PEREMPUAN SERIBU PERAN

Dr. Saiful Bahri, M.A

Seorang perempuan Palestina bisa merangkap banyak peran dalam dirinya, memerankan seribu peristiwa dan berbagai angel dan sudut pandang. Ibu dari seorang anak yang hilang atau diculik. Saudara dari seorang lelaki yang menjadi buronan. Istri seorang suami yang gugur syahid. Anak perempuan seorang bapak yang sudah lama diincar zionis dan akhirnya ditangkap atau dibunuh. Ibu dari sekian anak yang hidup di kamp pengungsian. Bibi yang hanya bisa mendengar berita pernikahan keponakannya atau berita gembira lainnya tanpa ia bisa mendatangi pesta syukuran karena tembok pemisah dan sulitnya memasuki wilayah Palestina, khususnya kota al-Quds. Semuanya bisa diperankan sekaligus oleh seorang perempuan yang sama. Perempuan Palestina.

Belum pernah terjadi di dalam perkembangan sejarah modern penduduk asli sebuah negara diganti dengan para imigran. Para pendatang yang dikerahkan dari berbagai negara itu menjadi sebuah negara baru di atas tanah rampasan. Tanah yang diberikan oleh Inggris yang hanya beberapa tahun menguasainya dengan penjajahan. Selain pengerahan imigran, kebijakan pembangunan ilegal juga terus digalakkan tanpa kompromi dan tidak memedulikan omongan dan resolusi internasional.

Kebijakan sepihak ini tentu merugikan penduduk asli. Setahun setelah deklarasi negara Israel, pada tahun 1949 setidaknya terdata 940.000 penduduk asli Palestina terusir dan berubah status menjadi pengungsi; seperti data yang dirilis PBB pada Januari 1949. Jumlah tersebut meningkat menjadi 960.000 jiwa pada tahun 1950. Dan data yang dikeluarkan UNRWA pada 30.06.1966 menyebutkan jumlah pengungsi Palestina bertambah menjadi 1.713.647 jiwa, terusir secara permanen dari wilayah Israel.

Kondisi sosial di Palestina bertambah buruk pasca perang Arab-Israel pada tahun 1967. Karena Israel menduduki Kota al-Quds Kuno (Jerussalem Timur). Padahal pada tahun 1947 wilayah tersebut termasuk wilayah netral, di bawah pengawasan internasional. Kota Kuno tersebut menjadi terkurung, terkucilkan sehingga misi penghancuran fisiknya semakin mudah dan sulit dibendung. Di tempat tersebut terdapat situs penting bagi umat Islam. Yaitu Masjid al-Aqsha. Dengan segala keterbatasan, muslimin dan muslimat al-Quds sangat sulit melakukan ibadah di masjid mereka sendiri. Penduduk Palestina di luar kota al-Quds menjadi sulit untuk mendatangi kota al-Quds, apalagi jika tujuannya untuk melakukan kunjungan dan shalat di Masjid al-Aqsha. Al-Maqdisi (penduduk beridentitas al-Quds) jika menikah dengan orang di luar kota al-Quds maka sudah pasti akan menemui masalah administrasi. Jika keluarga al-Quds melahirkan anaknya di luar kota al-Quds, juga dipastikan sang anak akan menemui kendala administratif.

Pelan namun pasti para pengungsi Palestina juga semakin menderita. Bukan hanya masalah umum yang dihadapi pengungsi, tapi akses langsung mereka ke keluarga yang masih ada di dalam Palestina atau di wilayah Israel menjadi semakin sulit hingga menjadi mustahil sama sekali.

Sebut saja, Yordania yang merupakan negera yang paling banyak menampung orang-orang Palestina yang terusir dari negaranya. Sejak resmi adanya Kedutaan Israel di Amman pada tahun 1996, maka akses pengungsi Palestina untuk masuk ke Palestina menjadi tertutup sama sekali.

