Tadabbur Surat al-Infithar [82]

KETIKA LANGIT TERBELAH*

Dr. H. Saiful Bahri, MA**.

Mukaddimah: Kepemilikan yang Sempurna

Surat al-Infithar diturunkan di kota Makkah setelah surat an-Nâzi’ât([1]). Tak jauh berbeda dengan surat-surat sebelumnya, surat ini memuat dan menjelaskan kondisi alam saat terjadinya hari kiamat dan mengupas keadaan manusia yang tidak mampu dan tahu berterimakasih sedikit pun kepada Dzat Yang Maha Pemurah. Ia mendurhakai-Nya, kafir terhadap ajaran-Nya, serta mendustakan kebenaran hari kiamat. Bahkan ia mengajak sebanyak-banyak manusia untuk berbuat seperti dirinya. Nantinya, di hari penentuan itu semua akan menjadi gamblang. Ada dua golongan besar yang masing-masing akan menuju tempat akhirnya, sesuai amal perbuatannya. Pada hari itu semua titah dan kekuasaan hanya milik Allah semata. Siapapun orangnya takkan mampu menolong orang lain atau bahkan dirinya sendiri. Semuanya hanya bisa menunggu keputusan terakhir yang akan diberikan Allah untuk mereka. Keputusan yang seadil-adilnya ([2]).

Hari Kiamat: Keniscayaan Hancurnya Alam Semesta

Apabila langit terbelah. Dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan. Dan apabila lautan menjadikan meluap. Dan apabila kuburan-kuburan dibongkar” (QS. 82: 1-4)

Langit yang batas luasnya hanya diketahui Allah pada hari kiamat akan dihancurkan. Demikian juga bintang-bintang yang dijadikan penghias langit, yang jumlahnya juga hanya diketahui Allah akan berjatuhan ke bumi. Dan air laut yang telah memanas akan bergejolak karena goncangan yang sangat dahsyat dan kemudian batas-batasnya menjadi sirna dan bercampurlah semua yang ada di dalamnya. Hal-hal tersebut benar-benar terjadi saat itu.

Dan pada saat hari kebangkitan datang, semua orang takkan mampu bersembunyi di manapun juga. Karena semua yang mati akan dibangkitkan oleh Dzat yang mampu menghidupkan yang mati dan mengubah yang tak ada menjadi ada([3]). Inilah takwilan pembongkaran kuburan yang relevan dengan susunan kata-kata sebelumnya. Kata yang digunakan untuk mengekspresikan kebangkitan kali ini adalah “bu’tsirat” yang berarti pembongkaran. Aslinya berasal dari “al-ba’tsarah” yaitu membuat tanah berantakan karena ada sesuatu di bawahnya yang dikeluarkan([4]). Ini berarti menggabungkan antara menyatukan ruh dan jasad kemudian mengeluarkannya dari kuburan masing-masing dengan cara yang hanya Allah sendiri yang mengetahuinya.

Maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya” (QS. 82: 5)

Semua orang saat itu sudah merasa apa saja yang telah ia perbuat dari amal-amal kebaikan atau sebaliknya perbuatan-perbuatan jahat, serta apa-apa saja yang ia lalaikan dan tunda-tunda dari pekerjaan baik. Ibnu Abbas, demikian juga Ibnu Mas’ud dan Qatadah memberikan penafsiran yang spesifik. Manusia akan menyesal saat itu, karena ia tahu apa-apa yang telah ia kerjakan terdapat banyak perbuatan yang tidak baik. Serta ia melalaikan serta suka menunda-nunda untuk berbuat baik dan bertaubat([5]).

Kelalaian Manusia

Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu yang Maha Pemurah”. (QS. 82: 6))

            Bagaimana mungkin manusia lupa dan lalai terhadap Tuhan yang sangat pemurah. Dia memberi rizki siapa saja, baik yang taat atau yang bejat dan durhaka pada-Nya. Dia tak pernah menunda rahmat-Nya kepada makhluk-Nya. Semuanya takaran takdir telah ditentukannya. Karena ketaatan dan kemaksiatan makhluk-Nya sama sekali tidaklah mempengaruhi wibawa ketuhanan-Nya. Karena itu sangat pas jika kata yang dipakai di sini adalah “al-karim” dan bukan yang lainnya.

