UMAR DAN KUNCI KOTA AL-QUDS


Dr. Saiful Bahri, M.A

al Quds key

Ternyata magnet kota al-Quds (Jerussalem) sangat kuat sehingga bangsa-bangsa dan imperium-imperium adidaya pernah mencoba mendudukinya, tak terkecuali dua imperium besar Romawi dan Persia.

Dua imperium tersebut selalu berebut pengaruh, dua perang besar silih berganti dimenangkan oleh masing-masing pihak; di zaman Nabi Muhammad SAW. Bahkan Persia lebih terlihat superioritasnya dengan melemahnya imperium Romawi Timur.

Tahun 611 M Pasukan Persia menyerbu Suriah. Tiga tahun kemudian, pada tahun 614 M Al-Quds berhasil ditaklukkan Imperium Persia. Setahun kemudian bahkan mereka merengsek sampai ke Pantai Bosporus yang berjarak tipis dengan Konstantinopel. Disusul pada tahun 619 M mereka merebut Alexandria dan seluruh wilayah Mesir.

Tapi kemenangan Persia atas Romawi Timur ini tak bertahan lama. Byzantium kembali menguat setelah dipimpin Kaisar Heraclius (610-641 M). Sempat menjadi Gubernur Afrika Utara ia kembali ke Konstantinopel dan berhasil merebut kembali kekuasaan Romawi dari Persia, Phocas sang penghancur kejayaan Byzantium. Bahkan pada tahun 624 M Heraclius berhasil memukul kekuatan penting Persia. Tentara yang dipimpinnya bergerak dari Pantai Laut Hitam di Turki, melintasi Irak Barat dan Utara, meruntuhkan kuil api yang terkenal di Syiz dan istana Choesroes di Dastgard.

Heraclius menjadi sangat sukses dan terkenal, terlebih setelah saingan beratnya Choesroes meninggal serta terjadi perpecahan internal imperium Persia. Maka pada tahun 629 M ia memaksa mundur Pasukan Persia dari Suriah dan Mesir. Byzantium kembali menikmati masa jayanya, kembalikan wilayah-wilayah yang pernah dikuasai Persia bahkan menambah ekspansinya.

Adapun periode Islam pernah mendekat  dan bersinggungan dengan kekuatan kekaisaran Romawi, Perang Mu’tah menjadi saksi kekuatan militer Romawi, tetapi kecerdikan panglima baru, sang muallaf yang pakar strategi perang Khalid bin Walid berhasil menyelamatkan kaum muslimin dari kekalahan di peperangan yang tak berimbang tersebut.

Setelah wafatnya Rasulullah SAW, Khalifah Abu Bakar mengirim tim ekspedisi ke Suriah, menandai dimulainya futuhat (penaklukan) yang sesungguhnya terhadap negeri tersebut. Adalah Sang Panglima Khalid bin Walid yang mengemban tugas futuhat negeri Syam. Dimulai dari medan Perang Ajnadain yang terjadi pada tahun 634 M.

Sebelumnya, Khalifah Abu Bakar telah mengirim empat pimpinan pasukan dari arah yang berbeda-beda. Setelah usai memenangi pertempuran harbu riddah, beliau kirim Amru bin Ash dari arah Palestina, Syurahbil bin Hasanah dari Bostra, Abu Ubaidah bin al-Jarrah dari al-Jabiyah dan Yazid bin Abi Sufyan dari Yordania. Semuanya ditugaskan untuk menaklukkan jantung Syam, Damaskus.

Keempatnya adalah pasukan-pasukan kecil yang beroperasi secara independen di zona perbatasan di sisi Timur laut Mati dan Lembah Yordan. Adapun Amru bin Ash bersama sekitar tiga sampai empat ribu orang melakukan perjalanan di sepanjang Pantai Laut Merah sampau ke kepala Teluk Aqabah, kemudian membelok kea rah barat dan berkemah di sebuah padang pasir yang di kenal dengan Wadi Arafah. Dari sana mereka bergerak ke dataran Najaf, sebelum menuju laut di Gaza. Di sebuah desa Dathin amru bin Ash berhasil mengalahkan sekelompok pasukan Byzantium.

Abu Bakar melihat urgensi menyatukan pasukan di bawah seorang pakar strategi perang Khalid bin Walid. Khalid yang berada di Iraq membawa sekitar sembilan ribu pasukan diminta bergabung untuk membantu penaklukan Suriah. Setelah berhasil menyerang pasukan Byzantium di Padang Rumput Rahit, utara Damaskus pada 24 April 634 beliau segera ke selatan, segera menyusul Abu Ubaidah dan Surahbil. Dan semua pimpinan pasukan menyerahkan tampuk kendali militer kepadanya seperti titang Sang Khalifah. Beliau mulai menyerang Bostra –sisi utara perbatasan antara Yordania-Suriah.

