PEREMPUAN SERIBU PERAN

Dr. Saiful Bahri, M.A

Seorang perempuan Palestina bisa merangkap banyak peran dalam dirinya, memerankan seribu peristiwa dan berbagai angel dan sudut pandang. Ibu dari seorang anak yang hilang atau diculik. Saudara dari seorang lelaki yang menjadi buronan. Istri seorang suami yang gugur syahid. Anak perempuan seorang bapak yang sudah lama diincar zionis dan akhirnya ditangkap atau dibunuh. Ibu dari sekian anak yang hidup di kamp pengungsian. Bibi yang hanya bisa mendengar berita pernikahan keponakannya atau berita gembira lainnya tanpa ia bisa mendatangi pesta syukuran karena tembok pemisah dan sulitnya memasuki wilayah Palestina, khususnya kota al-Quds. Semuanya bisa diperankan sekaligus oleh seorang perempuan yang sama. Perempuan Palestina.

Belum pernah terjadi di dalam perkembangan sejarah modern penduduk asli sebuah negara diganti dengan para imigran. Para pendatang yang dikerahkan dari berbagai negara itu menjadi sebuah negara baru di atas tanah rampasan. Tanah yang diberikan oleh Inggris yang hanya beberapa tahun menguasainya dengan penjajahan. Selain pengerahan imigran, kebijakan pembangunan ilegal juga terus digalakkan tanpa kompromi dan tidak memedulikan omongan dan resolusi internasional.

Kebijakan sepihak ini tentu merugikan penduduk asli. Setahun setelah deklarasi negara Israel, pada tahun 1949 setidaknya terdata 940.000 penduduk asli Palestina terusir dan berubah status menjadi pengungsi; seperti data yang dirilis PBB pada Januari 1949. Jumlah tersebut meningkat menjadi 960.000 jiwa pada tahun 1950. Dan data yang dikeluarkan UNRWA pada 30.06.1966 menyebutkan jumlah pengungsi Palestina bertambah menjadi 1.713.647 jiwa, terusir secara permanen dari wilayah Israel.

Kondisi sosial di Palestina bertambah buruk pasca perang Arab-Israel pada tahun 1967. Karena Israel menduduki Kota al-Quds Kuno (Jerussalem Timur). Padahal pada tahun 1947 wilayah tersebut termasuk wilayah netral, di bawah pengawasan internasional. Kota Kuno tersebut menjadi terkurung, terkucilkan sehingga misi penghancuran fisiknya semakin mudah dan sulit dibendung. Di tempat tersebut terdapat situs penting bagi umat Islam. Yaitu Masjid al-Aqsha. Dengan segala keterbatasan, muslimin dan muslimat al-Quds sangat sulit melakukan ibadah di masjid mereka sendiri. Penduduk Palestina di luar kota al-Quds menjadi sulit untuk mendatangi kota al-Quds, apalagi jika tujuannya untuk melakukan kunjungan dan shalat di Masjid al-Aqsha. Al-Maqdisi (penduduk beridentitas al-Quds) jika menikah dengan orang di luar kota al-Quds maka sudah pasti akan menemui masalah administrasi. Jika keluarga al-Quds melahirkan anaknya di luar kota al-Quds, juga dipastikan sang anak akan menemui kendala administratif.

Pelan namun pasti para pengungsi Palestina juga semakin menderita. Bukan hanya masalah umum yang dihadapi pengungsi, tapi akses langsung mereka ke keluarga yang masih ada di dalam Palestina atau di wilayah Israel menjadi semakin sulit hingga menjadi mustahil sama sekali.

Sebut saja, Yordania yang merupakan negera yang paling banyak menampung orang-orang Palestina yang terusir dari negaranya. Sejak resmi adanya Kedutaan Israel di Amman pada tahun 1996, maka akses pengungsi Palestina untuk masuk ke Palestina menjadi tertutup sama sekali.

Cerita-cerita itulah yang terus disambungkan oleh seorang ibu di kamp pengungsian kepada anaknya. Ia menjelaskan pada anaknya bahwa ada banyak saudaranya tersebar di mana-mana. Bibinya ada di kota Nablus. Mereka juga memiliki sepupu di sana. Bahkan sebagian ada yang terpisah, tinggal di Jalur Gaza. Pamannya dan anak-anaknya ada di kota Ramallah. Sang perempuan yang memerankan ibu itu juga menjelaskan bahwa ia memiliki kakak yang tak diketahui di mana keberadaannya. Masih hidup atau sudah meninggal dunia. Bahkan ia saksikan sendiri bagaimana ayahnya meregang nyawa di depannya, meninggal di pangkuannya tanpa sempat mendapatkan bantuan apa-apa, karena semua hanya berlangsung singkat, rumahnya dihancurkan tanpa tahu sebabnya tanpa bisa dipahami alasannya.

Itu adalah sepenggal kisah dari seorang perempuan yang memiliki peran utama sebagai ibu, kemudian bercerita sebagai saudara (adik atau kakak perempuan), sebagai bibi dan seorang anak perempuan. Perempuan petarung, pejuang yang kukuh.

Kekukuhan dan keteguhan yang diwarisi dari seorang perempuan Gaza, istri seorang alim yang menjanda di usia muda kemudian mempertahankan kegigihannya demi karir ilmiah anaknya. Ia antarkan langsung anak yatimnya menekuni pelajaran al-Quran di Mekah. Hingga berprestasi dan mendapatkan beasiswa melanjutkan pendidikan di Madinah, menjadi murid seorang guru besar, Imam Malik ra.

