PSY WAR

Dr. Saiful Bahri, M.A

Selain cyber war, agresi militer dan hal-hal lain yang bertujuan mempertahankan penjajahan dan pendudukan ilegal, Zionis Israel juga melakukan perang urat syaraf (psy war) untuk mengukuhkan hegemoninya atas Palestina. Perang urat syaraf ini dilakukan dengan berbagai tujuan, di antaranya untuk melemahkan perlawanan, mencari dukungan internasional dan menikmati pendudukan dan perampasan ilegal. Hal tersebut dilakukan dengan berbagai model dan cara. Misalnya, dengan menunjukkan (show) kekuatan militer, dimulai dari peralatan yang canggih dan serba terbaru, propaganda intelijen dengan pencintraan pasukan rahasia yang sangat “hebat” dan tiada tanding, mengabaikan resolusi-resolusi PBB dan sikap-sikap non-kooperatif yang ditunjukkan dalam penyidikan apapun dari tim-tim internasional bentukan PBB yang menginvestigasi kekerasan-kekerasan yang dilakukan pasukan Zionis Israel kepada Bangsa Palestina, termasuk kepada orang-orang dari mana pun yang mendukung perjuangan dan perlawanan mereka terhadap penjajah. Seperti kasus penyergapan dan penyerangan Kapal Mavi Marmara (misi damai bantuan kemanusiaan yang berangkat dari Turki) yang terjadi pada tanggal 31 Mei 2010.

Sejatinya perang urat syaraf pun dilakukan oleh siapapun. Oleh kedua tim olah raga yang akan bertanding di final. Oleh kesebelasan yang melancarkan psy war untuk melemahkan mental lawan tandingnya. Oleh siapapun yang memiliki kepentingan menjatuhkan spirit dan mental lawan.

Melalui pesan suci dari kalam-Nya, Allah memerintahkan kaum muslimin untuk menunjukkan kekuatan di berbagai aspek di samping kesiagaan di setiap waktu.

Allah SWT berfirman: “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan)”. (QS. Al-Anfal [8]: 60)

Rasulullah SAW bersabda: “Aku diberi kemenangan dengan gentarnya musuh dalam jarak perjalanan sebulan” (HR. Bukhari).

Dari dua pesan wahyu dan kenabian di atas bisa disimpulkan beberapa hal berikut:

  1. Allah memerintahkan kaum muslimin untuk mempersiapkan dan menyiapkan kekuatan “apapun” (peralatan fisik militer dan lain-lain), kalimat “kuda-kuda yang ditambat” mengindikasikan kesiagaan di setiap waktu yang berarti keberadaan kuda tersebut siap untuk dilepas berperang kapan saja. Terutama di perbatasan-perbatasan, daerah yang sangat rawan penyerangan, pengintaian, penyergapan serta penyusupan.
  2. Tujuan dari persiapan fisik, memperlihatkan, menunjukkan atau mempertontonkannya seperti anjuran di atas adalah untuk menggentarkan hati musuh dan niat siapa saja yang hendak menyerang atau memusuhi Islam.

Tiga kata kunci dalam pesan-pesan di atas: quwwah (kekuatan), al-khail (kuda/menambatkan kuda), turhibûna bihî (menggentarkan musuh Allah), ar-ru’b (gentar/takut).

Kekuatan berarti performance yang tak terbatas (secara fisik dan nonfisik) umat di depan bangsa-bangsa lainnya, terutama di depan pihak-pihak yang memusuhinya. Termasuk potensi kekuatan dalam melakukan serangan atau pertahanan yang baik.

Menakut-nakuti, menggentarkan adalah bentuk psy war untuk melemahkan mental musuh sekaligus menaikkan mentalitas dan mengokohkan barisan internal. Ini merupakan titik tolak psy war.

Kuda sekaligus tambatan kuda dalam ayat di atas mengindikasikan, kesiapan, kesigapan tanpa mengenal waktu sekaligus kecepatan mobilitas dan mobilisasi. Ini juga salah satu tujuan psy war.

Keduanya merupakan unsur progresif yang selama ini justru dipahami terbalik. Dalam berbagai bahasan tentang jihad yang memang berkonotasi sangat luas, tapi sebagian mulai kurang berani mengeksplorasi makna jihad yang berarti angkat senjata. Padahal angkat senjata itu sendiri tak selalu berarti adanya penyerangan dan adanya pertumpahan darah. Persiapannya sendiri sudah bisa dikatakan jihad. Maka potensi kekuatan, baik pertahanan maupun penyerangan, peralatan maupun personil yang dimiliki umat Islam, jika tersosialisasikan sebagai pihak yang “kuat” maka siapapun pihak yang bermaksud melakukan hal yang kurang baik akan berpikir berkali-kali.

