PENSIUN DARI KEPENSIUNAN

Dr. Saiful Bahri, M.A

Now I announce that I retire from retirement

Nelson Mandela

Perjuangan menuju kebebasan tiada pernah mengenal kata pensiun. Kerja keras dan ikhtiar cerdas menuju pembebasan dan berdiri bersama orang-orang yang bermental serta berpendirian sama juga tak mengenal kepensiunan. Sebagaimana tak dikenalnya pensiun saat membela hak dan kebenaran melawan berbagai bentuk kezhaliman.

Salah satu kezhaliman di zaman modern adalah kooptasi, pendudukan ilegal, pengusiran, bahkan menyentuh wilayah fisik dan pembunuhan secara personal ataupun masif. Itulah yang dialami oleh bangsa Palestina. Itu belum termasuk perlakuan diskriminatif dalam berbagai hal yang dilakukan Israel, baik otoritas pemerintahan maupun prilaku individu warganya.

Untuk hal di atas, pembenaran terhadap kezhaliman takkan pernah didiamkan oleh nurani masyarakat dunia, yang lintas etnis dan lintas ideologi. Dan atas nama kemanusiaan maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan. Demikian penekanan yang dilakukan Bangsa Indonesia di pembukaan UUD 1945.

Senada dengan hal tersebut, salah seorang yang ikonik dengan perlawanan terhadap perilaku kezhaliman dan diskriminatif, Nelson Mandela dengan lantang teriakkan:

We know too well that our freedom is incomplete without the freedom of the Palestinians

Ketidaklengkapan itu memang sangat terlihat. Di saat para “bangsa” tetangganya berlomba investasikan uang pada urusan matrealistik, bangsa Palestina harus tetap eksis di tengah blokade dan pengucilan internasional karena tak kunjung dapatkan kedaulatannya sebagai bangsa yang merdeka. Merdeka tentukan nasib dan mengatur negaranya sendiri.

Memang benar bahwa kezhaliman tak pernah mengenal rasionalisasi. Sehingga takkan pernah dimaklumi oleh siapapun. Maka lambat atau cepat ia akan tumbang, tak mampu bendung perlawanan kuat dan terus menerus dari si “mazhlum” yang makin luas meraih simpati dan empati.

Kebijakan Firaun membunuhi anak-anak kecil berjenis kelamin laki-laki dari kalangan Bani Israel tidaklah perlukan rasionalisasi. Meskipun para penjilat dan pembisiknya melihat bahwa rasionalisasi dapat dilakukan dengan mendramatisir mimpi sang “majikan” mereka.

Saat kezhaliman dipertontonkan setiap hari, setiap saat dan hanya mendapat respon diam, tak berarti bahwa semua pihak menerimanya. Kezhaliman adalah sekam panas. Kezhaliman adalah bom waktu tanpa pelatuk. Kezhaliman gunung berapi yang tak bisa diprediksi. Kezhaliman adalah sisi lain dari kegelapan yang dibenci siapapun. Dan munculnya kezhaliman bukan karena buta huruf dan ketidaktahuan. Ia muncul karena matinya nurani yang tunduk oleh nafsu berkuasa dan menguasai serta lalai dan terpesona dengan kekuasaan.

Padahal kekuasaan yang disertai atau tanpa keadilan tetap diintai oleh siapa saja yang bisa jadi dimulai dari orang-orang sekitar orbit kekuasaan. Maka kualitas dan efek kekuasaan akan sangat dahsyat. Karenanya kepemimpinan lebih berpengaruh dari sekedar kekuasaan yang cenderung diperebutkan. Sedang kepemimpinan hanya akan singgah pada orang-orang tepat yang memiliki naluri untuk memimpin, meski jauh dari kekuasaan. Meski jika dipadu kepemimpinan dan kekuasaan akan menjadi sangat dahsyat.

Sebagai contohnya, sebut saja Gaza. Setahun terakhir sedikit bernafas lega dengan kebijakan pemerintah Mesir yang muncul dari kemenangan di bilik suara pemilihan. Pemerintah yang terang-terangan mendukung (back up) Bangsa Palestina di saat yang lainnya memiliki kebijakan abu-abu atau bahkan menentangnya. Maka tak heran blokade yang dilakukan oleh Israel sejak 2005 yang didiamkan dunia internasional itu sedikit mulai tak dirasakan karena ada kebijakan “penguasa” yang sekaligus memiliki naluri kemimpinan yang bisa menginspirasi bangsa-bangsa dan pemerintahan lainnya.

Maka saat simbol penguasa dan sekaligus pemimpin Mesir yang terpilih secara demokratis tersebut terguling dengan penuh tanda tanya. Militer mengudetanya dengan inkonsistensi rasionalisasi. Kadang menyebutnya menyuarakan suara rakyat, padahal bilik suara sebelumnya membuktikan sebaliknya. Kadang menyebutnya demi menjaga keamanan, padahal ekses kudeta menjadikan negara ini terbelah menjadi tak aman.

Terlepas dari peristiwa kudeta di Mesir rakyat Gaza merasakan efek yang luar biasa. Terlebih dalam hitungan hari Refah Border (Pintu Perbatasan Refah) ditutup. Kegaduhan politik tersebut diikuti dengan berbagai kekerasan yang diframing media sebagai respon atas tergulingnya Mursi. Pada kenyataannya rezim kudeta yang melakukan kekerasan yang menewaskan nyawa-nyawa dari pendemo yang tak bersenjata. Mereka juga yang menghancurkan puluhan terowongan di Gaza. Yang sebelumnya tak pernah terjadi dalam hitungan tahun atau bulan.

Terowongan yang jumlahnya tak diketahui tersebut adalah bentuk perlawanan lain Bangsa Palestina selain perlawanan senjata dan statemen politis. Sedihnya yang melakukan penghancuran tersebut bukanlah lawan utama mereka, Zionis Israel, tetapi justru dilakukan oleh saudara dan tetangga dekat mereka, Mesir. Di rezim militer penguasa sebelumnya, Mubarak, mereka juga semakin terdesak karena pemerintah Mesir tak pernah memihak dan simpati pada kebutuhan hajat tetangganya. Yang sebenarnya tak terlalu membutuhkan bantuan materi dari mereka. Gaza hanya membutuhkan kemudahan penyaluran bantuan. Dan itu yang didapat setelah runtuhnya rezim Mubarak. Saat serangan militer melalui udara yang dilakukan Israel di akhir 2008 dan di awal 2009, dan diulang beberapa hari di bulan-bulan akhir 2012, terowongan memegang peranan signifikan dalam menjaga eksistensi dan ketahanan Bangsa Palestina ditengah berbagai serangan. Tapi saat pemerintah resmi pasca reformasi digulingkan, terowongan tersebut segera diluluhlantakkan. Itu belum karena penutupan border secara sepihak oleh penguasa Mesir. Maka Gaza kembali menjadi penjara terbesar di dunia dengan jumlah “tawanan” satu juta tujuh ratus ribu (1.7000.000) jiwa.

