singgah dan shalat di Bait al-Maqdis, ternyata beberapa ulama terkenal juga menapakkan kakinya di pelataran Bait al-Maqdis. Di antaranya adalah:

Imam Ibnu Hajar al-Asqalany (773-852 H).

Beliau bahkan sempat mengungkapkan perasaannya selepas kunjungan beliau ke Al-Aqsha. Bait-bait tersebut seperti di bawah ini

إلى بيت المقدس قد أتينا – جنان الخلد نزلا من كريم

قطعنا في محبته عقابا  – وما بعد العقاب سوى النعيم

Ke Bait al-Maqdis kami datang

Ke taman-taman surga keabadian yang diturunkan dari Yang Maha Mulia

Kami menempuhnya karena cinta padanya sebagai hukuman

Tiada terasa setelah hukuman itu  melainkan hanya kenikmatan

Bait-Bait syair Ibnu Hajar al-Asqalany diatas yang dinukil oleh Syeikh Abdul Ghani an-Nablusiy “Al-Hadhrah al-Unsiyah fi ar-Rihlah al-Qudsiyyah”.

Bait-bait di atas mengungkap pengalaman spiritual Ibnu Hajar al-Asqalany bahwa yang menyebabkannya terpanggil untuk mendatangi Bait al-Maqdis adalah cinta. Cinta ilmu dan keberkahan Allah. Meski perjalanan yang ditempuh sangat penuh aral dan rintangan, atau bahkan setara dengan siksaan seperti tutur beliau, maka sebagai gantinya beliau mendapatkan kenikmatan yang banyak di dalamnya. Berjumpa dengan para ulama, mendekat pada orbit keberkahan yang disunnahkan oleh Rasul SAW untuk mendekatinya setelah Al-Masjid Al-Haram dan Al-Masjid an-Nabawi.

Karena Palestina adalah pelataran dan taman surga yang Allah bentangkan di bumi-Nya. Penuh keberkahan.

Beliau adalah orang Mesir yang memiliki ayah seorang pedagang kaya, dermawan, santun dan pemalu. Ayahnya meninggal ketika beliau masih berusia kanak-kanak. Tapi sepeninggal ayahnya justru spirit menuntut ilmu semakin mengristal. Kecintaannya terhadap ilmu membawanya terbang ke berbagai tempat dan negara. Sehingga beliau pun menghafal banyak hadits dan berguru pada pakarnya. Inilah kemudian yang menyebabkan beliau dijuluki “al-Hâfizh”. Di samping pakar hadits beliau juga dikenal pakar hukum dan fikih serta sastra arab. Karya beliau sangat banyak. Di antara yang fenomenal adalah Fathul Bari, syarah Shahih Bukhari, Bulugh al-Marâm, Tahzîb at-Tahdzîb, Al-Ishâbah fi Tamyîz ash-Shahâbah dan sebagainya.

Imam Muhammad bin Idrîs asy-Syâfi’i (150-204 H)

Salah satu imam madzhab empat yang sangat terkenal ini dilahirkan di Gaza, Palestina. Pakar hadits, fikih dan bahasa arab ini terlahir di sebuah keluarga sederhana. Ayahnya meninggal saat beliau masih kecil. Hidup sebagai yatim tak menjadikannya menyerah pada keadaan. Ibunya yang janda muda pun bahkan rela tak menikah lagi untuk memberi spirit sekaligus dukungan kepada anaknya untuk hijrah. Menuntut ilmu di negeri Mekah. Di sana beliau memperdalam al-Quran setelah kelas reguler selesai dilakukan. Sampai akhirnya beliau memiliki inisiatif untuk membantu teman-teman sejawatnya untuk belajar terlebih dahulu sebelum memasuki kelas. Dan guru-guru pun dibuatnya terkaget-kaget, karena murid-murid mereka cepat memahami pelajaran. Asy-Syafi’i lah aktor perubahan tersebut. Sang brilian ini pun akhirnya memasuki kelas reguler. Sementara ibunya berjibaku melawan kemiskinan. Perempuan tangguh itu mencari tulang-tulang pipih di tempat penyembelihan hewan dan tukang jagal. Untuk dijadikan catatan anaknya. Tak jarang ia pun pergi ke tempat pembuangan kertas, memilah-milah kertas-kertas bekas yang masih laik untuk dipakai anaknya. Sebelum berangkat belajar ia pun tak jarang berpesan pada Asy-Syafi’i kecil, “Nak, Duduklah di samping anak orang kaya”. Asy-Syafi’i tertegun mendengar nasehat bundanya. Beliau segera tahu maksud sang ibu, “… agar engkau bisa ikut membaca buku dan catatan yang ia punya

Syafi’i muda terkenal kecerdasannya, sehingga ia mendapatkan beasiswa pemda Mekah untuk melanjutkan studinya ke Madinah, di sebuah perguruan yang sangat terkenal. Berguru kepada Imam Besar, Imam Malik. Dengan masih dalam kondisi ekonomi yang terbatas beliau pun berpindah ke Madinah. Suatu ketika bahkan beliau pernah kehabisan kertas catatannya. Kemudian beliau melakukan gerakan menulis di atas telapak tangan kirinya. Imam Malik meliriknya, kemudian beliau bertanya, “Apa yang kamu lakukann wahai Muhammad?”

