Ketegaran Seorang Ibu

KETEGARAN SEORANG IBU

Ketika istana Fir`aun digemparkan oleh sebuah mimpi aneh, bahwa kebesarannya akan dihancurkan seorang laki-laki dari Bani Israil. Kondisi bani israil tambah tertindas. Kebencian Fir`aun terhadap mereka semakin memuncak. Dipanggilnya para pakar tenung dan sihir untuk mentakwil mimpinya. Mereka mengatakan,”Akan lahirseorang bayi laki-laki dari Bani Israil yang akan merampas kerajaan Baginda, mengalahkan Baginda dan mengusir Baginda serta para pengikut Baginda dari bumi ini. Mengganti agama leluhur kita…”.

Mimpi tersebut bukan sekedar bunga tidur. Tak ada keinsafan bahwa ini adalah sebuah peringatan. Yang ada adalah keangkuhan yang ditunggangi hawa nafsu. Ubun-ubun Fir`aun telah panas oleh emosinya yang meledak-ledak. Diturunkanlah sebuah instruksi untuk menyembelih semua bayi laki-laki yang lahir.

Naluri kemanusiaan seorang  ibu mengkhawatirkan keselamatan bayi lelakinya. Karenanya, kelahiran Musa kecil pun dirahasiakannya. Kecemasannya kian memuncak ketika mendengar para algojo tersebut telah sampai di daerahnya. Turunlah ilham dari Allah. “Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa; “Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya, maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul”.(QS Al Qashash: 7)

Keraguan seorang ibu adalah sangat wajar. Terlebih bila buah hatinya berada dalam bahaya. Akankah ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri, anaknya dieksekusi para algojo kezhaliman itu? Akan disembunyikan di manakah buah hatinya? Tak ada tempat yang aman, karena para algojo tersebut akan memporakporandakan apa yang mereka curigai.

Ia pasrahkan pada Allah. Allah lah yang mengatur segalanya. Musa kecil yang dibalut selimut kecil diletakkan diatas keranjang tertutup dan arus sungai Nil membawanya menghilang dari pandangan ibunya yang mematung dalam kedukaan yang sangat. Sudut-sudut mata yang berair tak hentinya memohon perlindungan Tuhannya atas keselamatan sang anak. Dan para algojo pun tak menemukan apa-apa dalam rumahnya selain sang Ibu dan saudara perempuan Musa, Maryam.

Tak ada yang sanggup membayangkan antara dua pilihan sulit baginya. Ia pun memilih–atas bimbingan Allah-menghanyutkan putranya di atas arus sungai yang kencang. Kedua mata yang telah basah itu terus terpaku pada tabut tempat si kecilnya berada hingga benar-benar telah hilang dari pandangannya.

Sadarkah sang ibu. Buah hatinya selamat dari pedang kezhaliman Fir`aun. Namun dari buaya dan ikan-ikan buas? Hanya Allah yang tahu kesudahannya. “Dan kosonglah hati ibu Musa. Sesungguhnya hampir saja ia menyatakan rahasia tentang Musa, seandainya tidak Kami teguhkan hatinya, supaya ia termasuk orang-orang yang percaya (kepada janji Allah)”.(QS. Al Qashash: 10)

Terdamparlah musa kecil-dibawa `tentara Allah` arus kencang sungai Nil-di taman istana Fir`aun. Para pengawal permaisuri menemukan peti tertutup. Diserahkan kepada Asiyah istri Fir`aun. Begitu terbuka, tersembullah senyum anak kecil dan kedua mata yang indah berbinar memikatnya. Asiyah yang merindukan kehadiran seorang bayi, akhirnya hendak memilikinya dan mengasuhnya.

Melihat Asiyah menggendong bayi laki-laki, para algojo memintanya untuk disembelih. Dengan tegas Asiyah mengatakan,”Serahkan perkara ini padaku, aku akan menghadap Baginda. Jika beliau tertarik terhadap anak ini maka ini keputusannya. Jika beliau memerintahkan kalian untuk menyembelihnya, aku tak akan mencela kalian

Asiyah menghadap Fir`aun,”Ia adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Jangan kau membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil dia sebagai anak”.(QS. Al Qashash: 9)

Fir`aun menjawab,”Buah hati bagimu, sedangkan aku tak punya kepentingan apapun padanya

Dan tawar menawar itupun akhirnya berakhir dengan kemenangan Asiyah. Hati Fir`aun yang bengis dikirim oleh Allah sebuah cinta terhadap Musa kecil. Luluhlah ia.

*****

Sementara jauh di sebuah perkampungan terpencil. Kedukaan sang ibu yang kehilangan anaknya hanya dikisahkan kepada kakak perempuan Musa kecil. Sang ibu yang telah berumur ini hanya mampu mengharap. Tentunya keajaiban dari Tuhannya. Dan sang kakak perempuan itu menyusuri bibir sungai tak kenal lelah, ingin menemukan adik lelakinya. Buah hati ibunya yang terkasih.

