BILA DIA YANG KITA CINTAI

Sebuah Bingkisan Ramadan

 Dr. Saiful Bahri, M. A.

Kira-kira apa perasaan Anda, ketika diberitahu bahwa Anda akan kedatangan tamu yang akan menginap di rumah Anda, untuk beberapa saat? Senang ataukah sebaliknya, merasa terganggu atau biasa-biasa saja.

Jawabannya tergantung, siapa tamunya. Jika tamunya biasa-biasa saja, barangkali kita juga akan biasa-biasa saja. –Padahal kita diperintahkan untuk memuliakan tamu– Tapi coba bayangkan. Jika yang akan mendatangi kita adalah orang-orang yang kita cintai dan kita hormati, misal bapak dan ibu, mertua, guru atau temen dekat kita atau orang yang pernah berjasa dalam hidup kita.

Sudah barang tentu kita akan dengan senang hati menyambutnya. Tak perlu ditanya akan berapa lama mereka di rumah kita. Kita pun akan segera menyiapkan sebuah kamar terbagus untuk mereka. Merapikan dan menghiasnya. Kemudian menyediakan jamuan istimewa untuk mereka. Siap memenuhi segala kebutuhan mereka, siap mengantar mereka kemana pun mereka hendak pergi. Dan bila saat-saat perpisahan itu datang, duh rasanya hati ini khawatir apakah service kita mengecewakan tamu tercinta kita. Dan, …

Demikian halnya, kita saat ini. Ketika kita sedang berada di gerbang seribu bulan. Bulan yang dimuliakan Allah. Bulan yang ibadah wajibnya dilipatkan Allah hingga 70 kali lipat dan ibadah sunnahnya disamakan dengan ibadah wajib di bulan lain. Bulan penuh berkah, rahmat dan pengampunan serta pembebasan dari nafsu dan belenggu syeitan. Bulan yang didalamnya terdapat sebuah malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan.

Bulan Suci Ramadhan segera mendatangi kita.

Pertanyaannya sederhana saja: Apakah kita gembira, bahagia dan senang dengan kedatangan bulan ini?

Apakah pertanyaan di atas bukan bid’ah yang diada-adakan. Apakah ada hubungannya kecintaan dan kebahagiaan kita menyambut Ramadhan dengan amalan kita di dalamnya. Kita tak hendak mendiskusikan ini. Karena ada nilai dan pesan normatif yang lebih penting dari itu.

Bila kita menjawabnya:Ya, seneng dan gembira. Maka ilustrasi di atas akan membuka cakrawala bagaimana kita menyambut tamu yang kita hormati sekaligus kita cintai.

Pertanyaan berikutnya: Apa yang telah kita siapkan untuk menyambutnya. Apa yang kita punyai untuk menyambutnya. Seberapa jauh kita siap dan mempersiapkan keluarga kita untuk menyambutnya?

Pertanyaan berikutnya: Salah satu tujuan puasa Ramadhan adalah tercapainya ketakwaaan. Kira-kira kita yang sudah berpuasa selama 10-20 tahunan atau lebih kurang… sejak kapan kita merasa telah mencapai target taqwa tersebut.

Barangkali kita kesulitan untuk merasa, kapan kita mencapai target taqwa. Pertanyaan sederhana berikutnya: Bagaimana dengan Ramadhan tahun kemarin? Bila jawabannya ternyata belum juga, maka kita punya kesempatan untuk merealisasikannya tahun ini. Insya Allah kita mampu, asal ada kekuatan azam dan niat yang kuat. Kesempatan untuk mengukir prestasi.

Dan bila jawabannya sudah. Maka alangkah sedihnya jika pada tahun ini prestasi kita menurun. Sungguh merugi. Sangat merugi.

Ada empat golongan dan tipe manusia serta sikap mereka dalam menyambut Bulan Ramadhan:

  1. Mukmin yang sungguh-sungguh. Mereka adalah orang-orang yang menganggap bulan ini adalah peluang untuk melejitkan prestasi di hadapan Allah. Maka kita selalu menjumpai orang seperti ini senantiasa merasakan detik-detik Ramadhan sangat berharga. Mereka selalu berada dalam ketaatan. Kalau tidak sedang shalat, baca Al-Qur’an, dzikir, saling menolong dan menasehati, memenuhi kebutuhan saudaranya dsb. Tak ada waktu terlewat kecuali untuk sesuatu yang baik dan bermanfaat.
  2. Segolongan orang yang niatnya baik, tapi himmah dan azamnya lemah. Orang ini berniat menargetkan berbuat sesuatu di bulan Ramadhan. Mereka punya tekad berbuat baik. Tapi karena azamnya lemah, maka hanya bertahan pada awal-awal bulan saja. Kemudian mereka tidak merasakan kehadiran tamu ini. Baik hanya di awalnya saja setelah itu ketahuan aslinya.
  3. Orang yang biasa-biasa saja. Artinya kedatangan Ramadhan tidak memberi bekas sama sekali. Kalau ibarat tamu, ia dicuekin. Sedih!
  4. Orang-orang yang tidak menyukai kedatangan Ramadhan. Karena mereka menganggap Ramadhan sebagai penghalang bagi mereka untuk memuaskan nafsu dan segala keinginan. Mereka dengan terpaksa menerima kedatangan tamu ini tapi sesungguhnya mereka membencinya. Lebih parah dari pada ini. Orang yang tidak menghormati sama sekali adanya bulan Ramadhan. Dengan sangat ringan menginjak-injak kesucian dan kehormatannya.

Kembali kita tanya diri kita sendiri. Kita berada di bagian mana dari ke empat tipe di atas. Jangan sampai kita berada dalam suatu keadaan sebagaimana yang disabdakan Rasulullah saw. “Rugi dan merana lah orang yang menjumpai Ramadhan sedang dosanya belum diampuni”. Na’udzu billah.

 Cairo, Mengenang Ramadhan 1426 – 2005

PROXY WAR

Dr. Saiful Bahri, M.A

War begin when you will, but they do not end when you please

Niccolo Machiavelli (History of Florence, 1521-1524)

Secara konsep, kedamaian adalah prioritas yang mesti disampaikan oleh seorang muslim kepada semua manusia karena muslim atau islam juga mengandung kata as-silmi dan as-salâm. Karena muslim adalah sumber kedamaian. Ini menjadi kata pertama yang diucapkan sebagai tanda berakhirnya shalat. Menandakan bahwa seorang muslim telah siap menebar as-salâm begitu ia telah menyelesaikan shalatnya. Maka sangat benar jika kemudian Rasulullah menegaskan, “Seorang muslim adalah bila orang muslim lainnya merasa aman dari lisan dan tangannya”.

Demikian juga mu’min di dalamnya terkandung arti “aman”. Karena spirit seorang mukmin adalah menjaga dan menebar keamanan. Itulah filosofi yang sangat dalam pada doa Nabi Ibrahim, “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.” (QS. Ibrahim: 35)

Itulah yang dicontohkan Nabi Ibrahim untuk selalu menebar dan mengharapkan keamanan di negeri manapun dipijakkan kaki. Dan iringan doa ini dilengkapi perlindungan diri dan keluarga dari gangguan berhala yang progresif. Berhala yang dipersonifikasikan Al-Quran seperti manusia yang bergerak “رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِّنَ النَّاسِ”. Kata (إِنَّهُنَّ) dan (أَضْلَلْنَ) kurang dilazim dipakai untuk kata ganti benda yang tidak bergerak. Di sini dipakai untuk menggantikan kata (إِنَّهاَ) dan (أَضَلَّ). Wallahu a’lam, ini menandakan bahwa keberadaan berhala akan terus terjadi dan berkembang sesuai zamannya. Memang benar, di zaman modern berhala berbentuk patung yang disembah sudah tak seperti dahulu, tapi berhala-berhala dalam bentuk lain makin menjamur di mana-mana. Maka standar keamanan yang diminta Nabi Ibrahim dan seharusnya kita juga memintanya kepada Allah, adalah agar negeri ini benar-benar aman bagi akidah kita dan anak keturunan kita. Agar Allah jauhkan kita dari bersentuhan dengan berbagai macam berhala. Berhala ketergantungan dengan pihak asing, berhala mencintai jabatan, berhala ketundukan pada mafia-mafia hedonis dan matrealis.

Dan bisa jadi dalam merealisasikan keamanan tadi kita “terpaksa” masuk ring dan terlibat dalam pergulatan politik dan pemikiran. Hal yang sama pun dilakukan oleh Bangsa Palestina yang sudah tentu mendamba keamanan di negerinya. Tapi realisasi keamanan tersebut tak bisa secara gratis dinikmati. Karena ada pihak lain juga yang menginginkan keamanan meski dalam dimensi dan sudut pandang lain.

Pada prakteknya, kezhaliman yang dialami bangsa Palestina dari penjajahan dan pendudukan ilegal Zionis Israel, tidak berarti hanya melibatkan dua pihak yang saling kontra ini. Tapi telah meluas dan menjalar ke berbagai wilayah di belahan bumi ini, tergantung pendekatan dan sudut pandang konflik yang terjadi.

Secara ideologis, jelas zona kekerasan di Palestina meluas dan akan melibatkan umat Islam di seluruh dunia, meski sebagian ada yang memungkirinya. Secara emosional kebangsaan, Orang-orang Arab juga melihat kasus ini bentuk penistaan pada suku bangsa mereka, meskipun –sekali lagi- pendekatan bangsa-bangsa Arab juga tidak sama. Dan yang lebih luas, dengan pendekatan humanisme maka akan memposisikan masalah ini sebagai masalah pembebasan bangsa Palestina dari segala bentuk penindasan dan kezhaliman serta penjajahan Zionis Israel.

Zona peperangan yang luas ini menyebabkan banyak pihak yang terlibat. Kondisi ini mengingatkan kita pada suasana mencekam perang dingin yang terjadi pasca perang dunia kesatu dan kedua. Perang dingin antara kubu Amerika Serikat dan Uni Soviet.

Dunia berada pada posisi aman yang semu, dingin seolah tak terjadi apa-apa padahal bagai sekam yang membara tapi terpendam di dalam. Kedua kubu berlomba melakukan perang dengan strategi lain. Yaitu dengan mengembangkan nuklir yang dirasa lebih efisien, karena selain lebih memberikan efek teror, bagian kecil nuklir juga lebih efisien daripada sejumlah besar senjata konvensional. Efek teror ini memicu kedua negara superpower  di atas – AS dan Soviet – untuk sama-sama mengembangkan nuklir. Balance of Power yang diciptakan oleh Perang Dingin bergeser menjadi Balance of Terror yang didukung oleh perlombaan senjata.

Perlombaan senjata inilah yang merupakan strategi deterrence yang digunakan kedua negara. AS berusaha meningkatkan senjata yang dimiliki karena percaya hal ini dapat menghindarkan keinginan dan kemampuan lawan untuk menyerang AS. Menurut Alexander L. George dan Richard Smoke, deterrence dapat diartikan sebagai serangkaian persuasi yang dilakukan oleh pihak pertama kepada pihak kedua untuk agar pihak pertama melakukan keinginan pihak kedua. Ini yang pernah kita bahas pada tulisan sebelumnya (PSY WAR). Bahwa kepentingan menunjukkan kekuatan menyerang merupakan salah satu pertahanan terbaik.

Ketegangan perang dingin ini diwarnai dengan Proxy War. Kedua belah pihak yang bertikai menggunakan pihak ketiga sebagai wilayah pertempuran. Dan bentuk-bentuk proxy war ini juga berkembang, tidak lagi menggunakan senjata konvensional, tidak juga selalu menggunakan kekuatan militer. Namun, sudah berkembang masuk ke berbagai sektor lain, utamanya ekonomi dan politik serta keamanan.

Maka kezhaliman yang dialami Bangsa Palestina pada dasarnya secara internal berbasis ideologi. Maka, sejatinya instrumen militer yang dimiliki Zionis Israel hanya satu dari sekian instruman perang yang dilancarkan. Selebihnya, mereka menempuh jalur propaganda melalui lobi-lobi di tingkat internasional atau bahkan masuk ke wilayah negara-negara maju dan adidaya, Amerika Serikat di antaranya.

Maka dalam konteks proxy war yang terjadi, sebenarnya siapa memanfaatkan siapa?

Dan sudah menjadi maklum jika selama ini AS selalu berada di belakang Israel. Keputusan apapun di tingkat intrenasional selalu di tentang dengan veto AS.