Syafi’i menjawab, “Aku berusaha membantu hafalanku dengan menulis hadits yang Anda sampaikan supaya aku tak lupa

Imam Malik kembali bertanya, “Apakah engkau mengingat yang baru saja aku katakana?

Asy-Syafi’i pun menjawab sambil anggukkan kepalanya, “Ya. Dengan seizin Allah wahai guruku

Imam Malik kemudian memerintahkan Syafi’i untuk mengulang semua hadits yang beliau ajarkan saat itu. Dan Imam Syafi’i pun sempurna mengulang hadits-hadits yang diajarkan Imam Malik tanpa ada kesalahan sedikit pun. Sejak saat itu, Syafi’i muda terkenal dengan hafalannya yang brilian, kemahirannya yang mumpuni dan penguasaan bahasa arab yang sangat bagus.

Setelah namanya naik di seantero Madinah, Beliau hijrah ke Baghdad dan menuntut ilmu serta berkarir di sana. Di kota inilah pendapat-pendapat beliau sering dibahasakan dalam ilmu fikih dengan “al-qaul al-qadîm” (madzhab lama). Beliau juga menuntut ilmu di Mesir, dan meninggal serta dimakamkan di sana. Di negeri ini beliau memiliki pendapat-pendapat baru dalam banyak hal. Karena dalam istilah fikih pendapat beliau selama di Mesir di kenal dengan sebutan “al-qaul al-jadîd” (madzhab baru).

Ibnu Qudamah al-Maqdisi (541-620 H = 1146-1223 M)

Beliau adalah Abu Muhammad, Abdullah bin Ahmad bin Qudamah al-Qurasyi al-Maqdisiy, keturunan Umar bin Khattab ra. Salah seorang imam besar Madzhab Hambali. Beliau dilahirkan di Jammâ’îl (sekarang Jammâ’în) di Nablus, Palestina. Di tahun kelahirannya meletus Perang Salib kedua yang dipimpin Louis VII dari Perancis dan Conrad III dari Jerman. Delapan tahun Palestina digempur hingga secara praktis berada di bawah penguasaan pasukan salibis. Ibnu Qudamah kecil hijrah ke Damaskus bersama keluarganya. Tumbuh dan besar sebagai pengungsi tak menjadikannya menyerah pada nasib yang terlunta-lunta. Beliau menuntut ilmu ke berbagai sekolah dan berguru ke para masyâyikh yang ada di negeri Syam. Ibnu Qudamah muda bersama sepupunya, Abdul Ghaniy al-Maqdisi pun melanjutkan ekspedisi ilmiahnya. Kali ini mereka melakukan rihlah menuntut ilmu ke negeri Baghdad yang saat itu terkenal sebagai salah satu “sarang” ilmu dan para pakar di berbagai bidangnya.

Saat Shalahuddin al-Ayyubi bermaksud menaklukkan kembali Al-Quds dan Palestina dan mengembalikannya ke wilayah Islam, beliau bergabung dalam kafilah jihad yang dipimpin Shalahuddin.

Beliau ikut dalam pengepungan Akka, an-Nashirah, al-Qaisariyah, Shafuriyah. Demikian juga ikut mengangkat senjata dalam peperangan Hithin. Kemudian turut dalam pasukan pembebasan Asqalan dan penaklukan al-Quds pada hari Jumat, 27 Rajab 583 H bertepatan dengan 2 Oktober 1187 M. Beliau kemudian menaiki mimbar Shalahuddin yang dibuat oleh Nuruddin Mahmud Zankiy 20 tahun sebelumnya. Saat itu usia beliau 42 tahun. Beliau mewakafkan diri untuk berkhidmah menuntut ilmu, mengajar serta berjihad di jalan Allah. Hingga akhirnya menghembuskan nafas terakhir di pagi hari Idul Fitri pada tahun 620 H bertepatan dengan tahun 1223 M, dimakamkan di Damaskus.

Di antara karya beliau yang terkenal: Al-‘Umdah, al-Muqni’, al-Kâfi fi fiqhi al-Imâm Ahmad bin Hanbal, al-Mughni.

Sebagian orang mengira bahwa aktivitas menuntut ilmu, baik belajar dan mengajar bisa jadi sangat jauh dengan jihad di jalan Allah dalam artian angkat senjata membela agama Allah. Seolah-olah terjadi pemahaman dikotomis, bahwa seorang alim/ulama tugasnya hanya berkaitan dengan pena, kertas dan mimbar-mimbar ilmu serta khutbah. Sementara tugas jihad dan pembelaan terhadap agama (hanya) diemban oleh para pejuang, tentara dari umat Islam. Dua fungsi yang menurut sebagian orang ini sangat sulit disatukan ternyata mengristal pada diri Imam Ibnu Qudamah. Menyatu. Mendarah daging dan dibawa ke mana-mana untuk dikobarkan dalam diri dan ditularkan serta disebarkan kepada murid-murid dan masyarakat di sekitarnya.

