Tadabbur Surat al-Muthaffifin [83]

PARA PENIPU*

Dr. H. Saiful Bahri, MA**.

Mukaddimah: Orang-Orang yang Curang

Menurut sebagian ahli tafsir surat al-Muthaffifin diturunkan di periode Makkah([1]), sebagian lain menyatakan bahwa surat ini diturunkan pada periode Madinah([2]). Imam Jalaluddin As-Suyuthy menukil perkataan Ibnu Faris, “Mungkin dikatakan makkiyah  karena menyebutkan beberapa mitos jahiliyah. Ada yang berpendapat ini madaniyah karena sebelum Islam datang penduduk Yatsrib (Madinah) dikenal sebagai orang-orang yang curang dalam masalah timbangan ([3]). Dikisahkan, konon di Yatsrib (Madinah) ada seseorang yang disebut Abu Juhainah, ia memiliki dua buah timbangan. Yang satunya untuk membeli sesuatu, ia lebihkan agar saat ia membeli mendapatkan lebih banyak keuntungan. Dan satunya lagi dia buat sedemikian rupa agar berkurang timbangannya dari takaran sebenarnya, supaya saat menjual sesuatu ia mendapat untung banyak dengan cara mengurangi timbangan tersebut([4]).

Surat al-Muthaffifin diturunkan setelah surat al-Ankabut. Bagi yang berpendapat surat ini termasuk makkiyah maka merupakan surat terakhir yang turun di Makkah. Dan bagi yang berpendapat surat ini termasuk madaniyah maka surat ini merupakan surat yang pertama kali turun pada periode Madinah([5]).

Tema pokok surat ini sebagaimana surat-surat makkiyah sebelumnya, yaitu penekanan pada masalah akidah dan tentang dakwah Rasululullah saw serta permusuhan yang sengit dari kalangan kuffar Quraisy terhadap Nabi saw dan para sahabat pengikutnya. Surat ini dibuka dengan memerangi kecurangan yang dilakukan orang-orang kafir yang berlaku zhalim dan tidak mempercayai akan adanya kehidupan akhirat serta hari pembalasan. Dan sebagaimana biasanya surat ini juga mengupas dua prototype manusia; yaitu tokoh protagonis yang diperankan orang-orang bertaqwa yang kelak akan diganjar oleh Allah dengan pahala yang tidak terkira serta surga-Nya yang sangat luas. Di sisi lain ada pemeran tokoh antagonis yang dimainkan oleh orang-orang durhaka yang selalu menertawakan kaum mukminin. Namun, kelak mereka akan tersiksa saat mereka juga ditertawakan oleh orang-orang yang dulu mereka selalu hina dan rendahkan([6]).

Penyakit Sosial: Penipuan dan Kecurangan

            “Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang; (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi. Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi”. (QS. 83: 1-3)

            Inilah tabiat manusia yang kikir, yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Ia selalu menginginkan penuh hak-haknya. Sementara ketika memenuhi hak orang lain dan kewajibannya, kadang terasa berat dan memperturutkan hawa nafsu dengan mengurahi hak-hak mereka. Orang-orang yang berperilaku demikian sangatlah merugi. Allah melaknatnya dan kelak akan ditimpakan kecelakaan dunia dan akhirat. Imam az-Zajjaj([7]) mengatakan, “al-Muthaffif adalah orang yang mengurangi timbangan atau takaran sedikit saja”. Kata yang digunakan di sini adalah muthaffif (subyeknya), perbuatannya tathfif (masdar) dengan wazan taf’il yang menunjukkan perbuatan yang dilakukan secara berulang-ulang dalam jangka waktu yang lama.

Mengurangi takaran atau timbangan sedikit saja tapi terus diulang-ulang merupakan perbuatan yang sangat dimurkai Allah. Hal ini lazimnya dilakukan di pasar-pasar atau toko kecil, dengan memainkan timbangan, ukuran atau harga sekalipun. Apalagi jika hal tersebut dilakukan dalam jumlah besar, memakan harta dan hak rakyat dengan korupsi atau melahap gaji buta, tentu lebih dimurkai dan dibenci Allah.

