PENSIUN DARI KEPENSIUNAN

Dr. Saiful Bahri, M.A

Now I announce that I retire from retirement

Nelson Mandela

Perjuangan menuju kebebasan tiada pernah mengenal kata pensiun. Kerja keras dan ikhtiar cerdas menuju pembebasan dan berdiri bersama orang-orang yang bermental serta berpendirian sama juga tak mengenal kepensiunan. Sebagaimana tak dikenalnya pensiun saat membela hak dan kebenaran melawan berbagai bentuk kezhaliman.

Salah satu kezhaliman di zaman modern adalah kooptasi, pendudukan ilegal, pengusiran, bahkan menyentuh wilayah fisik dan pembunuhan secara personal ataupun masif. Itulah yang dialami oleh bangsa Palestina. Itu belum termasuk perlakuan diskriminatif dalam berbagai hal yang dilakukan Israel, baik otoritas pemerintahan maupun prilaku individu warganya.

Untuk hal di atas, pembenaran terhadap kezhaliman takkan pernah didiamkan oleh nurani masyarakat dunia, yang lintas etnis dan lintas ideologi. Dan atas nama kemanusiaan maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan. Demikian penekanan yang dilakukan Bangsa Indonesia di pembukaan UUD 1945.

Senada dengan hal tersebut, salah seorang yang ikonik dengan perlawanan terhadap perilaku kezhaliman dan diskriminatif, Nelson Mandela dengan lantang teriakkan:

We know too well that our freedom is incomplete without the freedom of the Palestinians

Ketidaklengkapan itu memang sangat terlihat. Di saat para “bangsa” tetangganya berlomba investasikan uang pada urusan matrealistik, bangsa Palestina harus tetap eksis di tengah blokade dan pengucilan internasional karena tak kunjung dapatkan kedaulatannya sebagai bangsa yang merdeka. Merdeka tentukan nasib dan mengatur negaranya sendiri.

Memang benar bahwa kezhaliman tak pernah mengenal rasionalisasi. Sehingga takkan pernah dimaklumi oleh siapapun. Maka lambat atau cepat ia akan tumbang, tak mampu bendung perlawanan kuat dan terus menerus dari si “mazhlum” yang makin luas meraih simpati dan empati.

Kebijakan Firaun membunuhi anak-anak kecil berjenis kelamin laki-laki dari kalangan Bani Israel tidaklah perlukan rasionalisasi. Meskipun para penjilat dan pembisiknya melihat bahwa rasionalisasi dapat dilakukan dengan mendramatisir mimpi sang “majikan” mereka.

Saat kezhaliman dipertontonkan setiap hari, setiap saat dan hanya mendapat respon diam, tak berarti bahwa semua pihak menerimanya. Kezhaliman adalah sekam panas. Kezhaliman adalah bom waktu tanpa pelatuk. Kezhaliman gunung berapi yang tak bisa diprediksi. Kezhaliman adalah sisi lain dari kegelapan yang dibenci siapapun. Dan munculnya kezhaliman bukan karena buta huruf dan ketidaktahuan. Ia muncul karena matinya nurani yang tunduk oleh nafsu berkuasa dan menguasai serta lalai dan terpesona dengan kekuasaan.

Padahal kekuasaan yang disertai atau tanpa keadilan tetap diintai oleh siapa saja yang bisa jadi dimulai dari orang-orang sekitar orbit kekuasaan. Maka kualitas dan efek kekuasaan akan sangat dahsyat. Karenanya kepemimpinan lebih berpengaruh dari sekedar kekuasaan yang cenderung diperebutkan. Sedang kepemimpinan hanya akan singgah pada orang-orang tepat yang memiliki naluri untuk memimpin, meski jauh dari kekuasaan. Meski jika dipadu kepemimpinan dan kekuasaan akan menjadi sangat dahsyat.

