Tadabbur Surat Al-Ghasyiah [88]

TERTUNDUK MALU ATAU BERSERI-SERI

(Dua Penghuni Keabadian)*

Dr. H. Saiful Bahri, MA**.

Mukaddimah: Hari Yang Menggemparkan

Surat Al-Ghasyiah diturunkan Allah di Makkah setelah Adz-Dzariyat([1]). Dinamakan demikian karena dibuka dengan berita hari pembalasan (Al-Ghasyiah) yang merupakan satu rangkaian kejadian di hari kiamat. Menurut arti bahasa, al-Ghasyiah berarti sesuatu yang dahsyat yang bisa menggoncangkan hati manusia([2]).

Tema utama surat ini masih seperti pembahasan surat-surat makkiyah sebelumnya, yaitu menekankan pada aspek keimanan pada hari kiamat. Dan pada kesempatan ini lebih ditekankan pada fase pembalasan amal yang sangat diperinci dengan menggambarkan dua kondisi yang berbeda yang akan dialami oleh orang-orang baik dan orang-orang yang buruk perilakunya. Di samping itu dalam surat ini juga disebut dalil dan tanda-tanda kekuasaan dan keesaan Allah([3]). Adapun yang disebut kali ini adalah penciptaan unta, kemudian langit, gunung dan bumi. Secara terperinci insyâ`allâh akan kita tadabburi satu persatu.

Adapun fadhilah atau keutamaan surat ini sebagian sudah disinggung dalam tadabbur surat terdahulu, yaitu surat al-A’la. Di antaranya; sebuah hadits masyhur yang shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Ibnu Abi Syaibah, Imam Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah. Semua riwayat tersebut berasal dari sahabat Nu’man bin Basyir ra. yang menyebutkan bahwa dalam Shalat dua Id dan Shalat Jum’ah pada rakaat pertama Rasulullah saw sering membaca surat al-A’la kemudian pada rakaat kedua membaca al-Ghasyiah([4]).

Kisah Penghuni Neraka

Sudah datangkah kepadamu berita hari pembalasan?” (QS. 88: 1)

Dalam ayat ini secara zhahir menggunakan kalimat Tanya, demikian pendapat sebagian besar pakar bahasa, sebagaimana ditegaskan Imam al-Alusy dalam tafsirnya([5]). Meskipun sebagian pakar Bahasa Arab seperti Quthrub mengatakan bahwa justru ayat ini menggunakan kalimat penguat dengan bentuk yang zhahirnya adalah istifhâm (pertanyaan).

Banyak muka hari itu tunduk terhina. Bekerja keras lagi kepayahan” (QS. 88: 2-3)

Penggunaan kata “khasyi’ah” di sini sebenarnya memberi isyarat tidak tepatnya penyesalan. Hari itu tak lagi diperlukan kekhusyu`an, karena hari itu bukan hari beramal namun hari pembalasan. Maka muka mereka tertunduk sebenarnya bukan karena khusyu’ namun lebih karena merasa terhina dan dihinakan. Karena mereka sangat sadar posisi dan seperti apa balasan yang akan mereka terima.

            Seberapa keras mereka melakukan kepayahan dan kekhusyuan tak akan memberi manfaat untuk menyelamatkan mereka dari murka Allah swt. Ibnu Abbas menafsirkannya dengan amal yang mereka lakukan di dunia memang banyak tapi justru akan mendatangkan kepayahan dan memberatkan mereka ketika berada di akhirat([6]).Pada ayat berikutnya Allah menjelaskan kepayahan yang akan mereka terima. Setidaknya ada tiga hal yang disebut di sini:

  1. Memasuki api yang sangat panas” (QS. 88: 4) Sebagai balasan dari perbuatan yang mendatangkan murka Allah. Api yang sangat panas mengelilingi mereka dalam kekekalan kesengsaraan dan sebenar-benarnya celaka yang menistakan.
  2. Diberi minum (dengan air) dari sumber yang sangat panas”. (QS. 88: 5)

Dalam kondisi yang demikian panas. Tak sedikit pun ada persediaan air dingin yang bisa menyejukkan tenggorokan. Yang ada justru sumber air yang sangat pas yang menambah penderitaan mereka bertambah dna bertingkat-tingkat. Tak sedikit dalam ayat lain bahkan dijelaskan bahwa minuman yang disediakan adalah darah dan nanah. Baik air panas maupun nanah tidaklah bisa menghilangkan dahaga dan mengusir haus. Dan itulah penderitaan dan kepayahan yang kesekian kalinya yang diterima orang-orang kafir.

Dalam ayat lain disebut dengan redaksi “ghislin” seperti dalam surat al-haqqah ayat 36. “Dan tiada (pula) makanan sedikitpun (baginya) kecuali dari darah dan nanah.

  1. Mereka tiada memperoleh makanan selain dari pohon yang berduri. Yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar” (QS. 88: 6-7)

Jika mereka lapar tak sedikit pun ada persediaan makanan yang membuat mereka kenyang. Yang disediakan adalah pohon berduri yang hewan saja enggan memakannya, apalagi manusia. Sebagian mufassir menyebut bahwa pohon tersebut beracun dan mematikan, setidaknya menyakitkan([7]). Dalam ayat 43-44 surat Ad-Dukhan disebutkan jenis pohon yang ada di neraka, yaitu pohon Zaqqum. “Sesungguhnya pohon zaqqum itu. Makanan orang yang banyak berdosa”. Bagaimana mungkin pohon seperti ini bisa membuat gemuk atau mengenyangkan dan mengusir rasa lapar. Yang terjadi adalah membuat rasa lapar hilang karena sakit yang teramat sangat menggantikannya. “Dhari’” ini dikenal oleh orang Arab bisa membuat unta gemuk, tapi gemuknya penuh dengan racun karena mematikan([8]).

Penduduk Surga Bergelimang Karunia dan Ketentraman

            Setelah penuturan yang mengerikan tentang kabar dan berita orang-orang yang dimurkai Allah maka dalam 9 ayat berikutnya Allah mengabarkan kondisi yang sebaliknya. Yaitu kebahagiaan dan ketentraman yang dijanjikan Allah yang kelak akan diterima hamba-hamba-Nya yang bertakwa. Nikmat dan karunia Allah tersebut berupa:

  1. Banyak muka pada hari itu berseri-seri. Merasa senang karena usahanya” (QS.88: 8-9)

Orang-orang baik hari itu laik untuk berseri-seri dan berbahagia menerima kabar gembira. Atas usaha yang telah mereka lakukan di dunia. Menahan nafsu dan mengikuti ajaran dan petunjuk Allah. Kata “na’imah” menunjukkan bekas nikmat yang Allah akan berikan terhadap mereka. Padahal mereka belumlah mendapatkannya baru sekedar kabar gembira dan muka mereka seketika cerah, lantas bagaimana jika mereka benar-benar telah menikmati kebaikan di atas kebaikan yang telah Allah sediakan untuk mereka. Mereka tentu akan semakin puas dan senang bahwa usaha mereka tidak sia-sia. Kesyukuran ini bertambah ketika mereka merasa bahwa perbandingan yang jauh lebih buruk dari bayangan mereka diterima oleh orang-orang yang berkelakuan jelek. Yang dalam surat ini berita mereka di dahulukan. Padahal lazimnya sebuah berita kelulusan biasanya yang ditampakkan adalah yang berhasil. Sedang dalam surat ini sebaliknya, didahulukan berita kegagalan dan kesengsaraan. Tujuan-nya adalah menyelaraskan tema besar surat ini, yaitu memberikan peringatan yang menggetarkan jiwa([9]). Sesuai dengan namanya “al-ghasyiah

  1. Dalam surga yang tinggi” (QS.88: 10)

Mulailah mereka menikmati karunia yang benar-benar tak terlukiskan kenikmatan-nya sebelumnya. Yaitu surga yang tinggi. Kata tinggi ini dimaksudkan menjunjung kedudukan mereka dan untuk menghormatinya. Abu Hayyan menggabungkan dua makna sekaligus. Bahwa yang dimaksud dalam ayat ini adalah tempat yang memang secara fisik tinggi dan ditambah dimuliakan oleh Allah.

  1. Tidak kamu dengar di dalamnya perkataan yang tidak berguna”. (QS.88: 11)

Tidak ada perkataan yang sia-sia terdengar. Semuanya adalah ungkapan syukur dan kebahagiaan. Mereka tenggelam dalam kenikmatan dan kemuliaan yang diberikan Allah. Kata-kata yang didengar dan diperdengarkan di antara mereka hanya ungkapan yang baik yang menunjukkan bahwa mereka benar-benar merasakan kebahagiaan. Mereka pun ridha dengan keadaan demikian dan Allah juga meridhai mereka.

  1. Di dalamnya ada mata air yang mengalir”. (QS.88: 12)

Di saat penghuni neraka kepanasan dan berada dalam kondisi antara mati dan hidup menahan siksaan, dahaga dan lapar, penduduk surga diberikan mata air yang bermacam-macam. Melimpah. Dan kata “jâriyah” mengisyaratkan bahwa mata air tersebut terus mengalirkan air tiada terputus sedikit pun.

  1. Di dalamnya ada takhta-takhta yang ditinggikan”. (QS.88: 13)

Mereka menduduki singgasana dan tahta yang tinggi dan ditinggikan. Mereka lebih mulia dari raja yang paling mulia di dunia ini. Semua yang berada dalam rumah dan tamannya tunduk dan patuh terhadap titahnya. Semuanya menuruti dan melayani keinginannya.

  1. Dan gelas-gelas yang terletak (di dekatnya)”. (QS.88: 14)

Mata air yang mengalir tersebut di atas bukan hanya menghias mata mereka. Namun, jika mereka menginginkan untuk meminumnya maka sudah tersedia gelas-gelas yang segera penuh air dan siap untuk dihidangkan dan dinikmati. Seketika berada di tangan mereka begitu mereka menginginkan untuk meminumnya dan menikmatinya.

  1. Dan bantal-bantal sandaran yang tersusun”. (QS.88: 15)

Jika mereka ingin membaringkan tubuhnya sambil melihat dan menikmati indahnya taman dan surga Allah maka telah tersedia sandaran empuk dan bantal-bantal dan membuat nyaman. Semua tersusun rapi.

  1. Dan permadani-permadani yang terhampar”. (QS.88: 16)

Jika di dunia orang-orang berlomba-lomba mengeluarkan uang yang banyak demi berbangga-bangga atas permadani yang mereka miliki dengan kualitas yang sangat bagus. Halus. Mewah dan berkelas serta membuat mata sejuk memandangnya. Maka Allah menyediakannya. Luas, terbentang dan ia bisa memilikinya sesukanya. Semua diperuntukkan Allah sebagai balasan amalnya. Sesuka dia tanpa dibatasi oleh harga.

Empat Tanda Kekuasaan Allah

Setelah Allah menjelaskan kondisi penghuni neraka dan penduduk surga Allah me-maparkan empat tanda kekuasaannya. Yaitu penciptaan unta, langit, gunung dan bumi.

Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan. Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?” (QS.88: 17-20)

Apa rahasia Allah menyebut empat hal ini?

Orang-orang Arab jika bepergian jauh kendaraan yang mereka andalkan adalah unta. Bahkan ketika berperang mereka juga membawa unta. Selain digunakan sebagai kendaraan unta juga mampu menampung air, dagingnya juga bisa mengenyangkan banyak orang. Dalam peperangan badar Rasulullah saw memperkirakan jumlah tentara quraisy dengan menghitung unta yang mereka bawa. Maka selaiknya mereka berpikir bagaimana Allah menciptakan unta.

Saat mereka di atas punggung unta mereka juga bisa memandang langit lepas. Bukankah itu ciptaan Allah yang sangat dahsyat. Tinggi menjulang tanpa tiang penyangga. Bahkan tiada seorang pun mampu mencapainya dengan ketinggian dan kecanggihan teknologi mutakhir sekali pun.

Di atas unta mereka juga bisa memperhatikan gunung-gunung yang kokoh. Siapa yang menjadikannya juga menjulang.

Di atas punggung unta mereka juga menapaki tanah. Bumi yang mereka pijak, siapakah yang menghamparkannya.

            Keempat hal di atas jika digabungkan –seharusnya- sudah cukup membuat manusia kemudian sadar dan bersegera taubat, kemudian memperbaiki keadaannya dengan amal baik, sebelum semuanya terlambat.

Kontinyuitas Tugas Dakwah

Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan” (QS. 88: 21)

Nabi Muhammad saw tak dibebankan untuk membuat mereka sadar dan kembali kepada fitrah. Namun Allah menugaskan Nabi Muhammad untuk terus dan tak henti untuk mengingatkan kaumnya. Karena pada dasarnya ia sudah dikenal baik dan dipercaya. Hanya ketika ia membawa ajaran Allah kaumnya berbalik mencibir dan menuduhnya berdusta. Mereka memungkiri hati nurani dan realita. Tapi Allah tak meminta beliau untuk membuat mereka berubah. Yang diinginkan Allah adalah kontinyuitas dalam berdakwah.

Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka. Tetapi orang yang berpaling dan kafir” (QS. 88: 22-23)

Memang benar. Bahwa Nabi Muhammad tidaklah sanggup menguasai jiwa mereka. Beliau takkan pernah bisa memberi petunjuk. Apalagi terhadap orang-orang yang berpaling dan sentiment serta berlaku melampaui batas. “Maka Allah akan mengazabnya dengan azab yang besar”. (QS. 88: 24)

Abu Bakar al-Wasithy mengatakan, “Nabi Muhammad diutus sebagai da’i (yang mengajak) dan bukan sebagai hâdi (yang memberi petunjuk)” demikian sebagaimana disitir oleh As-Sulamy([10]).

