BUKAN EGOISTIK, TIDAK JUGA ALTRUISTIK

Dr. Saiful Bahri, M.A

Kira-kira apa yang ada dalam benak kita saat mendengar bahwa Nabi Muhammad SAW adalah satu-satunya makhluk Allah yang dipanggil langsung menghadap-Nya? (setelah Musa as yang diperlihatkan dan diajak dialog langsung oleh Allah). Dipanggil menghadap langsung, berarti tanpa perantara. Berhadapan langsung berarti tanpa hijab. Berdialog langsung berarti tanpa penterjemah atau bantuan siapapun. Hanya terjadi antara dua pihak; yang memanggil dan yang dipanggil. Yaitu Allah dan Nabi Muhammad saw. Itulah peristiwa mi’raj yang diyakini kebenarannya oleh umat Islam, dan oleh jumhur ulama dilakukan oleh Nabi saw dengan fisik dan ruhnya sekaligus.

Jawabannya sebenarnya tidaklah seperti demikian yang penulis maksudkan. Namun, ada sudut pandang lain yang perlu dibaca dan ditelaah dengan sangat lembut dan halus. Bagaimana perasaan Nabi Muhammad saw saat itu? Bahagia? Gembira? Takjub? Atau seperti apa? Dan untuk menjawab pertanyaan ini secara teks tentu diperlukan dasar hukum yang kuat berupa hadits shahih yang bisa dipertanggungjawabkan nilainya secara ilmiah.

Tetapi, secara manusiawi –rasanya- kita diperbolehkan menebak bahwa Nabi Muhammad saw sangat berbahagia menikmati momentum langka tersebut. Bersua dan berdialog langsung dengan Dzat yang Serba Maha yang mengutusnya ke bumi. Dzat yang dicintainya sepenuh raga dan jiwa, melebihi apa dan siapa saja. Kebahagiaan atau berbagai kata yang serupa rasanya tepat jika kita alamatkan untuk mendeskripsikan perasaan Nabi Muhammad saw.

Sisi menarik lainnya, bahwa perjalanan Isra Mi’raj tersebut dititahkan Allah pasca wafatnya dua pilar dakwah penting beliau yang sekaligus orang terdekat yang paling dicintainya; istri dan pamannya. Khadijah yang merepresentasikan umat Islam terpandang, dan Abu Thalib sebagai representasi keluarga sekaligus kalangan non muslim yang menghormatinya sekaligus mendukung dakwahnya. Sampai-sampai tahun itu disebut-sebut sebagai “amul huzni” (tahun kesedihan). Yang berarti bukan sekedar kesedihan secara psikologis, faktanya intimidasi dan teror dari kalangan kuffar Quraisy meningkat dan semakin tak terkontrol.

Kenikmatan dan kebahagiaan yang sedang dinikmati oleh Nabi Muhammad saw ternyata tak membuatnya mengajukan sebuah proposal untuk bertahan dalam kondisi saat itu. Beliau tak meminta kepada Allah agar dikekalkan rasa bahagianya, atau diberikan kesempatan untuk melakukan “perjumpaan” langsung dengan-Nya berulang-ulang. Namun, Nabi Muhammad memilih turun kembali ke bumi dan melakukan “perjumpaan” dengan berbagai penderitaan, intimidasi dan teror fisik serta non fisik. Teror psikis pertama yang diterimanya adalah bahwa beliau dituduh semakin gila dengan “gurauan” atau “candaan”nya yang dinilai oleh kuffar Qurasiy. Bagaimana mungkin masuk dinalar manusia seseorang sanggup melakukan perjalanan antara Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsha kemudian diteruskan ke atas langit ke tujuh hingga ke sidratul muntaha hanya dalam waktu yang tak sampai satu malam penuh? Itulah nalar manusiawi yang dipaksakan menerima titah kedigdayaan tanpa batas Sang Maha Pengatur perjalanan tersebut. Seiring dengan ejekan itu tekanan yang dihadapi umat Islam pun makin berat, tetapi semakin menyerap kualitas-kualitas terbaik kader-kadernya.

Itulah sang Nabi yang tidak egois (selfish). Beliau tidaklah hanya mementingkan kebahagiaan diri serta tak hanya berpikir sentralistik. Tetapi beliau juga tidak sedang menjadi pribadi altruistic, yang hanya memikirkan orang lain tanpa memedulikan dirinya sendiri, karena dua sisi ekstrim kepribadian di atas bertentangan dengan misi kenabian beliau. Yaitu pribadi yang “bermanfaat bagi orang lain” sekaligus menjadi “yang terbaik” di antara sesamanya.