Sebelum menjadi seorang alim Ibnu Qudamah adalah seorang pengungsi yang terusir dari kampung halamannya, tempat kelahirannya. Beliau menyaksikan kezhaliman yang merampas kesempatan untuk berkembangnya kebaikan dan nilai-nilai luhur agama Allah. Karenanya, panggilan jihad tak menghalanginya menyatukan antara ilmu dan angkat senjata.

Dalam beberapa buku biografi beliau sering dijuluki al-‘Âlim al-Mujâhid. Sang Imam, Sang Pejuang.

Demikianlah seharusnya para pemimpin menyontohkan. Ketinggian ilmu yang diikuti ketawadhu’an dan semangat perjuangan yang tak lapuk. Melawan kezhaliman. Perjuangkan kebenaran. Mengembalikan hak-hak yang dirampas dengan sewenang-wenang. Selama nafas dan jiwa menempel dalam raga.

Rahimahumullahu jamî’an. Semoga Allah merahmati para imam di atas. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani, Imam Syafi’i, Imam Ibnu Qudamah serta banyak ulama’ lainnya yang terlahir di bumi berkah ini, juga yang wafat di sana serta menyempatkan singgah di tanah suci, bumi para nabi.

Catatan Keberkahan 015

Jakarta, 23.09.2013

Sebagian isi tulisan di atas terinspirasi dari Buku “A’lâm al-Hudâ fi Bilâd al-Masjid al-Aqshâ” Biografi singkat para ulama di tanah suci (al-Ardhu al-Muqaddasah) (2019 biografi singkat para ulama dan da’). Karya kakak beradik Yasin Thahir al-Agha dan Nabilah Fakhri al-Agha. (Terbitan Markaz al-I’lam al-Arabiy, Giza, Mesir, 2006)

Catatan Keberkahan 14: Damaskus dan Cairo

DAMASKUS DAN CAIRO: DUA PINTU PENTING

Dr. Saiful Bahri, M.A

Dua tahun lebih dunia internasional dipertontonkan peragaan kezhaliman yang dilakukan rezim Assad di Suriah. Yang juga berarti menistakan kemanusiaan. Mengorbankan ribuan nyawa rakyatnya untuk mempertahankan eksistensi kekuasaannya yang pasti akan pergi, rela atau pun tidak. Pasukan dan tentaranya yang seharusnya diperkhidmahkan untuk melindungi rakyat, yang terjadi justru sebaliknya. Membantai. Membunuhi dan mungkin lebih dekat dengan menghabisi semua lawan-lawan politiknya. Atau siapa saja yang terindikasi membahayakan eksistensi kekuasaannya.

Beberapa pekan lalu dunia membincangkan langkah Amerika Serikat yang berniat mengerahkan kekuatan militer terhadap Suriah. Pasca pembunuhan sipil yang dilakukan rezim Suriah yang ditengarai menggunakan senjata kimia pada agresi yang menewaskan lebih dari seribu delapan ratus rakyat sipil (21/8) lalu. Terlepas dari pro dan kontra rencana serangan militer AS, korban sipil di Suriah terus berjatuhan. Sebagian bahkan mulai bosan memandangi angka-angka yang “fantastik” untuk dikatakan sebagai korban perang atau kejahatan kemanusiaan.

Dalam KTT G 20 beberapa waktu lalu di Saint Petersburg, Rusia. Dua negara adidaya, Amerika Serikat dan Rusia adu kekuatan lobi internasional. AS melalui Obama bersikukuh hendak melakukan serangan udara ke Suriah. Sementara Putin sebagai representasi Rusia teguh dengan dukungannya terhadap Suriah. Dalam agenda KTT tersebut sebenarnya ada pembahasan penanggulangan krisis ekonomi global, tetapi isu politik seolah mendominasi. Terkhusus masalah Suriah.

Pro dan kontra serangan udara AS ke Suriah yang sempat mendominasi headline berita internasional kini seolah mencapai antiklimaks setelah AS kompromi dengan keinginan Rusia yang menginisiasi untuk melucuti senjata kimia Suriah. Selasa lalu (10/9) Obama mengumumkan untuk menunda rencananya menyerang Suriah. Penundaan terjadi setelah rezim Bashar al Assad menyetujui usulan Rusia untuk mengumpulkan dan menghancurkan senjata kimianya.

Sadar atau tidak, dunia internasional telah menggeser fokus lensa mereka, dari nasib yang dialami jutaan rakyat sipil di Suriah menjadi perdebatan politik mengenai rencana serangan Amerika Serikat ke Suriah. Pun pasca pengumuman penundaan serangan udara Amerika, rezim Assad masih terus memborbardir rakyatnya. Ahad lalu (15/9) sebuah distrik di pinggiran Damaskus kembali dibombardir pasukan udara rezim Assad. Lagi-lagi dunia luput mengangkat berita ini dan masih asyik dengan tema AS vs Rusia.

