Siapa Perempuan

SIAPA PEREMPUAN

Adapun laki-laki, apa yang ia ketahui tentang makhluk bernama perempuan?

Apakah ia adalah setan yang selalu menggodanya.

Ataukah ia adalah berhala yang selalu dipuja-puja.

Ataukah ia kelemahan yang harus dilindungi.

Ataukah ia kesempurnaan yang harus dibela dan ditinggikan.

Ataukah ia kemuliaan yang harus diraih dengan kemuliaan.

Ataukah ia bidadari yang hanya bisa diangankan.

Ataukah ia pembawa sial yang harus dijauhi dan dibuang.

Ataukah ia adalah musuh baginya yang harus diperangi

Ataukah ia selalu menjijikkan dan harus diterlantarkan.

Ataukah ia manusia seperti dirinya yang memiliki kekurangan sebagaimana kelebihan yang ada padanya.

Ataukah bahkan ia tak mengenalnya sehingga tak perlu menghadirkan dalam hidupnya.

Ataukah ia adalah kerusakan yang sedang mencari kerusakan.

Ataukah ia adalah kebaikan yang sedang menunggu kebaikan.

Ataukah ia kelembutan dan ketentraman yang diperlukan dalam hidupnya.

Ataukah ia yang membuatnya selalu mengangankan masa depan.

Ataukah ia yang sanggup membuatnya berani dan menjadi kuat.

Atau bahkan ia tak bisa mengatakan: siapa perempuan baginya?

Apapun jawabannya, laki-laki takkan bisa tidak menemukan perempuan dalam hidupnya. Ia bisa saja menulikan telinga atau membutakan mata, namun tidak dengan hati.

Seorang laki-laki tak bisa dilepaskan dari perempuan. Ibu yang mengandung dan melahirkannya adalah seorang perempuan. Dari sinilah ia mulai mengenal dan memahami perempuan. Ia mendapatkan ketentraman dan cinta serta kasih sayang untuk pertama kalinya adalah dari ibunya. Tentunya, semua karunia cinta ini tak lepas dari tanda kekuasaan-Nya.

Ia juga mengenal perempuan dari saudara kandungnya, adik atau kakaknya. Kemudian ia akan menemukan perempuan yang lain dengan berbagai watak di lingkungan sekitarnya. Bisa sebagai orang lain yang berjasa selain ibunya, sebagai guru atau teman bermainnya. Namun ia juga akan menemukan perempuan lain yang tak disukainya, entah sebagai kejelekan yang sama sekali jauh dari fitrah perempuan atau sebagai kejahatan yang diketahuinya.

Kelak ia pun kan dengan sendiri memahami dan mencari tahu siapa sebenarnya perempuan. Dan apa pengaruhnya dalam hidup seorang laki-laki.

Bila ia hendak mengasari perempuan sepatutnya ia mengenang ibunya. Sanggupkah ia mengasarinya sebagai balasan kasih sayang dan kelembutan yang dengan ikhlas diberikan. Kasih sayang yang tumbuh bersama kesusahan diatas kesusahan. Dari sejak mengandung sembilan bulan sampai perjuangan hidup mati ketika melahirkannya. Kemudian menyusui dan membelainya dengan sepenuh cinta.

Suatu saat seorang laki-laki mendatangi Rasulullah saw. Ia meminta izin untuk berzina. Seketika para sahabat yang berada disekeliling Rasul pun marah dan geram. Hendak menghardik dan mengusirnya. Namun, dengan tenang Rasulullah menyambanginya dan mengajaknya berdialog. Tidak dengan hujatan atau dengan ancaman atau dengan mengeluarkan dalil larangan berzina.

Beliau mendekati laki-laki itu, kemudian bertanya dengan halus, “Apakah Engkau rela jika hal itu terjadi pada ibumu?”

Lelaki itu menjawab, ”Tidak, wahai Rasulullah!”

Kemudian beliau bertanya lagi, “Apakah engkau rela jika hal itu juga terjadi pada saudara perempuanmu

Lelaki itu menjawabnya, “Tidak, wahai Rasulullah!”

Beliau bertanya lagi, “Apakah engkau rela jika hal demikian juga terjadi pada saudara perempuan ayahmu

Laki-laki itu pun dengan tegas mengatakan, “Tidak wahai Rasulullah!”

Kemudian Rasul pun tersenyum dan menutup pertanyaannya, “Masihkah engkau berhasrat untuk berzina?

Laki-laki itu menggeleng sambil mengatakan, “Tidak. Sekali-kali tidak wahai Rasulullah!”

Gambaran di atas menunjukkan bahwa laki-laki sangat dekat dengan perempuan. Ia sangat mengenal perempuan, entah itu ibunya, saudara kandungnya atau bibinya.

Dengan membawa set ulang pengenalan awal tentang perempuan, seorang laki-laki akan mampu menghormati perempuan. Menghormati, bukan memuja. Mencintai, bukan menjadikannya berhala yang disembah. Membutuhkan dan memerlukan, namun tidak dengan mengemis atau merendahkan diri. Ia menyadari bahwa dirinya dan perempuan adalah sesama makhluk dan manusia yang sejajar. Perbedaannya adalah ia laki-laki dan perempuan adalah perempuan. Beda tabiat dan struktur fisiknya. Juga fitrah dan tugasnya. Namun, semua saling memerlukan. Semua bisa bekerja sama. Kualitas dan posisi masing-masing disisi Allah dan juga manusia ditentukan dengan kualitas takwa. Takwa yang berdimensi vertikal dengan sepenuh ketundukan. Dan takwa yang berdimensi horizontal dengan kebaikan sosial.

Pada usia tertentu dalam hidupnya ia merasakan suatu perasaan yang belum pernah dirasakan dalam hidupnya. Ia menjadi mengangankan seorang perempuan. Ia merasa ingin selalu dekat dengannya. Ia ingin mendapatkan kelembutan dan ketentraman sebagaimana yang ia peroleh dari ibunya. Ia mengharap ada tempat melabuhkan kegundahan dan kegelisahannya. Ia hendak menceritakan seluruh pengalaman dan kejadian serta ingin mendapat respon yang hangat. Dan ia merasa perlu untuk melindungi seseorang. Ia ingin menjadi pahlawan bagi kelembutan.

Perasaan ini semakin bersemi bersama usia. Namun, dimensi persemian ini berkembang sesuai dengan pemahaman dan kedewasaan bersikap. Tidak lantas hanya dengan romantisme psikis yang ingin didapatkannya. Sebagai laki-laki yang paham, ia akan berusaha membina dirinya. Karena ia sedang mencari kebaikan. Bukan selalu mencari yang terbaik. Yang pertama akan membuatnya tenang. Yang kedua akan membuatnya semakin gelisah. Karena ia akan terus membandingkan dan terus mencari dengan selektifitas yang tinggi. Ia menjadi sangat ketakutan. Padahal tak ada yang perlu ditakuti atau ditakutkan dari seorang perempuan bagi laki-laki. Kecuali untuk merasa cemas akan muslihat perempuan yang akan menggelincirkan dari cinta Allah menjuju kemurkaan-Nya.

Lalu, kebaikan akan mencari kebaikan. Karena kebaikan juga sedang menunggu kebaikan.

Jangan pernah mencari ketenangan setenang Khadijah, karena Anda bukan Muhammad.

Jangan pernah mencari kecerdasan secerdas Aisyah, karena Anda bukan Muhammad.

Carilah kebaikan sebagaimana kita memahami kebaikan yang ada dalam diri kita. Kebaikan yang telah kita usahakan bersemi dan berkembang dalam diri kita. Kebaikan yang kita yakini akan cocok dengan kebaikan yang sedang kita cari. Kebaikan yang akan memberi ketentraman dan kedamaian serta menyuburkan cinta dan kasih sayang.

Bukankah keteduhan akan memerlukan payung untuk berteduh?

Saiful Bahri

Cairo, Medio April 2004

Bagian Kedua

Siapa Laki-Laki

SIAPA LAKI-LAKI

Sebenarnya apa yang dibayangkan perempuan ketika ia berhadapan dengan makhluk yang bernama laki-laki. Menjumpainya di jalan, di tempat-tempat umum, dalam media cetak atau audio visual. Atau hanya mendengarnya saja. Ketika laki-laki disebut atau yang berkaitan dengan laki-laki tiba-tiba ia mendengar atau mengetahuinya.

Bagaimana perempuan mempersepsikan laki-laki.

Hal ini tak bisa dijauhkan dari latar belakang seorang perempuan. Ia mengenal laki-laki dan dunianya melalui keluarganya atau lingkungan tempat ia berada sejak kecil.

Dalam keluarga ia menemukan ayahnya juga saudara-saudaranya atau hanya mendengarnya dari kisah dan cerita ibunya. Lingkungan sekitarnya secara tak langsung membangun set psikis tertentu tentang laki-laki.

Hal-hal ini terus berkembang sampai ia menjadi dewasa dan bisa mencari tahu dengan sendiri siapa laki-laki. Sebelum akhirnya ia bisa jujur dengan dirinya, apa yang dirasakan ketika ia berhadapan dengan laki-laki? Apa yang ia harapkan dari makhluk yang bernama laki-laki?

Kita sering membicarakan bagaimana buruknya lingkungan jahiliyah yang memenjarakan dan menghinakan perempuan. Tapi, dalam waktu yang sama kita lupa mengoreksi; sudahkah kita memuliakan perempuan dan memenuhi hak-hak didiknya. Kita, sebagai laki-laki. Sebagai ayah bagi anak perempuannya. Sebagai suami bagi istrinya. Dan sebagai saudaranya. Setidaknya sebagai mitra dan penolong. “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka ta’at kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”(QS. At-Taubah:71).

Kita lupa bahwa pola hidup modern sering kelewat memuja perempuan. Eksploitasi hedonisme malah cenderung dijadikan barometer modernitas. Moral tak lagi suatu hal yang dianggap penting dalam dinamika berinteraksi. Sebagian perempuan menikmati eksploitasi ini sebagai hobi, profesi yang ditekuni dan disukai. Sebagian lain mengumbar sisi-sisi fisik yang sama sekali menafikan keberadaan spiritual seorang perempuan.

Sebagian laki-laki memanfaatkan ini sebagai pendulang nafsu dan pemuas hawa. Dan sebagian perempuan tak merasa bahwa ia diperdaya. Sebagian laki-laki seolah memujanya sedang ia tak sadar bahwa sesungguhnya mereka menertawakan kebodohan perempuan. Sebagian laki-laki melakukan yang demikian dengan mengatasnamakan kebebasan, seni dan sastra. Namun, mereka, para perempuan itu tak menyadarinya bahwa mereka dibohongi belaka. Itu adalah bahasa nafsu dan hawa.

Sebagian perempuan menyadari bahwa mereka ditipu oleh laki-laki. Kemudian menjadikan hidupnya adalah permusuhan terhadap laki-laki. Makhluk bernama laki-laki sungguh tak laik untuk hidup berdampingan. Mereka, laki-laki harus dimusnahkan. Perempuan ini hendak membalas kecongkakan laki-laki. Mereka harus direndahkan.

Namun, tak semua perempuan seperti itu.

Sebagian perempuan yang lain dengan jujur mengatakan bahwa mereka memerlukan laki-laki. Karena mereka juga berpendapat bahwa laki-laki bisa bersikap jujur. Laki-laki juga membutuhkan kehadiran perempuan di sisinya. Laki-laki perlu ketenangan dan ketentraman berada disisi perempuan. Perempuan perlu perlindungan dan perhatian dari laki-laki.

