80 kali 40

80 kali 40

Tak terlalu lama aku berdiri di Halte Gami’, bis hijau bernomer 80 coret segera menghampiriku juga orang-orang yang berada di halte. Beberapa pasang kaki segera berlari memburunya. Entah mengapa tiba-tiba kakiku ikut bergerak. Dan akhirnya aku menjadi penumpang sebelum terakhir. Alhamdulillah, aku berhasil memasukkan setengah badanku dengan topangan tangan kiri yang sempat memegang tiang di samping pintu belakang. Entahlah. Biasanya jika ke kuliah aku lebih suka naik apa saja yang menghantarkanku ke Nadi Sikkah, atau ke Duwaiqoh. Kemudian aku sambung dengan mikro bis atau dengan naik taksi omprengan. Tapi rasanya sudah lamaaaaa sekali aku tak menikmati ”perjuangan” menaiki bis 80 coret yang selalu pasti berjejalan penumpang saat-saat aktif jam kuliah. Apalagi dengan adanya kelas sore seperti sekarang.

Pagi tadi, aku bersemangat. Karena promotorku saja yang tinggal di Thanta -ibukota propinsi Gharbea- punya komitmen untuk datang ke kampus sebelum jam 09.30. rasanya malu jika aku terlambat dan keduluan. Maka jam 8 pagi lebih sedikit aku sudah setia menunggu ”jemputan” ke kampus. Dan nampaknya aku berjodoh dengan 80 coret yang menyambangiku sudah dengan penumpang yang berjejalan. Karena jalan sedikit macet aku berani menggerakkan kakiku meski hanya setengah badanku saja yang bisa masuk bis. Setelah melewati dua halte aku baru bisa menggeser badanku. Aku bersyukur dikaruniai badan yang tidak terlalu besar. Sehingga tak harus menunggu lama aku bisa menyelinap di balik pintu belakang. Bahkan –alhamdulillah– tak begitu lama aku pun bisa mendapatkan temnpat duduk. Sambil merenung, berapa jumlah penumpang yang saat ini berada di atas bis bersamaku. Setidaknya kursi yang tersedia ada 32. Penumpang yang berdiri minimalnya 1 ½ kali lipat dari yang berdiri, karena formasi bis yang kunaiki adalah 2 – 1, sehingga bagian tengahnya agak lebar dan bisa menampung 2 atau tiga orang yang berdiri di setiap barisnya. 75% lebih penumpangnya punya jurusan sama. Kuliah di al-Azhar. Beberapa orang terlihat sedikit bisa bernafas ketika bis berhenti di depan halte Fakultas Kedokteran al-Azhar. Beberapa mahasiswa turun di sana. Penumpang bis juga mulai berkurang ketika bis berhenti di depan asrama pelajar asing. Dan saat itulah aku melihat kondisi bis jauh lebih baik. Meski masih lumayan banyak yang berdiri tapi badan mereka sudah bisa berdiri tegak. Aku melihat sepatuku. Yang kanan sudah banyak cap sepati/kaki di sana. Yang kiri juga demikian. Bajuku yang tadi lumayan rapi, tadi juga sempat jadi pegangan orang. Sehingga mulai kusut.

Aku hanya ingat saat berjuang memasuki bis aku meletakkan telapak tanganku melindungi saku celana kananku, tempat aku meletakkan Hp di sana. Sesekali aku melindungi kacamataku agar tidak jatuh atau tersangkut oleh tangan atau badan orang-orang di depan atau belakangku yang secara fisik jauh lebih besar dariku.

Saat aku turun di depan Rumah Sakit Hussein, sejenak kupandangi bis yang setia mengantarku itu. Sudah berapa kali ia mengantarku kuliah sejak dari 10 tahun yang lalu bahkan lebih. Ah, aku bahkan tak pernah menghitungnya. Sebagian kondekturnya bahkan belum berganti. Ia masih saja setia duduk manis di belakang pintu sambil mengomandoi penumpang untuk maju terus ke depan. Suaranya keras, tapi maksudnya baik; agar penumpang yang bergelantungan di pintu bisa memasuki bis. Tapi ketika mereka masuk, penumpang yang lain menyusul.

Aku pun merenung. Perjuangan yang tak ringan ini jika tidak disertai keikhlasan akan percuma dan sia-sia. Apalagi jika tidak ditambah sedikit sabar. Itu semua karena ”ilmu”. Dikejar dan diburu mati-matian. Karenanya kemudian aku paham, pantas saja Allah kemudian memuliakan orang-orang berilmu. Lihatlah, Ibu Imam Syafii dan Ibu Imam Ahmad bin Hambal. Mereka berdua adalah janda muda yang ditinggal mati suaminya masih dalam usia yang tidak terlalu tua. Oleh ibunya, Imam Syafii dibawa ke Makkah dan Madinah untuk menuntut ilmu. Oleh ibunya, Imam Ahmad dinafkahi harta warisan keluarganya. Hanya untuk ilmu. Bahkan ibu mereka berdua pun memilih tidak menikah lagi. Hanya untuk ilmu anak-anaknya.

