Tadabbur QS. Al-Ma’arij

KEAGUNGAN TANPA BATAS*

Dr. Saiful Bahri, M.A**

Mukaddimah: Batas-Batas Ciptaan Allah

Surat Al-Ma’ârij diturunkan Allah setelah Surat Al-Hâqqah, juga seperti urutannya dalam mushaf usmany. Penamaan surat al-Ma’ârij diambil dari ayat ketiga yang memuat kata tersebut. Yaitu bentuk plural (jama’) dari al-mi’raj yang berarti tempat naik ([1]).

Allah pernah menidurkan Nabi Uzeir as. selama seratus tahun, tapi menurut perkiraan beliau hanya sehari atau beberapa hari ([2]). Demikian juga Ashabul Kahfi, pemuda-pemuda beriman yang tangguh di zaman kejayaan Romawi itu ditidurkan Allah selama 300 tahun penanggalan matahari atau sama dengan 309 tahun penanggalan bulan ([3]). Sebelumnya, mereka mengira bahwa mereka tertidur dalam gua selama setengah hari, sehari atau sehari semalam. Tapi di luar gua terjadi jutaan peristiwa. Lebih dari 40 Kaisar Romawi berganti memegang kekuasaan. Yang di dalam gua tiada mengetahui apa yang terjadi di luar gua. Yang di luar gua tiada sedikit pun tahu apa yang terjadi di dalam gua. Sehari bagi mereka sama dengan tiga ratus tahun bagi manusia di luar gua.

Allahlah yang menyetandarkan batasan waktu tersebut. Bahkan menghilangkan limit antara waktu dan peristiwa. Karena waktu merupakan salah satu makhluk ciptaan-Nya.

Ketika seorang kafir meminta diturunkan adzab yang bila datang ia tak kuasa menahannya. Allah yang akan menurunkannya. Lidah para rasul-Nya hanya sebagai penyambung risalah dari Tuhan mereka. Dialah yang mempunyai tempat naik (al-mi`raj). Malaikat-malaikat-Nya perlu waktu satu hari untuk sampai di sana yang kadarnya sama dengan limapuluh ribu tahun bagi manusia ([4]). Atau seribu tahun minimalnya bila kita hitung-hitung dengan perhitungan kita sebagai manusia ([5]).

Jarak antara Masjidil Haram (Makkah) dan Masjidil Aqsha (Al-Quds) berbilang bulan bila ditempuh dengan kendaraan unta. Hamba Allah, Muhammad bin Abdullah hanya dengan setengah malam menempuhnya atas titah-Nya. Itu belum dengan perjalanan lengkap ke tujuh langit dan sidratul muntaha yang juga memakan waktu setengah malam saja. Kemudian kembali ke tempat semula sebelum sang fajar menyingsing.

Saat itu, ribuan manusia terlelap dalam mimpi malam, tiada tahu apa yang terjadi. Kepergian anak yatim dari kaum mereka dalam perjalanan panjang yang singkat setelah dirundung duka dengan kepergian dua kekasihnya; Paman dan Istri tercinta. Allah karuniakan ketenangan kepadanya, sebagai pelipur lara. Sitar yang menjadi pembatas antara hakikat dan kehidupan manusia yang bernama waktu malam itu tak berlaku, telah dihilangkan penciptanya. Sehingga setengah malam saja sudah cukup untuk menempuh jarak yang setidaknya menurut perhitungan manusia, jutaan bahkan milyaran mil, bahkan jutaan tahun cahaya menurut takaran para ilmuwan.

Satu hari sama dengan 100 tahun. Satu hari sama dengan 300 tahun. Satu hari sama dengan 1000 tahun. Satu hari sama dengan 5000 tahun. Pembatas itu  hanya Allah saja yang mengetahui.

 

Kesabaran yang Baik

Pada ayat selanjutnya Allah memerintahkan “Maka bersabarlah kamu dengan sabar yang baik”. (QS. Al-Ma`arij: 5) Petuah ini tidaklah mengada-ada karena kesabaran manusia yang yakin akan kekuasaan Tuhannya merupakan penangkal kebiasaan dan sifat-sifat buruk berkeluh kesah lagi amat kikir (sebagaimana dijelaskan lebih lanjut pada ayat 19-21). Dan secara khusus, terutama bagi Nabi Muhammad dan para pengikutnya yang tak henti-henti menerima tekanan dan teror fisik dan psikis dari kaum kuffar Quraisy. Itulah bedanya, beda sudut pandang antara orang yang beriman dan kaum pembangkang. Yaitu anggapan tentang jeda waktu yang diberikan pada manusia. Tentang azab bagi mereka yang memintanya sendiri. Atau tentang kemenangan dan janji Allah untuk orang-orang yang mau mengimaninya.