Sebagai akibatnya, puluhan ribu kegiatan transportasi darat dan laut macet karena berhentinya pasokan bahan bakar, onderdil kendaraan dan bahan-bahan material bangunan juga menjadi langka. Ada lima puluh ribu penduduk Gaza yang bergantung hidupnya dari penangkapan ikan (nelayan). Dengan berhentinya pasokan bensin, maka aktivitas nelayan di perairan Gaza berhenti seketika. Taksi-taksi menjadi sangat sulit beroperasi. Para kuli bangunan menganggur karena berhentinya aktivitas pembangunan fisik. Dan mengalihkan ketergantungan dari Mesir ke Israel adalah hal yang buruk bagi Bangsa Palestina. Karena prinsip pejuang-pejuang perlawanan selalu mengatakan bahwa “Siapa saja yang bisa memenuhi kebutuhan pangannya sendiri ia akan mandiri dalam mengambil keputusan”. Setelah lahan pertanian makin menuai hasil dikarenakan swasembada pangan mereka, maka setidaknya bahan bakar, onderdil kendaraan dan material bangunan tidak bergantung pada pihak yang selama ini mereka lawan, pihak yang selalu menzhaliminya selama hampir tujuh puluh tahun lamanya.

Stabilitas harga pun mulai goyah. Harga semen naik hampir 50%, kebutuhan fisik bangunan sekolah terancam. Sebagai contoh adalah statemen Ketua Aliansi Kontraktor di Gaza, Nabil Abu Mu’ailiq yang menyatakan, bahkan banyak mega proyek dari donator Negara Qatar terhenti karena ketatnya pengamanan dan pemeriksaan pihak otoritas Mesir.

Dari sisi opini justru secara sadis pers-pers Mesir menuduh presiden mereka berkhianat dengan penyaluran-penyaluran (yang sebenarnya legal) ke Gaza. Sementara rezim sebelumnya yang menyalurkan banyak hal serta kebijakan yang berpihak pada Israel –justru- tak pernah dipermasalahkan. Pembangunan opini ini dipertajam dengan menciptakan konflik bersenjata di dataran Sinai seolah-olah gerakan perlawanan Palestina bermain di sana pasca penggulingan Mursi sekaligus sebagai rasionalisasi penghancuran terowongan-terowongan seperti tersebut di atas. Padahal ada pihak lain bermain, militer dan intelijen Zionis “hampir pasti” mengambil peran dengan mengeruhkan konflik bersenjata di Sinai. Agar simpati rakyat Mesir terhadap kudeta militer meluas, ada pembenaran sekaligus untuk menumpas gerakan perlawanan Palestina yang diopinikan merugikan stabilitas Mesir. Berkali-kali pihak Palestina menyangkal terlibat dalam konflik senjata sebelum dan setelah kudeta militer. Tetapi opini ini justru tenggelam. Penembakan, beberapa bom dan serangan terhadap militer Mesir? Pasca kudeta ini hal tersebut mencoba diarahkan bahwa pelakunya adalah yang dirugikan dengan kejadian ini. Dengan kata lain pemicu dan pelaku kekerasan di Sinai secara otomatis hanya dua: pendukung Mursi atau gerakan perlawanan Palestina di Gaza. Padahal kesimpulan tersebut sangat prematur. Mereka melupakan Zionis yang seolah hanya duduk manis menyaksikan pertikaian dua saudara bertetangga ini. Terlalu naif bila opini ini tak dikembangkan.

Melalui kudeta ini, rakyat Palestina terutama yang di Gaza khawatir, permasalahan Palestina akan tereduksi. Karena kepedulian terhadapnya akan kembali mundur bahkan lebih buruk dari sebelumnya. Dari sisi pengamanan militer, sudah pasti akan terjadi peningkatan dan pengerahan masif di wilayah dataran Sinai. Maka pihak Zionis bisa lebih nyaman sekaligus menghemat anggaran karena fungsi pengamanan dibantu oleh militer Mesir. Sedangkan anggaran militer Mesir akan meningkat tajam, terutama untuk menjaga wilayah perbatasan, disamping sibuk meredam efek dari kudeta yang mereka lakukan kepada presiden terpilih yang sah.

Militer Mesir, juga Zionis sangat khawatir jika efek kudeta juga sampai secara masif di Sinai. Efek buruk bisa terjadi jika para penduduk Sinai ikut-ikutan turun ke jalan mendemo kudeta atau terjadi benturan massa antara yang pro militer dan pendukung Mursi. Maka menciptakan suasana mencekam dan tak aman juga merupakan salah satu strategi. Karena penduduk perbatasan paling tahu kondisi yang di alami rakyat Palestina di Gaza.

Pemerintah Zionis membuka Border “Ain Sina”. Sebuah perbatasan Mesir dan Israel yang selama lebih dari sepuluh tahun ditutup rapat. Para pengamat militer mencurigai ada sesuatu di balik pembukaan perbatasan ini. Pembukaan perbatasan (Ain Sina) yang disertai penutupan dan pengawasan berlebihan di perbatasan yang lain (Refah).

Tindakan-tindakan provokatif di atas untuk memancing otoritas Palestina di Gaza agar melakukan respon negatif yang bisa mereduksi simpati rakyat Mesir khususnya dan dunia internasional secara umum. Di saat yang sama media dan militer memerlukan “sedikit” saja statemen dan respon negatif tersebut untuk dijadikan rasionalisasi sekaligus didramatisir secara bombastis.

Kondisi-kondisi di atas belum termasuk pengamatan dan perkembangan di rumah sakit-rumah sakit. Beberapa pasien gagal ginjal semakin menderita dengan ditutupnya perbatasan Refah. Ketersediaan obat dan peralatan medis kembali menjadi kendala serius di klinik-klinik dan rumah sakit Gaza.

Sudah ada puluhan dan ratusan bahkan ribuan penduduk Palestina meninggal karena serangan militer Israel. Puluhan rumah, pemukiman, tempat-tempat umum hancur karena rudal-rudal mereka. Maka sulit dibayangkan ada perkembangan buruk dengan pemadaman-pemadaman ekstrim listrik harus kembali terjadi. Subsidi bahan bakar yang berhenti mengancam puluhan aktivitas mesin yang berdampak pada hajat hidup masyarakat. Mengingat rata-rata pemadaman listrik setiap hari kini meningkat menjadi di atas dua belas jam dari hanya delapan jam sebelumnya.

Maka sudah matikah hati manusia ketika mendengar ada seorang ibu terluka bakar parah karena melindungi keempat anak kecilnya dari kebakaran di rumahnya? Tahukah Anda penyebab kebakaran tersebut?

Itu karena lilin yang mereka gunakan sebagai penerangan menyambar selembar kain yang kemudian membesar hingga sulit dipadamkan. Akibat dari lamanya pemadaman listrik yang sering terjadi.

Dan lautan manusia di Cairo, Aleksandria, Ismailia, Mansoura dan tempat-tempat lainnya yang menolak kudeta sebenarnya mempertahankan amanat demokrasi yang menyuarakan secara simpatik kepada pembelaan Bangsa Palestina. Di samping menjadi urusan internal Mesir, perkembangan kondisi terakhir tetap memberi dampak pada Palestina.