Saat demikian, perempuan yang cerdas berpendapat bahwa laki-laki tak selaiknya dimusuhi. Bahwa laki-laki tak selaiknya direndahkan. Sebagaimana laki-laki juga tak selaiknya dipuja berlebihan dengan histeris. Seperti halnya ketika seorang bintang sedang live show di depan para penggemarnya yang juga para perempuan.

Dari mana para perempuan mendapatkan pemahaman tentang laki-laki secara utuh? Dari lingkungan keluarga dan sekelilingnya.

Siapa laki-laki yang paling berpengaruh dalam hidupnya? Ayahnya.

Maka menjadi kewajiban ayahnya untuk mendidik dengan kesempurnaan pendidikan yang laik untuknya. Salah mendidiknya akan berakibat fatal. Tak heran bila sang ayah berkaitan erat denan perwalian seorang perempuan ketika ia menikah dengan seorang laki-laki. Dan saat itu kewajibannya berpindah ke pundak suaminya. Saat itu perempuan akan mengenal laki-laki dalam bentuk suami. Yang bukan ayahnya juga bukan saudaranya. Kelak ia akan mengenal laki-laki sebagai anaknya yang bukan suami atau ayahnya.

Kesalehan individu seorang perempuan yang terbina sejak kecil ditumbuhkan oleh lingkungan keluarga yang harmonis dan dekat dengan nuansa ketuhanan. Kental dengan warna normatif dan kesopanan. Ramai dengan dinamika pergaulan yang cair. Tidak beku karena kedua orang tuanya mengajarkan cinta. Mengajarkan bahwa antara laki-laki dan perempuan saling memerlukan sebagaimana ayah dan ibunya saling memerlukan dan saling bekerja sama dalam membina keluarga.

Fondasi awal inilah yang kelak akan mengembangkan wawasan berpikirnya menjadi cerdas juga sangat proporsional dalam memandang laki-laki.

Saat ia mulai memahami laki-laki lewat sekolah dan pendidikan di luar keluarganya. Menjumpainya di jalan atau di lingkungan luar rumahnya. Saat ia mengenal teman-temannya. Bahkan sampai ia sendiri yang mengkajinya. Hingga dalam benaknya telah ada bayangan dan obsesi tentang laki-laki tertentu dalam hidupnya. Ia yakin suatu saat akan menemukannya.

Saat itulah ia mulai membina diri dan terus memperbaiki dengan menghiasi diri dengan sesuatu yang berharga baginya dan bagi laki-laki yang mencarinya. Ketakwaan. Kebaikan. Dengan berbagai dimensinya.

… dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)”(QS. An-Nur: 26).

Setelah itu tak ada yang salah dengan laki-laki kecuali mereka sebagai manusia yang bisa saja sewaktu-waktu melakukan kesalahan. Namun, kesalahan itu bukan berarti tidak termaafkan, bukan? Dan justru laki-laki yang manusia itulah yang ia perlukan sebagai pelindungnya. Bagaimana pun kondisinya. Jika ia seorang laki-laki bertakwa maka ia akan aman disisinya. Bila laki-laki itu mencintainya, ia akan dimuliakan. Bila laki-laki itu belum mencintainya, ia akan berusaha dicintainya. Bila laki-laki itu tak mencintainya, ia takkan teraniaya. Dan yang baik akan menemukan kebaikan dalam yang baik. Kebaikan yang akan bertemu bila masing-masing merasa ia telah membina kebaikan dalam dirinya. Masih ada keraguan? Masih adakah permusuhan setelah ini?

Saiful Bahri

Cairo, Medio April 2004

Bagian Pertama

Ketegaran Seorang Ibu

KETEGARAN SEORANG IBU

Ketika istana Fir`aun digemparkan oleh sebuah mimpi aneh, bahwa kebesarannya akan dihancurkan seorang laki-laki dari Bani Israil. Kondisi bani israil tambah tertindas. Kebencian Fir`aun terhadap mereka semakin memuncak. Dipanggilnya para pakar tenung dan sihir untuk mentakwil mimpinya. Mereka mengatakan,”Akan lahirseorang bayi laki-laki dari Bani Israil yang akan merampas kerajaan Baginda, mengalahkan Baginda dan mengusir Baginda serta para pengikut Baginda dari bumi ini. Mengganti agama leluhur kita…”.

Mimpi tersebut bukan sekedar bunga tidur. Tak ada keinsafan bahwa ini adalah sebuah peringatan. Yang ada adalah keangkuhan yang ditunggangi hawa nafsu. Ubun-ubun Fir`aun telah panas oleh emosinya yang meledak-ledak. Diturunkanlah sebuah instruksi untuk menyembelih semua bayi laki-laki yang lahir.

Naluri kemanusiaan seorang  ibu mengkhawatirkan keselamatan bayi lelakinya. Karenanya, kelahiran Musa kecil pun dirahasiakannya. Kecemasannya kian memuncak ketika mendengar para algojo tersebut telah sampai di daerahnya. Turunlah ilham dari Allah. “Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa; “Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya, maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul”.(QS Al Qashash: 7)

Keraguan seorang ibu adalah sangat wajar. Terlebih bila buah hatinya berada dalam bahaya. Akankah ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri, anaknya dieksekusi para algojo kezhaliman itu? Akan disembunyikan di manakah buah hatinya? Tak ada tempat yang aman, karena para algojo tersebut akan memporakporandakan apa yang mereka curigai.

Ia pasrahkan pada Allah. Allah lah yang mengatur segalanya. Musa kecil yang dibalut selimut kecil diletakkan diatas keranjang tertutup dan arus sungai Nil membawanya menghilang dari pandangan ibunya yang mematung dalam kedukaan yang sangat. Sudut-sudut mata yang berair tak hentinya memohon perlindungan Tuhannya atas keselamatan sang anak. Dan para algojo pun tak menemukan apa-apa dalam rumahnya selain sang Ibu dan saudara perempuan Musa, Maryam.

Tak ada yang sanggup membayangkan antara dua pilihan sulit baginya. Ia pun memilih–atas bimbingan Allah-menghanyutkan putranya di atas arus sungai yang kencang. Kedua mata yang telah basah itu terus terpaku pada tabut tempat si kecilnya berada hingga benar-benar telah hilang dari pandangannya.

Sadarkah sang ibu. Buah hatinya selamat dari pedang kezhaliman Fir`aun. Namun dari buaya dan ikan-ikan buas? Hanya Allah yang tahu kesudahannya. “Dan kosonglah hati ibu Musa. Sesungguhnya hampir saja ia menyatakan rahasia tentang Musa, seandainya tidak Kami teguhkan hatinya, supaya ia termasuk orang-orang yang percaya (kepada janji Allah)”.(QS. Al Qashash: 10)

Terdamparlah musa kecil-dibawa `tentara Allah` arus kencang sungai Nil-di taman istana Fir`aun. Para pengawal permaisuri menemukan peti tertutup. Diserahkan kepada Asiyah istri Fir`aun. Begitu terbuka, tersembullah senyum anak kecil dan kedua mata yang indah berbinar memikatnya. Asiyah yang merindukan kehadiran seorang bayi, akhirnya hendak memilikinya dan mengasuhnya.

Melihat Asiyah menggendong bayi laki-laki, para algojo memintanya untuk disembelih. Dengan tegas Asiyah mengatakan,”Serahkan perkara ini padaku, aku akan menghadap Baginda. Jika beliau tertarik terhadap anak ini maka ini keputusannya. Jika beliau memerintahkan kalian untuk menyembelihnya, aku tak akan mencela kalian

Asiyah menghadap Fir`aun,”Ia adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Jangan kau membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil dia sebagai anak”.(QS. Al Qashash: 9)

Fir`aun menjawab,”Buah hati bagimu, sedangkan aku tak punya kepentingan apapun padanya

Dan tawar menawar itupun akhirnya berakhir dengan kemenangan Asiyah. Hati Fir`aun yang bengis dikirim oleh Allah sebuah cinta terhadap Musa kecil. Luluhlah ia.

*****

Sementara jauh di sebuah perkampungan terpencil. Kedukaan sang ibu yang kehilangan anaknya hanya dikisahkan kepada kakak perempuan Musa kecil. Sang ibu yang telah berumur ini hanya mampu mengharap. Tentunya keajaiban dari Tuhannya. Dan sang kakak perempuan itu menyusuri bibir sungai tak kenal lelah, ingin menemukan adik lelakinya. Buah hati ibunya yang terkasih.

Sampailah ujung perjalanannya di sebuah taman istana yang megah. Didengarnya sebuah kisah bahwa permaisuri kerajaan mengadopsi seorang anak laki-laki. Tentu saja berita ini semakin membuatnya tertarik mengikutinya. Ia berbicara pada dirinya, semoga bayi itu adalah adiknya. Sehingga datanglah salah seorang dayang Fir`aun mencarikan seseorang yang menyusui anak asuhnya.

Dengan segala keberaniannya gadis kecil ini menghadap–menahan gejolak hatinya-untuk mengetahui keadaan sesungguhnya. Dengan bimbingan Allah ia pun mengatakan, “Maukah kalian aku tunjukkan kepada kalian keluarga yang akan memeliharanya untuk kalian dan mereka dapat berlaku baik kepadanya”.(QS. Al Qashash: 12)

Para dayang tersebut heran dan sempat curiga. “Kami melihat engkau menyembunyikan sesuatu”.

Jawabnya dengan tegas,”Aku hanya menganjurkan yang demikian

Mereka kembali bertanya,”Apa engkau mengetahui keluarganya? Sehingga mereka mengutusmu?

Ia gelengkan kepala, agak kaget mendengarnya,”Aku mengenal seseorang yang mempunyai kasih sayang yang dalam, mau menyusui dan mengasuh bayi sebagai bukti patuh pada rajanya

Dengan sangat antusias mereka memburu,”Di manakah tempatnya?

Tanpa menunggu lebih lama lagi. Ia segera menunjukkan tempat Ibu Musa kecil itu. Dan Asiyah pun mengikutinya menggendong buah hati kesayangannya, yang tak pernah mau menyusu setiap dicarikan perempuan yang menyusuinya.

Terkejutlah sang Ibu melihat dan bertemu kembali dengan putranya. Kalaulah tidak karena berada di depan para pengawal Fir`aun dan istrinya tentulah isaknya akan terdengar sangat jelas. Ia memendamnya dalam dekapan kasih di dadanya, meluapkan kerinduan pada buah hatinya.

Semuanya memandang penuh keheranan. Betapa selama ini sang bayi menolak disusui semua perempuan yang datang melamar menyusui putra asuh Fir`aun. Kini begitu menemukan perempuan setengah baya tersebut langsung lahap menyusu dan tampak begitu dekat.

Dengan aga sedikit cemburu, Asiyah mengatakan,”Jika engkau bersedia datanglah ke istana suamiku dan  menyusui buah hatiku?”

Sang ibu menjawab,”Sungguh jika tak keberatan, biarlah ia bersama kami. Saya tak sanggup meninggalkan anak-anak saya!

Terkejut Asiyah mendegar penuturannya. Ia heran bila perempuan-perempuan berambisi dan berlomba untuk tinggal di istana. Kini didepannya sang perempuan memilih anak dan rumah sederhananya. Hanya saja ia ingat bahwa semua perempuan ditolak susunya oleh Musa kecil. Dan perempuan inilah yang dipilihnya. Sehingga ia pun tahu, bahwa perempuan ini bukan perempuan biasa.

Sang ibu pun sangat haru. Haru akan kebenaran janji Allah yang akan menyelamatkan putranya sekaligus akan mengembalikan padanya. Dan betapa iman kepada Tuhannya semakin kuat bahwa Allah sanggup berbuat segalanya. Tak ada yang menghalanginya, kekuatan apapun namanya.