Sesungguhnya kepada Kami-lah kembali mereka. Kemudian Sesungguhnya kewajiban Kami-lah menghisab mereka”. (QS. 88: 25-26)

Allah telah mengutus sebaik-baik orang bahkan yang terbaik yang pernah dan akan ada, yaitu Nabi Muhammad saw. Juga Allah turunkan sebaik-baik peringatan dan kitab, yaitu al-Qur’an. Allah juga memberikan tanda-tanda kekuasaan-Nya yang bisa langsung dirasakan dan dilihat oleh mata. Jika mereka tetap saja lalai maka tetaplah Allah adalah tempat kembali mereka. Dan Allah sudah menyiapkan hisap dan hitungan amal mereka untuk mendapatkan balasan yang setimpal. Dengan perhitungan ini, sedikit pun Allah tidak menzhalimi mereka. Tapi diri mereka sendiri yang men-zhaliminya.

Penutup

            Sebaik-baik hamba Allah adalah yang bisa mengambil i’tibar dan pelajaran. Allah telah mengisahkan dua nasibyang berbeda yang akan dialami oleh orang baik dan orang buruk. Allah menjelaskan akhir mereka sebagai penghuni neraka atau penduduk surga. Selain itu Allah telah menyebut tanda-tanda kekuasaan-Nya agar manusia bisa berpikir. Sekarang keputusan untuk berbuat ada di tangan kita. Ingin menjadi penduduk surga atau penghuni neraka? Berbuatlah. Setelah itu bertawakkal dan berdoa.

Jakarta, Selasa, 19 Januari 2010


* Tadabbur surat Al-Ghasyiah (Hari Pembalasan): [88], Juz Amma (30)

** Mahasiswa Program S3 Jurusan Tafsir dan Ilmu al-Qur’an Universitas al-Azhar, Cairo

([1]) lihat: Jalaluddin as-Suyuthi, al-Itqân fi ‘Ulûmi al-Qur’ân, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2004 M/1425 H, hlm. 20-22; Badruddin az-Zarkasyi, al-Burhân fi ‘Ulûmi al-Qur’ân, Beirut: Darul Fikr, Cet.I, 1988 M/1408 H, Vol.1, hlm. 249. Prof. Dr. Jum’ah Ali Abd. Qadir, Ma’âlim Suar al-Qur’ân, Cairo: Universitas al-Azhar, cet.I, 2004 M/1424 H, vol.2, hlm.793 

([2]) seperti dituturkan Adh-Dhahhak (dalam tafsirnya, Tafsir adh-Dhahhak, 2/957) juga disepakati penafsirannya oleh Jumhur Ulama. Seperti yang ada dalam firman Allah Surat Ibrahim ayat 50. “Pakaian mereka adalah dari pelangki dan muka mereka ditutup oleh api neraka”.

([3])Muhammad Ali Ash-Shabuni, Ijazu al-Bayan fi Suar al-Qur’an, Cairo: Dar Ali Shabuni, 1986 M-1406 H, hlm. 295.

([4]) Syihabuddin al-Alusy, Ruhul Maani, Beirut: Dar al-Fikr,  1997 M-1417 H, Vol. 30, hlm.183. Lihat juga (Shahih Muslim Syarh Nawawi, Kitab Jum’ah Bab Ma Yuqra`u fi Shalati al-Jum’ah, Cairo: Darul Hadits, Cet.1, 1994 M-1415 H, Vol.III, hlm. 432)

([5]) Syihabuddin al-Alusy, Ruh al-Ma’any, Op.Cit, Vol.30, hlm. 200.

([6]) Al-Baghawy, Ma’alim at-Tanzil, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2004 M-1424 H, Vol.IV, hlm. 447

([7]) Ruh al-Ma’any, Op.Cit, Vol.30, hlm, 203-204

([8]) Ibid.hlm, 204. Lihat Juga Az-Zajjaz, Ma’ami al-Qur’an wa I’rabuhu, Cairo: Darul Hadits, 2004 M/1424 H, Vol.V, hlm. 243

([9]) Ruh al-Ma’any, Op.Cit, Vol.30, hlm, 205

([10]) As-Sulamy, Haqa`iq at-Tafsir, Tahqiq Sayyed Imran, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2001 M- 1421 H, Vol. II, hlm. 393

Iklan

Tadabbur Surat al-A’la [87]

KEBERUNTUNGAN

DARI GENERASI KE GENERASI*

Dr. H. Saiful Bahri, MA**.

Mukaddimah: Yang Maha Tinggi

Surat Al-A’lâ menurut jumhur mufassirin (ulama tafsir) diturunkan di Makkah setelah Surat At-Takwir (إذا الشمس كوّرت)([1]). Sebagian ulama ada yang berpendapat surat ini diturunkan di Madinah karena memuat berita tentang Shalat Id dan zakat ftrah. Tapi pendapat ini dilemahkan oleh Imam Jalaluddin as-Suyuthi, Ibnu Sa’d dan Ibnu Abi Syaibah.

Surat ini sebagaimana surat makkiyah lainnya, masih menekankan aspek akidah dan kei-manan, hanya saja isinya sangat umum. Berisi tentang tanda-tanda kekuasaan dan keesaan Allah swt serta membicarakan wahyu dan kitab serta suhuf yang diturunkan kepada para nabi. Juga disinggung mengenai nasib yang baik bagi orang yang suka menyucikan dirinya dengan amal kebaikan([2]). Karena tema pesar surat ini adalah tasbih (penyucian). Bahkan diawali dengan sebuah perintah “sabbih” (sucikanlah) Maha Suci Allah dari segala tuduhan yang tidak benar.

Surat al-A’la memiliki beberapa keistimewaan, di antaranya; disukai oleh Rasulullah saw:

  1. Seperti riwayat Imam Ahmad, al-Bazzar dan Ibnu Marduyah dari riwayat Imam Ali bin Abi Thalib ra. bahwa beliau menyukai surat sabbihisma. Dalam riwayat Abu Ubaid bahkan disebut sebagai afdhalu al-Musabbihat (surat yang diawali dengan tasbih yang paling afdhal).
  2. Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, al-Hakim dan al-Baihaqi meriwayatkan dari Aisyah binti Abi Bakar ra. bahwa dalam shalat witir pada rakaat pertama Rasulullah saw sering membaca surat al-A’la, kemudian pada rakaat kedua membaca al-Kafirun dan pada rakaat ketiga membaca al-Ikhlas.
  3. Imam Muslim, Ibnu Abi Syaibah, Imam Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah meriwayatkan dari Nu’man bin Basyir ra. bahwa dalam Shalat dua Id dan Shalat Jum’ah pada rakaat pertama Rasulullah saw sering membaca surat al-A’la dan pada rakaat kedua membaca al-Ghasyiah.
  4. Imam ath-Thabrani meriwayatkan dari Abdullah bin Harits beliau berkata: Shalat berjamaah terakhir Rasulullah saw adalah Shalat Maghrib dan pada rakaat pertama beliau membaca al-A’la sedang pada rakaat kedua beliau membaca al-Kafirun([3]).

Adapun hadits-hadits yang menyebutkan tentang fadhilah surat al-A’la dengan redaksi seperti ini: Barang siapa membaca surat ini maka akan mendapat ini atau pahalanya akan dilipatkan menjadi sekian karena hurufnya diistimewakan atau yang sejenisnya, kebanyakan riwayat tersebut lemah bahkan bisa digolongkan sebagai hadits maudhu’ (hadits palsu).

Bertasbihlah

Surat ini termasuk salah satu surat yang diawali dengan tasbih. Surat-surat tersebut ada yang dibuka dengan tasbih dalam bentuk past tense (fi’il madhi) “سَبَّحَ” ada yang berbentuk present tense (fi’il mudhari’) “يُسَبِّحُ” dan ada yang berbentuk kata perintah (fi’il amr)“سَبِّحْ” seperti surat yang sedang kita tadabburi kali ini.

Sucikanlah nama Tuhanmu yang Maha Tinggi” (QS. 87: 1)

Dan siapa yang lebih berhak untuk ditinggikan dan disucikan melainkan hanya Dzat yang serba maha ini. Tuhan yang maha tinggi, kemuliaan-Nya tiada yang melangkahinya, keperkasaan-Nya tiada yang sanggup menandinginya.

Dalam setiap ruku’ dan sujud kita selalu membaca tasbih, mengakui kesucian dan ketinggian-Nya, maka di luar shalat seharusnya kita lebih menyucikan dan meninggikan Allah. Dan ketinggian di sini bukanlah sebuah ketinggian materi dan tempat atau kedudukan. Namun ketinggian dengan segala maknanya. Berkuasa, serba mampu bertindak dan melakukan apa saja.

Yang menciptakan, dan menyempurnakan (penciptaan-Nya)” (QS. 87: 2)

Allah lah Sang Pencipta dengan sebenar makna penciptaan yang selalu menyempurnakan ciptaan-Nya. Apalagi ciptaan Allah yang bernama manusia, Allah bekali dengan segala kesempurnaan([4]).

Dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk” (QS. 87: 3)

Asy-Syibli dan Abu Bakar al-Wasithy mengatakan “Allah menentukan kebahagiaan dan kesengsaraan, Dia tunjuki jalan kebahagiaan dengan mudah untuk orang-orang yang berbahagia. Dan Dia mudahkan jalan kesengsaraan bagi orang-orang yang celaka ([5]). Al-Baghawi memberikan penafsiran lain, “Allah tentukan kemanfaatan dan memberikan jalan serta petunjuk bagi manusia untuk mengeluarkan dan memanfaatkannya ([6]).

Dan yang menumbuhkan rumput-rumputan. Lalu dijadikan-Nya rumput-rumput itu kering kehitam-hitaman” (QS. 87: 4-5)

Dialah yang menumbuhkan dan menghidupkan rumput basah dan menjadikannya rizki serta makanan untuk binatang ternak. Dia juga yang sanggup mematikannya, mengubahnya dari segar dan basah menjadi kering kehitaman([7]).

Ghutsa`” artinya kering sehingga mudah terbawa air atau tiupan angin dan “Ahwa” berarti hitam, dan tidak seperti aslinya yaitu berwarna hijau([8]). Ibnu Manzhur mengatakan aslinya adalah hitam, dipakai untuk tumbuhan yang kering. Beliau menukil dari al-Jauhari bahwa ahwa dipakai untuk warna hitam campuran karena warna aslinya tidak demikian([9]). Az-Zamakhsyari menambahkannya ia menjadi kering dan kemudian hancur([10]).

Tanaman yang tadinya hijau. Indah dipandang mata. Ranting dan daunnya terlihat gagah dan kencang, kemudian bisa berubah menjadi kering dan berwarna hitam. Hitam yang mengerikan. Tanda kematian.

Seharusnya manusia berpikir. Sebagaimana tumbuhan berotasi, ia pun akan mengalaminya. Dari tak berdaya saat menjadi bayi kemudian menjadi gagah ketika berusia remaja dan dewasa. Ia juga akan seperti tanaman, kering dan kemudian mati. Siapakah yang membuat rotasi usia ini.

Allah Menjaga Wahyu dan Kitab-Nya

Kami akan membacakan (Al Quran) kepadamu (Muhammad) Maka kamu tidak akan lupa. Kecuali kalau Allah menghendaki. Sesungguhnya dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi” (QS. 87: 6-7)

Allah menjaga wahyu dan kitab-Nya dengan menurunkan malaikat Jibril yang terus memantau hafalan Nabi Muhammad saw dan mengeceknya terus. Sebagian ulama mengartikannya bahwa Nabi Muhammad saw dikaruniai hafalan yang sangat kuat sehingga tidak akan lupa. Kecuali hal-hal yang dikehendaki oleh Dzat Yang Maha Tahu. Dan hal tersebut tidak terjadi.

Yang menarik dalam ayat ini adalah perpindahan kata ganti dari kata ganti pertama“سنقرئك” yang berarti “akan Kami bacakan” menjadi kata ganti ketiga “إلا ما شاء الله” yang berarti “kecuali yang Allah kehendaki”. Al-Alusy mengomentari hal ini, “gaya bahasa (uslub) iltifât (berganti) ini untuk menandai pendidikan ketuhanan dan untuk menampakkan kemahabesaran Allah. Karena lafzhul jalalah (Allah) terasa melekat dengan berbagai nama dan sifat ketuhanan ([11]).

Dan kami akan memberi kamu taufik ke jalan yang mudah” (QS. 87: 8)

Allah lah yang memudahkan jalan bagi Nabi Muhammad saw untuk menghafal-kan kalam dan wahyu-Nya. Dengan menurunkan malaikat Jibril seperti yang disinggung sebelumnya. Juga dengan memudahkan dalam menghafalnya. Ibnu Katsir dan al-Qurthuby menafsirkannya lebih umum yaitu memudahkan jalan kebaikan([12]).

Maka lakukanlah dan amalkanlah yang kau terima dengan terus berdakwah. “Oleh sebab itu berikanlah peringatan karena peringatan itu bermanfaat” (QS. 87: 9)

Lakukanlah terus mengingatkan kaummu wahai Muhammad, meskipun bagi sebagian orang peringatan itu tidak membuatnya mengubah sikap dan pendirian. Sebagaimana yang ditegaskan Imam al-Wahidy. Beliau menambahkan bahwa Nabi Muhammad bertugas mengingatkan saja. Kemanfaatan peringatan itu dikembalikan kepada Allah juga sikap orang-orang yang mendengarnya, apakah percaya atau mendustakannya([13]).

Dua Sikap yang Selalu Ada

Orang yang takut (kepada Allah) akan mendapat pelajaran. Dan orang-orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya, (yaitu) orang yang akan memasuki api yang besar (neraka). Kemudian dia tidak akan mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup” (QS. 87: 10-13)

Peringatan dan risalah yang dibawa Nabi Muhammad akan mudah diterima oleh orang yang takut Allah. Karena orang yangtakut kepada Allah maka ia akan berhati-hati dalam bertingkah laku.

Sementara orang yang selalu menjauhinya sesungguhnya orang tersebut mencelaka-kan diri. Karena sikapnya itu akan menjerumuskannya ke dalam neraka. Dan hidup di neraka tidak bisa didefinisikan. Mereka tidak bisa disebut hidup juga tak bisa disebut sebagai mayyit.

