Islam di Negeri Sakura

Sebelumnya tak terbayang bahwa aktivitas Safari Dakwah Ramadan kali ini akan sepadat ini. Saat tiba di bandara Haneda, Tokyo saya sudah merasakan aura kesibukan orang-orang Jepang. Akan sesibuk itukah nantinya saya selama di Jepang? Seolah tak saling kenal, semuanya berjalan dengan teratur rapi dan cepat. Karena adayang mereka kejar. WAKTU…

Setelah semalam di Tokyo, saya langsung berkeliling ke berbagai wilayah dan kota di Jepang. Di mulai dari Tokushima yang sangat jauh dari Tokyo bahkan sudah berbeda pulau. Kemudian ke Okayama, Yamaguchi, Mihara, Kure, Hiroshima, Saga, Fukuoka, Kita Kyushu (Wakamatsu), Kariya-Nagoya, Gifu, Kyoto, Kobe, Osaka, Kosai, Shizuoka, Hamamatsu, Toyohashi, Fukui dan Ishikawa (Kanazawa). Dan berakhir dengan shalat Idul Fitri di Sambohall, Kobe. Kemudian ke Tokyo lagi untuk menuntaskan agenda yang belum terlaksana, selain untuk berbelanja membeli sedikit oleh-oleh. Sekitar 21 kota saya kunjungi dengan berbagai kondisi yang berbeda-beda, meskipun audiens yang saya jumpai agak mirip.

Uniknya, di semua tempat-tempat tersebut, terutama yang ada masjid dan Islamic centernya, jumlah komunitas muslim Indonesia selalu menjadi angka terbesar. Konon, jumlah komunitas Indonesia di Jepang melebihi angka dua puluh ribu. Sebagian besar di antaranya adalah para trainee, pekerja di berbagai bidang, seperti otomotif, mesin dan peralatan berat, perkapalan dan perikanan, pertanian, tekstil serta keperawatan dan sector lainnya. Rata-rata dengan durasi kontrak kerja jangka pendek sekitar tiga tahun. Hanya sedikit yang diperpanjang atau berubah status menjadi resident. Sebagian lainnya adalah mahasiswa. Dan sebagian besar mahasiswa Indonesia yang tersebar di berbagai wilayah di Jepang, hampir semuanya menempuh program post graduate, magister dan doctoral. Sebagian lainnya bekerja sebagai asisten professor dan di program post doctoral.

Perjalanan yang semula berat, karena memang secara fisik terlihat cukup berat. Dengan satu koper tanggung tas ransel berisi laptop serta sebuah benner sponsor harus berpindah dari kota ke kota yang jika dihitung total perjalanan angkanya sangat fantastis. Alhamdulillah, Allah memudahkan perjalanan tersebut. Dengan berbagai pernik-pernik yang unik dan kadang menggelikan untuk diingat-ingat. Pengalaman tertidur hingga lewat satu stasiun, pengalaman saling menunggu karena hanya satu menit terlambat kereta harus jenuh menunggu lima puluh menit berikutnya. Pengalaman menghadapi hujan badai yang mengakibatkan kereta harus berhenti hampir empat jam, hingga merasakan sedikit goncangan gempa.

Amazing… lebih tepat dikatakan banyak kenangan yang unexplainable. Tak cukup kata-kata untuk mewakili rasa dan suasana hati.

Hari-hari pertama sangat kaget dan sangat melelahkan, karena harus berpindah-pindah kota dengan jarak bukan sekedar puluhan kilometer, tapi sudah mencapai ratusan kilometer. Alhamdulillah, public transport di Jepang sangat baik. Dengan berbekal kartu sakti paket untuk turis JR Pass, sebuah paket tiket seharga ¥ 28.300 bisa mengkaver perjalanan selama sepekan untuk berbagai jenis angkutan umum pemerintah (Japan Railway). Dari sejak kereta cahaya yang super cepat Shinkansen yang kecepatan larinya melebihi 200 km/jam, sampai yang dibawahnya Shirasagi atau Thunder Bird, atau kereta ekspress maupun local. Mengingat kereta api merupakan sarana transportasi utama. Maka mengetahui jadwal transportasi sangat penting, karena keterlambatan di sini sangatlah aib, kecuali ada halangan alam seperti badai atau gempa. Biasanya saya terlebih dahulu mengecek atau dicekkan jadwal transportasi melalui situs http://www.hyperdia.com/. Dengan jadwal yang sangat disiplin tersebut bepergian ke mana-mana menjadi terukur dan semestinya tidak ada alas an lagi untuk terlambat. Kecuali jika tertidur dalam kereta atau salah turun stasiun, maka sudah pasti tak terelakkan akan ada jadwal lain.

