BUKAN EGOISTIK, TIDAK JUGA ALTRUISTIK

Dr. Saiful Bahri, M.A

Kira-kira apa yang ada dalam benak kita saat mendengar bahwa Nabi Muhammad SAW adalah satu-satunya makhluk Allah yang dipanggil langsung menghadap-Nya? (setelah Musa as yang diperlihatkan dan diajak dialog langsung oleh Allah). Dipanggil menghadap langsung, berarti tanpa perantara. Berhadapan langsung berarti tanpa hijab. Berdialog langsung berarti tanpa penterjemah atau bantuan siapapun. Hanya terjadi antara dua pihak; yang memanggil dan yang dipanggil. Yaitu Allah dan Nabi Muhammad saw. Itulah peristiwa mi’raj yang diyakini kebenarannya oleh umat Islam, dan oleh jumhur ulama dilakukan oleh Nabi saw dengan fisik dan ruhnya sekaligus.

Jawabannya sebenarnya tidaklah seperti demikian yang penulis maksudkan. Namun, ada sudut pandang lain yang perlu dibaca dan ditelaah dengan sangat lembut dan halus. Bagaimana perasaan Nabi Muhammad saw saat itu? Bahagia? Gembira? Takjub? Atau seperti apa? Dan untuk menjawab pertanyaan ini secara teks tentu diperlukan dasar hukum yang kuat berupa hadits shahih yang bisa dipertanggungjawabkan nilainya secara ilmiah.

Tetapi, secara manusiawi –rasanya- kita diperbolehkan menebak bahwa Nabi Muhammad saw sangat berbahagia menikmati momentum langka tersebut. Bersua dan berdialog langsung dengan Dzat yang Serba Maha yang mengutusnya ke bumi. Dzat yang dicintainya sepenuh raga dan jiwa, melebihi apa dan siapa saja. Kebahagiaan atau berbagai kata yang serupa rasanya tepat jika kita alamatkan untuk mendeskripsikan perasaan Nabi Muhammad saw.

Sisi menarik lainnya, bahwa perjalanan Isra Mi’raj tersebut dititahkan Allah pasca wafatnya dua pilar dakwah penting beliau yang sekaligus orang terdekat yang paling dicintainya; istri dan pamannya. Khadijah yang merepresentasikan umat Islam terpandang, dan Abu Thalib sebagai representasi keluarga sekaligus kalangan non muslim yang menghormatinya sekaligus mendukung dakwahnya. Sampai-sampai tahun itu disebut-sebut sebagai “amul huzni” (tahun kesedihan). Yang berarti bukan sekedar kesedihan secara psikologis, faktanya intimidasi dan teror dari kalangan kuffar Quraisy meningkat dan semakin tak terkontrol.

Kenikmatan dan kebahagiaan yang sedang dinikmati oleh Nabi Muhammad saw ternyata tak membuatnya mengajukan sebuah proposal untuk bertahan dalam kondisi saat itu. Beliau tak meminta kepada Allah agar dikekalkan rasa bahagianya, atau diberikan kesempatan untuk melakukan “perjumpaan” langsung dengan-Nya berulang-ulang. Namun, Nabi Muhammad memilih turun kembali ke bumi dan melakukan “perjumpaan” dengan berbagai penderitaan, intimidasi dan teror fisik serta non fisik. Teror psikis pertama yang diterimanya adalah bahwa beliau dituduh semakin gila dengan “gurauan” atau “candaan”nya yang dinilai oleh kuffar Qurasiy. Bagaimana mungkin masuk dinalar manusia seseorang sanggup melakukan perjalanan antara Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsha kemudian diteruskan ke atas langit ke tujuh hingga ke sidratul muntaha hanya dalam waktu yang tak sampai satu malam penuh? Itulah nalar manusiawi yang dipaksakan menerima titah kedigdayaan tanpa batas Sang Maha Pengatur perjalanan tersebut. Seiring dengan ejekan itu tekanan yang dihadapi umat Islam pun makin berat, tetapi semakin menyerap kualitas-kualitas terbaik kader-kadernya.

Itulah sang Nabi yang tidak egois (selfish). Beliau tidaklah hanya mementingkan kebahagiaan diri serta tak hanya berpikir sentralistik. Tetapi beliau juga tidak sedang menjadi pribadi altruistic, yang hanya memikirkan orang lain tanpa memedulikan dirinya sendiri, karena dua sisi ekstrim kepribadian di atas bertentangan dengan misi kenabian beliau. Yaitu pribadi yang “bermanfaat bagi orang lain” sekaligus menjadi “yang terbaik” di antara sesamanya.

Maka hasilnya adalah Muhammad yang bersosok humanis, ramah, mudah dikenal dan berakhlak mulia sebagai cerminan karakter yang tidak egois dan bersentra pada diri sendiri. Demikian juga beliau adalah sosok yang romantis bagi keluarganya. Maka jika disebut sebagai pribadi altruistik sepertinya juga belum tepat. Karena beliau memesankan untuk memikirkan masa depan diri kita juga setelah kelak datangnya kematian. “Orang cerdas [al-kayyis] adalah mereka yang menyiapkan dirinya untuk masa setelah kematiannya”. Dengar pesan-pesan yang diemban beliau; seperti kalam Allah berikut:

Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)-mu sendiri” (QS. Al-Baqarah [2]: 44)

Seandainya boleh mengiaskan kondisi di atas dengan realitas kekinian, hal tersebut juga bisa terjadi dan dialami oleh Bangsa Palestina secara menyeluruh. Apalagi mereka yang hidup di sentrum-sentrum kota al-Quds yang menjadi incaran fisik Zionisme.