So… masih memihak kudeta militer atas demokrasi atau enggan menamakan kejadian ini sebagai kudeta? Jika bukan demikian, lantas apakah namanya?

Cepat atau lambat, tabir gelap peristiwa tersebut akan tersingkap . Dan karena para pejuang anti-kezhaliman berulang-ulang serukan : PENSIUN DARI KEPENSIUNAN dalam membela dan mengawal keadilan dan amanat masyarakat, singkirkan kezhaliman yang angkuh, kelaliman yang dungu serta kesewang-wenangan yang rapuh.

HasbunalLâhu wa ni’ma al-wakîl.

Catatan Keberkahan 011

Jakarta, 21.07.2013

Terinspirasi oleh: 

Kudeta militer  Presiden Mesir yang terpilih secara demokratis, Dr. Muhammad Mursi oleh Menteri Pertahanan Mesir Jendral Abdul Fattah as-Sisy, 3 Juli 2013 dan Nelson Mandela International Day 18 Juli 2013 – di Menara Thamrin (United Nation Information Center [UNIC] Jakarta dan Kedutaan Besar Afrika Selatan di Jakarta)

MENGAPA BUKAN DI ZAMAN NABI SAW?

Dr. Saiful Bahri, M.A

Masjid al-AqshaUrgensi Masjid al-Aqsha yang dikaitkan dengan Masjid al-Haram sudah tak terbantahkan dan sangat melekat erat di benak setiap umat Islam. Namun, ada satu hal yang agak mengganjal. Sebagian kita mungkin bertanya atau setidaknya menyimpan tanda tanya besar dalam benaknya: Mengapa futuhât kota al-Quds tidak terjadi di zaman Nabi Muhammad SAW, tetapi justru terjadi di era khalifah kedua, amîrul mu’minîn Umar bin al-Khatthab ra?

Bukankah nubu’ât itu terlihat jelas, dimulai dengan dipilihnya Masjid al-Aqsha sebagai tempat transit Nabi SAW sebelum beliau mi’râj ke langit dan sidratil muntaha. Beliau bahkan sempat mendirikan shalat di sana, berjamaah dengan para nabi dan rasul utusan Allah, bertindak sebagai imam mereka. Bukankah Allah juga sanggup memperjalankan beliau secara langsung dari Masjid al-Haram di Mekah ke sidratil muntaha dan menerima titah perjalanan malam tersebut. Mengapa harus ke Masjid al-Aqsha?

Pertama, tentu tempat ini memiliki urgensi dan sejarah penting. Allah ingin tunjukkan hal tersebut.

Kedua, Allah ingin memberitahu keterkaitan semua risalah di bumi-Nya dengan eksistensi bumi yang diberkahi tersebut. Orbit risalah keberkahan itu –di antaranya- berasal dari tempat itu.

Ketiga, Allah hanya akan wariskan bumi yang diberkahi tersebut kepada kaum yang beriman, dari kalangan manapun, tanpa membedakan jenis kelamin dan etnis mereka.

Terbebasnya Al-Aqsha (al-Quds) melalui tangan-tangan pasukan muslimin di era Umar, memberikan nuansa cerita perjuangan yang berkesinambungan. Sekaligus menggambarkan bahwa pembebasan al-Quds tidak bergantung pada figur personal –saja- tetapi lebih kepada keshalihan kolektif.

Lantas… ada pertanyaan selanjutnya.

Tak ada yang meragukan keshalihan personal Nabi Muhammad SAW, sebagaimana tak terjadi perbedaan pendapat tentang keshalihan generasi pertama (para shahabat). Tetapi tentu ada hikmah lain yang dikehendaki Allah, terjadinya pembebasan al-Quds dan dikembalikannya Masjid al-Aqsha ke tangan umat Islam justru terjadi setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW.

Di antara hikmah tersebut adalah kesinambungan ruh dan jiwa serta keimanan. Karena, faktanya bahwa Masjid al-Aqsha hanya akan diwariskan kepada orang-orang yang beriman saja. Demikian ditegaskan oleh Allah dari sejak diutusnya para nabi hingga kaum-kaum beriman yang mengikutinya.

Lihatlah Nabi Nuh yang disertai pamannya, Nabi Ibrahim ketika Allah selamatkan dari siksa pedih yang akan ditimpakan kaumnya, hujan batu dan dibalikkannya tanah tempat mereka berada. “Dan Kami seIamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia.” (QS. Al-Anbiya [21]: 71). Kata (الذي باركنا حوله/فيه) “sebuah negeri yang Kami berkahi” penggunaan yang senada seperti dalam peristiwa isra’.

Demikian juga janji Allah yang akan diberikan kepada pengikut Nabi Musa yang diselamatkan dari Fir’aun. “Dan Kami wariskan kepada kaum yang telah ditindas itu, negeri-negeri bagian timur bumi dan bagian baratnya yang telah Kami beri berkah padanya. Dan telah sempurnalah perkataan Tuhanmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka. Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir’aun dan kaumnya dan apa yang telah dibangun mereka.” (QS. Al-A’raf [7]: 137) Negeri yang dimaksud dalam ayat ini sebagaimana disebut di QS. Al-Maidah [5]: 21. Yaitu bumi Palestina (Bait al-Maqdis)

Simak dan tadabburi bersama kisah Sulaiman yang diberi mukjizat angin oleh Allah. “Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang kami telah memberkatinya. Dan adalah Kami Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Anbiya [21]: 81). Negeri yang dimaksud adalah negeri Syam dan Palestina.

Kisah kaum Saba yang berada di era kejayaannya juga terselip cerita tentang bumi yang diberkahi, “Dan Kami jadikan antara mereka dan antara negeri-negeri yang Kami limpahkan berkat kepadanya, beberapa negeri yang berdekatan dan Kami tetapkan antara negeri-negeri itu (jarak-jarak) perjalanan. Berjalanlah kamu di kota-kota itu pada malam hari dan siang hari dengan dengan aman.” (QS. Saba [34]: 18). Yaitu jarak antara negeri Saba’ dan desa-desa di Syam (Palestina)

Bahkan Nabi Musa AS. meminta untuk diwafatkan di tanah yang diberkahi tersebut, di tanah Bait al-Maqdis.

