Tadabbur Surat Abasa [80]

TEGURAN UNTUK SANG PANUTAN*

Dr. H. Saiful Bahri, MA**.

Mukaddimah: Standar Kemuliaan Akhlak Tauladan Umat

Surat Abasa diturunkan Allah di Makkah setelah surat an-Najm([1]). Surat ini berisi tentang pokok-pokok keimanan terhadap hari kiamat dan hari pembalasan sebagaimana dua surat sebelumnya([2]) dengan penambahan beberapa bagian terutama penggambaran kondisi manusia saat hari kebangkitan. Mereka benar-benar lupa segalanya. Permulaan surat ini mengisahkan tentang teguran Allah untuk Nabi Muhammad dalam sebuah peristiwa yang kemudian dikenal sebagai sabab nuzul (sebab diturunkannya) surat ini.

Rasulullah saw. adalah panutan bagi segenap umat Islam, sebagaimana menjadi tauladan bagi manusia seluruhnya; terutama bagi mereka yang mau belajar dan mempelajari rekam jejak (track record) beliau semasa hidupnya.

Dalam kehidupan manusia biasa, jika seseorang sedang sibuk dalam sebuah majelis tertentu, kemudian datang seseorang yang hendak ada hajat dengannya, sangatlah wajar jika beliau meminta sang tamu untuk menunggu sesaat. Namun, tidak demikian jika yang melakukannya adalah Rasulullah saw uswah dan teladan manusia. Ketika beliau sedang berusaha mendakwahi para pemuka kaum quraisy([3]) dalam sebuah majelis tiba-tiba muncul sosok Abdullah bin Ummi Maktum([4]) datang di majelis tersebut. Air muka Rasulullah saw berubah. Beliau terlihat sedikit “terganggu” dengan kedatangan Abdullah yang ingin menyelai pembicaraan Rasulullah. Ia sangat tertarik dengan kabar yang dibawa oleh Rasul. Niat tulus inilah yang membedakannya dengan kondisi para pemuka Quraisy yang sebagian besar sudah punya sikap antipati terhadap Rasulullah saw dan risalah baru yang dibawa beliau. Dan beliau sangat berharap keislaman para pembesar ini. “Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling. Karena telah datang seorang buta kepadanya”. (QS. 80: 1-2)

Sebuah teguran yang keras yang diabadikan Allah. Sampai-sampai ketika Ibnu Ummi Maktum ini mendatangi beliau dalam berbagai kesempatan beliau memanggilnya dengan sebutan yang mengingatkan beliau pada kejadian tersebut. “Wahai orang yang karenanya aku ditegur ([5]).

Dengarkan dengan penjelasan Allah berikutnya, ”Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa). Atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?” (QS. 80: 3-4). Inilah kondisi Abdullah yang buta, yang rakyat jelata, yang miskin papa.Tapi punya nilai lebih di hadapan Allah karena keteguhan dan keikhlasan niatnya hendak menemui Rasulullah. Seharusnya orang yang seperti inilah yang diprioritaskan Rasulullah saw.

Kebalikan dengan kondisi para pembesar Quraisy yang dibela-belain dan diharapkan keislaman mereka, sedang mereka adalah orang-orang sombong dengan merasa cukup dan pandai sehingga tak lagi merasa perlu akan nasihat dan ilmu serta pengetahuan([6]).

Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup. Maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman)”. (QS. 80: 5-7)

Teguran ini terasa sangat berat karena diulang kembali oleh Allah untuk sebuah kesalahan sikap beliau. ”Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran). Sedang ia takut kepada (Allah). Maka kamu mengabaikannya. Sekali-kali jangan (demikian)!”. (QS. 80:8-11)

Seandainya al-Qur’an sebagaimana yang diklaim musuh-musuh Islam sebagai karya Rasulullah, maka sudah tentu surat ini atau setidaknya ayat-ayat ini akan disembunyikan dan tidak disampaikan kepada umatnya. Inilah bukti amanah beliau sekaligus penjagaan Allah terhadap kitab-Nya yang benar-benar otentik sebagai kalam suci-Nya.

Ketinggian Akhlak: Misi Utama Rasulullah saw

            Mungkin kekhilafan yang dilakukan Rasulullah saw sangat wajar bagi kita. Namun, karena posisi beliau sebagai standar tertinggi akhlak manusia serta menjadi teladan manusia di sepanjang zaman dan di berbagai belahan bumi, maka Allah menegur kekhilafan ini. Dan karena misi utama beliau adalah keutamaan akhlak([7]). Misi utama ini bisa dilihat dalam efek setiap rukun Islam yang dibebankan pada setiap umat Islam.