            “Tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa Sesungguhnya mereka akan dibangkitkan. Pada suatu hari yang besar; (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?” (QS. 83: 4-6)

Perbuatan yang mereka lakukan mungkin didasari pada sikap hidup dan prilaku yang tak punya pendirian. Dalam ayat-ayat di atas digambarkan dengan bahasa “yazhunnu” yang berarti mengira/menyangka. Artinya mereka benar-benar lalai. Dan saat Nabi Muhammad saw datang dengan berita besar tentang hari kebangkitan, dengan yakinnya mereka menolak dan mendustakannya. Mereka mencibir dengan penuh keyakinan bahwa risalah yang dibawa Nabi Muhammad hanya mitos dan kebohongan belaka. Meski hati nurani mereka, jika mau berpikir dengan jernih akan mengatakan sebaliknya. Bahwa, hari kebangkitan merupakan sebuah keniscayaan. Sebagai bentuk keadilan saat manusia tak mendapatkannya di dunia ini. Atau sebagai pembalasan kelaliman dan kezhaliman yang dilakukan oleh orang-orang yang melampaui batas.

Pernyataan Allah dalam bentuk nafi (negatif) dan pertanyaan, oleh para pakar bahasa disebut dengan ekspresi ta’jub. Aneh, jika suatu kejadian besar yang sudah jelas tanda-tanda dan kebenarannya kemudian mereka dustakan. Bahkan tidak berhenti disitu, mereka melampaui batas. Menambah keburukan mereka dengan melakukan kezhaliman. Mereka tak menyadari kezhaliman yang mereka lakukan yang –hanya- berupa mengurangi timbangan saja akan dihitung oleh Allah. Mereka juga tak menyadari dan tak pernah menyangka atau mengira bahwa kelak yang mereka lakukan akan dibalas oleh Allah, karena berbuat curang dan memakan hak orang lain. Yaitu pada hari semua manusia menghadap Tuhannya. Tak ada yang bisa ditutup-tutupi saat itu. Perbuatan sekecil apapun akan diungkap dan dimintai pertanggungjawaban oleh Dzat yang serba maha.

Akhir yang Buruk Bagi Para Penipu dan Pendusta

Oleh karena hal-hal di atas, Allah dengan keras mencela dan memurkai perbuatan curang itu dan melarang kaum muslimin serta manusia pada umumnya untuk melakukan perbuatan curang dan menipu seperti dipaparkan di atas.

Sekali-kali jangan curang….” (QS. 83: 7)

Karena tak ada yang tak bisa dilihat dan diketahui oleh Allah. Bahkan semua hal itu akan terekam rapi dalam catatan amal. Dan perbuatan yang zhalim seperti ini (mengurangi timbangan), memakan hak orang lain akan dicatat khusus dalam sebuah catatan.

Karena sesungguhnya Kitab orang yang durhaka tersimpan dalam sijjin” (QS. 83: 7)

Malaikat pencatat amal sangatlah profesional dan taat pada titah Allah. Tak sedikitpun mereka mendurhakai perintah Allah. Mereka juga detil mencatat dan membukukan amal perbuatan manusia. Kejahatan dan kezhaliman orang-orang durhaka sangat tersimpan utuh, rapi dan detil di dalam sijjin. “Tahukah kamu apakah sijjin itu?” (QS. 83: 8).

Sijjin adalah “kitab yang bertulis” (QS. 83: 9). Menurut Qatadah dan Mujahid asal kata sijjin adalah as-sijnu yang berarti penjara. Dan ini merupakan kiasan dari kerugian dan kesengsaraan yang besar bagi orang-orang durhaka seperti di atas. Dan menurut dua pakar tafsir di atas terletak di bawah tanah (dalam neraka) under ground ke tujuh([8]), dan konon tempatnya sangat sempit dan membuat nafas sesak([9]). Dan itu semua hanya kiasan dari nama yang menyeramkan seperti banyak ditafsirkan oleh para pakar, di antaranya yang penulis sebut baru saja. Lantas seperti apakah hukuman yang kelak akan diterima pemilik catatan dan rapor buruk tersebut.

Selain itu kata “marqum” juga mengindikasikan kedetilan catatan. Jadi takkan ada sekecil apapun perbuatan yang luput dari catatan malaikat pencatat amal. Al-Bghawy menafsirkannya dengan catatan yang tertulis yang takkan bisa dilupakan dan dihapus([10]). Abu Hayyan juga Imam al-Alusy lebih suka memaknainya secara zhahir, yaitu buku yang tertulis detil terdapat di dalamnya nomor-nomor halaman, sehingga mudah dirujuk ketika diperlukan([11]).