Barangkali pagi tadi aku memang sedang mencari semangat. Tepatnya menambah semangat. Saat berdebar-debar menunggu kelahiran anak keduaku. Minggu-minggu ini adalah perjuangan berat istriku. Saat ribuan mil, daratan dan lautan memisahkanku dengannya dan anak pertamaku. Semoga mereka selalu baik-baik saja. Allah Sang Penjaga. Sebaik-baiknya penjaga.

Aku baru memahami… kenapa tadi pagi kakiku sangat ringan melayang dan melompat. Tangan kiriku juga sigap mencengkram tiang pintu belakang. Ada sejuta makna kudapat. Ada berjuta kaset kenangan terputar. Ada sejuta asa dan perjuangan menyetrum nadiku. Ada berjuta semangat kudapati dari orang-orang yang berada di dekatku. Berlari, berjuang. Dan saling menolong, meluangkan tempat bagi sesama. Menarik dan memegang agar semua terlindungi meski oleh fasilitas yang seadanya. Meski ada tantangan tangan-tangan jahil di sana. Tapi dalam kondisi yang sangat padat seperti tadi ia pun akan kesulitan beraksi.

Aku baru memahami… rasanya memang sekali-kali aku perlu mencoba kembali untuk menaiki 80 coretku. Meski memang ada banyak alternatif menuju kampus al-Azhar di Husein. Mungkin aku tak begitu terasa, karena tidak setiap hari aku pergi ke sana. Lalu bagaimana dengan adik-adikku yang harus kuliah setiap hari. Lalu bagaimana dengan mereka yang budget transportnya terbatas.

80 x 40 = semangat yang luar biasa.

Jika hari ini aku menaikinya selama 40 menit. Lalu berapa menit jumlah total waktu yang kuhabiskan untuk menaiki bis 80 coret. He he he… itu belum dipotong waktu menunggunya. Saat masih S1 aku sangat setia menunggunya. Tapi sejak sudah banyak alternatif transportasi, aku sudah tak terlalu sabar menunggunya.

Aku segera bergegas memburu kantor jurusan tafsir. Ketika dosen pembimbingku datang, setelah bersalaman aku berusaha mencium telapak tangan kanannya. Tapi seperti biasa, beliau segera menariknya. ”Tunggu 10 menit ya” ujarnya melularkan semangat menuntut ilmu. Ku lihat senyum ramah,di ujung bibirnya.

Rasa penatku hilang begitu aku bisa duduk di samping beliau. Mendengarkan koreksi dan masukan beberapa bagian tulisan di Bab 2 yang kuserahkan pekan lalu.

Jam tanganku hampir menunjukkan jam 11 siang. Sebentar lagi temanku akan menjemputku, untuk kemudian meneruskan perjalanan ke Bank Faysal di Attaba. Untuk menyetor tabungan uang organisasi yang kupimpin.

Jeda waktu tunggu kugunakan melihat-lihat buku di depan auditorium Grand Syeikh Abdul Halim Mahmud. Hasrat membeli bukuku segera padam begitu aku tersadar aku lupa membawa dompetku. Alhamdulillah, aku ingat bahwa aku lupa membawa dompet dan bukan dijaili oleh tangan-tangan nakal seperti yang terjadi beberapa tahun yang lalu.

Jika sedang luang dan bepergian di atas mobil yang lebih nyaman. Aku segera ingat bahwa masih banyak orang berjuang di atas kendaraan umum. Saat aku berganti-ganti transportasi ke kampus. Lebih nyaman dan praktis. Akupun segera ingat… bahwa perjuanganku pagi ini tak hanya menjadi kisahku saja. Ada banyak orang sepertiku. Bahkan mungkin ada sebagian yang kehilangan nyali untuk datang ke kampus. Hanya dengan alasan 80 coret. Mungkin juga ada yang sekedar mendengar berbagai mitos 80 coret, karena ia belum pernah menaikinya.

Ketika aku berjalan kaki. Berapa banyak orang yang tertatih-tatih berjalan. Aku bersyukur dikaruniai kesehatan hari ini.

80 coret kali 40 menit = benar-benar menginspirasiku.

Karena aku ”cukup” setia memanfaatkan jasanya. 15 piester, kemudian 25 piester, hingga sekarang 50 piester. Mungkin tak sepadan dengan jasanya mengantarkanku menjemput jutaan mutiara ilmu dan motivasi pembelajaran. Tapi, tak semua orang mampu menganggarkan budget seperti di atas karena keterbatasan atau karena suatu hal. Bahkan untuk sekedar berterima kasih dan tidak mencercanya… saya yakin masih banyak yang berat melakukannya.

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. 55: 13)

 

Ahad Petang, Rumah Cinta, Kampung Sepuluh,

Cairo, 11.10.2009

Saiful Bahri

3 thoughts on “80 kali 40

  1. enis fathul mengatakan:

    dah anak kedua ya.. salam ya buat bety

  2. Firman Robiansyah mengatakan:

    Nice note…. sungguh inspiratif… Barakallahu lak ya Akhi al-Aziz.

  3. sulaimanazhar mengatakan:

    trimakasih ust khutbahnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s