Seandainya masalah Palestina hanya merupakan permasalahan tanah, barangkali penyelesaiannya tidaklah serumit seperti saat ini. Bukan mitos atau hanya berupa dongeng kisah-kisah dan cerita pengusiran serta pendudukan ilegal bangsa Zionis terhadap bangsa palestina. Inilah sebuah kenyataan pahit yang terjadi melalui berbagai cara. Dari cara-cara persuasif yang sangat hedonis, cek-cek kosong yang diperuntukkan bagi mereka yang lemah iman dan ekonominya sampai melalui teror dan intimidasi secara fisik dan psikis.

Jika saja diperbolehkan, barangkali bangsa Palestina akan lebih memilih hijrah ke tempat lain dan memulai segalanya yang serba baru dan tenang tanpa konflik dan masalah. Negara-negara tetangga mereka kemungkinan besar siap menampung dan menyediakan sarana tempat tinggal. Atau kalau pun tidak, atas nama kemanusiaan barangkali akan ada negara-negara lain yang siap menampung mereka. Karena secara nominal jumlah mereka juga tidak terlalu banyak jika dibandingkan dengan jumlah keseluruhan penduduk bumi saat ini.

Lalu, alasan apakah yang membuat bangsa Palestina memilih berdarah-darah mempertahankan tanah mereka? Tentu lebih dari sekedar permasalahan tanah. Karena mereka adalah representasi umat Islam yang menjaga situs-situs suci bersejarah seperti Masjid al-Aqsha. Menjaga situs atau tetap memilih bertahan di Palestina tidaklah dimaknai memonopoli tanah dan pendudukan. Karena umat Islam sudah membiasakan diri untuk bertoleransi dan hidup berdampingan secara damai. Jika bangsa Palestina memiliki kesamaan dengan berbagai bangsa lain di dunia ini, mereka adalah representasi orang-orang tertindas yang menjadi asing di negara mereka sendiri. Jika mereka adalah obyek kezhaliman, maka mereka adalah representasi kelemahan tanpa pengacara serta pembela handal dan back up media yang cenderung matrealistik, serta sebagiannya penganut hedonisme. Dan karena “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan” termaktub jelas dalam pembukaan konstitusi UUD 1945 Bangsa Indonesia.

Mereka juga representasi berbagai perbedaan internal yang sengaja diprovokasi untuk terus terjadi dan diupayakan tanpa jembatan kesepahaman serta kesatuan sikap politik atau kebijakan umum. Pada akhirnya sebagai umat Islam yang terwakili saudaranya di Palestina, sudah semestinya berbuat sesuatu untuk bangsa Palestina. Yaitu, merdekakan dari pendudukan ilegal, lindungi dari pengusiran-pengusiran serta provokasi negatif lainnya, serta memperjuangkan kembalinya jutaan orang Palestina yang tersebar di kamp-kamp pengungsi serta di berbagai negara yang ada di belahan dunia lainnya. Sebagian lagi menjadi buronan dengan tuduhan yang menghipnotis jutaan penduduk dunia, sebagai buronan terorisme atau yang mendukung terorisme. Padahal istilah ini dimunculkan untuk mewadai islamophobia dan anti kebangkitan umat Islam yang mulai bergeliat di beberapa tempat.

Kemudian, meski secara geografis kita berada jauh dari Palestina. Maka penentuan sikap kita pun antara tiga pilihan:

–          menjadi pribadi egois dengan pola pikir egosentris yang memikirkan kehidupan pribadi atau keluarga/golongan saja

–          atau menjadi sebaliknya menjadi pribadi altruistik yang fana seolah menjadi pahlawan bagi orang lain sementara lupa memikirkan pengembangan diri sebagai jalan membangun jaringan yang kuat untuk meraih tujuan final

–          atau menggabungkan dua kutub ekstrim di atas?

So, press any key to continue

Catatan Keberkahan 004

Jakarta, 27.05.2013

Bedakan: Marah atau Dizhalimi

• Yuk, Bedakan: Marah atau Dizhalimi •

1. Marah: dilarang lampiaskan oleh Nabi berkali2, jauhi dengan duduk jika berdiri. Berbaring kalau sdg duduk. Berwudhu agar dinginkan hati

2. Marah: akibatkan sesal, buat diri berada di luar orbit kontrol, cenderung cari pelampiasan. Jauhikan diri dari orbit & sebab kemarahan.

3. Marah: jauhi dengan berkumpul org2 sabar yangg cerdas, org2 solih yang kuat, org2 jujur yang berani, org2 tawadhu yang tak henti bekerja

4. Marah: jauhkan dg istighfar & introspeksi, carilah dlm diri esensi cinta kebenaran & misi dakwah bil hal serta jaka sikap

5. Marah: bisa sebabkan jatuhkan harga diri, karena ekspresi kata & suara yang melebihi kewajaran & standar kesantunan yang biasanya

6. Biasanya orang yang marah mendekatkan diri (wajah)nya sambil angkat atau kepalkan tangannya serta naikkan volume kata-kata.

7. Karena ia makin jauh dengan subyek/sumber kemarahannya. Padahal secara fisik ia malah mdekatkan diri. Seharusnya dibalik saja kondisinya.

8. Jauhkan fisik & alam fikir kita dr penyebab kemarahan. Jangan ubah sebab marah jd obyek marah. La taghdhob x3 kata Nabi.