أخرجه البخاري و مسلم عن أبي هريرة رضي الله عنه ، أنه صلى الله عليه وسلم قال : أرسل ملك الموت إلى موسى عليه السلام ، فلما جاءه صكَّه ففقأ عينه ، فرجع إلى ربه فقال : أرسلتني إلى عبد لا يريد الموت ، قال : فرد الله إليه عينه وقال : ارجع إليه ، فقل له : يضع يده على متن ثور ، فله بما غطت يده بكل شعرة سنة ، قال : أي ربِّ ثم مه ؟ قال : ثم الموت ، قال : فالآن ، فسأل الله أن يدنيه من الأرض المقدسة رمية بحجر ، فقال رسول الله – صلى الله عليه وسلم- فلو كنت ثَمَّ لأريتكم قبره إلى جانب الطريق ، تحت الكثيب الأحمر

Hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah ra, Nabi Muhammad SAW bersabda , “Allah mengutus malaikat maut kepada Nabi Musa as. Ketika sampai kepadanya Musa mencolok matanya. Kemudian ia kembali pada Tuhannya dan mengadu: Engkau mengutusku kepada seorang hamba yang tak menginginkan kematian. Allah kembalikan matanya kemudian perintahkan kembali kepadanya (Musa as). Katakan padanya: letakkan tangannya di atas punggung seekor banteng, maka bagian yang tertutupi tangan setiap helai rambutnya satu tahun. Musa bertanya: kemudian apa Ya Rabb. Allah mengatakan: kemudian kematian. Maka sekarang. Musa memohon agar ia didekatkan dengan tanah suci (Bait al-Maqdis) sedekat lemparan batu. Rasulullah SAW bersabda: Jika aku berada di sana, tentu akan aku tunjukkan kuburannya di sebuah tepian jalan di bawah gundukan tanah merah

Sekilas hadits shahih di atas mengindikasikan bahwa Nabi Musa sangat angkuh dan suka main kekerasan. Padahal ada penjelasan yang sangat argumentatif, seperti yang disampaikan oleh Ibnu Hajar saat mensyarah hadits Bukhari diatas ataupun Imam Nawawi saat member penjelasan hadits Muslim tersebut. Malaikat maut yang dikirim Allah di atas menjelma menjadi manusia biasa (juga sebagaimana Allah kirim kepada nabi-nabi-Nya atau orang-orang shalih dengan menyerupai manusia biasa lihat QS. Maryam [19]: 17). Nabi Musa tak mengetahui hal tersebut, maka ia anggap sang malaikat sebagai manusia biasa (orang asing) yang hendak mengganggu privasinya, memasuki rumahnya. Maka pembelaan diri Nabi Musa sebenarnya juga merupakan anjuran untuk pertahankan harga diri dan martabat. Bahkan sekelas malaikat pun “tak berdaya” menghadapi kekukuhan Nabi Musa atas hak bela dirinya. Maka saat ia kembali dan jelaskan maksud kedatangannya sesuai arahan Allah, Nabi Musa menerima takdirnya. Hanya saja, beliau meminta diberi kesempatan meninggal di tanah suci, bumi yang diberkahi Allah. Tanah Palestina.

Dan Masjid al-Aqsha adalah tempat sujud tertua kedua di dunia setelah Masjid al-Haram. Adamlah manusia pertama yang injakkan kakinya di sana, seorang nabi muslim yang beriman kepada Allah dan esakan-Nya.

Demikian dilanjutkkan keturunan Nuh, Ibrahim, Luth. Bahkan sampai saat keturunan Ya’qub ke tanah suci ini Masjid al-Aqsha dijaga oleh orang-orang yang beriman. Hingga datang saatnya Masjid al-Aqsha dikuasai orang-orang zhalim yang berbuat kerusakan dan menebar kemungkaran yang disebut oleh al-Quran dengan sebutan “qauman jabbârin”. Musa alaihissalâm dititahkan Allah memasukinya dan mengambil alih kendali kepemimpinan dan kemakmuran di tanah suci tersebut. Sayangnya titah tersebut dibantah oleh kaumnya. Dan Allah menghukum mereka. Bahkan mengharamkannya untuk selama-lamanya (menurut sebagian mufassirîn).

Allah juga kirimkan Dawud ‘alaihissalâm pemuda berusia delapan belas tahun yang hanya seorang penggembala kambing yang tergabung dalam pasukan yang dipimpin Panglima Thalut. Seorang pemuda muslim yang beriman ini bahkan tak dikenal siapa-siapa. Ia hanya seorang prajurit biasa sebagaimana yang lainnya. Tetapi kisahnya berubah setelah ditangannya Allah izinkan rezim Jalut berakhir. Ia menjadi pewaris mulia yang kemudian ditahbiskan menjadi seorang raja.

Allah juga kirim Zakariya dan putranya Yahya di tanah suci ini. Sepasang bapak anak yang nabi ini juga keponakannya Isa al-Masîh Allah kirim ke tanah suci. Tapi justru ketiganya diburu dan menjadi target pembunuhan oleh bangsa Yahudi saat itu. Dua yang pertama Allah takdirkan terbunuh sebagai syahid di tangan para durjana, sementara Isa Allah selamatkan dan angkat ke langit-Nya.

Tanah suci Bait al-Maqdis merupakan tanah yang –hanya- diwariskan oleh Allah hanya kepada siapapun dari hamba-Nya yang beriman, dari mana pun asalnya, tanpa diskriminasi kesukuan dan etnis serta jenis kelamin.

Allah hanya ingin menegaskan jika pertanyaan di awal tulisan ini setidaknya bisa dijawab, maka pembelaan al-Quds dan Masjid al-Aqsha. Penjagaan, pemeliharaan, jihad mempertahankan kesuciannya dan seterusnya tidaklah hanya menjadi tanggungjawab nabi-nabi, melainkan menjadi tanggung jawab semua orang beriman yang mengaku mengesakan Allah dan bersaksi bahwa Muhammad SAW sebagai utusan-Nya di mana pun, berasal dari mana pun, berlatar belakang apapun. Maka permasalahan al-Aqsha dan al-Quds tidaklah tereduksi hanya menjadi masalah bangsa Palestina –saja-, tetapi ini menjadi masalah universal seluruh umat Islam, lintas geografi, etnis bahkan lintas generasi, sampai tanah suci tersebut kembali kepada umat Islam. Keesaan Allah benar-benar ditegakkan di sana. Kira-kira sama seperti saat Umar memasukinya dengan kepala tegak meski tak angkuh dan sombong. Justru penuh tawadhu dan kesederhanaan. Mengundang decak kagum dan penghormatan. Sarat dengan kesantunan dan toleransi, penuh penghayatan jiwa kemanusiaan sekaligus menjadi penjaganya dari segala bentuk kezhaliman, apapun namanya, siapapun pelakunya.