Teori perang yang dilakukan Israel kira-kira alurnya seperti ini

  1. Untuk kontak fisik (senjata) dilakukan di luar wilayah pendudukan mereka. Dan sejauh ini, Gaza yang menjadi “korban”nya.
  2. Secara ideologis mereka lebih memusatkan pertempuran sesungguhnya di al-Quds (Jerussalem), terutama di wilayah Masjid al-Aqsha. Karena, Israel tanpa Jerussalem dan masjid al-Aqsha takkan berarti apa-apa.
  3. Propaganda besar-besaran sudah dirancang matang dan sebagian sudah dieksekusi, sebagai contoh Doktrin Solomon Temple yang setiap saat dipropagandakan secara masif dan persuasif, yang diikuti perampasan asset fisik berupa tanah atau perusakan fisik situs-situs yang terdapat di wilayah Masjid al-Aqsha.
  4. Perang jauh “proxy war” juga dilakukan oleh Zionis Israel. Wilayahnya adalah jantung negara superpower saat ini, Amerika Serikat. Mereka menyadari, keputusan apapun dari Gedung Putih adalah penaklukan terhadap dunia tanpa ada yang berkutik untuk berani mencoba melawannya.
  5. Dan kebijakan AS sendiri terpengaruh pola pikir “pengecut” sehingga mereka menyebar kekuatan militer ke banyak wilayah di penjuru bumi ini. Karena mereka juga melakukan politik perang yang sama, menjadikan tempat lain yang jauh dari jantung kekuasaan sebagai tempat perang. Jika AS sebagai ladang proxy war kasus Palestina. Maka AS mengambil tempat di Afghanistan, Pakistan dan Iraq. Sebagai sampel wilayah-wilayah bergolak secara fisik tentara-tentara AS terlibat kontak senjata di tempat-tempat tersebut. Sementara di wilayah damai yang berpotensi, hitunglah pangkalan-pangkalan militer AS yang tersebar! Hitung pula pengaruh-pengaruh hegemomi kapitalis oleh serangan ekonomi ke berbagai wilayah di dunia!

Terlalu rumit membicarakan kezhaliman dan dehumanisasi yang terjadi di Palestina. Karena Israel telah memasang perangkap dan menyebarkan jaringan ke banyak pihak untuk ditarik dalam konflik yang diciptakan untuk memberi kesan bahwa ini adalah konflik setara antara dua pihak, Palestina dan Israel. Tanpa ada propaganda siapa yang dijajah dan siapa menjajah. Siapa yang menzhalimi dan dizhalimi? Siapa yang melakukan kekerasan dan siapa korbannya.

Sedang AS yang menjadi salah satu wilayah perang jauh ini, saat ini juga memasang perangkap global dengan framing anti terorisme dengan alasan keamanan (security reason). Perang melawan terorisme (War on Terrorism) dilakukan AS dengan berbagai cara, termasuk Pre-Emptive Strike. Yaitu dengan menyerang pihak yang dicurigai mampu mengancam keamanan negaranya dengan terlebih dahulu menyerang negara tersebut, sebelum negara tersebut mampu mencapai wilayah mereka.

Dalam buku World Politics, Pre-emptive Strike disebut juga sebagai Pre-emptive War dalam konteks Perang Dingin. Pre-emptive War merupakan “a quick first-strike attack that seeks to defeat an adversary before it can organize a retaliatory response” (sebuah serangan [serangan cepat] yang bertujuan untuk mengalahkan musuh sebelum dapat mereka mengatur/menyiapkan respon balasan). Salah satu bentuk Pre-emptive War yang dilakukan AS hingga kini ialah upaya mereka untuk memerangi Taliban dan al-Qaida yang mereka anggap berpotensi untuk mengancam keamanan nasional (national security) mereka.

Dengan propaganda besar ini AS berhasil mempopularkan global war melawan terorisme. Sayangnya framing terorisme ini berhasil memerangkap sejumlah besar bangsa-bangsa di dunia sehingga rasa takut dan cemas berhasil disebar ke seluruh wilayah di berbagai penjuru dunia. Dan saat isu terorisme di angkat maka dengan sendirinya umat Islam berada pada list nomer satu. Karena memang demikian dipersepsikan secara global. Dan secara prioritas penghuni nomer satu dari list tersebut adalah mereka yang melakukan perlawanan terhadap kezhaliman sekalipun.

Itulah tafsiran lain doa Nabi Ibrahim versi global war AS yang mempropagandakan antiterorisme dengan alasan national security kemudian international security. Maka bagi kita umat Islam di Indonesia, tafsiran doa Nabi Ibrahim di atas adalah dengan menjaga keutuhan bangsa dalam frame NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia), menjauhkan dari berhala-berhala progresif yang memaksa kita tunduk pada mereka. Termasuk di antaranya latah dalam memerangi terorisme.

Jangan pernah mau wilayah kita dijadikan ladang pertempuran dan percobaan strategi proxy war. Saatnya kurangi segala bentuk ketergantungan dengan kekuatan dan kepentingan pihak asing untuk menguatkan ketahanan nasional, membangun kembali kewibawaan dan prestasi. Saatnya menguatkan barisan internal dengan mengurangi ketegangan yang timbul akibat mengerucutnya berbagai perbedaan pendapat.

Dan karena perang itu sudah benar-benar mulai saat Anda baru menginginkan atau akan melakukannya. Tapi lawan takkan pernah berpikir mengakhirinya meski Anda memohonnya, sampai Anda benar-benar tunduk dan takluk pada semua keinginannya. Seperti tutur Machiavelli di awal tulisan ini.

Sebagai bangsa berdaulat, juga sebagai umat Islam, kita tidak dianjurkan untuk mencari musuh atau bermusuhan dengan siapapun. Karena kedamaian dan keamanan adalah dua hal yang dilakukan pertama kali setelah seorang muslim shalat. Ia melesat ke berbagai penjuru bumi untuk tebar rahmat bagi alam semesta (rahmatan lil ‘âlamîn).

Namun, seorang mukmin juga bukan seorang pengecut. Maka jika dalam kondisi tertentu terpaksa lawan melakukan serangan dan mempropagandakan perang, tak pantas untuk melarikan diri atau mundur sejengkal pun.

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur)”. (QS. Al-Anfal: 15)

Maka, saatnya kuatkan pilar-pilar soliditas internal untuk kuatkan ketahanan sebagai basic menyiptakan keamanan nasional dan regional serta internasional: tsabat (teguh), perbanyak zikir, taat pada Allah dan Rasul-Nya, mengurangi dan meminimalisir pertikaian dan berbantahan dengan sesame saudara, serta selalu bersabar dalam kondisi apapun.

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”. (QS. Al-Anfal: 45-46)

HasbunalLâhu wa ni’ma al-wakîl.

Catatan Keberkahan 008

Jakarta, 24.06.2013

stop war

PSY WAR

Dr. Saiful Bahri, M.A

Selain cyber war, agresi militer dan hal-hal lain yang bertujuan mempertahankan penjajahan dan pendudukan ilegal, Zionis Israel juga melakukan perang urat syaraf (psy war) untuk mengukuhkan hegemoninya atas Palestina. Perang urat syaraf ini dilakukan dengan berbagai tujuan, di antaranya untuk melemahkan perlawanan, mencari dukungan internasional dan menikmati pendudukan dan perampasan ilegal. Hal tersebut dilakukan dengan berbagai model dan cara. Misalnya, dengan menunjukkan (show) kekuatan militer, dimulai dari peralatan yang canggih dan serba terbaru, propaganda intelijen dengan pencintraan pasukan rahasia yang sangat “hebat” dan tiada tanding, mengabaikan resolusi-resolusi PBB dan sikap-sikap non-kooperatif yang ditunjukkan dalam penyidikan apapun dari tim-tim internasional bentukan PBB yang menginvestigasi kekerasan-kekerasan yang dilakukan pasukan Zionis Israel kepada Bangsa Palestina, termasuk kepada orang-orang dari mana pun yang mendukung perjuangan dan perlawanan mereka terhadap penjajah. Seperti kasus penyergapan dan penyerangan Kapal Mavi Marmara (misi damai bantuan kemanusiaan yang berangkat dari Turki) yang terjadi pada tanggal 31 Mei 2010.

Sejatinya perang urat syaraf pun dilakukan oleh siapapun. Oleh kedua tim olah raga yang akan bertanding di final. Oleh kesebelasan yang melancarkan psy war untuk melemahkan mental lawan tandingnya. Oleh siapapun yang memiliki kepentingan menjatuhkan spirit dan mental lawan.

Melalui pesan suci dari kalam-Nya, Allah memerintahkan kaum muslimin untuk menunjukkan kekuatan di berbagai aspek di samping kesiagaan di setiap waktu.

Allah SWT berfirman: “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan)”. (QS. Al-Anfal [8]: 60)

Rasulullah SAW bersabda: “Aku diberi kemenangan dengan gentarnya musuh dalam jarak perjalanan sebulan” (HR. Bukhari).

Dari dua pesan wahyu dan kenabian di atas bisa disimpulkan beberapa hal berikut:

  1. Allah memerintahkan kaum muslimin untuk mempersiapkan dan menyiapkan kekuatan “apapun” (peralatan fisik militer dan lain-lain), kalimat “kuda-kuda yang ditambat” mengindikasikan kesiagaan di setiap waktu yang berarti keberadaan kuda tersebut siap untuk dilepas berperang kapan saja. Terutama di perbatasan-perbatasan, daerah yang sangat rawan penyerangan, pengintaian, penyergapan serta penyusupan.
  2. Tujuan dari persiapan fisik, memperlihatkan, menunjukkan atau mempertontonkannya seperti anjuran di atas adalah untuk menggentarkan hati musuh dan niat siapa saja yang hendak menyerang atau memusuhi Islam.

Tiga kata kunci dalam pesan-pesan di atas: quwwah (kekuatan), al-khail (kuda/menambatkan kuda), turhibûna bihî (menggentarkan musuh Allah), ar-ru’b (gentar/takut).

Kekuatan berarti performance yang tak terbatas (secara fisik dan nonfisik) umat di depan bangsa-bangsa lainnya, terutama di depan pihak-pihak yang memusuhinya. Termasuk potensi kekuatan dalam melakukan serangan atau pertahanan yang baik.

Menakut-nakuti, menggentarkan adalah bentuk psy war untuk melemahkan mental musuh sekaligus menaikkan mentalitas dan mengokohkan barisan internal. Ini merupakan titik tolak psy war.

Kuda sekaligus tambatan kuda dalam ayat di atas mengindikasikan, kesiapan, kesigapan tanpa mengenal waktu sekaligus kecepatan mobilitas dan mobilisasi. Ini juga salah satu tujuan psy war.

Keduanya merupakan unsur progresif yang selama ini justru dipahami terbalik. Dalam berbagai bahasan tentang jihad yang memang berkonotasi sangat luas, tapi sebagian mulai kurang berani mengeksplorasi makna jihad yang berarti angkat senjata. Padahal angkat senjata itu sendiri tak selalu berarti adanya penyerangan dan adanya pertumpahan darah. Persiapannya sendiri sudah bisa dikatakan jihad. Maka potensi kekuatan, baik pertahanan maupun penyerangan, peralatan maupun personil yang dimiliki umat Islam, jika tersosialisasikan sebagai pihak yang “kuat” maka siapapun pihak yang bermaksud melakukan hal yang kurang baik akan berpikir berkali-kali.

Dalam ayat lain, Allah SWT berfirman:

Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah. Dan kuda yang mencetuskan api dengan pukulan (kuku kakinya). Dan kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu pagi, maka ia menerbangkan debu. Dan menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh” (QS. Al-‘Adiyat: 1-5).

Bukankah ayat di atas dijadikan sumpah Allah karena memiliki urgensi bagi umat Islam. Kelima sifat yang disebut semuanya mengarah pada pergerakan progresif: berlari kencang, menimbulkan api, menyerang tiba-tiba di pagi buta (dan menerbangkan debu) serta mampu menerobos ke jantung pertahanan musuh.

Maka tidak heran jika Rasulullah SAW kemudian menganjurkan kaum muslimin agar waspada sekaligus dalam keadaan siap di setiap waktu: “Sebaik-baik manusia adalah orang yang memegang teguh tali kekang kudanya di jalan Allah, setiap kali mendengar tanda bahaya ia bergegas mendekatinya”.

Rasulullah SAW mencontohkannya dan menjadi teladan dalam memiliki kesiapan tinggi. Ketika beliau mendahului penduduk al-Madinah al-Munawwarah yang pada suatu malam  mendengar suara yang sangat keras. Beberapa orang dari penduduk Madinah bergegas mendatangi sumber suara yang amat keras  tidak seperti biasanya tersebut. Namun, setiba di sana mereka mendapati Rasulullah SAW kembali dari tempat tersebut sambil menaiki kuda dan mengalungkan pedangnya. Beliau berkata: “Kalian tak akan diteror lagi”. Kesiagaan beliau menjadikannya orang pertama yang mengetahui sekaligus mengantisipasi keadaan.

Demikian, beliau mendidik para sahabatnya untuk bermental kuat sebelum memiliki kekuatan fisik dan peralatan perang. Inilah yang dilakukan Khalid bin Walid saat menghadapi pasukan Heraclius, Kaisar Romawi dalam Perang Yarmuk. Sang panglima mengirim utusan kepada Khalid dan berkata: “Aku telah mengetahui sebab kalian keluar dari negeri kalian yang tidak lain adalah karena tingginya harga barang-barang dan krisis. Aku mempunyai ide untuk memberikan masing-masing dari kalian sepuluh dinar dan kendaraan yang mengangkut bahan makanan dan pakaian. Kembalilah ke negeri kalian dan hiduplah bersama keluarga kalian. Nanti di tahun yang akan datang kalian harus mengirimkan upeti, lalu kami pun akan mengirim yang semisalnya. Sungguh kami datang kepada kalian dengan membawa jumlah pasukan yang amat besar yang tidak tertandingi.