Perbincangan politik beberapa pekan di atas telah menjauhkan fokus perbincangan dunia dari tuntutan oposisi dan pasukan pembebasan Suriah. Sebenarnya mereka hanya menginginkan dua hal pokok saja:

  1. Zona larangan terbang, untuk mengisolasi kekuatan rezim sekaligus mencegah serangan udara yang dilakukan mereka untuk membunuhi rakyat sipil melalui udara. Tapi permintaan ini tak digubris oleh PBB tidak juga Nato atau kekuatan-kekuatan internasional lainnya
  2. Zona aman evakuasi korban perang, untuk meminimalisir bertambahnya korban perang dan menyelamatkan mereka yang terluka. Tapi karena tidak adanya jaminan zona aman ini, tak sedikit para korban agresi udara rezim Assad yang makin parah kondisinya. Bahkan, tak bisa sampai di tempat pengungsian.

Meskipun tentunya ada satu tuntutan utama lainnya yang sudah bisa dipahami bersama, yaitu: lengsernya rezim Basyar al-Assad.

Respon yang cerdas justru dilakukan Khaled Mesy’al, pimpinan HAMAS tersebut mengatakan: “Kami tak rela jika seandainya harga pembebasan Palestina ditebus dengan genangan darah rakyat sipil di Suriah”. Karena sejatinya pergulatan di Suriah merupakan mata rantai dari masalah inti di Timur Tengah, yaitu permasalahan Palestina. Meskipun Suriah tercitrakan kontra terhadap Israel, faktanya militer Suriah lebih kejam mengarahkan senapan dan senjatanya ke rakyat sipil dibanding untuk melawan atau mengarahkannya ke Israel.

Tak jauh berbeda dengan Mesy’al, PM Turki, Erdogan beberapa waktu menanggapi rencana serangan udara AS ke Suriah, “Kami siap membantu segala upaya yang bisa mempercepat jatuhnya rezim Assad yang zhalim”. Erdogan tetap fokus pada permasalahan dan tak mencoba mengikuti alur deras yang didengungkan media internasional. Di saat yang sama ia terlihat smart, walau bagaimana ia takkan rela Suriah menjadi Iraq atau Afghanistan berikutnya. Ia tak terjebak wacana dilematis antara mendukung serangan udara yang bisa membahayakan siapa saja di Suriah dan antara anti serangan yang berarti pro rezim Assad. Nyatanya, Erdogan menegaskan sumber masalah yang terjadi di Suriah. Kezhaliman rezim yang melampaui batas.

***

Pun demikian, hampir tiga bulan terakhir dunia internasional juga dikejutkan dengan peristiwa kudeta militer yang dilakukan terhadap presiden Mesir terpilih, Dr. Muhammad Morsi.

Mengiringi kudeta ini korban nyawa melayang di depan markas pasukan khusus Garda Republik (haras jumhuri) kemudian pembantaian Rab’ah yang menginspirasi gerakan perlawanan dan denyut perlawanan terhadap kudeta militer.

Semula banyak yang melokalisir masalah di Mesir hanya terjadi antara Ikhwanul Muslimin sebagai partai pemenang pemilu versus para seteru politiknya dari oposisi liberal dan kaum sekuler. Tapi pelan namun pasti masalah sebenarnya semakin terkuak. Pasca kudeta militer 3 Juli  terhadap presiden Mesir terpilih masalah bergeser menjadi lebih besar. Setidaknya berikut ini tahapan pergeseran masalah tersebut:

  1. Ikhwanul Muslimin (dan koalisi pemerintah) versus oposisi liberal melalui berbagai media dan aksi demonstrasi. Disusul dengan keluarnya Partai An-Nur (Salafi) dari koalisi.
  2. Ikhwanul Muslimin (dan koalisi pemerintah) versus militer dan oposisi liberal pasca kudeta 3 Juli
  3. Ikhwanul Muslimin, koalisi islamis versus junta militer pasca penembakan militer di depan markas Garda Republik
  4. Demokrasi yang ditandai kemenangan IM dan partai-partai Islam versus junta militer (yang memanfaatkan/dimanfaatkan) sedikit dari kalangan/kelompok liberal
  5. Kemanusiaan versus kezhaliman yang dilakukan pemerintah junta militer Mesir

Peta konflik terakhir semakin meruncing dengan makin banyaknya penangkapan yang tidak rasional. Pelarangan liputan media (lokal/asing) terutama yang tajam mengritik kebijakan junta militer, seperti al-Jazeera yang ditangkap beberapa wartawannya dan diganggu sinyalnya, sebelumnya beberapa stasiun televisi lokal ditutup.

Kini model demonstrasi dan perlawanan terhadap rezim militer semakin variatif, inovatif dan berskala melumpuhkan. Demonstrasi dari yang sebelumnya turun ke jalan, kini beralih aksi menjadi pembangkangan sipil (al-ishyân al-madani).

Satu bulan setelah pembantaian Rab’ah al Adawiyah dan Nahdah Square (14/8) lalu demonstran anti kudeta memulai aksi mereka secara serentak. Beberapa saat setelah menyerukan untuk menolak membayar tagihan rekening listrik para aktivis anti kudeta melancarkan serangan baru yang cukup dahsyat.