Sebagai contohnya, sebut saja Gaza. Setahun terakhir sedikit bernafas lega dengan kebijakan pemerintah Mesir yang muncul dari kemenangan di bilik suara pemilihan. Pemerintah yang terang-terangan mendukung (back up) Bangsa Palestina di saat yang lainnya memiliki kebijakan abu-abu atau bahkan menentangnya. Maka tak heran blokade yang dilakukan oleh Israel sejak 2005 yang didiamkan dunia internasional itu sedikit mulai tak dirasakan karena ada kebijakan “penguasa” yang sekaligus memiliki naluri kemimpinan yang bisa menginspirasi bangsa-bangsa dan pemerintahan lainnya.

Maka saat simbol penguasa dan sekaligus pemimpin Mesir yang terpilih secara demokratis tersebut terguling dengan penuh tanda tanya. Militer mengudetanya dengan inkonsistensi rasionalisasi. Kadang menyebutnya menyuarakan suara rakyat, padahal bilik suara sebelumnya membuktikan sebaliknya. Kadang menyebutnya demi menjaga keamanan, padahal ekses kudeta menjadikan negara ini terbelah menjadi tak aman.

Terlepas dari peristiwa kudeta di Mesir rakyat Gaza merasakan efek yang luar biasa. Terlebih dalam hitungan hari Refah Border (Pintu Perbatasan Refah) ditutup. Kegaduhan politik tersebut diikuti dengan berbagai kekerasan yang diframing media sebagai respon atas tergulingnya Mursi. Pada kenyataannya rezim kudeta yang melakukan kekerasan yang menewaskan nyawa-nyawa dari pendemo yang tak bersenjata. Mereka juga yang menghancurkan puluhan terowongan di Gaza. Yang sebelumnya tak pernah terjadi dalam hitungan tahun atau bulan.

Terowongan yang jumlahnya tak diketahui tersebut adalah bentuk perlawanan lain Bangsa Palestina selain perlawanan senjata dan statemen politis. Sedihnya yang melakukan penghancuran tersebut bukanlah lawan utama mereka, Zionis Israel, tetapi justru dilakukan oleh saudara dan tetangga dekat mereka, Mesir. Di rezim militer penguasa sebelumnya, Mubarak, mereka juga semakin terdesak karena pemerintah Mesir tak pernah memihak dan simpati pada kebutuhan hajat tetangganya. Yang sebenarnya tak terlalu membutuhkan bantuan materi dari mereka. Gaza hanya membutuhkan kemudahan penyaluran bantuan. Dan itu yang didapat setelah runtuhnya rezim Mubarak. Saat serangan militer melalui udara yang dilakukan Israel di akhir 2008 dan di awal 2009, dan diulang beberapa hari di bulan-bulan akhir 2012, terowongan memegang peranan signifikan dalam menjaga eksistensi dan ketahanan Bangsa Palestina ditengah berbagai serangan. Tapi saat pemerintah resmi pasca reformasi digulingkan, terowongan tersebut segera diluluhlantakkan. Itu belum karena penutupan border secara sepihak oleh penguasa Mesir. Maka Gaza kembali menjadi penjara terbesar di dunia dengan jumlah “tawanan” satu juta tujuh ratus ribu (1.7000.000) jiwa.

Sebagai akibatnya, puluhan ribu kegiatan transportasi darat dan laut macet karena berhentinya pasokan bahan bakar, onderdil kendaraan dan bahan-bahan material bangunan juga menjadi langka. Ada lima puluh ribu penduduk Gaza yang bergantung hidupnya dari penangkapan ikan (nelayan). Dengan berhentinya pasokan bensin, maka aktivitas nelayan di perairan Gaza berhenti seketika. Taksi-taksi menjadi sangat sulit beroperasi. Para kuli bangunan menganggur karena berhentinya aktivitas pembangunan fisik. Dan mengalihkan ketergantungan dari Mesir ke Israel adalah hal yang buruk bagi Bangsa Palestina. Karena prinsip pejuang-pejuang perlawanan selalu mengatakan bahwa “Siapa saja yang bisa memenuhi kebutuhan pangannya sendiri ia akan mandiri dalam mengambil keputusan”. Setelah lahan pertanian makin menuai hasil dikarenakan swasembada pangan mereka, maka setidaknya bahan bakar, onderdil kendaraan dan material bangunan tidak bergantung pada pihak yang selama ini mereka lawan, pihak yang selalu menzhaliminya selama hampir tujuh puluh tahun lamanya.