Respon Khalid sungguh di luar dugaan dan prediksi mereka. Surat teror dari pasukan Romawi yang mencoba menggoyahkan semangat sekaligus melucuti mental dengan janji-janji manis serta gertakan dibalas dengan tegas. Khalid membalas: “Tidaklah kelaparan maupun kesulitan yang mengeluarkan kami dari negeri kami. Tapi kami, Bangsa Arab suka meminum darah. Konon, tak ada yang lebih lezat melainkan darah-darah kalian. Kami datang untuk menumpahkan darah kalian dan untuk kami minum. Aku datang pada Anda dengan orang-orang yang mencintai kematian sebagaimana kalian mencintai dunia. Mereka merindukan akhirat sebagaimana kalian menyukai dunia”.

Menurut akal sehal, orang-orang Arab tidaklah meminum darah. Tetapi ini memberi pengaruh mental secara efektif di hati para perwira pasukan Romawi. Bahkan sebagian di antara mereka ada yang dengan polos berkomentar, “Benarkah ini yang kami dengar tentang Bangsa Arab yang meminum darah?

Psy War juga bukan sekedar perang kata-kata atau perang pencitraan, tetapi dalam perilaku praktis dalam peperangan juga menentukan. Seperti cara-cara penting dan rahasia serta kemahiran menggunakan strategi juga menjadi bagian dari perang urat syaraf.

Rasulullah SAW menyembunyikan keputusannya melakukan Fathu Makkah. Bahkan terhadap keluarga dekat beliau sekalipun, tidak juga kepada Abu Bakar sahabat terdekat beliau, tidak juga Aisyah, istri tercinta beliau. Tetaplah niat beliau itu menjadi rahasia tersembunyi sampai lengkap segala persiapan perang beliau. Rasulullah SAW bermaksud menghalangi bocornya berita tentang pergerakan beliau untuk menyerang Quraisy, maka disebarlah mata-mata dan para pengintai di dalam dan di luar Madinah untuk tujuan tersebut. Hasilnya langkah-langkah tersebut akhrinya mampu menyingkap adanya surat yang akan dikirimkan Hatib bin Balta’ah kepada Quraisy tentang kabar rencana keluarnya kaum muslimin. Rasul pun mengutus Ali bin abi Thalib dan Zubair hingga akhirnya mereka berhasil menemukan wanita yang membawa surat tersebut dan mengambil darinya.

Dengan langkah-langkah ini beliau berhasil menutup peluang orang-orang Quraisy mengetahui gerak-gerik kaum muslimin dengan detail. Bahkan kuffar Quraisy tak mengetahui datangnya tentara besar dalam jarak tiga puluh dua kilo meter dari kota Makkah. Kemudian sepuluh ribu tentara Islam menyalakan api. Orang Quraisy pun melihat api tersebut memenuhi ufuk, maka bergegaslah Abu Sufyan bin Harb, Badil bin Warqa’ serta Hakim bin Hizam keluar menuju api tersebut. Mereka tahu asal dan sumbernya hingga maksud nyala api tersebut.

Ketika mereka mengidentifikasi posisi tentara muslimin Abu Sufyan berkata kepada Badil, “Aku tak pernah melihat api dan tentara sebesar malam ini sama sekali.” Badil menjawabnya, “Demi Allah mereka ini hanyalah orang-orang dari Bani Khuza’ah yang mengajak perang.” Tetapi Abu Sufyan tidak puas dengan jawabannya, ia pun berkata, “Aku kira api Bani Khuzaimah lebih kecil dan lemah dari ini.”

Pelan namun pasti kuffar Quraisy merinding melihat jumlah yang demikian banyak, identitas mereka yang belum bisa diketahui, serta minimnya informasi yang mereka dapatkan tentang siapa pasukan tersebut.

Ini adalah strategi lapangan kedua yang dilakukan Rasul SAW setelah mengunci rapat rencana penaklukan, beliau sukses menjatuhkan mental orang-orang Quraisy plus memutus akses informasi kepada para pemegang kebijakan.

Strategi selanjutnya yang beliau lakukan adalah mendramatisir dan membesarkan jumlah nominal pasukan Islam dengan cara berwasiat kepada pamannya Abbas untuk melarang Abu Sufyan untuk memasuki pintu masuk gunung yang menuju ke Makkah sampai pasukan kaum muslimin selesai melewatinya. Abu Sufyan lalu menceritakan hal yang dilihatnya dengan jelas dan mantap kepada kaumnya, akhirnya pupus sudah harapan mereka untuk melawan kaum muslimin.

Abbas melakukan pesan Nabi Muhammad saw dan berkata, “Aku keluar mengikuti Abu Sufyan hingga berhasil menangkapnya di tikungan lembah sebagaimana yang diperintahkan Rasulullah SAW. Beberapa kabilah melewatinya sambil membawa bendera masing-masing, setiap ada kabilah yang lewat Abu Sufyan bertanya, “Wahai Abbas, siapa mereka ini?” Maka kujawab, “Mereka itu orang-orang dari Bani Sulaim” ia pun balik bertanya, “Apa urusanku dengan Bani Sulaim?” Kemudian ada kabilah lain yang lewat iapun bertanya lagi, “Wahai Abbas siapa mereka ini?” maka kujawab, “Orang-orang dari Bani Muzainah”. Iapun berkata, “Apa urusanku dengan Bani Muzainah?”. Sampai akhirnya habislah kabilah yang lewat,dan tidak ada satupun kabilah yang lewat melainkan sesudahnya ia menanyakan hal tersebut setiap kali aku beritahu ia bertanya, “Apa urusanmu dengan Bani Fulan?” Hingga akhirnya Rasulullah SAW melewatinya sambil membawa pasukan berkuda dari kaum Muhajirin dan Anshar. Abu Sufyan pun berkata, “Tidak ada atu kekuatan pun yang sanggup melawan mereka! Demi Allah wahai Abu Fadl, sungguh besar kekuasaan keponakanmu hari ini.” Abbas menjawab, “Wahai Abu Sufyan, ini adalah tanda kenabian”, dia menjawab, “memang benar”, lalu Abbas berkata kepada Abu Sufyan, “pulanglah kepada kaummu” maka bergegaslah Abu Sufyan menuju Makkah dan berkata kepada kaumnya, “Wahai orang-orang Quraisy, sungguh Muhammad datang kepada kalian dengan pasukan yang kalian tidak akan sanggup menandinginya.

Pilihan Rasulullah SAW untuk menjadikan tikungan lembah sebagai pemberhentian langkah Abu Sufyan menandakan kepiawaian beliau dalam mengatur aksi teror dan penekanan mental. Akibatnya, mental Abu Sofyan drop dan terjadilah Fathu Makkah melalui proses yang singkat dan minimnya kontak fisik dan senjata antara umat Islam dan Kuffar Quraisy.

Lalu, bagaimana selaiknya kita balas serangan psy war ini jika terjadi secara singkat dan kuat pengaruhnya? Musa ‘alaihissalâm menyontohkannya melalui respon-respon dialogis yang dilakukannya saat mendakwahi Fir’aun yang sangat ikonik dengan kezhaliman yang juga sekaligus adalah ayah angkatnya. Saat Fir’aun meneror:

Fir’aun menjawab: “Bukankah kami telah mengasuhmu di antara (keluarga) kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu. Dan kamu telah berbuat suatu perbuatan yang telah kamu lakukan itu dan kamu termasuk golongan orang-orang yang tidak membalas budi.” (Asy-Syu’ara [26]: 18-19)

Benar, bahwa secara fisik Musa pernah diasuh oleh Fir’aun, disediakan berbagai fasilitas kerajaan sebagai anak raja, dididik dengan biaya mahal, disekolahkan, dilatih perang dan sebagainya. Tapi hal tersebut tak membuat mental Musa drop dan jatuh. Dengan tegar justru Musa menjawab: “Aku telah melakukannya, sedang aku di waktu itu termasuk orang-orang yang khilaf.  Lalu aku lari meninggalkan kamu ketika aku takut kepadamu, kemudian Tuhanku memberikan kepadaku ilmu serta Dia menjadikanku salah seorang di antara rasul-rasul. Budi yang kamu limpahkan kepadaku itu adalah (disebabkan) kamu telah memperbudak Bani Israil” (Asy-Syu’ara [26]: 20-22)” Nabi Musa alaihissalam, juga menambahkan, “Ya Tuhanku, demi nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepadaku, aku sekali-kali tiada akan menjadi penolong bagi orang-orang yang berdosa”(Al-Qashash [28]: 17)

Posisi Musa sebagai anak angkat, yang berhutang budi tak lantas membuatnya berdiam diri di depan kezhaliman. Tak kemudian membuatnya ragu sampaikan kebenaran. Tak menggoyahkan tekadnya emban misi risalah dari Allah. Dengan sepenuh hati dan segenap jiwa ia sampaikan pesan-pesan Tuhannya, seburuk apapun resiko yang menantinya. Dari ayah angkatnya sekalipun yang pernah “menyayanginya”.  Dan Musa tetap teguh dengan doa-doa inspiratifnya, “Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku.” (Thaha: 25-28)

Setelah seorang tokoh muslim di undang dalam sebuah acara di Israel, ia pun pulang ke negaranya dengan berbagai kebanggaan. Maka tak heran, jika kemudian kembali terdengar kalimat-kalimat senada berikut: “Ternyata Israel tak seburuk yang dibayangkan”, “Kita mesti banyak belajar dari negara yang sudah maju dan sangat demokrat ini”, “Jangan berprasangka buruk terhadap Israel”, “Hindari terprovokasi oleh berita-berita yang menyudutkan Israel” dan sebagainya.

Maka, sebagian kita kemudian tersihir oleh pernyataan tersebut. Kita dibuat terpesona oleh liputan-liputan media. Pernyataan para tokoh yang mereka adalah para kaum intelektual dan terpelajar, bahkan dihormati di negaranya. Tapi sejujurnya patut disayangkan jika kemudian mereka lupa dengan isi pembukaan UUD 1945 yang menjadi nafas perjuangan Bangsa Indonesia, “… maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”.

Maka, saatnya segera menengok “kuda-kuda” yang kita miliki serta seperti apa ikatan-ikatannya. Karena kita berada di tengah berkecamuknya psy war dengan beragam model dan tampilannya. HasbunalLâhu wa ni’ma al-wakîl.

Catatan Keberkahan 007

Jakarta, 17.06.2013

 

*) sebagian tulisan di atas terinspirasi oleh Buku “An-Nazhariyah al-Islâmiyyah fi al-Harbi an-Nafsiyyah” karya Jendral Purnawirawan Muhammad Jamâluddin ‘Ali Mahfûdz, dan kunjungan seorang tokoh muslim Indonesia ke Israel. Dan dengan dalih apapun serta dalam rangka apapun ini sangat melukai Bangsa Palestina dan Umat Islam di berbagai penjuru dunia.

Tadabbur QS. Al-Alaq (96)

BACALAH DENGAN NAMA TUHANMU*

Dr. H. Saiful Bahri, M.A**

 

Mukaddimah

Para ulama meyakini bahwa Surat Al-‘Alaq merupakan surat yang pertama kali diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad Saw di Makkah([1]).Sebagaian besar mushaf yang beredar saat ini menulis surat ini dengan nama Surat Al-‘Alaq. Dan lima ayat pertamanya menjadi wahyu pertama beliau yang disampaikan melalui Malaikat Jibril([2]). Serta ayat-ayat lainnya yang tersisa diturunkan setelah beberapa waktu berlalu dari sejak wahyu pertama diberikan.

Tema yang diangkat surat ini cukup beragam. Dari sejak tema wahyu dan turunnya al-Qur’an kepada Nabi Muhammad saw, pembicaraan sifat dan tabiat manusia yang melampaui batas dalam urusan harta, serta kisah Abu Jahal yang menghalang-halangi Nabi Muhammad dan melarang beliau untuk shalat di Masjidil Haram. Surat ini diakhiri dengan ancaman Allah untuk orang-orang yang masih terus bersikukuh dalam kesesatan dan sikapnya yang melampaui batas serta perintah kepada nabi-Nya untuk meneruskan shalat dan sujudnya tanpa mempedulikan gertakan sang durjana([3]).

Adapun urutannya yang berada setelah Surat At-Tin seolah memberi isyarat hubungan erat antara keduanya. Terutama dalam pembahasan tentang manusia. Jika dalam surat sebelumnya manusia disebut sebagai penciptaan terbaik yang dilakukan Allah dengan sempurna, maka dalam surat ini dibahas asal muasal penciptaan tersebut serta dimensi lain dari sisi kejiwaan manusia yang kadang melampaui batas serta kufur ni’mat; padahal Allah telah mengaruniakan kepadanya segala kesempurnaan.