Selain public transport yang nyaman, keteraturan dalam antri patut diacungi jempol dan dicontoh. Pertama-tama datang yang paling unik untuk diperhatikan adalah melihat orang-orang turun dari kereta dengan rapi, setelah selesai baru kemudian sisi lain satu persatu giliran memasuki kereta. Sama rapinya ketika berada di sebuah perempatan. Mobil yang akan belok kanan harus menunggu sampai mobil yang datang dari arah berlawanan benar-benar habis.

Untuk transport, sepeda masih sangat banyak dijumpai. Yang aneh, sepeda motor buatan Jepang bermerk seperti Yamaha, Honda atau Suzuki hampir tidak ada. Kalaupun ada sepeda motor kecil untuk servis delivery atau sekalian yang besar untuk berboncengan. Maka, selain mobil sepeda adalah sarana transportasi pribadi utama.

Cerita menarik lainnya adalah cerita KEJUJURAN yang hampir hilang di negeri Indonesia. Salah seorang teman yang menjadi host sebuah acara buka bersama untuk family tadinya berencana i’tikaf dengan saya. Beliau terlebih dahulu membereskan rumahnya. Kemudian beliau membatalkan rencana tersebut karena lama mencari dompet istrinya yang berisi banyak dokumen penting dan beberapa uang tentunya. Singkat cerita malam itu dompet tersebut sudah dianggap hilang. Tapi luar biasanya, pagi hari dompet tersebut sudah diantarkan oleh tukang sampah. Rasanya hal tersebut hampir tidak mungkin terjadi di Indonesia. Sama uniknya dengan suasana aman yang luar biasa. Di beberapa tempat bahkan rumah hanya ditutup saja tanpa dikunci tapi tak pernah dimasuki orang lain. Saat saya menaiki kereta apapun, dengan aman saya meletakkan bawaan saya di atas kabin kereta. Berbeda kondisinya saat dulu saya naik kereta dari Jakarta ke Solo. Belum sampai saya nyantai setengah jam, sepatu saya lepas kaki di rilekkan sebentar, eh pas mau makai lagi sepatu ternyata sudah lenyap. Padahal tidak ada rem mendadak atau sejenisnya yang mengakibatkan bergesernya sepatu…

Satu hal positif lagi yang bias saya ambil dari Jepang adalah pemilahan sampah dari sejak di rumah. Dibedakan antara sampah bakar dan sampah daur ulang. Bahkan di setiap stasiun kereta ada empat kotak sampah. Sampah botol, sampah majalah/surat kabar, sampah kering dan sampah bakar. Saat di Saga sempat menyaksikan langsung tempat pengolahan sampah yang dari luar terlihat seperti mall dan shopping center. Dan memang benar, di lantai dasar bias dijumpai banyak kerajinan hasil daur ulang sampah. Sedangkan dari lantai tiga kita bias melihat pembakaran sampah dan hasil-hasil out putnya seperti batako/batu bata dan sejenisnya.

Untuk menjaga kebersihan tempat-tempat public yang di sewakan atau di sekolah bahkan, tidak disediakan petugas kebersihan. Maka dengan otomatis setiap pengguna/penyewa gedung wajib meninggalkan tempat seperti sedia kala.

Pelajaran selanjutnya yang menarik adalah simpelnya tata letak rata-rata rumah di Jepang. Berbanding paradox dengan harganya yang sangat mahal, karena untuk urusan property di Jepang nilainya sangat melangit. Rata-rata rumah tak menyediakan ruang tamu. Karena secara umum rumah sangat privat bagi orang Jepang. Biasanya hanya bias diterima di rumah khusus kerabat atau hubungan yang sudah sangat dekat. Untuk bertemu biasa dilakukan di tempat-tempat meeting atau restoran atau public area.