Simak apa yang dilakukan Umar saat memasuki kota al-Quds.  Umar bin Khattab minta ditunjukkan oleh Pendeta Sophronius letak Masjid al-Aqsha, tempat yang dijadikan ahlul kitab beribadah. Setelah memasukinya ia bertakbir “Inikah masjid yang diberitahu oleh Rasulullah SAW?”, gumamnya. Waktu itu Masjid al-Aqsha  hanya merupakan pelataran dan tanah lapang yang luas. Sentrumnya berupa sebuah batu mulia yang menjadi pijakan Nabi Muhammad SAW saat hendak mi’raj, yang dijadikan kiblat shalat Nabi Musa dan kaumnya Bani Israil. Umar kemudian bertanya kepada Ka’b al-Ahbar (seorang tabi’in yang sebelumnya penganut yahudi); kira-kira di mana yang tepat untuk dijadikan tempat shalat di wilayah tersebut. Ka’b mengisyaratkan untuk membangunnya di belakang batu mulia tersebut (di bagian sebelah utara) sehingga bersatulah dua kiblat sekaligus; Kiblat Musa dan Kiblat Muhammad, dan batu tersebut berada di depan orang-orang yang shalat. Umar dengan tegas menolak usulan ini, dengan alasan karena mencampur dua kiblat. Yaitu kiblat yang sudah dinasakh (menghadap shakhrah/batu Masjid al-Aqsha) dan kiblat yang berlaku yaitu menghadap Baitullah al-Haram di Mekah. Hal ini justru menginspirasi beliau untuk mengeluarkan ide membangun masjid di depan batu mulia tersebut. Maka dibangunlah sebuah masjid di ujung selatan pelataran Masjid al-Aqsha sebagai tempat shalat tertutup yang didalamnya terdapat mihrab dan mimbar sekaligus. Itulah masjid pertama dalam bentuk fisik bangunan tertutup yang didirikan oleh Umar. Dan karena arahnya paling depan menghadap kiblat maka tempat tersebut dinamai dengan “al-Masjid al-Qibly”. Masjid ini berupa bangunan dari kayu-kayu yang bisa menampung sekitar seribu orang untuk menunaikan shalat. Kondisi ini berlangsung hingga zaman Muawiyah bin Abi Sufyan.

Sebenarnya di kompleks Masjid al-Aqsha yang memiliki panjang di bagian utara 310 m, bagian timur 462 m, bagian selatan 281 m, dan bagian barat 491 m tersebut dibangun beberapa tempat shalat (masjid/mushalla) selain al-Masjid al-Qibly, ada Mushalla al-Marwani yang terletak di sebelah kiri al-Masjid al-Qibly. Yaitu hall tertutup terbesar di kompleks Masjid al-Aqsha sebelah timur seluas 4000 m2. Ada juga al-Masjid al-Qadim, Mushalla an-Nisa’, Masjid Buraq, Masjid Magharibah.

Keenam masjid di atas terletak di depan batu mulia (ash-shakhrah) yang juga kemudian dikenal sebagai Masjid Qubbatu ash-Shakhrah sebagai salah satu seni interior dan eksterior bangunan yang sangat menakjubkan di salah satu era kejayaan Daulah Umawiyah. Masjid yang terakhir ini sering menjadi ikon Masjid al-Aqsha. Sehingga banyak yang mengira bahwa itulah Masjid al-Aqsha.

Kembali kepada kisah Umar. Beliau ingin melanjutkan tradisi sentralisasi masjid. Masjid dijadikan sebagai pusat peradaban. Dari masjid semuanya beliau ingin memulai. Maka di masjid itulah titik temu semua sendi peradaban Islam. Politik, ekonomi, kehidupan sosial, hukum, bahkan militer semua bermula dari tempat sujud. Ruh inilah yang saat ini digugat oleh kaum sekuler liberal yang ingin melunturkan ruh Islam agar jauh dari fisik umat Islam. Tak heran bila mereka mendengungkan agar Islam dan masjid sebagai ikonnya dijauhkan dari berbagai aspek kehidupan manusia. Seolah ingin dikatakan bahwa masjid hanya menjadi tempat shalat dan baca al-Quran saja.

Padahal Umar sebagaimana para pendahulunya, termasuk junjungannya Nabi Muhammad SAW selalu menjadikan masjid sebagai poros. Mus’ab bin Umair yang duta besar pertama dalam Islam, pakar diplomasi adalah jebolan masjid. Khalid bin Walid yang pakar strategi perang adalah alumni masjid, Amru bin Ash si cerdik yang pakar negosiasi adalah binaan masjid, Abdurrahman bin Auf, si tangan emas yang saudagar kaya itu adalah orang yang selalu mengakrabi masjid, si gerbang ilmu Ali bin Abi Thalib juga sang pecinta masjid, Hudzaifah yang musuh para munafiqin itu juga sehari-harinya di masjid, Abu Hurairah sang pakar hadits itu juga bahkan tinggal di teras masjid. Dan sederet panjang nama-nama para pahlawan Islam, semuanya bermula dan berujung dari masjid. Pendidikan dan ruh, binaan masjid; tempat sujud.

Saat Umar memasuki bait al-Maqdis dari al-Jabiyah untuk menandatangi piagam perdamaian dengan penduduk kota, Pendeta Sophronius mempersilakan dan memohon kepada beliau melakukan shalat di Gereja al-Qiyamah. Tetapi Umar menolaknya. Beliau mengatakan , “Jika aku shalat di dalamnya, aku khawatir orang-orang setelahku akan mengatakan ini mushalla Umar, kemudian mereka akan berusaha membangun masjid di tempat ini”. Itulah toleransi yang diajarkan Umar. Toleransi yang didengungkan nihil terjadi oleh kaum sekuler dan para pendengki jika umat Islam berkuasa. Faktanya menunjukkan sebaliknya. Justru sang pendeta yang meminta dan Umar menolaknya dengan halus serta mengemukakan alasan dengan sangat argumentatif, sangat santun.

Kini saat Islam digugat berbagai sektor, maka justru menjadi inspirasi bagi umat Islam untuk memulai kembali membangun kejayaan peradaban dari masjid. Termasuk proyek besar mengembalikan Masjid al-Aqsha secara berdaulat ke tangan umat Islam, tanpa kekhawatiran nihilnya toleransi seperti propaganda-propaganda kebencian yang terdengung setiap hari dengan berbagai cara yang tak bermartabat.

Wahai pemburu kebaikan terimalah keberkahan ini, wahai pelaku dosa dan kemaksiatan kembalilah ke masjid. Bersama bangun peradaban. HasbunalLâhu wa ni’ma al-wakîl.

Catatan Keberkahan 010

Jakarta, 10.07.2013

Bahan Kontemplasi:

  1. Dr. Abdullah Ma’ruf Umar, al-Madkhal ilâ al-Masjid al-Aqshâ al-Mubârak.
  2. Dr. Yusuf al-Qaradhawy, Al-Quds Qadhiyyah Kulli Muslim.
  3. Dr. Syauqi Abu Khalil, Al-Uhdah al-Umariyah: al-Bu’du al-Insâniy fi al-Futuhât al-Islâmiyah.
  4. Ali Ath-Thanthawi, Al-Islâm fi Qafash al-Ittihâm.
  5. Amru Khalid, Al-Aqshâ Kaifa Ya’ûd.
  6. Mukhlish Yahya Barzaq, Hadyu al-Musthafâ fi Gharsi Hubbi al-Aqshâ.

UMAR DAN KUNCI KOTA AL-QUDS


Dr. Saiful Bahri, M.A

al Quds key

Ternyata magnet kota al-Quds (Jerussalem) sangat kuat sehingga bangsa-bangsa dan imperium-imperium adidaya pernah mencoba mendudukinya, tak terkecuali dua imperium besar Romawi dan Persia.

Dua imperium tersebut selalu berebut pengaruh, dua perang besar silih berganti dimenangkan oleh masing-masing pihak; di zaman Nabi Muhammad SAW. Bahkan Persia lebih terlihat superioritasnya dengan melemahnya imperium Romawi Timur.