Dalam ayat lain, Allah SWT berfirman:

Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah. Dan kuda yang mencetuskan api dengan pukulan (kuku kakinya). Dan kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu pagi, maka ia menerbangkan debu. Dan menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh” (QS. Al-‘Adiyat: 1-5).

Bukankah ayat di atas dijadikan sumpah Allah karena memiliki urgensi bagi umat Islam. Kelima sifat yang disebut semuanya mengarah pada pergerakan progresif: berlari kencang, menimbulkan api, menyerang tiba-tiba di pagi buta (dan menerbangkan debu) serta mampu menerobos ke jantung pertahanan musuh.

Maka tidak heran jika Rasulullah SAW kemudian menganjurkan kaum muslimin agar waspada sekaligus dalam keadaan siap di setiap waktu: “Sebaik-baik manusia adalah orang yang memegang teguh tali kekang kudanya di jalan Allah, setiap kali mendengar tanda bahaya ia bergegas mendekatinya”.

Rasulullah SAW mencontohkannya dan menjadi teladan dalam memiliki kesiapan tinggi. Ketika beliau mendahului penduduk al-Madinah al-Munawwarah yang pada suatu malam  mendengar suara yang sangat keras. Beberapa orang dari penduduk Madinah bergegas mendatangi sumber suara yang amat keras  tidak seperti biasanya tersebut. Namun, setiba di sana mereka mendapati Rasulullah SAW kembali dari tempat tersebut sambil menaiki kuda dan mengalungkan pedangnya. Beliau berkata: “Kalian tak akan diteror lagi”. Kesiagaan beliau menjadikannya orang pertama yang mengetahui sekaligus mengantisipasi keadaan.

Demikian, beliau mendidik para sahabatnya untuk bermental kuat sebelum memiliki kekuatan fisik dan peralatan perang. Inilah yang dilakukan Khalid bin Walid saat menghadapi pasukan Heraclius, Kaisar Romawi dalam Perang Yarmuk. Sang panglima mengirim utusan kepada Khalid dan berkata: “Aku telah mengetahui sebab kalian keluar dari negeri kalian yang tidak lain adalah karena tingginya harga barang-barang dan krisis. Aku mempunyai ide untuk memberikan masing-masing dari kalian sepuluh dinar dan kendaraan yang mengangkut bahan makanan dan pakaian. Kembalilah ke negeri kalian dan hiduplah bersama keluarga kalian. Nanti di tahun yang akan datang kalian harus mengirimkan upeti, lalu kami pun akan mengirim yang semisalnya. Sungguh kami datang kepada kalian dengan membawa jumlah pasukan yang amat besar yang tidak tertandingi.

Respon Khalid sungguh di luar dugaan dan prediksi mereka. Surat teror dari pasukan Romawi yang mencoba menggoyahkan semangat sekaligus melucuti mental dengan janji-janji manis serta gertakan dibalas dengan tegas. Khalid membalas: “Tidaklah kelaparan maupun kesulitan yang mengeluarkan kami dari negeri kami. Tapi kami, Bangsa Arab suka meminum darah. Konon, tak ada yang lebih lezat melainkan darah-darah kalian. Kami datang untuk menumpahkan darah kalian dan untuk kami minum. Aku datang pada Anda dengan orang-orang yang mencintai kematian sebagaimana kalian mencintai dunia. Mereka merindukan akhirat sebagaimana kalian menyukai dunia”.

Menurut akal sehal, orang-orang Arab tidaklah meminum darah. Tetapi ini memberi pengaruh mental secara efektif di hati para perwira pasukan Romawi. Bahkan sebagian di antara mereka ada yang dengan polos berkomentar, “Benarkah ini yang kami dengar tentang Bangsa Arab yang meminum darah?

Psy War juga bukan sekedar perang kata-kata atau perang pencitraan, tetapi dalam perilaku praktis dalam peperangan juga menentukan. Seperti cara-cara penting dan rahasia serta kemahiran menggunakan strategi juga menjadi bagian dari perang urat syaraf.