Kali ini sasarannya adalah metro bawah tanah (subway). Ahad, (15/9) mereka menduduki beberapa stasiun utama. Mereka berdiam di atas metro dan memadati  stasiun selama tiga jam mulai pukul tujuh hingga sepuluh pagi. Mereka berkeliling dari stasiun ke stasiun lainnya. Tanpa keluar stasiun dan hanya berputar-putar saja keluar masuk metro. Aksi ini menyebabkan produktifitas metro lumpuh. Sehingga dalam waktu tiga jam saja perusahaan metro mengalami kerugian 1,5 juta pound Mesir.

Dalam aksi tersebut para demonstran tak melakukan perusakan fasilitas umum, mereka laiknya seperti penumpang biasa. Karena tampilan mereka biasa: tanpa simbol R4BIA, tanpa mushaf, tanpa atribut apa-apa bahkan mereka pun tidak saling berbincang satu sama lainnya. Sehingga pihak militer kesulitan melacak inisiator dan korlap aksi tersebut.

Setelah beristirahat empat jam mereka memulai aksi kembali di rush hour kedua (siang menjelang sore) saat orang-orang keluar kantor dan hendak kembali ke rumahnya. Yaitu jam dua siang (14.00 CLT)

Di lain kesempatan para pengendara mobil pribadi juga melakukan aksi pembangkangan sipil dengan turun ke jalan-jalan utama Kairo dan Giza dan memadatinya. Aksi ini juga tidak menyertakan simbol-simbol R4BIA dan anti militer.

Pemerintah militer semula hanya mengerahkan kesiagaannya menjelang hari Jumat yang sudah menjadi kebiasaan masyarakat untuk turun ke jalan ekspresikan sikap bersama mereka: melawan kudeta. Tapi kini respon masyarakat lebih kuat meski pemerintah memperpanjang masa darurat dua bulan lamanya. Satu yang pasti akan dicatat siapapun bahwa aksi-aksi perlawanan sipil ini dilakukan di saat penangkapan terhadap aktivis IM dan aktivis anti kudeta militer. Yang tersisa di jalan adalah para anak muda yang kreatif. Menyambungkan nurani mereka dengan keinginan rakyat yang sudah tak takut lagi dengan senjata atau berbagai intimidasi lainnya.

***

Damaskus dan Cairo dalam sejarahnya pernah menjadi benteng Palestina. Pernah menjadi pintu utama Syam yang mengisolasi kekuatan yang berada di Al-Quds, hingga akhirnya tunduk pada umat Islam. Umar bin Khattab dan Shalahuddin al-Ayubi menyontohkannya. Ketundukan yang kemudian membawa rahmat dan kemakmuran serta kedamaian, karena umat Islam memasukinya tanpa kekerasan bahkan membawa serta memelihara esensi kedamaian.

Maka, ketika pertempuran di Suriah makin sengit. Saat fakta di lapangan sang rezim hanya 20 % menguasai wilayah Suriah. Di tepian Damaskus pun sudah direbut oleh pasukan perlawanan. Semoga menjadi pertanda segera tumbangnya kezhaliman.

Saat Mesir dipenuhi oleh pembangkangan sipil masal yang terjadi di mana-mana. Di tabuh genderangnya dari Cairo dan disambut di Alexandria, Giza, Thanta dan berbagai kota lainnya. Pertanda bahwa senjata akan tumpul di depan kehendak rakyat.

Damaskus akan kembali tenang dengan punahnya rezim lalim yang angkuh yang tak pernah merasa berdosa bunuhi rakyatnya. Pun, Cairo akan kembali berkisah menjadi Sang Pemaksa (al-Qâhirah) yang akan paksa para durjana yang tak bernurani yang sanggup bunuhi rakyat sipil tanpa senjata yang ingin ekspresikan sikapnya. Dipaksa memilih antara dua: kehinaan atau tersingkir dari arena.

Dan saat suara kebesaran Allah menggema bebas di ribuan menara-menara rumah-Nya di Damaskus dan Cairo. Akan bersahut-sahutan segera di pusat negeri Syam sesungguhnya Bait al-Maqdis yang masih dikungkungi kezhaliman yang terorganisir.

Kemudian setelah itu menjadi pelengkap ketiga dari anjuran Baginda Rasul SAW dari sunnah berkelana: al-Masjid al-Haram, al-Masjid an-Nabawi serta Al-Masjid al-Aqsha.

Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman” (Ar-Rûm [30]: 47)

HasbunalLâhu wa ni’ma al-wakîl.

Catatan Keberkahan 014

Jakarta, 16.09.2013

Terinspirasi dari:

Perlawanan tanpa lelah rakyat Suriah dan pembangkangan sipil (al-Ishyân al-Madani) rakyat Mesir.

Catatan Keberkahan 13: INNÂLILLÂHI WA INNÂ ILAIHI RÂJI’ÛN

Dr. Saiful Bahri, M.A

“Saya sengaja membawa semua keluarga saya, istri dan anak-anak saya ke Istanbul” itulah kata-kata yang diucapkan almarhum Ahmad al-Barghawi ketika datang Istanbul untuk mengikuti acara Seminar Internasional Baitul Maqdis dan Muntada al-Ummah li Bait al-Maqdis (Forum Umat Islam untuk Bait al-Maqdis) yang merupakan rangkaian acara yang biasa dikenal mukhayyam ta’akhi atau mukhayyam al’usari al-maqdisy (Perkemahan Keluarga ). Beliau datang dua hari sebelum dimulainya acara.