Orang-orang yang takut di atas adalah orang yang beruntung. “Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman)” (QS. 87: 14) Karena dari waktu ke waktu mereka selalu berusaha menyucikan diri. Bertasbih dengan lisan dan anggota tubuhnya. Kata-kata yang dikeluarkannya juga bersih karena keluar dari hati yang bersih. Apalagi ia mengimani dan percaya kepada peringatan yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Kemudian setelah itu ia mampu menjaga hidupnya secara konsisten dalam keistiqamahan sikap. Dan kali ini Allah menyebut dua amal yang dilakukan oleh orang beruntung yang selalu menyucikan jiwanya. Yaitu dengan zikir dan dan shalat. “Dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia shalat” (QS. 87: 15)

Hal ini bertolak belakang dengan sikap orang-orang yang selalu menjauhi peringatan Nabi saw. “Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal” (QS. 87: 16-17)

Hanya orang-orang yang bodoh saja yang memilih keindahan yang semu. Karena kehidupan dunia ini adalah permainan yang ada batasnya. Hal senada juga dipesankan oleh guru besar tarekat asy-Syadziliyah, Ibnu ‘Athaillah as-Sakandary:

أرح نفسك من التدبير، فما قام به غيرك عنك لا تقم به لنفسك

Istirahatkanlah dirimu dari mengatur urusan duniawi dengan susah payah. Karena, hal yang sudah diurus oleh orang selain engkau (yaitu Allah), maka tak perlu lagi kau turut mengurusnya ([14]).

Jika Allah telah menyiapkan segalanya untuk kita di dunia ini maka kita tinggal menjemput nasib kita dengan berusaha dan kemudian memasrahkannya kepada Allah apapun hasilnya. Sikap ini akan terlihat dari pola hidup yang kita jalani. Orang yang matang dalam menerima takdir ini akan senantiasa bersyukur terhadap karunia Allah. Ia akan selalu memper-barui rasa syukurnya. Penerimaan takdir ini juga tidak membuatnya apatis dan gampang menyerah karena dia tahu bahwa Allah menurunkan segala sesuatu dengan sebab. Allah yang mencipta sebab dan memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk melakukan sesuatu untuk menjemput sebab-sebab diturunkannya karunia dan pertolongan Allah. Pukulan tongkat Nabi Musa yang tak seberapa dijadikan Allah sebagai sebab turunnya pertolongan-Nya. Air laut berubah menjadi jalan yang dibentangkan untuk Musa dan kaumnya yang ketakutan dari kejaran Fir’aun yang sangat zhalim. Demikian juga goyangan lemah tangan Maryam terhadap pohon kurma di saat tubuhnya keletihan dan jiwa didera sakit karena difitnah dijadikan sebab turunnya pertolongan Allah berupa buah kurma yang lezat dan siap dimakan.

Orang-orang inilah yang digambarkan oleh Rasulullah sebagai orang cerdas “al-kayyisu” yaitu orang yang memikirkan dan merancang sesuatu untuk berbekal di kehidupan setelah ia mati. Bahkan ia menyiapkan untuk anak keturunannya sebagaimana persiapan Nabi Ya’kub untuk mengondisikan anak-anaknya agar senantiasa menyembah dna mengenal Tuhannya.

Orang-orang yang demikian adalah orang yang benar-benar laik mendapatkan keberuntungan dan kebahagiaan abadi.

Kebenaran yang Selalu Dibawa Oleh Utusan-Nya

Sudah menjadi sunnah Allah bahwa peringatan-peringatan seperti disebut di atas selalu dibekalkan kepada setiap utusan-Nya dari masa ke masa.

Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu, (yaitu) kitab-kitab Ibrahim dan Musa” (QS. 87: 18-19)

Karena al-Qur’an bukanlah kitab yang pertama diturunkan Allah pada Rasul-Nya. Sebelumnya Allah pernah menurunkan kitab-kitab juga shahifah (pluralnya: shuhuf) kepada Nabi dan Rasul-Nya. Seperti hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban dan al-Hakim. Abu Dzar pernah bertanya kepada Rasulullah saw tentang jumlah kitab Allah. Beliau menjawab: “ada 104. 10 diturunkan kepada Nabi Adam as. 50 kepada Nabi Syits, 30 kepada Idris. Ibrahim mendapatkan 10. Musa juga mendapatkan 10 sebelum diturunkan Taurat kepadanya. Dan Allah turunkan Taurat, Zabur, Injil dan al-Qur’an ([15]).

Sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa Shuhuf Musa adalah merupakan nama lain dari Kitab Taurat([16]).

Dan dalam surat ini sebagaimana dalam surat an-Najm disebut dua Nabi ini saja. Hal ini karena mereka berdua (Nabi Ibrahim dan Nabi Musa) yang paling dikenal oleh bangsa Arab waktu diturunkannya al-Qur’an. Nabi Ibrahim as. dikenal dengan syari’ah dan ajarannya yang kemudian disebut dengan hanif. Sedangkan Nabi Musa adalah nabi yang paling dikenal di kalangan ahli kitab yang saat itu juga berinteraksi langsung dengan umat Islam.

Adapun didahulukannya Nabi Musa dalam penyebutan karena beliau membawa syariah dan ajaran yang banyak. Sementara Nabi Ibrahim hanya diberikan shuhuf yang banyaknya hanya 10 lembar saja([17]).

Al-Imam al-Akbar Syeikh al-Maraghi merinci bahwa isi Shuhuf Ibrahim dan Musa ini dijelaskan Allah. Ada 14 hal yang kemudian disebut Allah dalam surat an-Najm ayat 38-54([18]). Ini adalah penjelasan kedua shuhuf yang disebut dalam surat an-Najm ayat 36 dan 37 dan diulang kembali di akhir surat al-A’la. Dan keempat belas hal tersebut intisarinya ada pada ayat 14 dalam surat al-A’la. Bahwa orang-orang beriman yang menyucikan dirinya akan meraih kemenangan Allah dan orang yang memusuhi mereka akan berkesudahan dengan nasib yang sangat buruk.

Secara umum sebagian besar ulama tidak membedakan antara Kitab dan Shahifah. Demikian menurut sebagian besar pakar bahasa, sebagaimana disebutkan dan dinukil oleh Ibnu Manzhur. Shahifah secara bahasa adalah yang didalamnya dituliskan sesuatu. Sedangkan shahifah yang dimaksud di dalam al-Qur’an adalah kitab Allah yang diturunkan kepada para nabi-Nya([19]).

Hanya saja kitab yang dikenal diturunkan Allah kepada para nabinya ada empat yaitu: Taurat, Zabur, Injil dan al-Qur’an. Mungkin ada benarnya pendapat yang menyebutkan bahwa bisa jadi shahifah yang diberikan kepada nabi jumlahnya lebih sedikit dari yang diturunkan dengan sebutan al-kitab.

            Terlepas dari perbedaan pendapat tentang terminologi kitab dan shahifah. Kandungan kedua shahifah yang dimuat dalam surat an-Najm dan surat al-A’la menegaskan bahwa:

  1. Manusia diperintahkan berusaha dan berbuat, kelak ia akan dibalas dan diberi ganjaran sesuai amalnya. Tidak seorang pun dari mereka yang menanggung dosa orang lain.
  2. Keberuntungan, kebahagiaan semua Allah yang memilikinya. Allah juga yang memberi jalannya. Namun, tidak sedikit dari manusia yang memilih jalan kesengsaraan.
  3. Allah adalah akhir dari segalanya. Semua akan kembali kepada Dzat yang kekal ini. Semuanya akan hancur dan binasa.
  4. Kehancuran di dunia Allah timpakan kepada para pendusta dan pembangkang yang selalu melawan para utusan-Nya.
  5. Kebahagiaan dan keberuntungan ditulis Allah sebagai bagian dan nasib untuk orang-orang beriman yang senantiasa menyucikan jiwanya.

Semoga kita termasuk dalam catatan keberuntungan dan kebahagiaan yang dikabarkan Allah dalam al-Qur’an, juga shahifah Musa dan Ibrahim serta yang diturunkan kepada para nabi-Nya. Amin.

Jakarta, Selasa, 12 Januari 2010


* Tadabbur surat Al-A’lâ (Yang Paling Tinggi): [87], Juz Amma (30)

** Mahasiswa Program S3 Jurusan Tafsir dan Ilmu al-Qur’an Universitas al-Azhar, Cairo

([1]) lihat: Jalaluddin as-Suyuthi, al-Itqân fi ‘Ulûmi al-Qur’ân, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2004 M/1425 H, hlm. 26; Badruddin az-Zarkasyi, al-Burhân fi ‘Ulûmi al-Qur’ân, Beirut: Darul Fikr, Cet.I, 1988 M/1408 H, Vol.1, hlm. 249. Prof. Dr. Jum’ah Ali Abd. Qadir, Ma’âlim Suar al-Qur’ân, Cairo: Universitas al-Azhar, cet.I, 2004 M/1424 H, vol.2, hlm.786 

([2]) Muhammad Ali Ash-Shabuni, Ijazu al-Bayan fi Suar al-Qur’an, Cairo: Dar Ali Shabuni, 1986 M-1406 H, hlm. 293-294

([3]) Syihabuddin al-Alusy, Ruhul Maani, Beirut: Dar al-Fikr,  1997 M-1417 H, Vol. 30, hlm.183

([4])Az-Zajjaz, Ma’ami al-Qur’an wa I’rabuhu, Cairo: Darul Hadits, 2004 M/1424 H, Vol.V, hlm. 241

([5]) seperti disitir oleh Abu Abdirrahman as-Sulami (Haqa’iq at-Tafsir, tahqiq: Sayyed Imran, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2001 M-1421 H, Vol.II, hlm. 389)

([6]) al-Baghawy, Ma’alim at-Tanzil, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2004 M-1424 H, Vol.IV, hlm. 444

([7]) Az-Zajjaj, Ma’ani al-Qur’an wa I’rabuhu, Op.Cit, 5/241

([8])Abu Zakaria Al-Farrâ’, Ma’ani al-Qur’an, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.1, 2003 M/1423 H, Vol.III, hlm. 143

([9]) Ibnu Manzhur, Lisan al-Arab, Cairo: Dar al-Ma’arif, tt. Vol. II, hlm. 1061

([10]) Jarullah abu al-Qasim Mahmud bin Umar Az-Zamakhsyari, Al-Kasysyaf, Tahqiq: Syeikh Adil Abdul Maujud dan Ali Muawwadh, Riyadh: Maktabah Ubaikan, Cet.I, 1998 M-1418 H,Vol.VI, hlm. 357

([11]) disarikan dari Ruh al-Ma’any, Op.Cit, 30/191

([12]) al-Qurthuby, al-Jami’ li Ahkami al-Qur’an, Cairo: Darul Hadits, 2002 M-1423 H, Vol.X, hlm. 276. lihat juga: Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Azhim, Al-Mansoura: Maktabah al-Iman, 1996 M-1417 H, vol.VIII, hlm. 216

([13]) disarikan dari perkataan Imam al-Wahidy dalam tafsirnya (Al-Wahidy,al-Washit fi Tafsiri al-Qur’an al-Majid, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyah, Cet.I, 1994 M-1415 H, Vol.IV, hlm. 470)

([14]) Ibnu Atha’illah as-Sakandary, Kitab al-Hikam, Jakarta: Khatulistiwa Press, Cet.II, Juni 2008, hlm. 8

([15]) hadits ini dengan redaksi yang mirip disitir oleh Imam az-Zamakhsyari dan al-Alusy dalam tafsirnya. Sebagian ada yang membenarkan sanad haditsnya tapi kebanyakan ulama hadits melemahkan hadits ini. (al-Kasyaf, Op.Cit, 6/360. Ruhul Ma’any, Op.Cit, 30/198.) Imam Suyuthi dan Ibnu al-Jauzi (Abdurrahman Ibnu al-Jauzi, Zadul Masir, Beirut: al-Maktab al-Islamy, Cet.III, 1984 M-1404 M. Vol.VIII, hlm. 79)

([16]) Seperti Abu Hayyan dalam tafsirnya ketika menafsiri surat an-Najm ayat 36. (Lihat: Abu Hayyan, al-Bahr al-Muhith, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 1993 M-1413 H, Vol.VIII, hlm. 164), Juga Ibnu Asyur dalam Tafsir at-Tahrir wa at-Tanwir, Tunis: Ad-dar at-Tunisiah li an-Nasyr, 1984, Vol.27, hlm. 129-130.

([17])Tafsir at-Tahrir wa at-Tanwir, Ibid. hlm.130.

([18]) Syeikh Mustafa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi, Cairo: Mustafa al-baby al-Halaby, Cet.I, 1946 M-1365 H, Vol. 27, hlm. 63

([19]) Ibnu Manzhur, Lisan al-Arab, Op.Cit, Vol. 27, hlm. 2404

Tadabbur Surat Al-Fajr [89]

DEMI WAKTU FAJAR*

Dr. H. Saiful Bahri, M.A**

Mukaddimah: Waktu yang Penting

Menurut jumhur mufassirin Surat Al-Fajr diturunkan Allah di Makkah setelah Surat Al-Lail([1]). Dinamakan demikian karena dibuka dengan sumpah Allah yang menggunakan waktu fajar([2]). Surat ini memuat tiga pokok tema besar: pertama, setelah bersumpah Allah mengisahkan tentang umat terdahulu yang mendustakan para utusan-Nya serta menjelas-kan kondisi tragis yang menimpa mereka sebagai akibat dari sikap sombong dan pembangkangan mereka. Kedua, surat ini membicarakan sunnah (hukum) Allah yang ada di dunia ini. Yaitu cobaan yang akan dijalani setiap manusia, dari kesenangan atau kesulitan; kelapangan atau kesempitan hidup, kemiskinan dan tabiat manusia yang sangat mencintai harta dan dunia. Ketiga, surat ini ditutup dengan pembicaraan tentang hari akhir dengan berbagai macam perniknya([3]). Jika dalam surat al-Ghasyiah dibahas dan ditengarai penduduk neraka atau penghuni surga, maka dalam surat ini juga ada perbedaan antara an-nafs al-muthma`innah (jiwa yang tenang) dengan jiwa yang buruk yang selalu mengajak pada keburukan. Pada saat berpisah dengan jasad terjadi perbedaan yang mendasar.