            Atau apakah kelalaian itu justru disebabkan oleh kemurahan yang diberikan Allah serta kemudahan-kemudahan hidup serta fasilitas yang semuanya diperuntukkan oleh Allah demi kemaslahatan manusia, seperti tutur Yahya bin Mu’adz([6]).

            Sangat pantas jika kemudian Allah menyatakan bahwa hanya sedikit dari hamba-Nya yang mampu mengingat-Nya dan bersyukur atas segala karunia dan limpahan nikmat-Nya. Itupun hanya sebagian kecil saja yang bisa disyukuri. Sangat pantas jika kemudian manusia dicap sebagai makhluk yang bodoh dan zhalim([7]).

            Padahal Allahlah ” yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang.  Dalam bentuk apa saja yang dia kehendaki, dia menyusun tubuhmu”. (QS. 82: 7-8)

            Apakah manusia lupa dari mana ia berasal dan bagaimana ia diciptakan? Bukankah ia berasal dari ketiadaan dan tidak pernah disebut sekalipun oleh siapapun sebelumnya. Kemudian Allah jadikan ia ada. Dijadikan dari sel kecil yang berada dalam satu tetes air mani yangtelah ditakar kejadiannya([8]). Diberi dan dikaruniakan kepadanya tubuh yang sempurna, namun ia tak pernah merasa bahwa itu adalah pemberian dari Tuhan-Nya. Dia –bahkan- lupa padahal hampir setiap saat ia bercermin. Pernahkah ia berpikir, siapa yang menjadikan susunan wajahnya seperti sekarang ini. Mata, hidung, telinga, mulut, lidah semuanya pada posisi yang sudah sangat pas. Demikian juga anatomi tubuhnya. Baik bagian luar maupun dalam, siapakah yang menyusunnya. Tengkorak kepalanya yang melindungi otak yang didalamnya ada jutaan sel, siapakah yang sanggup membuatnya dengan demikian detil. Dia juga yang menjadikannya sesuai dengan kehendak-Nya; apakah ia mirip dengan ibunya atau bapaknya, cantik rupawan atau ada bagian tubuhnya yang kurang sempurna fungsinya. Namun secara umum, Allah telah membaguskan bentuk manusia([9]) jauh lebih bagus dan sempurna dibandingkan dengan makhluk-makhluk-Nya yang lain.

            Dan yang menjadikan manusia sangat keterlaluan dan melampaui batas adalah sikap angkuh dan durhakanya yang tak berhenti namun menjadi-jadi bertambah. Seperti ungkap Allah dalam ayat selanjutnya, “Bukan hanya durhaka saja, bahkan kamu mendustakan hari pembalasan” (QS. 82: 9)

            Itulah –kebanyakan- manusia. Lalai dan tak pandai berterima kasih. Naifnya, bukan hanya itu sifat jeleknya, ia menambahnya dengan pendustaan terhadap kebenaran terjadinya hari pembalasan. Padahal jelas-jelas setiap manusia selalu diikuti oleh malaikat pencatat amal yang tak pernah lalai sedikitpun merekam semua amal perbuatan yang dilakukannya untuk kelak diberikan balasannya sesuai dengan perbuatannya.

            Tidakkah ia malu, dalam setiap detiknya ada yang selalu memperhatikannya, merekam amal perbuatannya, yang besar dan kecil. “Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu). Yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu). Mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. 82: 10-12).

            Para pencatat amal itu bukan sembarang utusan Allah. Mereka adalah makhluk yang dimuliakan oleh Allah swt dan penduduk langit. Mereka juga sangat disiplin dalam merekam dan membukukan amal perbuatan anak adam dengan teliti. Mereka juga tidak bisa ditipu dan dikelabuhi. Tak heran, jika kemudian Imam al-Bazzar meriwayatkan sebuah hadits yang didengar oleh sahabat Ibnu Abbas ra. Yaitu tentang larangan bertelanjang, karena ada para malaikat Allah yang selalu menyertai manusia kecuali dalam tiga keadaan: sedang buang hajat, mandi dan ketika berkumpul dengan istrinya([10]).

Balasan yang Setimpal

            “Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan” (QS. 82: 13)

            Setelah semua buku dan catatan amal diberikan kemudian dipersaksikan kepada masing-masing manusia seluruh anggota tubuhnya yang berbicara sebagai saksi atas titah Sang Maha Kuasa. Tak seorang pun mampu memungkiri perbuatannya. Hanya sesallah yang ada saat itu. Baik ia seorang yang baik ataupun ia seorang yang buruk akhlaknya.