Itulah Syafi’i kecil yang ditempa kegigihan ibunya. Kemiskinan tak menjadikannya menyerah meraih kemuliaan menuntut ilmu, berkelana dari satu negeri ke negeri-negeri lainnya. Dan kini kita mengenalnya sebagai salah satu alim dari ulama asal negeri Palestina yang pengikutnya tersebar di mana-mana, al-Imâm asy-Syâfi’i satu dari empat imam madzhab yang dikenal dunia.

Sebagaimana keterbatasan fasilitas kehidupan di Gaza, tak melemahkan semangat hidup para penduduknya. Tak membuat mereka menyerah pada penjajahan Israel. Hingga pada tahun 2005 Israel harus memutuskan menarik semua pasukannya dari wilayah tersebut. Kini, pelan namun pasti pemerintah otoritas Palestina di Gaza telah mendidik warganya untuk berswasembada pangan. Tanah-tanah bekas jajahan dan rampasan Israel itu disulap menjadi lahan pertanian dan perkebunan yang luas. Ada banyak bendera dari berbagai negara di sana. Menginvestasikan harta jihad mereka di tanah yang kini menjadi hijau terbentang di tengah-tengah wilayah Gaza. Wilayah tersebut dikenal dengan al-muharrarât (yang dibebaskan). Sayur-sayuran segar mudah dijumpai di sana. Buah-buahan ranum juga tak sulit ditemui. Perkebunan zaitun yang sangat menguntungkan karena bisa dijadikan banyak produk termasuk untuk diekspor. Hanya saja mereka menemui kendala strategis bernama PERBATASAN dan Bandar Udara.

Maka, penutupan perbatasan oleh pihak Mesir sama halnya mengakhiri proses kebangkitan bangsa yang tak kenal menyerah itu. Karena perbatasan merupakan salah satu nadi kehidupan penduduk Gaza.

Jadi, permasalahan pengungsian di atas tidaklah sekedar permasalah data dan update angka-angka. Karena ada sekian keluarga besar yang dipecah-pecah dan dipisahkan satu dengan lainnya.

Permasalahan pengungsian bukanlah sekedar masalah tanah mereka yang ditinggalkan secara paksa. Karena dibaliknya ada pembangunan pemukiman-pemukiman ilegal yang tak bisa dihentikan oleh apa dan siapapun serta pihak manapun. Karena pelakunya adalah para penjajah yang tak lagi memiliki rasa kemanusiaan.

Permasalahan pengungsian tidaklah sekedar menampung secara fisik orang-orang Palestina yang terusir tersebut. Karena dibaliknya menyimpan misi pengaburan masalah sesungguhnya. Pelan namun pasti kota al-Quds dikooptasi dan Masjid al-Aqsha benar-benar terancam dihancurkan dan dihilangkan identitasnya karena akses ke sana makin sulit. Hanya sedikit dipermudah bagi mereka yang berusia di atas enam puluh tahun umurnya.

Masalah pengungsian bukan sekedar bercerita tentang duka dan nestapa. Karena ada sharing kebahagiaan yang tertunda dan belum sempurna atau terbatasi oleh dinding-dinding pemisah. Seseorang yang menikah di kota (A) tak bisa dihadiri pesta walimahnya oleh keluarga besarnya yang ada di kota (B). Sang mahasiswa berprestasi baru saja diwisuda yang dinyatakan sebagai alumni terbaik sebuah universitas. Dalam acara tasyakurannya kebahagiaan itu menjadi sirna, karena paman dan ayahnya berada di balik jeruji besi, tahanan zionis Israel. Seorang perempuan baru saja melahirkan anak kelimanya, ia hendak berbagi kebahagiaannya kepada adik-adiknya. Tapi, mereka hanya bisa mendengarkan cerita dan tangis tawa serta celoteh si bayi dari balik sebuah telepon genggam yang pulsanya juga sangat terbatas.

Di Jordania… sebuah keluarga sukses kembali bertutur cerita bahwa ia memiliki keluarga di Nablus dan Jabal Thur di Jerussalem. Kini mereka hanya bisa mengingat 20% saja dari keluarga besar (dahulu) yang pernah ada. Adapun 80% sisanya mereka tak bisa mengenal mereka lagi. Di mana keberadaannya? Bagaimana nasibnya? Siapa saja nama anak-anaknya? Sekolah atau bekerja di mana? Dan berapa kini jumlah keluarga besar itu?

Sang perempuan itu terus menuturkan harapannya, terus nyalakan obesinya, panjatkan doa-doa dan tularkan semangat pada putra-putrinya untuk mengakrabi al-Quran, menghafal dan menadabburinya, mengamalkan dan mengajarkannya. Terus dengungkan di telinga-telinga mereka ayat Allah Sang Maha Perkasa yang berkehendak kumpulkan mereka semua. Yang mampu bertitah turunkan Isa al-Masih sucikan kota al-Quds dari para durjana. Yang mampu turunkan pasukan langitnya menggulung kezhaliman yang setiap saat terjadi di tanah suci. Yang mampu hapuskan nestapa dan derita bangsa Palestina, gantikan kemenangan dan kemudahan bersujud di rumah-Nya, Masjid al-Aqsha.

Karena ada banyak alasan untuk tidak menyerah di hadapan kezhaliman yang sudah pasti akan berakhir dengan hina.

Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman” (Ar-Rûm [30]: 47)

HasbunalLâhu wa ni’ma al-wakîl.

Catatan Keberkahan 012

Jakarta, 04.08.2013

Memoar:

Kunjungan penulis ke Gaza, akhir Januari 2013 dan mengenang Safari Ramadhan 1434 H bersama peneliti Bait al-Maqdis dan Negeri Syâm asal Palestina Mr. Asad Ya’qub at-Tamimy dan Mrs. Ebtihal Kamil dengan Asia Pacific Community for Palestine di Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s