Cerita-cerita itulah yang terus disambungkan oleh seorang ibu di kamp pengungsian kepada anaknya. Ia menjelaskan pada anaknya bahwa ada banyak saudaranya tersebar di mana-mana. Bibinya ada di kota Nablus. Mereka juga memiliki sepupu di sana. Bahkan sebagian ada yang terpisah, tinggal di Jalur Gaza. Pamannya dan anak-anaknya ada di kota Ramallah. Sang perempuan yang memerankan ibu itu juga menjelaskan bahwa ia memiliki kakak yang tak diketahui di mana keberadaannya. Masih hidup atau sudah meninggal dunia. Bahkan ia saksikan sendiri bagaimana ayahnya meregang nyawa di depannya, meninggal di pangkuannya tanpa sempat mendapatkan bantuan apa-apa, karena semua hanya berlangsung singkat, rumahnya dihancurkan tanpa tahu sebabnya tanpa bisa dipahami alasannya.

Itu adalah sepenggal kisah dari seorang perempuan yang memiliki peran utama sebagai ibu, kemudian bercerita sebagai saudara (adik atau kakak perempuan), sebagai bibi dan seorang anak perempuan. Perempuan petarung, pejuang yang kukuh.

Kekukuhan dan keteguhan yang diwarisi dari seorang perempuan Gaza, istri seorang alim yang menjanda di usia muda kemudian mempertahankan kegigihannya demi karir ilmiah anaknya. Ia antarkan langsung anak yatimnya menekuni pelajaran al-Quran di Mekah. Hingga berprestasi dan mendapatkan beasiswa melanjutkan pendidikan di Madinah, menjadi murid seorang guru besar, Imam Malik ra.

Itulah Syafi’i kecil yang ditempa kegigihan ibunya. Kemiskinan tak menjadikannya menyerah meraih kemuliaan menuntut ilmu, berkelana dari satu negeri ke negeri-negeri lainnya. Dan kini kita mengenalnya sebagai salah satu alim dari ulama asal negeri Palestina yang pengikutnya tersebar di mana-mana, al-Imâm asy-Syâfi’i satu dari empat imam madzhab yang dikenal dunia.

Sebagaimana keterbatasan fasilitas kehidupan di Gaza, tak melemahkan semangat hidup para penduduknya. Tak membuat mereka menyerah pada penjajahan Israel. Hingga pada tahun 2005 Israel harus memutuskan menarik semua pasukannya dari wilayah tersebut. Kini, pelan namun pasti pemerintah otoritas Palestina di Gaza telah mendidik warganya untuk berswasembada pangan. Tanah-tanah bekas jajahan dan rampasan Israel itu disulap menjadi lahan pertanian dan perkebunan yang luas. Ada banyak bendera dari berbagai negara di sana. Menginvestasikan harta jihad mereka di tanah yang kini menjadi hijau terbentang di tengah-tengah wilayah Gaza. Wilayah tersebut dikenal dengan al-muharrarât (yang dibebaskan). Sayur-sayuran segar mudah dijumpai di sana. Buah-buahan ranum juga tak sulit ditemui. Perkebunan zaitun yang sangat menguntungkan karena bisa dijadikan banyak produk termasuk untuk diekspor. Hanya saja mereka menemui kendala strategis bernama PERBATASAN dan Bandar Udara.

Maka, penutupan perbatasan oleh pihak Mesir sama halnya mengakhiri proses kebangkitan bangsa yang tak kenal menyerah itu. Karena perbatasan merupakan salah satu nadi kehidupan penduduk Gaza.

Jadi, permasalahan pengungsian di atas tidaklah sekedar permasalah data dan update angka-angka. Karena ada sekian keluarga besar yang dipecah-pecah dan dipisahkan satu dengan lainnya.