9. Marah bs ubah persepsi & jati diri: Alim >Bodoh, Arif >Kasar, Sejuk >Sangar, Cerdas > Tak berkutik, Menyenangkan > menakutkan/menyebalkan

10. Rasul SAW tak melarang marahnya, tp pelampiasannya. Sabda beliau, “Hebat itu bukan dg kekuatan, tapi org yg menahan diri ketika marah”

11. Jadi marah itu manusiawi, natural, normal. Tapi yg membedakan kualitasnya adalah pelampiasannya. Mukmin sejati atau abal-abal.

12. Saatnya alirkan kemarahan jd energi-energi lain yang hebat. Progresif. Inspiratif. Tidak dibuat-buat apalagi memaksakan diri.

13. Ubahlah marah jd keberanian untuk sampaikan kebenaran. Maka diperlukan kekuatan mental yang baik & dukungan bukti-2 serta fakta.

14. Jika harus merasa lemah, jadilah hamba yg lemah terzhalimi di hadapan Sang Maha Kuat dan Perkasa, Sang Pemaksa dan Penakluk siapa saja.

15. Jika berhasil, itulah kunci serba bisa yg buka pintu2 langit menganga selebar-lebarnya. Tanpa hijab & penghalang dg Dzat serba maha.

16. Mintalah apa saja. Apa yg diingini oleh orang lemah yg terzhalimi. Tanpa pembela. Tiada pendukung. Tiada penjaga apalagi kawan setia.

17. Ajaklah sbanyak mungkin org demikian. Mukmin yg cerdas mampu kontrol diri. Sehingga masih bisa gunakan akal sehat & jernihnya pikiran.

18. Hati tempat ia minta fatwa pun tak terganggu gelombangnya. Sehingga ia bisa cepat dapatkan akses & jawaban dari kegundahan2nya.

19. Setelah ini sebaiknya bertanya terlebih dulu pd diri sendiri sblm ajukan pinta: “apakah sedang marah ataukah jd hamba lemah terzhalimi”.

20. Dia tak pernah menjauhi hamba-Nya yg lemah. So.. Press any key to continue… 

Saiful Bahri
@L_saba

TERSEDIA: TUJUH PULUH RIBU TIKET

Di bulan Rajab ini, Umat Islam mengenang sebuah peristiwa penting yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW; yaitu peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Peristiwa ini dikenal sebagai sebuah perjalanan malam yang dilakukan Nabi Muhammad SAW atas izin dan titah Allah, memenuhi panggilan-Nya ke Sidratil Muntaha untuk selanjutnya menerima perintah mendirikan shalat wajib lima waktu secara langsung, tanpa perantara siapa pun.

Masjid al-Aqsha merupakan salah satu tempat penting yang disinggahi oleh Nabi Muhammad SAW dalam perjalanan ini. Beliau pun menyempatkan shalat di sana. Ada yang mengatakan bersama para nabi pendahulu dan beliau didapuk sebagai imam shalat. Sebagian pendapat mengatakan peristiwa tersebut terjadi di langit setelah meninggalkan Masjid al-Aqsha. Setelah itu beliau diperlihatkan banyak hal dalam perjalanan. Di antara peristiwa  tersebut seperti penuturan para perawi hadits di bawah ini.

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم: عُرِضَ عَلَيَّ الأَنْبِيَاءُ بِأُمَمِهَا وَأَتْبَاعِهَا مِنْ أُمَمِهَا، فَجَعَلَ النَّبِيُّ يَمُرُّ وَمَعَهُ الثَّلاَثَةُ، وَالنَّبِيُّ يَمُرُّ وَمَعَهُ الْعِصَابَةُ مِنْ أُمَّتِهِ… فَقُلْتُ: يَا رَبِّ، مَنْ هَذَا؟ فَقَالَ: هَذَا أَخُوكَ مُوسَى بْنُ عِمْرَانَ وَمَنْ تَبِعَهُ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ، فَقُلْتُ: يَا رَبِّ، فَأَيْنَ أُمَّتِي، قِيلَ: انْظُرْ عَنْ يَمِينِكَ، … قُلْتُ: مَنْ هَؤُلاَءِ؟ قِيلَ: هَؤُلاَءِ أُمَّتُكَ، هَلْ رَضِيتَ؟ قُلْتُ: نَعَمْ قَدْ رَضِيتُ، قِيلَ: انْظُرْ عَنْ يَسَارِكَ، … فَقُلْتُ: يَا رَبِّ، مَنْ هَؤُلاَءِ؟ قِيلَ: هَؤُلاَءِ أُمَّتُكَ، قُلْتُ: نَعَمْ يَا رَبِّ، رَضِيتُ، قِيلَ: فَإِنَّ مَعَ هَؤُلاَءِ سَبْعِينَ أَلْفًا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ فَأَنْشَأَ عُكَّاشَةُ بْنُ مِحْصَنَ أَخُو بَنِي أَسَدٍ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ، فَقَالَ: اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ مِنْهُمْ فَأَنْشَأَ رَجُلٌ آخَرُ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ، فَقَالَ: سَبَقَكَ بِهَا عُكَّاشَةُ بْنُ مِحْصَنْ قَالَ: وَذَكَرَ لَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم فَقَالَ: فِدَاكُمْ أَبِي وَأُمِّي إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَكُونُوا مِنَ السَّبْعِينَ فَكُونُوا

Artinya:

Nabi Muhammad SAW bersabda: Diperlihatkan kepadaku para Nabi beserta umat dan pengikut mereka. Ada yang bersama tiga orang –saja-. Ada seorang nabi bersama sekelompok kaumnya yang banyak… Aku bertanya: Ya Tuhanku, siapa ini?, Dia berkata: Ini saudaramu, Musa bin Imron dan pengikutnya dari Bani Israil. Aku berkata: Ya Tuhanku, dimanakah umatku. Maka dijawab: lihat sebelah kananmu… Aku bertanya: Siapa mereka? Dijawab: Mereka adalah umatmu. Aku menjawab: Ya, Wahai Tuhanku, aku ridha. Kemudian dikatakan: Lihatlah sebelah kirimu, … Aku bertanya: Ya Tuhanku, siapakah mereka? Dijawab: Mereka adalah kamumu. Aku berkata: Ya, Wahai Tuhanku, aku ridha. Dikatakan: sesungguhnya di antara mereka terdapat tujuh puluh ribu orang yang memasuki surga tanpa hisab. Maka tiba-tiba Ukasyah bin Mihshan berdiri dan mengatakan: Wahai Rasulullah berdoalah kepada Allah supaya aku termasuk di antara mereka. Maka Rasul berdoa: Ya Allah jadikanlah ia termasuk di antara mereka. Maka berdirilah laki-laki lain dan berkata: Wahai Rasulallah berdoalah kepada Allah agar aku termasuk di antara mereka. Rasul menjawab: Ukasyah bin Mihshan telah mendahauluimu. Kemudian Rasulullah SAW bersabda: Demi Allah, jika kalian mampu untuk menjadi di antara tujuh puluh ribu tersebut, lakukanlah!” (Imam Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i dan al-Baihaqi meriwayatkan dari sahabat Ibnu Abbas ra.), sedangkan (Imam Ahmad, Ibnu Hibban, al-Hakim, Abu Ibnu Abi Syaibah, Al-Hakim, Abu Dawud ath-Thayalisy meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud ra.)*

Yang menarik untuk dianalisis dari hadits di atas adalah bahwa Nabi Muhammad SAW diberitahu oleh Allah, ada segolongan umat beliau yang akan memasuki surga-Nya tanpa didahului dengan hisab (penghitungan amal dan pengadilan). Yaitu sejumlah tujuh puluh ribu orang.

Yang kedua, inisiatif sahabat Ukasyah yang bergegas memesan “tiket” tersebut dengan mengajukan permohonan supaya Nabi Muhammad SAW berkenan mendoakannya.

Di dalam riwayat Imam Bukhari bahkan disebutkan ciri-ciri umat Nabi Muhammad SAW yang memenangi “tiket” langsung ke surga, yaitu (هم الذين لا يسترقون ولا يتطيرون ولا يكتوون وعلى ربهم يتوكلون) artinya: “mereka yang tidak meminta orang lain menyembuhkan penyakitnya dengan mantra-mantra sesat, mereka juga tidak meyakini ramalan-ramalan (dukun), tidak juga melakukan penyembuhan dengan api”. Tetapi mereka memiliki karakter keyakinan yang kuat dan berfondasi kokoh. Dan hanya kepada Allah mereka bertawakkal dan menyerahkan urusannya. Meskipun hal tersebut tidak berarti menghentikannya mengeluarkan usaha maksimal dalam setiap perbuatan.

Sedikit atau Banyak?

Pertama, jumlah tujuh puluh ribu untuk umat nabi akhir zaman secara keseluruhan sangatlah sedikit. Jika kita bandingkan saja jumlah tokoh sahabat dengan jumlah keseluruhan umat Islam pada saat Nabi Muhammad SAW meninggal maka perbandingannya juga tidak terlalu besar. Menurut perkiraan seorang pakar hadits, Abu Zur’ah ar-Razy, jumlah sahabat Nabi Muhammad SAW secara keseluruhan, laki-laki dan perempuan diperkirakan mencapai angka seratus empat belas ribu (114,000) orang. Di antaranya terdapat tokoh-tokoh sahabat. Ukuran pastinya yang memiliki riwayat hadits, yaitu berjumlah sembilan ribu empat ratus tujuh puluh delapan (9,478) orang, menurut Ibnu Hajar al-Asqalany dalam bukunya al-Ishâbah fî Tamyîz ash-Shahâbah atau sebesar 8,3 % dari keseluruhan sahabat. Kualitas tokoh sahabat ditentukan dari dua pokok penilaian pakar hadits. Yaitu moralitas dan ke-beragama-an (‘adâlah) dan kecerdasan (dhabth). Dua padu tersebut akan mengantarkan pada sebuah kekuatan dan kejayaan umat Islam di era awal. Dan seperti itulah terbukti kualitas sahabat Nabi Muhammad SAW yang memiliki obsesi berdakwah lintas teritorial dan tak hanya diukur dengan usia mereka. Maka jumlah tujuh puluh ribu tersebut secara konten juga senada dengan permasalahan Palestina. Bila dilakukan dengan pendekatan ideologis, dari satu milyar lebih umat Islam jika dipersentasekan 8,3 % maka seharusnya minimal ada delapan puluh tiga juta (83,000,000) orang menarik gerbong pembebasan Palestina. Dari angka tersebut sepertinya jumlah yang tidak terlalu banyak. Tapi dari kenyataan di lapangan, orang-orang yang tahu permasalahan Palestina juga tidak bisa dikatakan sangat banyak. Dari jumlah orang yang tahu, maka persentase yang peduli dan empati juga semakin kecil. Dari jumlah ini akan semakin mengecil bila dikaitkan lagi dengan langkah-langkah dan aksi nyata yang dilakukan untuk memerdekakan atau mendukung kemerdekaan Palestina sebagai sebuah negara yang berdaulat. Dan akan semakin menyusut bila dihubungkan dengan efektifitas aksi serta pengaruh yang ditimbulkan.

