Matahari dan Bulan

MATAHARI DAN BULAN

Juha, seorang tokoh jenaka dalam dongeng Arab pernah ditanya seseorang,”Wahai Juha, manakah yang lebih penting dan dibutuhkan manusia, matahari atau bulan?”.

Dengan enteng Juha menjawab,”Bulan”.

Sang penanya itu sangat heran kemudian kembali melontarkan pertanyaan berikutnya,”Mengapa demikian?

Dengan santainya Juha mengatakan,”Karena pada waktu siang sudah demikian terang sehingga matahari tidak terlalu diperlukan. Sementara malam sangatlah gelap, maka kehadiran bulan sangatlah ditunggu-tunggu manusia”.

Sang penanya tak lagi mampu menahan senyum sementara orang-orang disekelilingnya sudah terbahak-bahak.

Kita tidak akan mendiskusikan jawaban Juha, membenarkan atau bahkan menyanggahnya. Namun kita akan mengambil substansi pertanyaan diatas. Matahari dan Bulan.

Matahari dan bulan sebagaimana bumi dan langit merupakan salah satu ayat (tanda-tanda) kekuasaaan Allah. Salah satu tanda bahwa Allah menciptakan segala sesuatu serba berpasang-pasangan.

Di dalam al-Qur`an dan Hadits kata ganti bulan menggunakan dhamir laki-laki (mudzakar) sedang kata ganti matahari adalah dengan dhamir perempuan (mu`annats). Kaedah ini juga dipakai oleh Bahasa Arab standar (baku). Padahal matahari sering diidentikkan sebagai lambang keperkasaan yang merupakan sifat maskulin. Sementara bulan lebih sering diidentikkan dengan kelembutan sebagai hiasan sifat feminin.

Apakah kemudian ketika al-Qur`an menggunakan kata ganti perempuan untuk matahari akan mengurangi kegentelan matahari. Demikian pula ketika bulan memiliki kata ganti laki-laki berarti akan kehilangan sifat femininnya.

Dalam wacana feminisme, yang sering diperdebatkan adalah masalah kesamaan antara laki-laki dan perempuan, setidaknya tuntutan untuk menyamakan keduanya. Lantas dari sudut pandang mana mereka–para penganut feminisme liberal-menarik perbedaan.

Dengan perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Seseorang tak akan menganggap aib bila seorang perempuan memiliki sifat pemberani. Nusaibah binti Ka`b menjadikan dirinya perisai hidup bagi Rasulullah saw ketika perang Uhud. Sebaliknya seseorang takkan memandang aib ketika seorang laki-laki memiliki sifat kelembutan dan pemalu. Usman bin Affan ra, malaikat pun malu dengan beliau karena beliau memiliki sifat sangat pemalu. Sa`id bin Musayyib seorang tabi`in setiap malam menangis dalam sujud panjang.

Allah menjadikan bulan sebagai ayat-Nya. Karenanya kita berpuasa menggunakan bulan (penanggalam qamariyah bukan dengan penanggalan syamsiyah). Mataharipun demikian, kita diperintahkan shalat dengan patokan matahari.

Lebih dari itu matahari dan bulan tidaklah dapat medatangkan manfaat dan madharat bagi manusia. Mereka berdua hanya makhluk yang menjalankan titah penciptanya.

Ketika putra Rasulullah saw, Ibrahim wafat, terjadi gerhana matahari. Beliau mengkhawatirkan jangan-jangan orang-orang akan meyakini gerhana yang terjadi merupakan simbol kesedihan alam atas wafatnya putra Nabi. Kemudian beliau mengatakan bahwa baik matahari ataupun bulan hanyalah makhluk Allah. Karenanya kita disunnahkan untuk shalat ketika terjadi gerhana, baik matahari ataupun bulan. Sebagai pengingat bahwa keduanya merupakan nikmat bagi manusia. Bagaimana kelangsungan hidup manusia tanpa matahari atau bulan. Allah hendak menyadarkan kelalaian manusia tersebut akan nikmat yang agung ini.

Dari fenomena diatas tak seorangpun kemudian menganggap bahwa bulan adalah saingan matahari. Dengan dalih bahwa keduanya tak pernah bertemu dan berkumpul. Hal ini dinafikan oleh agama kita. Fenomena alam yang serba berpasangan, matahari dan bulan, malam dan siang, langit dan bumi, besar dan kecil, semuanya mempunyai spesifik masing-masing dan memiliki tugas sesuai kodrat penciptaannya. Hendakkah kita menyamaratakan?.

Adapun manusia, laki-laki dan perempuan. Bila dianggap sebagai saingan dan rifal, tak akan optimal peran hidupnya. Laki-laki dan perempuan merupakan mitra. “Annisa` syaqâ`iqu ar rijâl” (perempuan merupakan mitra lelaki).

Perbedaan maupun persamaan ini masing-masing telah diatur kaedahnya oleh agama. Miniatur fisik masing-masing disiapkan untuk menghadapi tugas sesuai kodratnya. Dengan perbedaan ini tidaklah menafikan persamaan. Semuanya berhak menuntut ilmu, menerima pahala dari amal yang diperbuatnya serta meraih tingginya derajat firdaus al-a`lâ. Ketika matahari kembali ke peraduannya di ufuk barat, bulanpun menggantikan perannya di kegelapan malam. Tanpa rasa saling membanggakan diantara satu sama lain kecuali bangga memikul tanggung jawab membantu kepentingan anak manusia.

Demikian halnya manusia. Bila perempuan dan laki-laki berlomba-lomba membanggakan diri diatas yang lain akan memicu persaingan (yang tak sehat). Berikutnya cenderung susah untuk bekerja sama. Pernahkah bulan merebut peran matahari, atau enggan menjalankan perannya di malam hari. Kecuali bila tiba saat sangkakala hari akhir berbunyi.

“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al Ma`idah:50). Mahabenar Allah dalam segala firman-Nya.

 

Saiful Bahri

Cairo,  02 Agustus 2001

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s