Tahun 611 M Pasukan Persia menyerbu Suriah. Tiga tahun kemudian, pada tahun 614 M Al-Quds berhasil ditaklukkan Imperium Persia. Setahun kemudian bahkan mereka merengsek sampai ke Pantai Bosporus yang berjarak tipis dengan Konstantinopel. Disusul pada tahun 619 M mereka merebut Alexandria dan seluruh wilayah Mesir.

Tapi kemenangan Persia atas Romawi Timur ini tak bertahan lama. Byzantium kembali menguat setelah dipimpin Kaisar Heraclius (610-641 M). Sempat menjadi Gubernur Afrika Utara ia kembali ke Konstantinopel dan berhasil merebut kembali kekuasaan Romawi dari Persia, Phocas sang penghancur kejayaan Byzantium. Bahkan pada tahun 624 M Heraclius berhasil memukul kekuatan penting Persia. Tentara yang dipimpinnya bergerak dari Pantai Laut Hitam di Turki, melintasi Irak Barat dan Utara, meruntuhkan kuil api yang terkenal di Syiz dan istana Choesroes di Dastgard.

Heraclius menjadi sangat sukses dan terkenal, terlebih setelah saingan beratnya Choesroes meninggal serta terjadi perpecahan internal imperium Persia. Maka pada tahun 629 M ia memaksa mundur Pasukan Persia dari Suriah dan Mesir. Byzantium kembali menikmati masa jayanya, kembalikan wilayah-wilayah yang pernah dikuasai Persia bahkan menambah ekspansinya.

Adapun periode Islam pernah mendekat  dan bersinggungan dengan kekuatan kekaisaran Romawi, Perang Mu’tah menjadi saksi kekuatan militer Romawi, tetapi kecerdikan panglima baru, sang muallaf yang pakar strategi perang Khalid bin Walid berhasil menyelamatkan kaum muslimin dari kekalahan di peperangan yang tak berimbang tersebut.

Setelah wafatnya Rasulullah SAW, Khalifah Abu Bakar mengirim tim ekspedisi ke Suriah, menandai dimulainya futuhat (penaklukan) yang sesungguhnya terhadap negeri tersebut. Adalah Sang Panglima Khalid bin Walid yang mengemban tugas futuhat negeri Syam. Dimulai dari medan Perang Ajnadain yang terjadi pada tahun 634 M.

Sebelumnya, Khalifah Abu Bakar telah mengirim empat pimpinan pasukan dari arah yang berbeda-beda. Setelah usai memenangi pertempuran harbu riddah, beliau kirim Amru bin Ash dari arah Palestina, Syurahbil bin Hasanah dari Bostra, Abu Ubaidah bin al-Jarrah dari al-Jabiyah dan Yazid bin Abi Sufyan dari Yordania. Semuanya ditugaskan untuk menaklukkan jantung Syam, Damaskus.

Keempatnya adalah pasukan-pasukan kecil yang beroperasi secara independen di zona perbatasan di sisi Timur laut Mati dan Lembah Yordan. Adapun Amru bin Ash bersama sekitar tiga sampai empat ribu orang melakukan perjalanan di sepanjang Pantai Laut Merah sampau ke kepala Teluk Aqabah, kemudian membelok kea rah barat dan berkemah di sebuah padang pasir yang di kenal dengan Wadi Arafah. Dari sana mereka bergerak ke dataran Najaf, sebelum menuju laut di Gaza. Di sebuah desa Dathin amru bin Ash berhasil mengalahkan sekelompok pasukan Byzantium.

Abu Bakar melihat urgensi menyatukan pasukan di bawah seorang pakar strategi perang Khalid bin Walid. Khalid yang berada di Iraq membawa sekitar sembilan ribu pasukan diminta bergabung untuk membantu penaklukan Suriah. Setelah berhasil menyerang pasukan Byzantium di Padang Rumput Rahit, utara Damaskus pada 24 April 634 beliau segera ke selatan, segera menyusul Abu Ubaidah dan Surahbil. Dan semua pimpinan pasukan menyerahkan tampuk kendali militer kepadanya seperti titang Sang Khalifah. Beliau mulai menyerang Bostra –sisi utara perbatasan antara Yordania-Suriah.

Bostra takluk. Khalid bergerak ke barat menggabungkan pasukan Amru bin Ash yang meraih kemenangan di Dathin. Di saat yang sama Byzantium menyiapkan kekuatan besar yang berkumpul di barat daya al-Quds, di jalan menuju Gaza. Khalid mengatur strategi perang sehingga kedua pasukan besar ini bertemu di sebuah tempat bernama Ajnadain. Tiga puluh ribu pasukan muslim menghadapi seratus ribu pasukan Byzantium. Ini adalah pertemuan terbesar pertama antara pasukan muslim dan Byzantium. Kemenangan diraih pasukan muslim meski harus merelakan kepergian empat ratus lima puluh syahid yang gugur dalam pertempuran ini. Sementara ribuan pasukan Byzantium terbunuh dan sisanya berlarian ke arah Al-Quds dan mundur ke Damaskus.

Pasukan muslim terus memburu ke Damaskus. Khalid bin Walid di Gerbang Timur (Bab Syarqi), Amr bin al-Ash di Gerbang Thomas (Bab Tuma), Abu Ubaidah di Gerban al-Jabiyah, dan Yazid di Gerbang Kaysan di sisi selatan. Pasukan muslim tak memiliki senjata/mesin penyerang atau peralatan yang lebih canggih dari tali, panah, pedang dan tangga. Maka mereka melakukan blokade. Hingga Khalid menemukan kelengahan mereka sehingga bisa menaiki benteng dan membobolnya.

Setelah Damaskus jatuh, Heraclius mundur ke Antioch wilayah utara Suriah. Di sinilah ia kembali menyusun kekuatan dan bermaksud mengusir pasukan muslim dari Damaskus. Ia akan melakukan perang puputan. Heraclius berhasil mengumpulkan lebih dari dua ratus ribu pasukan, sementara gabungan pasukan yang berhasil dihimpun Khalid tak sampai mencapai empat puluh ribu orang.

Pasukan Byzantium berkumpul di Homs, bergerak ke selatan melintai lembah Biqa’ melewati Ba’albak, kemudian berkumpul di al-Jabiyah, di Dataran Tinggi Golan. Pertemuan kedua pasukan terjadi di dekat Sungai Yarmuk, pusat perairan yang ditumbuhi tanaman. Tepatnya di lembah Yarmuk (di selatan) dan Golan (di utara), yaitu sebuah dataran berbukit dan berbatu serta dikelilingi pedesaan dan hamparan tanam-tanaman yang luas.