Istri Fir`aun pun tak ada pilihan kecuali menuruti keterpautan buah hatinya dengan perempuan tersebut. Puanglah ia ke istana. Demi kelangsungan hidup buah hatinya. Seringlah ia mendatangi rumah sederhana yang penuh berkah tersebut.

Janji Allah terbukti, bahkan dikembalikan dengan melebihi apa yang dipikirkan ibunya. Seorang perempuan menyusui anak kandungnya, dan diberi gaji oleh pihak istana. Tanpa harus ia mendatangi istana. Dan kelak ia akan diangkat menjadi nabi dan utusan Allah.

*****

Kisah di atas bukanlah sebuah cerita fiksi. Adalah al-Qur`an melukiskan keteguhan seorang ibu. Demi menyelamatkan anaknya. Anaknya yang kelak menjadi pilar dakwah agama Islam. Anaknya yang kelak akan menghancurkan mitos keangkuhan Fir`aun. Anaknya yang kelak membimbing kaumnya menemukan jalan kebenaran, jalan kedamaian abadi bersama Allah.

Sebagai seorang anak saya bangga terhadap Ibu Nabi Musa. Bangga karena keyakinannya dan kepercayaannya kepada janji Tuhannya, Yang Maha Perkasa. Yang Kuasa berbuat atas segalanya.

Karenanya, saya pun bangga terhadap ibu saya, berterima kasih atas bimbingannya. Mengenal Allah dengan segala kekuasan-Nya. “Terima kasih Ibu, terima kasih Ibu, terima kasih ibu. Dan terima kasih Bapak”.

“Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidikku waktu kecil”.(QS Al Isra`: 24)

Saiful Bahri

Cairo, 13 Maret 2002

Dua Perempuan Langka

DUA PEREMPUAN LANGKA

Sebelumnya, beliau sibuk dengan urusan perdagangan dan perputaran uang. Kegesitannya, ulet serta amanah membuatnya menjadi seorang pedagang yang sukses. Lain dari pada itu, beliau menjadi sosok yang mengetahui jiwa dan kepribadian manusia, laki-laki dan perempuan. Karena interaksi perdagangan merupakan salah satu sarana mengenal karakter, watak, jiwa dan kepribadian seseorang.

Khadijah binti Khuwaelid, adalah perempuan terpandang di kaumnya. Aktivitas, serta keberadaan keluarga dan keturunannya benar-benar diperhitungkan oleh kabilahnya. Posisi yang demikian kuat juga membantunya bergerak dengan cukup leluasa serta aman. Dengan pengalaman ini beliau menjadi semakin matang, tumbuh sebagai tokoh yang berwawasan luas, dewasa cara pandangnya serta matang dalam perhitungan.

Lewat interaksi perdagangan beliau mengenal seorang pemuda yang kepribadiannya sangat tak asing lagi bagi orang Arab, Muhammad saw. Perangai dan akhlaknya menjadi tempat keteduhan cinta kaumnya. Menjadikannya sebagai pemuda yang dewasa dalam usia mudanya. Interaksi dagang dan urusan yang sensitif tersebut semakin mengokohkan karakteristik akhlak mulia yang dimilikinya. Al-‘Amîn, julukan yang memang tepat untuknya. Diberikan oleh kaumnya dari kalbu yang terdalam, tulus selama bergaul dengannya semenjak kecil hingga dewasa.

Ketertarikan Khadijah terhadap Muhammad, berlanjut menjadi keseriusan untuk membina sebuah tatanan sosial terkecil, keluarga. Bersatulah kedewasaan dengan kedalaman cara pandang, kejujuran dan amanah, kesungguhan dan matangnya perhitungan.

Bahkan, Khadijah ra–setelah menikah-semakin bertambah matang dan berpengalaman. Semakin dewasa dan luas cakrawala berpikirnya. Jauh pertimbangannya. Benar-benar menjadi berlabuhnya ketenangan dan keteduhan cinta. Ketika suaminya menerima wahyu pertama kali, tatkala kecemasan dan kegelisahan menyergapnya. Ketika ia kisahkan peristiwa Gua Hira`. Dengan sebuah keyakinan yang kuat, dengan sebuah kedewasaan yang matang beliau menghibur,”Demi Allah, Dia takkan menyia-nyiakan engkau selamanya. Engkau sungguh selalu berkata benar, menyambung silaturrahim kekerabatan, menanggung segala beban, giat berusaha, menghormati tamu, selalu menolong pada pihak kebenaran dan melaksanakan amanah

Islam adalah agama yang sangat umum, terbuka bagi siapa saja, tak mengenal kasta. Laki-laki dan perempuan, tua dan muda, pemuka kaum dan rakyat jelata, bagi budak dan orang-orang yang merdeka, kaya atau miskin. Namun, Khadijah adalah perempuan pertama yang masuk Islam, membelanya dan berdiri di belakang suaminya, Nabinya serta junjungannya, Muhammad saw.

Harta, jiwa, kedewasaan, pengalaman, serta berbagai karakteristiknya yang lain kini telah disumbangkan untuk membela dakwah suaminya.

Berbahagialah seorang lelaki yang memiliki istri berkarakteristik demikian.

*****

Benar-benar tak ada kasta, namun merupakan persaudaraan umum yang menyentuh segala lapisan dan strata manusia. Jika Ibunda Khadijah adalah orang pertama yang beriman dari golongan bangsawan dan keluarga terpandang serta mempunyai kedudukan dalam kaumnya. Maka orang yang pertama kali menemui syahidnya adalah perempuan yang tertindas, sampel dari keluarga sederhana yang senantiasa dalam suasana terjepit, ekonomi pas-pasan bahkan bisa dikatakan kurang, serta strata sosial yang lain dari Khadijah. Sumayyah, ibu sahabat Ammar bin Yasir.

Ujian Allah untuk hambanya sangat berseni dan variatif. Dia menguji hamba-Nya dengan popularitas dan kesulitan hidup, kekayaan dan kemiskinan, kesehatan dan sebaliknya. Namun semuanya kembalinya satu. Ke akhirat, tempat yang telah dijanjikan-Nya untuk hamba-hamba-Nya yang diuji-Nya tersebut.

Usman bin Affan ra-beliau termasuk salah satu pemuka Quraisy yang terpandang-meriwayatkan,”Ketika aku berjalan-jalan bersama Rasulullah saw, aku melihat Ammar bersama ibu dan bapaknya disiksa diatas teriknya matahari agar mereka murtad dari agama baru mereka, Islam. Abu Ammar berkata: Wahai Rasulullah, beginikah waktu?? Beliau menjawab: Sabarlah keluarga Yasir, Ya Allah ampunilah keluarga Yasir…”.

Ketika itu datanglah Abu Jahal, pemimpin jahiliyyah yang tak mengenal kemanusiaan. Ia datang kemudian menyiksa Sumayyah. Berkali-kali dicambuknya perempuan tersebut. Agaknya keteguhan dan kesabarannya membuat Abu Jahal gusar dan marah. Diangkatnya potongan besi, dipukulkannya keperut perempuan mulia ini. Kemudian ditusukkan kebawah perutnya. Rahimnya robek, membuatnya berpisah dengan kefanaan ini. Perempuan tegar ini bertemu dengan Tuhannya. Menjadi syahidah pertama dalam perjuangan dakwah. Yang gugur pertama kali dalam Islam.

Panjangnya waktu tak dirasa Fir`aun kecil ini untuk memperbaiki kesalahan atau bertaubat. Hingga datang hukuman Allah. Perang Badar Kubra. Keangkuhan, segala kesombongan dan takabbur terkapar, terjungkal dan bungkam di tangan dua orang anak kecil yang belum genap berusia sepuluh tahun, Mu`adz dan Mu`awwidz. Abu Jahal meninggalkan kefanaan sedang siksa dan kehinaan yang menantinya.

Ibnu Mas`ud mengisahkan bagaimana pahlawan-pahlawan kecil tersebut bersemangat mencari penjahat bernama Abu Jahal. “Mu`adz mendekatiku memegangi pergelangan tanganku. Kemudian ia mengguncang-guncangnya berkali-kali sambil menanyakan,” Mana di antara lelaki itu yang bernama Abu Jahal?”. Ia terus menanyakannya. Kemudian aku menunjukkan kepadanya. Ia pun segera melesat seperti anak panah. Dengan sebuah pedang terhunus. Beberapa saat kemudian. Mu`awwidz datang mendekatiku. Ia melakukan hal yang sama seperti Mu`adz. Mengajukan pertanyaan yang sama juga. Aku mengatakan padanya,” Mu`adz telah mendahuluimu mencarinya!”. Dan setelah kutunjukkan padanya tentang keberadaan Abu Jahal, ia pun melesat dengan sangat cepat. Hingga ketika keduanya mendekati Abu Jahal. Kami tak mengetahui pedang manakah diantara mereka berdua yang terlebih dahulu menusuk Abu Jahal”.

Sungguh, ketakjuban yang tak berlebihan bagi perempuan pertama yang memeluk agama ini. Berkorban demi segalanya.

Sungguh, saya merasakan ketegaran dan keharuan. Perempuan pertama yang mempertahankan akidahnya. Rela melepaskan ruhnya asalkan iman tak berpisah dari dadanya. Tubuhnya boleh dicacah dan tercabik-cabik oleh kezhaliman dan keangkuhan, namun imannya kepada Dzat yang Maha Kuat tetap utuh tak berkeping. Ia serahkan pada Allah yang membalas segala kekejian dan kezhaliman.

Ibunda Khadijah ra, ibu kaum muslimin. Dari rahimnya terlahir keturunan-keturunan mulia yang mengesakan Allah dan memegang amanah suaminya, sebagai dai, nabi pembawa risalah Tuhannya. Tak heran akan julukan tersebut baginya. Orang pertama yang memeluk Islam sebagai agamanya. Dan Muhammad sebagai Rasul-Nya.

Ibunda Sumayyah ra. Ibunda sahabat Ammar, syahidah pertama yang mempertahankan akidahnya. Tegar dan memiliki kemuliaan. Izzah di depan kekafiran dan keangkuhan. Ia kalahkan segala kecongkakan dengan kesabaran. Kesombongan dengan keteguhan berpegang iman. Tak heran akan julukan tersebut baginya. Orang pertama yang gugur dijalan dakwah Islam.

Kedua-duanya adalah perempuan yang semestinya di kenal seluruh kaum  muslimin dari era Fajrul Islam hingga hari yang dijanjikan Allah. Sejarah telah mengukirkan tinta emasnya.

Kiprah dan peranannya telah dikenal semenjak pertama kali wahyu Allah ini diturunkan ke bumi melalui malaikat-Nya di Gua Hira`. Ketegaran yang telah dikenal semenjak kecongkakan Abu Jahal mengoyak kemuliaannya.

 

Saiful Bahri

Cairo, 10 Maret 2002

Perempuan-Perempuan Terhormat

PEREMPUAN-PEREMPUAN TERHORMAT

Dari jauh terlihat seorang pemuda tertatih-tatih. Tampak keletihan di wajahnya menunjukkan jauhnya perjalanan yang ia tempuh. Dari daerah yang sekarang disebut Asy Syarqea, Mesir.  Kini, sampailah ia di Madyan, di tepi sebuah sumber air jernih.

Diperhatikannya ramai orang-orang sedang memberi minum ternak mereka. Tak jauh dari tempat itu dilihatnya dua orang perempuan sedang menahan ternak mereka. Dengan hati-hati ia dekati mereka berdua seraya bertanya dengan singkat, “Apa yang kalian perbuat di sini“. Mereka pun menjawab, “Kami baru bisa memberi minum ternak kami setelah para penggembala itu pergi, sedang bapak kami adalah seorang yang lanjut usia“.