            “Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan, (yaitu) orang-orang yang mendustakan hari pembalasan” (QS. 83: 10-11)

            Tentu sebuah kecelakaan yang besar. Karena saat itu tak ada penyesalan yang berguna. Dan orang-orang yang mengolok-olok kebenaran hari pembalasan itu akan terbukti kesalahan mereka. Dan hanya orang-orang bodoh yang melampaui batas lah yang mendustakan hari yang sangat jelas kebenarannya. “Dan tidak ada yang mendustakan hari pembalasan itu melainkan setiap orang yang melampaui batas lagi berdosa” (QS. 83: 12). Yaitu mereka, “Yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat kami, ia berkata: “Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu” (QS. 83: 13)

            “Dongengan atau hikayat orang terdahulu”. Itulah olok-olokan mereka. Mereka menyamakan hari kebangkitan dan hari pembalasan sama dengan mitos orang-orang terdahulu yang hanya menjadi cerita dan dongeng pengantar tidur. Mereka berpendapat bahwa mereka bukanlah orang pertama yang mendustakan mitos seperti ini.

            “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka” (QS. 83: 14).

            Kelakuan mereka tersebut; angkuh, sombong dan sok tahu hanya akan membuat hati mereka tertutup secara pelan-pelan. Karena hati ibarat kaca. Jika ia tak dibersihkan pelan-pelan dari noktah dan noda dosa maka akan semakin berkarat dan jika berlangsung dalam waktu lama akan semakin menghitam dan menutupi kejernihannya.

            Orang-orang durhaka, para kuffar pendusta tersebut mengklaim bahwa mereka sangat dekat dengan para Tuhan mereka dan sesembahan mereka adalah sebuah klaim kosong. Justru hal tersebut benar-benar akan menjadi penutup peluang bagi perjumpaan dengan Allah yang dinanti-nanti setiap makhluk-Nya kelak. Apalagi bagi kaum mukminin yang mendapatkan karunia ini.

            “Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar tertutup dari (rahmat) Tuhan mereka “ (QS. 83: 15)

            Dan kebalikan dari yang mereka bayangkan mereka akan tenggelam dalam kesengsaraan yang abadi. Mimpi buruk mereka akan menjadi kenyataan. Yaitu terpanggang dalam panasnya api yang membara. “Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka.” (QS. 83: 16)

            Dan mereka benar-benar akan menpapatkan kehinaan. Apa yang dulu mereka olok-olokkan, kini menjadi kenyataan. “Kemudian, dikatakan (kepada mereka): “Inilah yang dahulu selalu kamu dustakan” (QS. 83: 17)

Catatan Orang-Orang Baik

            “Sekali-kali tidak, sesungguhnya Kitab orang-orang yang berbakti itu (tersimpan) dalam ‘Illiyyin” (QS. 83: 18)

            Sebaliknya, orang-orang yang baik (al-Abrar) memiliki catatan yang tersimpan rapi di tempat mulia bernama “illiyyin”. Kata tersebut merupakan bentuk plural dari “Aliyah” yang berarti yang tinggi, sebagai kiasan mulianya kedudukan al-abrar. Bentuk pluralnya disamakan dengan plural bagi orang-orang berakal (laki-laki) ([12]). Hal ini merupakan tambahan bagi kemuliaan tersebut.

            “Tahukah kamu apakah ‘Illiyyin itu? (yaitu) kitab yang bertulis” (QS. 83: 19-20)

            Catatan tersebut juga sangat detil. Tak ada kebaikan yang terlewatkan, walau sedikitpun. Semua terekam dengan baik dan bisa dirujuk dengan cepat karena ada halaman dan nomornya masing-masing.

            Dan bukan hanya itu sifat catatan yang dimuliakan tersebut, namun juga “disaksikan oleh malaikat-malaikat yang didekatkan (kepada Allah)” (QS. 83: 21)

            Dan kelak para pemilik catatan tersebut akan dibalas dan diganjar Allah dengan pahala yang luar biasa. “Sesungguhnya orang yang berbakti itu benar-benar berada dalam kenikmatan yang besar (surga).  Mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang” (QS. 83: 22-23). Mereka memandangi karunia dan nikmat Allah yang sangat banyak terbentang luas([13]). Dan semuanya tersedia untuk mereka, bukan yang lain.