Belum lagi jika kita menggunakan pendekatan humanis. Maka diperkirakan saat ini jumlah penduduk dunia sudah melampaui angka tujuh milyar jiwa. Pada bulan Agustus 2011 lalu Biro Sensus Amerika, International Data Base (IDB) merilis update jumlah penduduk dunia; yaitu 6,952,939,682 (enam miliar sembilan ratus lima puluh dua juta sembilan ratus tiga puluh sembilan ribu enam ratus delapan puluh dua) jiwa. Maka, diperlukan setidaknya angka 581,000,000 (lima ratus juta delapan puluh satu ribu) jiwa. Atau kalau untuk ukuran negara dari 192 negara anggota PBB atau 194 negara versi USA maka setidaknya diperlukan enam belas negara kuat untuk mengawal sekaligus memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Dan untuk Indonesia yang berpenduduk 237,556,363 (masih menurut sumber yang sama) maka setidaknya diperlukan 19,717,178 (sembilan belas juta tujuh ratus tujuh belas ribu seratus tujuh puluh delapan), dengan pendekatan seperti di atas.

Pribadi Inisiatif dan Inspiratif

Kedua, Inisiatif Ukasyah yang segera berdiri meminta doa Rasul SAW agar termasuk satu di antara tujuh puluh ribu orang di atas merupakan inisiatif cerdas, cepat, dan tepat. Dengan sendirinya hal ini menandai kecerdasan dan kecekatan beliau sekaligus menegaskan posisi beliau di hadapan para sahabat yang lainnya. Bahkan sikapnya ini menginspirasi orang lain untuk melakukan hal yang serupa, meskipun dalam konteks ini (di majelis tersebut) hanya Ukasyah yang mendapatkannya. Tetapi tidak dipungkiri kecekatan respon Ukasyah membuka cakrawala berpikir orang lain. Inilah yang diperlukan saat ini untuk membebaskan (kembali) Masjid al-Aqsha dan Palestina.

Dengan atau tanpa kita, cepat atau lambat Masjid al-Aqsha dan Palestina akan terbebaskan. Maka menjadi jalan pembebasan al-Aqsha adalah pilihan. Kesungguhan, kegigihan, keuletan dan disertai dengan kepiawaian diplomasi, hubungan internasional serta sebab-sebab lainnya yang membedakan antara seorang pejuang atau pecundang. Sang pejuang tak lekang dengan tantangan atau ancaman. Semencara sang pecundang memilih hidup damai dan tenang, mencukupkan diri hanya dengan mengamankan kepentingan pribadi dan golongan tanpa kepedulian terhadap orang-orang terzhalimi dan berada di dalam jeruji kelaliman.

Menguji Keyakinan dan Kesungguhan Tawakkal

Ketiga, dalam hadits riwayat Bukhari ditegaskan karakteristik orang-orang yang meraih “tiket” langsung masuk surga adalah keutuhan dan kebulatan akidah mereka. Yaitu terletak pada pemaknaan dan implementasi “tawakkal” kepada Allah. Orang yang yakin pada janji Allah akan menjadikannya sebuah doktrin yang lekat dengan diri, kepribadian dan karakter hidupnya. Bahkan ia sanggup menyalurkan kekuatan energi tawakkal tersebut pada seluas-luas masyarakat di sekelilingnya serta generasi sesudahnya. Ia tak berpikir egois karena ia tahu hidupnya berbatas ajal dan usia, namun cita-cita dan obsesinya mampu bertahan hidup setelah jasadnya dikubur dalam tanah.

Jika menggabungkan dengan tiga catatan di atas maka akan menghasilkan kesimpulan bahwa jumlah yang sedikit tetapi memiliki inisiatif, kecerdasan dan kecekatan serta dilengkapi dengan “bulatnya” tawakkal dan keyakinan pada Allah maka pembebasan Al-Quds dan Palestina tidaklah terlalu jauh berjarak dengan kita yang mau berusaha meraih karakter-karakter di atas. Apalagi dari orang-orang yang memiliki kejernihan nurani serta anti kezhaliman. Bukankah ending kezhaliman selalu dituturkan zaman dan sejarah merekamnya dengan baik? Bahkan sebagian besar merupakan kejutan-kejutan unpredictable. Namrudz di Babilonia yang iconic dengan kezhaliman dan kesombongan, hidupnya berakhir “hanya” karena nyamuk yang dititahkan memasuki hidungnya. Fir’aun, Sang Durjana Pengaku Tuhan, lunglai tenggelam di laut merah tanpa daya. Abu Jahal, si mulut besar yang angkuh ajalnya berakhir di tangan dua orang anak kecil, Muadz dan Muawidz, ia tak tewas di tangan jagoan seperti Hamzah, misalnya. Bahkan Allah mengirim Musa kecil yang tak berdaya di tengah episentrum kekuasaan yang kejam. Di saat Firaun menyebar kezhaliman, kenebar kekejian, ia bahkan lupa memproteksi dirinya dari dalam. Allah lah yang merekayasanya demikian. Semuanya tampak rapuh di depan ke-maha-annya yang unlimited.