Tanpa menunggu permintaan, naluri kemanusiaan pemuda ini mendorongnya untuk segera menolong keduanya. Setelah itu, tanpa menunggu ucapan terima kasih atau sekedar berbasa basi segera ia menyingkir menjauhi mereka dan menyandarkan punggungnya di bawah sebuah pohon seraya mengeluhkan keletihan dan kesulitan hidup kepada Tuhannya.

Tak berapa lama kemudian ia didatangi oleh salah satu dari dua perempuan tadi. Dengan malu-malu ia berkata, “Sesungguhnya bapakku mengundangmu sebagai balas budi atas pertolonganmu terhadap kami“. Kemudian ia pun berjalan mengikuti keduanya.

Namun siang itu angin sedang ‘bertingkah’. Akibat ulah angin tersebut sang pemuda itu beberapa kali agak salah tingkah berjalan di belakang kedua perempuan tersebut. Segera ia berkata: “Sebaiknya saya yang di depan. Kalian hanya perlu mengatakan lurus atau belok ke kanan dan ke kiri“. Keduanya pun setuju.

Kisah di atas diabadikan Allah dalam Al Qur’an pada surat Al Qashash: 22-26. Adapun pemuda tadi adalah Nabi Musa As. dan kedua gadis tersebut adalah dua orang putri Nabi Syu’aib As. (menurut sebagian ahli tafsir). Salah seorang diantara perempuan itu akhirnya meminta bapaknya untuk mempekerjakan Nabi Musa guna meringankan tugas mereka.

Dua sifat yang membuat sang bapak menyetujuinya yaitu kuat dan dapat dipercaya. Sang bapak bertanya, “Dari mana engkau tahu ia kuat dan dapat dipercaya?” Sang putri pun menjelaskan kuatnya sang pemuda ketika mengangkat batu besar dan membantu meminumkan ternak. Selain itu sepanjang perjalanan kesantunan sang pemuda terlihat jelas. Terutama ketika ia memutuskan untuk berjalan di depan mereka berdua untuk menjaga pandangannya. Ini menunjukkan bahwa ia dapat dipercaya.

*****

Di Madinah, suatu ketika ada seorang muslimah pergi ke toko perhiasan. Di tempat itu banyak orang yahudi berniaga dan bekerja sebagai tukang emas. Ia membawa perhiasan hendak dijual ke salah satu toko.

Ketika ia sedang duduk di depan toko sambil tawar-menawar, sekelompok yahudi datang mendekatinya. Lalu dimintanya sang muslimah untuk membuka kain penutup wajahnya. Permintaan itu jelas ditolaknya.

Seorang yahudi lainnya yang berada di belakang muslimah itu menyematkan ujung bajunya dengan sebuah duri pada bagian punggung bajunya. Ketika wanita itu bangun hendak berdiri, tampaklah auratnya. Mereka (orang-orang Yahudi itu) tertawa terbahak-bahak, sedangkan sang muslimah berteriak minta pertolongan.

Sekonyong-konyong datanglah seorang pemuda muslim memenuhi panggilan tersebut lalu menyerang dan terjadi perkelahian. Sang pengrajin emas tersebut terbunuh. Pemuda itu kemudian dikeroyok dan dihabisi oleh orang-orang Yahudi. Akibat peristiwa tersebut terjadi perkelahian antara pihak keluarga pemuda dan Yahudi Qainuqa’.

Menanggapi kejadian ini Rasul Saw. meminta kaum Yahudi untuk tidak mengganggu kaum Muslimin. Namun peringatan ini dibalas dengan cemoohan, “Hai Muhammad, janganlah engkau menepuk dada atas kemenannganmu melawan kaum yang tak becus berperang (yakni orang-orang Quraisy)! Kalau engkau berani cobalah lawan kami. Kami bukanlah kaum seperti mereka!“.

Rasulullah Saw. bersabar dan tetap menahan diri. Namun sikap ini justru dianggap sebagai tanda ketakutan. Perbuatan Yahudi itu jelas tidak bisa ditolelir lagi.

Selama 15 hari mereka dikepung. Sampai akhirnya Rasulullah memutuskan untuk mengusir mereka dari Madinah. Kaum muslimin kemudian benar-benar aman dan tentram, terhindar dari gangguan benalu peradaban tersebut.

*****

Di suatu fajar Khalifah Umar ra. berjalan-jalan di sudut-sudut kota. Tak sengaja ia mendengarkan sebuah perbincangan serius antara seorang gadis dengan ibunya. Sang ibu menyarankan kepada putrinya untuk mencampur susu dengan air tawar supaya mendapat keuntungan banyak.

Putrinya menjawab, “Amirul Mukminin melarangnya, wahai Ibuku!”. “Bukankah Amirul Mukminin tidak mengetahuinya?“, timpal sang ibu. Dengan tegas pula gadis itu berkata, “Tetapi Tuhan Amirul Mukminin mengetahuinya!“.

Umar tersenyum mendengar percakapan tersebut. Seusai shalat Shubuh ia segera meminta ‘Ashim (putranya) untuk menanyakan kondisi keluarga gadis tersebut yang tampaknya memerlukan bantuan. Sekembalinya dari sana, ‘Ashim diminta untuk kembali lagi. Kali ini bersama Umar.

Akhirnya putra Umar tersebut mempersunting gadis yang shalihah itu. Dari pernikahan berkah ini lahirlah seorang anak perempuan yang cantik, cerdas dan bertakwa, Ummu ‘Ashim. Ketika menginjak usia remaja Abdul Aziz bin Marwan saudara Khalifah Abdul Malik meminangnya. Ketika beliau menjadi wali Mesir, lahirlah putra pertama beliau, Umar bin Abdul Aziz Khamîs Khulafaurrasyidin (Khulafaurrasyidin yang kelima).

*****

Ketiga sampel di atas menunjukkan betapa berharga seorang perempuan. Ketika perempuan menghargai dan menghormati dirinya sendiri. Ketika sang muslimah menyadari ke’wanitaan’nya. Ketika sang perempuan mematuhi pesan-pesan wahyu.

Sebaliknya, bila suatu kaum meremehkan wanita niscaya Allah akan remehkan mereka dengan kehancuran. Jika suatu kaum berlebihan memuja perempuan niscaya Allah akan jatuhkan mereka dengan kebinasaan. Islam datang dengan sebuah norma moderat, merefleksikan ajaran proporsional, mengemban misi umat ini sebagai ummatan wasathan (umat yang moderat). (QS. Al Baqarah: 143).

 

Saiful Bahri

Cairo, 27 Juli 2001

Matahari dan Bulan

MATAHARI DAN BULAN

Juha, seorang tokoh jenaka dalam dongeng Arab pernah ditanya seseorang,”Wahai Juha, manakah yang lebih penting dan dibutuhkan manusia, matahari atau bulan?”.

Dengan enteng Juha menjawab,”Bulan”.

Sang penanya itu sangat heran kemudian kembali melontarkan pertanyaan berikutnya,”Mengapa demikian?

Dengan santainya Juha mengatakan,”Karena pada waktu siang sudah demikian terang sehingga matahari tidak terlalu diperlukan. Sementara malam sangatlah gelap, maka kehadiran bulan sangatlah ditunggu-tunggu manusia”.

Sang penanya tak lagi mampu menahan senyum sementara orang-orang disekelilingnya sudah terbahak-bahak.

Kita tidak akan mendiskusikan jawaban Juha, membenarkan atau bahkan menyanggahnya. Namun kita akan mengambil substansi pertanyaan diatas. Matahari dan Bulan.

Matahari dan bulan sebagaimana bumi dan langit merupakan salah satu ayat (tanda-tanda) kekuasaaan Allah. Salah satu tanda bahwa Allah menciptakan segala sesuatu serba berpasang-pasangan.

Di dalam al-Qur`an dan Hadits kata ganti bulan menggunakan dhamir laki-laki (mudzakar) sedang kata ganti matahari adalah dengan dhamir perempuan (mu`annats). Kaedah ini juga dipakai oleh Bahasa Arab standar (baku). Padahal matahari sering diidentikkan sebagai lambang keperkasaan yang merupakan sifat maskulin. Sementara bulan lebih sering diidentikkan dengan kelembutan sebagai hiasan sifat feminin.

Apakah kemudian ketika al-Qur`an menggunakan kata ganti perempuan untuk matahari akan mengurangi kegentelan matahari. Demikian pula ketika bulan memiliki kata ganti laki-laki berarti akan kehilangan sifat femininnya.

Dalam wacana feminisme, yang sering diperdebatkan adalah masalah kesamaan antara laki-laki dan perempuan, setidaknya tuntutan untuk menyamakan keduanya. Lantas dari sudut pandang mana mereka–para penganut feminisme liberal-menarik perbedaan.

Dengan perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Seseorang tak akan menganggap aib bila seorang perempuan memiliki sifat pemberani. Nusaibah binti Ka`b menjadikan dirinya perisai hidup bagi Rasulullah saw ketika perang Uhud. Sebaliknya seseorang takkan memandang aib ketika seorang laki-laki memiliki sifat kelembutan dan pemalu. Usman bin Affan ra, malaikat pun malu dengan beliau karena beliau memiliki sifat sangat pemalu. Sa`id bin Musayyib seorang tabi`in setiap malam menangis dalam sujud panjang.

Allah menjadikan bulan sebagai ayat-Nya. Karenanya kita berpuasa menggunakan bulan (penanggalam qamariyah bukan dengan penanggalan syamsiyah). Mataharipun demikian, kita diperintahkan shalat dengan patokan matahari.

Lebih dari itu matahari dan bulan tidaklah dapat medatangkan manfaat dan madharat bagi manusia. Mereka berdua hanya makhluk yang menjalankan titah penciptanya.

Ketika putra Rasulullah saw, Ibrahim wafat, terjadi gerhana matahari. Beliau mengkhawatirkan jangan-jangan orang-orang akan meyakini gerhana yang terjadi merupakan simbol kesedihan alam atas wafatnya putra Nabi. Kemudian beliau mengatakan bahwa baik matahari ataupun bulan hanyalah makhluk Allah. Karenanya kita disunnahkan untuk shalat ketika terjadi gerhana, baik matahari ataupun bulan. Sebagai pengingat bahwa keduanya merupakan nikmat bagi manusia. Bagaimana kelangsungan hidup manusia tanpa matahari atau bulan. Allah hendak menyadarkan kelalaian manusia tersebut akan nikmat yang agung ini.

Dari fenomena diatas tak seorangpun kemudian menganggap bahwa bulan adalah saingan matahari. Dengan dalih bahwa keduanya tak pernah bertemu dan berkumpul. Hal ini dinafikan oleh agama kita. Fenomena alam yang serba berpasangan, matahari dan bulan, malam dan siang, langit dan bumi, besar dan kecil, semuanya mempunyai spesifik masing-masing dan memiliki tugas sesuai kodrat penciptaannya. Hendakkah kita menyamaratakan?.

Adapun manusia, laki-laki dan perempuan. Bila dianggap sebagai saingan dan rifal, tak akan optimal peran hidupnya. Laki-laki dan perempuan merupakan mitra. “Annisa` syaqâ`iqu ar rijâl” (perempuan merupakan mitra lelaki).

Perbedaan maupun persamaan ini masing-masing telah diatur kaedahnya oleh agama. Miniatur fisik masing-masing disiapkan untuk menghadapi tugas sesuai kodratnya. Dengan perbedaan ini tidaklah menafikan persamaan. Semuanya berhak menuntut ilmu, menerima pahala dari amal yang diperbuatnya serta meraih tingginya derajat firdaus al-a`lâ. Ketika matahari kembali ke peraduannya di ufuk barat, bulanpun menggantikan perannya di kegelapan malam. Tanpa rasa saling membanggakan diantara satu sama lain kecuali bangga memikul tanggung jawab membantu kepentingan anak manusia.

