MENGAPA BUKAN DI ZAMAN NABI SAW?

Dr. Saiful Bahri, M.A

Masjid al-AqshaUrgensi Masjid al-Aqsha yang dikaitkan dengan Masjid al-Haram sudah tak terbantahkan dan sangat melekat erat di benak setiap umat Islam. Namun, ada satu hal yang agak mengganjal. Sebagian kita mungkin bertanya atau setidaknya menyimpan tanda tanya besar dalam benaknya: Mengapa futuhât kota al-Quds tidak terjadi di zaman Nabi Muhammad SAW, tetapi justru terjadi di era khalifah kedua, amîrul mu’minîn Umar bin al-Khatthab ra?

Bukankah nubu’ât itu terlihat jelas, dimulai dengan dipilihnya Masjid al-Aqsha sebagai tempat transit Nabi SAW sebelum beliau mi’râj ke langit dan sidratil muntaha. Beliau bahkan sempat mendirikan shalat di sana, berjamaah dengan para nabi dan rasul utusan Allah, bertindak sebagai imam mereka. Bukankah Allah juga sanggup memperjalankan beliau secara langsung dari Masjid al-Haram di Mekah ke sidratil muntaha dan menerima titah perjalanan malam tersebut. Mengapa harus ke Masjid al-Aqsha?

Pertama, tentu tempat ini memiliki urgensi dan sejarah penting. Allah ingin tunjukkan hal tersebut.

Kedua, Allah ingin memberitahu keterkaitan semua risalah di bumi-Nya dengan eksistensi bumi yang diberkahi tersebut. Orbit risalah keberkahan itu –di antaranya- berasal dari tempat itu.

Ketiga, Allah hanya akan wariskan bumi yang diberkahi tersebut kepada kaum yang beriman, dari kalangan manapun, tanpa membedakan jenis kelamin dan etnis mereka.

Terbebasnya Al-Aqsha (al-Quds) melalui tangan-tangan pasukan muslimin di era Umar, memberikan nuansa cerita perjuangan yang berkesinambungan. Sekaligus menggambarkan bahwa pembebasan al-Quds tidak bergantung pada figur personal –saja- tetapi lebih kepada keshalihan kolektif.

Lantas… ada pertanyaan selanjutnya.

Tak ada yang meragukan keshalihan personal Nabi Muhammad SAW, sebagaimana tak terjadi perbedaan pendapat tentang keshalihan generasi pertama (para shahabat). Tetapi tentu ada hikmah lain yang dikehendaki Allah, terjadinya pembebasan al-Quds dan dikembalikannya Masjid al-Aqsha ke tangan umat Islam justru terjadi setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW.

Di antara hikmah tersebut adalah kesinambungan ruh dan jiwa serta keimanan. Karena, faktanya bahwa Masjid al-Aqsha hanya akan diwariskan kepada orang-orang yang beriman saja. Demikian ditegaskan oleh Allah dari sejak diutusnya para nabi hingga kaum-kaum beriman yang mengikutinya.

Lihatlah Nabi Nuh yang disertai pamannya, Nabi Ibrahim ketika Allah selamatkan dari siksa pedih yang akan ditimpakan kaumnya, hujan batu dan dibalikkannya tanah tempat mereka berada. “Dan Kami seIamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia.” (QS. Al-Anbiya [21]: 71). Kata (الذي باركنا حوله/فيه) “sebuah negeri yang Kami berkahi” penggunaan yang senada seperti dalam peristiwa isra’.