  1. Shalat, berfungsi untuk mencegah kemungkaran dan perbuatan yang keji. Jika memang pelaksanaan shalat dilakukan dengan sebaik-baiknya([8]).
  2. Zakat dan Shadaqah, juga fungsinya untuk menyucikan dan membersihkan jiwa orang yang melakukannya([9]). Membersihkan dari keangkuhan, kesombongan, pamer, kikir dan sebagainya.
  3. Puasa, selain untuk menahan diri dari makan minum dan berkumpul dengan istri/suami, juga berfungsi untuk mengendalikan emosi([10]).
  4. Haji, juga memiliki fungsi kesempurnaan akhlak selain memiliki dimensi kesetaraan manusia dan symbol pengorbanan([11]).

Orang-orang yang memiliki standar akhlak yang tinggi ini kelak berhak memperoleh kedekatan posisi bersama Rasulullah saw di surga Allah. Seperti yang pernah dijanjikannya, “Sesungguhnya orang yang paling aku cintai dan paling dekat denganku pada hari kiamat adalah mereka yang terbaik akhlaknya([12]). Dan standar kedekatan serta posisi di hari akhir nanti adalah akhlak.

Sebuah Peringatan: Kerugian Bagai Orang yang Mengingkarinya

            Sebagai Rasul, Nabi Muhammad hanya ditugaskan menyampaikan semua risalah Allah dengan penuh amanah. Memberi peringatan terhadap umat ini akan adanya hari pembalasan. Serta kesombongan dan keangkuhan akan benar-benar sirna dan tersingkir bahkan kelak terhinakan dan tidaklah memberikan manfaat sedikitpun.

Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan. Maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya. Di dalam kitab-kitab yang dimuliakan. Yang ditinggikan lagi disucikan. Di tangan para penulis (malaikat). Yang mulia lagi berbakti. Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya?” (QS. 80: 11-17)

Ayat terakhir yang berisi laknat ini diturunkan dalam menyikapi keangkuhan para pembesar Quraisy yang sedang didakwahi Rasulullah saw. Sebagian mengatakan ayat ini diturunkan untuk melaknat Umayyah bin Khalaf([13]). Namun, para mufassir lebih cenderung menganggap ayat ini bersifat umum, mencakup siapa saja yang berpaling dari ajaran Allah dengan penuh kesombongan.

Karenanya, kemudian Allah kembali mengajak manusia untuk berdialog menggunakan akalnya. Berpikir tentang tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah. Dengan memulai mengajak melihat diri sendiri. Dari nol. Dari awal penciptaannya.

Dari apakah Allah menciptakannya? Dari setetes mani, Allah menciptakannya lalu menentukannya. Kemudian dia memudahkan jalannya. Kemudian dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur. Kemudian bila dia menghendaki, dia membangkitkannya kembali”. (QS. 80: 18-22)

Itulah rotasi kehidupan manusia. Dari tidak ada. Kemudian diciptakan dari setetes air yang sangat hina. Siapapun akan merasa jijik ketika melihatnya. Namun, siapapun orangnya tak bisa memungkiri bahwa dia berasal dari sel terkecil yang ada dalam air tersebut. Allah jadikan awal kehidupannya di sana. Kemudian Allah yang Maha Kaya dan Pengasih tak pilih-pilih kasih. Siapapun Dia berikan takaran yang cukup; rizki dan umurnya, jodoh dan kebahagiannya. Semuanya Dia tentukan dan Dia berikan. Tanpa terkecuali. Padahal sebagian –besar- dari mereka kelak tak mau menyukuri nikmat dan karunia-Nya. Sebagian lagi berpaling dengan keangkuhan dan kesombongannya. Sebagian lagi durhaka dengan mendewakan benda dan harta. Bahkan sebagian melewati batas dengan tidak mempercayai adanya Sang Pencipta. Ada pula yang –bahkan- mengaku-aku sebagai Tuhan pemilik semesta.

Alam: Saksi Kekuasaan Allah dan Kelalaian Manusia

            “Sekali-kali jangan; manusia itu belum melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya. Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya. Sesungguhnya kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit). Kemudian kami belah bumi dengan sebaik-baiknya. Lalu kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu. Anggur dan sayur-sayuran. Zaitun dan kurma. Kebun-kebun (yang) lebat. Dan buah-buahan serta rumput-rumputan”. (QS. 80: 23-31)

            Jika manusia melalaikan dirinya. Bahkan ia menjadi gelap mata. Tak lagi diperhatikannya tanda-tanda kekuasaan Allah yang melekat dalam dirinya. Allah mengajaknya untuk berkelana. Menyaksikan alam. Menadabburi penciptaan alam semesta. Berpikir untuk siapakan semua penciptaan tersebut.