Permasalahan pengungsian bukanlah sekedar masalah tanah mereka yang ditinggalkan secara paksa. Karena dibaliknya ada pembangunan pemukiman-pemukiman ilegal yang tak bisa dihentikan oleh apa dan siapapun serta pihak manapun. Karena pelakunya adalah para penjajah yang tak lagi memiliki rasa kemanusiaan.

Permasalahan pengungsian tidaklah sekedar menampung secara fisik orang-orang Palestina yang terusir tersebut. Karena dibaliknya menyimpan misi pengaburan masalah sesungguhnya. Pelan namun pasti kota al-Quds dikooptasi dan Masjid al-Aqsha benar-benar terancam dihancurkan dan dihilangkan identitasnya karena akses ke sana makin sulit. Hanya sedikit dipermudah bagi mereka yang berusia di atas enam puluh tahun umurnya.

Masalah pengungsian bukan sekedar bercerita tentang duka dan nestapa. Karena ada sharing kebahagiaan yang tertunda dan belum sempurna atau terbatasi oleh dinding-dinding pemisah. Seseorang yang menikah di kota (A) tak bisa dihadiri pesta walimahnya oleh keluarga besarnya yang ada di kota (B). Sang mahasiswa berprestasi baru saja diwisuda yang dinyatakan sebagai alumni terbaik sebuah universitas. Dalam acara tasyakurannya kebahagiaan itu menjadi sirna, karena paman dan ayahnya berada di balik jeruji besi, tahanan zionis Israel. Seorang perempuan baru saja melahirkan anak kelimanya, ia hendak berbagi kebahagiaannya kepada adik-adiknya. Tapi, mereka hanya bisa mendengarkan cerita dan tangis tawa serta celoteh si bayi dari balik sebuah telepon genggam yang pulsanya juga sangat terbatas.

Di Jordania… sebuah keluarga sukses kembali bertutur cerita bahwa ia memiliki keluarga di Nablus dan Jabal Thur di Jerussalem. Kini mereka hanya bisa mengingat 20% saja dari keluarga besar (dahulu) yang pernah ada. Adapun 80% sisanya mereka tak bisa mengenal mereka lagi. Di mana keberadaannya? Bagaimana nasibnya? Siapa saja nama anak-anaknya? Sekolah atau bekerja di mana? Dan berapa kini jumlah keluarga besar itu?

Sang perempuan itu terus menuturkan harapannya, terus nyalakan obesinya, panjatkan doa-doa dan tularkan semangat pada putra-putrinya untuk mengakrabi al-Quran, menghafal dan menadabburinya, mengamalkan dan mengajarkannya. Terus dengungkan di telinga-telinga mereka ayat Allah Sang Maha Perkasa yang berkehendak kumpulkan mereka semua. Yang mampu bertitah turunkan Isa al-Masih sucikan kota al-Quds dari para durjana. Yang mampu turunkan pasukan langitnya menggulung kezhaliman yang setiap saat terjadi di tanah suci. Yang mampu hapuskan nestapa dan derita bangsa Palestina, gantikan kemenangan dan kemudahan bersujud di rumah-Nya, Masjid al-Aqsha.

Karena ada banyak alasan untuk tidak menyerah di hadapan kezhaliman yang sudah pasti akan berakhir dengan hina.

Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman” (Ar-Rûm [30]: 47)

HasbunalLâhu wa ni’ma al-wakîl.

Catatan Keberkahan 012

Jakarta, 04.08.2013

Memoar:

Kunjungan penulis ke Gaza, akhir Januari 2013 dan mengenang Safari Ramadhan 1434 H bersama peneliti Bait al-Maqdis dan Negeri Syâm asal Palestina Mr. Asad Ya’qub at-Tamimy dan Mrs. Ebtihal Kamil dengan Asia Pacific Community for Palestine di Jakarta.