“Sesungguhnya mereka memandang siksaan itu jauh (mustahil). Sedangkan Kami memandangnya dekat (pasti terjadi)”.(QS. Al-Ma`arij:6-7)

Karena Allah sajalah yang membuat limit waktu tersebut bahkan menghilangkannya. Sedang manusia dengan segala keterbatasannya terikat oleh limit kehidupan bernama waktu.

Hari yang pasti itu tergambar jelas di mata orang-orang bertakwa. Bahkan ketakutan mereka melebihi orang-orang yang seharusnya lebih takut akan hari kebinasaan itu.

Pada hari ketika langit menjadi seperti luluhan perak. Dan gunung-gunung menjadi seperti bulu (berterbangan). Dan tak ada seorang teman akrabpun menanyakan temannya. Sedang mereka saling memandang. Orang kafir ingin kalau sekiranya dia dapat menebus (dirinya) dari azab hari itu dengan anak-anaknya. Dan isterinya serta saudaranya, juga familinya yang melindunginya (di dunia). Dan orang-orang di atas bumi seluruhnya kemudian (mengharapkan) tebusan itu dapat menyelamatkannya”. (QS. Al-Ma’ârij:8-14)

Guratan sesal yang nyata. Bagi orang-orang yang mendustakannya, bahkan menganjurkan orang-orang untuk tidak mempercayainya.

Nantinya, setelah semuanya dihisab dan ditentukan tempat akhirnya, mereka masih terus berharap ada tebusan yang bisa menghindarkan mereka dari kemurkaan Allah. Atau setidaknya dapat mengurangi siksaan yang akan mereka dapatkan sebagai pembalasan perbuatan buruk mereka.

Sekali-kali tidak dapat, Sesungguhnya neraka itu adalah api yang bergolak. Yang mengelupas kulit kepala. Yang memanggil orang yang membelakangi dan yang berpaling (dari agama). Serta mengumpulkan (harta benda) lalu menyimpannya”. (QS. Al-Ma’ârij: 15-18)

Mengobati Sifat-Sifat Buruk Manusia

Manusia, sebagai makhluk yang dipercaya Allah untuk mengelola bumi-Nya, selain dibekali keistimewaan ia pun memiliki kekurangan yang tidak sedikit. Kekurangan-kekurangan ini dimaksudkan supaya manusia tak merasa sombong dan takabbur. Dan lebih penting dari itu, ia akan senantiasa merasa perlu kepada Allah sehingga bisa merasakan kebesaran dan kasih sayang-Nya serta pengampunan-Nya yang maha luas.

Dalam surat ini dua sifat yang disoroti Allah; kikir ([6]) dan suka berkeluh kesah.

Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah. Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir”. (QS. Al-Ma’ârij: 19-21)

Penyakit yang secara spesifik ini diterjemahkan melalui sabda Rasul saw yang diriwayatkan Abu Hurairah ra, ”Kejelekan yang ada dalam diri seseorang: kikir yang mencekik dan jiwa pengecut” (HR. Abu Dawud) ([7]). Meskipun sebenarnya kecintaan terhadap harta adalah fitrah. Tapi jika berlebihan akan menjelma menjadi egoisme yang berlebihan dan ia akan cenderung berpikir bagaimana memperkaya diri sendiri, kemudian menjadi tidak peka terhadap lingkungannya ([8]).

Tapi Allah Maha Asih dan Sayang. Pada ayat selanjutnya, penyakit kronis di atas bisa diobati dengan terapi praktis. Setidaknya ada enam cara untuk mengobati dua penyakit kejiwaan yang sering menimpa kita selama ini.

Pertama, menjaga konsistensi dalam melaksanakan ibadah shalat

Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat. Yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya”. (QS. Al-Ma’arij: 22-23).

Shalat merupakan mi’raj orang beriman, seperti tutur Nabi Muhammad dalam salah satu sabdanya. Karena itu saat Usman bin Affan ra. terkepung, menjelang syahidnya terbunuh oleh para pemberontak, dengan tenang beliau pun melaksanakan shalat dengan penuh kepasrahan. Imam al-Bukhary merekam perkataan beliau seperti yang diriwayatkan Ubaidillah bin ’Adiy,”Shalat adalah sesuatu yang terbaik yang dikerjakan manusia. Jika mereka berbuat baik padamu maka berbuat baiklah pada mereka. Jika mereka memperlakukanmu dengan buruk, maka jauhkanlah dirimu untuk menyakiti mereka ([9]). Dengan menjaga konsistensinya akan membuat hati ini menjadi stabil, mendidik disiplin dan teratur serta detil dalam merencanakan sesuatu.