            Makanan yang setiap hari dimakan oleh manusia. Dari mana berasal. Siapa yang memberi dan menyediakan. Tanam-tanaman dan tumbuhan yang bermacam-macam. Buah dan sayur yang melimpah. Semuanya tersedia dan siap santap dalam keadaan segar([14]). Kebun-kebun yang terhampar. Padang rumput yang membentang hijau. Siapa yang membuatnya demikian. Tahukah manusia, bahwa semuanya berawal dari rintik-rintik dan guyuran air yang Allah jatuhkana dari arah langit.

            “Untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu”. (QS. 80: 32)

Sebagaimana Allah tegaskan sebelumnya dalam surat An-Nâzi’at Allah ulangi lagi ayat ini dalam surat Abasa. Sama sekali Allah tak mengambil keuntungan sedikitpun dari penciptaan alam semesta. Manusialah yang menikmatinya dengan gratis dan sepuas-puasnya. Semata karena keluasan rahmat dan cinta-Nya. Allah hanya memerintahkan mereka untuk bersyukur dan beribadah, tunduk menyembahnya dengan penuh kekhusyukan. Pahala kesyukuran ini pun kelak kembalinya kepada manusia. Tak ada secuil pun Allah mengambil manfaat darinya. Seandainya para makhluk-Nya semua sepakat untuk mendurhakai-Nya maka hal itu tak sedikitpun dapat menggoyahkan kedudukan dan kekuasaan-Nya. Sebaliknya, jika semua makhluk-Nya menaatinya maka tidaklah yang demikian itu menambah dan mengokohkan kedudukan-Nya. Jika semua makhluk dari sejak pertama diciptakan sampai hari akhir zaman meminta dan semua permintaan mereka dikabulkan, tidaklah yang demikian itu mengurangi kekayaan Allah melainkan seperti halnya sehelai benang yang dicelupkan dalam air laut maka seolah tak mengurangi air laut sedikitpun.

            Seharusnya manusialah yang berlomba untuk memburu lebih lagi karunia Allah yang lain. Jika rizki, jodoh dan kematian adalah sesuatu yang telah dipastikan Allah, maka selaiknya manusia tinggal berkreasi dengan cara yang baik agar mendapatkan ridha dan cinta Allah. Jika ia mencari rizki ia melalui pintu-pintu yang dihalalkan-Nya dan diberkahi-Nya. Jika ia mencari jodohnya ia pun menggunakan cara yang tidak menyebabkan murka-Nya. Dan kelak ia pun selalu bersiap-siap menerima kedatangan sang malaikat pencabut nyawa. Apa yang harus ditakutkannya, karena ia telah menyediakan dirinya dengan penuh kepasrahan. Kepasrahan yang aktif yang membuat hidupnya bermakna. Bukan sebaliknya seperti yang kadang salah dipersepsikan bahwa kepasrahan diekspresikan dengan menyerah dan tanpa gairah dalam menjalani kehidupan ini.

Suasana yang Menyebabkan Lupa Segalanya

            Dua surat sebelum ini sudah menjelaskan kedahsyatan keadaan saat hari kiamat datang kemudian saat mereka dibangkitkan dari kematian. Semuanya sampai pada satu kesimpulan, kondisi hari kebangkitan sangatlah mencekam dan menakutkan. Dalam surat ini Allah mengungkapkan sisi lain dari hari yang sangat ditakuti oleh para pendusta tersebut. Karena demikian dahsyatnya pada hari itu manusia melupakan segalanya. Bahkan sampai orang-orang yang dulu dicintainya tak lagi ia hiraukan. Karena pada hari itu fokus manusia adalah dirinya. Ia hanya bisa memikirkan dan membayangkan kesudahan nasib yang akan diterimanya tak lama lagi. Akankah ia menerima kekekalan kebahagiaan. Atau sebaliknya ia tenggelam dalam kekekalan kepedihan dan kesengsaraan adzab Allah swt.