Demikian halnya manusia. Bila perempuan dan laki-laki berlomba-lomba membanggakan diri diatas yang lain akan memicu persaingan (yang tak sehat). Berikutnya cenderung susah untuk bekerja sama. Pernahkah bulan merebut peran matahari, atau enggan menjalankan perannya di malam hari. Kecuali bila tiba saat sangkakala hari akhir berbunyi.

“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al Ma`idah:50). Mahabenar Allah dalam segala firman-Nya.

 

Saiful Bahri

Cairo,  02 Agustus 2001

Perempuan-Perempuan Tangguh

PEREMPUAN-PEREMPUAN TANGGUH

Sudah menjadi kebiasaan seorang raja zhalim untuk senantiasa memaksakan kehendak terhadap siapapun, terutama rakyat-rakyatnya yang lemah dan tak berdaya. Fi`aun adalah salah satu sampel dari kezhaliman tersebut. Jika ia menginginkan sesuatu maka para prajuritnya mesti segera menghadirkannya dengan cepat.
Konon Fir`aun bermaksud mempersunting seorang perempuan cantik. Asiyah, seorang perempuan yang tak mau mengakui pengultusan Fir`aun sebagai Tuhan bagi masyarakatnya. Namun, bila ia menolak keinginan Fir`aun yang meminangnya, akibat buruk akan menimpa keluarganya, terutama ibunya yang sangat ia kasihi. Dengan berat hati ia pun menerima lamaran itu. Dan Fir`aun pun tak tahu bahwa calon istrinya adalah seorang yang tak sudi menuhankan dan memujanya sebagai sesembahan yang teramat sakral bagi rakyat Mesir. Perempuan tersebut adalah seorang yang hanif yang nantinya akan bergabung dengan gerbong dakwah Islam yang mengesakan Allah sebagai Tuhan. “Dan Allah membuat isteri Fir`aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata:”Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam syurga dan selamatkanlah aku dari Fir`aun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim” (QS. At Tahrim: 11)
Doa Asiyah dikabulkan Allah. Fir`aun pun tak pernah berhasil `menyentuhnya`. Dan ketika Fir`aun sampai pada puncak penasarannya, tatkala Asiyah berada dalam segala kecemasannya, pertolongan Allah pun datang. Allah mengutus malaikatnya dititahkan untuk menyamar, serupa dengan isteri Fir`aun tersebut, Asiyah. Selamatlah ia dari Fir`aun. Kemudian ia pun menjadi istri kesayangan Fir`aun di antara sekian istri Fir`aun yang ada. Jadilah ia sebagai inspirasi penentu keputusan Fir`aun dalam beberapa kesempatan penting. Banyak hunafâ` (orang-orang yang hanif) bani `israil yang diselamatkan berkat usulan istri Fir`aun ini. Bahkan keputusan mengasuh Musa kecil juga datang dari inisiatif Asiyah dan Allah pun membantunya dengan menurunkan rasa cinta kepada Musa di hati Fir`aun.
Bagi Asiyah hidup dalam lingkungan musuh Allah tidaklah menjadi penghalang untuk menjadi seorang perempuan yang baik dan pejuang dakwah yang gigih. Ia pun berabung dalam barisan dakwah Nabi Musa as. Dan pada saatnya tiba, ia pun harus berhadapan dengan Fir`aun yang berstatus sebagai suaminya. Fir`aun pun marah besar begitu mengetahui sepak terjang istri yang selama ini dicintai dan dimanjakan keinginannya.
Asiyah pun tak luput dari kezhaliman Fir`aun, beliau akhirnya menutup riwayat hidupnya dalam siksaan keji Fi`raun. Seorang syahidah sejati yang mengabdikan diri dalam dakwah, bertahun-tahun hidup dalam tekanan suaminya. Dan Allah pun mengabulkan permintaannya. Sebuah rumah di syurga-Nya.
*****
Pada masa Kaisar Adreanus memerintah Romawi, wilayah Philadelphia (Syam) dipimpin oleh seorang gubernur bernama Dyaklitiyanus. Diktator, bengis dan kejam adalah pernik-pernik pemerintahan Romawi kala itu. Sehingga penerus dakwah Nabi Isa as sangat kesulitan untuk menyebarkan ajaran yang dibawa rasul Allah tersebut. Namun kesulitan jalan dakwah ini bukan berarti matinya dakwah. Justru ujian Allah memperjelas status para dai di jalan-Nya. Kuat dan tsabat, ataukah munafik dan mengejar kepentingan dan kemaslahatan pribadi saja. Sesungguhnya inilah kemenangan para dai meskipun mereka dikejar-kejar seperti segerombolan penjahat. Setiap rumah yang tak ada berhalanya, para penghuninya dicurigai sebagai orang yang membangkang terhadap dewa-dewa pujaan Kekaisaran Romawi. Kondisi kaum muslimin saat itu benar-benar sangat sulit dan memprihatinkan.
Namun, istri Gubernur Philadelphia adalah seorang muslimah yang bergabung dalam kafilah dakwah Nabi Isa as yang dibawa para hawariyyin.
Bertahun-tahun istri Diyaklitiyanus menyembunyikan keimanannya. Hingga suatu ketika ia tak tahan. Dengan bantuan seorang penjaga tempat penyembahan berhala, ia memasuki ruangan tersebut. Tanpa ampun berhala-berhala tersebut dihancurkannya. Sayangnya saat itu keributan kecil ini tercium oleh Diyaklitiyanus sehingga bergegas ia menyaksikan istrinya telah memporak-porandakan perwujudan sembahannya Apolon, Jupiter dan yang lainnya. Sang istri pun dibakarnya hidup-hidup tanpa ampun.
Dakwah bisa menembus kokohnya benteng kerajaan. Putri permaisuri yang syahidah tersebut juga salah seorang yang tak mau menyembah berhala dan menyediakan kurban untuk mereka. Ia bersama para hunafâ` yang lain akhirnya menemukan Islam lewat penerus dakwah Nabi Isa as. Sang putri ini akhirnya menjadi seorang muslimah yang mengesakan Allah dan kemudian menjadi penerus estafet dakwah ibunya. Bahkan sebagian dari perwira kerajaan dan penasehat gubernur juga orang-orang yang mengesakan Allah, sebagaimana putri kesayangannya.
Istri Diyaklitiyanus, juga Istri Fir`aun merupakan potret ketangguhan seorang mukminah yang percaya akan janji Tuhannya. Kemenangan iman. “Iman yang ditanamkan di dada dalam kesunyian rumah, tiada keraguan –pasti- suatu saat akan digetarkan dan dikumandangkan oleh para penduduk dunia dimana-mana.”
*****
Seorang perempuan bangsawan. Mengalir dalam dirinya darah keturunan yahudi. Ayahnya Huyay bin Akhthab seorang pemimpin yahudi yang terpandang, mempunyai koneksi yang kuat dengan beberapa pimpinan kabilah-kabilah yang ada di semenjanjung Arab. Suaminya, Kinanah bin Rabi`, Raja Khaibar yang kaya raya. Dan Khaibar terkenal sebagai benteng yahudi terakhir yang kuat dengan segala kekayaan yang sangat melimpah ruah. Kekalahan-kekalahan yang menimpa bangsa yahudi di tangan pasukan kaum muslimin setidaknya membuatnya merenung, benarkah ia dan kaumnya memperjuangkan sesuatu yang haq, kebenaran? Kegelisahan ini berlanjut dengan mimpi-mimpi aneh. Jika mereka dalam kebenaran, mengapa Tuhan tidak segera menolong mereka dan mengalahkan pasukan Muhammad.
Atau jangan-jangan yang terjadi justru sebaliknya. Muhammad lah yang sesungguhnya berada dalam kebenaran. Berarti ia dan kaumnya tersesat dalam jalan yang salah.
Kegelisahan demi kegelisahan menyesaki dadanya. Pada puncaknya adalah rencana penyerangan Muhammad dengan bala tentaranya ke benteng Khaibar. Para pembesar yahudi meskipun mereka memiliki kekuatan yang besar dengan kekayaan yang banyak namun tetap saja tercekam dalam ketakutan. Ada sejarah pahit bani quraizhah dan bani qainuqa` yang mencekam dan mengerikan dalam benak masing-masing di antara mereka.
Singkat cerita, pertempuran sengit pun tak dapat dihindari. Perang telah berkecamuk dengan dahsyatnya. Menurut perkiraan bangsa Arab dan kabilah-kabilah ternama, Khaibarlah yang akan keluar sebagai pemenang. Melihat kebesaran namanya dan kekayaan yang mereka miliki. Mereka juga didukung Bani Ghathafan, Yahudi Fadak, Yahudi Bani Wadi al-Qura dan Yahudi Tsaima`. Namun Allah membalikkan perkiraan mereka. Kali ini kemenangan berada di pihak Nabi Muhammad beserta para sahabatnya. Khaibar takluk setelah benteng terakhirnya yang kuat jebol. Dan karena mereka bangsa yahudi sangat takut terhadap kematian. Sementara para sahabat Rasululah saw adalah orang-orang yang mencari kematian sebagai pintu menuju keabadian hidup dalam naungan rahmat Allah.
Shafiah binti Huyay, terkesima. Betapa ia sebenarnya sangat membenci pertumpahan darah dan pertikaian. Kali ini ia benar-benar kehilangan segala-galanya. Huyay bin Akhthab, ayahnya tewas mengenaskan. Kinanah bin Rabi`, suaminya juga mengalami nasib yang tak jauh berbeda dengan ayahnya. Mati di tangan pasukan Muhammad.
Ia pun bimbang menentukan sikapnya. Haruskan ia sedih karena kehilangan orang-orang yang dicintainya. Ataukah ia gembira dengan jelasnya keraguan selama ini. Berarti Muhammad lah yang berada dalam barisan kebenaran.
Kebimbangan ini pun diselingi pilihan dari Rasulullah saw. Ia di bebaskan memilih tetap menjadi seorang penganut yahudi, Rasul tak akan memaksanya. Atau bersedia masuk agama Rasulullah saw.
Para tawanan yang lain, para perempuan-perempuan yang lain pun terkejut dan kaget dengan pilihan Shafiyah. Ia memilih jalan Muhammad saw. Ia memilih menjadi seorang muslimah. Dan bahkan, akhirnya beliau menjadi salah seorang ummul mukminin; istri Rasulullah saw.
Banyak pihak yang meragukan keislaman beliau bahkan sampai sebagian keluarga Rasulullah pun ada yang meragukannya. Jangan-jangan ia berpura-pura belaka untuk mencari kesempatan membalas dendam atas kematian ayah dan suaminya serta para keluarganya.
Hal tersebut yang membuatnya cukup bersedih. Bahkan para ummul mukminin juga sempat mencurigainya. Dan kegundahan ini pun dikeluhkannya kepada Rasulullah saw tersedu dalam isakan tangis dan luka. Dengan arif beliau menghibur. “Katakan saja pada mereka: Bagaimana kalian merasa lebih baik dariku? Suamiku Muhammad, Bapakku Harun dan Pamanku Musa!” Dan isak itupun terhenti oleh kedamaian. Beliau telah menjadi seorang muslimah sejati dan bergabung dalam perjuangan dakwah Rasulullah saw.
Seorang perempuan keturunan yahudi. Yahudi, bangsa yang lebih keras permusuhannya terhadap Islam melebihi kerasnya permusuhan Quraisy dan kabilah Arab lainnya. Akhirnya berbalik arah. Kali ini justru berjuang membela Islam.
Beliau adalah muslimah yang tangguh yang sanggup mengubur luapan dendam yang sempat membara didadanya. Terkubur dengan kedamaian saat beliau menemukan kemuliaan Islam bersama suaminya yang baru. Yang jauh lebih baik dari Kinanah. Bahkan yang terbaik dari yang pernah ada di bumi ini.
*****
Negeri Saba` memiliki sebuah kerajaan bernama Sabaiyah, ibukotanya di Ma`rib. Letaknya di dekat Shan`a, ibukota Yaman sekarang. Sebuah negeri yang subur dan makmur ini dipimpin oleh seorang ratu, Ratu Balqis. Ia bersama kaumnya adalah para pemuja dan penyembah matahari. (QS An Naml: 22-24)
Berita dari pelosok negeri yang jauh ini dibawa salah seorang prajurit Sulaiman as, burung Hud-hud. Hanya seekor burung kecil yang sedang berjalan-jalan sambil bertadabbur.
Nabi Sulaiman, saat mendengar pertama kali tentang negeri yang makmur ini tidaklah terlalu heran atau tergerak hatinya untuk melakukan sesuatu. Namun ketika burung Hud-hud mengatakan,”Aku mendapati dia dan kaumnya mnyembah matahari, selain Allah; dan syaithan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu meghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk”. (QS An Naml: 24) hati Sulaiman tergerak sebagai wujud tanggung jawab seorang pembawa risalah. Yaitu untuk menyelamatkan manusia dari perbudakan. Baik dengan antar sesama manusia atau yang lebih rendah dari itu, benda-benda yang tak mendatangkan manfaat ataupun bencana.
Risalah Nabi Sulaiman adalah risalah menawarkan Islam kepada penduduk kerajaan Saba`, tentunya dimulai dari pemimpin mereka, Ratu Balqis. Ajakan ini ditanggapi oleh para pembesar kerajaan sebagai interfensi negeri mereka. Mereka pun berpendapat sebaiknya memerangi Sulaiman. Namun, dengan kecerdasannya sang ratu dapat meyakinkan bahwa peperangan sama sekali tidak mendatangkan keuntungan, baik bagi yang menang terlebih bagi yang kalah. Akhirnya ia bermaksud menguji kebenaran risalah dan seruan Nabi Sulaiman. Dan terbuktilah bahwa seruan Nabi Sulaiman sungguh-sungguh, bukan karena ingin menguasai negeri mereka atau tergiur dengan kekayaan alamnya.
Hidayah Allah pun berpihak kepada ratu Balqis dan sebagian kaumnya. Dengan segala ketulusan dan keinsafan Ratu kaum Saba` tersebut mengatakan, “…Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zhalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam”. (QS An Naml:44)
Kebesaran namanya tak membuatnya menutup hati nuraninya. Kecerdasannya tak membuat gengsinya mesti diletakkan di atas segala-galanya. Status sosialnya yang tinggi tak lantas menyebabkanya angkuh dan sombong di depan kebesaran Allah. Ratu Balqis yang tumbuh dan dewasa dalam lingkungan yang menyekutukan Allah, mampu –dengan hidayah Allah- bergabung dalam kafilah dakwah Nabi Sulaiman as.
*****
Jika saja mereka, Asiyah, istri Fir`aun kemudian istri Dyaklitianus, Shafiyah binti Huyay serta Ratu Balqis mampu bergabung dalam kafilah dakwah, maka muslimah sekarang generasi sahabiyah Rasulullah saw semestinya mampu berbuat yang lebih dari itu. Karena mereka tumbuh dan dibesarkan dalam lingkungan yang memusuhi dan memerangi Allah serta hamba-hamba-Nya. Sementara sebagian besar kita, dibesarkan dan diasuh dalam keluarga yang relatif lebih aman,lebih hanif serta lebih terhindar dari lingkungan yang memusuhi dan memerangi Allah serta hamba-hamba-Nya.
Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati” (QS Ali Imran: 13)
Sedang kita sebagai orang-orang yang beriman sudah semestinya memiliki mata hati yang tajam.