Bukan sekali ini saja Khalid bin Walid bertemu pasukan Byzantium, maka sebelum peperangan benar-benar terjadi sangat terlihat kematangan beliau. Terutama dalam menyikapi perang urat syaraf yang dilancarkan pimpinan pasukan Byzantium. Di samping tidak berimbangnya jumlah pasukan kedua pihak. Dipihak Byzantium terdapat setidaknya dua ratus lima puluh ribu pasukan (250000), sementara tentara muslimin hanya berjumlah tiga puluh enam ribu (36000) personil. Secara khusus respon Khalid dan strateginya tersebut telah diulas dalam tulisan sebelumnya (lihat kembali: Catatan Keberkahan 7, Psy War)

Pertempuran besar kedua yang terjadi pada bulan Agustus 636 M ini kembali dimenangi pasukan muslimin.

Kekalahan dalam Perang Yarmuk merupakan pukulan telak dan malapetaka (katastrofe) bagi Byzantium dan kabar tersebut menyebar ke mana-mana. Dan satu persatu kota-kota penting negeri Syam berhasil ditaklukkan dengan futuhat islamiyah.

Kemenangan di Yarmuk semakin melambungkan Khalid bin Walid, pakar strategi perang yang paling sering diangkat sebagai pimpinan tertinggi pasukan muslim dalam berbagai ekspedisi dan futuhat. Tapi sepeninggal Abu Bakar dan digantikan oleh Umar bin Khattab, justru pimpinan tertinggi pasukan muslim diserahkan ke Abu Ubaidah bin al-Jarrah. Beliau selanjutnya yang mengemban misi penaklukan al-Quds. Khalid legawa, qana’ah dengan keputusan sang panglima tertinggi, Khalifah Umar bin Khattab. Abu Ubaidah juga tak jumawa merasa lebih baik dari pendahulunya. Keduanya sama-sama berderet prestasi, dan keduanya mengajarkan arti keikhlasan dan loyalitas. Terlepas dari proses penyerahan tersebut, Khalid memiliki firasah yang tajam, strategi yang matang. Surat mutasi kepemimpinan militer beliau terima di tengah kecamuk Perang “Puputan” Yarmuk, dari Khalifah Umar bin Khattab. Tetapi beliau menyampaikan surat tersebut kepada Abu Ubaidah pasca kemenangan perang. Beliau meminta izin kepada sang kurir. Saksikan etika tingkat tinggi yang dipraktekkan para qiyadah (pimpinan) kaum muslimin. Tak ada ego dan emosi berlebihan meski dengan berbagai perbedaan pendapat.

Dari sekian sekian kota, ada sebuah kota yang penaklukannya lebih emosional, dan bersifat simbolik daripada kepentingan militer. Yaitu fathu al-Quds (penaklukan Yerussalem), kota yang pernah menjadi kiblat pertama umat Islam di era awal diutusnya Nabi Muhammad SAW. Kota yang menjadi pijakan dan tolakan beliau melakukan mi’raj langit dan sidratil muntaha.

Penanggungjawab kota Yerussalem adalah seorang patrik, Pendeta Sophronius dari Yunani. Orang cerdas dan berpendidikan ini berkali-kali marah dan berapi-api dalam khutbahnya atas kekalahan-kekalahan yang dialami Byzantium.

Penaklukan al-Quds tidaklah bisa dipisahkan dari rentetan futuhat sebelumnya yang disebut di atas. Seperti halnya kota-kota sebelumnya Abu Ubaidah memulai blokade kola Al-Quds dari November 636 M. Sophronius berharap Heraclius mengirim bantuan padanya, di saat musim dingin mencekik pasukan muslim di luar benteng, ia harapkan mereka menyerah. Tapi yang terjadi sebaliknya. Heraclius tak ketahuan rimbanya setelah memutuskan hengkang dari Suriah ke utara, sementara pasukan muslim tak juga bergeming. Mentalnya drop, sebagaimana pasukan dan rakyat al-Quds semakin berdebar-debar.

Setelah enam bulan kekuatan yang tersisa di Yerussalem menyerah dengan sebuah syarat bahwa mereka harus menyerahkan langsung kunci kota al-Quds pada pimpinan tertinggi umat Islam saat itu.

Abu Ubaidah ditolak Sophonius, karena ia ternyata hanya seorang pimpinan pasukan biasa, bukan pimpinan tertinggi umat Islam. Konon, ia terilhami sebuah cerita termaktub dalam kitab sucinya bahwa yang akan menaklukan kota “Elia” (Al-Quds) memiliki tiga sifat khusus dan ia harus serahkan langsung padanya kunci kota tersebut. Yaitu: datang dengan berjalan kaki, kedua kakinya dikotori debu dan lumpur serta ada beberapa lubang dan tambalan di pakaiannya.

Maka Abu Ubaidah berkirim surat pada Khalifah Umar. Setelah berdiskusi dengan para sahabat seperti Usman dan Ali serta beberapa sahabat terdekatnya, Umar bin Khattab berangkat dari al-Madinah al-Munawwarah tanpa dikawal iring-iringan tentara. Tidak juga sebuah pasukan khusus yang terlatih. Tidak juga kendaraan baja anti peluru yang super canggih. Tak juga di bawah pengawasan pasukan elit yang tak terkalahkan. Ia datang dengan kerendahan hati. Mencegah tertumpahnya darah orang-orang tak berdosa.

Ia datang berdua dengan pelayannya. Keduanya bergantian menaiki kuda. Dan saat beliau memasuki kota al-Quds, giliran Umar yang menuntun kuda sementara sang pelayan berada di punggungnya.

Maka saat Sophronius menyaksikan langsung kedatangan Umar, tanpa ragu ia serahkan kunci kota al-Quds. Tanpa ragu ia tanda tangani kesepakatan dengan jaminan keamanan dan kebebasan beribadah serta tak ada orang Yahudi yang hidup di Yerussalem. Demikian kira-kira isi kesepakatan tersebut.

Dan menjadi sebuah sejarah bahwa penyerahan kota dan perjanjiannya ditandatangi langsung oleh khalifah, dan dikenal perjanjian itu dengan al-‘uhdah al’umariyah. Tertera sebagai saksi adalah nama-nama populer seperti Khalid bin Walid, Amr bin al-‘Ash dan Muawiyah bin Abi Sufyan.

Peristiwa tersebut terjadi di musim semi, pada bulan April 637 M (Rabi’ al-Awwal 16 H). Itulah akhlak yang dicontohkan para pimpinan umat Islam yang dipadu dengan strategi dan persatuan yang sangat kuat.

Umat Islam saat ini sangat merindukan pimpinan-pimpinan seperti Umar bin Khattab, Abu Ubaidah dan Khalid bin Walid. Berbeda pendapat dan sudut pandang, tapi santun dalam berpolitik, dan mengutamakan kesatuan umat serta mengedepankan sisi humanisme menjaga keamanan dan darah orang-orang tak berdosa. Jika figur-figur seperti itu sudah mulai teridentifikasi, rasanya pintu gerbang al-Quds tidaklah jauh dari kita. HasbunalLâhu wa ni’ma al-wakîl.

Catatan Keberkahan 009

Jakarta, 01.07.2013

*) Bostra adalah kota di sisi utara perbatasan antara Yordania-Suriah, dataran subur terhampar dengan bebatuan basat hitam, sementara di sisi utara kota tersebut menjulang perbukitan vulkanik, Hawran.