Dengan toilet di depan, sebagian bahkan tak ada tempat mandi (kecuali struktur yang modern). Karena kamar mandi menjadi barang mewah. Biasanya di sekitar rumah terdapat pemandian umum. Tak heran jika di dalam rumah antara tempat mandi dan toilet di bedakan, karena bias jadi membangunnya pun menyusul setelah ada dana tambahan. Kamar yang simpel dengan kasur lipat, selimut dan bantal yang dikenal dengan “futong”. Saat pagi datang kasur lipat tersebut dimasukkan ke lemari yang tersedia di “dinding-dinding” rumah yang serba kayu. Ya, memang serba kayu meski terkesan ringkih tapi fondasi rumahnya sangat kuat serta struktur dasar rumah yang memiliki “bola-bola” kecil yang memungkinkan bergerak saat terjadi gempat. Selain itu, dalam kondisi gawat yang mengakibatkan bangunan roboh maka tidak terlalu menjadi beban yang membahayakan orang yang tertimpa olehnya.

Untuk pendidikan dasar tak ada sekolah unggulan atau sekolah terpadu, semua sekolah dasar (sampai SMP) terfasilitasi dengan sama. Dan siswa yang sekolah harus berdomisili di dekat sekolahnya, tak ada lintas wilayah atau sekolah jarak jauh. Dan siswa yang sekolah pun harus ada jarak tempuh jalan kaki. Tak diperbolehkan didrop dengan kendaraan. Di sana pelajaran kejujuran, kerapian, kebersihan dan kemandirian dididik dan dilatih. Bahkan dalam momentum sekali dalam sebulan, orang tua diharuskan menyaksikan langsung kegiatan belajar siswa di sekolah untuk mengetahui progress anaknya. Dan guru sangatlah dihormati dan terjunjung tinggi martabatnya.

Tak heran jika saat Hiroshima dan Nagasaki dihancurkan sekutu dengan bom atom, boleh jadi public internasional mengira Jepang sudah habis. Tapi Kaisar Jepang saat itu memerintahkan anak buahnya untuk menghitung jumlah guru yang masih ada serta berusaha untuk menggenjot angka guru. Maka, tak heran jika Jepang melesat setelah itu. Meskipun, saat ini relatif stagnan. Bahkan sedang tertimpa krisis ekonomi yang cukup akut.

Pelajaran lain, perhatian pemerintah dan siapapun pemegang kebijakan di Jepang baik negeri maupun swasta sangat memperhatikan kondisi tuna netra atau orang cacat fisik secara umum. Maka akan dijumpai di setiap ruang public ada jalur khusus untuk mereka, terlihat jelas jika kita berada di stasiun-stasiun, tempat parker, bahkan lampu penyeberangan diperempatan akan berbunyi saat berwarna hijau dengan bunyi yang berbeda di empat jalur perempatan tersebut.

Ramah, memberikan pelayanan terbaik, menjawab dengan sungguh-sungguh ketika ditanya serta menjelaskan secara gambling ketika dimintai keterangan. Bahkan untuk beberapa kasus diantarkan sampai benar-benar sesuai dengan keinginan dan maksud.

Dari sekian perjalanan, ada yang sangat unik. Saat berkunjung ke Ishikawa, bertemu dengan Dr. Eng. Khairul Anwar, seorang asisten professor dari Indonesia yang masih sangat muda di JAIST (Japan Advanced Institute of Science and Technology). Kampus dan tempat komplek asrama dosen dan mahasiswa terletak di perbukitan dan kawasan hutan. Ada waktu-waktu tertentu beruang akan lewat di tempat ini. Maka, ada warning khusus tentang ini serta trik-trik ketika berhadapan dengan beruang. Seperti memberikan apa saja yang dipegang termasuk tas, membuka dan menutup paying. Dan untuk anak-anak, memiliki krincingan yang digantungkan di tas adalah wajib.

Selain itu masyarakat Jepang sedang mengalami krisis populasi produktif. Karena orang-orang yang berusia lanjut kian meningkat yang tidak diimbangi angka kelahiran yang cukup. Sehingga terjadi piramida terbalik yang bias mengancam eksistensi bangsa Jepang. Tingginya persaingan dan pola hidup matrealistik menjadikan hidup di Jepang tidaklah mudah meski dengan fasilitas yang tadi saya sebutkan.

Dengan itu rasanya saya harus banyak bersyukur, karena rumah-rumah di Indonesia rata-rata berukuran dua atau tiga kali lipatnya di Jepang, meski dengan fasilitas yang berbeda.