Stabilitas harga pun mulai goyah. Harga semen naik hampir 50%, kebutuhan fisik bangunan sekolah terancam. Sebagai contoh adalah statemen Ketua Aliansi Kontraktor di Gaza, Nabil Abu Mu’ailiq yang menyatakan, bahkan banyak mega proyek dari donator Negara Qatar terhenti karena ketatnya pengamanan dan pemeriksaan pihak otoritas Mesir.

Dari sisi opini justru secara sadis pers-pers Mesir menuduh presiden mereka berkhianat dengan penyaluran-penyaluran (yang sebenarnya legal) ke Gaza. Sementara rezim sebelumnya yang menyalurkan banyak hal serta kebijakan yang berpihak pada Israel –justru- tak pernah dipermasalahkan. Pembangunan opini ini dipertajam dengan menciptakan konflik bersenjata di dataran Sinai seolah-olah gerakan perlawanan Palestina bermain di sana pasca penggulingan Mursi sekaligus sebagai rasionalisasi penghancuran terowongan-terowongan seperti tersebut di atas. Padahal ada pihak lain bermain, militer dan intelijen Zionis “hampir pasti” mengambil peran dengan mengeruhkan konflik bersenjata di Sinai. Agar simpati rakyat Mesir terhadap kudeta militer meluas, ada pembenaran sekaligus untuk menumpas gerakan perlawanan Palestina yang diopinikan merugikan stabilitas Mesir. Berkali-kali pihak Palestina menyangkal terlibat dalam konflik senjata sebelum dan setelah kudeta militer. Tetapi opini ini justru tenggelam. Penembakan, beberapa bom dan serangan terhadap militer Mesir? Pasca kudeta ini hal tersebut mencoba diarahkan bahwa pelakunya adalah yang dirugikan dengan kejadian ini. Dengan kata lain pemicu dan pelaku kekerasan di Sinai secara otomatis hanya dua: pendukung Mursi atau gerakan perlawanan Palestina di Gaza. Padahal kesimpulan tersebut sangat prematur. Mereka melupakan Zionis yang seolah hanya duduk manis menyaksikan pertikaian dua saudara bertetangga ini. Terlalu naif bila opini ini tak dikembangkan.

Melalui kudeta ini, rakyat Palestina terutama yang di Gaza khawatir, permasalahan Palestina akan tereduksi. Karena kepedulian terhadapnya akan kembali mundur bahkan lebih buruk dari sebelumnya. Dari sisi pengamanan militer, sudah pasti akan terjadi peningkatan dan pengerahan masif di wilayah dataran Sinai. Maka pihak Zionis bisa lebih nyaman sekaligus menghemat anggaran karena fungsi pengamanan dibantu oleh militer Mesir. Sedangkan anggaran militer Mesir akan meningkat tajam, terutama untuk menjaga wilayah perbatasan, disamping sibuk meredam efek dari kudeta yang mereka lakukan kepada presiden terpilih yang sah.

Militer Mesir, juga Zionis sangat khawatir jika efek kudeta juga sampai secara masif di Sinai. Efek buruk bisa terjadi jika para penduduk Sinai ikut-ikutan turun ke jalan mendemo kudeta atau terjadi benturan massa antara yang pro militer dan pendukung Mursi. Maka menciptakan suasana mencekam dan tak aman juga merupakan salah satu strategi. Karena penduduk perbatasan paling tahu kondisi yang di alami rakyat Palestina di Gaza.