Khutbah Idul Fitri 1434 H

PUSARAN-PUSARAN KEBAIKAN DAN ENDING KEZHALIMAN

Dr. H. Saiful Bahri, M.A

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الله أكبر (9  مرات) . الله أكبر كبيراً والحمد لله كثيراً. وسبحان الله بكرةً وأصيلاً. لا إله إلاّ الله والله أكبر، الله أكبر ولله الحمد. الحمد لله الذي فرض علينا الصيام وبعث لنا خير الأنام. أشهد أن لا إله إلاّ الله وحده، صَدَقَ وعْدَه ونصَر عبْدَه وأعزّ جُنْدَه وهزَم اْلأحْزَابَ وحدَه، وأشهد أنّ محمداً عبده ورسوله لا نبي بعد، فصلوات الله وسلامُه على هذا النبي الكريم وعلى آله وذريته وأصحابه أجمعين. أمّا بعد، فيا عباد الله أوصي نفسي وإياكم بتقوى الله، إنه من يتق ويصبر فإن الله لا يضيع أجر المحسنين. يقول المولى عز وجل: ﴿ وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُوَ يُدْعَىٰ إِلَى الْإِسْلَامِ ۚ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ﴾ (الصف: 7). طِبْتُمْ وطابَ ممْشَاكُمْ وتَبَوّأتمْ مِن الجنّة منزلاً .

Allahu Akbar x 3, walillahil hamd

Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah.

Segala puji dan syukur kita kumandangkan di tempat ini. Menandai kemenangan yang dikaruniakan Allah Swt. Sebuah kemenangan yang diraih melalui sebuah proses. Melalui sebuah pengondisian. Melalui kucuran rahmat, maghfirah dan kelembutan Allah. Melalui kebersamaan. Membingkai kasih sayang. Meredam iri dan dengki serta permusuhan. Menjadi sebuah satu. Satu pembebasan dari murka dan kemarahan Allah, berharap ganti ridho dan cinta-Nya yang akan angkat kita ke derajat orang-orang dekat-Nya, derajat orang bertakwa.

Simaklah panggilan lembut-Nya tatkala mewajibkan puasa terhadap kita. Dia menggunakan panggilan khusus yang bahkan sebelumnya tak pernah dikenal oleh Bangsa Arab. (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا) “wahai orang-orang yang beriman”. Secara eksplisit panggilan seperti ini hanya dipakai pada surat atau ayat-ayat yang turun di Madinah; yaitu diulang sebanyak delapan puluh sembilan (89) kali. Mengindikasikan banyak hal; di antaranya:

  1. Panggilan tersebut adalah panggilan sayang dan cinta karena menonjolkan pemenuhan perintah untuk mengimani Allah, Rasul dan seterusnya. Sekaligus berfungsi sebagai pujian.
  2. Panggilan tersebut selalu digunakan dalam bentuk plural. Menandakan bahwa dalam kondisi bersama dan berkelompok lebih mudah dan memungkinkan untuk mengapresiasikan keimanan dan perilaku keagamaan. Sekaligus perintah untuk merekayasa kebaikan secara sosial. Seperti pendidikan Ramadan, tatkala banyak orang berpuasa (wajib), kemudian membiasakan baca al-Quran, qiyamullail (tarawih dan tahajud), berdoa, bersedekah, silaturahmi dan sebagainya. Maka secara tak sadar kita lebih mudah melakukan hal-hal tersebut. Saat itu orang yang terbaik di antara kita adalah benar-benar orang berkualitas sebagai cerminan doa ibâdurrahmân (وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا) “jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang bertakwa”. Itu adalah permohonan menjadi yang terbaik di antara orang-orang baik.