Saiful Bahri
Jakarta, 14 Februari 2002

Khutbah Idul Adha 1433 H

KEKUATAN SPIRIT

DOA INSPIRATIF NABI IBRAHIM

Dr. H. Saiful Bahri, MA.

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الله أكبر (9 مرات) . الله أكبر كبيراً والحمد لله كثيراً. وسبحان الله بكرةً وأصيلاً. لا إله إلاّ الله والله أكبر، الله أكبر ولله الحمد. الحمد لله الذي فرض علينا الحجّ والعمرة لمن استطاع إليه سبيلاً. أشهد أن لا إله إلاّ الله وحده، صَدَقَ وعْدَه ونصَر عبْدَه وأعزّ جُنْدَه وهزَم اْلأحْزَابَ وحدَه، وأشهد أنّ محمداً عبده ورسوله لا نبي بعد، فصلوات الله وسلامُه على هذا النبي الكريم وعلى آله وأصحابه أجمعين. أمّا بعد، فيا عباد الله أوصي نفسي وإياكم بتقوى الله، إنه من يتق ويصبر فإن الله لا يضيع أجر المحسنين. يقول المولى عز وجل: ﴿ وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الْأَصْنَامَ ﴾ (إبراهيم: 35). طِبْتُمْ وطابَ ممْشَاكُمْ وتَبَوّأتمْ مِن الجنّة منزلاً .

Allahu Akbar x 3, walillahil hamd
Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah.
Segala puji dan syukur kita kumandangkan di tempat ini. Menandai kemenangan yang dikaruniakan Allah Swt. Kemenangan yang laik untuk dirayakan meski mungkin bagi sebagian orang tak merasakan spirit ini karena merasa jauh dari pusat perayaan, di sekitar Masjidil Haram.
Meski jauh dari sana, umat Islam di mana pun berada tetap disunnahkan (muakkad) untuk melakukan shalat Idul Adha. Bahkan sehari sebelumnya, ketika sekitar dua juta kaum muslimin berkumpul di Padang Arafah, kita disunnahkan puasa yang dijanjikan pahalanya adalah tebusan dan ampunan dari dosa-dosa kita setahun lamanya. Amal-amal baik di awal bulan ini bahkan tiada yang sanggup menandinginya, selain seseorang yang keluar dari rumahnya membawa harta dan jiwanya, berniat jihad fi sabilillah dan ia tidak kembali.
Idul Fitri yang telah lewat Allah dahului dengan mewajibkan puasa untuk membiasakan penyucian diri dan pendidikan mental mukmin agar bertaqwa. Selain untuk menjadi cara pembiasaan bersolidaritas bagi mereka yang kekurangan dalam hidupnya, saat itu juga Allah wajibkan zakat fitrah. Agar tak lagi ada orang meminta-minta di hari bahagia, Idul Fitri.
Kini, saat kita menunaikan dan merayakan Idul Adha, sebelumnya didahului dengan sunnah puasa dan amal shalih lainnya. Allah pun sunnahkan ibadah menyembelih hewan kurban. Sebuah perintah untuk menyentuh dimensi sosial dan menyemai kepekaan terhadap masyarakat sekeliling kita.