Pemerintah Zionis membuka Border “Ain Sina”. Sebuah perbatasan Mesir dan Israel yang selama lebih dari sepuluh tahun ditutup rapat. Para pengamat militer mencurigai ada sesuatu di balik pembukaan perbatasan ini. Pembukaan perbatasan (Ain Sina) yang disertai penutupan dan pengawasan berlebihan di perbatasan yang lain (Refah).

Tindakan-tindakan provokatif di atas untuk memancing otoritas Palestina di Gaza agar melakukan respon negatif yang bisa mereduksi simpati rakyat Mesir khususnya dan dunia internasional secara umum. Di saat yang sama media dan militer memerlukan “sedikit” saja statemen dan respon negatif tersebut untuk dijadikan rasionalisasi sekaligus didramatisir secara bombastis.

Kondisi-kondisi di atas belum termasuk pengamatan dan perkembangan di rumah sakit-rumah sakit. Beberapa pasien gagal ginjal semakin menderita dengan ditutupnya perbatasan Refah. Ketersediaan obat dan peralatan medis kembali menjadi kendala serius di klinik-klinik dan rumah sakit Gaza.

Sudah ada puluhan dan ratusan bahkan ribuan penduduk Palestina meninggal karena serangan militer Israel. Puluhan rumah, pemukiman, tempat-tempat umum hancur karena rudal-rudal mereka. Maka sulit dibayangkan ada perkembangan buruk dengan pemadaman-pemadaman ekstrim listrik harus kembali terjadi. Subsidi bahan bakar yang berhenti mengancam puluhan aktivitas mesin yang berdampak pada hajat hidup masyarakat. Mengingat rata-rata pemadaman listrik setiap hari kini meningkat menjadi di atas dua belas jam dari hanya delapan jam sebelumnya.

Maka sudah matikah hati manusia ketika mendengar ada seorang ibu terluka bakar parah karena melindungi keempat anak kecilnya dari kebakaran di rumahnya? Tahukah Anda penyebab kebakaran tersebut?

Itu karena lilin yang mereka gunakan sebagai penerangan menyambar selembar kain yang kemudian membesar hingga sulit dipadamkan. Akibat dari lamanya pemadaman listrik yang sering terjadi.

Dan lautan manusia di Cairo, Aleksandria, Ismailia, Mansoura dan tempat-tempat lainnya yang menolak kudeta sebenarnya mempertahankan amanat demokrasi yang menyuarakan secara simpatik kepada pembelaan Bangsa Palestina. Di samping menjadi urusan internal Mesir, perkembangan kondisi terakhir tetap memberi dampak pada Palestina.

So… masih memihak kudeta militer atas demokrasi atau enggan menamakan kejadian ini sebagai kudeta? Jika bukan demikian, lantas apakah namanya?

Cepat atau lambat, tabir gelap peristiwa tersebut akan tersingkap . Dan karena para pejuang anti-kezhaliman berulang-ulang serukan : PENSIUN DARI KEPENSIUNAN dalam membela dan mengawal keadilan dan amanat masyarakat, singkirkan kezhaliman yang angkuh, kelaliman yang dungu serta kesewang-wenangan yang rapuh.

HasbunalLâhu wa ni’ma al-wakîl.

Catatan Keberkahan 011

Jakarta, 21.07.2013

Terinspirasi oleh: 

Kudeta militer  Presiden Mesir yang terpilih secara demokratis, Dr. Muhammad Mursi oleh Menteri Pertahanan Mesir Jendral Abdul Fattah as-Sisy, 3 Juli 2013 dan Nelson Mandela International Day 18 Juli 2013 – di Menara Thamrin (United Nation Information Center [UNIC] Jakarta dan Kedutaan Besar Afrika Selatan di Jakarta)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s