Simaklah prediksi dan rancangan dari Sang Maha Kuasa, “Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua). Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya. Dari ibu dan bapaknya. Dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya”. (QS. 80: 33-37)

Pada hari kebangkitan itu manusia lupa istri/suaminya, ibu bapaknya dan saudara-saudaranya. Ia hanya memikirkan dirinya sendiri. Karena semuanya tahu bahwa pada hari itu semua amal dan pekerjaannya akan dihisab untuk kemudian mendapatkan ganjaran yang sesuai dan setimpal. Tiada lagi manfaat berkhayal dan berangan-angan. Senada dengan yang diungkapkan oleh Ibnu Atha’illah as-Sakandary, “Janganlah menuntut balasan (imbalan) atas suatu amal yang pelakunya bukan dirimu sendiri. Cukuplah balasan Allah bagimu, apabila Dia menerima amal tersebut([15]).

Dan kesudahan nasib itu dapat dilihat dari pancaran muka masing-masing orang. “Banyak muka pada hari itu berseri-seri. Tertawa dan bergembira ria. Dan banyak (pula) muka pada hari itu tertutup debu. Dan ditutup lagi oleh kegelapan. Mereka Itulah orang-orang kafir lagi durhaka”. (QS. 80: 38-42)

            Orang-orang yang baik pada hari itu mukanya berseri-seri. Mereka laik untuk tertawa dan bahagia atas apa yang dikaruniakan oleh Allah berupa kesempatan berbuat baik dan mereka mampu menggunakannya. Kini mereka berbahagia bisa merasakan kelegaan dan terealisasinya janji-janji Allah. Mereka bahkan akan segera mengecap klimaks kebahagiaan ketika dapat bersua dan berjumpa dengan Sang Pemberi segalanya.

            Namun, banyak juga diantara manusia yang bermuka masam. Wajah mereka demikian keruhnya. Seperti tertutup debu tebal dan ditambah asap hitam yang menutupinya([16]). Karena pada hari itu tak seorang pun sanggup menyembunyikan amalnya([17]). Dan sudah menjadi sunnah Allah pada hari itu manusia berkelompok dan terlihat berkelas-kelas. Ada yang berbahagia, ada yang sengsara, ada yang dimudahkanhisabnya ada yang sangat sulit dan sangat lama. Ada yang menerima kitab amalnya dengan tangan kanan, ada juga yang menerimanya dengan dilempar dari arah belakang atau menerima dengan tangan kiri. Ada kelas ashabul yamin ada juga ashabusy-syimal([18]). Semuanya berkelompok sesuai dengan amalannya.

Penutup: Semuanya Kembali Untuk Kemanfaatan Pribadi

            Jika manusia bekerja di dunia kemudian ia mendapatkan harta, tak semuanya bisa ia nikmati. Sebagian ia belikan barang-barang mewah untuk berbangga-bangga, sebagian dinikmati oleh istri, anak dan saudaranya yang bahkan ia sendiri tak bisa menikmatinya. Sebagian lagi kadang hilang karena dicuri atau terjadi kerusakan atau dalam kondisi yang diluar perkiraan. Tapi semua amal baik dan buruk manusia –kelak- benar-benar dikembalikan kepada dirinya sendiri. Jika ia berbuat jahat maka ia takkan dibalas kecuali sesuai dengan kejahatannya. Jika ia baik maka ia bisa menikmati balasan kebaikannya tersebut. Tidak berkurang sama sekali bahkan Allah menjanjikannya dengan pelipatan yang hanya Dia sendiri yang mengetahui batasnya. Wajarlah jika kemudian dalam surat ini terjadi perbedaan yang mencolok antara orang baik yang berwajah berseri-seri dan orang-orang buruk yang dirundung duka bermuka masam dan keruh yang dikiaskan tertutup debu dan gumpalan asap hitam. Semoga Allah menjadikan kita termasuk ke dalam golongan mereka yang berwajah berseri-seri dan bahagia ketika hari pembalasan dan penentuan benar-benar tiba. Amin.

 

Selasa, 24 November 2009


* Tadabbur surat ‘Abasa (Bermuka Masam): [80], Juz Amma (30)

** Alumni Program S3 Jurusan Tafsir dan Ilmu al-Qur’an Universitas al-Azhar, Cairo – Mesir

([1]) lihat: Jalaluddin as-Suyuthi, al-Itqân fi ‘Ulûmi al-Qur’ân, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2004 M/1425 H, hlm. 22; Badruddin az-Zarkasyi, al-Burhân fi ‘Ulûmi al-Qur’ân, Beirut: Darul Fikr, Cet.I, 1988 M/1408 H, Vol.1, hlm. 249. Prof. Dr. Jum’ah Ali Abd. Qadir, Ma’âlim Suar al-Qur’ân, Cairo: Universitas al-Azhar, cet.I, 2004 M/1424 H, vol.2, hlm.752

([2]) Muhammad Ali Ash-Shabuny, Ijazu al Bayan fi Suari al-Qur’an, Cairo: Dar Ali ash-Shabuny, 1986 M/1406 H, hlm. 279-280.