Bersegeralah meraih tiket langsung tersebut. Bersegeralah menjadi yang terdepan berinisiatif kebaikan. Bersegeralah menjadi inspirasi bagi orang lain. Bersegeralah karena waktu kita terbatas dan tak banyak. Bersegeralah karena Allah selalu menyeru demikian.  “Dan bersegeralah kamu…” (QS. Ali Imran: 133), “Maka berlomba-lombalah…” (QS. Al-Baqarah: 148, QS. Al-Mâ`idah: 48), “Berlomba-lombalah kamu…” (QS. Al-Hadîd: 21), “Maka berlarilah…” (QS. Adz-Dzâriyât: 50) “…dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (QS. Al-Muthaffifîn: 26)

 SAIFUL BAHRI

Catatan Keberkahan 003

Jakarta, 13.05.2013

*) Hadits di atas dengan berbagai riwayatnya adalah shahih. Hanya saja riwayat yang menjelaskan secara khusus peristiwa tersebut terjadi di malam Isra’, sebagaian ahli hadits menilainya dhaif (lemah) karena figur ‘Abtsar bin al-Qasim. Tetapi Tirmidzi menegaskan di akhir periwayatannya -seperti biasa- dengan mengatakan: “Ini hadits hasan shahîh”.

lihat juga: http://www.aspacpalestine.com/id/item/427-tersedia-tujuh-puluh-ribu-tiket

ORBIT KEBERKAHAN

Al-Aqsha

Keberkahan yang dikukuhkan Allah dalam ayat-Nya, “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami.” (Al-Isra’: 01)

Ibnu Jarir ath-Thabary menafsirkan keberkahan di atas dengan “negeri yang dikelilingi keberkahan bagi penduduknya, dalam aktifitas kehidupan, makanan serta tanaman-tanaman mereka”. Sementara Ibnu Katsir setelah menjelaskan letak Al-Masjid Al-Aqsha, beliau menafsirkan keberkahan meliputi buah-buahan dan tanam-tanaman yang ada di dalamnya.

Hadits dan Astar keberkahan negeri sekitar Masjidil Aqsha ini cukup banyak, di antaranya yang diriwayatkan oleh Abu al-Hasan ar-Rab’iy dalam Buku “Fadha’il Asy-Syam wa Dimasyqa” [h. 37] mengabadikan perkataan Abu Sallam al-Habsyi, “Sampai kepadaku [kabar] bahwa keberkahan di dalamnya dilipatgandakan”. Rasulullah Saw pernah berdo’a untuk negeri Syam, “Ya Allah berkahilah negeri Syam, berkalihah negeri Yaman” (HR. Bukhari, Tirmidzi dan Ibnu ‘Asakir). Nabi juga menerima isyarat lewat mimpinya bahwa negeri ini akan ditimpa fitnah sebagaimana fitnah tersebar di mana-mana tetapi iman akan tetap bercokol di dalamnya (lihat hadits riwayat Abdullah bin Amr bin Ash. HR Hakim dalam Mustadrak, Abu Nu’aim dalam al-Hilyah, juga Ibnu Asakir, al-Baihaqi dan Thabrani)*.

Secara fisik, keberuntungan yang disebut al-Quran serta beberapa hadits dan atsar di atas serta masih banyak lagi sebagai “keberkahan” yang diturunkan Allah di sekitar Masjid al-Aqsha tentu sulit dicapai. Salah satu caranya adalah dengan menjadi penduduk Syam, tinggal di sana atau beraktivitas di sana atau setidaknya berkunjung ke sana.

Namun, bisa jadi keberadaan fisik ini malah menimbulkan sesuatu yang kontra, karena tak sedikit orang-orang yang ada di sana, justru menjadi sumber berkurangnya keberkahan fisik. Karena perlakuan-perlakuan zhalim, sikap-sikap yang berlawanan dengan keterangan Allah dan Rasul-Nya. Terjadi penindasan, perlakuan dehumanisasi para penduduknya, kekerasan yang ditimbulkan dan sebagainya membuktikan bahwa keberkahan yang diturunkan Allah di sekitar masjid ini tak bisa dinikmati –bahkan- oleh orang yang berada secara fisik di dekatnya. Karena tafsiran “alladzî baraknâ haulahû” ternyata tidak serta merta berbentuk fisik yang berarti batas teritorial tertentu.

Para ulama dan pakar sejarah dari kalangan umat Islam telah banyak yang memformulasikan dan mendefinisikan secara geografis makna wilayah keberkahan di atas dengan Negeri Syam dengan sandaran-sandaran dalil hadits dan atsar. Pembicaraan tentang itu mungkin tidak dibahas dalam tulisan kali ini.

Penulis mencoba membuka makna keberkahan non geografis yang mungkin bisa dicapai oleh orang-orang yang berada jauh secara fisik dari Masjid al-Aqsha. Oleh beberapa ulama, terutama al-Maqdisiyyin (yang bermukim di kota al-Quds) menafsirkannya dengan berbagai upaya dan usaha untuk menjaga Masjid al-Aqsha sebagai bentuk usaha mencapai keberkahan Allah.

Artinya, pikiran, tulisan, aktivitas, harta benda dan segala yang ada; jika diarahkan untuk menjaga Masjid al-Aqsha, bukan tidak mungkin justru keberkahan Allah yang menghampiri kita. Apalagi saat ini Masjid al-Aqsha terancam secara fisik. Masjid ketiga yang disarankan Nabi Muhammad SAW untuk dikunjungi ini rawan dihancurkan, wilayah fisiknya didistorsis dengan penyelewengan fakta sejarah, penduduk-penduduk aslinya diusir dan dipenjara, pelan namun pasti tanah-tanah yang ada di sekitarnya diduduki dengan paksa dan ilegal, sementara dunia Internasional menutup mata. Jika pun ada simpati baru sekedar melalui pernyataan dan kecaman saja. Padahal secara sah, wilayah al-Quds merupakan wilayah netral yang tidak diberikan kepada pihal Israel maupun otoritas Palestina. Namun, pada kenyataannya wilayah yang hanya 0,5 % dari keseluruhan wilayah Palestina ini dikooptasi oleh Israel.