Demikian juga janji Allah yang akan diberikan kepada pengikut Nabi Musa yang diselamatkan dari Fir’aun. “Dan Kami wariskan kepada kaum yang telah ditindas itu, negeri-negeri bagian timur bumi dan bagian baratnya yang telah Kami beri berkah padanya. Dan telah sempurnalah perkataan Tuhanmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka. Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir’aun dan kaumnya dan apa yang telah dibangun mereka.” (QS. Al-A’raf [7]: 137) Negeri yang dimaksud dalam ayat ini sebagaimana disebut di QS. Al-Maidah [5]: 21. Yaitu bumi Palestina (Bait al-Maqdis)

Simak dan tadabburi bersama kisah Sulaiman yang diberi mukjizat angin oleh Allah. “Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang kami telah memberkatinya. Dan adalah Kami Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Anbiya [21]: 81). Negeri yang dimaksud adalah negeri Syam dan Palestina.

Kisah kaum Saba yang berada di era kejayaannya juga terselip cerita tentang bumi yang diberkahi, “Dan Kami jadikan antara mereka dan antara negeri-negeri yang Kami limpahkan berkat kepadanya, beberapa negeri yang berdekatan dan Kami tetapkan antara negeri-negeri itu (jarak-jarak) perjalanan. Berjalanlah kamu di kota-kota itu pada malam hari dan siang hari dengan dengan aman.” (QS. Saba [34]: 18). Yaitu jarak antara negeri Saba’ dan desa-desa di Syam (Palestina)

Bahkan Nabi Musa AS. meminta untuk diwafatkan di tanah yang diberkahi tersebut, di tanah Bait al-Maqdis.

أخرجه البخاري و مسلم عن أبي هريرة رضي الله عنه ، أنه صلى الله عليه وسلم قال : أرسل ملك الموت إلى موسى عليه السلام ، فلما جاءه صكَّه ففقأ عينه ، فرجع إلى ربه فقال : أرسلتني إلى عبد لا يريد الموت ، قال : فرد الله إليه عينه وقال : ارجع إليه ، فقل له : يضع يده على متن ثور ، فله بما غطت يده بكل شعرة سنة ، قال : أي ربِّ ثم مه ؟ قال : ثم الموت ، قال : فالآن ، فسأل الله أن يدنيه من الأرض المقدسة رمية بحجر ، فقال رسول الله – صلى الله عليه وسلم- فلو كنت ثَمَّ لأريتكم قبره إلى جانب الطريق ، تحت الكثيب الأحمر

Hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah ra, Nabi Muhammad SAW bersabda , “Allah mengutus malaikat maut kepada Nabi Musa as. Ketika sampai kepadanya Musa mencolok matanya. Kemudian ia kembali pada Tuhannya dan mengadu: Engkau mengutusku kepada seorang hamba yang tak menginginkan kematian. Allah kembalikan matanya kemudian perintahkan kembali kepadanya (Musa as). Katakan padanya: letakkan tangannya di atas punggung seekor banteng, maka bagian yang tertutupi tangan setiap helai rambutnya satu tahun. Musa bertanya: kemudian apa Ya Rabb. Allah mengatakan: kemudian kematian. Maka sekarang. Musa memohon agar ia didekatkan dengan tanah suci (Bait al-Maqdis) sedekat lemparan batu. Rasulullah SAW bersabda: Jika aku berada di sana, tentu akan aku tunjukkan kuburannya di sebuah tepian jalan di bawah gundukan tanah merah

Sekilas hadits shahih di atas mengindikasikan bahwa Nabi Musa sangat angkuh dan suka main kekerasan. Padahal ada penjelasan yang sangat argumentatif, seperti yang disampaikan oleh Ibnu Hajar saat mensyarah hadits Bukhari diatas ataupun Imam Nawawi saat member penjelasan hadits Muslim tersebut. Malaikat maut yang dikirim Allah di atas menjelma menjadi manusia biasa (juga sebagaimana Allah kirim kepada nabi-nabi-Nya atau orang-orang shalih dengan menyerupai manusia biasa lihat QS. Maryam [19]: 17). Nabi Musa tak mengetahui hal tersebut, maka ia anggap sang malaikat sebagai manusia biasa (orang asing) yang hendak mengganggu privasinya, memasuki rumahnya. Maka pembelaan diri Nabi Musa sebenarnya juga merupakan anjuran untuk pertahankan harga diri dan martabat. Bahkan sekelas malaikat pun “tak berdaya” menghadapi kekukuhan Nabi Musa atas hak bela dirinya. Maka saat ia kembali dan jelaskan maksud kedatangannya sesuai arahan Allah, Nabi Musa menerima takdirnya. Hanya saja, beliau meminta diberi kesempatan meninggal di tanah suci, bumi yang diberkahi Allah. Tanah Palestina.