Allahu Akbar x 3, walillahil hamd
Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah.
Spirit pengorbanan ini dicontohkan oleh Nabi Ibrahim as. dari sejak pengorbanan kesabaran menghadapi kaumnya dan bapaknya yang lebih suka mendukung rezim yang zhalim, hingga sabar menanti sang buah hati berpuluh-puluh tahun lamanya, sampai harus dihadapkan pada sebuah cobaan berat meninggalkan istri dan anaknya di tempat yang tiada kehidupan di sana. Pun saat ia menemuinya kembali setelah lebih sewindu Allah kembali mengujinya dengan perintah menyembelih anak kesayangannya.
Itulah mengapa Allah kemudian menyematkan cinta-Nya pada beliau dengan menjulukinya “Khalilullah” (kekasih Allah), gelar yang tak semua orang bahkan nabi-nabi-Nya sekalipun mendapatkannya. Allah juga jadikan keturunan-keturunannya banyak yang diangkat menjadi nabi dan rasul. Diberkahi dan dicintai alam semesta.
Spirit pengorbanan ini terangkum dalam doa-doa inspiratif beliau di Surat Ibrahim, Surat al-Baqarah dan asy-Syu’arâ.
1. Doa permohonan keamanan dan proteksi dari gangguan berhala
( وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الْأَصْنَامَ )
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta keturunanku daripada menyembah berhala-berhala.” (QS. Ibrahim [14]: 35)
Ini adalah doa yang menginspirasi kita untuk selalu berdoa di setiap kita menapak kaki, agar diamankan Allah swt. Aman untuk beribadah, menebar kebaikan, mendakwahkan kebaikan, meyakinkan orang-orang bahwa misi yang kita emban adalah misi keamanan, karena “mu’min” akar katanya “aman”, maka selaiknya seorang mukmin menjadi sumber keamanan, kenyamanan dan ketenangan. Doa ini seharusnya kita baca saat kita bekerja, di ruang kerja kita. Saat mengantar anak atau keluarga kita ke manapun; ke sekolah dan tempat-tempat lain agar Allah amankan mereka semua.
Poin kedua dalam doa ini adalah beliau berdoa agar dijauhkan dari menyembah berhala. Barangkali sebagian kita mengira bahwa berhala zaman Nabi Ibrahim sudah kadaluwarsa dan tak lagi ada wujudnya. Namun kenyataannya, di zaman kita hidup ada berjuta berhala bermunculan. Adakalanya berhala modern itu bernama popularitas, jabatan, karir, status sosial, media masa, materi/uang dan lain sebagainya. Maka spirit Nabi Ibrahim adalah untuk menjauhkan dirinya dan keturunannya dari terperdaya dan terperangkap dari wujud kasad berhala yang disembah kaumnya juga dari berhala-berhala lain yang menyesatkan sebagian besar manusia, sebagaimana yang beliau tuturkan di ayat berikutnya.
2. Doa totalitas kepasrahan, permohonan cinta dan rizki yang bermuara rasa syukur yang berkelanjutan
(رَّبَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُم مِّنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ)
Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman, di dekat rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim [14]: 37)
Poin pertama, beliau mengajarkan totalitas kepasrahan pada Allah saat meninggalkan istri dan anaknya tanpa siapa-siapa di sekitarnya. Totalitas tawakkal setelah mendahuluinya dengan ikhtiar yang maksimal. Maka sebagai hasilnya putra-putra beliau yang berjumlah dua belas sebagaimana tutur sebuah riwayat (Ibnu Katsir: Qashash al-Anbiya’) hampir semuanya tersebar ke beberapa penjuru dunia beliau wakafkan sebagai dai-dai penebar kebaikan bagi manusia.
Poin kedua, beliau meminta Allah agar anak-anaknya dijaga konsistensinya dalam menjalankan shalat. Karena shalat ini sebagai usaha pendekatan, kepasrahan, penghambaan, kepada Dzat yang serba maha. Maka permintaan beliau, “maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka” tidaklah berlebihan. Dari tanpa siapa-siapa, sekarang justru siapa yang tak menginginkan menziarahi Ismail, makam Ibrahim dan mengingat momen-momen Ibunda Hajar berkeliling tujuh kali naik turun Bukit Shafa dan Marwa. Dan bukan sekedar kunjungan biasa, tapi semuanya dirangkai dalam sebuah ibadah yang diganjar Allah dengan surga. Ibadah haji dan umroh.
Poin ketiga, “dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur” Jika cinta sudah digenggam, jika muara dan sumbernya didekati dan didapatkan maka tiada lagi yang dikhawatirkan. Rahasia doa Nabi Ibrahim meminta buah-buahan, adalah simbol dan ikon kemakmuran. Setelah aman, terproteksi dari berbagai gangguan, maka bentuk kepasrahan menghasilkan kemakmuran materi berupa pemberian Allah yang melimpah serta kesejahteraan jiwa yang tiada terukur. Sehingga apapun karunia Allah yang diberikan tetap dan akan selalu bermakna. Itulah realisasi permohonan beliau, “mudah-mudahan mereka –selalu– bersyukur
3. Doa pengakuan dan pendidikan murâqabatulLâh
(رَبَّنَا إِنَّكَ تَعْلَمُ مَا نُخْفِي وَمَا نُعْلِنُ ۗ وَمَا يَخْفَىٰ عَلَى اللَّهِ مِن شَيْءٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاء)
Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami tampakkan; dan tiada sesuatupun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit.” (QS. Ibrahim [14]: 38)
Muraqabatullah, pendidikan self control dan konsentrasi tinggi yang akan menjaga kualitas hidup agar tetap berada dalam kelasnya. Bertahan dalam kualitas dan prestasi, meski ketika berada dalam keadaan down sekalipun.
Pendidikan muraqabatullah (pengawasan Allah ini) perlu sejak dini ditanamkan dan terus berusaha dilakukan agar mampu meminimalisir kecondongan hawa nafsu yang selalu membisikkan untuk keluar dari orbit kebaikan. Selain itu pendidikan ini dimaksudkan untuk menghindarkan seseorang dari berkepribadian ganda (split personality). Tampak baik di depan orang banyak tapi pada hakikatnya berhati jahat dan berjiwa busuk. Maka dengan sendirinya ini adalah penangkal kemunafikan yang sangat cepat menular dan selalu akan bertahan sebagai salah satu penyakit kejiwaan akut yang menggerogoti amal, semangat dan fondasi-fondasi kebaikan.
4. Doa menjaga kestabilan cita-cita dan pembiasaan-pembiasaan merawat cinta sepanjang hidup.
(رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ)
Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan keturunanku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibrahim [14]: 40)
Dengan rangkaian dua doa di atas Nabi Ibrahim kembali menegaskan urgensi menjaga kualitas shalat demi melanjutkan dan merawat cinta yang telah dianugerahkan oleh Allah. Dan shalat adalah ibadah yang tiada keringanan untuk ditinggalkan dalam keadaan apapun dan bagaimanapun serta di manapun. Juga terus menerus tanpa terputus. Karena patokan waktunya adalah matahari. Tak ada satupun di belahan bumi ini yang tak dilewati matahari, meski tertutup awan dan salju, walau di tengah belantara sekalipun. Maka akan selalu ada orang yang mengumandangkan “Allahu’akbar”. Saat panggilan shalat datang, saat memulai shalat, ketika terjadi perpindahan gerakan, bahkan setelah selesai shalat. Seseorang minimalnya dengan rangkaian shalat wajib ini menggumamkan kata “Allahu’akbar” sebanyak 250 kali sehari semalam. Maka sudah selaiknya jumlah frekuensi ini menggerakkan seseorang untuk selalu menghadirkan Allah dalam setiap aktivitasnya.
Sehingga saat terjadi closing, “Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku”. Kita tidak terlalu malu untuk mengajukan permohonan kepada Allah juga sekaligus yakin bahwa doa kita adalah permohonan yang kemungkinan besar dikabulkan oleh Allah.
5. Doa mentiapkan kecerdasan merancang, membidik dan mengharap kebaikan masa depan keabadian yang serba ghaib bagi siapapun
(رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ)
“Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua orangtuaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)” (QS. Ibrahim [14]: 41)
Orang tua, guru dan orang-orang yang berada dalam group value adalah unsur-unsur penting yang terlibat dalam membangun peradaban, merekayasa dan membiasakan kebaikan. Mereka juga sangat layak untuk menjadi pendamping dalam komunitas saat nantinya kita mengharapkan diberi fasilitas kenikmatan unlimited dari Allah. Yaitu berupa surga setelah semua dosa-dosa dan kesalahan kita diputihkan dan diampuni oleh Allah
6. Doa keberlangsungan dan estafet kebaikan yang berkesinambungan dari masa ke masa. Karena kebaikan dan keluasan Islam itu antar generasi, antar waktu, lintas geografis dan terjadinya proses yang terus berlanjut.
(رَبَّنا تَقَبَّلْ مِنّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ العَلِيمُ. رَبَّنا وَاجْعَلْنا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ وَأَرِنا مَناسِكَنا وَتُبْ عَلَيْنا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوّابُ الرَّحِيمُ)
Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah tobat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah [2]: 127 – 128)
Cita-cita penyebaran kebaikan tidaklah diukur dengan umur seseorang. Tapi kebaikan itu harus dipertahankan dengan kaderisasi dan estafet perjuangan. Pembinaan generasi sangatlah urgen. Setelah itu maka pembekalan generasi dilanjutkan dengan memohon petunjuk dan arahan Allah. Serta jika terjadi kesalahan dalam proses, kita wajib dan terus menerus beristighfar dan memohon ampunan-Nya.
7. Doa pamungkas, prestasi dan kemanfaatan dunia akhirat.

(رَبِّ هَبْ لى حُكْماً وَأَلْحِقْنى‏ بِالصَّالِحينَ. وَاجْعَلْ لى‏ لِسانَ صِدْقٍ فى‏ الآخِرينَ. وَاجْعَلْنى‏ مِنْ وَرَثَةِ جَنَّةِ النَّعيمِ. وَاغْفِرْ لأَبى‏ إِنَّهُ كانَ مِنَ الضَّالّينَ . وَلا تُخْزِنى يَومَ يُبْعَثُونَ)
Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh, dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian, dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mewarisi surga yang penuh kenikmatan, dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya ia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat, dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan.” (QS. Asy-Syu’ara’ [26]: 83– 87)
Ahli hikmah, ahli kebaikan, adalah mimpi setiap orang. Jika itu tercapai maka makin berpeluang untuk memperbesar kemanfaatan dinikmati oleh sebesar-besar masyarakat sekitarnya. Setelahnya selain ia akan dikenang sebagai orang baik, maka ia akan didoakan, terus didoakan dan diharapkan kebaikan-kebaikannya tetap diteruskan. Saat yang sama Allah membalasnya sebagai pewaris surga-Nya serta terhindar dari kehinaan yang nyata di hari yang nantinya tanpa ada penutup karena Allah akan buka hijab-hijab-Nya.

Allahu Akbar x 3, walillahil hamd
Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah.
Marilah kita teruskan spirit kebaikan doa-doa Nabi Ibrahim. Semoga Allah jadikan kita sebagai ahli hikmah, ahli kebaikan, menjadi penerus kebaikan, dan pewaris surga-Nya. Serta nantinya dikumpulkan dengan orang-orang shalih dan para kekasih-Nya.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اللهم صل علي سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم .اللهمّ اغفر لجميع المسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأموات إنك سميع قريب مجيب الدعوات. اللهمّ ارزقنا حجّ بيتك المحرم وزيارة نبيك الكريم وأَوْرِدْنا حوضه في الجنة. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.
ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار. والحمد لله رب العالمين . تقبل الله منا ومنكم وكل عام وأنتم بخير وإلى الله أقرب وعلى طاعته أدوم
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Jakarta, 10 Dzulhijjah 1433 H
26 Oktober 2012M

Kultwit #Ibrahim

DOA-DOA INSPIRATIF NABI IBRAHIM

Saiful Bahri

  1. Doa, “Tuhanku, jadikan negeri ini aman” adalah persiapan untuk generasi penerus agar beribadah & menebar kebaikan dg aman#Ibrahim
  2. Doa, “Jauhkan aku & anak-anakku dari menyembah berhala” (QS. 14:35) adalah proteksi & pengokohan keyakinan pd Dzat yg serba maha #Ibrahim
  3. Doa, “Tuhanku aku tempatkan sbagian kturunanku d tempat yg tiada tanaman” (QS. 14:37) adl pendidikan totalitas penyerahan pd Sang Penentu #Ibrahim
  4. Doa,“Ya Tuhan kami,sungguh Engkau tahu apa yg kami sembunyikan &tampakkan” adl pendidikan self control & konsentrasi pd kualitas #Ibrahim
  5. Doa, “Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat” (QS. 14:37) adalah pembekalan org tua thd anaknya tentang makrifatullah #Ibrahim
  6. Doa, “maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka” (QS. 14:37) adalah proses turunnya cinta manusia stl berusaha mendekati sumbernya #Ibrahim
  7. Doa, “dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur” (QS. 14:37) adalah konsekuensi kesyukuran & melimpahnya kebaikan2 #Ibrahim
  8. Doa, “Ya Tuhanku, jadikanlah aku &keturunanku orang-orang yang tetap mendirikan shalat” (QS. 14:40) adalah pembiasaan dlm merawat cinta & kestabilan cita-cita #Ibrahim
  9. Doa, “Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku” (QS. 14:40) adalah titik tertinggi kecintaan Allah yg hendak dicapai & dipertahankan selama hidup #Ibrahim
  10. Doa, “Ya Tuhan kami, berilah ampun aku & kedua ibu bapaku & sekalian orang-orang mukmin pd hari terjadinya hisab” (QS. 14:41)  #Ibrahim
  11. … adalah kecerdasan merancang, membidik dan mengharap kebaikan masa depan keabadian yang serba ghaib bagi siapapun #Ibrahim

Kultwit #lari

MENUJU KESEMPURNAAN PRESTASI

Saiful Bahri

  1. Melarikan diri dr pertempuran adl kepengecutan yg dicela al-Quran. Dosa besar mengkhianati pengorbanan.Bagaimana jk lari dr tgjawab? #lari
  2. Lari dr tgjawab jg pilihan para pecundang yg takut hadapi resiko sikap yg mereka pilih.Padahal,amanah itu kan dipertanyakan ulang#lari
  3. Lari dr masalah,bukan obat mujarab.Justru mengendapkan masalah,bukan mencari solusi.Maka hadapilah smp masalah menyerah padamu #lari
  4. Lari dr masalah,bukan obat mujarab.Justru mengendapkan masalah,bukan mencari solusi.Maka hadapilah smp masalah menyerah padamu #lari
  5. Lari dr takdir-Nya jg bisa sebabkan frustasi.Mengganggu kualitas hidup.Dan makin kuat bisikan tuk sgr mengakhirinya dg cara pengecut #lari
  6. Satu-satunya lari yg dianjurkan dlm al-Quran adalah LARI MENUJU ALLAH (Fafirru ilallah), krn memang perlu bersegera sblm terlambat#lari
  7. Utk kebaikan justru dianjurkan bersegera,berlari,berlomba,bersaing&berpacu (fafirru,wasari’u,sabiqu,falyatanafas).Raih prestasi #lari
  8. Wajar,jk saat berlari terjatuh.Apalagi jk lari kencang,bs mencederai.Tp bg pelari ulung,dia tau aturan&kualitas diri atasi kelemahan #lari
  9. Para pelari itu sibuk pikirkan rekor demi rekor atas capaian pretasi mereka. Namun mereka juga sportif agar tak terdiskualifikasi #lari
  10. Berlarilah skuatnya,ukir prestasi,brmanfaat tuk sebanyak mungkin makhluk-Nya,jadilah yg terbaik dr yg baik (waj’alna lil muttaqina imama)