            Dan orang-orang yang baik yang ketika di dunia selalu takut akan adzab Allah serta bertakwa kepada-Nya, maka Allah sediakan bagi mereka berbagai kenikmatan yang belum ada tandingannya sebelum dan sesudahnya. Karena itu ungkapan ”la fî na’îm” sangat relevan. Karena mereka benar-benar tenggelam dalam kenikmatan yang tiada tara. Di ayat lain bahkan digambarkan tenggelam dalam kesibukan menikmati karunia Allah. Dan mereka memang benar layak demikian setelah jerih payah dan usahanya di dunia.  Setelah ia menahan hawa nafsunya untuk menaati ajaran Allah dan tunduk pada titah-Nya.

            Sementara itu sebaliknya orang-orang yang melampaui batas tadi sebagaimana diceritakan di atas. “Dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka” (QS. 82: 14)

            Orang-orang durhaka dan para pendusta tadi akan benar-benar sengsara. Berada dalam keabadian adzab yang pedih di neraka. Hari yang mereka dustakan juga akan menjadi saksi kebenaran kejadiannya. Saat itulah mereka benar-benar terpanggang dalam panas dan pedihnya siksa neraka, “Mereka masuk ke dalamnya pada hari pembalasan” (QS. 82: 15). Dan begitu mereka masuk, “mereka sekali-kali tidak dapat keluar dari neraka itu” (QS. 82: 16). Mereka benar-benar celaka. Hari yang mereka dustakan sekaligus mereka takuti kebenarannya kini telah benar-benar ada di depannya. Bahkan mereka takkan pernah keluar sejenak pun untuk menghirup udara segar atau beristirahat melepas penat. Sebagaimana yang digambarkan dalam surat an-Naba. “Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman,  selain air yang mendidih dan nanah” (QS. 78: 24-25)

            Sekali-kali takkan pernah mereka merasakan kenyamanan dan kesejukan. Al-Farra’ menafsirkan ayat 24 surat An-naba dengan kenyamanan beristirahat dari panasnya hawa neraka sehingga disebut dengan ”la bardan”, takkan ada kesejukan dan kenyamanan dari siksa neraka yang tak kenal ampun([11]). Bahkan sekedar mendapatkan hembusan angin pun tidak, seperti tutur Az-Zajjaj dalam tafsirnya([12]). Tidak juga mereka mendapatkan sesuatu yang bisa mengusir dahaga dan haus karena menahan panas yang sangat luar biasa. Tak ada air. Kecuali air yang menggelegak atau nanah yang sangat menjijikkan dan baunya menyengat.

            Mungkin gambaran ini tak pernah terdetik dalam hati para pendusta itu. Atau jika mereka sempat percaya, ditutupi oleh gengsi untuk mengungkapkan iman dan mengikutinya dengan perbuatan baik.

Kebenaran Hari Pembalasan

            “Tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? Sekali lagi, tahukah kamu apakah hari pembalasan itu?” (QS. 82: 17-18)

            Sebenarnya seperti apakah hari pembalasan itu? Sampai Allah perlu mengulang pertanyaan dua kali di akhir surat ini. Ini memberikan indikasi, betapapun jelas tanda dan bukti kebenaran hari pembalasan pasti tetap akan banyak yang mendustakan dan tidak memperca-yainya. Padahal dengan adanya hari pembalasan seseorang akanmendapatkan haknya dengan adil. Ketidakadilan yang terjadi di dunia akan diselesaikan pada hari itu dengan sangat transparan dan profesional. Tak ada yang dizhalimi hari itu. Tak ada yang menzhalimi orang pada hari itu kecuali zhalim pada dirinya sendiri di masa lalu dengan tidak mengindahkan ajakan dan titah Allah.

            Hari pembalasan ini menjadi pembuktian janji Allah yang tak sedikit pun mengambil manfaat dari ketaatan manusia, juga tidak merugi sedikit pun karena kemaksiatan yang terus menerus dilakukan manusia.

            Sudah demikian jelasnya kebenaran hari pembalasan ini, manusia tetap tidak menggubrisnya. Sebagian karena hatinya tertutup oleh kedustaan, sebagian karena menjadi manusia matrealis, sebagian lagi lalai yang diperturutkan dan suka menunda-nunda taubat dan amal baik.