Bostra takluk. Khalid bergerak ke barat menggabungkan pasukan Amru bin Ash yang meraih kemenangan di Dathin. Di saat yang sama Byzantium menyiapkan kekuatan besar yang berkumpul di barat daya al-Quds, di jalan menuju Gaza. Khalid mengatur strategi perang sehingga kedua pasukan besar ini bertemu di sebuah tempat bernama Ajnadain. Tiga puluh ribu pasukan muslim menghadapi seratus ribu pasukan Byzantium. Ini adalah pertemuan terbesar pertama antara pasukan muslim dan Byzantium. Kemenangan diraih pasukan muslim meski harus merelakan kepergian empat ratus lima puluh syahid yang gugur dalam pertempuran ini. Sementara ribuan pasukan Byzantium terbunuh dan sisanya berlarian ke arah Al-Quds dan mundur ke Damaskus.

Pasukan muslim terus memburu ke Damaskus. Khalid bin Walid di Gerbang Timur (Bab Syarqi), Amr bin al-Ash di Gerbang Thomas (Bab Tuma), Abu Ubaidah di Gerban al-Jabiyah, dan Yazid di Gerbang Kaysan di sisi selatan. Pasukan muslim tak memiliki senjata/mesin penyerang atau peralatan yang lebih canggih dari tali, panah, pedang dan tangga. Maka mereka melakukan blokade. Hingga Khalid menemukan kelengahan mereka sehingga bisa menaiki benteng dan membobolnya.

Setelah Damaskus jatuh, Heraclius mundur ke Antioch wilayah utara Suriah. Di sinilah ia kembali menyusun kekuatan dan bermaksud mengusir pasukan muslim dari Damaskus. Ia akan melakukan perang puputan. Heraclius berhasil mengumpulkan lebih dari dua ratus ribu pasukan, sementara gabungan pasukan yang berhasil dihimpun Khalid tak sampai mencapai empat puluh ribu orang.

Pasukan Byzantium berkumpul di Homs, bergerak ke selatan melintai lembah Biqa’ melewati Ba’albak, kemudian berkumpul di al-Jabiyah, di Dataran Tinggi Golan. Pertemuan kedua pasukan terjadi di dekat Sungai Yarmuk, pusat perairan yang ditumbuhi tanaman. Tepatnya di lembah Yarmuk (di selatan) dan Golan (di utara), yaitu sebuah dataran berbukit dan berbatu serta dikelilingi pedesaan dan hamparan tanam-tanaman yang luas.

Bukan sekali ini saja Khalid bin Walid bertemu pasukan Byzantium, maka sebelum peperangan benar-benar terjadi sangat terlihat kematangan beliau. Terutama dalam menyikapi perang urat syaraf yang dilancarkan pimpinan pasukan Byzantium. Di samping tidak berimbangnya jumlah pasukan kedua pihak. Dipihak Byzantium terdapat setidaknya dua ratus lima puluh ribu pasukan (250000), sementara tentara muslimin hanya berjumlah tiga puluh enam ribu (36000) personil. Secara khusus respon Khalid dan strateginya tersebut telah diulas dalam tulisan sebelumnya (lihat kembali: Catatan Keberkahan 7, Psy War)

Pertempuran besar kedua yang terjadi pada bulan Agustus 636 M ini kembali dimenangi pasukan muslimin.

Kekalahan dalam Perang Yarmuk merupakan pukulan telak dan malapetaka (katastrofe) bagi Byzantium dan kabar tersebut menyebar ke mana-mana. Dan satu persatu kota-kota penting negeri Syam berhasil ditaklukkan dengan futuhat islamiyah.

Kemenangan di Yarmuk semakin melambungkan Khalid bin Walid, pakar strategi perang yang paling sering diangkat sebagai pimpinan tertinggi pasukan muslim dalam berbagai ekspedisi dan futuhat. Tapi sepeninggal Abu Bakar dan digantikan oleh Umar bin Khattab, justru pimpinan tertinggi pasukan muslim diserahkan ke Abu Ubaidah bin al-Jarrah. Beliau selanjutnya yang mengemban misi penaklukan al-Quds. Khalid legawa, qana’ah dengan keputusan sang panglima tertinggi, Khalifah Umar bin Khattab. Abu Ubaidah juga tak jumawa merasa lebih baik dari pendahulunya. Keduanya sama-sama berderet prestasi, dan keduanya mengajarkan arti keikhlasan dan loyalitas. Terlepas dari proses penyerahan tersebut, Khalid memiliki firasah yang tajam, strategi yang matang. Surat mutasi kepemimpinan militer beliau terima di tengah kecamuk Perang “Puputan” Yarmuk, dari Khalifah Umar bin Khattab. Tetapi beliau menyampaikan surat tersebut kepada Abu Ubaidah pasca kemenangan perang. Beliau meminta izin kepada sang kurir. Saksikan etika tingkat tinggi yang dipraktekkan para qiyadah (pimpinan) kaum muslimin. Tak ada ego dan emosi berlebihan meski dengan berbagai perbedaan pendapat.

Dari sekian sekian kota, ada sebuah kota yang penaklukannya lebih emosional, dan bersifat simbolik daripada kepentingan militer. Yaitu fathu al-Quds (penaklukan Yerussalem), kota yang pernah menjadi kiblat pertama umat Islam di era awal diutusnya Nabi Muhammad SAW. Kota yang menjadi pijakan dan tolakan beliau melakukan mi’raj langit dan sidratil muntaha.