ALLAH telah turunkan di bulan Ramadan beberapa pusaran kebaikan. Membahas taklif ini kita perlu sisir semua ayat yang berkaitan dengan puasa. Minimal ayat-ayat 183-187 dari QS. Al-Baqarah. Setidaknya ada beberapa poin pusaran kebaikan tersebut:

  1. Puasa yang diwajibkan menjadi kebiasaan sebulan penuh, padahal ibadah ini di luar bulan Ramadan menjadi luar biasa dan hanya dilakukan oleh orang khusus saja (QS. 2: 183) bertemakan pengendalian diri dari yang diperbolehkan, self control, kejujuran, kepekaan sosial sekaligus totalitas ketaatan.
  2. Allah sempurnakan setelahnya dengan menyebut bulan Ramadan sebagai waktu yang di dalamnya diturunkan al-Quran (QS. 2: 184). Ini menandakan di bulan ini kita diminta Allah untuk tingkatkan interaksi dengan al-Quran (membaca, menadabburi, mengajarkan, menebar kebaikan dan hikmahnya disamping tentunya mengamalkan isinya). Bahkan Allah turunkan sebuah surat khusus yang membahas kemuliaan sebuah malam yang dijadikan fasilitas turunnya al-Quran, yaitu malam lailatul qadar. Yang nilainya melebihi seribu bulan. Bukan sama dengan, tetapi lebih baik dari. Dan derajat kebaikan tersebut hanya Allah saja yang mengetahuinya. Allah juga tak katakan, malam tersebut lebih baik dari seribu malam. Barangkali ini memberi support bagi para pecinta al-Quran agar ia semakin bersentuhan dengan al-Quran untuk raih kemuliaan yang melebihi seribu komunitas, atau jauh di atas 30.000 orang lainnya. Karena bulan adalah kumpulan/komunitas malam-malam biasa. Dan hanya satu yang diistimewakan-Nya, malam lailatul qadar.
  3. Diayat selanjutnya Allah beritakan bahwa Dia sangatlah dekat dengan hamba-Nya (QS. 2: 186). Barangkali inilah kedekatan tanpa sekat, yang menandakan Dia berikan perlakuan khusus bagi siapa saja yang berdzikir dan memohonnya melalui doa. (أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ). Maka berdoa menjadi ibadah yang dianjurkan di bulan ini. Allah angkat derajat dan nilai doa di bulan ini melebihi di bulan lainnya.
  4. Allah memerintahkan kita untuk mengakhirkan sahur, merupakan kebaikan yang luar biasa (QS. 2: 187). (وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ) Hal tersebut dimaksudkan supaya kita kemudian ringan langkahkan kaki untuk tunaikan shalat shubuh di masjid atau musholla. Allah mudahkan shalat shubuh bagi kita, shalat yang sangat berat bagi orang-orang munafik. Ini pertanda sayang Allah, jauhkan kita dari sifat tersebut.
  5. Pemenuhan hak-hak keluarga. Lihatlah betapa lembutnya Allah sindir kita untuk tetap penuhi hak-hak keluarga kita di malam-malam bulan Ramadan, di saat Dia melarangnya di siang hari (QS. 2: 187). (أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَائِكُمْ ۚ هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ) karena ibadah tidaklah identik dengan mengesampingkan fitrah manusiawi, tidak identik dengan terlantarkan hak keluarga untuk disayangi dan diperhatikan. Ini sekaligus sebagai mukaddimah nantinya saat Allah sunnahkan i’tikaf akan lebih mudah mengkondisikan keluarga dan meninggalkan sementara kedekatan dengan mereka (وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ).
  6. Di bulan ini Allah juga didik kita untuk senantiasa hidupkan malam-malamnya dengan shalat, berdzikir dan mengakrabi al-Quran. Baginda Nabi Muhammad SAW bersabda: (من قام رمضان إيمانا واحتسابا، غفر له ما تقدم من ذنبه) [HR. Bukhari Muslim dari Abu Hurairah ra.] secara labih khusus beliau juga menyarankan kita untuk perbanyak qiyamullail sebagai sarana raih lailatul qadar (من قام ليلة القدر إيمانا واحتسابا، غفر له ما تقدم من ذنبه)
  7. Selain hal-hal di atas Allah juga kondisikan umat Islam untuk gemar bersedekah dan tunaikan zakatnya, gemar silaturrahmi dan menyemai kelembutan serta perbanyak maaf demi raih maghfirah dan ampunan Allah. Dengan banyak memaafkan, tak berlebihan jika seseorang kemudian mengharap maaf dari Sang Maha Pengampun. Ada banyak pusaran-pusaran kebaikan lainnya yang Allah kondisikan dan permudah untuk dihadiahkan kepada hamba-Nya yang tekun mencari.

