Dua Perempuan Langka

DUA PEREMPUAN LANGKA

Sebelumnya, beliau sibuk dengan urusan perdagangan dan perputaran uang. Kegesitannya, ulet serta amanah membuatnya menjadi seorang pedagang yang sukses. Lain dari pada itu, beliau menjadi sosok yang mengetahui jiwa dan kepribadian manusia, laki-laki dan perempuan. Karena interaksi perdagangan merupakan salah satu sarana mengenal karakter, watak, jiwa dan kepribadian seseorang.

Khadijah binti Khuwaelid, adalah perempuan terpandang di kaumnya. Aktivitas, serta keberadaan keluarga dan keturunannya benar-benar diperhitungkan oleh kabilahnya. Posisi yang demikian kuat juga membantunya bergerak dengan cukup leluasa serta aman. Dengan pengalaman ini beliau menjadi semakin matang, tumbuh sebagai tokoh yang berwawasan luas, dewasa cara pandangnya serta matang dalam perhitungan.

Lewat interaksi perdagangan beliau mengenal seorang pemuda yang kepribadiannya sangat tak asing lagi bagi orang Arab, Muhammad saw. Perangai dan akhlaknya menjadi tempat keteduhan cinta kaumnya. Menjadikannya sebagai pemuda yang dewasa dalam usia mudanya. Interaksi dagang dan urusan yang sensitif tersebut semakin mengokohkan karakteristik akhlak mulia yang dimilikinya. Al-‘Amîn, julukan yang memang tepat untuknya. Diberikan oleh kaumnya dari kalbu yang terdalam, tulus selama bergaul dengannya semenjak kecil hingga dewasa.

Ketertarikan Khadijah terhadap Muhammad, berlanjut menjadi keseriusan untuk membina sebuah tatanan sosial terkecil, keluarga. Bersatulah kedewasaan dengan kedalaman cara pandang, kejujuran dan amanah, kesungguhan dan matangnya perhitungan.

Bahkan, Khadijah ra–setelah menikah-semakin bertambah matang dan berpengalaman. Semakin dewasa dan luas cakrawala berpikirnya. Jauh pertimbangannya. Benar-benar menjadi berlabuhnya ketenangan dan keteduhan cinta. Ketika suaminya menerima wahyu pertama kali, tatkala kecemasan dan kegelisahan menyergapnya. Ketika ia kisahkan peristiwa Gua Hira`. Dengan sebuah keyakinan yang kuat, dengan sebuah kedewasaan yang matang beliau menghibur,”Demi Allah, Dia takkan menyia-nyiakan engkau selamanya. Engkau sungguh selalu berkata benar, menyambung silaturrahim kekerabatan, menanggung segala beban, giat berusaha, menghormati tamu, selalu menolong pada pihak kebenaran dan melaksanakan amanah

Islam adalah agama yang sangat umum, terbuka bagi siapa saja, tak mengenal kasta. Laki-laki dan perempuan, tua dan muda, pemuka kaum dan rakyat jelata, bagi budak dan orang-orang yang merdeka, kaya atau miskin. Namun, Khadijah adalah perempuan pertama yang masuk Islam, membelanya dan berdiri di belakang suaminya, Nabinya serta junjungannya, Muhammad saw.

Harta, jiwa, kedewasaan, pengalaman, serta berbagai karakteristiknya yang lain kini telah disumbangkan untuk membela dakwah suaminya.

Berbahagialah seorang lelaki yang memiliki istri berkarakteristik demikian.

*****

Benar-benar tak ada kasta, namun merupakan persaudaraan umum yang menyentuh segala lapisan dan strata manusia. Jika Ibunda Khadijah adalah orang pertama yang beriman dari golongan bangsawan dan keluarga terpandang serta mempunyai kedudukan dalam kaumnya. Maka orang yang pertama kali menemui syahidnya adalah perempuan yang tertindas, sampel dari keluarga sederhana yang senantiasa dalam suasana terjepit, ekonomi pas-pasan bahkan bisa dikatakan kurang, serta strata sosial yang lain dari Khadijah. Sumayyah, ibu sahabat Ammar bin Yasir.

Ujian Allah untuk hambanya sangat berseni dan variatif. Dia menguji hamba-Nya dengan popularitas dan kesulitan hidup, kekayaan dan kemiskinan, kesehatan dan sebaliknya. Namun semuanya kembalinya satu. Ke akhirat, tempat yang telah dijanjikan-Nya untuk hamba-hamba-Nya yang diuji-Nya tersebut.