([3]) seperti Utbah bin Rabi’ah, Abu Jahal, al Abbas bin Abdul Muthalib, Umayyah bin Khalaf, Walid bin Mughirah. (Syihabuddin al-Alusy, Ruhul Maany, Beirut: Darul Fikr, 1997 M/1417 H, Vol 30. hlm. 69. lihat juga: Ibnu Hajar al-Asqalany, Fathul Bari bi Syarhi Shahih al-Bukhary, Cairo: Maktabah ash-Shafa, Cet.I, 2003 M/1424 H, vol.VIII, hlm.851).

([4]) Anak dari bibi Ibunda Khadijah ra. Namanya Abdullah bin Syuraikh bin Malik bin Abi Rabiah al Fahry. Beliau dilahirkan dalam kondisi buta dan hidup di tengah keluarga yang sangat miskin. Ibunya bernama Atikah dari Suku Bani Makhzum. Beliu sering disebut dengan Ibnu Ummi Maktum (lihat: al-Ishabah fi Tamyiz ash-Shahabah karya Ibnu Hajar al-Asqalany, Cairo: maktabah Misr, tanpa tahun, 2/435)

([5]) Atsar ini disebut oleh Imam Qurthuby dari riwayat Imam Tsaury (al-Qurthuby, al-Jami’ li Ahkami al-Qur’an, Cairo: Darul Hadits, Cet.I, 2002 M/1423 H, Vol.X, hlm. 175)

([6]) Ruhul Maany, Op. Cit, 30/69

([7]) Seperti Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Malik dalam al-Muwatha’, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak”. (al-Muwatha’ Imam Malik hadits ke1723. Lihat: Amru Khaled, Akhlaqu al Mu’min, Beirut: Darul Ma’rifah, Cet.V, 2005 M/1426 H, hlm. 8)

([8]) Seperti termaktub dalam surat al-Ankabut: 45.

([9])Seperti termaktub dalam surat at-Taubah: 103.

([10])Seperti tersurat dalam sabda Baginda Nabi Muhammad saw, “Jika pada hari kalian berpuasa maka janganlah berkata kasar dan mencaci. Jika ia dicaci seseorang atau diajak berkelahi, maka katakanlah: aku seorang yang sedang puasa” (HR. Muslim [no. 2700] dan Ibnu Majah [1691])

([11]) Lihat Surat at-Baqarah: 197 (larangan berdebata dan berkata-kata kasar dan jorokl).

([12]) Hadits riwayat Imam at-Tirmizi dalam Sunannya dan Imam Ahmad dalam Musnadnya.

([13]) lihat tesis penulis: Kitab Lawami’ al Burhan wa Qawathi’ al-Bayan fi Ma’ani al-Qur’an Karya Imam al-Ma’iny, Cairo: Universitas al-Azhar Jurusan Tafsir, 2006, Vol.2, hlm. 792.

([14]) lihat: Tafsir al-Muntakhab, al-Azhar-Kementrian Wakaf Mesir, Cairo, 2001 M/1422 H, hlm.1206.

([15]) sebagaimana termuat dalam kitab al-Hikam karya Ibnu Athaillah as-Sakandary, terj. Dr. Ismail Baadillah, Jakarta: Khatulistiwa Press, Cet.II, 2008 M/1429 H, Hikmah ke 110. hlm.152.

([16]) Ini adalah kiasan demikian keruhnya wajah mereka. Terbebani akan kesudahan nasib mereka nantinya. Benda yang tertutupi debu tebal kemudian ditambah kepulan asap hitam. Takkan mungkin bagi siapapun mampu mengenali benda tersebut. Bagaimana jika wajah –bagian termulia manusia- yangtertutup debu dan gumpalan asap yang sangat pekat? (lihat: Az-Zajjâj, Ma’ani al-Qur’an wa I’rabuhu, Cairo: Darul Hadits, 2004 M/1424 H, Vol.5, hlm. 223. Imam al-Baghawy, Ma’âlimu at-Tanzîl, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2004 M/1425 H, vol.4, hlm. 222)

([17]) seperti firman Allah dalam surat Az-Zalzalah, “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula” (QS. 99: 7-8)

([18]) Muhammad al-Hajjar, Samiru al-Mu’minin, Beirut: Darul Basya’ir al-Islamiyah, Cet. XI, 1998 M/1418 H, hlm. 181

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s