Khusus masalah shalat ini Allah mengulanginya lagi dalam surat ini dalam ayat ke-34. Ini menandakan pentingnya posisi shalat. Dan jika dilakukan dengan benar akan membuat hidup seseorang menjadi baik, bahkan ia akan mampu meraih kebahagiaan dan kesuksesan. Seperti disitir Allah di permulaan surat al-Mu`minûn. ”Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya”. (QS. Al-Mu`minûn: 1-2)

Imam Muhammad bin Husein al-Ma’iny ([10]) memiliki penafsiran bahwa orang yang mampu menjaga shalatnya sepanjang waktu, melaksanakan rukun-rukunnya dengan khusyu’ dan disertai dengan pengharapan yang tinggi pada Allah ([11]), orang yang demikian akan mudah melepaskan dirinya dari sifat kikir dan suka mengeluh.

Kedua, suka dan rela mendermakan harta untuk orang-orang yang membutuhkan

Baik mereka meminta atau orang fakir yang iffah, yang tak mau meminta-minta meskipun mereka sangat membutuhkan pertolongan.

Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu. Bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta)”. (QS. Al-Ma’ârij: 24-25)

Sebelumnya Allah juga menyebut ”as-sâ`il wa al-mahrûm” dalam ayat 19, surat adz-Dzâriyât. Orang-orang yang dermawan, menyediakan dan meluangkan waktunya serta harta yang diberikan Allah padanya berbagi dengan kaum dhu’afa. Jika mereka meminta dan kita tahu dia sangat membutuhkan bantuan, maka selayaknya kita membantunya. Sahabat Husein bin Ali ra meriwayatka hadits Rasulullah saw,”Bagi seorang peminta hak (untuk ditolong) meskipun dia datang dengan mengendarai kuda” (HR. Abu Dawud dari Sufyan Ats-Tsaury) ([12]). Apalagi orang-orang fakir yang kita tahu ia sangat perlu bantuan, meskipun lidahnya tak mengucapkan satu kata pun. Kita sangat perlu dan wajib mengulurkan bantuan padanya.

Ketiga, mempercayai dan meyakini adanya hari pembalasan

Dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan”. (QS. Al-Ma’ârij: 26)

Dengan meyakini adanya hari pembalasan seseorang akan mudah mengikis penyakit kikirnya, juga dia akan berusaha meninggalkan keluh kesah setiap ditimpa sesuatu yang kurang mengenakkan jiwanya. Dia yakin itu adaalah cobaan dari Allah, maka lebih baik ia bersabar dan mendapatkan ganjaran yang tak terhitung. Minimalnya hatinya takkan lelah terbebani.

Keempat, menjaga kehormatan

Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya. Kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela”. (QS. Al-Ma’ârij: 26)

Karena kelak setiap manusia akan mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah. Dan karena di balik perintah ini ada banyak hikmah. Di antaranya, menjaga nasab dan keturunan supaya tidak tercampur. Sehingga kehidupan sosial manusia akan baik, seimbang dan tertata bagus.

Kelima, menjaga amanat

Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya”. (QS. Al-Ma’ârij: 26)

Betapa sulit saat ini menemukan orang yang mau menjaga amanah. Justru, yang terjadi kebanyakan orang berlomba mencari kekuasaan, tanpa menyadari hal itu merupakan amanah yang harus dipertanggungjawabkan, kelak. Maka yang terjadi mereka kemudian mengkhianati amanah tersebut. Cenderung menggunakannya sebagai jalan untuk memperkaya diri dan memuaskan syahwat kekuasaan serta popularitas. Selain itu, semakin sulit baginya untuk menepati janji dan komitmennya pada orang lain, masyarakat yang mempercayainya.

Keenam, menyampaikan persaksian yang benar

Dan orang-orang yang memberikan kesaksiannya”.(QS. Al-Ma’ârij: 33)

Memberikan persaksian palsu merupakan salah satu dosa besar yang dibenci dan murkai Allah. Sayangnya, hal ini seolah menjadi sesuatu yang lumrah bila kita perhatikan dalam banyak kasus persidangan yang ada di negeri kita. Terutama dalam kasus-kasus penyuapan dan korupsi serta segala sesuatu yang berhubungan dan berada dalam lingkaran harta dan kekuasaan.