Sumpah-Sumpah Allah

Dalam surat ini Allah membukanya dengan sumpah dengan menggunakan waktu fajar. “Demi fajar” (QS. 89: 1)

Yang dimaksud di dini adalah fajar yang sesungguhnya. Karena kita mengenal ada dua jenis fajar. Yaitu fajar kadzib dan fajar shadiq. Dan yang dimaksud dalam ayat ini adalah yang shadiq. Yaitu waktu shubuh. Dinamakan demikian karena ia membuyarkan waktu malam, dan dengan datangnya fajar maka malam segera berakhir. Allah juga menggunakan nama lainnya untuk bersumpah, yaitu seperti yang terdapat dalam surat at-Takwir ayat 18, “Dan demi subuh apabila fajarnya mulai menyingsing” (QS. : 18). Dan ini terjadi setiap hari, sebagaimana penafsiran Ibnu Abbas, Ibnu Zubair, Ikrimah, Mujahid, Abu Shalih dan as-Suddy([4]). Dengan sumpah ini tentu fajar merupakan suatu waktu yang diistimewakan Allah. Di dalamnya kita memulai kehidupan. Di dalamnya kita diwajibkan bersujud dan shalat pada-Nya. Di dalamnya rizki-rizki Allah dibagikan.

Kemudian Allah bersumpah  “Dan demi malam yang sepuluh” (QS. 89: 2).

Menurut sebagian para pakar tafsir yang dimaksud di sini adalah 10 hari pertama di bulan Dzulhijjah([5]). Sebagian lagi ada yang menafsirkannya dengan 10 hari terakhir di bulan Ramadhan([6]) karena di dalamnya terdapat malam lailatul qadar. Menurut pendapat yang lain, yang dimaksud di sini adalah 10 hari pertama bulan Muharam karena di dalamnya terdapat hari Asyura([7]), hari ketika Musa as dan Bani Israel diselamatkan Allah dari kejaran Fir’aun. Allah menenggelamkan Fir’aun bersama bala tentaranya.

Kemudian Allah melanjutkan sumpah-Nya. “Dan yang genap dan yang ganjil” (QS. 89: 3)

Ada banyak pendapat yang menafsirkan sumpah ketiga ini. Sebagian ulama menafsirkannya dengan hari Arafah dan Hari Idul Adha. Sebagian lagi mengatakan bahwa genap menunjukkan makhluk Allah dan witir mengisyaratkan penciptanya (khâliq). “al-watru” dalam ayat ini dibaca fathah wawu-nya sebagaimana bacaan jumhur qurra`. Yaitu bacaan kabilah Quraisy. Sedang bacaan yang menggunakan kasrah pada huruf wawu adalah bacaan kabilah Tamim([8]).

Ala kulli hal, dua bilangan di atas digunakan manusia dalam kehidupannya. Dan Allah bersumpah dengan hal yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia. Karena manusia, demikian juga makhluk-Nya masuk dalam bilangan tersebut. Genap atau ganjil.

Keempat kalinya Allah bersumpah. Kali ini dengan mengulangi menyebut waktu malam. “Dan malam bila berlalu” (QS. 89: 4)

Malam yang dimaksud dalam ayat ini adalah sebagaimana waktu malam yang setiap hari kita lalui dan selalu diakhiri dengan terbitnya fajar. Meskipun ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud di sini adalah malam Idul Adha.

Keempat hal yang dipergunakan Allah dalam bersumpah sangat menarik untuk diperhatikan. Terlebih penegasan untuk memperhatikannya dalang setelah Allah bersumpah dengan keempat hal tersebut. “Pada yang demikian itu terdapat sumpah (yang dapat diterima) oleh orang-orang yang berakal” (QS. 89: 5)

  1. Waktu Fajar
  2. Sepuluh malam
  3. Bilangan ganjil dan genap
  4. Waktu malam bila berlalu.

Pertama Allah bersumpah dengan fajar, waktu yang dimuliakan Allah. Kemudian Sepuluh malam mengindikasikan jumlah dan waktu. Bahwa di antara malam-malam yang dilalui manusia setiap hari pasti ada sebagian waktu yang dimuliakan Allah. Yaitu sepuluh malam yang dipakai bersumpah dalam ayat ini terlepas dari perbedaan ulama mengenai maksud dari malam-malam tersebut. Inti dari pembatasan ini adalah bahwa ada waktu-waktu tertentu yang diistimewakan Allah. Manusia yang cerdas akan menggunakannya dengan baik. Menginvestasikan waktunya untuk bekal masa depannya. Kemudian bilangan genap dan ganjil mengindikasikan adanya pasangan dalam kehidupan manusia. Ini adalah sunnah Allah. Allah menciptakan sebagian besar ciptaan-Nya secara berpasangan. Selain itu dengan bilangan ini seolah Allah juga mengingatkan bahwa manusia berada dalam batasan dua jenis bilangan tersebut. Maka gunakanlah waktu dengan sebaik-baiknya.

Bila malam telah sirna dan hari berganti terang. Ini akan bermakna jika kita mau memikirkannya secara mendalam. Bahwa kegelapan akan selalu berganti dengan cahaya yang terang. Menandakan bahwa tiada kekekalan dalam kehidupan dunia. Maka bersabarlah dan teruslah berusaha. Akan datang setelah malam cahaya yang dinanti-nantikan manusia, waktu ia akan menggunakannya bekerja. Sebaliknya, kelelahan bekerja akan sirna bila waktu malam datang. Saat sebagian besar manusia menggunakannya untuk beristirahat.

Demikianlah, Allah memberikan karunia kepada manusia berupa waktu. Tapi waktu tersebut selalu ada batasnya. Hanya orang cerdaslah yang bisa memanfaatkan waktu yang diberikan Allah dengan baik. Dan menjadi tabiat serta karakteristik waktu adalah selalu berputar dan tidak pernah berhenti sejenak pun.

Kisah-Kisah Kaum Terdahulu

            Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ‘Aad? (yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi.  Yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain”. (QS. 89: 6-8)

Kaum Ad adalah kaum Nabi Hud as. Keturunan Ad bin Ash bin Iram bin Sam bin Nuh. Penamaan ini menggunakan penamaan kakek moyang mereka. Yaitu orang-orang yang terkenal kuat. Yang menjadikan kota Iram sebagai kota yang sangat me-nakjubkan. Mereka menjadikannya pusat peradaban. Maka mereka bangun gedung-gedung yang menjulang tinggi dan kokoh yang tidak dijumpai di manapun saat itu. Kota Iram([9]) mereka sulap dengan gemerlap dan kemegahan yang luar biasa. Orang-orang yang menyaksikannya akan langsung tahu ketinggian peradaban mereka. Namun, ketinggian peradaban dan kekuatan fisik mereka tidaklah berarti jika mereka mendus-takan ajaran Allah swt. Nabi Hud yang diutus untuk mengingatkan mereka dan menun-jukkan jalan hidayah, mereka dustakan. Padahal sebelumnya mereka mengenal Hud sebagai saudara yang baik serta terpercaya. Tetapi setelah Hud mendakwahi mereka dengan risalah yang dibawanya dari Allah, sikap mereka berbalik memusuhinya. Maka, Allah musnahkan mereka. “Adapun kaum ‘Ad maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang, yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kaum ‘Aad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul pohon kurma yang telah lapuk” (QS. 69: 6-7)

            Kekuatan fisik dan ketinggian peradaban tak mampu menolong mereka untuk menghalangi dan menghindarkan dari murka Allah yang murka-Nya tiada terbendung oleh siapa dan apapun.

            “Dan kaum Tsamud yang memotong batu-batu besar di lembah” (QS. 89: 9)

            Adapun kaum Tsamud yang datang setelah Kaum ‘Ad musnah, tidaklah pandai mengambil pelajaran dan ibrah dari peristiwa dan sejarah keangkuhan serta kesombongan. Mungkin karena mereka memiliki fisik yang kuat mereka bahkan mampu memahat gunung-gunung batu dan kemudian menjadikannya sebagai hunian yang asri dan nyaman([10]).

            Nikmat dan karunia yang sangat dahsyat ini tidaklah dibalas dengan kesyukuran dan perilaku yang baik. Hati mereka membatu. Jika mereka bisa memahat dan mengukir batu, tidaklah demikian hati mereka yang menjadi keras melebihi batu. Hal ini pun tercermin dari keangkuhan mereka ketika meminta Nabi Shalih untuk menunjukkan mukjizat Allah dan tanda kerasulannya. Mereka meminta batu-batu yang ada di hadapan mereka bisa mengeluarkan seekor unta. Dan setelah mukjizat ini benar-benar terjadi. Unta yang dipesankan oleh Nabi Shalih supaya tak disakiti, dengan sengaja mereka sembelih. Hanya sekedar untuk menyelisihi perintah dan petuah sang nabi. Maka, hati dan watak orang-orang yang membatu seperti ini memang sangat laik jika kemudian diadzab oleh Allah([11]).

Dan kaum Fir’aun yang mempunyai pasak-pasak. Yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri. Lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu”. (QS. 89: 10-12)

Demikian juga contoh ketiga yang Allah ceritakan dalam surat ini. Fir’aun, bukanlah orang pertama yang angkuh dan sombong yang kemudian mematut-matutkan diri sebagai Tuhan padahal ia sangat ringkih dan penakut. Betapa ia lebih laik untuk disebut sebagai penakut. Karena ia sangat menakuti dan mencemaskan seorang bayi laki-laki dari kalangan Bani Israel. Hanya karena satu bayi laki-laki itu saja, ia kemudian mengerahkan segala kekuatan dan pengaruhnya untuk membunuh ribuan manusia dan sebagian besar adalah anak-anak kecil yang tak berdaya. Melawan tentaranya dengan persenjataan lengkap. Dan ketika kekhawatirannya menjadi nyata ia kemudian gelap mata. Untuk menutupi ketakutannya ini kemudian ia kumpulkan semua rakyatnya dan dengan congkak ia kemudian “…. berkata: Akulah Tuhan kalian yang paling tinggi”. (QS. 79: 24)

Ia memang memiliki pasukan yang sangat banyak dan kuat. Ia juga bisa membangun peradaban yang terus diingat orang-orang yang hidup setelahnya. Karena ia memiliki para teknokrat yang brilian yang dikomandoi Haman. Juga para ekonom dan akademisi serta kalangan profesional yang lain serta futurolog-futurolog, peramal dan para tukang sihir yang semuanya menopangnya menjadikan Mesir menjadi salah satu negara yang disegani saat itu. Tapi mengapa ia kerahkan semua kelebihan-kelebihan itu untuk memerangi Musa, anak tirinya yang hidup dan tumbuh dewasa di istananya. Yang para pengikutnya adalah kumpulan orang-orang lemah. Hanya karena Musa membawa risalah pengesaan dan penghambaan kepada Allah swt. Ia kejar Musa dan kaumnya, Bani Israel hingga perbatasan darat dengan laut merah. Pertolongan Allah pun datang. Musa membelah laut dengan tongkatnya. Fir’aun pun segera menyusulnya. Namun, Allah lebih cepat mengembalikan Laut Merah menjadi seperti semula. Fir’aun dengan segala kekuatan pasukan dan semua keangkuhannya tenggelam. Tak mampu menghadapi tentara Allah yang kali ini bernama air.

Adapun pasak-pasak yang dimaksud di sini adalah yang disediakan untuk menyiksa orang-orang yang membangkang. Jumlahnya empat digunakan untuk mengikat kaki dan tangan dan terdapat diberbagai tempat dan dijaga oleh tentara-tentara Fir’aun yang kejam. Sebagaimana yang dituturkan Imam al-Alusy([12]).

Karena itu Tuhanmu menimpakan kepada mereka cemeti azab. Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi ([13]). (QS. 89: 13-14)

Orang-orang yang diberi kenikmatan seperti di atas dan kemudian tidak mau bersyukur. Tidak juga bersedia mengindahkan peringatan Allah melalui utusan-utusan-Nya. Maka, adzab Allah lebih tepat untuk mereka. Dan Allah terus mengawasi mereka dari waktu ke waktu. Namun, mereka tidak juga melakukan perubahan.

Kemuliaan dan Kehinaan

Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: Tuhanku telah memuliakanku. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya, maka dia berkata: Tuhanku meng-hinakanku”. (QS. 89: 15-16)

Inilah standar kebanyakan manusia dalam menilai Allah. Betapa pendeknya pandangan mereka. Kesalahan persepsi ini didasarkan pada beberapa penilaian:

  1. Membatasi rizki Allah hanya berbentuk materi yang bisa dilihat dengan kasat mata, padahal rizki Allah sangat luas. Selain berbentuk materi rizki Allah bisa berupa: kesehatan, ilmu, ketenangan jiwa dan sebagainya
  2. Standar kemuliaan tidaklah dilihat dari materi yang ada pada seseorang. Demikian juga bahwa kehinaan tidaklah selamanya melekat pada orang miskin yang tak berharta. Tak sedikit orang kaya yang hina di mata sesamanya juga dalam pandangan Allah swt karena perilakunya yang buruk. Juga tidak sedikit orang miskin yang mulia karena akhlak dan kualitasnya.
  3. Ujian Allah disikapi dengan prasangka buruk. Padahal seharusnya karunia Allah yang dianugerahkan mesti disyukuri dan dimanfaatkan dengan baik. Bila ada yang tidak sesuai dengan kehendak, maka sabar adalah sebaik-baik bekal dalam menghadapinya. Karena pada hakikatnya kekayaan dan kemiskinan adalah ujian Allah pada manusia dengan kondisi yang berbeda-beda.