Rasulullah SAW menyembunyikan keputusannya melakukan Fathu Makkah. Bahkan terhadap keluarga dekat beliau sekalipun, tidak juga kepada Abu Bakar sahabat terdekat beliau, tidak juga Aisyah, istri tercinta beliau. Tetaplah niat beliau itu menjadi rahasia tersembunyi sampai lengkap segala persiapan perang beliau. Rasulullah SAW bermaksud menghalangi bocornya berita tentang pergerakan beliau untuk menyerang Quraisy, maka disebarlah mata-mata dan para pengintai di dalam dan di luar Madinah untuk tujuan tersebut. Hasilnya langkah-langkah tersebut akhrinya mampu menyingkap adanya surat yang akan dikirimkan Hatib bin Balta’ah kepada Quraisy tentang kabar rencana keluarnya kaum muslimin. Rasul pun mengutus Ali bin abi Thalib dan Zubair hingga akhirnya mereka berhasil menemukan wanita yang membawa surat tersebut dan mengambil darinya.

Dengan langkah-langkah ini beliau berhasil menutup peluang orang-orang Quraisy mengetahui gerak-gerik kaum muslimin dengan detail. Bahkan kuffar Quraisy tak mengetahui datangnya tentara besar dalam jarak tiga puluh dua kilo meter dari kota Makkah. Kemudian sepuluh ribu tentara Islam menyalakan api. Orang Quraisy pun melihat api tersebut memenuhi ufuk, maka bergegaslah Abu Sufyan bin Harb, Badil bin Warqa’ serta Hakim bin Hizam keluar menuju api tersebut. Mereka tahu asal dan sumbernya hingga maksud nyala api tersebut.

Ketika mereka mengidentifikasi posisi tentara muslimin Abu Sufyan berkata kepada Badil, “Aku tak pernah melihat api dan tentara sebesar malam ini sama sekali.” Badil menjawabnya, “Demi Allah mereka ini hanyalah orang-orang dari Bani Khuza’ah yang mengajak perang.” Tetapi Abu Sufyan tidak puas dengan jawabannya, ia pun berkata, “Aku kira api Bani Khuzaimah lebih kecil dan lemah dari ini.”

Pelan namun pasti kuffar Quraisy merinding melihat jumlah yang demikian banyak, identitas mereka yang belum bisa diketahui, serta minimnya informasi yang mereka dapatkan tentang siapa pasukan tersebut.

Ini adalah strategi lapangan kedua yang dilakukan Rasul SAW setelah mengunci rapat rencana penaklukan, beliau sukses menjatuhkan mental orang-orang Quraisy plus memutus akses informasi kepada para pemegang kebijakan.

Strategi selanjutnya yang beliau lakukan adalah mendramatisir dan membesarkan jumlah nominal pasukan Islam dengan cara berwasiat kepada pamannya Abbas untuk melarang Abu Sufyan untuk memasuki pintu masuk gunung yang menuju ke Makkah sampai pasukan kaum muslimin selesai melewatinya. Abu Sufyan lalu menceritakan hal yang dilihatnya dengan jelas dan mantap kepada kaumnya, akhirnya pupus sudah harapan mereka untuk melawan kaum muslimin.

Abbas melakukan pesan Nabi Muhammad saw dan berkata, “Aku keluar mengikuti Abu Sufyan hingga berhasil menangkapnya di tikungan lembah sebagaimana yang diperintahkan Rasulullah SAW. Beberapa kabilah melewatinya sambil membawa bendera masing-masing, setiap ada kabilah yang lewat Abu Sufyan bertanya, “Wahai Abbas, siapa mereka ini?” Maka kujawab, “Mereka itu orang-orang dari Bani Sulaim” ia pun balik bertanya, “Apa urusanku dengan Bani Sulaim?” Kemudian ada kabilah lain yang lewat iapun bertanya lagi, “Wahai Abbas siapa mereka ini?” maka kujawab, “Orang-orang dari Bani Muzainah”. Iapun berkata, “Apa urusanku dengan Bani Muzainah?”. Sampai akhirnya habislah kabilah yang lewat,dan tidak ada satupun kabilah yang lewat melainkan sesudahnya ia menanyakan hal tersebut setiap kali aku beritahu ia bertanya, “Apa urusanmu dengan Bani Fulan?” Hingga akhirnya Rasulullah SAW melewatinya sambil membawa pasukan berkuda dari kaum Muhajirin dan Anshar. Abu Sufyan pun berkata, “Tidak ada atu kekuatan pun yang sanggup melawan mereka! Demi Allah wahai Abu Fadl, sungguh besar kekuasaan keponakanmu hari ini.” Abbas menjawab, “Wahai Abu Sufyan, ini adalah tanda kenabian”, dia menjawab, “memang benar”, lalu Abbas berkata kepada Abu Sufyan, “pulanglah kepada kaummu” maka bergegaslah Abu Sufyan menuju Makkah dan berkata kepada kaumnya, “Wahai orang-orang Quraisy, sungguh Muhammad datang kepada kalian dengan pasukan yang kalian tidak akan sanggup menandinginya.