Ejekan-Ejekan Kebodohan

Saat Nabi Muhammad saw memberikan taushiyah tentang syurga dan menjanjikannya untuk orang-orang yang mau beriman dan bersabar menghadapi teror orang-orang kafir Makkah. Justru kuffar Makkah mengejek dan mengolok-olok dengan mengatakan, merekalah yang akan merasakan syurga terlebih dahulu. Di dunia saja –seperti anggapan mereka- harta mereka melimpah dan hidup mereka serba tercukupi secara berlebihan . Maka Allah pun menurunkan jawaban dari ejekan tersebut ([13]).

Adakah setiap orang dari orang-orang kafir itu ingin masuk ke syurga yang penuh kenikmatan? Sekali-kali tidak! Sesungguhnya kami ciptakan mereka dari apa yang mereka ketahui (air mani)”. (QS. Al-Ma’ârij: 38-39)

Kebodohan yang mereka lakukan itu  tak lain karena hati mereka telah tersumbat oleh kedengkian dan kesombongan yang berlebihan, serta gengsi sosial yang mereka pertahankan. Meskipun sebenarnya hati nurani mereka mengakui kebenaran yang dibawa Nabi Muhammad saw.

 

Saatnya Kembali Mengenali Diri Sendiri

Kembali ke dua penyakit dasar manusia, kikir dan suka mengeluh.  Dua penangkal pertama merupakan terapi canggih, selain empat hal yang melengkapinya setelah itu.

Shalat yang dikerjakan secara tetap diiringi kualitas yang tinggi (kepasrahan dan khusyu’). Kemudian sadaqah yang dihiasi kualitas keikhlasan dan kesadaran serta rasa tawadhu`. Keduanya berada dalam bingkai `kebutuhan` bukan kebiasaan. Karena kebiasaan manusia kadang mengalami perubahan bersama pembatas hidup yang bernama waktu. Namun, kebutuhan bila ditinggalkan akan berakibat ketimpangan. Setidaknya keseimbangan dan kontrol kehidupan manusia menjadi terganggu.

Seseorang bila menganggap shalat atau shadaqah merupakan sebuah kebiasaan lambat-laun ia akan kehilangan rasa `nikmat`nya. Hanya sekedar rutinitas saja. Bila ditinggalkannya, ia takkan merasakan kecuali hanya mengurangi sebuah kebiasaan. Namun, bila keduanya dijadikan sebuah kebutuhan, maka bila ia meninggalkannya merupakan sebuah bencana yang akan berpengaruh bagi keseimbangan hidupnya. Dan karena ia telah sangat merasakan kenikmatan mi`raj bersama Tuhannya. Kenikmatan menjadi distributor rizki Ar-Razzaq bagi hamba-hamba-Nya yang lemah, sebagai refleksi rasa syukur yang dalam. Karena itu ia memiliki empati yang tinggi.

Setelah itu, akankah ia masih berkeluh kesah? Dari apa? Ia telah menemukan segalanya. Barang siapa menemukan Allah akan menemukan segalanya. Barang siapa kehilangan Allah akan kehilangan segalanya termasuk dirinya sendiri dan akan senantiasa berkeluh kesah.

Ibnu Atha`illah as-Sakandary ([14]) berkata, ”Jangan engkau merasa heran atas terjadinya kesulitan selama engkau berada di dunia, sebab memang begitulah yang patut terjadi dan menadi karakter asli dunia ([15]). Maka, seorang mukmin akan menyikapinya dengan bersabar. Senada dengan pesan Umar bin Khattab, ”Bila engkau bersabar, maka hukum Allah tetap berlaku dan engkau mendapatkan pahala atasnya. Namun, bila engkau tak bersabar, maka ketentuan Allah tetap berlaku dan engkau berdosa karenanya”.

Setelah itu akankah ia masih teramat kikir? Demi dan untuk apa? Ia telah merasakan tenangnya kehidupan di bawah naungan ridho-Nya. Ia sangat menyayangi kaum lemah dan miskin. Ia sangat cemas bila tiada lagi seseorang yang mau menerima shadaqahnya. Syukurnya dibalas Allah dengan berlipat kebahagiaan yang tak terhitung nominal materi. Satu juta, seratus juta, satu milyar, jutaan milyar; ketenangan dari langit itu tak ada yang menjualnya. Karunia kebahagiaan tersebut merupakan balasan cuma-cuma  bagi mereka yang ikhlas dalam syukurnya.