Dan Masjid al-Aqsha adalah tempat sujud tertua kedua di dunia setelah Masjid al-Haram. Adamlah manusia pertama yang injakkan kakinya di sana, seorang nabi muslim yang beriman kepada Allah dan esakan-Nya.

Demikian dilanjutkkan keturunan Nuh, Ibrahim, Luth. Bahkan sampai saat keturunan Ya’qub ke tanah suci ini Masjid al-Aqsha dijaga oleh orang-orang yang beriman. Hingga datang saatnya Masjid al-Aqsha dikuasai orang-orang zhalim yang berbuat kerusakan dan menebar kemungkaran yang disebut oleh al-Quran dengan sebutan “qauman jabbârin”. Musa alaihissalâm dititahkan Allah memasukinya dan mengambil alih kendali kepemimpinan dan kemakmuran di tanah suci tersebut. Sayangnya titah tersebut dibantah oleh kaumnya. Dan Allah menghukum mereka. Bahkan mengharamkannya untuk selama-lamanya (menurut sebagian mufassirîn).

Allah juga kirimkan Dawud ‘alaihissalâm pemuda berusia delapan belas tahun yang hanya seorang penggembala kambing yang tergabung dalam pasukan yang dipimpin Panglima Thalut. Seorang pemuda muslim yang beriman ini bahkan tak dikenal siapa-siapa. Ia hanya seorang prajurit biasa sebagaimana yang lainnya. Tetapi kisahnya berubah setelah ditangannya Allah izinkan rezim Jalut berakhir. Ia menjadi pewaris mulia yang kemudian ditahbiskan menjadi seorang raja.

Allah juga kirim Zakariya dan putranya Yahya di tanah suci ini. Sepasang bapak anak yang nabi ini juga keponakannya Isa al-Masîh Allah kirim ke tanah suci. Tapi justru ketiganya diburu dan menjadi target pembunuhan oleh bangsa Yahudi saat itu. Dua yang pertama Allah takdirkan terbunuh sebagai syahid di tangan para durjana, sementara Isa Allah selamatkan dan angkat ke langit-Nya.

Tanah suci Bait al-Maqdis merupakan tanah yang –hanya- diwariskan oleh Allah hanya kepada siapapun dari hamba-Nya yang beriman, dari mana pun asalnya, tanpa diskriminasi kesukuan dan etnis serta jenis kelamin.

Allah hanya ingin menegaskan jika pertanyaan di awal tulisan ini setidaknya bisa dijawab, maka pembelaan al-Quds dan Masjid al-Aqsha. Penjagaan, pemeliharaan, jihad mempertahankan kesuciannya dan seterusnya tidaklah hanya menjadi tanggungjawab nabi-nabi, melainkan menjadi tanggung jawab semua orang beriman yang mengaku mengesakan Allah dan bersaksi bahwa Muhammad SAW sebagai utusan-Nya di mana pun, berasal dari mana pun, berlatar belakang apapun. Maka permasalahan al-Aqsha dan al-Quds tidaklah tereduksi hanya menjadi masalah bangsa Palestina –saja-, tetapi ini menjadi masalah universal seluruh umat Islam, lintas geografi, etnis bahkan lintas generasi, sampai tanah suci tersebut kembali kepada umat Islam. Keesaan Allah benar-benar ditegakkan di sana. Kira-kira sama seperti saat Umar memasukinya dengan kepala tegak meski tak angkuh dan sombong. Justru penuh tawadhu dan kesederhanaan. Mengundang decak kagum dan penghormatan. Sarat dengan kesantunan dan toleransi, penuh penghayatan jiwa kemanusiaan sekaligus menjadi penjaganya dari segala bentuk kezhaliman, apapun namanya, siapapun pelakunya.