Penanggungjawab kota Yerussalem adalah seorang patrik, Pendeta Sophronius dari Yunani. Orang cerdas dan berpendidikan ini berkali-kali marah dan berapi-api dalam khutbahnya atas kekalahan-kekalahan yang dialami Byzantium.

Penaklukan al-Quds tidaklah bisa dipisahkan dari rentetan futuhat sebelumnya yang disebut di atas. Seperti halnya kota-kota sebelumnya Abu Ubaidah memulai blokade kola Al-Quds dari November 636 M. Sophronius berharap Heraclius mengirim bantuan padanya, di saat musim dingin mencekik pasukan muslim di luar benteng, ia harapkan mereka menyerah. Tapi yang terjadi sebaliknya. Heraclius tak ketahuan rimbanya setelah memutuskan hengkang dari Suriah ke utara, sementara pasukan muslim tak juga bergeming. Mentalnya drop, sebagaimana pasukan dan rakyat al-Quds semakin berdebar-debar.

Setelah enam bulan kekuatan yang tersisa di Yerussalem menyerah dengan sebuah syarat bahwa mereka harus menyerahkan langsung kunci kota al-Quds pada pimpinan tertinggi umat Islam saat itu.

Abu Ubaidah ditolak Sophonius, karena ia ternyata hanya seorang pimpinan pasukan biasa, bukan pimpinan tertinggi umat Islam. Konon, ia terilhami sebuah cerita termaktub dalam kitab sucinya bahwa yang akan menaklukan kota “Elia” (Al-Quds) memiliki tiga sifat khusus dan ia harus serahkan langsung padanya kunci kota tersebut. Yaitu: datang dengan berjalan kaki, kedua kakinya dikotori debu dan lumpur serta ada beberapa lubang dan tambalan di pakaiannya.

Maka Abu Ubaidah berkirim surat pada Khalifah Umar. Setelah berdiskusi dengan para sahabat seperti Usman dan Ali serta beberapa sahabat terdekatnya, Umar bin Khattab berangkat dari al-Madinah al-Munawwarah tanpa dikawal iring-iringan tentara. Tidak juga sebuah pasukan khusus yang terlatih. Tidak juga kendaraan baja anti peluru yang super canggih. Tak juga di bawah pengawasan pasukan elit yang tak terkalahkan. Ia datang dengan kerendahan hati. Mencegah tertumpahnya darah orang-orang tak berdosa.

Ia datang berdua dengan pelayannya. Keduanya bergantian menaiki kuda. Dan saat beliau memasuki kota al-Quds, giliran Umar yang menuntun kuda sementara sang pelayan berada di punggungnya.

Maka saat Sophronius menyaksikan langsung kedatangan Umar, tanpa ragu ia serahkan kunci kota al-Quds. Tanpa ragu ia tanda tangani kesepakatan dengan jaminan keamanan dan kebebasan beribadah serta tak ada orang Yahudi yang hidup di Yerussalem. Demikian kira-kira isi kesepakatan tersebut.

Dan menjadi sebuah sejarah bahwa penyerahan kota dan perjanjiannya ditandatangi langsung oleh khalifah, dan dikenal perjanjian itu dengan al-‘uhdah al’umariyah. Tertera sebagai saksi adalah nama-nama populer seperti Khalid bin Walid, Amr bin al-‘Ash dan Muawiyah bin Abi Sufyan.

Peristiwa tersebut terjadi di musim semi, pada bulan April 637 M (Rabi’ al-Awwal 16 H). Itulah akhlak yang dicontohkan para pimpinan umat Islam yang dipadu dengan strategi dan persatuan yang sangat kuat.

Umat Islam saat ini sangat merindukan pimpinan-pimpinan seperti Umar bin Khattab, Abu Ubaidah dan Khalid bin Walid. Berbeda pendapat dan sudut pandang, tapi santun dalam berpolitik, dan mengutamakan kesatuan umat serta mengedepankan sisi humanisme menjaga keamanan dan darah orang-orang tak berdosa. Jika figur-figur seperti itu sudah mulai teridentifikasi, rasanya pintu gerbang al-Quds tidaklah jauh dari kita. HasbunalLâhu wa ni’ma al-wakîl.

Catatan Keberkahan 009

Jakarta, 01.07.2013

*) Bostra adalah kota di sisi utara perbatasan antara Yordania-Suriah, dataran subur terhampar dengan bebatuan basat hitam, sementara di sisi utara kota tersebut menjulang perbukitan vulkanik, Hawran.

**) Sebagian tulisan di atas terinspirasi dari buku Al-Uns al-Jalîl bi Târîkh al-Quds wa al-Khalîl karya sejarawan muslim Mujiruddin al-Hanbali asal Rammallah, Palestina (1456-1522 M) dan The Great Arab Qonquests karya Hugh Kennedy.

Iklan

One thought on “UMAR DAN KUNCI KOTA AL-QUDS

  1. Armono berkata:

    Mengharukan kang…!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s