Terlebih kemudian ia lengkapi dengan keyakinan hari pembalasan. Cara pandang dekatnya `hari pasti` tersebut dapat menyadarkan manusia akan kedatangannya sewaktu-waktu bahkan sampai ia sendiri tidak –sama sekali- memperkirakannya. Sedang bagi mereka yang menganggapnya jauh akan cenderung santai dan berbuat semaunya. Padahal Allah telah mengatakan “Aku takkan mengumpulkan dua ketakutan dan dua ketenangan dalam diri hamba-Ku. Jika ia takut kepada-Ku di dunia maka ia akan tenang kelak di akhirat. Dan jika ia merasa tenang di dunia maka kelak ia akan ketakutan di akhirat” (al-hadits al-qudsy). WalLâhu al-Musta’ân.

—————————————————————————–

Disampaikan dalam Pengajian Shubuh Tadabbur al-Qur’an

Ainal Yaqin, Kalibata Selatan Jaksel

Selasa, 24 Pebruari 2009


* Sebuah tadabur surat al-Ma’ârij (Tempat-Tempat Naik: 70), Juz 29.

** Alumni Program S3 Jurusan Tafsir dan Ilmu-ilmu al-Qur’an, Universitas Al-Azhar, Cairo.

([1]) Prof. Dr. Jum’ah Ali Abd Qader, Ma’alim Suar al-Qur’an, Cairo: Universitas Al-Azhar, Cet.I, 2004M/1424H, Vol. 2, hal. 697

([2]) seperti dikisahkan Allah dalam surat al-Baqarah ayat 259

([3]) lihat (QS. al-Kahfi: 25)

([4]) lihat (QS. Al-Ma’arij: 04)

([5]) lihat (QS. As-Sajdah: 05)

([6]) kikir bisa diartikan terlambat menyukuri nikmat atau tidak mau menyukurinya sama sekali. Biasanya karena takut kehilangan nikmat atau tak ingin orang lain mengetahuinya. Hal ini karena ia merasa memilikinya. (akar katanya bisa dilihat dalam Kamus Lisanul Arab, karya Ibnu Manzhur, Cairo: Darul Hadits, Cet.I, 2003 M/1423 H, Vol. VIII, hal. 528)

([7]) Imam Ibnu Katsir, Tasfir al-Qur’an al-’Azhim, Cairo: al-Maktabah al-Qayyimah, Vol. IV, hal. 546

([8]) Prof. Dr. Yusuf al-Qaradhawy, al-`Imân wa al-Hayâh, Cairo: Maktabah Wahbah, 2007 M/1428 H, hal. 234. Selain itu bisa dilihat dalam surat al-Isrâ` ayat 100 dan surat an-Nisâ` ayat 128.

([9]) Ibnu Hajar al-’Asqalany, Fathul Bâri bi Syarhi Shahih al-Bukhary, Cairo: Darul Hadits, Cet.I, 1998 M/1419 H, Vol.II, hal. 232

([10]) Seorang shufi, pakar bahasa dan ahli fikih dari Naisaburi (Asia Tengah) yang wafat pada tahun 537 H.

([11]) Tesis penulis, Kitab Lawami’ al-Burhan wa Qawathi’ al-Bayan fi-Ma’any al-Qur’an, Cairo: Universitas Al-Azhar, 2006 M, Vol.II, hal. 707

([12]) Imam Ibnu Katsir, Tasfir al-Qur’an al-’Azhim, Op.Cit, Vol. IV, hal. 300

([13]) Al-Qur’an dan Terjemahnya, Madinah: Majma’ Malik al-Fahd li Thiba’ati al-Mushaf asy-Syarif, 1415 H, hal 975, catatan kaki 1515.

([14]) Seorang alim dari Mesir, kelahiran Alexandria tahun 1250 M/ 648 H. Beliau menulis buku lebih dari 20 karya. Dan Kitab al-Hikam adalah pesan-pesan penuh hikmah yang menjadi magnum opusnya, sebuah karya monumental yang dibaca dan diterjemahkan ke dalam banyak bahasa.

([15]) Ibnu Atha`illah as-Sakandary, Kitab Al-Hikam, (terj. Dr. Ismail Ba’adillah), Jakarta: Khatulistiwa Press. Cet.II, 2008, hal. 36

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s