Simak apa yang dilakukan Umar saat memasuki kota al-Quds.  Umar bin Khattab minta ditunjukkan oleh Pendeta Sophronius letak Masjid al-Aqsha, tempat yang dijadikan ahlul kitab beribadah. Setelah memasukinya ia bertakbir “Inikah masjid yang diberitahu oleh Rasulullah SAW?”, gumamnya. Waktu itu Masjid al-Aqsha  hanya merupakan pelataran dan tanah lapang yang luas. Sentrumnya berupa sebuah batu mulia yang menjadi pijakan Nabi Muhammad SAW saat hendak mi’raj, yang dijadikan kiblat shalat Nabi Musa dan kaumnya Bani Israil. Umar kemudian bertanya kepada Ka’b al-Ahbar (seorang tabi’in yang sebelumnya penganut yahudi); kira-kira di mana yang tepat untuk dijadikan tempat shalat di wilayah tersebut. Ka’b mengisyaratkan untuk membangunnya di belakang batu mulia tersebut (di bagian sebelah utara) sehingga bersatulah dua kiblat sekaligus; Kiblat Musa dan Kiblat Muhammad, dan batu tersebut berada di depan orang-orang yang shalat. Umar dengan tegas menolak usulan ini, dengan alasan karena mencampur dua kiblat. Yaitu kiblat yang sudah dinasakh (menghadap shakhrah/batu Masjid al-Aqsha) dan kiblat yang berlaku yaitu menghadap Baitullah al-Haram di Mekah. Hal ini justru menginspirasi beliau untuk mengeluarkan ide membangun masjid di depan batu mulia tersebut. Maka dibangunlah sebuah masjid di ujung selatan pelataran Masjid al-Aqsha sebagai tempat shalat tertutup yang didalamnya terdapat mihrab dan mimbar sekaligus. Itulah masjid pertama dalam bentuk fisik bangunan tertutup yang didirikan oleh Umar. Dan karena arahnya paling depan menghadap kiblat maka tempat tersebut dinamai dengan “al-Masjid al-Qibly”. Masjid ini berupa bangunan dari kayu-kayu yang bisa menampung sekitar seribu orang untuk menunaikan shalat. Kondisi ini berlangsung hingga zaman Muawiyah bin Abi Sufyan.

Sebenarnya di kompleks Masjid al-Aqsha yang memiliki panjang di bagian utara 310 m, bagian timur 462 m, bagian selatan 281 m, dan bagian barat 491 m tersebut dibangun beberapa tempat shalat (masjid/mushalla) selain al-Masjid al-Qibly, ada Mushalla al-Marwani yang terletak di sebelah kiri al-Masjid al-Qibly. Yaitu hall tertutup terbesar di kompleks Masjid al-Aqsha sebelah timur seluas 4000 m2. Ada juga al-Masjid al-Qadim, Mushalla an-Nisa’, Masjid Buraq, Masjid Magharibah.

Keenam masjid di atas terletak di depan batu mulia (ash-shakhrah) yang juga kemudian dikenal sebagai Masjid Qubbatu ash-Shakhrah sebagai salah satu seni interior dan eksterior bangunan yang sangat menakjubkan di salah satu era kejayaan Daulah Umawiyah. Masjid yang terakhir ini sering menjadi ikon Masjid al-Aqsha. Sehingga banyak yang mengira bahwa itulah Masjid al-Aqsha.