Membaca Penciptaan Manusia

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan”. (QS. 96: 01)

Itulah bunyi ayat pertama surat ini. Memberikan perintah secara jelas kepada Nabi Muhammad saw. juga kepada umatnya untuk membaca. Membaca dengan nama Allah Sang Pencipta. Hal ini secara langsung memberikan isyarat bahwa umat Islam harus me-nuntut ilmu. Karena membaca merupakan pintu ilmu. Dengan membaca cakrawala berpikir seseorang semakin luas. Dengan membaca kebodohan dan ketidaktahuan bisa diobati, bahkan dipunahkan. Dan karena membaca merupakan gerbang ilmu dan pengetahuan.

Apalagi jika perintah membaca ini dikaitkan secara bersamaan dengan menyebut nama Tuhan Sang Pencipta. Tentulah kaitan tersebut ada maksudnya. Mungkin untuk mengingatkan bahwa kemampuan baca seseorang Allah lah yang mengaruniakannya sebagaimana ia diciptakan oleh-Nya. Karena itu dalam segala aktivitasnya termasuk membaca sudah selaiknya ia mengingat Sang Pencipta, ”yang telah menciptakan manusia dari segumpal darah” (QS. 96: 02)

Segumpal darah yang secara anatomis belum bisa disebut sebagai manusia itu nantinya akan terlahir sebagai makhluk sempurna yang bisa membaca. Jika segumpal darah tersebut teronggok di tepi jalan, siapa yang akan menghargai dan memuliakannya?

Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah”. (QS. 96: 03)

Allahlah yang memuliakannya. Mengangkat derajatnya. Di atas semua makhluk yang diciptakan-Nya. Dzat yang pemurah dan penuh kasih sayang tersebut yang, ”mengajar (manusia) dengan perantaran pena”. (QS. 96: 04)

Dengan belajar membaca dan kemudian menulis maka manusia akan meraih ilmu. Baik ilmu dunia maupun akhirat. Inilah yang oleh Ibnu Katsir kemudian disimpulkan dari sebuah atsar, ”Ikatlah ilmu dengan menulis([4]). Dengan menjadi manusia yang berilmu sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui menjadi jelas. Sesuatu yang sebelumnya menjadi rahasia berubah tersingkap.

Adam ditinggikan derajatnya melebihi para malaikat dan semua makhluk-Nya karena diajarkan ”nama-nama” oleh Allah sehingga ia mengetahui sesuatu yang sebe-lumnya tak diketahuinya. ”Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya” (QS. 96: 05). Tidakkah manusia kemudian merasa ada perubahan ke arah baik dari dalam dirinya. Dari tak mampu melihat kemudian ia bisa melihat. Tak mampu bicara dan mengungkapkan sesuatu karena keterbatasannya, kemudian ia bahkan mampu melakukannya dengan baik. Dari tak berdaya hanya terlentang kemudian ia belajar berbaring miring dan kemudian duduk, lalu berjalan dan berlari serta mengendarai berbagai jenis kendaraan. Dari tak tahu satu hurufpun, kemudian ia bisa merangkai huruf-huruf menjadi kata-kata yang menjadi sarana komunikasi dengan sesama manusia. Siapa yang mengubah kondisi tersebut?

Hanya Allah lah yang mampu menjadikan perubahan ke arah baik tersebut.

Seharusnya karunia penciptaan dan pengajaran yang sangat luar biasa ini direspon positif oleh manusia. Yaitu dengan rasa syukur dan totalitas pengabdian serta penghambaan yang ikhlas kepada-Nya. Namun, justru kebanyakan manusia tak melakukannya. Mereka bahkan bukan hanya tak pandai bersyukur, tapi mendustakan dan mengingkarinya.

Manusia yang Tak Mau Bersyukur

Manusia yang seharusnya dengan memaksimalkan akalnya mampu membaca keagungan dan kebesaran Allah serta ciptaan-Nya ternyata tidak demikian. “Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas” (QS. 96: 06)

Tentu wajar jika Allah menganggapnya sebagai sebuah sikap yang keterlaluan dan melampaui batas. Tak sedikit pun para pendusta yang mengingkari nikmat tersebut merasa bahwa ketiadaannya yang berubah menjadi bentuk sempurna serta menjadi serba bisa adalah sebuah karunia yang agung. Dan bukan sesuatu yang sederhana.

Ia melampaui batas dalam segala perilakunya. Dalam bersikap, berkata-kata dan bergaul. Sombong dalam berpakaian, berlebih-lebihan dalam makanan dan kendaraan-nya([5]). Ia cenderung meremehkan dan merendahkan sesamanya. Hal tersebut dipicu oleh kebodohan dan ketidaktahuannya. “Karena dia melihat dirinya serba cukup” (QS. 96: 07)

Sikap yang diambilnya barangkali bermula dari pola pikirnya yang salah. Ia merasa berkecukupan. Dengan menjadi seorang sarjana atau ilmuwan ternama, kemudian ia memiliki kehidupan yang mapan, rumahnya mewah. Sikap ”al-istighna” ini hanya bisa dimiliki oleh Allah, karena Dia memang tak memerlukan bantuan dan pertolongan siapapun. Dia yang Maha Kaya, Maha Sempurna dan selalu bisa berbuat apa saja sesuai kehendak-Nya. Dzat dengan sifat-sifat yang serba maha tersebut memanglah laik untuk merasa cukup dari apa dan siapapun. Jika manusia dengan segala keterbatasannya kemudian merasa cukup yang mengakibatkannya tinggi hati dan sombong maka hal tersebut membuatnya lupa. Lupa dari mana ia berasal dan ke mana hendak kembali. Namun, jika ia merasa cukup dan kemudian menjadi qana’ah maka itu sebuah sikap yang terpuji. Tapi dalam ayat ini dipakai al-istighna`, sehingga tidak menyimpan sedikitpun arti qana’ah yang baik tersebut.

Sesungguhnya hanya kepada Tuhanmulah kembali(mu)” (QS. 96: 08)

Dalam ayat ini Allah menggunakan gaya bahasa beralih (uslûb al-iltifât) yaitu dari sebelumnya yang menggunakan kata ganti ketiga (dhamir gha`ib) berubah menjadi mukhatab yang menggunakan kata ganti kedua (kamu). Hal ini dimaksudkan memberikan kesan lebih dan menggetarkan hati setiap manusia yang tidak mau bersyukur akan kedahsyatan dankeseriusan ancaman Allah([6]). Mereka semua akan kembali kepada Allah melalui pintu keniscayaan bernama kematian lalu dibangkitkan kembali di hari penentuan.

Dan kembali kepada Allah berarti asal dari kejadian manusia juga bermula dari titah Allah. Dikembalikan kepada-Nya berarti pertanggungjawaban dari semua yang dilakukan-nya ketika di dunia.

Lihatlah orang yang sombong tersebut dan bagaimana ia hidup dengan penuh keangkuhan. ”Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang, seorang hamba ketika mengerjakan shalat” (QS. 96: 09-10)

Dituturkan dalam sebuah riwayat bahwa Abu Jahal bermaksud hendak melarang dan menghalang-halangi Nabi Muhammad yang sedang shalat dengan berbagai jalan. Tapi usahanya selalu gagal. Bahkan dari sekian usahanya, ia menjumpai sesuatu yang menakut-kan berada di sisi Nabi Muhammad saw, sehingga ia lari terbirit-birit ketakutan karenanya([7]).

Padahal jika ia tahu bahwa di antara karunia terbesar Allah adalah dengan mengutus Nabi Muhammad saw, sang manusia terbaik untuk seluruh manusia sebagai rahmat Allah di bumi-Nya. Seharusnya ia bersyukur dan menyukuri nikmat penciptaan, pengajaran dan berbagai nikmat Allah yang tiada pernah bisa terhitung.

Seharusnya ia mengajak kepada kebaikan, ”Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu berada di atas kebenaran. Atau dia menyuruh bertakwa (kepada Allah)?” (QS. 96: 11-12)

Alangkah baiknya jika seandainya ia mau berpikir sejenak dan kemudian menikti jalan kebenaran dengan ketakwaan dan mengajak sesamanya untuk mengikuti risalah Nabi Muhamamd saw. Ia gunakan pengaruh dan hartanya. Posisi dan status sosialnya. Tentu hal tersebut akan jauh lebih baik. Sayangnya, Abu Jahal tidaklah menggunakan kesempatan yang diberikan Allah untuk memperbaiki diri dengan berbagai kebaikan tersebut.

Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu mendustakan dan berpa-ling?” (QS. 96: 13)

Inilah yang menjadi pilihannya. Ia menahbiskan diri menjadi musuh terdepan bagi dakwah Nabi Muhammad saw dan para pengikutnya.

Pilihan yang Selalu Berkonsekuensi

Jika mendustakan dan menghalang-halangi dakwah serta risalah yang dibawa Nabi Muhammad merupakan pilihan yang diambil oleh orang yang tidak memahami atau mengingkari dahsyatnya nikmat dan karunia diutusnya beliau, maka balasan yang buruk sangat pantas baginya. Karena ia telah melecehkan keberadaan dan kekuasaan Dzat Yang Maha Melihat.

Tidaklah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatan-nya?” (QS. 96: 14)

Bisa jadi bukan karena ketidaktahuan, namun karena kesombongan dan keangkuhan hati yang menutupi kesadaran akan kemahabesaran Allah. Karenanya ia berbuat sesuka hati dan tidak pernah sekalipun ia mengerem nafsunya serta memperturutkan hawa dan syahwat kesesatannya. Ia tidak sadar bahwa yang ia musuhi dan ia hadapi bukanlah sekedar anak yatim saja. Tapi beliau adalah utusan Sang Maha Perkasa yang secara penuh memback up dakwahnya.

Tidakkah ia sadar akan ancaman Allah, ”Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya kami tarik ubun-ubunnya, (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka.” (QS. 96: 15-16)

Menurut al-Mubarrid, salahs eorang pakar Bahasa Arab terkemuka, mengatakan, ”as-saf’u” artinya mengambil dengan paksa dan kekerasan([8]). Apalagi yang diambil di sini adalah ubun-ubun. Maka bukan hanya fisik yang tersakiti. Ia akan benar-benar merasa terhinakan dan direndahkan. Karena ubun-ubun atau kepala adalah bagian termulia manusia.

Ada pendapat lain dari al-Farra` bahwa yang dimaksud di sini adalah menghitamkan wajah([9]) sebagai kiasan akan ditimpakan kepadanya adzab neraka yang pedih dan menghanguskan.

Yaitu ubun-ubun atau wajah yang hangus milik sang pendusta yang mengingkari dan memusuhi serta menyakiti Nabi Muhammad saw. Para pakar bahasa di sini membolehkan badal (ganti) dengan menggunakan isim nakirah padahal sebelumnya disebut dengan isim makrifat. Az-Zamakhsyari dan Abu Hayyan memberikan dispensasi tersebut karena isim nakirah setelah makrifat tersebut memberikan penjelasan sebagai sifat([10]). Sehingga seolah ia berdiri sendiri memberikan penjelasan tambahan setelahnya (al-ifadah)([11]).

Jika hal di atas terjadi, maka kepada siapa lagi ia hendak meminta pertolongan. ”Maka biarlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya)” (QS. 96: 17) Sebagaimana ia mengumpulkan mereka di darunnadwah, mengadakan konspirasi untuk mencelakakan Nabi Muhamamd saw. Dalam ayat ini seolah kata ”nadiah” yang berarti majelis menyimpan sebuah mudhaf yaitu para pegiatnya([12]).

Namun, panggilan dan permintaan tolong tersebut tak menghasilkan apapun kecuali keputusasaan dan penyesalan. Karena nasib mereka juga tak lebih baik darinya. Justru Allah yang ”akan memanggil Malaikat Zabaniyah” (QS. 96: 18) dan diperintahkan untuk mendatanginya, kemudian memberikan siksaan yang tiada tandingan dan bandingannya sebelum dan sesudahnya.

Maka, orang dengan karakter pembangkang dan pendusta tersebut tak perlu lagi didengar perkataannya apalagi sampai terpengaruh dengan syubhat dan ejekannya. Dan salah satu jalan untuk menguatkan diri dari pengaruh kejelekan tersebut yang paling mujarab adalah dengan mendekatkan diri kepada Allah dan bersujud kepada-Nya.

Sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan)” (QS. 96: 19)

Para ulama kemudian menyimpulkan bahwa kedekatan terbaik dan paling dekat seorang hamba dengan rabbnya terjadi pada saat ia bersujud. Apalagi ada sebuah hadits yang menyatakan, ”Keadaan yang paling dekat dari seorang hamba dengan Tuhannya adalah pada saat ia bersujud maka perbanyaklah berdoa([13]).

Penutup

Semoga akhir yang tragis yang dialami oleh Abu Jahal –baik di dunia dengan mati terhinakan atau di akhirat sengsara dalam keabadian adzab-Nya- bisa kita jadikan pelajaran untuk tidak mencoba-coba menjadi penghalang dakwah Rasulullah saw atau menjadi orang yang mengabaikan sunnah-sunnahnya. Karena, pertemuan dengan makhluk termulia ini menjadi impian setiap muslim. Semoga kelak kita dipertemukan dengan beliau dalam naungan ridha Allah swt. Amin.