“Sengaja demikian. Dua hari sebelumnya. Agar istri dan anak-anak saya bisa berjalan-jalan menikmati keindahan Istanbul. Selama ini karena banyaknya kewajiban dan tugas-tugas serta pekerjaan saya, mereka jarang sekali menikmati liburan, kebersamaan mereka dengan saya juga sedikit karena banyaknya aktivitas. Saya ingin menghibur mereka kali ini. Semuanya” tambahnya ketika ditanya teman dekatnya yang anggota Parlemen Tunis dari Partai Nahdhah.

Ternyata niatnya yang tulus untuk membahagiakan keluarganya dikabulkan Allah. Tekadnya yang kuat untuk menjadikan semua keluarganya peduli dengan al-Quds dan Palestina juga dikabulkan Allah. Dua keinginan tersebut dipenuhi oleh Allah. Beliau menemui ajalnya di utara Istanbul, tepatnya di sebuah rumah sakit di distrik Riva.

Baru saja sessi kedua akan dimulai, seminar Muntada (Forum Umat Islam Internasional) yang diadakan oleh Taim (Türk Arap İlişkileri Merkezi)- Center for Turkish Arab Relations yang bekerja sama dengan al-I’tilâf al-Âlami li nushrati al-Quds wa Filisthin (Aliansi Internasional untuk Pembelaan al-Quds dan Palestina). Sebagian besar peserta forum yang akan menuju auditorium utama dikejutkan oleh kerumunan masa di pantai yang terlihat berbagai tempat. Karena memang semua view menghadap ke pantai. Dari penginapan peserta, yang selain bertingkat juga berlapis, juga dari auditorium utama acara. Belakangan diketahui ternyata kerumunan orang tersebut sedang memberikan pertolongan pertama kepada seseorang yang tenggelam, sebagian lainnya menyaksikan dan mendoakannya.

Ahmad al-Barghawi, baru saja secara heroik menyelamatkan anak bungsunya, Ahmad Yasin, yang sedang terbawa ombak Laut Hitam yang tiba-tiba tak bersahabat, menguat dan membesar.  Sang anak –alhamdulillah- berhasil diselamatkan oleh kakak-kakaknya juga orang-orang yang berada tak jauh dari tempat itu. Tapi tubuh Syeikh Ahmad menjauh dan baru bisa ditepikan ketika dua anggota tim penyelamat pantai membawanya ke tepi dengan sketboath. Tak begitu lama kemudian sebuah ambulan datang ke hotel. Tapi masih saja tubuh syeikh tak merespon pertolongan yang dilakukan oleh tim resque. Kerumunan baru terlihat bubar ketika denyut jantung syeikh berdenyut kembali dan dipindahkan dari tepi pantai ke dalam ambulan untuk selanjutnya dibawa ke rumah sakit.

Alhamdulillah” orang-orang memanjatkan syukur sebagai pertanda membaiknya kondisi beliau sambil berharap semoga cepat siuman dan sadar kembali serta menjadi sehat seperti semula.

Sessi kedua dimulai dengan membahas hubungan Turki dan Bangsa Arab dalam sorotan. Ketika sessi kedua selesai, para peserta kembali dikejutkan dengan datangnya para polisi dengan beberapa mobil dan membuat police line di pantai. Beberapa orang di antaranya membawa petugas hotel untuk turun ke pantai. Beberapa saat kemudian sessi ketiga diteruskan, meski peserta berkurang jumlah pesertanya. Diskusi yang membahas masalah Suriah dan Mesir  berhenti beberapa menit sebelum adzan maghrib berkumandang. Pertanyaan para peserta pun kembali mengerucut: Ada olah TKP?

Pertanyaan tersebut segera terjawab setelah datang berita duka bahwa Syeikh ahmad al-Barghawi meninggal dunia. Wafat di rumah sakit. Saat perawatan lanjutan, karena air sudah jauh memasuki otak beliau. Innâ lilLâhi wa inna ilaihi râji’un.

Para peserta berduka, terutama delegasi dari Tunisia. Semua segera melakukan shalat Maghrib dan Isya yang ditutup dengan qunut, sebuah doa yang diperuntukkan kepada almarhum. Syeikh yang sudah berumur lebih dari enampuluh tahun itu adalah aktivis pembela Palestina. Hidup dan kegiatannya selalu dikaitkan dengan nafas pembelaan pada Palestina apapun judul dan motifnnya. Ideologis? Ya, karena beliau seorang muslim yang baik, bahkan satu di antara sekian da’i di negeri Tunis. Humanis? Ya, karena beliau tak rela ada manusia-manusia merdeka dinistakan dan direnggut kebebasannya, bahkan dihinakan dan dibunuhi serta dirusak kebersamaannya. Situs-situs Islam yang suci dan bersejarah dijarah dan terancam dihancurkan. Identitas para penghuninya dikaburkan atau diganti.