(يا باغي الخير أقبل ●  ويا باغي الشر أقصر)

Wahai pemburu kebaikan terimalah●  wahai pelaku keburukan berhentilah

 

Allahu Akbar x 3, walillahil hamd

Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah

Hari kemenangan ini pula menandakan dahsyatnya kekuatan cinta dan kebaikan. Hari kemenangan yang dirayakan dan disunnahkan untuk siapa saja; tua muda, besar kecil, lelaki dan perempuan. Semua disarankan berpartisipasi di dalamnya. Di sebuah tanah lapang dan tempat terbuka, menampung segala bentuk kebahagian yang diframe dengan ketaatan dan ketundukan pada Allah. Bukti kesanggupan menerima titah-Nya selama sebulan penuh serta tekad melanjutkan spiritnya selama sebelas bulan sisanya.

Hari ini, kita juga menyingkirkan segala representasi kezhaliman. Sombong, angkuh, dengki, iri, permusuhan, saling curiga, menindas dan sebagainya. Karena tak ada lagi tempat bagi kezhaliman untuk bersemayam dalam diri kita, apalagi kita biarkan tersebar ke tengah-tengah masyarakat.

Kezhaliman yang selama ini ikonik dengan simbol Firaun selalu diulang-ulang pembahasannya di dalam al-Quran. Supaya kita ambil ibroh dan pelajaran agar kita tak terjebak di dalamnya, ikut mempraktekkan ataupun melakukan pembiaran terhadap terjadinya kezhaliman.

Mari renungi tabiat-tabiat kezhaliman Firaun:

  1. Merasa menjadi yang tertinggi dan tak tertandingi, menahbiskan dirinya sebagai tuhan (أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَىٰ) “Akulah tuhanmu yang paling tinggi” (QS. An-Nâzi’ât [79]: 24), dewa yang disembah dan dielu-elukan. Tak terbantahkan titahnya, dikelilingi puji-pujian yang sebenarnya hanya keluar dari para penjilat di sekelilingnya.
  2. Merasionalisasikan kezhalimannya dengan merakayasa dukungan rakyatnya melalui berbagai media padahal sang zhalim tak perlu izin dan rasionalisasi untuk melakukan kezhaliman. (وَقَالَ فِرْعَوْنُ ذَرُونِي أَقْتُلْ مُوسَىٰ وَلْيَدْعُ رَبَّهُ ۖ) “Dan berkata Fir’aun (kepada pembesar-pembesarnya): “Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Tuhannya…” (QS. Ghafir [40]: 26). Dan karena sebelumnya pun ia tak perlu alasan untuk membunuhi bayi-bayi lelaki Bani Israel, hanya karena mimpi dan selalu terhalusinasi serta terobsesi oleh bunga tidur yang sangat menakutinya.
  3. Melakukan tekanan psikis (psy war). (قَالَ أَلَمْ نُرَبِّكَ فِينَا وَلِيدًا وَلَبِثْتَ فِينَا مِنْ عُمُرِكَ سِنِينَ) (QS. Asy-Syu’arâ [26]: 18). Firaun ungkit budi baiknya pada Musa agar ia jatuh mentalnya serta urungkan untuk mendakwahinya dan hentikan kezhaliman yang dilakukannya.
  4. Pemutarbalikan fakta (إِنِّي أَخَافُ أَن يُبَدِّلَ دِينَكُمْ أَوْ أَن يُظْهِرَ فِي الْأَرْضِ الْفَسَادَ) “karena sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan kerusakan di muka bumi” (QS. Ghafir [40]: 26) Siapa sesungguhnya yang berbuat kerusakan dan takut posisinya tergeser oleh Musa?