Pengajian Shubuh, Ainal Yaqin, Kalibata-Jaksel

Selasa, 16 Maret 2010


* Tadabbur surat Al-‘Alaq (segumpal darah): [96], Juz Amma (30)

** Alumni Program S3 Jurusan Tafsir dan Ilmu al-Qur’an Universitas al-Azhar, Cairo

([1]) lihat: Jalaluddin as-Suyuthi, al-Itqân fi ‘Ulûmi al-Qur’ân, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2004 M/1425 H, hlm.20-21; Badruddin az-Zarkasyi, al-Burhân fi ‘Ulûmi al-Qur’ân, Beirut: Darul Fikr, Cet.I, 1988 M/1408 H, Vol.1, hlm. 249. Prof. Dr. Jum’ah Ali Abd. Qadir, Ma’âlim Suar al-Qur’ân, Cairo: Universitas al-Azhar, cet.I, 2004 M/1424 H, vol.2, hlm.824

([2]) Demikian pendapat sebagian besar ulama bahwa lima ayat tersebut menjadi wahyu pertama Nabi Saw. Seperti diungkapkan oleh As-Suyuthi, Az-Zarkasyi, al-Wahidy, al-Baghawy, al-Qurthuby, Syeikh Az-Zurqany, Dr. Muhammad Abu Syahbah dan sebagainya. (secara ringkas bisa dirujuk rangkumannya dalam tesis penulis: Kitab Lawami’ al Burhan wa Qawathi’ al-Bayan fi Ma’ani al-Qur’an Karya Imam al-Ma’iny: Dirasah wa Tahqiq, Cairo: Universitas al-Azhar Jurusan Tafsir, 2006, Vol.2, hlm. 885)

([3]) Muhammad Ali Ash-Shabuni, Ijazu al-Bayan fi Suar al-Qur’an, Cairo: Dar Ali Shabuni, 1986 M-1406 H, hlm. 304-305

([4]) Abu al-Fida` Ibnu Katsir,  Tafsir al-Qur’an al-Azhim, Mansoura: Maktabah al-Iman, Cet.I, 1996 M-1417 H, Vol.VIII, hlm. 251

([5]) seperti penafsiran al-Kalby yang disitir oleh al-Baghawy dan al-Alusy dalam tafsirnya (Al-Baghawy, Ma’alim at-Tanzil, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2004 M-1424 H, Vol.IV, hlm. 475; Syihabuddin al-Alusy, Ruhul Maani, Beirut: Dar al-Fikr, 1997 M-1417 H, Vol. 30, hlm. 326)

([6]) Ruhul Ma’any, Ibid., 30/327

([7]) sebab turunnya ayat ini diriwayatkan oleh Imam Muslim, Ahmad dan An-Nasa`i dari riwayat Abu Hurairah ra. Abu Jahal bersumpah demi Latta dan Uzza untuk menghalangi Rasulullah saw kalau sampai ia melihat beliau shalat akan dipukulnya kaki beliau dan wajah muliau akan dilempar dengan pasir. Suatu ketika beliau menjumpai Rasul sedang shalat, ia berusaha melakukan niatnya. Tapi seketika itu pula ia melihat sesuatu yang menakutkan berada di sisi Nabi saw sehingga ia berlari terbirit-birit. Rasul saw bersabda, “Jika ia benar-benar melaksanakan niatnya maka tubuhnya akan berkeping-keping dihancurkan oleh malaikat” (Ibid, hlm. 328). Juga sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu al-Mundzir dengan redaksi yang serupa (Prof. Dr. Muhammad Hasan al-Himshy, Tafsir wa Bayan Mufradat al-Qur’an A’la Mushafi at-Tajwid ma’a Asbabi an-Nuzul li as-Suyuthi, Beirut: Muassasah al-Iman, cet.I, 1999 M – 1419 H, hlm. 540)

([8]) Ruhul Ma’ani, Op.Cit., 30/334.

([9])Abu Zakariya al-Farra’, Ma’ani al-Qur’an, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.1, 2003 M/1423 H, Vol.III, hlm. 169.

([10]) Az-Zamakhsyari, al-Kasyaf an Haqa`iq at-Tanzil wa Uyun al-Aqawil fi Wujuh at-Ta`wil, Cairo: Maktabah Musthafa al-Halaby, Cet.I, 1354 H, Vol.IV, hlm. 224, Abu Hayyan, al-Bahr al-Muhith, Beirut: darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2001 M-1422 H, Vol.VIII, hlm. 491

([11]) Ruhul Manani, Op.Cit, 30/335

([12]) Az-Zajjaz, Ma’ami al-Qur’an wa I’rabuhu, Cairo: Darul Hadits, 2004 M/1424 H, Vol.V, hlm. 263

([13]) Hadits diriwayatkan Abu Hurairah ra (HR. Muslim)

Tadabbur QS. At-Tin (95)

BUAH TIN DAN ZAITUN*

Dr. H. Saiful Bahri, M.A**

Mukaddimah

Menurut para ulama Surat At-Tin diturunkan Allah di Makkah setelah Surat al-Buruj([1]). Tema besar surat makkiyah ini adalah dua. Pertama, pengangkatan Allah terhadap derahat manusia dengan memuliakannya. Kedua, tema iman dan amal serta balasannya. Itulah yang kelak akan membuktikan bahwa Allahlah sebijak-bijaknya hakim yang akan menuntaskan dan mengadili semua permasalahan manusia dengan seadil-adilnya([2]).

Tempat-Tempat Suci

Dalam surat ini Allah bersumpah dengan beberapa hal.

Pertama,  ”Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun” (QS. 95: 01).

            Sebagian pakar tafsir ada yang mengartikan sumpah pertama ini dengan nama bukit yang ada di Baitul Maqdis, Palestina. Ini pendapat Ikrimah([3]). Sementara Qatadah mengatakan bahwa Tin adalah bukit di Damaskus dan Zaitun adalah nama bukit di Baitul Maqdis([4]). Namun, tidak sedikit yang menyebutkan bahwa yang dimaksud di sini adalah nama dua buah yang sudah dikenal oleh orang Arab juga manusia secara umum yaitu buah Tin yang sangat manis dan buah Zaitun yang pahit namun banyak manfaatnya. Jika yang dimaksud adalah tempat maka bisa konteksnya dengan menambah penafsirannya menjadi bukit atau tempat tumbuhnya kedua buah tersebut. Yaitu di dataran Baitul Maqdis. Gagasan ini seperti disampaikan Syihabuddin al-Alusy dalam tafsirnya([5]).

Kedua, “Dan demi bukit Sinai”. (QS. 95: 02)

            Adapun tempat kedua yang dipakai bersumpah di sini adalah bukit Sinai, yang menurut kebanyakan ahli tafsir dimaknai dengan bukit tempat Musa menerima wahyu yaitu di bukit Sinai, Mesir([6]). Menurut Ikrimah, ”sinîn” berarti baik, yaitu dalam bahasa habasyah (Etiophia)([7]).

Ketiga, ”Dan demi kota (Makkah) ini yang aman”. (QS. 95: 03)

Makkah yang disebut sebagai tempat yang aman karena dijaga Allah dari sentuhan Dajjal dan karena didalamnya terdapat Baitullah. Di sana Nabi Muhammad saw, utusan pamungkas-Nya dilahirkan dan dibesarkan serta menerima wahyu-Nya yang pertama. Demikian sebagaimana dituturkan sebagian besar para ahli tafsir dan ulama.

Lalu, apa hubungannya ketiga sumpah di atas dengan tema besar yang akan diusung oleh surat At-Tîn ini. Surat yang membawa misi manusia terbaik ini selain memerlukan kaidah yang nantinya akan disebutkan Allah, juga memerlukan contoh.

Penyebutan ketiga kelompok sumpah tersebut seolah mengindikasikan beberapa hal berikut:

  1. Sumpah dengan Buah Tin dan Zaitun yang berarti mengisyaratkan tempat asal kedua buah tersebut mengingatkan kita juga seluruh umat Islam akan perjuangan Nabi Isa yang terlahir tanpa bapak karena titah Allah, sekaligus sebagai tanda-tanda kekuasaan-Nya. Ia tumbuh bersama didikan Allah melalui ibunya yang sendiri.
  2. Kedua, bukit Sinai memberikan isyarat tempat Nabi Musa menerima wahyu. Nabi yang juga perjuangannya tak ringan. Sejak kecil harus berpisah dengan keluarganya. Kemudian dididik oleh rezim yang kejam dan bengis tapi ditakdirkan untuk menyampaikan risalah keadilan di depan sumber dan inisiator kezhaliman yang sekaligus sebagai ayah angkatnya. Sebuah dilema yang harus dihadapi. Bahkan kisahnya termasuk cerita yang seirng diulang di dalam al-Qur’an dan dijadikan simbol perlawanan tokoh protagonis yang membela kebenaran, keadilan dan orang-orang tertindas melawan simbol dan icon kezhaliman, Fir’aun dan sekutunya.
  3. Adapun negeri yang aman yang berarti Makkah mengisyaratkan sebuah kisah epik dan kepahlawanan seorang nabi yatim yang menjadi pamungkas nabi dan rasul Allah. Nabi Muhammad saw yang ditahbiskan sebagai manusia bahkan makhluk terbaik dari yang pernah ada dan akan ada, dengan membawa risalah yang akan kekal sampai hari penentuan, hari kiamat. Bersifat universal, diperuntukkan kepada seluruh manusia dan jin, lintas teritorial, lintas generasi dan lintas waktu.

Penyebutan sumpah di atas tidak dimaksudkan sesuai urutan waktu atau menunjuk-kan kemuliaan satu di atas lainnya. Namun, lebih merupakan penyebutan kolektif. Sebagaimana Allah memuliakan satu tempat di antara yang lainnya, para ulama sepakat bahwa Allah memuliakan Masjidil Haram melebihi masjid-masjid yang lain termasuk Masjil al-Aqsha yang juga memiliki keutamaan dibandingkan yang lainnya. Demikian juga, Nabi Isa diutus setelah Nabi Musa tapi disebut terlebih dahulu. Dan mereka adalah orang terbaik di zamannya. Penyebutan Nabi Muhammad saw di akhir tetap tidak menutupi kemuliaan beliau sebagai manusia terbaik sepanjang masa. Sekaligus sebagai penegasan kekekalan penjagaan Allah terhadap risalah tauhid hingga akhir zaman. Karena umat Nabi Musa dan Nabi Isa as. yang tadinya mengimani dan memperjuangkan serta mendakwahkan risalah tauhid, kini sebaliknya bukan hanya mengingkari, bahkan memusuhi risalah tauhid yang dibawa Nabi Muhammad dan para da’i penerus dakwahnya.

Manusia Terbaik dan Manusia Terburuk

Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” (QS. 95: 04)

Setelah Allah bersumpah dengan tiga kelompok tempat di atas yang juga mengindikasikan tiga manusia terbaik yang diciptakan-Nya dan diutus-Nya ke bumi untuk membimbing manusia, kini giliran Allah menyampaikan maksud-Nya yang menjadi misi surat ini. Yaitu, mengungkap tanda-tanda kekuasaan Allah Swt. melalui penciptaan manusia yang sangat dahsyat, dalam bentuk yang sempurna dan terbaik di antara sekian makhluk Allah yang ada di alam ini.

Secara fisik, manusia diberi indera terlengkap. Dibekali dengan otak dan perasaan. Struktur tubuh dan anatominya juga bagus dan indah. Proses penciptaannya bahkan sangat menakjubkan.

Kebaikan di sini mencakup berbagai dimensi. Secara fisik manusia adalah makhluk Allah yang terbaik. Meskipun ia kadang mengagumi alam ini dan isi-isinya, namun ia akan lebih takjub bila melihat dirinya sendiri. Jantung yang berdetak sebelum ia dilahirkan dari rahim ibunya dan tak pernah berhenti sampai sebelum ajal mendatanginya. Organ-organ luar yang tatanan eksteriornya sangat eksotis. Organ-organ dalam yang sangat seimbang. Sehingga ia benar-benar menjadi manusia yang –sebenarnya- memiliki amanah menanggung tugas kekhalifahan dan memakmurkan bumi Allah dengan sebaik-baiknya dan bukan merusaknya.

Dimensi non materi juga demikian. Manusia diberi rasa sedih dan gembira. Nikmat lupa dan ingat dan sebagainya.

Namun, bila kemuliaan dan segala perangkat kesempurnaan ini tak pandai disyukuri akan mengakibatkan murka Allah yang sangat mengerikan. ”Kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka)” (QS. 95: 05)

Adakah kehinaan dan kenistaan selain mendekam di dalam panasnya neraka? Kesengsaraan dan keabadian dalam penyesalan. Dari struktur kata yang dipakai sangat menarik. ”asfala sâfilîn” yang secara zhahir berarti tempat terendah diantara orang-orang penghuni tempat rendah/dasar neraka.

Meskipun Ibnu Abbas dalam riwayat yang lain, juga Qatadah, al-Kalbi, adh-Dhahhak dan Ibrahim an-Nakha’i menafsirkan ayat ini dengan pengembalian Allah terhadap keadaan manusia seperti semula pada saat ia renta dan pikun, mudah lupa dan sarat dengan kelemahan([8]).

