Fikih Keluarga 01: Ketika Datang Saatnya Memilih

KETIKA DATANG SAATNYA MEMILIH

Saiful Bahri

Menentukan pasangan hidup adalah salah satu periode penting dalam kehidupan. Menikah bukan sekedar memperturutkan hawa nafsu atau menyalurkan kebutuhan biologis, tapi sebuah periode ibadah dalam hidup seseorang yang mesti dirancang dan diniatkan dengan baik. Meski nantinya tidak seideal yang dibayangkan, tapi idealisme itu bisa didekatkan dengan mendekatkan visi antar individu yang terlibat pernikahan. Karena pernikahan yang terjadi tidaklah (hanya) antar dua individu. Tapi menyatukan juga dua keluarga, dua suku/bangsa, dan dua lingkungan yang berbeda. Jodoh yang dicari juga bukan orang yang terbaik, tapi orang yang tepat yang telah disediakan oleh Allah.

Meski jodoh adalah rahasia Allah, kita tetap saja diwajibkan berikhtiar untuk mencarinya. Setelah mendapatkannya kita mesti menyukurinya dengan maksimal dan memaksimalkan peran masing-masing dalam keluarga.

Setidaknya ada beberapa alasan mengapa seseorang menempuh sebuah periode baru dalam hidupnya dengan menikah.

Pertama, merupakan sunnah Allah yang menjadikan segala sesuatu serba berpasang-pasangan. Firman Allah, (وَمِن كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ) “Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah.”(QS. Adz-Dzâriyat [51]: 49)

Kedua, menadabburi sekaligus menjadi salah satu tanda kebesaran Allah yang sanggup menyatukan dua orang dengan banyak perbedaan; jenis kelamin, latar belakang, kecenderungan dan kebiasaan serta yang lainnya. Hanya Allah lah yang sanggup menyatukannya. (baca QS. Ar-Rum [30]: 21)

Ketiga, menghidupkan sunnah Rasulullah SAW. Diriwayatkan dalam hadis dari Anas bin Malik ra., bahwa ada tiga orang sahabat mendatangi rumah Rasulullah SAW bermaksud menanyakan ibadah beliau kepada para istri Nabi SAW. Mereka merasa belum seberapa dibanding Rasulullah yang telah diampuni dosanya. Maka orang pertama berkata, “Aku akan shalat semalaman selamanya”, orang kedua berkata, “Aku akan puasa sepanjang waktu (setiap hari)”, orang ketiga berkata, “Aku akan menjauhi perempuan dan takkan menikah selamanya”. Kemudian datanglah Rasulullah SAW dan bersabda:

“أنتم الذين قلتم كذا وكذا؟ أما والله إني لأخشاكم لله وأتقاكم له، لكني أصوم وأفطر، وأصلي وأرقد، وأتزوج النساء، فمن رغب عن سنتي فليس مني”.

Apakah kalian yang mengatakan ini dan itu? Adapun aku –demi Allah- adalah orang yang paling takut Allah di antara kalian dan orang paling bertakwa, tapi aku puasa dan berbuka, aku shalat dan tidur, dan aku menikahi perempuan. Barangsiapa yang tidak menyukai sunnahku bukanlah termasuk golonganku” (HR. Bukhari Muslim)

Meskipun nantinya hukum pernikahan akan berbeda antara seseorang dengan lainnya (bisa wajib atau sunnah, makruh atau bahkan haram; tergantung kondisi masing-masing) tetapi secara umum menikah adalah anjuran dan sunnah Rasulullah SAW.

Keempat, menjaga mata dan kehormatan. Dengan menikah, seseorang selaiknya lebih mudah menjaga kehormatannya. Menikah adalah satu-satunya penyaluran gharizah biologis yang aman, bermartabat dan bahkan bernilai ibadah. Dengan itu seseorang akan terbantu menjaga mata. Karena mata adalah pintu masuk syetan. Dan siapa saja yang sanggup dengan baik menjaga matanya, niscaya terbantu menjaga kemaluannya. Maka ia tak perlu meliarkan mata dan keinginannya. Karena ia telah mencukupkan karunia yang diberikan Allah padanya melalui pasangan hidupnya.