            Mereka mudah dikenali karena wajah mereka yang berseri-seri penuh kebahagiaan. “Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan mereka yang penuh kenikmatan” (QS. 83: 24)

            Berbagai hidangan lezat dan segar. “Mereka diberi minum dari khamar murni yang dicap (tempatnya). Capnya adalah kesturi; dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba” (QS. 83: 25-26)

            Itulah khamar pilihan yang tidak ditemukan di dunia. Tempatnya wangi, jika diminum maka makin lezat dan harum semerbak rasa dan baunya([14]). Lezat dan harum hingga tetesan terakhir yang diminum dan mengalir di tenggorokan. Dan yang demikian seharusnya manusia laik untuk berlomba-lomba mendapatkannya dan tidak lalai pada kenikmatan dunia yang tidak seberapa itu.

            Campuran minuman tersebut bukan sembarang campuran. Tiada duanya. Tidak bisa ditemukan di mana-mana. Hanya ada di dalam surganya. Yaitu campuran dari mata air “tasnim” yang menurut riwayat Ibnu Abbas adalah mata air tertinggi di surga([15]). Dan mata air ini hanya bisa dijangkau oleh orang-orang tertentu saja.

            “Dan campuran khamar murni itu adalah dari tasnim, (yaitu) mata air yang hanya diminum oleh orang-orang yang didekatkan kepada Allah” (QS. 83: 27-28). Yang tentunya orang-orang tersebut punya posisi dekat dengan pemilik mata air tersebut, sehingga diberi izin untuk bisa berada di dekatnya. Ada yang mengatakan bahkan sumbernya berasal dari bawah Arasy –singgasana- Allah([16]).

Cermin Terbalik Kehidupan Dunia

            Yang akan terjadi kelak di akhirat adalah kebalikan yang terjadi di dunia. Kezhaliman merajalela. Kejahatan mendapatkan posisi. Kebejatan dilindungi. Sementara kebaikan diburu-buru. Diteror. Para penganutnya diancam dan diberi stigma negatif. Diolok-olok dan dihinakan.

            “Sesungguhnya orang-orang yang berdosa adalah mereka yang menertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila orang-orang yang beriman lalu di hadapan mereka, mereka saling mengedipkan matanya. Dan apabila orang-orang yang berdosa itu kembali kepada kaum-nya, mereka kembali dengan gembira. Dan apabila mereka melihat orang-orang mukmin, mereka mengatakan: “Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat”, Padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk Penjaga bagi orang-orang mukmin” (QS. 83: 29-33)

            Allahlah yang menurunkan ketenangan di hati kaum mukminin dan mengaruniakan kesabaran kepada mereka agar berpegang teguh pada keyakinan yang telah mereka pilih sebagai jalan hidup.

            Kelak di akhirat hal di atas takkan terulang lagi. Namun, akan menjadi terbalik. Orang-orang mukminlah yang akan tertawa bahagia. Mereka akan membalas menertawakan orang-orang yang dulu mengolok-olok mereka. Menindas dan berbuat kejam pada mereka. Meneror dan berusaha membunuh. Hanya untuk menghalang-halangi tersampainya ajaran dan risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw.

            “Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir. Mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang” (QS. 83: 34-35)

            Jika pada pandangan yang pertama di atas mereka penuh syukur karena karunia Allah yang sangat melimpah. Cinta dan kasih sayang-Nya yang hanya diberikan untuk orang-orang terdekat-Nya. Maka pada pandangan kali ini mereka bersyukur, Karena diselamatkan Allah dari kemurkaan-Nya dan adzab-Nya sebagaimana yang dialami oleh orang-orang yang dulu menertawakan kaum mukminin.

            “Sesungguhnya orang-orang kafir telah diberi ganjaran terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan” (QS. 83: 36)

            Akhir surat ini ditutup dengan susunan kalimat istifham (pertanyaan) yang berarti penekanan dan pengukuhan. Maka kata “hal” di sini tidak diartikan “apakah” seperti halnya umumnya digunakan untuk bertanya, namun berarti “qad” yang artinya benar-benar terjadi. Ini untuk semakin menguatkan dan mengokohkan posisi kaum mukminin([17]). Sehingga mereka benar-benar semakin bersyukur kepada Allah.

Penutup

            Demikian sekilas ulasan tentang salah satu perilaku buruk. Baik yang bersifat sosial; yaitu: mengurangi timbangan dan takaran, atau memakan hak orang lain secara batil. Serta keburukan yang bersifat keyakinan; yaitu pendustaan akan adanya kebenaran hari pembalasan dan kebangkitan manusia.

            Semoga Allah menyelamatkan kita dari dua kejelekan di atas. Sehingga kita -kelak- dengan izin-Nya didekatkan dengan mata air “tasnim” serta mendapatkan kenikmatan surga dan keridhoan-Nya yang hanya diberikan pada orang-orang khusus. Orang-orang yang dekat dengan-Nya. Allahumma Amin.