Dan nampaknya kisah kezhaliman ini tak berhenti, meski sangat ikonik dengan simbol zhalim, tokohnya akan terus berganti. Firaun memang terbujur kaku di museum Tahrir, Cairo di Mesir. Tetapi menitis pada setiap kezhaliman yang terjadi setelahnya.

Simaklah kisah pembantaian umat Islam di Suriah. Dan kini parade kezhaliman sedang dipertontonkan kepada dunia, melalui kudeta militer terhadap pemimpin negeri Mesir yang terpilih secara demokratis. Padahal dalam sejarah negeri itu, para aktivis Islam ketika kalah dalam pemilihan, mereka tetap menerima hasilnya, meski prosesnya penuh kecurangan. Namun, tampaknya kezhaliman tak perlu demokrasi dan harus menunggu empat atau lima tahun lagi. Maka kezhaliman padu dengan ketergesa-gesaan dan kecerobohan. Nyawa-nyawa yang melayang pun seolah tak berharga, dengan mengatasnamakan rakyat mereka tulikan telinga untuk dengar aspirasi rakyat yang lainnya yang sebelumnya telah memenangkan pemilu.

Padahal hancurnya dunia lebih ringan bagi Allah dibanding hilangnya satu nyawa seorang mukmin. Dan karena “barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya.” (QS. Al-Maidah: 32)

Para pejuang HAM pun mendadak diam, enggan sampaikan dukungan atau sekedar ungkap dan tuliskan fakta. Media pun tersetting untuk memback up kezhaliman ini, atau setidaknya mendiamkannya.

Tapi yang pasti kezhaliman akan menemui endingnya yang hina. Firaun menjemput kematiannya dengan tenggelam. Sebagaimana Namrud, ikon kezhaliman sebelumnya yang mati “hanya” melalui seekor nyamuk yang masuk di dalam hidungnya. Abu Jahal, sang zhalim yang lain juga menemui ajalnya di tangan dua orang anak kecil (Muadz dan Mu’awidz), bukan di tangan petarung dan jagoan. Itulah cara kematian yang terhina.

Mudah-mudahan Allah pelihara kita untuk tetap berada dalam pusaran-pusaran kebaikan, sehingga kita selalu mudah melakukan kebaikan dan memiliki kepuasan melaksanakan dan menebarkannya kepada sebanyak mungkin makhluk-Nya. Serta dijauhkan dari orbit-orbit kezhaliman, mempraktekkannya ataupun mendiamkannya atau bahkan mendukungnya secara membabi buta dikarenakan silau dengan materi dunia dan gila jabatan serta popularitas.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اللهم صل علي سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم .اللهمّ اغفر لجميع المسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأموات إنك سميع قريب مجيب الدعوات. اللهم تقبل صلاتنا وقيامنا وصيامنا وركوعنا وسجودنا وتلاوتنا وصدقاتنا وأعمالنا، وتمّم تقصيرنا يا رب العالمين. اللهمّ إنك عفو تحبّ العفو فاعف عنا يا كريم. اللهمّ توفنا مسلمين وألحقنا بالصالحين . اللهمّ انصر إخواننا المستضعفين في فلسطين وفي سوريا وفي مصر وسائر بلاد المسلمين. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار. والحمد لله رب العالمين

تقبل الله منا ومنكم وكل عام وأنتم بخير وإلى الله أقرب وعلى طاعته أدوم

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Jakarta, 01 Syawal 1434 H

          08 Agustus 2013M

Kampus Universitas Pancasila – Jakarta Selatan

*) Shalat dan Khutbah Idul Fitri mengikuti jadwal dan penetapan dalam sidang istbat Pemerintah RI, melalui Kementrian Agama RI yang mengundang pihak-pihak terkait dalam sidangnya.

**) Khutbah kedua menyesuaikan.