Spirit Kemenangan

TRISULA KEMENANGAN:

IKHTIAR, KETAATAN DAN KEKUATAN TAKDIR

Saiful Bahri

Saat Nabi Musa as. tersudut di antara dua problem besar; yaitu diburu rezim zhalim yang hampir menyusulnya dan di saat yang sama dituduh dusta oleh kaumnya karena menjanjikan keselamatan, tapi nyatanya malah membawa mereka ke tepi laut. Ketegangan-ketegangan itu terakumulasi sehingga mereka berteriak, ”Kita akan terkejar” (QS. 26: 61). Dengan tenang Musa menjawab, ”Sekali-kali tidak. Sesungguhnya Rabb menyertaiku, Dia kan beri petunjuk padaku” (QS. 26: 62). Respon positif Musa dengan kemantaapan ma’iyyatullah berbuah manis. Allah menjawabnya langsung dengan memerintahkan padanya untuk mengayunkan tongkatnya. Musa pun tanpa ragu, tanpa tahu apa yang akan ia alami bersama kaumnya. Maka kekuatan takdir Allah pun dipertontonkan. Mengobati kegalauan dan rasa hancur kaum Nabi Musa, sebagian hancur oleh buruk sangka, sebagian luruh dalam keputusasaan, sebagian bermental kerdil hanya karena melihat kekuatan musuh. Musa sama sekali tak mengira, tiada tahu, juga mungkin tak mengharap apa-apa selain menerima takdir Allah sebagai balasan atas iman dan keyakinannya. Dan Allah kirimkan pasukannya berupa air laut yang menggulung kezhaliman Firaun yang melewati batas toleransi saat ia mengklaim dengan segala kesombongan, “Akulah tuhan kalian yang maha tinggi” (QS. 79: 24). Tewaslah symbol kezhaliman itu dalam kehinaan.
Ketika berkumpul segala bentuk kelemahan dan kerapuhan dalam diri Maryam, tampak raut kepasrahan yang dalam pada wajahnya. Pasca melahirkan tanpa didampingi siapa pun, di tempat yang jauh dari kelaikan untuk dijadikan tempat bersalin, tak ada obat, tak ada teman, tak ada bidan dan dokter, tak ada kenyamanan dan pelayanan rumah sakit. Maryam menikmati akumulasi dua rasa sakitnya, sakit fisik perjuangan seorang ibu melahirkan anaknya, dan sakit psikis berupa tuduhan keji yang distigmakan padanya oleh kaumnya. Benarkah Allah biarkan ia tanpa beri pertolongan? Tentu tak terbersit pikiran jahiliyah itu di benak Maryam. Ia hanya berserah diri dengan sebaik-baiknya. Allah kirimkan kemenangan dengan caranya. Dia justru perintahkan Maryam untuk menggoyangkan pohon kurma yang ada didekatnya (QS. 19: 25).
Seorang perempuan yang baru saja melahirkan tanpa bantuan siapa pun, dan masih didera pukulan psikis berupa fitnah keji, secara manusawi tak mungkin melakukan perintah Allah. Tapi Maryam tak menolak perintah Allah. Ia bahkan langsung melakukan perintah itu tanpa keraguan sedikit pun. Allah membalasnya dengan kran-kran kemenangan. Ia tenangkan hati Maryam, hibur dengan mukjizat-mukjizat-Nya. Allah beri rizki berupa makanan dan minuman serta izinkan anaknya yang masih bayi untuk mewakili dirinya, berbicara pada siapa saja yang bertanya kepadanya.
Saat suasana mencekam, umat Islam berada di tengah pusaran konspirasi pasukan musuh “al-Ahzab”. Musim dingin yang menghimpit tulang, rasa lapar yang melilit perut, tenggorokan yang tercekat oleh kehausan yang sangat dan rasa takut yang mengepung. Semua seolah membungkam mulut-mulut para pahlawan untuk menjawab permintaan Rasul saw, ”Siapa yang memberiku berita tentang kaum “Ahzab”?”. Sunyi. Larut dalam tekanan psikis dan fisik yang sangat berat.
Tiba-tiba terdengar kembali suara berat Nabi Muhammad saw, “Berdirilah wahai Hudzaifah!”.
Keterkejutan Hudzaifah hanya terjadi sejenak. Berikutnya ia segera mengayunkan kakinya menjalani dengan penuh totalitas tugas yang diamanahkan oleh Sang Pemimpin padanya. Bahkan saat ia berada di tengah pasukan musuh, ia pun menceritakan seandainya ia tak ingat pesan dan fungsi penugasan dirinya, maka ia akan sangat leluasa bisa membunuh para tokoh-tokoh lawan, menghabisi mereka yang kini ada di depannya. Namun, ia pun menenangkan dirinya untuk tetap menjaga garis tugas dan wewenangnya.
Memang ini bukan menjadi satu-satunya faktor kemenangan Perang Ahzab, masih ada ide “gila” Salman al-Farisy yang akan menjadi pembuka tabir kesungguhan dan kemunafikan para pejuang.
Musa, Maryam dan Hudzaifah adalah segelintir pejuang Allah, yang berperan atas turunnya pertolongan Allah yang berujung pada kemenangan yang dihadiahkan kepada para pejuang-Nya yang diberikan bukan dengan cuma-cuma. Tapi dengan ikhtiar yang didampingi ketaatan dan ketawakkalan menjemput kekuatan takdir-Nya.
Kini giliran kita menjemput kekuatan takdir tersebut dengan mengawinkan ikhtiar, tawakkal dan ketaatan. ”Katakan (Muhammad): Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira” (QS. 10 : 58)

Kegelisahan –selalu– Menanti Kemenangan
Jakarta, 08.09.2012

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s