Orang-orang yang tak pandai menyukuri nikmat kesempurnaan atau bahkan mendustakan dan mengingkarinya serta menggunakan karunia Allah untuk hal-hal yang menyebabkan murka-Nya pada hakikatnya derajat mereka diturunkan. Dijatuhkan lebih rendah dari binatang sekalipun.

Menjaga Nilai Standar Kebaikan

            ”Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; aka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya” (QS. 95: 06)

            Inilah nilai standar untuk menjaga kualitas kesempurnaan manusia. Iman dan amal salih. Iman dengan berbagai dimensi keimanan yang diikuti dan dibuktikan dengan keseriusan beramal baik dan menjaga kontinyuitas serta kualitasnya. Hal inilah yang menjaga manusia untuk keluar dari rel kesempurnaan. Orang yang memiliki karakteristik demikian laik mendapat balasan kebaikan dari Allah secara sempurna pula. Yaitu tidak terkurangi dan bahkan tidak terputus-putus([9]).

            Imam Thabrani mengeluarkan sebuah hadits qudsi yang mengabarkan bahwa jika seorang hamba diberi cobaan Allah diantaranya berupa sakit dan ia ridho dan bersyukur atas cobaan itu maka saat ia sembuh bagaikan terlahir kembali dari rahim ibunya, dosa-dosanya tergugurkan dan mendapatkan pahala sebagaimana saat ia melakukan kebaikan ketika ia sehat.

Lemahnya Alasan Pendustaan Hari Pembalasan

Jika tanda-tanda di atas sudah demikian jelasnya, lantas apa yang menyebabkan mata hati manusia tertutup sehingga tak mampu dan tak mau melihat dan menerima kebenaran yang sangat jelas.

Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu?” (QS. 95: 07)

Hanya orang-orang bodoh saja yang kemudian berpaling dari meyakini kepastian hari perhitungan tersebut. Hari tatkala keadilan ditegakkan dan tak ada yang bisa menutup-nutupi kezhaliman sekecil apapun.

Karena itu sangat wajar bila kata ganti yang digunakan mengkhithab di ayat ini adalah langsung. Yaitu kata ganti kedua ”kamu” (يكذبـك). Hal ini sekaligus untuk memberikan tantangan kepada jiwa yang selalu menentang titah dan perintah Allah yang dibawa oleh utusan-Nya.

Bukankah Allah hakim yang seadil-adilnya?” (QS. 95: 08)

Jika nantinya Allah memuliakan kembali orang beriman dan beramal salih dengan kemuliaan yang lebih serta memperlakukan orang-orang yang mendustakan dengan balasan adzab dan siksa maka yang demikian itu bukanlah sebuah kezhaliman. Karena Allah takkan memurkai dan menyiksa hamba-Nya kecuali setimpal dengan perbuatan dan kezhalimannya. Jika kemudian Allah melebihkan pahala dan balasan kebaikan itu semata karena rahmat dan kemurahan Dzat yang serba maha sesuai dengan janjinya tak sering diucapkan disela-sela firman-Nya.

Maka pertanyaan di akhir surat ini tidaklah untuk dijawab. Karena jawabannya hanya satu. Yaitu, berupa pembuktian keadilan yang jelas tanpa ada yang disembunyikan. Karena persaksian yang dihadirkan bukan hanya buku catatan dan orang-orang lain yang bersangkutan. Namun, berupa bukti otentik yang tak terbantahkan.

Pada hari ini kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada kami tangan mereka dan kaki mereka memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka lakukan”. (QS. 36: 65)

Penutup

Jika Allah memuliakan tempat, waktu dan juga manusia pilihan-Nya untuk menjadi pelajaran yang baik bagi orang yang mau menggunakan akalnya. Maka menjadi manusia baik yang tahu dan bisa menyukuri kesempurnaan adalah pilihan, bukan paksaan. Namun, pilihan ini mendatangkan konsekuensi yang berbeda. Jika iman dan amal yang dipilih maka Allah menjanjikan balasan yang tak terkira baiknya. Namun, jika ingkar dan dusta yang dilakukan maka Allah tak punya alternatif selain mengganjarnya dengan murka dan kehinaan di dalam kekekalan neraka-Nya. Semoga pilihan kita tepat sesuai inayah-Nya. Amin.

Pengajian Shubuh, Ainal Yaqin, Kalibata-Jaksel

Selasa, 09 Maret 2010


* Tadabbur surat At-Tîn (Buah Tin): [95], Juz Amma (30)

** Alumni Program S3 Jurusan Tafsir dan Ilmu al-Qur’an Universitas al-Azhar, Cairo

([1]) lihat: Jalaluddin as-Suyuthi, al-Itqân fi ‘Ulûmi al-Qur’ân, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2004 M/1425 H, hlm.20-21; Badruddin az-Zarkasyi, al-Burhân fi ‘Ulûmi al-Qur’ân, Beirut: Darul Fikr, Cet.I, 1988 M/1408 H, Vol.1, hlm. 249. Prof. Dr. Jum’ah Ali Abd. Qadir, Ma’âlim Suar al-Qur’ân, Cairo: Universitas al-Azhar, cet.I, 2004 M/1424 H, vol.2, hlm.820

([2]) Muhammad Ali Ash-Shabuni, Ijazu al-Bayan fi Suar al-Qur’an, Cairo: Dar Ali Shabuni, 1986 M-1406 H, hlm. 303

([3]) Al-Baghawy, Ma’alim at-Tanzil, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2004 M-1424 H, Vol.IV, hlm.  472

([4])Syihabuddin al-Alusy, Ruhul Maani, Beirut: Dar al-Fikr, 1997 M-1417 H, Vol. 30, hlm. 311

([5]) Ibid.

([6]) Seperti dikemukakan oleh Ibnu Abbas ra. (Ibnu Jarir ath-Thabary, Jami’ al-Bayan fi Ta’wil Ay al-Qur’an, tahqiq: Mahmud Syakir, Beirut: Dar Ihya at-Turats al-Araby, Cet.I, 2001 M-1421 H, Vol. 30, hlm. 291)

([7]) Ibid, hlm. 292

([8]) Ibid. hlm. 296-297, Abu Ubaidah, Majaz al-Qur’an, Cairo: Maktabah al-Khanji, tt. Vol.II, hlm. 303, Imam al-Qurthubi, al-Jami’ li Ahkami al-Qur’an, Cairo: Darul Hadits, 2002 M-1423 H, Vol. X, hlm. 356, Tafsir Ibnu Katsir, 8/249.

([9]) Lihat tesis penulis:  Kitab Lawami’ al Burhan wa Qawathi’ al-Bayan fi Ma’ani al-Qur’an Karya Imam al-Ma’iny: Dirasah wa Tahqiq, Cairo: Universitas al-Azhar Jurusan Tafsir, 2006, Vol.2, hlm. 881

Tadabbur QS. Alam Nasyrah (94)

SATU KESULITAN DUA KEMUDAHAN*

Dr. H. Saiful Bahri, M.A**

Mukaddimah

Menurut para ulama Surat Alam Nasyrah diturunkan di Makkah setelah Surat adh-Dhuha sebagaimana urutannya dalam mushaf usmany([1]). Surat ini memiliki beberapa nama selain Alam Nasyrah, di antarnya: asy-Syarh([2]), seperti yang terdapat dibanyak cetakan mushaf sekarang dan buku-buku tafsir. Juga al-Insyirah seperti yang disebutkan Imam Jalaluddin as-Suyuthi dan Ibnu al-Jauzy dalam tafsirnya([3]).

Surat ini merupakan kelanjutan surat sebelumnya, karena sama-sama membahas kepribadian Nabi Muhammad saw dan kondisi yang dihadapi oleh beliau. Keduanya juga menyebutkan kenikmatan-kenikmatan yang diberikan Allah. Jika di surat sebelumnya Allah menyebutkan tiga nikmatnya: Allah lah yang memberikan inayah/perlindungan saat kondisi beliau yatim, fakir dan kebingungan. Maka pada surat ini Allah tambahkan tiga nikmat-Nya yang lain lagi, yaitu: nikmat kelapangan dada([4]), meringankan beban beliau saat berhadapan dengan kaumnya ketika menyampaikan risalah kenabian yang tak ringan, juga Allah tinggikan kedudukan dan derajat beliau baik di bumi maupun di langit melebihi segala ciptaan-Nya yang pernah ada, dan yang akan ada.

Hal ini semata diperuntukkan kepada beliau demi menghibur sekaligus menguatkan azam beliau. Di tengah teror yang tak henti-hentinya dari musyrikin Makkah. Di akhir surat ini Allah memerintahkan untuk menggunakan waktu sebaik-baiknya, juga untuk beribadah setelah menyampaikan risalah. Perpindahan-perpindahan aktivitas tersebut merupakan refleksi rasa syukur([5]) kepada Allah swt atas karunia nikmat-nikmat-Nya yang sangat banyak yang tak memungkinkan untuk dihitung-hitung apalagi untuk dibalas.

Kenikmatan-Kenikmatan

Bukankah kami telah melapangkan untukmu dadamu? Dan kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu. Yang memberatkan punggungmu? Dan kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu”. (QS. 94: 1-4)

Nikmat pertama yang disebut Allah adalah nikmat kelapangan dada. Diturunkan dalam bentuk pertanyaan sebagaimana surat sebelumnya. Hal ini dimaksudkan supaya Nabi Muhammad saw juga benar-benar bepikir, merenungi lebih dalam atas karunia dan nikmat-nikmat yang diberikan Allah kepadanya. Lebih dari yang sekadar disebut-Nya.

Ayat di atas mengandung dua makna, zhahir dan batin. Secara zhahir Rasulullah saw pernah dibersihkan organ dalamnya oleh malaikat sewaktu masih kecil. Demikian juga setelah itu. Sebagian ulama berpendapat bahwa hal tersebut terjadi berkali-kali. Pertama kali terjadi pada saat beliau berusia empat tahun, yaitu masa-masa terakhir beliau di asuh oleh Halimah Sa’diyah di perkampungan Bani Sa’d sebelum dikembalikan kepada ibunya. Kedua, terjadi pada saat beliau berumur duapuluhan tahun. Ketiga, terjadi lagi sebelum beliau Isra’ Mi’raj([6]). Dalam riwayat Imam Ahmad bahkan dijelaskan bahwa tujuan pembelahan dada beliau –operasi fisik- secara zhahir adalah untuk membuang dendam, hasad dan iri (al-ghill wa al-hasad) dan kemudian memasukkan cinta dan kasih sayang (rahmah wa ra`fah) ([7]). Menariknya Imam al-Baidhawy mengatakan bahwa seolah-olah ini merupakan athaf dari surat sebelumnya yang datang dengan kata tanya (istifham) (ألم يجدك يتيماً). Dan untuk menegaskan bahwa masih banyak nikmat-nikmat Allah yang lain yang tidak disebut dan manusia tak mampu menghitungnya.

Adapun kandungan makna batinnya, bahwa Allah telah memberikan kelapangan dada dengan membuka hati beliau untuk dimudahkan menerima ilmu dan hikmah kenabian serta risalah. Demikian ditegaskan maknanya oleh Imam al-Baghawi([8]). Bahkan para tokoh sufi lebih suka memakai makna batin ini dan lebih merajihkannya karena kata yang dipakai “syaraha”.

Nikmat kedua, menghilangkan beratnya beban-beban dakwah Rasulullah saw. Sebagian para ahli tafsir menafsirkan “al-wizr” di sini adalah kesalahan dan kealpaan yang dilakukan Nabi Muhammad sebelum beliau jadi nabi. Semuanya telah Allah ampunkan. Tapi tak sedikit yang menafsirkannya dengan beban secara umum yang dihadapi oleh Rasulullah saw dalam melaksanakan misi yang dianugerahkan Allah kepada beliau, yaitu: menyampai-kan risalah kenabian. Baik beban fisik dengan teror yang diterimanya, maupun secara psikis yang dialaminya berkali-kali. Dari sejak hinaan, cemoohan, ancaman, tuduhan keji atau bahkan rayuan dan bujukan. Semuanya Allah jadikan ringan. Bahkan Allah melengkapinya dengan nikmat selanjutnya.

Nikmat ketiga, ditinggikan derajatnya. Allah angkat derajat beliau sebagai nabi. Bahkan disandingkan namanya dengan asma Allah Yang Mahaagung. Namanya disebut oleh penduduk bumi dan langit disepanjang waktu. Penduduk bumi yang shalat saja berputar dari pagi ke pagi selalu ada yang shalat, syahadatain dibaca di dalamnya. Dalam khutbah, syahadatain juga dibaca, sebelum ijab qabul pernikahan syahadatain juga dibaca. Banyak riwayat yang menyebutan kemuliaan beliau yang diberikan Allah dengan penyebutan tersebut([9]).

Kemudahan-Kemudahan

Setelah menyebutkan nikmat dan karunia yang diberikan Allah kepada Nabi-Nya Allah menegaskan sebuah makna yang memberikan sugesti kemenangan, kebahagiaan dan ketenangan. Simaklah kedahsyatan janji-Nya:

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesung-guhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”. (QS. 94: 5-6)

Apa rahasia pengulangan kalimat-kalimat di atas. Apa makna yang terkandung hingga Allah perlu mengulangi dan menegaskan pesan-pesan-Nya.

