LELAKI BERMENTAL BAJA

Rabu, 27.04.2011
Hari ini terasa berjalan sangat lambat. Penyebab utamanya mungkin karena sejak pagi kepalaku terasa sedikit pening. Kurang teratur istirahat dan makan, mungkin, yang secara otomatis membuat jadwal olah raga juga tak seimbang. Saat dituntut kondisi prima fisik dan psikis.
Usai memberikan pengantar dalam sebuah acara pelatihan manajemen, aku kembali ke rumah menyelesaikan sisa pekerjaan yang tertunda kemarin. Alhamdulillah, beberapa menit sebelum zhuhur selesai. Kepalaku makin berat. Aku bertahan untuk tidak memejamkan mata, karena ada seorang teman yang akan bertamu ke rumah. Tapi sepertinya kali ini aku tak bisa menerimanya karena masih ada beberapa urusan setelah itu.
Menjelang ashar aku mulai ragu… Ikut rapat apa tidak?
Sebenarnya, aku bisa saja izin, toh -sebelumnya- aku telah mendelegasikan rapat ke sekretaris, Ustadz Fakhri, karena aku ada urusan sebentar dan akan sedikit terlambat. Bisa saja jika kemudian diteruskan untuk tidak hadir. Tapi aku teringat wajah-wajah tegar panitia MUSAT IX Orsat ICMI Kairo. Etos tak kenal lelah ditunjukkan oleh mereka sejak dua pekan lalu, dan sangat terlihat di acara-acara perlombaan dan pelatihan pra MUSAT. Wajah-wajah itu membuatku kuat…
Tanpa harus menunggu lama, aku segera menaiki bis ke arah Wisma Nusantara. Aku bahkan tak ingat naik bis nomor berapa. Karena hatiku benar-benar ”dicuri” oleh seorang pria bermental baja.
Setelah mengambil karcis aku segera mengambil posisi duduk di deretan kursi belakang. Karena itu satu-satunya kursi kosong yang masih tersisa. Sebelum aku duduk, tiba-tiba seorang lelaki di hadapanku melakukan gerakan aneh. Ia mengambil dompet dari saku baju atasnya dengan mulutnya. Kemudian ia memberi isyarat agar aku mengambilnya. Ternyata dia tak bisa bicara, -maaf- seorang tuna wicara. Bahkan ia sangat kesusahan menggerakkan kedua tangannya. Aku terheran, dengan sikapnya. Aku dibantu orang-orang di sekitarku, memahaminya. Ternyata ia minta diambilkan uang 1.5 Le untuk membayar karcis bis.
Deg. Aku kaget. Setelah kupastikan ia menggenggam uang itu ia berjalan ke depan –dengan susah payah- juga. Ia meninggalkan tas plastik dan beberapa barangnya di sampingku. Aku bertanya ke seorang perempuan tua di sampingku, kenapa ia tak mau saya bayarkan tadi? Sang Ibu menjawab, ”Ia tak mau, karcisnya dibayarkan orang”. Aku mengangguk. Pantasan ia berteriak -mungkin protes- ketika uangnya akan kuberikan ke depan secara berantai sebagaimana biasa. Ia lebih memilih berjalan ke depan sendiri menjemput karcis setelah membayarnya.
Masya Allah sampai segitunya…
Tak lama setelah itu, ada sekelompok remaja, laki-laki dan perempuan, sepertinya siswa-siswi SLTA. Aku perhatikan tingkah laku mereka, seperti umumnya anak-anak ABG. Mereka memang tak membicarakan laki-laki disampingku, tapi dari cara mereka melihat aku bisa merasakan bahwa mereka memandang negatif terhadap lelaki di sampingku. Jika aku jadi dia aku kan terasa bahwa mereka benar-benar merendahkan. Sang lelaki itu hanya tersenyum. Kemudian ia mendekap erat tas plastiknya dengan erat. Kulihat ada beberapa butir keringat keluar dari keningnya. Itu mungkin karena tadi ia berjuang keras mengeluarkan dompetnya dari saku baju. Juga sangat kesusahan ketika ia berdiri dan kemudian berjalan ke depan.
Aku tak mau memandang laki-laki di sampingku saat ia sibuk dengan barang-barang bawaannya. Saat ia memandangku aku membalas senyumannya. Kemudian aku kembali dengan lamunanku. Hingga halte tujuanku mendekat. Aku segera memberi isyarat padanya, mohon izin hendak melewatinya. Ia tersenyum dan kemudian -susah payah- untuk berdiri. Kemudian aku segera bangkit. Aku membalikkan badan. Kali ini kulihat ia kembali tersenyum padaku. Aku membahasakan bahasa tubuhnya, “Terimakasih”. Aku membalas senyum ramahnya, “Justru akulah yang harus berterima kasih. Hari ini aku belajar padamu”
Ah… lelaki itu sangat luat biasa bagiku. Mentalnya benar-benar baja.
Lelaki “tak sempurna” itu begitu tegar, ia bahkan tak mau dibantu orang lain. Ia bahkan tak marah jika orang meremehkannya atau merendahkannya. Karena mereka mungkin tak mengetahui sedikit “kelebihannya” yang tak terlihat, namun menurutku sangat luar biasa. Di mata banyak orang ia sangat terlihat banyak kekurangan, bahkan laik untuk dikasihani. Mungkin kebalikan dengan kondisiku, tak sedikit orang-orang di sekelilingku banyak yang melihat kelebihanku dan -mungkin- sedikit yang tahu keburukan-keburukan serta kekuranganku. Minimalnya kedua kaki dan tanganku normal. Aku juga bisa mengungkapkan apa yang aku rasakan dan aku inginkan dengan mulut atau tanganku… Berbeda dengannya.
Sungguh aku sangat malu, jika karena kelelahan sedikit kemudian menghentikan aktivitasku untuk sebanyak-banyaknya berbuat, agar sisa waktuku di Mesir bisa lebih banyak manfaatnya, untuk orang di sekelilingku.
Itulah yang membuatku bertahan hari ini… bahkan sampai lewat tengah malam saat kubuka pintu rumahku. Alhamdulillah, bayangan lelaki bermental baja itu masih terus terbayang.
Usai shalat… setelah mendoakan keluargaku, guru-guru dan teman-teman serta adik-2 panitia agar Allah kuatkan dan jaga mereka serta karuniakan keikhlasan serta taufiq-Nya. Aku ingin mengirim doa untuknya. Doa untuk lelaki bermental baja yang menginspirasiku hari ini.
Terima kasih ya Qawiyy… Kau kuatkan aku dengan mengirim orang sepertinya didekatku. Aku memaksa menulis ini agar pagi nanti atau siangnya, atau kapan saja. Setruman semangat itu masih sangat terasa. Ternyata kadang aku kurang bersyukur dengan keadaanku. Ya Allah jadikanlah aku hamba-Mu yang pandai bersyukur.

Jelang rehat, meski tetap sulit pejamkan mata
Rumah cinta, Kamis Dini Hari, Cairo 28.04.2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s