            Dengarkan penuturan Allah tentang maksud dari hari pembalasan itu, “(yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikitpun untuk menolong orang lain. dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah” (QS. 82: 19)

            Jangankan untuk menolong orang lain, hari yang sangat menegangkan dan menakutkan itu benar-benar membuat manusia lupa  terhadap siapapun. “Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya. Dari ibu dan bapaknya. Dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya”. (QS. 80: 34-37). Dan karena sebenar-benar kekuasaan hanya dimiliki Allah, tanpa tandingan dan saingan oleh siapapun. Keangkuhan dan kesombongan yang pernah didengungkan didunia seketika sirna dan tak berkutik. Karena semuanya semu dan hanya fatamorgana, ketika bertemu dengan kekuasaan dan kebenaran yang sesungguhnya. Hari itu sepenuhnya dimiliki oleh Allah. Tentunya, sebagaimana hari-hari sebelumnya. Hanya saja selama ini manusia tak menganggapnya demikian. Saat itulah kebenaran terungkap dan tak seorang pun mampu membantahnya.

Penutup

            Semoga saat langit benar-benar terbelah dan bintang berjatuhan serta batas-batas laut disirnakan, serta penghuni-penghuni kubur dibangkitkan, kita berharap semoga berada dalam golongan orang-orang yang selalu berada dalam kenikmatan surga dan keridhoan Allah. Amin

Selasa, 8 Desember 2009


* Tadabbur surat al-Infithar’ (Terbelah): [82], Juz Amma (30)

** Alumni Program S3 Jurusan Tafsir dan Ilmu al-Qur’an Universitas al-Azhar, Cairo – Mesir

([1]) lihat: Jalaluddin as-Suyuthi, al-Itqân fi ‘Ulûmi al-Qur’ân, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2004 M/1425 H, hlm. 22; Badruddin az-Zarkasyi, al-Burhân fi ‘Ulûmi al-Qur’ân, Beirut: Darul Fikr, Cet.I, 1988 M/1408 H, Vol.1, hlm. 250.

([2]) Prof. Dr. Jum’ah Ali Abd. Qadir, Ma’âlim Suar al-Qur’ân, Cairo: Universitas al-Azhar, cet.I, 2004 M/1424 H, vol.2, hlm.765

([3]) Az-Zajjaz, Ma’ami al-Qur’an wa I’rabuhu, Cairo: Darul Hadits, 2004 M/1424 H, Vol.V. hlm. 228. Juga al-Baghawy, Ma’alimu at-Tanzil, Beirut: darul Kutub al-Ilmiyah, Vol IV. Hlm. 424.

([4]) Syihabuddin al-Alusy, Ruhul Ma’aniy, Beirut: Darl Fikr, Vol.XXX, hlm. 111.

([5]) Ibid.

([6]) Salah satu tokoh sufi terkenal yang hidup di Asia Tengah. Meninggal di Naisabur tahun 258 H. Perkataan ini beliau simpulkan dari pernyataan Umar bin Khattab. Serta direkam oleh Abdurrahman Assulamy dalam bukunya Haqa’iq at-Tafsir, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyah, Cet.I, 2001 M-1421 HVol.II, hlm.377

([7]) seperti tertulis dalam surat al-Ahzab ayat 72,”Sesungguhnya manusia itu amat zhalim dan amat bodoh

([8]) lihat tesis penulis: Kitab Lawami’ al Burhan wa Qawathi’ al-Bayan fi Ma’ani al-Qur’an Karya Imam al-Ma’iny, Cairo: Universitas al-Azhar Jurusan Tafsir, 2006, Vol.2, hlm. 805

([9]) al-Wahidy,al-Washit fi Tafsiri al-Qur’an al-Majid, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyah, Cet.I, 1994 M-1415 H, Vol.IV, hlm. 436

([10]) Syihabuddin al-Alusy, Ruhul Ma’aniy, Op. Cit, Vol.XXX, hlm. 111.

([11]) Abu Zakaria Al-Farrâ’, Ma’ani al-Qur’an, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.1, 2003 M/1423 H, Vol.3, hlm.118

([12]) Az-Zajjâj, Ma’ani al-Qur’an wa I’rabuhu, Cairo: Darul Hadits, 2004 M/1424 H, Vol.5, hlm.213

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s