Imam al-Baghawi, Imam al-Ma’iny dan Syeikh Muhyiddin ad-Darwisy menyimpulkan dari struktur gaya bahasa di atas dengan sebuah kaidah kebahasaan: “Isim nakirah jika disebut dua kali maka yang kedua tidaklah sama dengan yang pertama. Namun, jika isim makrifat disebut dua kali maka yang kedua sama dengan yang pertama([10]). Dari kaidah ini bisa ditarik sebuah kesimpulan, setiap satu kesulitan terdapat dua kemudahan. Setidaknya akan berupa penyelesaian yang terbaik serta pahala kebaikan yang hanya diketahui Allah jika bersabar dalam menghadapinya. Setelah kesulitan dan beban-beban dakwah yang berat di Makkah Allah akan berikan kemudahan dan kemenangan di Madinah.

Kemudahan yang diberikan Allah bahkan berlipat-lipat. Jika Nabi saw terlahir sebagai yatim, beliau bahkan menyantuni banyak fakir miskin dan anak-anak yatim serta para janda miskin. Allah berikan kekayaan, beliau diangkat derajatnya, dilapangkan dadanya dan diringankan beban-bebannya. Apalagi setelah diangkat sebagai Nabi dan Rasul Allah swt. Meski, tekanan justru datang setelah itu tapi kemudahan dan kemenangan Allah jadikan setelahnya. Rahmatan lil alamin, beliau bahkan kemudian menjelma menjadi rahmat –atas titah Allah- bagi segenap alam semesta. Bukan hanya bagi manusia saja.

Jika pada mulanya Islam ditekan. Pengikutnya juga ditindas dan dihina. Yang mengikutinya juga orang-orang lemah dan terzhalimi. Tapi akhirnya Allah mengubahnya sesuai janjinya. Sebagai contoh kisah Fathu Makkah memberikan kebenaran janji Allah. Dengan segala izzah, Rasul memasuki kota Makkah. Jika sebelumnya orang-orang kuat penduduk Makkah menindas beliau dan para pengikutnya, maka pada saat itu semuanya tertunduk pasrah. Bahkan sebagian dari mereka ada yang melarikan diri. Kemuliaan yang tak menjadikan beliau sombong dan lupa diri. Beliau justru memperbanyak tasbih dan istighfar, bersyukur atas kemuliaan dan kemenangan yang dikaruniakan Allah; mengukuh-kan dan mengokohkan agama-Nya di muka bumi ini.

Jadi, yakinlah setidaknya setiap satu kesulitan ada dua kemudahan yang disiapkan Allah, kemudahan duniawi dan ukhrawy. Tak heran jika kemudian beliau bersabda sebagaimana yang diriwayatkan Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud ra., “Beritakan kabar gembira, telah datang kemudahan. Takkan pernah satu kesulitan mengalahkan dua kemudahan([11]).

Maha Benar Allah dalam segala firman-Nya.

Perpindahan Aktivitas

Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain”.(QS. 94: 7)

Inilah makna istirahat yang sebenarnya. Bukanlah dengan bermalas-malasan dan bersantai, namun dengan perpindahan dari satu aktivitas ke aktivitas lain. Sehingga akan maksimal produktifitas seseorang. Maka Nabi Muhammad saw mencontohkan setelah menyampaikan dakwahnya, beliau diperintah untuk bersegera beribadah sebagai rasa syukur atas nikmat kenabian sekaligus sebagai rasa tawakkal memasrahkan usaha yang telah dilakukan sebelumnya. Bahwa hasil dari dakwah beliau sepenuhnya diserahkan kepada Allah swt.

Inilah yang seharusnya juga ditiru oleh para pengikut beliau. Jika itu benar-benar kita lakukan maka kemudahan-kemudahan akan semakin banyak diberikan Allah. Dan Allah akan tinggikan pula izzah agama ini melalui tangan-tangan kita.

Selain itu ayat ini mengisyaratkan sebuah keseimbangan ideal. Setelah kita sibuk dan beramal untuk dunia kita maka seharusnya kita juga berbuat dan beramal untuk akhirat kita.

Dan hanya kepada Tuhanmu lah hendaknya kamu berharap” (QS. 94: 8)

Kesyukuran itu lebih sempurna bila kita jadikan Allah benar-benar satu-satunya tempat bergantung dan berharap. Apa yang lebih indah dari rasa syukur yang dikaruniakan Allah yang telah menyebut bahwa hanya sedikit saja dari hamba-Nya yang mampu bersyukur dengan baik.

Sang Guru Ibnu Atha`illah As-Sakandary mengimbuhkan sebuah makna yang sangat dalam, “Allah menganugerahimu tiga kemuliaan, yaitu: Dia membuatmu ingat (dzikir) kepada-Nya. Kalaulah bukan karena karunia-Nya, engkau tak pantas menjadi ahli dzikir kepada-Nya. Dia membuatmu diingat oleh-Nya (madzkur), karena Dia sendiri yang menisbahkan dzikir itu untukmu. Dan Dia juga membuatmu diingat di sisi-Nya, saat Allah sempurnakan nikmat-Nya kepadamu([12]).

Penutup

Itulah Allah. Dzat yang rahmat-Nya luas tanpa batas. Dzat yang kasih sayang-Nya tidak terbilang. Pernahkah kita menghitung nikmat dan karunia yang diberikan-Nya kepada kita. Padahal tak banyak yang sudah kita lakukan untuk menyukurinya. Berapa kalikah kita berbuat dosa dan melanggar larangan-Nya, tak menunaikan hak-hak-Nya dengan baik? Namun, hingga saat ini Dia masih saja memberi kesempatan pada kita untuk bertaubat dan memperbaiki kesalahan-kesalahan kita. Betapa banyak kesalahan yang kita sembunyikan dari orang tua kita, istri kita, anak kita dan dari orang banyak. Dan Allah tetap terus menutupnya. Akankah kita melupakannya begitu saja? Alangkah baiknya jika kita tak menghentikan pengharapan kita pada-Nya dan terus mendekatkan diri padanya dengan taubat dan istighfar. Itulah kesempurnaan pengharapan. Maka, Dialah Dzat yang laik untuk benar-benar diharapkan karena Dia tak pernah menyelisihi dan mengingkari janji-Nya serta mengabaikan ketulusan pengharapan hamba-hamba-Nya.

Pengajian Shubuh, Ainal Yaqin, Kalibata-Jaksel

Selasa, 01 Maret 2010


* Tadabbur surat Alam Nasyrah (Melapangkan): [93], Juz Amma (30)

** Alumni Program S3 Jurusan Tafsir dan Ilmu al-Qur’an Universitas al-Azhar, Cairo

([1]) lihat: Jalaluddin as-Suyuthi, al-Itqân fi ‘Ulûmi al-Qur’ân, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2004 M/1425 H, hlm.20-21; Badruddin az-Zarkasyi, al-Burhân fi ‘Ulûmi al-Qur’ân, Beirut: Darul Fikr, Cet.I, 1988 M/1408 H, Vol.1, hlm. 249. Prof. Dr. Jum’ah Ali Abd. Qadir, Ma’âlim Suar al-Qur’ân, Cairo: Universitas al-Azhar, cet.I, 2004 M/1424 H, vol.2, hlm.816

([2]) Ibid. hlm. 817

([3]) lihat: Jalaluddin as-Suyuthi, ad-Dur al-Mantsur fi at-Tafsir bi al-Ma`tsur, Beirut: Dar al-Fikr, Cet.I, 1983 M-1403 H,, Vol.VIII, hlm. 547, Abdurrahman Ibnu al-Jauzy, Zad al-Masir fi Ilmi at-Tafsir, Beirut: al-Maktab al-Islami, Cet.III, 1404 H, Vol.IX, hlm. 162

([4]) ada banyak pendapat tentang pembelahan dada Nabi Muhammad saw yang insya Allah akan kita bicarakan saat menadabburi ayatnya nanti.

([5]) Muhammad Ali Ash-Shabuni, Ijazu al-Bayan fi Suar al-Qur’an, Cairo: Dar Ali Shabuni, 1986 M-1406 H, hlm. 302

([6]) Lihat: Syihabuddin al-Alusy, Ruhul Maani, Beirut: Dar al-Fikr, 1997 M-1417 H, Vol. 30, hlm. 299-300, Abu al-Fida` Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur`an al-Azhim, Cairo: al-Maktab Ats-Tsaqafi, Cet.I, 2001 M, Vol. IV, hlm. 528

([7]) Tafsir Ibnu Katsir, Ibid.

([8]) Al-Baghawy, Ma’alim at-Tanzil, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2004 M-1424 H, Vol.IV, hlm. 469

([9]) Ali bin Ahmad Al-Wahidy, Al-Wasith fi Tafsir al-Qur’an al-Majid, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 1994 M-1415 H, Vol.IV, hlm.416-417, juga: Ibnu Jarir ath-Thabary, Jami’ al-Bayan fi Ta’wil Ay al-Qur’an, tahqiq: Mahmud Syakir, Beirut: Dar Ihya at-Turats al-Araby, Cet.I, 2001 M-1421 H, Vol. 30, hlm. 285

([10]) Al-Baghawy, Ma’alim at-Tanzil, Op.Cit, Vol. IV, hlm. 470, Muhyiddin ad-Darwisy, I’rabu al-Qur`an al-Karim wa Bayanuhu, Beirut: Dar Ibnu Katsir, Cet. IX, 2005 M-1426 H, Vol. VIII,hlm. 353, lihat tesis penulis: Kitab Lawami’ al Burhan wa Qawathi’ al-Bayan fi Ma’ani al-Qur’an Karya Imam al-Ma’iny: Dirasah wa Tahqiq, Cairo: Universitas al-Azhar Jurusan Tafsir, 2006, Vol.2, hlm. 876

([11]) Ibnu Jarir ath-Thabary, Jami’ al-Bayan,Op.Cit, Vol. 30, hlm. 286, Abul Qasim Jarullah Az-Zamakhsyari, al-Kasyaf an Haqa`iq at-Tanzil wa ‘Uyun al-Aqawil fi Wujuh at-Ta`wil, Cairo: Maktabah Mustafa Muhammad, Cet.I, 1354 H, Vol.IV, hlm. 221

([12]) Ibnu Atha’illah as-Sakandary, Kitab al-Hikam, Penerjemah: Dr. Ismail Ba’adillah, Jakarta: Khatulistiwa Press, Cet.II, Juni 2008, hlm. 289

Tadabbur QS. Adh-Dhuha (93)

BELAJAR BERSYUKUR*

Dr. H. Saiful Bahri, M.A**

Mukaddimah

Menurut para ulama Surat Adh-Dhuha diturunkan di Makkah setelah Surat al-Fajr([1]). Surat ini berisi tentang pribadi Rasulullah saw. Kegelisahan dan kesedihan yang dialami beliau sangat wajar, ditengah terror fisik dan psikis yang dilancarkan kuffar Quraisy kepada beliau dan sahabatnya untuk mencegah dan menghalangi berkembangnya dakwah yang beliau bawa. Bahkan Allah bersumpah demi untuk mengatakan bahwa Dia sama sekali takkan pernah meninggalkan nabi-Nya sendirian apalagi memarahinya, seperti yang hdituduhkan oleh kaum musyrikin Makkah. Allah takkan pernah membiarkannya bersedih. Allah menghibur beliau dengan mengingatkan janji-Nya yang pasti akan dipenuhi-Nya kelak. Menariknya, Allah juga mengingatkan bahwa beliau telah dikaruniai berbagai kenikmatan yang sangat berharga. Kefakiran, keadaan yatim, kesusahan dan kebingungan yang pernah dialaminya, dikaruniai Allah setelahnya berupa kekayaan, kesuksesan, bahkan diangkat derajatnya di langit dan di bumi. Semua adalah karunia Allah yang laik untuk disyukuri. Maka Allah memberikan perintah untuk menyukurinya dengan menyayangi anak yatim dan orang-orang miskin yang membutuhkan bantuan([2]).

Allah Selalu Menyertai

Hanya untuk menegaskan bahwa Allah takkan pernah meninggalkan Nabi Muhammad saw, tidak juga marah terhadapnya, Allah memulai surat ini dengan bersumpah dengan waktu dhuha dan waktu malam.

Demi waktu matahari sepenggalahan naik. Dan demi malam apabila telah sunyi” (QS. 93: 1-2)

Apa rahasia Allah memilih dua waktu tersebut? Waktu dhuha adalah permulaan siang. Waktu produktif kebanyakan manusia. Pada jam-jam inilah manusia memulai aktivitasnya. Ada yang mulai bekerja, ada yang berangkat ke sekolah belajar dan mengajarkan ilmu, ada yang mulai bertanam mencari jalan rizki, ada yang membuka toko, membuka pintu-pintu rahmat Allah.