Usman bin Affan ra-beliau termasuk salah satu pemuka Quraisy yang terpandang-meriwayatkan,”Ketika aku berjalan-jalan bersama Rasulullah saw, aku melihat Ammar bersama ibu dan bapaknya disiksa diatas teriknya matahari agar mereka murtad dari agama baru mereka, Islam. Abu Ammar berkata: Wahai Rasulullah, beginikah waktu?? Beliau menjawab: Sabarlah keluarga Yasir, Ya Allah ampunilah keluarga Yasir…”.

Ketika itu datanglah Abu Jahal, pemimpin jahiliyyah yang tak mengenal kemanusiaan. Ia datang kemudian menyiksa Sumayyah. Berkali-kali dicambuknya perempuan tersebut. Agaknya keteguhan dan kesabarannya membuat Abu Jahal gusar dan marah. Diangkatnya potongan besi, dipukulkannya keperut perempuan mulia ini. Kemudian ditusukkan kebawah perutnya. Rahimnya robek, membuatnya berpisah dengan kefanaan ini. Perempuan tegar ini bertemu dengan Tuhannya. Menjadi syahidah pertama dalam perjuangan dakwah. Yang gugur pertama kali dalam Islam.

Panjangnya waktu tak dirasa Fir`aun kecil ini untuk memperbaiki kesalahan atau bertaubat. Hingga datang hukuman Allah. Perang Badar Kubra. Keangkuhan, segala kesombongan dan takabbur terkapar, terjungkal dan bungkam di tangan dua orang anak kecil yang belum genap berusia sepuluh tahun, Mu`adz dan Mu`awwidz. Abu Jahal meninggalkan kefanaan sedang siksa dan kehinaan yang menantinya.

Ibnu Mas`ud mengisahkan bagaimana pahlawan-pahlawan kecil tersebut bersemangat mencari penjahat bernama Abu Jahal. “Mu`adz mendekatiku memegangi pergelangan tanganku. Kemudian ia mengguncang-guncangnya berkali-kali sambil menanyakan,” Mana di antara lelaki itu yang bernama Abu Jahal?”. Ia terus menanyakannya. Kemudian aku menunjukkan kepadanya. Ia pun segera melesat seperti anak panah. Dengan sebuah pedang terhunus. Beberapa saat kemudian. Mu`awwidz datang mendekatiku. Ia melakukan hal yang sama seperti Mu`adz. Mengajukan pertanyaan yang sama juga. Aku mengatakan padanya,” Mu`adz telah mendahuluimu mencarinya!”. Dan setelah kutunjukkan padanya tentang keberadaan Abu Jahal, ia pun melesat dengan sangat cepat. Hingga ketika keduanya mendekati Abu Jahal. Kami tak mengetahui pedang manakah diantara mereka berdua yang terlebih dahulu menusuk Abu Jahal”.

Sungguh, ketakjuban yang tak berlebihan bagi perempuan pertama yang memeluk agama ini. Berkorban demi segalanya.

Sungguh, saya merasakan ketegaran dan keharuan. Perempuan pertama yang mempertahankan akidahnya. Rela melepaskan ruhnya asalkan iman tak berpisah dari dadanya. Tubuhnya boleh dicacah dan tercabik-cabik oleh kezhaliman dan keangkuhan, namun imannya kepada Dzat yang Maha Kuat tetap utuh tak berkeping. Ia serahkan pada Allah yang membalas segala kekejian dan kezhaliman.

Ibunda Khadijah ra, ibu kaum muslimin. Dari rahimnya terlahir keturunan-keturunan mulia yang mengesakan Allah dan memegang amanah suaminya, sebagai dai, nabi pembawa risalah Tuhannya. Tak heran akan julukan tersebut baginya. Orang pertama yang memeluk Islam sebagai agamanya. Dan Muhammad sebagai Rasul-Nya.

Ibunda Sumayyah ra. Ibunda sahabat Ammar, syahidah pertama yang mempertahankan akidahnya. Tegar dan memiliki kemuliaan. Izzah di depan kekafiran dan keangkuhan. Ia kalahkan segala kecongkakan dengan kesabaran. Kesombongan dengan keteguhan berpegang iman. Tak heran akan julukan tersebut baginya. Orang pertama yang gugur dijalan dakwah Islam.

Kedua-duanya adalah perempuan yang semestinya di kenal seluruh kaum  muslimin dari era Fajrul Islam hingga hari yang dijanjikan Allah. Sejarah telah mengukirkan tinta emasnya.

Kiprah dan peranannya telah dikenal semenjak pertama kali wahyu Allah ini diturunkan ke bumi melalui malaikat-Nya di Gua Hira`. Ketegaran yang telah dikenal semenjak kecongkakan Abu Jahal mengoyak kemuliaannya.

 

Saiful Bahri

Cairo, 10 Maret 2002

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s