**) Sebagian tulisan di atas terinspirasi dari buku Al-Uns al-Jalîl bi Târîkh al-Quds wa al-Khalîl karya sejarawan muslim Mujiruddin al-Hanbali asal Rammallah, Palestina (1456-1522 M) dan The Great Arab Qonquests karya Hugh Kennedy.

Kultwit #RiskManagement Perspektif Ayat-Ayat Al-Quran

Saiful Bahri

risk management

Yuk.. sambung lagi… kembali kita bahas #RiskManagement dari perspektif ayat-ayat al-Quran

  1. Risiko adalah bahaya atau akibat dari suatu proses, termasuk ketidakpastian yg bisa menimbulkan kerugian atau hal yg tak diinginkan.
  2. #RiskManagement adl pengelolaan risiko, ketidakpastian/ancaman, dg antisipasi, menyiapkan respon, mengurangi efek atau mencari alternative
  3. #RiskManagement biasa digunakan untuk dunia usaha, bisnis & ekonomi. Tetapi bisa digunakan untuk organisasi & dimensi kehidupan lainnya.
  4. Melalui #RiskManagement masalah bisa diidentifikasi, kemudian diukur & ditimbang risikonya, sehingga memungkinkan dikelola dengan baik
  5. Lihat #RiskManagement Nabi Ibrahim(QS.14:35), Nabi Ya’qub(QS.2:133), sbg antisipasi ancaman thd akidah anak2nya&direspon baik oleh mereka
  6. Setelah doa keamanan Ibrahim memohon dijauhkan dr berhala progresif.Krn perspektif keamanan yg tertinggi adl amankan akidah keturunannya
  7. Sdgkan Ya’qub perlu mdpt jawaban pasti dr anak2nya, apa yg mereka sembah sepeninggalnya. Mrk merespon baik dgn sebuah penegasan: …
  8. “Kami kan menyembah Tuhanmu & Tuhan nenek moyangmu,Ibrahim,Ismail & Ishaq,(yaitu) Tuhan Yg Maha Esa & kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”
  9. Baca #RiskManagement atasi kebodohan umat dg setiap rasul yg diutus-Nya selalu dibekali hikmah & ilmu (QS.12:22, QS.21:74,79, QS.28:14)
  10. Telaah #RiskManagement: anjuran tutup celah klemahan dg prtahanan militer & kesiagaan penuh (QS. 8:60) tuk minimalisir ancaman eksternal
  11. “kekuatan apa saja yang kamu sanggup” (QS. 8:60) indikasikan kerahkan sgl jenis kekuatan: sebagian utk ditunjukkan & gentarkan musuh
  12. “dari kuda-kuda yang ditambat utk berperang” (QS. 8:60) indikasikan kesiagaan penuh disepanjang waktu, warning bg siapa sj yg mau ganggu
  13. Lihat #RiskManagement Nabi Yusuf atasi krisis pangan,dilakukan sejak dini dg hidup hemat,saat sdg panen,kemudian adil & jeli saat krisis
  14. Diantara yg menarik dlm #RiskManagement adl manajemen komentar.Slama ini sbagian kita fokus pd komentar org thd dirinya & tdk sebaliknya
  15. Dikomentari orang itu sudah biasa, tapi jarang terpikir oleh kita saat kita komentari sesuatu atau sikap & perkataan seseorang.
  16. Saat masih muda tekun ibadah, teratur & hidup terencana. Kadang undang komentar orang dg disebut “sok alim”/ “sok suci” bahkan “munafik”
  17. Al-Quran ajarkan manajemen komentar dlm (QS.6:108) “Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah”
  18. “karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan” maka perlu diukur kemungkinan respon yg berlebihan
  19. Note: larangan memaki di atas BUKAN berarti larangan nahi mungkar atau kritis & melawan terhadap setiap kezhaliman & kebatilan.
  20. Al-Quran jg ajarkan #RiskManagement ttg security. Sbagian besar org perspektifkan keamanan dg materi. Padahal yg utama adalah …
  21. Adalah minimalisir ketakutan (QS.106:4) setelah datangnya kemakmuran sebagai solusi sekaligus antisipasi dr kelaparan & krisis pangan.
  22. Dan ketakutan yg paling utama adl terganggunya akidah kita & anak-2 kita. Kembali tiliklah standar keamanan Nabi Ibrahim (QS.14:35)
  23. Stl mohon pengamanan & keamanan, Ibrahim sambung doanya “agar dijauhkan dr menyembah berhala” yg diayat stlnya diperspektifkan progresif
  24. Yaitu melalui kata ganti “innahunna adhlalna katsiran minan nas” yg sesatkan banyak manusia. Dan tak memakai kata ganti “innaha”
  25. Hal yg sama jg dilakukan Nabi Sulaiman. Saat Hudhud gambarkan kemegahan istana Balqis & kesejahteraan kaum Saba, beliau biasa2 saja.
  26. Sesungguhnya aku jumpai seorang wanita yg memerintah mereka & dia dianugerahi sgl sesuatu serta punyai singgasana yang besar (QS. 27:23)
  27. Tapi saat Hudhud kabarkan, “Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah” (QS. 27:24) Sulaiman segera meresponnya.
  28. “Pergilah dg (bawa) suratku ini,lalu jatuhkan kpd mrk,kemudian berpalinglah dr mereka, lalu perhatikan apa yg mrk bicarakan” (QS. 27:24)
  29. Masih byk ayat-2 al-Quran yg ajarkan kita #RiskManagement. Ada baiknya kita eksplorasi bgmn Rasul SAW ajarkan Abu Umamah hdpi kelemahan
  30. “Allahumma inni a’udzu bika minal hammi wal hazan … minal ajzi wal kasal … minal jubni wal bukhl … min ghalabatiddain wa qahrirrijal”
  31. Rasul SAW ajarkan berlindung diri dari: murung & sedih, lemah & malas, pengecut & kikir, terlilit hutang & dibawah tekanan orang.
  32. Murung & sedih akan mengurung potensi2 hebat yg Allah karuniakan pd setiap makhluk-Nya tanpa terkecuali, sebabkan sempitnya hati.
  33. Lemah & malas akan membunuh kreativitas & produktifitas serta menyerah terhadap setiap tantangan yg dihadapi tuk raih sukses & bahagia
  34. Pengecut & kikir akan gerus tanggung jawab & pupuk jiwa egoistik >> atasi dengan rajin sedekah & berani bertanggungjawab
  35. Terbiasa terlilit hutang adalah akibat sikap & gaya konsumerisme. Atasi dgn sikap qona’ah, sederhana & miliki prioritas serta giat usaha
  36. Jgn biasakan hidup dbawah tekanan org. Entah krn hutang jasa atau krn ditakut2i. Atasi dg kemandirian,iffah & kebersamaan dg org2 shalih
  37. Risiko adalah bagian dari kehidupan, ibarat bumbu-bumbu. Jika kurang maka tak sedap, jika kebanyakan maka tak lezat. #RiskManagement

Jakarta, 30.06.2013