Kultwit #bahagia

KEBAHAGIAAN

Saiful Bahri

  1. Bahagia, sesuatu yg dicari semua orang. Banyak cara dan usaha dilakukan, namun hanya sedikit yg mampu meraihnya #bahagia
  2. Meski tak semua meraihnya,tapi kebahagiaan bukan sesuatu yg eksklusif dan dimonopoli kelompok tertentu.Ia menjadi hak siapa saja#bahagia
  3. Dan untuk membahagiakan orang lain tak harus menunggu sudah bahagia lebih dahulu.Siapapun punya peluang membahagiakan orang lain #bahagia
  4. Tips & kiat untuk meraih kebahagiaan bisa diseminarkan & didiskusikan.Tapi pada akhirnya kebahagiaan itu dinikmati dan dirasakan #bahagia
  5. Kebahagiaan orang lain tidak bisa diketahui secara pasti,karena bukan kita yg merasakan.Kebahagiaan kita jg tak perlu pengakuan#bahagia
  6. Tanda-tanda kebahagiaan banyak Allah tuturkan dlm al-Quran. Klimaksnya ketika Dia puas (ridho) dg kita dan semua yg kita lakukan#bahagia
  7. Meski tak mudah terbaca,tp kebahagiaan bs dirasakan & ditularkan.Maka biasakan berkumpullah dg orang-orang yg Anda kira bahagia #bahagia
  8. Dikatakan suatu yg mahal mungkin iya,tp kebahagiaan bukan mustahil tuk diraih,apalagi jk ada komunitas yg ingin slg membahagiakan #bahagia
  9. Jika cinta bs direkayasa dg saling tolong & bantu merajutnya, mk kebahagiaan jg demikian.Dg slg membahagiakan & tularkan Nur-nya#bahagia
  10. Raih bahagia dg kebersamaan, mulailah dg merajut cinta, menyuburkan & merawatnya agar semakin berkembang, menular dan menyebar #bahagia
  11. Jika sendiri sulit meraihnya, maka bergabunglah dlm kebersamaan. Karena energi positif ada dalam kebersamaan. Keabadian bahagia #bahagia

Kultwit #ruh

ASUPAN GIZI UNTUK #RUH

Saiful Bahri

  1. Hampir kebanyakan manusia sibuk dgn kesehatan fisiknya, maka ia rawat & jaga baik-baik dg memberi asupan gizi yg cukup. Adapun jiwa? #Ruh
  2. Hanya sedikit yg perhatian dg kesehatan ruh yg sangat penting. Karena raga tanpa ruh takkan berarti apa-apa.Tiada bedanya benda mati #Ruh
  3. Sebagaimana raga, ruh jg perlu asupan dan perawatan. Dan itu perlu dilakukan secara rutin dan terus menerus. Agar berfungsi dg baik #ruh
  4. Asupan utama ruh adalah dzikrul maut (ingat mati). Mati di jalan Allah yg didahului dg berani hidup konsisten di jalan-Nya. #ruh
  5. Yang kedua adalah dzikrullah (ingat Allah). Dimulai membasahi bibir dg dzikir dan diupayakan hati mengikutinya, utk mjaga hati #ruh
  6. Yg ketiga adl membaca,menadabburi dan mengamalkan Al Quran,mukjizat yg agung ini kan terungkap melalui membacanya dan mengajarkannya #ruh
  7. Yg keempat adl dgn terus mengembangkan dan menebarkan kecintaan pada Rasulullah SAW,utk menjaga keistiqomahan hidup & harapan bersua #ruh
  8. Kelima adalah menjaga peluang dan melakukan dgn baik birrul walidain… #ruh

Kultwit #Allahuakbar

MEMAKNAI KEBESARAN ALLAH

Saiful Bahri

  1. Bismillah… Memulai pagi dgn kebesaran nama Allah. Seberat & sesulit beban/pekerjaan pasti jauh lebih kecil dr Yang Maha Besar#Allahuakbar
  2. Hari ini sbgmana hari2 sblumnya kalimat #Allahuakbar terucap lebih dr 200-an kali.Dalam shalat&zikir setelahnya.Smg kebesaran itu melekat
  3.  Lekat dlm diri. Sehingga ruh #Allahuakbar membesarkan segala potensi kebaikan. Untuk diimani, diamalkan, ditularkan, disebarkan & dijaga.
  4. Saat diri trperangkap dlm berbagai klemahan/kterbatasan. Ada brjuta alasan utk bangkit. Krn kita mnghamba Dzat Yg serba Maha#Allahuakbar
  5. Kala sakit. #Allahuakbar lah yg diingat pertama kali, tuk dikeluhi & dimintai kesembuhan. Stlhnya baru usaha cr obat/dokter, sbg ikhtiar.
  6. Ketika gundah & gelisah, #Allahuakbar lah pelarian pertama kali sebelum mengeluh/curhat pada siapapun, sehebat apapun dia.
  7. Tatkala sibuk, #Allahuakbar lah yg kan sanggup meringankan apapun, melipat jarak, mendekatkan target, tenangkan jiwa spy tetap konsen.
  8.  Ketika merasa sendiri/ditinggal, #Allahuakbar lah teman setia yg slalu menyertai, mjaga, mengawasi, membina & beri apa saja,kpd siapa sj.
  9. Kala merasa sukses atau dikaruniai nikmat, #Allahuakbar lah yg diingat pertama kali. Untuk mengerem takabbur & mendorong syukur & ridho.
  10. Ketika namanya dielu-elukan & ada dimana-mana,ingatlah#Allahuakbar karena Kebesaran-Nya jauh melebihi apa&siapapun.Tiada tanding bg-Nya

Serial Kultwit #Cinta

Kultwit Serial #Cinta1

Saiful Bahri

1. Cinta adl salah 1 karunia termahal dr Allah.Banyak yg mencari,tapi tak semua menemukannya. Anugerah Sang Rahman utk yg dipilih-Nya #cinta

2.Salah satunya,Ibrahim as;yg tak ingin cinta-Nya tergerus atau bahkan berpaling.Maka,ujian cinta dlm bentuk apapun ia lulus istimewa #cinta

3. Dan cinta adalah pengorbanan. Cinta bukan klaim tanpa bukti. Ada ruh & pengakuan, ada simbol dan bukti verbal.Cinta bukan memiliki #cinta

4. Cinta itu merasakan & bukan sekedar “merasa” (GR).Cinta membuktikan bukan hanya terpendam.Cinta itu memberi & bukan hanya menuntut #cinta

5. Kadang cinta bisa seperti bulan purnama.Terlihat utuh, bulat dan terang.Sempurna.Tapi kadang seperti bulan sabit.Saat baru memulai#cinta

6. Atau ketika nyaris kehabisan. Tapi ia tak pernah padam. Karena akan kembali membulat. Bertahanlah pada bulatan sinar purnama#cinta

7. Bulatan yg makin diterangkan para kekasih-Nya.Bahkan yg paling dicintai-Nya. Kanjeng Nabi Muhammad SAW, anak yatim yg pimpin dunia #cinta

8. Mencintai si miskin dan lemah,sayangi yatim dan orang tua,bahkan mereka yg memusuhinya. Tak sekalipun dibalas dendam dan kebencian #cinta

9. Tentang istri-istri-Nya jangan tanya.Meski difitnah perturutkan nafsu,tp yg terjadi sebaliknya.Istri pertama yg paling dicintainya#cinta

10. Adalah janda yang umurnya 15 tahun diatasnya,istri keduanya sudah renta.istri ketiganya baru beranjak remaja…tak ada birahi#cinta

11.Zainab binti Jahsy adl mantan istri anak angkatnya.Bukti lain ketundukan pada cinta yg lebih besar.Cinta yg perintahkannya dmikian #cinta

12.Meski nabi & kekasih pilihan-Nya, tak berarti tiada prahara cinta.Sang Pipi Merah (humaira) bahkan pernah dituduh berselingkuh #cinta

13.Tapi biduk cinta tetap berlayar.Karena ada cinta yg lebih kuat.Kekuatan cinta lain yg melindunginya,serta kesucian mereka berdua #cinta

14.Takutkah kita akan ada prahara cinta.Bisa jd kita mencemaskannya.Tapi selama sumber & asupan cinta dari Sang Serba maha masih ada #cinta

15.Tak perlu terlalu gundah gulana.Semua akan berlabuh dg damai.Bahkan akan menjadi kenangan dan bumbu kehidupan.Kita bukan Muhammad #cinta

16.Tautan cinta kita jg bukan Aisyah,Khadijah,atau Zainab.Tapi mereka perlu dicontoh.Dlm hadapi prahara cinta dg cinta yg lebih besar #cinta

17.Karena cinta adl anugerah yg mahal.Banyak yg mencari tp tak menemukan.Jagalah,karena Allah beri utk dirawat, ditebar & ditumbuhkan #cinta

18.Telaga cinta,siapa yg meminumnya atas seizin-Nya, (la tadhma’u ba’daha abadan) takkan pernah haus setelahnya. #cinta

19.Telaga itu bernama Kautsar, telaga yg jadi kebanggaan Kanjeng Nabi Muhammad SAW.Makin banyak yg meminumnya,syaitan makin sengsara #cinta

20.Karena prestasi terbesarnya adl memisahkan seseorang dari pasangan cintanya supaya saling membenci.Maka misinya jd gagal#cinta

21.”Ya Rahman, karuniakan kami cinta-Mu, cinta orang-orang yg mencintai-Mu dan segala hal yg menghantarkan cinta pada-Mu”.#cinta

Kultwit Serial #Cinta2

Saiful Bahri

1. “Tidaklah kalian memperoleh kebaikan sampai kalian infaqkan sesuatu yang kalian cintai” (QS. 3: 92) #cinta

2. “Tak (sempurna) iman kalian smp kalian menyukai sesuatu utk saudaranya sebagaimana ia menyukai utk dirinya sendiri” (HR. Muslim) #cinta

3. Cinta memang tidak perfeksionis, tapi cinta adalah memberi dan mengarahkan pada kesempurnaan memberi #cinta

4. Cinta adalah rasa dan rekayasa, teori cinta hanya jembatan untuk dilalui realita yg kadang jauh dari mimpi & angan #cinta

5. Tapi relitas tanpa mempelajari cinta mungkin sedikit menyulitkan sampai pada rasa yg didamba dan diimpikan #cinta

6. Karena semua orang memburu cinta, berusaha kekalkan dalam diri, bahkan tak jarang ingin memonopoli #cinta

7. Ibrahim yg “hendak” menyembelih Ismail adalah cinta bernalar, berdasarkan prioritas Sang Pemiliki Cinta, di atas segala #cinta

8. Zulaikha yang mengoyak “baju” belakang Yusuf adalah cinta bernafsu, yang menutup kesantuanan dan rasa malu, menghinakan diri #cinta

9. Cinta Shofiyyah binti Huyay pada Nabi Muhamad SAW adalah cinta bercahaya kala hijab Allah terbuka bagi hati yg jernih & bernurani#cinta

10. Butanya Ya’qub karena hilangnya Yusuf adalah cinta yang mencemaskan hilangnya fitrah kebenaran orang yg dikasihinya#cinta

11. Cinta Sang Ibu pada Imam Syafi’i adalah cinta yang menginspirasi, tak menyerah pada keterbatasan fisik dan ekonomi#cinta

12. Cinta Imam Bukhori pd Nabi SAW adalah cinta yg melindungi, mengusir kepalsuan dan dusta yg mengotori sabda-sabda Nabi#cinta

13. Cinta Nawawi pada ilmu adalah kebutaan yg menerangi, siang malam sibukkan diri tebarkan mutiara ilmu sampai lupa cari istri#cinta

14. Cinta Khabab pada Nabi SAW adalah cinta yg membuat frustasi para musuhnya, karena cintanya yang tak tergantikan pada Nabi#cinta

15. Bahkan kata-kata hikman Hasan al-Banna terus didengungkan banyak orang, terutama para pengikutnya, “Perangilah manusia dengan #cinta

16. Sangat banyak kisah cinta yg diabadikan sejarah… tak satupun menyiratkan lumpuh dan rapuhnya #cinta

‎17. Karena #cinta melahirkan kekuatan, memupus ketakutan, menyirnakan kekhawatiran, menghadirkan keberanian, mengalahkan kebencian dan iri.