Beliau selalu berharap untuk gugur sebagai syahid dalam membela Palestina dan berusaha memebaskan Bait al-Maqdis yang sedang dijajah zionis Israel. Allah takdirkan beliau gugur di track yang berdekatan dengan syahid Bait al-Maqdis. Karena selain beliau tenggelam saat menyelamatkan anaknya, beliau juga sedang mengikuti acara besar yang merupakan pertemuan berbagai delegasi negara-negara dari berbagai penjuru dunia untuk berdiskusi dan bertukar pengalaman mencari jalan dan usulan mengakhiri kezhaliman dan ketidakadilan yang terjadi di Palestina serta hal-hal yang berhubungan di sekitarnya. Dan perkembangan terakhir yang sedang terjadi di Mesir dan Suriah.

Sudah tentu dengan kondisi demikian, acara pasti berubah format atau bisa bahkan diselesaikan.

Selesai berdoa untuk almarhum di masjid, para peserta yang sedianya bersantap makan malam, segera diarahkan ke auditorium utama untuk melakukan takziah kepada almarhum dan keluarganya serta delegasi dari Tunisia.

Keluarga almarhum masih di rumah sakit dengan beberapa delegasi Tunisia. Setelah dibacakan beberapa ayat al-Quran acara takziyah diisi dengan penyampaian kata-kata penghormatan dan penghargaan serta sambutan rasa bela sungkawa dan duka kepada almarhum. Dimulai dari perwakilan delegasi Tunis kemudian Jordan, Yaman, Iraq, juga dari Palestina dan beberapa negara lainnya.

Teman-teman dekatnya menyampaikan kalimat-kalimat takziyah dan bela sungkawa. Bahkan para peserta yang tak mengenalnya pun turut berduka, bertakziyah.

Allah memiliki cara untuk menyampaikan pesan penting melalui mushibah yang barangkali hanya biasa-biasa saja jika dilakukan melalui sarana diskusi dan lokakarya sebagaimana dijadwalkan semula. Tapi dengan renungan kematian ini semua menjadi terperangah, terkejut dan mengambil ibrahnya. Bukan pada kejadian sebelum meninggalnya beliau, tapi pada ajal yang menjemputnya saat ia ingin bahagiakan keluarganya, saat ia kerahkan keluarganya untuk warisi perjuangan membela al-Quds dan Palestina. Tak heran jika delegasi Aljazair menyebutnya telah mendapatkan al-husnayayain (dua kebaikan), yaitu bahagiakan keluarga dan wariskan perjuangan membela Palestina.

Delegasi Iraq bahkan mengumpamakannya dengan sebuah cerita. Konon ada seorang raja yang terluka tangannya, salah satu jarinya terputus, terpotong. Seorang penasehatnya mengiburnya seraya berkata, “Di dalam setiap musibah terdapat kebaikan. Demikian juga di balik terpotongnya jari paduka ada berbagai kebaikan”. Tak di sangka perkataan ini membuat sang raja marah dan kemudian menjebloskannya ke dalam penjara. Ia pun bergumam, “Di balik penjara pun pasti ada kebaikan yang diinginkan-Nya” tambahnya.

Suatu hari sang raja berburu. Tapi naas nasibnya, ia ditangkap segerombolan orang dari pedalaman hutan. Kemudian mereka berencana menjadikannya kurban yang disembekih yang adan dipersembahkan darah dan nyawanya kepada arwah leluhur sesembahan mereka. Tapi kepala suku menolak persembahan dikarenakan adanya cacat di tangannya. Salah satu jarinya terpotong. Sang raja pun di bebaskan. Ia pun kemudian memahami maksud perkataan penasehatnya yang ia penjarakan. Ia pun bergegas menemui penasehatnya. “Aku telah menemukan kebaikan di balik terpotonya jari tangan saya. Lalu apa yang Anda temukan dari kebaikan yang ada di balik penjara.” Sang penasehat menyahutnya segera, “Kebaikan yang saya dapatkan adalah, seandainya Paduka tak memenjarakan saya, maka Padukan akan angkat saya bergabung dengan peburuan Paduka. Dan ketika ikut bersama Anda bisa jadi saya tertangkap dan kemudian mati di tangan suku yang menangkap Anda. Itulah kebaikan yang saya dapatkan di penjara ini”

Syeikh Ahmad al-Barghawi telah pergi. Menemui Dzat yang dicintainya. Yang ia beramal untuk meninggikan agama-Nya. Meski ia berharap meninggal seperti para pejuang pembela Palestina di medan peperangan. Allah pilihkan cara untuk menyampaikan pesan kepada para aktivis yang sedang berkumpul bersamanya.