Dengan persepsi yang salah tentang rizki ini akan berdampak pada sikap dan perilaku manusia. Mereka menjadi kikir dan sangat mencintai dunia. Secara lebih spesifik Allah menggambarkannya sebagai berikut:

Pertama, “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim” (QS. 89: 17)

            Penyimpangan pertama yang terjadi akibat salah persepsi mengenai rizki dan harta adalah menyia-nyiakan anak yatim dan menerlantarkan mereka. Padahal anak yatim yang miskin secara fisik dan psikis itu perlu dilindungi dan disayangi.

Kedua, “Dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin” (QS. 89: 18)

            Rasa kikir ini berlanjut dengan tidak mau memberi makan kepada fakir miskin. Bah-kan ia menganjurkan kepada orang lain untuk melakukan hal tersebut. Keburukan tabiat dan perilakunya membuatnya juga berusaha membentuk komunitas yang buruk. Yaitu komunitas yang menginginkan kekayaan hanya digenggam di tangan beberapa orang saja, supaya mereka bisa mengendalikan segalanya dengan harta. Apa yang mereka inginkan –dalam pandangan mereka- pasti selalu bisa didapatkan dengan harta dan uang.

Ketiga, “Dan kamu memakan harta pusaka dengan cara mencampur baurkan (yang halal dan yang bathil)” (QS. 89: 19)

            Yang lebih buruk dari dua hal tersebut adalah perbuatan memakan harta warisan. Ini adalah orang yang paling buruk. Ia memakan harta yang tidak menjadi haknya, kemudian harta yang dimakannya tersebut adalah hak saudaranya([14]). Ia melakukan dua penyim-pangan sekaligus. Penyimpangan harta dan penyimpangan ukhuwah. Terlebih penggunaan kata “ta’kuluna” yang berarti memakan mengindikasikan kerakusan untuk dinikmati sendiri dan memperturutkan syahwat perut tanpa peduli kondisi dan hak saudaranya.

            Ibnu Zaid mengatakan: tambahan kata “lamma” ini untuk menguatkan kerakusannya. Ia memakan tanpa memperdulikan apakah yang dia makan itu halal atau haram, sehingga ia kehilangan rasa malu([15]).

Keempat, “Dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan” (QS. 89: 20)

Kesalahan dan penyimpangan-penyimpangan yang didasarkan atas sifat kikir di atas jika tidak dilawan maka akan mengkristal. Pada saat sudah menjadi watak maka seseorang akan benar-benar sulit melepaskan diri dari materi. Saat itu ia benar-benar sangat mencintai dunia dengan kecintaan yang berlebihan yang akan menghancurkan-nya. Tidakkah cukup kisah Qarun menjadi cermin atas petaka yang diakibatkan oleh kecintaan yang berlebihan terhadap dunia?

Imam al-Qurthuby menafsirkan  kecintaan ini maksudnya adalah kecintaan yang berlebihan dalam mengumpulkan harta serta tidak menunaikan haknya dengan sedekah dan zakat([16]).

Berhentinya Kecintaan Pada Dunia

            “Jangan (berbuat demikian). Apabila bumi digoncangkan berturut-turut. Dan datanglah Tuhanmu; sedang malaikat berbaris-baris.” (QS. 89: 21-22)

            Keniscayaan yang tak bisa dihindari oleh manusia dan semua yang bernafas adalah menjumpai kematian. Bila ia mati, maka ia dipisah paksa dengan dunia yang sangat dicintainya. Sebelumnya ia tak sadar bahwa sikap salahnya tersebut kelak akan menghancurkannya. Karena kematian bukalah akhir dari segalanya. Nantinya, saat semua manusia dibangkitkan kembali dari matinya. Allah mendatangi mereka semua untuk meminta pertanggungjawaban. Para malaikat berbaris, ditugaskan Allah menjadi panitia pengurusan hari akhir.

            “Dan pada hari itu diperlihatkan neraka jahannam; dan pada hari itu ingatlah manusia, akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya” (QS. 89: 23)

            Saat semua tersingkap barulah orang-orang yang lalai tersadar. Panasnya neraka sudah terasakan, dan mereka segera mengingat kesalahan demi kesalahan yang dilakukan. Penyesalan dan mengingat hal yang demikian pada saat itu tidaklah berguna. “Dia mengatakan: Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini” (QS. 89: 24). Karena penyesalan di saat yang demikian menjadi sia-sia dan akan semakin membuat mereka menderita. Penderitaan di atas penderitaan. Fisik dan jiwa merana karena salah memilih sikap di dunia.

            “Maka pada hari itu tiada seorangpun yang menyiksa seperti siksa-Nya. Dan tiada seorangpun yang mengikat seperti ikatan-Nya” (QS. 89: 25-26)

            Dzat yang serba maha hari itu terlihat dengan jelas kekuasaan-Nya. Orang yang tadinya beriman dan yakin akan kebesaran dan kekuasaan-Nya akan semakin puas. Dan orang yang mengingkari-Nya pada hari itu terpaksa mengakuinya dengan berjuta penyesalan. Karena murka dan azdab-Nya sangat pedih dan menyakitkan. Tiada yang sanggup menghindar dari siksaaan-Nya. Tidak pula ada yang sanggup menghalangi-Nya untuk berbuat apa saja. Semua hijab telah dibuka. Karena hari itu adalah hari pembalasan. Selesailah hari perjuangan dan amal. Hanya tinggal menunggu hasil dan ganjarannya saja.

Jiwa yang Tenang

            “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku. Masuklah ke dalam surga-Ku”. (QS. 89: 27-30)

Adapun orang-orang beriman yang memiliki jiwa yang tenang, saat perpisahan dengan jasad pun malaikat-malaikat-Nya memperlakukan dan memanggilnya dengan lembut. Sang pencabut nyawa juga berusaha tidak menyakiti saat memisahkan ruh dari jasad orang baik tersebut. Meskipun tetap saja usaha tersebut tidak berhasil, karena perpisahan jiwa dan raga tetap menyisakan rasa sakit yang tak terperikan. Saat raga di pendam di dalam perut bumi, jiwa yang tenang tersebut mi’raj ke langit.

Jiwa yang tenang tinggalkanlah dunia dengan segala kepenatannya. Dengan tenang temui Tuhanmu” Demikian Abu Abdirrahman As-Sulamy mengomentari ayat di atas([17]).

Ia telah ditunggu penduduk langit yang menantikannya. Ia disambut dengan senyum. Ia segera bergabung dengan kafilah orang-orang salih dan bertaqwa. Kemudian ia nikmati fasilitas yang serba mewah yang telah Allah sediakan untuknya dan hamba-hamba-Nya yang baik. Semoga kita termasuk ke dalam golongan jiwa yang tenang. Amin.

Jakarta, Selasa, 26 Januari 2010


* Tadabbur surat Al-Fajr (Waktu Fajar): [89], Juz Amma (30)

** Mahasiswa Program S3 Jurusan Tafsir dan Ilmu al-Qur’an Universitas al-Azhar, Cairo

([1]) lihat: Jalaluddin as-Suyuthi, al-Itqân fi ‘Ulûmi al-Qur’ân, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2004 M/1425 H, hlm. 20-22; Badruddin az-Zarkasyi, al-Burhân fi ‘Ulûmi al-Qur’ân, Beirut: Darul Fikr, Cet.I, 1988 M/1408 H, Vol.1, hlm. 249. Prof. Dr. Jum’ah Ali Abd. Qadir, Ma’âlim Suar al-Qur’ân, Cairo: Universitas al-Azhar, cet.I, 2004 M/1424 H, vol.2, hlm.797 

([2]) Prof. Dr. Jum’ah Ali Abd. Qadir, Op.Cit, hlm. 799.

([3]) Muhammad Ali Ash-Shabuni, Ijazu al-Bayan fi Suar al-Qur’an, Cairo: Dar Ali Shabuni, 1986 M-1406 H, hlm. 296.

([4]) Ibnu Jarir ath-Thabary, Jami’ al-Bayan fi Ta’wil Ay al-Qur’an, tahqiq: Mahmud Syakir, Beirut: Dar Ihya at-Turats al-Araby, Cet.I, 2001 M-1421 H, Vol. 30, hlm. 204. Al-Baghawy, Ma’alim at-Tanzil, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2004 M-1424 H, Vol.IV, hlm. 450.

([5]) Ini adalah pendapat Ibnu Abbas, Ibnu Zubair, Ikrimah, Masruq, Adh-Dhahak, Ibnu Zaid (Jami’ al-Bayan, Op.Cit, hlm. 205-206) Menurut Imam Qurthuby, juga merupakan pendapat As-Suddy, Mujahid dan al-Kalby (al-Qurthuby, al-Jami’ li Ahkami al-Qur’an, Cairo: Darul Hadits, 2002 M-1423 H, Vol.X, hlm. 291)

([6]) Pendapat ini mengacu pada riwayat Aisyah ra yang menjelaskan tentang ibadah Nabi saw yang lebih giat di sepuluh terakhir bulan Ramadhan (Syihabuddin al-Alusy, Ruhul Maani, Beirut: Dar al-Fikr,  1997 M-1417 H, Vol. 30, hlm. 215-216)

([7]) Ini juga karena ada anjuran berpuasa sunnah pada hari Asyura’ dengan menambah satu atau dua hari sebelum atau sesudahnya (Ibid. hlm. 216)

([8]) Ibid. hlm. 217-218

([9]) Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud Iram adalah kota di Syam (Damaskus). Ada juga yang mengatakan: Alexandria (lihat tesis penulis: Kitab Lawami’ al Burhan wa Qawathi’ al-Bayan fi Ma’ani al-Qur’an Karya Imam al-Ma’iny, Cairo: Universitas al-Azhar Jurusan Tafsir, 2006, Vol.2, hlm. 842) Namun, dua pendapat ini dilemahkan oleh para ulama. Karena Ad merupakan kaum Arab al-Baidah yang telah punah. Mereka berada di semenanjung Arab di bagian selatan (Ruhul Maani, Op.Cit, Vol. 30, hlm. 221). Juga Syeikh Shafiurrahman al-Mubarakfury, Ar-Rahiq al-Makhtum, terjemah: Kathur Suhardi, Jakarta: Pustaka al-Kautsar, Cet.II, Januari 2009, hlm. 2

([10]) Mereka diberi kelebihan kekuatan fisik dan mampu memahat gunung-gunung batu serta menjadikannya tempat tinggal (Az-Zajjaz, Ma’ami al-Qur’an wa I’rabuhu, Cairo: Darul Hadits, 2004 M/1424 H, Vol.V, hlm. 246, juga lihat: Abu Zakaria Al-Farrâ’, Ma’ani al-Qur’an, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.1, 2003 M/1423 H, Vol.III, hlm. 150)

([11]) Simaklah kisah mereka dalam surat al-A’raf “Orang-orang yang menyombongkan diri berkata: “Sesungguhnya kami adalah orang yang tidak percaya kepada apa yang kamu imani itu”. Kemudian mereka sembelih unta betina itu, dan mereka berlaku angkuh terhadap perintah Tuhan. dan mereka berkata: “Hai Shaleh, datangkanlah apa yang kamu ancamkan itu kepada kami, jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang diutus (Allah)”. Karena itu mereka ditimpa gempa, Maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka”. (QS. 7: 76-78).

([12]) lihat Ruh al- Ma’any, Op.Cit, Vol. 30, hlm 223-224.

([13]) Tak ada sesuatupun yang tidak diketahui oleh Allah. Dia takkan pernah melewatkan sedikitpun per-kataan dan perilaku manusia. Karena Dzat Yang Maha Hidup ini tidak pernah tertidur atau mengantuk barang sekejap. Demikian penjelasan Imam al-Kalby (Al-Baghawi, Ma’alim at-Tanzil, Op.Cit, Vol.IV, hlm. 453) dan disitir al-Qurthuby dalam tafsirnya (al-Qurthuby, Op.Cit, Vol.X, hlm. 300)

([14]) Terutama ahli waris yang perempuan atau yang masih anak. Pada zaman Jahiliyah orang Arab tidak memberikan warisan kepada perempuan dan anak-anak (Al-Baghawi, Ma’alim at-Tanzil, Op.Cit, Vol.IV, hlm. 454)

([15]) Ibid.

([16]) Kurang lebih seperti yang dituturkan al-Qurthuby dalam tafsirnya al-Jami’ li Ahkami al-Qur’an, Op.Cit, Vol. X, hlm. 303.

([17]) Haqa’iq at-Tafsir, tahqiq: Sayyed Imran, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2001 M-1421 H, Vol.II, hlm. 394

Tadabbur Surat An-Nazi’at [79]

SANG DURJANA DAN SANG PENCABUT NYAWA*

Dr. H. Saiful Bahri, MA**.

Mukaddimah: Tentara-Tentara Allah

Surat An-Nâzi’ât (Malaikat Pencabut Nyawa) diturunkan di Makkah([1]), setelah surat An-Naba’ sebagaimana susunannya dalam mushaf([2]) yang beredar di tengah-tengah umat Islam. Tema utamanya sebagaimana surat-surat Makkiyah lainnya, yaitu penekanan keimanan terhadap akhir akhir yang merupakan lanjutan dari sebelum-sebelumnya.

Demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras. Dan (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan lemah-lembut. Dan (malaikat-malaikat) yang turun dari langit dengan cepat. Dan (malaikat-malaikat) yang mendahului dengan kencang. Dan (malaikat-malaikat) yang mengatur urusan (dunia)”. (QS. 79: 1-5)

Sebagian besar ulama dan ahli tafsir berpendapat bahwa yang dimaksud dalam lima ayat pertama di atas yang dipakai Allah untuk bersumpah adalah para malaikat dengan berbagai spesifikasi tugasnya. Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, Mujahid, Muqatil, Masruq, Said bin Jubair, Abu Shalih dan Suddy mengatakannya demikian([3]), meski ada juga pendapat yang mengurainya satu persatu serta membedakannya satu dengan lainnya; sebagian ditafsirkan sebagai malaikat dan yang lainnya adalah bintang-bintang, jiwa orang beriman atau yang lainnya.