Kembali kepada kisah Umar. Beliau ingin melanjutkan tradisi sentralisasi masjid. Masjid dijadikan sebagai pusat peradaban. Dari masjid semuanya beliau ingin memulai. Maka di masjid itulah titik temu semua sendi peradaban Islam. Politik, ekonomi, kehidupan sosial, hukum, bahkan militer semua bermula dari tempat sujud. Ruh inilah yang saat ini digugat oleh kaum sekuler liberal yang ingin melunturkan ruh Islam agar jauh dari fisik umat Islam. Tak heran bila mereka mendengungkan agar Islam dan masjid sebagai ikonnya dijauhkan dari berbagai aspek kehidupan manusia. Seolah ingin dikatakan bahwa masjid hanya menjadi tempat shalat dan baca al-Quran saja.

Padahal Umar sebagaimana para pendahulunya, termasuk junjungannya Nabi Muhammad SAW selalu menjadikan masjid sebagai poros. Mus’ab bin Umair yang duta besar pertama dalam Islam, pakar diplomasi adalah jebolan masjid. Khalid bin Walid yang pakar strategi perang adalah alumni masjid, Amru bin Ash si cerdik yang pakar negosiasi adalah binaan masjid, Abdurrahman bin Auf, si tangan emas yang saudagar kaya itu adalah orang yang selalu mengakrabi masjid, si gerbang ilmu Ali bin Abi Thalib juga sang pecinta masjid, Hudzaifah yang musuh para munafiqin itu juga sehari-harinya di masjid, Abu Hurairah sang pakar hadits itu juga bahkan tinggal di teras masjid. Dan sederet panjang nama-nama para pahlawan Islam, semuanya bermula dan berujung dari masjid. Pendidikan dan ruh, binaan masjid; tempat sujud.

Saat Umar memasuki bait al-Maqdis dari al-Jabiyah untuk menandatangi piagam perdamaian dengan penduduk kota, Pendeta Sophronius mempersilakan dan memohon kepada beliau melakukan shalat di Gereja al-Qiyamah. Tetapi Umar menolaknya. Beliau mengatakan , “Jika aku shalat di dalamnya, aku khawatir orang-orang setelahku akan mengatakan ini mushalla Umar, kemudian mereka akan berusaha membangun masjid di tempat ini”. Itulah toleransi yang diajarkan Umar. Toleransi yang didengungkan nihil terjadi oleh kaum sekuler dan para pendengki jika umat Islam berkuasa. Faktanya menunjukkan sebaliknya. Justru sang pendeta yang meminta dan Umar menolaknya dengan halus serta mengemukakan alasan dengan sangat argumentatif, sangat santun.

Kini saat Islam digugat berbagai sektor, maka justru menjadi inspirasi bagi umat Islam untuk memulai kembali membangun kejayaan peradaban dari masjid. Termasuk proyek besar mengembalikan Masjid al-Aqsha secara berdaulat ke tangan umat Islam, tanpa kekhawatiran nihilnya toleransi seperti propaganda-propaganda kebencian yang terdengung setiap hari dengan berbagai cara yang tak bermartabat.

Wahai pemburu kebaikan terimalah keberkahan ini, wahai pelaku dosa dan kemaksiatan kembalilah ke masjid. Bersama bangun peradaban. HasbunalLâhu wa ni’ma al-wakîl.

Catatan Keberkahan 010

Jakarta, 10.07.2013

Bahan Kontemplasi:

  1. Dr. Abdullah Ma’ruf Umar, al-Madkhal ilâ al-Masjid al-Aqshâ al-Mubârak.
  2. Dr. Yusuf al-Qaradhawy, Al-Quds Qadhiyyah Kulli Muslim.
  3. Dr. Syauqi Abu Khalil, Al-Uhdah al-Umariyah: al-Bu’du al-Insâniy fi al-Futuhât al-Islâmiyah.
  4. Ali Ath-Thanthawi, Al-Islâm fi Qafash al-Ittihâm.
  5. Amru Khalid, Al-Aqshâ Kaifa Ya’ûd.
  6. Mukhlish Yahya Barzaq, Hadyu al-Musthafâ fi Gharsi Hubbi al-Aqshâ.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s