Dalam sejarahnya, di waktu dhuha inilah Musa as. menundukkan kesombongan Fir’aun dengan mengalah tukang-tukang sihirnya, “Berkata Musa: “waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya dan hendaklah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik”. (QS. Thaha: 59)

Kemudian Allah bersumpah demi waktu malam yang menampakkan ketenangannya. Sunyi dengan kesenyapannya. Itulah tabiat malam. Dijadikan Allah sebagai waktu beristirahat manusia setelah seharian bekerja dan beraktivitas. Allah jadikan juga waktu untuk berkumpul dengan keluarga. Allah berikan kesempatan untuk melakukan hal-hal yang dianggap paling privasi. Karena waktu malam jauh lebih tenang dibanding waktu lainnya.

Di antara sekian hamba-Nya ada yang merasa bahwa karunia ketenangan malam ini harus disyukuri. Karenanya ia rela melawan kantuk, bangkit dan segera bersujud serta bersimpuh di hadapan Dzat yang serba maha.

Inilah dua simbol yang pasti akan dialami oleh kebanyakan manusia. Setelah muda banyak beraktivitas, kelak ia akan tua dan harus mengurangi kegiatannya. Secara psikis juga –biasanya- ketenangan orang tua jauh di atas orang muda. Sebagai sunnah Allah, ma-nusia setelah beraktivitas juga memerlukan waktu dan jeda untuk beristirahat. Dan makna-makna lain yang tersirat dari sumpah di atas, dan yang terpenting adalah bahwa semua waktu itu pasti berputar dan berganti. Sadar atau tidak waktu terus berputar. Allahlah yang menjadikannya demikian. Tidak heran jika kemudian Abu Hurairah ra mendapat pesan dari Rasul saw untuk tidak meninggalkan Shalat Dhuha([3]) (HR. Bukhari, Muslim dan Abu Dawud)

Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu” (QS. 93: 3)

Ada beberapa versi sebab-sebab diturunkannya ayat ini. Ibnu Hajar mengatakan bahwa yang paling terkenal adalah tentang tersendatnya turunnya wahyu pada waktu tertentu yang dialami oleh Rasulullah saw. Meski terkenal tapi –masih menurut Ibnu Hajar- sangat aneh bila dijadikan sebab turunnya ayat ini. Adapun riwayat yang shahih, berasal dari Bukhari dan Muslim. Suatu ketika Rasulullah berkeluh kesah dan mengadu kepada Allah. Selama dua malam beliau sakit dan tidak berdiri/keluar rumah. Datang seorang perempuan kepadanya dan mengatakan,”Wahai Muhammad, mana setanmu. Kurasa dia telah meninggalkanmu” maka diturunkanlah ayat ini([4]). Hadis ini juga diriwayatkan oleh Tirmizi, Ahmad, an-Nasa`i, dan pakar hadis lainnya([5]).

Kenikmatan dan Karunia Allah

Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan). Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas”. (QS. 93: 4-5)

Sebab turun ayat ini diriwayatkan oleh Imam ath-Thabrani, al-Baihaqi dan al-Hakim dengan sanad hasan. Abdullah bin Abbas meriwayatkannya,”Rasulullah saw dibujuk dengan ditawarkan kepadanya sesuatu yang akan terbuka untuk umatnya, yaitu dunia” ([6]).

Jika pada ayat sebelumnya beliau dicemooh karena seolah beliau dibiarkan Allah maka ada usaha lain untuk meneror psikis beliau dengan tawaran yang menggiurkan. Yaitu godaan dunia. Namun, Rasulullah berdakwah tidaklah untuk memperkaya diri atau mencari pengaruh di tengah umatnya. Karena itu Allah meneguhkan pendirian beliau.

Sebagai gantinya Allah menawarkan sesuatu yang kelak akan membuat Rasul saw puas dan ridho. Karena kekekalan nikmat akhirat jauh lebih sempurna dengan segala kemegahan isi dunia yang banyak menggiurkan kebanyakan manusia.

Setidaknya Allah kemudian memerintahkan kepada kekasih-Nya ini untuk mengingat-ingat beberapa nikmat di antara nikmat-Nya yang tak terbilang yang diberikan kepada beliau:

  • Pertama, “Bukankah dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu dia melindungimu?” (QS. 93: 6)

Nabi Muhammad terlahir sebagai anak yatim. Ia bahkan tak pernah tahu seperti apa wajah ayahnya. Kemudian belum banyak beliau menikmati kebersamaan dengan ibunya setelah kembali dari Bani Sa’d tempat beliau disusui dan dibesarkan di sana, Aminah, sang ibu dipanggil Allah menyusul ayahnya. Kakek yang mengasuhnya setelah itu pun dipanggil Allah. Hingga Muhammad kecil diasuh oleh pamannya, Abu Thalib. Siapa yang mengatur peristiwa demi peristiwa itu. Siapa sesungguhnya yang merekayasa semuanya. Allah lah pada hakikatnya yang mendidik dan mengasuh Nabi Muhammad, meskipun sebabnya melalui ibu, kakek dan paman juga orang-orang lainnya. Siapa pula yang menumbuhkan kecintaan mereka kepada Nabi Muhammad.

  • Kedua, “Dan dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu dia memberikan petunjuk” (QS. 93: 7)

Yang dimaksud “dhall” di sini bukanlah kesesatan seperti tersesatnya orang-orang musyrik dan kafir. Namun, sebagian besar pakar tafsir mengatakan bahwa kebenaran tak bisa semata dicapai akal. Siapa yang memberi petunjuk jika bukan Allah. Secara spesifik sebagian ahli tafsir berpendapat petunjuk yang dimaksud di sini adalah kenabian dan syariat yang dibawa oleh beliau([7]).

  • Ketiga, “Dan dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu dia memberikan kecukupan” (QS. 93: 8)

Allah membebaskan Nabi Muhammad saw dari kefakiran dengan memberi kecukupan. Dari sejak diberi kemampuan mencari nafkah melalui menggembala kambing, kemudian berdagang dan sukses di bidang tersebut, hingga kemudian menikah dengan seorang konglerawati yang shalihah; Khadijah binti Khuwailid ra([8]). Kemudian Allah berikan rasa cukup dan qanaah dalam hati beliau([9]).

Bersyukur Atas Karunia Allah

            Tiga karunia yang diberikan Allah di atas sudah selaiknya disyukuri dengan baik. Oleh karena itu Allah melanjutkan pesan dan risalah langit-Nya. Allah juga menganjurkan Rasul-Nya dan diwanti-wanti dengan tiga hal berikut

  • Pertama, “Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang”. (QS. 93: 9)

Berbuat baik dan tidak menzhalimi anak yatim menjadi prioritas dalam menyukuri nikmat Allah. Terlebih bagi Rasulullah saw sangat terasa, bagaimana beliau menjadi anak yatim tapi dicintai dan dimuliakan oleh orang-orang sekelilingnya. Tak heran jika dalam berbagai kesempatan beliau sering mengatakan “Aku dan pengafil anak yatim seperti dua jari ini([10])”. Beliau menunjuk jari tengah dan jari telunjuk beliau. Az-Zajjaj memberikan penakwilan lain, yaitu ini sekaligus larangan untuk menzhalimi anak yatim dengan berbagai cara. Di antaranya memakan harta anak yatim yang diwarisi dari orang tuanya. Maka jangan berlaku zhalim terhadap hartanya([11]), demikian pesan itu.

  • Kedua, “Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya”. (QS. 93: 10).

Jika ada orang yang meminta maka sebaiknya kita memberinya sesuatu yang membuatnya berbahagia atau setidaknya menghilangkan sedikit bebannya. Jika seandainya kita belum mampu atau tidak memberinya apapun maka sebaiknya kata-kata yang baiklah yang kita berikan kepadanya. Allah berfirman dalam ayat lain, “Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun” (QS. 2: 263)

  • Ketiga, “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebut”. (QS. 93: 11)

Azz-Zajaj, Imam al-Qurthuby menafsirkan ayat ini sesuai dengan konteks Rasulullah adalah bersyukur dengan menyampaikan risalah kenabian beliau([12]). Jika ayat ini diper-untukkan kepada kita maka konteksnya lebih luas. Yang dimaksud menyebut-nyebut, berbicara atau berbagai saat kita mendapat nikmat juga luas. Diawali dengan bertah-mid dan bersyukur kepada Allah, kita disunnahkan untuk memberitahu orang-orang yang dekat dan kita cintai. Jika memungkinkan maka percikan nikmat tersebut juga bi-sa bermanfaat bagi orang lain. Jika nikmat itu adalah harta maka bersyukurlah dengan zakat dan shadaqah. Jika nikmat itu adalah ilmu maka bersyukurlah dengan meng-amalkan dan mengajarkannya. Tapi, menyebut-nyebut nikmat secara berlebihan akan mengundang rasa iri dan dengki, maka sebaiknya hal tersebut dilakukan dengan wajar.

Penutup       

            Semoga dengan inspirasi surat ini kita bisa memanfaatkan waktu kita untuk kebaikan. Selanjutnya kita mampu menjadi hamba yang bersyukur dan bisa menularkan kesyukuran ini kepada orang lain dengan keteladanan dan perkataan yang baik. Amin.

Pengajian Shubuh, Ainal Yaqin, Kalibata-Jaksel

Selasa, 23 Pebruari 2010


* Tadabbur surat Adh-Dhuha (Waktu Dhuha): [93], Juz Amma (30)

** Alumni Program S3 Jurusan Tafsir dan Ilmu al-Qur’an Universitas al-Azhar, Cairo

([1]) lihat: Jalaluddin as-Suyuthi, al-Itqân fi ‘Ulûmi al-Qur’ân, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2004 M/1425 H, hlm.20-21; Badruddin az-Zarkasyi, al-Burhân fi ‘Ulûmi al-Qur’ân, Beirut: Darul Fikr, Cet.I, 1988 M/1408 H, Vol.1, hlm. 249.Prof. Dr. Jum’ah Ali Abd. Qadir, Ma’âlim Suar al-Qur’ân, Cairo: Universitas al-Azhar, cet.I, 2004 M/1424 H, vol.2, hlm.812

([2]) Muhammad Ali Ash-Shabuni, Ijazu al-Bayan fi Suar al-Qur’an, Cairo: Dar Ali Shabuni, 1986 M-1406 H, hlm. 301

([3]) Ini merupakan salah satu wasiat Rasulullah saw kepada Abu Hurairah yang berjumlah tiga: dua rakaat Shalat Dhuha, puasa tiga haris setiap bulan (ayyamul baidh) dan shalat witir sebelum tidur. Selain diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dengan sedikit perbedaan Abu Dawud juga meriwayatkannya dalam Kitab Shalah Bab al-Witr Qabla an-Naum, hadits nomer 1286 (Muhammad Nashiruddin al-Albany, Shahih Sunan Abi Dawud, Op.Cit, Vol.V, hlm.175)

([4]) Prof. Dr. Muhammad Hasan al-Himshy, Tafsir wa Bayan Mufradat al-Qur’an A’la Mushafi at-Tajwid ma’a Asbabi an-Nuzul li as-Suyuthi, Beirut: Muassasah al-Iman, cet.I, 1999 M – 1419 H, hlm. 534

([5]) Syihabuddin al-Alusy, Ruhul Maani, Beirut: Dar al-Fikr, 1997 M-1417 H, Vol. 30, hlm. 282

([6]) Prof. Dr. Muhammad Hasan al-Himshy, Op.Cit, hlm. 538

([7]) Ali bin Ahmad Al-Wahidy, Al-Wasith fi Tafsir al-Qur’an al-Majid, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 1994 M-1415 H, Vol.IV, hlm. 511; Al-Baghawy, Ma’alim at-Tanzil, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2004 M-1424 H, Vol.IV, hlm. 466

([8]) lihat tesis penulis: Kitab Lawami’ al Burhan wa Qawathi’ al-Bayan fi Ma’ani al-Qur’an Karya Imam al-Ma’iny: Dirasah wa Tahqiq, Cairo: Universitas al-Azhar Jurusan Tafsir, 2006, Vol.2, hlm. 868.

([9]) Al-Baghawy, Ma’alim at-Tanzil, 4/467

([10]) Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab al-Adab Bab Fadhlu Man Ya’ulu Yatiman, hadits no. 6005. Juga Imam Muslim Kitab Zuhd wa Raqa`iq, hadits no. 2983. Juga Imam Tirmizi Kitab al-Birr wa ash-Shilah, no. 1918 (Ibnu Hajar al-Asqalany, Fathu al-Bari bi Syarhi Shahih al-Bukhari, Cairo: Maktabah  Ash-Shafa, Cet.I, 2003 M-1424 H, Vol. X, hlm. 507; Muhyiddin bin Syarah an-Nawawy, Shahih Muslim bi Syarhi an-Nawawy, Cairo: Darul Hadits, Cet.I, 1994 M-1415 H, Vol.IX, hlm.339, Sunan at-Tirmizi, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2003 M-1424 H, hlm. 471)

([11]) Az-Zajjaz, Ma’ami al-Qur’an wa I’rabuhu, Cairo: Darul Hadits, 2004 M/1424 H, Vol.V, hlm. 259

([12]) Ibid. lihat juga: al-Jami’ li Ahkami al-Qur’an, Cairo: Darul Hadits, 2002 M-1423 H, Vol.X, hlm. 344