Perbedaan fisik antar pernikahan dan perzinahan sangatlah tipis. Saat terjadi prosesi akad nikah yang beberapa detik saja, mengubah status hubungan dua orang manusia berbeda jenis kelamin menjadi pasangan sah. Karena agama Islam sangat menghargai kata-kata. Maka lafazh “ijab qabul” yang diucapkan memiliki efek dahsyat.

Sementara perzinahan yang dalam sebagian prakteknya juga terjadi akad, tapi sifatnya sangat parsial, bersifat kebendaan dan hanya menjadi kebersamaan “sesaat”. Setelah terjadi pemuasan nafsu, masing-masing hidup sebagai individu yang seolah tak saling kenal. Kalau pun kemudian mereka hidup seatap tanpa legalitas maka suatu saat akan berakhir dengan kaburnya makna tanggungjawab. Jika alasan cinta yang dikedepankan, sampai kapan cinta sanggup bertahan jika tak diiringi oleh tanggungjawab?

Kelima, memiliki keturunan. Salah satu tujuan menikah adalah untuk memperoleh keturunan dengan cara yang baik dan bertanggungjawab. Memiliki keturunan yang dimaksudkan tidaklah untuk dibanggakan tapi untuk meneruskan estafet dakwah dan kebaikan. Meskipun nantinya jumlah umat Islam yang banyak –tetap- akan dibanggakan oleh Nabi Muhammad SAW di hari kiamat.

Namun, dewasa ini, ada tren memiliki anak tanpa didahului oleh pernikahan. Karena pernikahan hanya dianggap sebagai formalitas yang melegalkan hubungan laki-laki dan perempuan. Padahal pernikahan lebih bermakna dari itu. Pernikahan adalah ibadah, tanggung jawab sekaligus perlindungan terhadap perempuan dan anak-anak dari kemungkinan-kemungkinan terjadinya (potensi) kezhaliman yang (akan) menimpa mereka, disebabkan oleh sikap kurang bertanggungjawab.

Keenam, untuk merekayasa kebaikan. Sebagai salah satu unsur terkecil dalam masyarakat untuk menyemai kebaikan sekaligus merekayasanya. Karena jika kebaikan tak direkayasa maka keburukan akan menempati dan merekayasa. Dan wilayah yang paling memungkinkan untuk melakukannya adalah keluarga. Jika seorang laki-laki baik menikahi perempuan yang dicintainya ia akan memuliakannya kemudian keduanya membangun kebaikan dari dalam rumah mereka. Jika seorang laki-laki bertakwa menikahi perempuan yang belum dicintainya, ia akan berusaha mencintainya. Jika ia berhasil mencintainya maka dilanjutkan proses kebaikan dalam rumah tangga. Jika ia tak berhasil mencintainya ia takkan menzhaliminya. Jika mereka meneruskan biduk rumah tangga maka target minimal bisa dipertahankan. Jika mereka memilih berpisah, maka perpisahan yang dipilih pun perpisahan yang ma’ruf jauh dari hiruk pikuk media dan kegaduhan sosial. Jika ada satu, dua, tiga keluarga yang baik dan harmonis, menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi individu-individu yang ada di dalamnya maka dengan sendirinya membentuk masyarakat yang sehat dan baik.

4 thoughts on “Fikih Keluarga 01: Ketika Datang Saatnya Memilih

  1. sariyantotegalrejo mengatakan:

    Reblogged this on saryantotegalrejo and commented:
    sensei. ijin re blog,

  2. dianbs mengatakan:

    artikel yg menambah wawasan pembacanya.. minta izin utk sharing.

  3. Anonim mengatakan:

    minta izin share ke yang lain mas!

  4. saiful bahri mengatakan:

    silakan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s