Selasa, 15 Desember 2009


* Tadabbur surat AL-Muthaffifin (Orang-Orang Yang Curang): [83], Juz Amma (30)

** Alumni Program S3 Jurusan Tafsir dan Ilmu al-Qur’an Universitas al-Azhar, Cairo, Mesir

([1]) seperti: Abdullah bin Mas’ud dan Adh-Dhahhak. (Syihabuddin al-Alusy, Ruh al- Ma’any, Beirut; Darul Fikr, 1997 M – 1417 H, Vol.XXX, hlm. 119)

([2]) seperti: Hasan al-Bashry, Ikrimah dan as-Suddy (Ibid.)

([3]) Az-Zajjaj, Ma’any al-Qur’an wa I’rabuhu, Cairo: Darul Hadits, 2004 M-1424 H, Vol. V, hlm. 230

([4]) Ruh al-Ma’any, Op.Cit, Vol.XXX, hlm. 119.

([5]) Ibid, hlm. 22; lihat juga: Badruddin az-Zarkasyi, al-Burhân fi ‘Ulûmi al-Qur’ân, Beirut: Darul Fikr, Cet.I, 1988 M/1408 H, Vol.1, hlm. 250. dan Prof. Dr. Jum’ah Ali Abd. Qadir, Ma’âlim Suar al-Qur’ân, Cairo: Universitas al-Azhar, cet.I, 2004 M/1424 H, vol.2, hlm.767

([6]) Muhammad Ali ash-Shabuny, Ijazu al-Bayan,  Cairo: Dar Ali Ash-Shabuny, 1986 M-1406 H, hlm. 285-286

([7]) Beliau adalah Abu Ishaq, Ibrahim bin Sirry bin Sahal. Disebut Az-Zajjaj karena pada awalnya beliau bekerja sebagai tukang kaca. Beliau berguru pada dua pakar bahasa arab saat itu Tsa’lab dan al-Mubarrad. Memulai karir keilmuannya saat hidupnya masih berada di bawah kemiskinan hingga akhirnya menjadi orang yang berkecukupan. (Ibnu al-Anbary, Nuzhatu al-Alba’ fi Thabaqat al-Udaba’, hlm. 183-185)

([8]) Ibnu Jarir Ath-Thabary, Jami’ al-Bayan fi Ta’wil Ayy al-Qur’an, Beirut: Dar Ihya’ Turats, Cet.I, 2001 M0-1421 H, Vol.XXX, hlm. 117-118

([9])  Disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya (Tafsir Ibnu Katsir, al-Mansoura: Maktabah al-Iman, Cet.I, 1996 M-1417 H, Vol.VIII, hlm. 198).

([10]) al-Baghawy, Ma’alim at-Tanzil, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyah, Cet.I, 2004 M –1424 H, Vol.IV, hlm. 429.

([11]) Ruh al-Ma’any, Op.Cit, Vol.XXX, hlm. 127-128.

([12]) Abu Zakaria al-Farra’, Ma’any al-Qur’an, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyah, Cet.,I, 2002 M-1423 H, Vol.III, hlm. 135.

([13]) Kementrian Wakaf Mesir & al-Azhar, Al-Muntakhab fi Tafsir al-Qur’ani al-Karim, Cairo: Majelis A’la li asy-Syu’un al-Islamiyah, 2001 M-1422 H, hlm. 1213.

([14]) Ruh al-Ma’any, Op.Cit, Vol.XXX, hlm. 135.

([15]) Kementrian Wakaf Mesir & al-Azhar, Al-Muntakhab fi Tafsir al-Qur’ani al-Karim, Cairo: Majelis A’la li asy-Syu’un al-Islamiyah, 2001 M-1422 H, hlm. 1213.

([16]) lihat tesis penulis: Kitab Lawami’ al Burhan wa Qawathi’ al-Bayan fi Ma’ani al-Qur’an Karya Imam al-Ma’iny, Cairo: Universitas al-Azhar Jurusan Tafsir, 2006, Vol.2, hlm. 812.

([17]) Ruh al-Ma’any, Op.Cit, Vol.XXX, hlm. 138.

One thought on “Tadabbur Surat al-Muthaffifin [83]

  1. hamba Allah mengatakan:

    Jazakallah ust..sangat bermanfaat sekali sebagai rujukan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s