Sampailah ujung perjalanannya di sebuah taman istana yang megah. Didengarnya sebuah kisah bahwa permaisuri kerajaan mengadopsi seorang anak laki-laki. Tentu saja berita ini semakin membuatnya tertarik mengikutinya. Ia berbicara pada dirinya, semoga bayi itu adalah adiknya. Sehingga datanglah salah seorang dayang Fir`aun mencarikan seseorang yang menyusui anak asuhnya.

Dengan segala keberaniannya gadis kecil ini menghadap–menahan gejolak hatinya-untuk mengetahui keadaan sesungguhnya. Dengan bimbingan Allah ia pun mengatakan, “Maukah kalian aku tunjukkan kepada kalian keluarga yang akan memeliharanya untuk kalian dan mereka dapat berlaku baik kepadanya”.(QS. Al Qashash: 12)

Para dayang tersebut heran dan sempat curiga. “Kami melihat engkau menyembunyikan sesuatu”.

Jawabnya dengan tegas,”Aku hanya menganjurkan yang demikian

Mereka kembali bertanya,”Apa engkau mengetahui keluarganya? Sehingga mereka mengutusmu?

Ia gelengkan kepala, agak kaget mendengarnya,”Aku mengenal seseorang yang mempunyai kasih sayang yang dalam, mau menyusui dan mengasuh bayi sebagai bukti patuh pada rajanya

Dengan sangat antusias mereka memburu,”Di manakah tempatnya?

Tanpa menunggu lebih lama lagi. Ia segera menunjukkan tempat Ibu Musa kecil itu. Dan Asiyah pun mengikutinya menggendong buah hati kesayangannya, yang tak pernah mau menyusu setiap dicarikan perempuan yang menyusuinya.

Terkejutlah sang Ibu melihat dan bertemu kembali dengan putranya. Kalaulah tidak karena berada di depan para pengawal Fir`aun dan istrinya tentulah isaknya akan terdengar sangat jelas. Ia memendamnya dalam dekapan kasih di dadanya, meluapkan kerinduan pada buah hatinya.

Semuanya memandang penuh keheranan. Betapa selama ini sang bayi menolak disusui semua perempuan yang datang melamar menyusui putra asuh Fir`aun. Kini begitu menemukan perempuan setengah baya tersebut langsung lahap menyusu dan tampak begitu dekat.

Dengan aga sedikit cemburu, Asiyah mengatakan,”Jika engkau bersedia datanglah ke istana suamiku dan  menyusui buah hatiku?”

Sang ibu menjawab,”Sungguh jika tak keberatan, biarlah ia bersama kami. Saya tak sanggup meninggalkan anak-anak saya!

Terkejut Asiyah mendegar penuturannya. Ia heran bila perempuan-perempuan berambisi dan berlomba untuk tinggal di istana. Kini didepannya sang perempuan memilih anak dan rumah sederhananya. Hanya saja ia ingat bahwa semua perempuan ditolak susunya oleh Musa kecil. Dan perempuan inilah yang dipilihnya. Sehingga ia pun tahu, bahwa perempuan ini bukan perempuan biasa.

Sang ibu pun sangat haru. Haru akan kebenaran janji Allah yang akan menyelamatkan putranya sekaligus akan mengembalikan padanya. Dan betapa iman kepada Tuhannya semakin kuat bahwa Allah sanggup berbuat segalanya. Tak ada yang menghalanginya, kekuatan apapun namanya.

Istri Fir`aun pun tak ada pilihan kecuali menuruti keterpautan buah hatinya dengan perempuan tersebut. Puanglah ia ke istana. Demi kelangsungan hidup buah hatinya. Seringlah ia mendatangi rumah sederhana yang penuh berkah tersebut.

Janji Allah terbukti, bahkan dikembalikan dengan melebihi apa yang dipikirkan ibunya. Seorang perempuan menyusui anak kandungnya, dan diberi gaji oleh pihak istana. Tanpa harus ia mendatangi istana. Dan kelak ia akan diangkat menjadi nabi dan utusan Allah.

*****

Kisah di atas bukanlah sebuah cerita fiksi. Adalah al-Qur`an melukiskan keteguhan seorang ibu. Demi menyelamatkan anaknya. Anaknya yang kelak menjadi pilar dakwah agama Islam. Anaknya yang kelak akan menghancurkan mitos keangkuhan Fir`aun. Anaknya yang kelak membimbing kaumnya menemukan jalan kebenaran, jalan kedamaian abadi bersama Allah.

Sebagai seorang anak saya bangga terhadap Ibu Nabi Musa. Bangga karena keyakinannya dan kepercayaannya kepada janji Tuhannya, Yang Maha Perkasa. Yang Kuasa berbuat atas segalanya.

Karenanya, saya pun bangga terhadap ibu saya, berterima kasih atas bimbingannya. Mengenal Allah dengan segala kekuasan-Nya. “Terima kasih Ibu, terima kasih Ibu, terima kasih ibu. Dan terima kasih Bapak”.

“Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidikku waktu kecil”.(QS Al Isra`: 24)

Saiful Bahri

Cairo, 13 Maret 2002

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s