Allah kirimkan banyak kebaikan bersama kepergiannya:

  1. Allah sampaikan nasihat yang membangunkan orang-orang tidur. Menyadarkan orang-orang lalai. Menyengat dan menyemangatkan orang-orang yang mungkin sedikit lupa bahwa ia akan menemui ajalnya dengan cara yang tak diketahuinya. Tempat dan waktunya pun menjadi ghaib bagi siapa saja. Kematian. Sesuatu yang ditakuti para pecinta dunia dan sangat dirindukan oleh orang-orang yang mencintai pemilik segala.
  2. Allah mengirimkan pesan bahwa cita-cita mulia terus dibawa sepanjang usia, bahkan sampai pun jiwa sudah meninggalkan jasadnya. Maka menjadikannya menyebar, meluas, menebarkannya ke berbagai orbit kehidupan menjadi sebuah keniscayaan. Dan dimulai dari sebuah keluarga kecil. Anak dan istri serta keluarga dekat untuk mendengungkan impian mulia. Memperdengarkan berita-berita gembira yang disampaikan para sahabat kepada para penerusnya. Memberikan estafet cita-cita membela al-Quds dan Palestina. Sebagaimana yang almarhum contohkan. Mengerahkan segala yang ada padanya, dari waktu, potensi dan segala yang dikaruniakan padanya. Kemudian beliau salurkan semangat itu kepada orang-orang yang ada disekitarnya.
  3. Membahagiakan keluarga, menjadi keinginan setiap manusia. Tetapi beberapa diantaranya melakukannya dengan cara yang kadang mengeluarkan dari orbit kebahagiaan sesungguhnya. Sebagian membahagiakan keluarga dengan memberikan fasilitas materi dunia. Sebagian membahagiakan dengan menyintainya melebihi segalanya. Sehingga apapaun yang dicarinya selalu bermotif mendahulukan keluarga. Akhirnya menjadikannya buta dari halal dan haram. Allah dan Rasulnya dijauhkan dari nafas hidupnya.

Kepergian Syeikh Ahmad al-Barghawi mengirim pesan pada kita untuk tidak lupa memanusiakan istri dan anak-anak kita. Memberikan beberapa waktu untuk bahagikan mereka yang kadang terhalang karena banyaknya kesibukan kita. Tetapi tetap dalam orbit perjuangan. Tetap berada pada sunnah-Nya.

  1. Kepergian Syeikh al-Barghawi menyalakan semangat para peserta, sekaligus merupakan berita gembira. Kesulitan-kesulitan yang dialami umat Islam di mana-mana: dinistakan dan dibunuhi secara kejam di Suria dan Palestina. Dilemahkan dan dikejar-kejar seperti di Mesir dan Rohingya. Dan mulai diredupkan perannya di Tunis dan Libya. Sebagaimana pendahulu mereka ketika sampai ke jantung pemerintahan di Aljazair pada tahun 1992.
  2. Ditengah perdebatan dunia tentang ancaman serangan Amerika Serikat ke Suriah, kita terus mengingatkan diri dan orang-orang disekitar kita untuk tak lupa bahwa keinginan rakyat Suriah untuk membebaskan diri mereka dari berbagai kezhaliman yang membelenggu mereka puluhan tahun lamanya. Untuk ekspresikan ajaran Islam sebagaimana mestinya.
  3. sKudeta militer yang mulai terlihat hakikatnya dan pendukungnya. Pelan namun pasti Allah buka tabir kemunafikan dan hijab kedengkian yang melahap persahabatan dan persaudaraan yang sanggup menjadi motivasi berbuat kekejian di luar batas. Membunuh, menistakan, memfitnah dan merendahkan kemanusiaan.
  4. Kematiannya, bagaikan ghulam dalam cerita ashâbul uhdûd. Kematiannya menyalakan semangat tauhid. Kematiannya, bagaikan Hamzah dalam cerita Uhud. Yang menyulut semangat para pejuang untuk memenuhi panggilan jihad yang disampaikan Rasulullah untuk melanjutkan angkat senjata ke Hamra’ al-Asad. Kematiannya bagaikan, Zakaria dan Yahya yang nabi-nabi Allah tapi dinistakan kaumnya, kemudian menyalakan semangat bertahan di dada pengikut Isa hingga masa yang ditentukan Allah terlihatnya tanda-tanda kekuasaan-Nya melalui cerita Ashâbul Kahfi.

Innâ lilLâhi wa inna ilaihi râji’un. Semua kita berasal dari Allah, Dialah pemilik semua. Kepemilikan yang sempurna. Maka seharusnya hidup manusia semua diperuntukkan, dipersembahkan, ditujukan untuk memurnikan ibadah kepadanya. Inilah semangat inna lillah. Sehingga saat semua dikembalikan kepada Allah termasuk diri, jiwa atau pun apa saja yang bersama kita. Kita bisa benar-benar kembali kepada-Nya dengan sepenuh ridha-Nya. Kembali pada-Nya mendapatkan apa yang dijanjikannya, cinta dan surga-Nya. Berkumpul bersama orang-orang yang diberi nikmat dan cinta-Nya.

Berharap Allah segera hilangkan berbagai bentuk kezhaliman yang ada di dunia saat ini. Allah angkat derita para pengungsi Palestina, Suriah dan Rohingya. Allah balaskan keangkuhan Fir’aun-Fir’aun baru dengan segera tumbangkan kekuasaan dan kezhalimannya.

HasbunalLâhu wa ni’ma al-wakîl.

Catatan Keberkahan 013

Istanbul, 05.09.2013

Dedicated to: Syeikh Ahmad al-Barghawi, aktivis Palestina anggota delegasi Tunis pada Muntada al-Ummah li Bait al-Maqdis di Istanbul, Penasehat Menteri Urusan Agama Islam di Tunis.