Jika demikian keterpanggilan kita pada permasalahan Masjid al-Aqsha akan menarik kita dalam orbit keberkahan. Jika dua puluh dua negara yang berada dalam wilayah Asia Pasifik pada sensus 2011 berpenduduk 2,199,850,085, kira-kira berapa persen dari umat Islam yang terpanggil oleh orbit keberkahan di atas. Jika menggunakan pendekatan yang lebih humanis maka pemutarbalikan fakta dan penghancuran situs yang dilindungi dan disucikan termasuk di dalamnya pembersihan etnis, adalah musuh kemanusiaan. Maka menjadi kewajiban setiap kita untuk mengkampanyekan pembebasan Palestina. Jika dengan pendekatan ideologis, maka sangat wajar pusaran orbit keberkahan bisa dijadikan salah satu bahan persuasif. Jika melalui pendekatan kemanusiaan, maka tindakan kekerasan, pengusiran termasuk ancaman langsung terhadap al-Quds dan penduduknya bisa dijadikan alat pemersatu untuk mengakhiri penjajahan dan pendudukan.

Nada sumbang yang disosialisasikan adalah kekhawatiran pihak “non muslim” jika Umat Islam kembali ke Palestina. Padahal sejarah menuturkan bahwa masyarakat heterogen pernah dan selalu hidup berdampingan di sekitar Bait al-Maqdis secara damai dan bersahabat di bawah pemerintahan Umar bin al-Khattab dan Shalahuddin al-Ayyubi. Meski pula sejarah mencatat selalu ada pertempuran sengit antara kebenaran dan kebatilan, nafsu serakah dan kejernihan, kezhaliman dan ketertindasan,

Jika Israel mengerahkan para pakar Yahudi di berbagai negara dengan berbagai latar belakang bahasa dan kepakaran untuk mencapai ambisinya menjadikan al-Quds (Jerussalem) sebagai ibukota Israel Raya, maka seharusnya Umat Islam mampu menjadikan Bait al-Maqdis sebagai magnet yang menarik seluruh bangsa dan kaum Muslim untuk berada dalam orbit keberkahan, melindungi Masjid al-Aqsha. Sekaligus lebih lantang lagi menyedot perhatian dan pembelaan masyarakat internasional bahwa tindakan ilegal pendudukan, pengusiran, penawanan dan berbagai aktivitas brutal lainnya terutama untuk wilayah al-Quds dan penduduknya, harus segera dihentikan dan para pelakunya dihukum dengan setimpal.

Hadirkan orbit-orbit keberkahan di rumah-rumah kita, kantor-kantor kita, kampus-kampus kita, sekolah-sekolah kita, surau-surau dan masjid kita, majelis-majelis taklim kita, sosial media kita, media masa elektronik dan cetak. Bahkan anggota badan kita, mata, telinga, mulut dan indera-indera lainnya memungkingkan untuk mendapatkan sentuhan keberkahan tersebut. Maka, dalam munajat dan alunan-alunan doa sudah semestinya tak terlewatkan untuk permohonan pembebasan Masjid al-Aqsha, orbit keberkahan yang dinantikan oleh banyak orang.

Dr. Saiful Bahri, M.A

(Ketua Asia Pacific Community for Palestine)

Catatan Keberkahan 002

Jakarta, 06.05.2013

*) Keterangan-keterangan di atas dapat dijumpai dalam Mausu’ah Bait al-Maqdis wa Bilad asy-Syam al-Haditsiyah, (Ensiklopedi Baitul Maqdis dan Negeri Syam Modern) terbitan Markaz Bait al-Maqdis li ad-Dirasat at-Tautsiqiyah di Nicosia, Cyprus, Cet. 1, 1434 H – 2013 M

Lihat >> http://www.aspacpalestine.com/id/item/403-orbit-keberkahan

Kultwit Sabar Unlimited

1. #Sabar itu tiada berbatas, tiada pula limitnya. Tapi manusia sering mengklaim itu. Sejatinya ia yg tak sisakan ruang sabar lagi dlm dirinya

2. Jika ada org coba mancing kualitas #sabar kita, berdoalah spy masih terus ada ruang dalam diri kita utk menampungnya. Bahkan menambahnya

3. Tapi #sabar tak ada kaitannya dg diam terhadap kezhaliman. Diam thdp kebathilan. Bungkam thdp show kebohongan, fitnah, & sandiwara fakta

4. Ibu Musa as setelah sedih, kmd #sabar sesuai arahan Allah. Ia pun bereaksi dg mengutus kakak Musa. Inilah kegigihan usaha memonitor Musa

5. Ibu Musa tak menyerah melawan kezhaliman. Bahkan ia dpt kembali mengasuh Musa dg tenang. Plus upah dr kerajaan. Buah #sabar luar biasa.

6. Sebagian persepsikan #sabar ,qana’ah, tawakkal dg krg tepat. Ke3nya seolah padu dg kelemahan atau sama dg “menyerah” padahal tak demikian

7. #Sabar nya Nuh as. Selama 950 adl full action, totalitas amal, ikhlas & never give up. Itulah kenapa Nuh sgt ikonik dg kesabaran.

8. Bahkan 2 org terdekatnya: istri & anak lelakinya tak ikut dlm kafilah dakwahnya. Keduanya ditelan air bersama keangkuhan & sombongnya.

9. Ayyub as. yg #sabar dg ujian Allah kembali menuai hasil yg tak disangka-sangka. Kekayaan & bahagianya dijelmakan kembali padanya.