Maka hasilnya adalah Muhammad yang bersosok humanis, ramah, mudah dikenal dan berakhlak mulia sebagai cerminan karakter yang tidak egois dan bersentra pada diri sendiri. Demikian juga beliau adalah sosok yang romantis bagi keluarganya. Maka jika disebut sebagai pribadi altruistik sepertinya juga belum tepat. Karena beliau memesankan untuk memikirkan masa depan diri kita juga setelah kelak datangnya kematian. “Orang cerdas [al-kayyis] adalah mereka yang menyiapkan dirinya untuk masa setelah kematiannya”. Dengar pesan-pesan yang diemban beliau; seperti kalam Allah berikut:

Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)-mu sendiri” (QS. Al-Baqarah [2]: 44)

Seandainya boleh mengiaskan kondisi di atas dengan realitas kekinian, hal tersebut juga bisa terjadi dan dialami oleh Bangsa Palestina secara menyeluruh. Apalagi mereka yang hidup di sentrum-sentrum kota al-Quds yang menjadi incaran fisik Zionisme.

Seandainya masalah Palestina hanya merupakan permasalahan tanah, barangkali penyelesaiannya tidaklah serumit seperti saat ini. Bukan mitos atau hanya berupa dongeng kisah-kisah dan cerita pengusiran serta pendudukan ilegal bangsa Zionis terhadap bangsa palestina. Inilah sebuah kenyataan pahit yang terjadi melalui berbagai cara. Dari cara-cara persuasif yang sangat hedonis, cek-cek kosong yang diperuntukkan bagi mereka yang lemah iman dan ekonominya sampai melalui teror dan intimidasi secara fisik dan psikis.

Jika saja diperbolehkan, barangkali bangsa Palestina akan lebih memilih hijrah ke tempat lain dan memulai segalanya yang serba baru dan tenang tanpa konflik dan masalah. Negara-negara tetangga mereka kemungkinan besar siap menampung dan menyediakan sarana tempat tinggal. Atau kalau pun tidak, atas nama kemanusiaan barangkali akan ada negara-negara lain yang siap menampung mereka. Karena secara nominal jumlah mereka juga tidak terlalu banyak jika dibandingkan dengan jumlah keseluruhan penduduk bumi saat ini.

Lalu, alasan apakah yang membuat bangsa Palestina memilih berdarah-darah mempertahankan tanah mereka? Tentu lebih dari sekedar permasalahan tanah. Karena mereka adalah representasi umat Islam yang menjaga situs-situs suci bersejarah seperti Masjid al-Aqsha. Menjaga situs atau tetap memilih bertahan di Palestina tidaklah dimaknai memonopoli tanah dan pendudukan. Karena umat Islam sudah membiasakan diri untuk bertoleransi dan hidup berdampingan secara damai. Jika bangsa Palestina memiliki kesamaan dengan berbagai bangsa lain di dunia ini, mereka adalah representasi orang-orang tertindas yang menjadi asing di negara mereka sendiri. Jika mereka adalah obyek kezhaliman, maka mereka adalah representasi kelemahan tanpa pengacara serta pembela handal dan back up media yang cenderung matrealistik, serta sebagiannya penganut hedonisme. Dan karena “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan” termaktub jelas dalam pembukaan konstitusi UUD 1945 Bangsa Indonesia.

Mereka juga representasi berbagai perbedaan internal yang sengaja diprovokasi untuk terus terjadi dan diupayakan tanpa jembatan kesepahaman serta kesatuan sikap politik atau kebijakan umum. Pada akhirnya sebagai umat Islam yang terwakili saudaranya di Palestina, sudah semestinya berbuat sesuatu untuk bangsa Palestina. Yaitu, merdekakan dari pendudukan ilegal, lindungi dari pengusiran-pengusiran serta provokasi negatif lainnya, serta memperjuangkan kembalinya jutaan orang Palestina yang tersebar di kamp-kamp pengungsi serta di berbagai negara yang ada di belahan dunia lainnya. Sebagian lagi menjadi buronan dengan tuduhan yang menghipnotis jutaan penduduk dunia, sebagai buronan terorisme atau yang mendukung terorisme. Padahal istilah ini dimunculkan untuk mewadai islamophobia dan anti kebangkitan umat Islam yang mulai bergeliat di beberapa tempat.

Kemudian, meski secara geografis kita berada jauh dari Palestina. Maka penentuan sikap kita pun antara tiga pilihan:

–          menjadi pribadi egois dengan pola pikir egosentris yang memikirkan kehidupan pribadi atau keluarga/golongan saja

–          atau menjadi sebaliknya menjadi pribadi altruistik yang fana seolah menjadi pahlawan bagi orang lain sementara lupa memikirkan pengembangan diri sebagai jalan membangun jaringan yang kuat untuk meraih tujuan final

–          atau menggabungkan dua kutub ekstrim di atas?

So, press any key to continue

Catatan Keberkahan 004

Jakarta, 27.05.2013

Iklan

One thought on “BUKAN EGOISTIK, TIDAK JUGA ALTRUISTIK

  1. Reblogged this on sariyantotegalrejo and commented:
    Semoga manfaat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s