Umat Islam di Jepang juga tak ringan menghadapi tantangan. Meskipun kiblatnya Amerika, secara khusus sikap Islamphobia tidak terlalu nampak jelas. Meski tetap ada beberapa kasus yang kurang menyenangkan. Kendala klasik, makanan halal, melaksanakan Shalat Jumat dan menunaikan puasa secara benar adalah rutinitas yang pemecahannya belum ideal. Beriring waktu penduduk pribumi pun mulai bersentuhan dengan Islam. Memang angkanya tak sebanyak di Eropa dan Amerika, tapi saya yakin masa depan Islam di Jepang sangat baik. Karena pada dasarnya, bangsa Jepang hanya tinggal disyahadatkan karena sudah banyak nilai-nilai Islam dipraktekkan di sini.

Masih banyak hal yang semestinya bisa saya tulis dari rangkuman catatan harian saya dalam safari dakwah kali ini. Banyak hal positif lainnya sebagaimana tak sedikit juga kebiasaan dan hal-hal yang kurang baik yang saya jumpai. Namun, rasanya kurang bijak jika catatan negatif tersebut saya publish di tempat umum. Selain karena terbatasnya waktu. Rencanya, pagi-pagi benar, besok  insyaallah bergerak menuju Bandara Narita untuk melanjutkan perjalananke Jakarta via Hongkong.

Terima kasih kepada IPTIJ (Ikatan Persaudaraan Trainee Indonesia Jepang), KMII (Komunitas Masyarakat Islam Indonesia), PPI (Persatuan Pelajar Indonesia), FAHIMA (Forum Silaturrahmi Muslimah) Jepang, KJRI Osaka dan terutama sponsor safari dakwah Lembaga Kemanusiaan PKPU Jakarta. Serta pihak-pihak lainnya.

Pak Rully, Pak Bondan, Pak Radon, Mas Tugiman dan Mas Mugi, Mas Bagus, Mas Yanto, Pak Syahid dan Pak Junaidi, Pak Khairul dan Bu Yayuk, Pak Ali, Pak Rusman, Pak Purwo, Mas Rigen, Mas Hendri, Mas Dhuha, Mas Yanto, Pak Fuzi, Mas Aditiya, Pak Anton, Pak Dedi, Pak Heri, Bu Silvy, Bu Shinta, Bu Riska, Bu Ina, Pak Jarwanto, Mas Anjar, Mas Fakhri, Bagus, Pak Heri, Pak Didik, Pak Hafidh, Pak Arif, Mas Obie, Pak Herdi, Pak Alwis, Pak Devi, Pak Zaenal dan Konjen Osaka Bapak Ibnu, serta masih banyak lagi yang tak bisa disebutkan satu-satu.

Terima kasih semuanya atas jamuan, penerimaan dan pelayanannya. Mohon maaf jika ada yang kurang berkenan. Selamat berjuang. Selamat dan sukses. Semoga Allah menjaga keistiqomahan kita semua.

Pojok Tokyo, menjelang dini hari, 21 Agustus 2012

9 thoughts on “Islam di Negeri Sakura

  1. Duha mengatakan:

    terimakasih pak ustad…

  2. saryantotegalrejo mengatakan:

    Reblogged this on saryantotegalrejo and commented:
    Ijin share ustadz..

  3. Anonim mengatakan:

    Masya Allah, subhanallah…sangat inspiratif sekali ustadz..terima kasih sudah berbagi lewat tulisan ini. Agus salim dari banjarmasin

  4. adhit mengatakan:

    Alhamdulillah. Jazakallah Khoir Ust. Saiful Bahri

  5. jokosumaryono mengatakan:

    subhanallah..luar biasa mas Saiful…perjalanan yang penuh barokah

  6. Lita Alifah mengatakan:

    Subhanallah….perjalanan yang menyenagkan di negeri sakura…jadi ingin rasanya kesana…Semangat pak Saiful…Barakallah

  7. Mohammad Deni Akbar mengatakan:

    Semoga Tahun ini bisa memberikan wejangan-nya lagi di Fukuoka Ustadz.

  8. lulululuveto mengatakan:

    Assalamu’alaikum wr.wb
    Terima kasih pak atas tulisannya yang sangat bermanfaat ini.
    Tulisan bapak membuat saya semakin yakin untuk mencoba melanjutkan studi di jepang, mohon doanya agar tahun ini saya dapat dengan bangga mengijakan kaki sebagai muslim indonesia yang berprestasi
    Semoga kita semua selalu mendapatkan yang terbaik
    Wassalamu’alaikum wr.wb

  9. saiful bahri mengatakan:

    alaikumsalam w w. semoga dimudahkan Allah dan bermanfaat buat sebanyak-banyaknya manusia, ditunggu karya-karya besarnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s