Pilihan Rasulullah SAW untuk menjadikan tikungan lembah sebagai pemberhentian langkah Abu Sufyan menandakan kepiawaian beliau dalam mengatur aksi teror dan penekanan mental. Akibatnya, mental Abu Sofyan drop dan terjadilah Fathu Makkah melalui proses yang singkat dan minimnya kontak fisik dan senjata antara umat Islam dan Kuffar Quraisy.

Lalu, bagaimana selaiknya kita balas serangan psy war ini jika terjadi secara singkat dan kuat pengaruhnya? Musa ‘alaihissalâm menyontohkannya melalui respon-respon dialogis yang dilakukannya saat mendakwahi Fir’aun yang sangat ikonik dengan kezhaliman yang juga sekaligus adalah ayah angkatnya. Saat Fir’aun meneror:

Fir’aun menjawab: “Bukankah kami telah mengasuhmu di antara (keluarga) kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu. Dan kamu telah berbuat suatu perbuatan yang telah kamu lakukan itu dan kamu termasuk golongan orang-orang yang tidak membalas budi.” (Asy-Syu’ara [26]: 18-19)

Benar, bahwa secara fisik Musa pernah diasuh oleh Fir’aun, disediakan berbagai fasilitas kerajaan sebagai anak raja, dididik dengan biaya mahal, disekolahkan, dilatih perang dan sebagainya. Tapi hal tersebut tak membuat mental Musa drop dan jatuh. Dengan tegar justru Musa menjawab: “Aku telah melakukannya, sedang aku di waktu itu termasuk orang-orang yang khilaf.  Lalu aku lari meninggalkan kamu ketika aku takut kepadamu, kemudian Tuhanku memberikan kepadaku ilmu serta Dia menjadikanku salah seorang di antara rasul-rasul. Budi yang kamu limpahkan kepadaku itu adalah (disebabkan) kamu telah memperbudak Bani Israil” (Asy-Syu’ara [26]: 20-22)” Nabi Musa alaihissalam, juga menambahkan, “Ya Tuhanku, demi nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepadaku, aku sekali-kali tiada akan menjadi penolong bagi orang-orang yang berdosa”(Al-Qashash [28]: 17)

Posisi Musa sebagai anak angkat, yang berhutang budi tak lantas membuatnya berdiam diri di depan kezhaliman. Tak kemudian membuatnya ragu sampaikan kebenaran. Tak menggoyahkan tekadnya emban misi risalah dari Allah. Dengan sepenuh hati dan segenap jiwa ia sampaikan pesan-pesan Tuhannya, seburuk apapun resiko yang menantinya. Dari ayah angkatnya sekalipun yang pernah “menyayanginya”.  Dan Musa tetap teguh dengan doa-doa inspiratifnya, “Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku.” (Thaha: 25-28)

Setelah seorang tokoh muslim di undang dalam sebuah acara di Israel, ia pun pulang ke negaranya dengan berbagai kebanggaan. Maka tak heran, jika kemudian kembali terdengar kalimat-kalimat senada berikut: “Ternyata Israel tak seburuk yang dibayangkan”, “Kita mesti banyak belajar dari negara yang sudah maju dan sangat demokrat ini”, “Jangan berprasangka buruk terhadap Israel”, “Hindari terprovokasi oleh berita-berita yang menyudutkan Israel” dan sebagainya.

Maka, sebagian kita kemudian tersihir oleh pernyataan tersebut. Kita dibuat terpesona oleh liputan-liputan media. Pernyataan para tokoh yang mereka adalah para kaum intelektual dan terpelajar, bahkan dihormati di negaranya. Tapi sejujurnya patut disayangkan jika kemudian mereka lupa dengan isi pembukaan UUD 1945 yang menjadi nafas perjuangan Bangsa Indonesia, “… maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”.

Maka, saatnya segera menengok “kuda-kuda” yang kita miliki serta seperti apa ikatan-ikatannya. Karena kita berada di tengah berkecamuknya psy war dengan beragam model dan tampilannya. HasbunalLâhu wa ni’ma al-wakîl.

Catatan Keberkahan 007

Jakarta, 17.06.2013

 

*) sebagian tulisan di atas terinspirasi oleh Buku “An-Nazhariyah al-Islâmiyyah fi al-Harbi an-Nafsiyyah” karya Jendral Purnawirawan Muhammad Jamâluddin ‘Ali Mahfûdz, dan kunjungan seorang tokoh muslim Indonesia ke Israel. Dan dengan dalih apapun serta dalam rangka apapun ini sangat melukai Bangsa Palestina dan Umat Islam di berbagai penjuru dunia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s