Semua yang disebut di atas adalah tentara Allah yang akan bertugas sesuai titah-Nya. Setidaknya ada 4 uraian tugas yang disebut dalam pembuka surat ini; mencabut nyawa, bergerak dengan cepat, mendahului apa saja dengan cepat dan mengatur urusan dunia. Bahkan untuk urusan pencabutan nyawa Allah membedakannya, ada yang bertugas mencabut nyawa dengan keras dan kasar dan ada yang mencabutnya dengan lemah lembut. Ini membuka pikiran yang mendengarnya, mengapa ada perbedaan. Tentulah Allah juga akan membedakan orang-orang baik dan buruk, bahkan pada saat ajalnya datang pun pasti berbeda-beda. Ada menjalani sakaratul mautnya dengan sangat mengerikan. Sebagian lagi melewatinya dengan ketenangan. Meski kematian tetaplah menyakitkan. Nabi saw pun menggambarkannya lebih dahsyat dari tiga ratus kali bacokan pedang. Hanya orang berpikirlah yang sanggup menerima pesan Tuhan seperti ini.

Sangkakala Kehancuran dan Kebangkitan: Ketakutan yang Nyata

Siapapun orangnya, seberapa pun ia memiliki harta dan kekuasaan, takkan bisa terhindar dan terjaga dari kehancuran dan kebinasaan. Saatnya nanti, ia pun takkan mampu menyembunyikan ketakutannya. Di mana kedigdayaannya saat ia menjadi angkuh dengan harta dan pengaruhnya. Atau congkak dengan memamerkan kepandaian ilmunya yang tak seberapa. Di manakah sang durjana yang mengaku-aku menjadi Tuhan yang perkasa. Tak malukah ia, saat itu nyalinya benar-benar akan menciut. ”(Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan) pada hari ketika tiupan pertama menggoncang alam. Tiupan pertama itu diiringi oleh tiupan kedua. Hati manusia pada waktu itu sangat takut. Pandangannya tunduk”. (QS. 79: 6-9)

Satu tiupan saja dan semua yang ada menjadi sirna. Kemudian disusul satu tiupan saja semua dibangkitkan oleh Dzat yang serba maha. Yang melindungi para kaum tertindas serta berkuasa dan mampu berbuat apa saja terhadap para durjana.

Pikiran orang-orang baik sekalipun –hari itu- menjadi berat. Ia tak tahu bagaimana kesudahan nasibnya di hari pengadilan ini. Bagaimana ia akan menerima vonis sebentar lagi. Lantas ketakutan seperti apa yang dialami para durjana dan pendusta itu? Padahal seolah dulunya mereka tak mengenal rasa takut sedikit pun. Dengan sombongnya –bahkan- mereka memusuhi dan menyakiti para kekasih-Nya; nabi-nabi dan para rasul yang diutus kepada mereka. Masih ingatkah mereka akan olok-olokan yang dulu senantiasa mereka ucapkan dengan nyinyir.

(orang-orang kafir) berkata: “Apakah sesungguhnya kami benar-benar dikembalikan kepada kehidupan semula? Apakah (akan dibangkitkan juga) apabila kami telah menjadi tulang belulang yang hancur lumat?” (QS. 79: 10-11). Itulah cibiran mereka ketika menghina Rasulullah saw dan para sahabatnya, ketika ihwal hari kebangkitan dan pembalasan disampaikan. Seolah-olah mereka sangat tahu bahwa takkan ada suatu ketakutanpun yang akan hinggap di hati mereka. Sebuah anggapan yang tidak benar. Mereka tertipu oleh kebodohan dan kekerdilan jiwa mereka sendiri.

Nantinya mereka pun segera tahu siapa sesungguhnya di antara mereka yang merugi. ”Mereka berkata: “Kalau demikian, itu adalah suatu pengembalian yang merugikan“. (QS. 79: 12). Sungguh, sebuah kerugian yang sangat besar. Karena mereka kembali kepada Allah dengan tangan hampa, bahkan bergelimang dosa. Tak ada tabungan yang bisa mereka andalkan dalam menjalani hari-hari sulit tatkala menyambut pengadilan yang Maha Adil.

Karena bagi Allah hanya dengan sekali tiupan semua ritme kehidupan akan benar-benar menemui kehancurannya. Satu tiupan pula yang akan membangkitkan makhluk-Nya yang telah binasa([4]). Tiupan kebangkitan ini, diistilahkan oleh Imam Hasan al-Bashry dan Ibrahim at-Taimy sebagai tiupan kemarahan pada orang-orang yang mendurhakai-Nya([5]) di dunia.

Belajar dari Kisah Terdahulu

Sejenak, Allah mengalihkan pembicaraan tentang hari kebangkitan yang merupakan salah satu silsilah yaumul akhir. Allah kembali mengisahkan perhelatan abadi antara rezim kezhaliman dan risalah kebenaran. Kali ini kisah dakwah Nabi Musa as kepada Firaun yang diketengahkan. Supaya kaum Nabi Muhammad bisa belajar dari kisah ini. Yaitu, ”Tatkala Tuhannya memanggilnya di lembah suci Thuwa” (QS. 79: 16)

Musa pun menerima risalah kebenaran yang akan merobohkan kezhaliman dan menggantinya dengan keadilan. Mandat kenabian pun diterima Musa yang telah tertempa kedewasaan sebelumnya. Ia telah terusir dari kampungnya kemudian merantau di tempat yang jauh selama lebih dari sepuluh tahun([6]). Kemudian ia pun harus kembali untuk mengemban misi dan risalah Allah. Dan Allah pun memerintahkannya, ”Pergilah kamu kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Dan katakanlah (kepada Fir’aun): “Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan). Dan kamu akan kupimpin ke jalan Tuhanmu supaya kamu takut kepada-Nya?” (QS. 79:17-20)

Musa pun dibekali dengan mukjizat yang agung dari Allah. Namun, hal tersebut tak membuat hati Sang Durjana yang membatu menjadi lunak. Respon Firaun pun tak sesuai dengan harapan Nabi Musa as. Firaun yang angkuh itu mendustakan dan mendurhakai Musa as. “Kemudian dia berpaling seraya berusaha menantang (Musa). Maka dia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya. (seraya) berkata:”Akulah Tuhanmu yang paling tinggi“. (QS. 79: 22-24)

Itulah klimaks kezhaliman, ketika seseorang mengaku-aku Tuhan padahal tak sedikit pun ia laik dengan siifat-sifat ketuhanan. ”Maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia.” (QS. 79: 25)

Allah menghukumnya dengan menenggelamkannya beserta segala kesombongannya. Setelah itu Allah kekalkan jasadnya agar bisa dilihat oleh orang-orang setelahnya. “Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Tuhannya)”. (QS. 79: 26)

Dan hanya orang-orang yang takut Allah saja yang mampu mengambil pelajaran dari akhir cerita kezhaliman yang naas seperti yang dialami oleh Firaun tersebut. Hal ini merupakan salah satu fungsi kisah-kisah al-Qur’an yang memerankan pembaruan suasana untuk menyegarkan ingatan terhadap sebuah peristiwa yang telah terjadi di masa lampau([7]).

Tanda Kekuasaan yang Bisa Dilihat dan Dirasakan

            Terkadang manusia lupa dan sering merasa bahwa dirinya demikian hebat. Atau menyombongkan penciptaan dirinya, atau setidaknya berbangga karena menyandang makhluk mulia, sementara tak juga ia melaksanakan misi penciptaannya. Karena itu ia tak layak menyombongkan diri.

            Manakah yang lebih sulit dan rumit, penciptaan manusia atau langit yang tanpa atap. Allah telah benar-benar membangunnya bahkan berlapis tujuh dan, ”meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya”. (QS. 79: 28) Dan sepanjang mata telanjang memandang kita tak sanggup mencari permulaannya saja, bagaimana mungkin kita sanggup menemukan ujungnya. Dan langit telah benar-benar ada. Allahlah penciptanya. Bahkan menciptakannya dengan kesempurnaan, kecantikan dan kemegahannya.

            Dia juga yang, ”menjadikan malamnya gelap gulita, dan menjadikan siangnya terang benderang. Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya. Ia memancarkan daripadanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya. Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh”. (QS. 79: 29-32)

            Gelap dan terang adalah rekayasa Allah dan pengaturan-Nya, semuanya demi kemaslahatan manusia. Lalu hamparan bumi yang terbentang nan luas. Juga untuk manusia. Mata air yang memancar, tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam. Juga gunung-gunung yang kokoh berdiri melawan terpaan angin yang kencang. Allah lah yang mengaturnya. ”(semua itu) untuk kesenanganmu”.(QS. 79: 33) bahkan diteruskan kemanfaatan itu juga untuk ”hewan-hewan ternakmu”. Dan kita tahu bahwa hewan ternak itu nantinya juga dimanfaatkan untuk kepentingan dan kesenangan serta kemaslahatan manusia. Sebagian disembelih dan dimakan, sebagian digunakan untuk melakukan perjalanan panjang. Yang lain digunakan untuk berlomba, berburu dan berperang. Bahkan ada yang digunakan sekadar untuk kebanggaan dan kemewahan serta bermegah-megahan.

            Allah yang sangat kasih sayang terhadap manusia terkadang dilupakan begitu saja. Apalagi saat-saat mendapatkan karunia dari-Nya. Memang manusia sering lupa. Saat senggang dan bahagia mereka melupakan Tuhannya. Tatkala terjepit dalam kesempitan mereka kadang baru mengingatnya. Kealpaan dan kelalaian ini kelak akan membawa kerugian dan penyesalan.

Malapetaka dan Karunia

            Berapa lama manusia sanggup menikmati hidupnya. Jika dia terlahir ke dunia ini pada usia nol, ia baru bisa berjalan setelah 1-2 tahun kemudian, kemudian ia akan pada usia belasan tahun ia baru mencari eksistensinya. Pada usia duapuluhan ia bahkan belum mampu eksis kecuali sebagian kecil. Mungkin pada usia 30 atau 40 ia baru menikmati hidupnya. Ia bahkan hanya bisa menimkati hidupnya sedikit saja. Sisanya ia pakai untuk bekerja keras. Hartanya ia relakan untuk keluarganya. Sebagian digunakan untuk memenuhi tuntutan prestise dan posisi sosial di tengah masyarakat. Hanya sedikit saja yang benar-benar bisa ia nikmati. Itupun nantinya tak ia bawa ke liang lahatnya.

            Maka, pada saat datang hari yang dijanjikan Allah. ”Maka apabila malapetaka yang sangat besar (hari kiamat) telah datang. Pada hari (ketika) manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya, Dan diperlihatkan neraka dengan jelas kepada setiap orang yang melihat”. (QS. 79: 34-36)

            Saat itu semua manusia bisa merasakan betapa beratnya hari yang dijalaninya sekarang. Ia mulai berhitung apa yang diperbuatnya untuk menghadapi hari ini.

Ketakutan yang demikian dahsyatnya akan menimpa siapa saja. Karena tak satupun yang tahu kasudahan nasibnya. Terlebih bagi orang yang angkuh dan sangat zhalim serta melampaui batas ketika hidup di dunia. ”Adapun orang yang melampaui batas. Dan lebih mengutamakan kehidupan dunia. Maka sesungguhnya nerakalah tempat (nya)”. (QS. 79: 37-39). Itulah seburuk-buruk akhir cerita.

            ”Sedangkan orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya. Maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya)”. (QS. 79: 40-41).

            Berbahagialah orang-orang yang mampu menahan diri dari yang dimurkai Allah. Fudhail bin Iyadh mengatakan, “sebaik-baik amal adalah menyelisihi hawa nafsu([8]). Demikian pula orang-orang yang bersabar menjalankan apa yang dikehendaki-Nya yang menjadi misi penciptaannya di muka bumi sebagai khalifah Allah untuk memakmurkan bumi dan isinya. Bukan untuk merusak dan saling bertikai. Bukan pula untuk saling membunuh dan menghancurkan.

Peringatan Hanya Ada di Dunia Saja

            Saat orang-orang kafir tersebut melecehkan peringatan Nabi saw. “(orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari kebangkitan, kapankah terjadinya?” (QS. 79: 42)

            Takkan pernah ada yang tahu, tidak juga ada yang mengetahuinya sebelum kejadian yang sesungguhnya. Bahkan sampai Nabi Muhammad saw pun tidak juga mendapatkan berita waktu kepastiannya. “Siapakah kamu (maka) dapat menyebutkan (waktunya)?” (QS. 79: 43). Beliau hanya penyambung lidah, sang pembawa amanah dan , ”hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya (hari kebangkitan)” (QS. 79: 45).

            Saat nanti semua manusia dibangkitkan, semuanya bersiap diri menyongsong pengadilan dan vonis untuk menerima pembalasan yang setimpal dari semua yang dilakukannya ketika berad di dunia ini. Saat itu semua merasa betapa pendeknya umur mereka di dunia yang tak seberapa. Apalagi bagi mereka yang durhaka dan pendusta. Hari-hari menyulitkan itu terasa demikian panjang dan melelahkan. Padahal mereka belum lagi menerima vonis. Ketakutan dan kengerian sudah mereka rasakan. Kenikmatan dan kemakmuran yang mereka rasa di dunia menjadi tiada berarti. “Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari”. (QS. 79: 46)

            Perbandingan yang tak seimbang. Karena kehidupan fana di dunia menjadi tiada artinya. Bagaikan satu detik dalam hidup kita. Diumpamakan di sini bagaikan waktu pagi atau petang. Ini perumpamaan singkatnya waktu yang dilalui manusia setiap harinya, seperti tutur ath-Thayyiby([9]). Pagi hari manusia sibuk mempersiapkan hari urusan itu dari mencari nafkah dan sebagainya. Semuanya terasa singkat. Sedang sore harinya ia gunakan untuk kembali ke rumah bertemu dengan keluarganya. Maka ia juga merasakan betapa cepatnya waktu sore berlalu.