10. Aisyah yg diserang dusta shg Madinah terkepung fitnah perselingkuhan.Ia tak menyerah. Meski ia malu muluk2 brharap pd kearifan Ar-Rahman

11. Hanya satu pintanya: Allah buktikan dirinya tak sekotor tuduhan & fitnah org2 munafik.Sekedar pembebasan dr-Nya. Tp Allah bkehendak lain

12. Allah turunkan penyucian jiwa & namanya dlm rangkaian kalam2 suci-Nya yg terabadikan spanjang masa.Umat Islam terlepas dr fitnah murahan

13. Lihat pula Yusuf as yg harus #sabar mndekam dlm penjara tahunan lamanya. Ia tak mati di dlmnya. Bahkan disulapnya mjadi pelataran surga.

14. Padahal ia dijebloskan didalamnya dgn rekayasa kesalahan yg tanpa bukti. Bahkan tanpa didahului persidangan & pembelaan. #sabar

15. Yusuf yg #sabar tanpa siapa-2 yg bisa melindunginya, bbrp tahun kmd menjelma jd org yg dicari2 istana karena keahlian & kesantunannya.

16.Ia jadi org penting di Mesir skaligus juru slamat rakyatnya yg dtimpa paceklik.Ia tak dendam dg org2 yg zhaliminya.Tp ia berbuat. #sabar

17. Perhatikan pula sikap #sabar Nabi Saw hadapi teror Kuffar Quraisy. Beliau tak diam, bahkan sempat cari suaka ke Thaif meski dizhalimi jg

18. Saat Fathu Makkah beliau perbanyak tasbih & istighfar utk kukuhkan #sabar nya yg berbuah. Dg kebesaran jiwa beliau bersabda “pergilah..”

19. “Pergilah,kalian bebas” (Idzhabu wa antumuththulaqo’). Maka sirnalah dendam&pusaran sejarah ms lalu. Abu Sufyan pun meresponnya #sabar

20. Klrgnya peluk Islam tnp paksa. Ia pun mengubah gy hidupnya,”sjk saat ini tak terpikir olehku berbuat salah lagi”. Energi #sabar Nabi Saw

21. Abu Sufyan bahkan telah siapkan liang lahat untuknya. Meski ia blm mau mati saat itu, masih bnyk cara tuk perbaiki sejarahnya. #sabar

22. Imam Syafi’i yg #sabar dlm keterbatasannya, bsama ibunya ia jejak jalan2 ilmu diberbagai negara. Shg Allah muliakan & angkat derajatnya.

23. Sdg Ibrahim as.jgn tanya kualitas #sabar nya.Bpisah dg belahan jiwa&buah hati.Stl itu dituntut berkorban tuk buktikan totalitas cintanya

24. Bg yg pernah alami spt itu br terasa beratnya. Tak spt yg dibygkan mrk yg blm merasakannya. Yg kdg hny nilai tampilan lahirnya. #sabar

25. Mau tahu hasilnya?Ending org2 #sabar d atas: Muhammad Saw, Nuh, Yusuf, Ibrahim, Ibu Musa, Ayyub, Imam Syafi’i. Allah muliakan mereka.

26. Melebihi perkiraan & sangkaan siapa saja, bahkan oleh para pelakunya. Karena reward utk org2 yg #sabar sangat unlimited (Az-Zumar: 10)

27. Karena dimensi #sabar jg unlimited. Dipakai siapa saja dan dalam kondisi apa saja, serta di mana saja. Berhadapan dgn apa & siapa pun.

28. #sabar dalam bertahan pd nilai kebaikan: berusaha konsisten (istiqomah) dg memperluas gelombang pengaruhnya selebar-lebarnya.

29. #sabar dlm tinggalkan maksiat: walau sehebat apapun godaan & rayuan gombal serta jebakan2nya. Di lakukan oleh siapapun,dlm bentuk apapun

30. #sabar saat musibah: dgn terima putusan takdir meski sgt manusiawi diperbolehkan sedih yg tak berlebihan dg berbagai ekspresinya.

31. #sabar saat dserang dusta & fitnah bertubi-2: dg tawakal pd Dzat yg serba maha,dsertai usaha bersihkan diri dg bukti2&dukungan manusiawi

32. #sabar saat sampaikan kebaikan: dg tawakal pd Sang Pemilik Cinta disertai usaha tebarkan damai, cinta, keteladanan,keramahan & kerjasama

33. #sabar di saat jauh dr keluarga & org2 yg pahami: dg silaturahmi, tambah sahabat, jaringan & perbanyak amal yg berguna bagi sesama.

34. #sabar saat dicela/dipuji, disalahpahami/memahami,saat tersesat jln,saat bumi terasa sempit, saat dizhalimi, saat diremehkan/dilebih2kan

35. #sabar saat letih, saat merasa lemah, merasa gundah, saat ingin marah, atau tak tahu mau berbuat apa, serta dlm berbagai kondisi lainnya

36. Kesimpulannya: jika ada yg mcoba uji stok #sabar kita, siapa saja/kondisi apapun. Jwb & buktikan bhw #sabar kita unlimited karena 1 hal.

37. Ada Dzat yg selalu suply stok #sabar kita. “Innallaha ma’ash-shobirin” (Allah bsama org2 penyabar). So never ending, never give up…

38. Dan nikmati janji Allah tanpa ragu dgn unlimited rewards… Sebagaimana cinta & rahmat-Nya yg tak berbatas. Bagi siapapun.. #sabar

Saiful Bahri
@L_saba
Ahad, 05.05.2013