            Sebenarnya manusia pun tahu bahwa setelah kehidupan dunia ini ada kehidupan lagi. Setelah jasadnya ditinggal ruh dan nyawa ada kehidupan lain yang dialaminya. Karena saat di dunia ia pun merasakan, ketika bekerja keras ia mendapatkan hasil yang sesuai dengan harapannya. Ia pun berharap jerih payahnya dihargai sesuai usahanya. Ada juga orang-orang tertindas yang belum mendapatkan keadilan bahkan sebagian terbunuh dengan ternista atau terinjak-injak harga dirinya. Di mana mereka akan mendapatkan keadilan, jika tidak di hari akhir([10]) yang hanya Allah saja berkuasa atas segalanya. Karena bila seorang hamba telah mampu mematri keimanan terhadap hari akhir ini, ia akan berhati-hati menjalani sisa hidupnya dan memenuhinya dengan kemanfaatan bagi seluas-luas makhluk-Nya. Senada dengan ungkapan Ibnu Atha’illah as-Sakandary, ”Seandainya cahaya keyakinan menerangimu, niscaya engka dapat melihat akhirat itu lebih dekat padamu daripada engkau berjalan ke arahnya. Dan engkau punmelihat keindahan dunia telah tertutupi oleh gerhana kefanaan yang gulita ([11]).

لو أشرق لك نور اليقين لرأيت الآخرة أقرب إليك من أن ترحل إليها ولرأيت محاسن الدنيا قد ظهرت كسفة الفناء عليها

Penutup: Hari Berbekal dan Menabung

            Jika kita telah menyadari dan mengimaninya dengan sepenuh hati, kita juga akan menganggapnya sangat dekat. ”Sedangkan kami memandangnya dekat” (QS. Al-Ma’ârij: 7) Sehingga kita tidak pernah menganggap diri kita teramankan dari murka dan azab Allah sekalipun. Maka yang terbaik dilakukan saat ini adalah berbenah diri dengan menabung amal sebanyak-banyaknya dengan kualitas yang sebaik-baiknya untuk menghadapi hari pacekik yang dahsyat yang dikatakan sebagai ath-Thammah al-Kubra (malapetaka yang besar). Saat itu yang bisa diandalkan adalah amal yang telah kita kerjakan. Meskipun seandainya kemudian Allah mengampuni semua kekhilafan dan doa kita serta menerima amal kebaikan kita itu semata karena keluasan rahmat dan kasih sayang-Nya. Semoga kelak kita benar-benar mendapatkannya. Amin.

Jakarta, Selasa, 17 November 2009


* Tadabbur surat An-Nâzi’ât (Malaikat Pencabut Nyawa): [79], Juz Amma (30)

** Mahasiswa Program S3 Jurusan Tafsir dan Ilmu al-Qur’an Universitas al-Azhar, Cairo

([1]) lihat: Ibnu Jarir ath-Thabary, Jâmi’ al-Bayân, Beirut: Dar Ihya Turats al-Araby, Cet.I, 2001 M/1421 H, vol.30, hlm.36, Imam al-Baghawy, Ma’âlimu at-Tanzîl, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2004 M/1425 H, vol.4, hlm.410, Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Azhim, Mansoura: Maktabah al-Iman, Cet.I, 1996 M/1417 H, Vol.8, hlm.178, Syihabuddin al-Alusy, Rûhul Ma’âny, Beirut: Darul Fikr, Cet.I, 1997 M/1417 H, Vol. 30, hlm. 39-40. 

([2]) lihat: Jalaluddin as-Suyuthi, al-Itqân fi ‘Ulûmi al-Qur’ân, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2004 M/1425 H, hlm. 22; Badruddin az-Zarkasyi, al-Burhân fi ‘Ulûmi al-Qur’ân, Beirut: Darul Fikr, Cet.I, 1988 M/1408 H, Vol.1, hlm. 250. Prof. Dr. Jum’ah Ali Abd. Qadir, Ma’âlim Suar al-Qur’ân, Cairo: Universitas al-Azhar, cet.I, 2004 M/1424 H, vol.2, hlm.743

([3]) lihat: Jalaluddin as-Suyuthi, Ad-Durr al-Mantsûr fi at-Tafsir bi al-Ma’tsur, Beirut: Darul Fikr, Cet.1, 1987 M/1403 H, Vol.1, hlm.403.

([4]) seperti yang difirmankan dalam ayat ke 13 dalam surat ini. Proses pengembalian itu suatu hal yang sangat mudah bagi Allah. Hanya dibutuhkan satu tiupan saja, dan secara tiba-tiba semua yang telah mati terhimpun di padang mahsyar, padang kebangkitan (lihat Tafsir al-Muntakhab, al-Azhar-Kementrian Wakaf Mesir, Cairo, 2001 M/1422 H, hlm.1201)

([5]) seperti disitir Ibnu Katsir dalam Tafsirnya, Tafsir al-Qur’an al-Azhim, 4/470

([6]) yaitu ketika merada di negeri Madyan. Bahkan ia menikah dan berkeluarga di sana, kemudian bersama mereka ia kembali ke Mesir untuk melanjutkan misi reformasinya, berdakwah melengserkan kezhaliman.

([7]) seperti ungkap Dr. Abdurrahman an-Nahlawy, At-Tarbiyah Bil Qishshah, Damaskus: Darul Fikr, Cet.1, 2006 M/1427 H hlm. 16

([8]) disitir al-Alusy dalam tafsirnya, Ruhul Ma’any, Op. Cit, Vol.30, hlm. 63

([9]) Ibid, Vol.30, hlm. 66

([10]) lihat: Dr. Yusuf al-Qaradhawy, Al-Iman wa al-Hayah, Cairo: Maktabah Wahbah, Cet. XVI, 2007 M/1428 H, hlm. 36.

([11]) sebagaimana termujat dalam kitab al-Hikam karya Ibnu Athaillah as-Sakandary, terj. Dr. Ismail Baadillah, Jakarta: Khatulistiwa Press, Cet.II, 2008 M/1429 H, Hikmah ke 124. hlm. 168

Tadabbur Surat An-Naba’ [78]

BERITA BESAR YANG DIPERTANYAKAN*

Dr. H. Saiful Bahri, MA**.

Mukaddimah: Jawaban Atas Berbagai Keraguan

Dalam surat sebelumnya (al-Mursalât) Allah mengulang-ulang ayat ”wailun yaumaidzin lilmukadzdzibîn” yang artinya ”kecelakaan yang besar pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan” sebanyak sepuluh kali; maka dalam surat ini Allah lebih banyak menjelaskan tentang hari kebangkitan dan kemudian pembalasan bagi para manusia sesuai amal dan perbuatannya. Hari yang didustakan oleh banyak orang sejak para rasul sebelum Nabi Muhammad menyampaikannya pada kaum mereka.

Dengan hal inilah Allah menyampaikan pesan dalam surat An-Naba’ (Berita Besar) di awal juz 30. Juz terakhir dari al-Qur’an yang didalamnya terdapat 37 surat. Sebagian besar surat tersebut diturunkan Allah di masa kenabian pertama yang dikenal dengan periode Makkah. Hanya dua saja –yang disepakati oleh para ulama- merupakan surat madaniyah, yaitu surat al-Zalzalah dan surat An-Nashr yang turun pada periode Madinah.

Surat an-Naba’ diturunkan setelah surat al-Ma’arij([1]). Surat ini memuat sebuah berita besar yang dipertanyakan dan didustakan oleh orang-orang kafir([2]). Yaitu berita tentang hari kiamat yang selalu membuat manusia penasaran dan mencari tahu kapan datangnya([3]).

Hari Kiamat: Misteri Yang Takkan Pernah Terkuak Waktunya 

            Siapapun orangnya takkan pernah mengetahui kapan tiba masanya hari kiamat; bahkan Nabi Muhammad saw sekalipun. Karena itu bila ada yang mengaku-aku mengetahui kapan datangnya hari kiamat, sudah bisa dipastikan bahwa orang tersebut adalah seorang pendusta, hanya pembual yang bermulut besar.

            ”Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya? Tentang berita yang besar, yang mereka perselisihkan tentang ini. Sekali-kali tidak; kelak mereka akan mengetahui. Kemudian sekali-kali tidak; kelak mereka mengetahui”. (QS. 78: 1-5)

            Imam al-Alusy menyebutkan bahwa kata ganti ketiga yang berbentuk plural di sini tanpa didahului penyebutan mereka sebelumnya bisa jadi dimaksudkan untuk menghinakan mereka yang mendustakan hari kiamat. Yaitu orang-orang kuffar quraisy. Sehingga mereka perlu dihadirkan dalam kesempatan ini. Atau bisa jadi justru merekalah yang meneror kaum muslimin dengan pertanyaan yang bernada penghinaan. Pada hakikatnya mereka bukanlah bertanya, karena sikap mereka sudah sangat jelas. Mendustakan adanya hari kiamat([4]). Apapun maksud mereka Allah sudah menegaskan bahwa penentuan hari kebangkitan sudah dilakukan Allah dan tak seorang makhluk-Nya pun yang mengetahui rahasia tersebut. Tidak juga orang terdekat-Nya, baginda Rasulullah saw atau malaikat Jibril as.

Dengan ini Allah sekaligus mengancam para pendusta tersebut bahwa kelak yang mereka olok-olokkan akan menjadi kenyataan. Cepat atau lambat mereka akan segera mengetahui dan menyesal saat itu. Dan penyesalan seperti ini tidaklah berguna, karena mereka telah menyia-nyiakan kesempatan yang sebelumnya terbuka luas ketika di dunia.

Tanda-tanda Kekuasaan Allah

            Sejenak Allah memalingkan pembicaraan tentang hari kebangkitan. Para pendusta itu –khususnya- dan para manusia secara umum melalui Rasulullah dan orang-orang mukmin, diajak berpikir, melihat berbagai fenomena alam yang diciptakan Allah. Dengan pikiran jernih, dapat menghantarkan manusia untuk sampai pada keyakinan kebenaran hari kiamat.

            “Bukankah kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan? Dan gunung-gunung sebagai pasak? Dan kami jadikan kamu berpasang-pasangan, Dan kami jadikan tidurmu untuk istirahat, Dan kami jadikan malam sebagai pakaian, Dan kami jadikan siang untuk mencari penghidupan, Dan kami bina di atas kamu tujuh buah (langit) yang kokoh, Dan kami jadikan pelita yang amat terang (matahari), Dan kami turunkan dari awan air yang banyak tercurah, Supaya kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan, Dan kebun-kebun yang lebat?” (QS. 78; 6-16)

Ayat-ayat di atas –sebagaimana tutur Imam Qatadah- merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah yang sekaligus sebagai pembuka pembicaraan yang lebih serius tentang hari kebangkitan([5]).

Bumi yang terhampar luas ini pada hakikatnya tidaklah seberapa jika dibanding dengan luasnya alam semesta ciptaan Allah. Gunung-gunung yang dipasang sebagai pasaknya kelak akan dicabut bagaikan bulu-bulu ringan. Allah jualah yang menciptakan apapun serba berpasangan. Menjadikan sebuah perbedaan yang bahkan sangat mencolok, menjadi sebuah keserasian. Ia juga yang sanggup menentukan hari kehancuran bagi apa saja.

            Menariknya Allah menyebut tidur sebagai sebuah nikmat istirahat bagi manusia. Sekaligus sebagai tanda hari kebangkitan. Bahwa tidurnya manusia di malam hari bagaikan sebuah kematian. Dan ketika ia terbangun di pagi hari Allah telah membangkitkannya dari sebuah kematian. Maka kelak hari kebangkitan yang sesungguhnya setelah mati juga demikian. Hanya saja tiada yang tahu kapan terjadinya.

            ”Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari. Kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umur(mu) yang telah ditentukan, kemudian kepada Allah-lah kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan”. (QS. 6: 60)

Dalam surat al-An’am ini, Allah menggunakan kata ”yatawaffâkum” (mematikan kalian), yaitu menidurkan di malam hari. Ibnu al-Anbary mengatakan, “tidur disetarakan seperti kematian karena semua kegiatan manusia terputus” ([6]). Allah juga menjadikan malam seperti halnya pakaian yang menutupi. Karena pada malam hari manusia beristirahat, dan menggunakan sebagian besar waktunya untuk privasi diri dan tak ingin diketahui oleh orang lain. Sedangkan siang Allah jadikan sebagai waktu bagi manusia untuk beraktivitas. Keduanya berpasangan dan diganti Allah secara bergiliran untuk kepentingan manusia. Siapakah yang menggilir kedua waktu tersebut secara bergantian? Bagaimana seandainya sepanjang waktu menjadi malam yang gelap? Atau menjadi terang selamanya, menjadi siang tanpa malam. Itulah hikmah penciptaan pergantian waktu. Dzat yang mampu melakukannya tentu juga mampu membangkitkan manusia setelah kematiannya.

Dialah sang pencipta tujuh lapis langit tanpa tiang yang berada di atas bumi secara kokoh. Pernahkah manusia membayangkan satu saja dari tujuh lapis langit tersebut terjatuh dan menimpa bumi, tempat manusia berada dan melangsungkan kehidupannya.

Allah juga yang menjadikan pelita sangat terang, yaitu matahari. Tanpa pernah padam sejenak pun. Semua manusia merasakannya dengan kadar yang berbeda-beda. Semua telah di tentukan Allah sehingga sesuai untuk manusia. Pernahkah kit abayangkan seandainya jarak antara matahari dan bumi tempat kita berada dijauhkan Allah sedikit saja. Mungkin dunia ini akan segera membeku kedinginan. Atau sebaliknya jaraknya didekatkan sedikit saja, maka semua yang ada di bumi akan terbakar kepanasan. Dzat yang sangat detil memperhitungkan hal tersebut tentu saja mudah dalam membangkitkan makhluk-Nya setelah kematian.

Allah juga yang menurunkan dari awan-awan yang membawa air menjadi hujan yang mengguyur bumi. Dari air yang satu itu kemudian diterima oleh tanah yang bermacam-macam jenisnya. Dari sana kemudian tumbuh berbagai jenis biji-bijian dan tumbuhan yang macamnya sangat beragam dan sangat banyak, sebagian diantaranya menjadi perkebunan dan taman-taman yang indah dan lebat. Dan setiap waktu selalu saja ditemukan jenis tanaman dan tumbuhan baru. Semuanya berasal dari satu jenis air. Yaitu air dari awan. Dzat yang bisa melakukannya tentu saja mampu membangkitkan manusia setelah kebinasaannya.

Hari yang Ditunggu-Tunggu

            Bila hari penentuan itu datang, semuanya menjadi berubah. Karena saat itu para manusia sudah tak lagi dibebani dengan tugas dan taklif.

            “Sesungguhnya hari keputusan adalah suatu waktu yang ditetapkan. Yaitu hari (yang pada waktu itu) ditiup sangkakala lalu kamu datang berkelompok-kelompok. Dan dibukalah langit, maka terdapatlah beberapa pintu. Dan dijalankanlah gunung-gunung maka ia menjadi fatamorgana”. (QS. 78: 17-20)

            Bila datang hari kebangkitan, manusia pun segera terjaga dari kematian. Kehidupan sesungguhnya baru akan dimulai. Hari pembalasan menanti mereka. Mereka dibangkitkan secara berkelompok sesuai dengan perilaku dan amal mereka ketika hidup di dunia([7]). Masing-masing kelompok terdapat pemimpinnya, yang mereka ikuti ketika di dunia. Hal ini senada ungkapan Allah dalam firman-Nya, “(Ingatlah) suatu hari (yang di hari itu) kami panggil tiap umat dengan pemimpinnya; dan barangsiapa yang diberikan kitab amalannya di tangan kanannya maka mereka Ini akan membaca kitabnya itu, dan mereka tidak dianiaya sedikitpun” (QS. 17: 71)”

            Langit-langitpun membuka diri atas titah Tuhan-Nya. Di dalamnya terdapat pintu-pintu yang sangat banyak. Gunung-gunung yang menjadi pasak bumi pun terserabut terbang dan dijalankan Allah bagai bulu. Ia pun seperti fatamormana. Ada keberadaannya tapi seolah terlihat tidak di alam nyata. Karena gunung yang demikian kokohnya terseret juga oleh arus dan mesti mengikuti titah dan perintah Tuhannya. Gunung-gunung itu menjadi seperti fatamorgana. Seperti ada dan seperti tiada. Seolah menjadi demikian ringannya. Ini adalah satu dari sekian gambaran kedahsyatan hari kemusnahan dan kiamat. Dan setelahnya diikuti dengan datangnya hari kebangkitan kemudian dilanjutkan dengan pembalasan.

Hari Pembalasan

            Hari kebangkitan membawa misi keadilan. Agar setiap manusia mendapatkan balasan yang setimpal dan adil atas semua perbuatannya yang dilakukannya ketika ia hidup di bumi.

            ”Sesungguhnya neraka Jahannam itu (padanya) ada tempat pengintai. Lagi menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas. Mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya. Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman. Selain air yang mendidih dan nanah. Sebagai pambalasan yang setimpal. Sesungguhnya mereka tidak berharap (takut) kepada hisab. Dan mereka mendustakan ayat-ayat kami dengan sesungguhnya. Dan segala sesuatu telah kami catat dalam suatu kitab. Karena itu rasakanlah. dan kami sekali-kali tidak akan menambah kepada kamu selain daripada azab”. (QS. 78: 21-30)

            Orang-orang zhalim yang melampau batas kewajaran, yang lalim, penindas yang lemah, culas dan serakah. Bagi mereka neraka jahannam. Seburuk-buruk tempat kembali di akhirat kelak. Yaitu neraka yang selalu ada pengintainya. Menjaga mereka tanpa belas kasihan sama sekali. Sekali-kali takkan pernah mereka merasakan kenyamanan dan kesejukan. Al-Farra’ menafsirkannya dengan kenyamanan beristirahat dari panasnya hawa neraka sehingga disebut dengan ”la bardan”, takkan ada kesejukan dan kenyamanan dari siksa neraka yang tak kenal ampun([8]). Bahkan sekedar mendapatkan hembusan angin pun tidak, seperti tutur Az-Zajjaj dalam tafsirnya([9]). Tidak juga mereka mendapatkan sesuatu yang bisa mengusir dahaga dan haus karena menahan panas yang sangat luar biasa. Tak ada air. Kecuali air yang menggelegak atau nanah yang sangat menjijikkan dan baunya menyengat.

            Itulah balasan yang setimpal bagi perbuatan mereka. Yaitu mendustakan ayat-ayat dan tanda kebesaran serta kekuasaan Allah. Bumi, langit, ditidurkannya manusia, gunung-gunung, awan dan air serta berbagai tanda yang lainnya seperti yang disebutkan. Seolah tak memberikan bekas dan pengaruh bagi mereka. Padahal kesempatan taubat yang berulang-ulang dibuka oleh Allah tak juga digunakan dengan baik sampai akhirnya dating masa yang tak lagi bisa diperdengarkan alasan dan udzur. Akibatnya, orang-orang yang melampaui batas tersebut berlaku zhalim. Menindas yang lemah, menipu, culas, ringan melakukan kesalahan, berbuat semaunya dengan memperturutkan hawa nafsunya. Karena mereka sudah berkeyakinan takkan ada pembalasan. Namun anggapan tersebut tidaklah benar. Semua bahkan terekam dalam catatan amal yang kelak tak lagi bisa dipungkiri, karena malaikat pencatat pun disertai saksi anggota tubuh manusia sendiri yang berbicara atas titas keagungan Allah. Saat itu, takkan lagi ada pendusta yang sanggup berdusta. Dan orang-orang yang zhalim tersebut tak laik mendapatkan tambahan melainkan kepedihan adzab yang tak terperikan.

Kemuliaan dan Kemenangan Orang Bertaqwa

            Sebaliknya orang-orang yang mau menahan hawa nafsunya dan memilih ketaqwaan sebagai perilaku hidupnya semasa di dunia, mereka akan mendapatkan ganjaran yang setimpal, yaitu berupa kemuliaan dan kemenangan hakiki.

Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa mendapat kemenangan, (yaitu) kebun-kebun dan buah anggur, dan gadis-gadis remaja yang sebaya, dan gelas-gelas yang penuh (berisi minuman). Di dalamnya mereka tidak mendengar perkataan yang sia-sia dan tidak (pula) perkataan dusta. Sebagai pembalasan dari Tuhanmu dan pemberian yang cukup banyak”. (QS. 78: 31-36)

Bagi mereka kepuasan dan kebahagiaan selain disertai berbagai ganjaran materi yang sangat gamblang disebutkan di sini. Yaitu kebun-kebun yang sangat lebat nan indah serta buah anggur yang sangat menggiurkan. Ditemani bidadari-bidadari yang cantiknya tak tertandingi dan tak pernah tua. Umur mereka selalu sebaya. Yang tak pernah jemu dan bosan melayani mereka, menyodorkan aneka gelas indah yang selalu penuh dengan berbagai jenis minuman, sesuai keinginan mereka.

Selain itu semua, para penghuni surga jua mendapatkan kenikmatan psikis berupa perkataan yang baik. Tak ada lagi dusta dan kata-kata kasar terdengar di sana. Semua santun, kata-kata indah selalu didengar dan diperdengarkan. Telinga mereka menjadi termanjakan oleh hiburan-hiburan yang sangat membahagiakan. Terutama untuk ketenangan jiwa. Karena kata-kata kasar dan dusta serta kebohongan adalah siksaan bagi jiwa. Bagi para pembohong sekalipun kata-kata tersebut sangat berat. Abu Bakar Asy-Syibli menuturkan bahwa semua percakapan dan perbincangan penduduk surga adalah kebenaran([10]).

Itulah anugerah dari Dzat yang serba maha. “Tuhan yang memelihara langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya; yang Maha Pemurah.”. (QS. 78: 37)

Hari Kebenaran dan Keadilan

            Pada hari itu takkan ada dusta. Takkan ada yang mampu menutup-nutupi kebenaran. Semuanya akan terungkap. Keadilan benar-benar ditegakkan untuk siapapun tanpa terkecuali.

Pada hari, ketika ruh dan para malaikat berdiri bershaf-shaf, mereka tidak berkata-kata, kecuali siapa yang Telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan yang Maha Pemurah; dan ia mengucapkan kata yang benar. Itulah hari yang pasti terjadi. Maka barangsiapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan kembali kepada Tuhannya”. (QS. 78: 38-39)

Hari itu semuanya tunduk pada titah Sang Perkasa yang Berkuasa penuh atas kendali bagi siapapun dan apapun. Dan penegakan hukum benar-benar dilakukan secara transparan dan adil tanpa ada pemihakan dan kecondongan bagi siapapun.

Meski demikian Allah tetaplah sebagai Dzat yang Maha Pemurah bagi hamba-hamba-Nya yang mau berusaha berbuat baik dan bersabar ketika mengarungi kehidupannya di dunia. Sekaligus Dzat yang Maha Benar yang akan membuktikan janji-Nya, dengan memberikan balasan yang adil dan setimpal. Yang zhalim tak dilebihkan hukumannya, sedang yang baik dilipatkan pahalanya. Itulah kemurahan dan cinta Sang Rahman yang tiada pernah habis.

Penutup: Penyesalan-Penyesalan

Sesungguhnya kami telah memperingatkan kepadamu (hai orang kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata:”Alangkah baiknya sekiranya dahulu adalah tanah“. (QS. 78: 40)

Siapapun orangnya pasti kelak akan menyesali semua perbuatannya. Bagi yang diberikan nikmat surga dan kemuliaan ia akan menyesal mengapa tak lagi giat dan terus menambah dan meningkatkan kualitas dan kuantitas amal shalihnya. Apalagi bagi yang zhalim dan melampaui batas. Mereka justru berharap seandainya menjadi debu saja. Karena debu tak dimintai pertanggungjawaban amal. Kelak manusia bahkan jin akan dimintai pertanggujawaban atas perbuatannya.

Perkataan orang kafir di atas menggambarkan penyesalan yang sangat dalam. Ibnu Umar, Abu Hurairah dan Mujahid mengatakan hal itu mereka katakana saat melihat hewan-hewan menjadi debu([11]). Namun sebaiknya ditafsirkan lebih umum. Karena baik jin dan manusia diciptakan untuk beribadah semasa hidupnya seperti tutur al-Qur’an([12]) dan semuanya akan diberikan balasan sesuai dengan amalnya ([13]).

            Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang dimuliakan dengan balasan pahala kebaikan dan semua kekhilafan serta kesalahan kita diampuni dan ditutup oleh Allah swt dengan kasih saying-Nya. Amin.

 Jakarta, Selasa, 10 November 2009


* Tadabbur surat An-Naba’ (Berita Besar): [78], Juz Amma (30)

** Mahasiswa Program S3 Jurusan Tafsir dan Ilmu al-Qur’an Universitas al-Azhar, Cairo

([1]) lihat: Jalaluddin as-Suyuthi, al-Itqân fi ‘Ulûmi al-Qur’ân, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2004 M/1425 H, hlm. 22; Badruddin az-Zarkasyi, al-Burhân fi ‘Ulûmi al-Qur’ân, Beirut: Darul Fikr, Cet.I, 1988 M/1408 H, Vol.1, hlm. 250.

([2]) Menurut Imam Qatadah, juga jumhur mufassirin mengatakan bahwa yang dimaksud di sini adalah hari kebangkitan (lihat: Ibnu Jarir ath-Thabary, Jâmi’ al-Bayân, Beirut: Dar Ihya Turats al-Araby, Cet.I, 2001 M/1421 H, vol.30, hlm.5, Imam al-Baghawy, Ma’âlimu at-Tanzîl, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2004 M/1425 H, vol.4, hlm.405, Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Azhim, Mansoura: Maktabah al-Iman, Cet.I, 1996 M/1417 H, Vol.8, hlm.170 )

([3]) Prof. Dr. Jum’ah Ali Abd. Qadir, Ma’âlim Suar al-Qur’ân, Cairo: Universitas al-Azhar, cet.I, 2004 M/1424 H, vol.2, hlm.743

([4]) Syihabuddin al-Alusy, Rûhul Ma’âny, Beirut: Darul Fikr, Cet.I, 1997 M/1417 H, Vol. 30, hlm. 4

([5]) Ibid, Vol. 30, hlm. 5

([6]) Imam al-Wahidy, al-Wasith fi tafsir al-Qur’an al-Majid, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 1994 M/1415 H, Vol.4, hlm.412

([7]) Imam Syihabuddin al-Alusy, Ruhul Ma’any, Op.Cit, Vol. 30, hlm. 19

([8]) Abu Zakaria Al-Farrâ’, Ma’ani al-Qur’an, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.1, 2003 M/1423 H, Vol.3, hlm.118

([9]) Az-Zajjâj, Ma’ani al-Qur’an wa I’rabuhu, Cairo: Darul Hadits, 2004 M/1424 H, Vol.5, hlm.213

([10]) seperti yang disitir oleh As-Sulamy dalam tafsirnya, Haqâ’iq at-Tafsir, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.1, 2001 M/1421 H, Vol.2, hlm.368

([11]) seperti dinukil oleh Imam Qurthubi dalam tafsirnya al-Jami’ li Ahkami al-Qur’an, Cairo: Darul Hadits, Cet.1, 2002 M/1423 H, Vol.10, hlm. 156

([12])Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (QS. Adz-Dzariyat: 56)

([13]) lihat tesis penulis: Kitab Lawami’ al Burhan wa Qawathi’ al-Bayan fi Ma’ani al-Qur’an Karya Imam al-Ma’iny, Cairo: Universitas al-Azhar Jurusan Tafsir, 2006, Vol.2, hlm. 779