KETIKA TETESAN ITU TERHENTI

KETIKA TETESAN ITU TERHENTI

“Maukah kalian menjadi orang-orang yang bertaqwa?” Tanya seorang syeikh kepada audiens yang ada di depannya.

Kontan saja mereka mengiyakan. Hanya saja–entahlah–jawaban itu tak terlihat keluar dari lubuk terdalam. Justru terasa pertanyaan yang aneh. Siapa sih yang tak mau?

Syeikh menuturkan sebuah kisah pengalaman hidup seorang tâbi’iy.

Musim semi telah tiba. Bunga-bunga mekar tersenyum menebar aroma. Sinar matahari menyambangi pelataran rumput menghijau. Banyak sapi dan unta di sana. Ternak milik Abdullah bin Jad’an, salah seorang tabi’in yang shalih, zuhud meski dengan gelimang harta yang cukup melimpah. Ia tersenyum. Kemudian memandang langit. Cerah sekali, sejernih isi hatinya yang melantunkan gema syukur kepada Allah, Sang Pemurah. Sang Pemberi Rizki telah mengaruniainya nikmat yang berbilang namun tak terhitung. Keluarganya sehat wal afiat serta ternaknya berkembang pesat. Bahkan, ia melihat banyak dari unta-unta betina melimpah cadangan susunya.

Pelahan ia mendekati unta terbaiknya. Unta betina yang gemuk dan melimpah susunya itu segera diambil dan diberikan kepada tetangganya yang fakir.

Sang tetangga pun bahagia. Ia dan keluarganya tak hanya bisa meminum susu tapi bisa langsung memerahnya dari sumber aslinya. Bahkan bukan hanya itu, ia pun bisa saja menyembelihnya dan mengambil dagingnya. Hanya saja tetangga tersebut lebih suka memelihara unta pemberian Abdullah. Sebagai bukti dan tanda kasih sayang serta solidaritasnya yang tinggi.

Hingga …

Putaran waktu pun berjalan. Alur dan cerita kehidupan berganti. Musim paceklik dan kekeringan pun datang. Sebagai tanda kekuasaan Allah yang mengganti hari-hari-Nya.

Kedatangan musim ini pun tak pandang derajat dan kedudukan. Ia sambangi semuanya. Tak terkecuali Abdullah bin Jad’an, hamba Allah yang shalih dan zuhud itu.

Suatu ketika ia bersama kedua anaknya berjalan mencari air bersih untuk keperluan keluarganya. Hingga mereka bertiga sampai pada sebuah sumur yang sangat dalam. Abdullah yakin bahwa sumur tersebut masih berfungsi. Ia meyakinkan kedua anaknya, masih ada air dalam sumur itu. Bahkan ia pun yang akhirnya turun untuk mengambil air itu.

Abdullah merasakan bahwa sumur itu sangat dalam. Ia merasakan kegelapan yang sangat. Sesampai di dasar sumur, ia pun meraba-raba seraya menemukan tanah basah yang berair. Meski tak banyak. Namun, apa daya, suasana demikian gelapnya sehingga ia pun tak tahu apa yang ada di sekelilingnya. Sedang jarak ke atas pun sangat jauh. Suaranya tak cukup keras untuk di dengar oleh kedua anaknya. Ia tak mampu lagi meneruskan usahanya untuk mencari jalan kembali ke atas. Kegelapan itu benar-benar sangat pekat. Ia rebahkan badannya di dinding-dinding sumur.

Kedua anaknya yang sudah lama menunggu pun tak sabar. Matahari pun semakin mengecil hendak berpamitan. Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk meninggalkan ayah mereka. Mereka berpikir sang ayah telah meninggal karena tak sanggup kembali ke atas. Mereka segera bergegas kembali ke rumah dan bermaksud menghitung kekayaan ayah mereka; hendak di bagi dua. Namun, mereka mengingat ada seekor unta yang pernah diberikan ayah mereka pada tetangganya. Harta mahal ini–menurut mereka–mesti diambil kembali.

Mereka berdua segera mendatangi tetangga tersebut dan meminta kembali unta pemberian sang ayah. Sang tetangga pun tak terima dengan perlakuan yang tak berbudi tersebut. Bahkan keduanya mengancamnya jika tak mau memberikan unta tersebut.

“Akan kuadukan tingkah laku kalian ini kepada ayah kalian!” sang tetangga mengeluh.

Kedua anak Abdullah tertawa.

“Adukan saja! Bapak sudah meninggal!”

Kontan saja sang tetangga kaget.

“Apa yang kalian katakan?” ia bertanya sekali lagi

“Ya, Bapak sudah meninggal empat hari yang lalu?” keduanya menjawab.

“Tunjukkan padaku dimana ia meninggal dan di mana pemakamannya?”

Keduanya pun segera menunjukkan tempat ayah mereka terjebak. Dalam sebuah sumur yang cukup dalam.

Sang tetangga segera menuruni sumur tersebut. Sesampainya di bawah, ia pun meraba-raba, mencari jasad Abdullah. Ia segera menemukannya. Ia dekatkan lagi telinganya ke jasad tersebut. Ia masih mendengar tanda-tanda kehidupan. Segera… ia pun membawa Abdullah ke atas.

Usbû’ walam tamut… (Seminggu dan kamu belum mati)” tetangga tersebut keheranan.

Abdullah dibawa dan dirawat oleh tetangganya dengan baik. Beberapa saat setelah tubuhnya menghangat dan bangun dari ketidaksadarannya, sang tetangga segera ingin tahu kisah sesungguhnya.

Abdullah bertutur…

“Ketika aku sampai bawah aku menemukan air. Setelah aku meminumnya, aku baru sadar bawa aku harus kembali ke atas dan membawa air itu. Namun, aku tak kuasa melakukannya. Setelah berkali-kali aku mencoba akhirnya aku pasrahkan pada-Nya. Kusandarkan tubuhku di dinding-dinding sumur. Sehari dua hari kucukupkan dengan beberapa teguk air. Hari berikutnya tubuhku sangat lemah.

Tapi ada hal aneh yang ku alami. Aku memohon kepada Allah agar tubuhku kuat menahan semuanya. Ketika aku dahaga kurasakan ada segelas susu yang disodorkan ke mulutku. Aku meminumnya. Dan ketika aku kembali haus, tetesan susu itu sudah ada ditepi bibirku.

Kecuali sehari ini. Tetesan susu itu tak lagi kurasakan. Tetesan susu itu terhenti.”

Sang tetangga pun mengangguk. Tak dirasakannya tetesan air matanya membahasahi pipinya. Ya, ia tahu mengapa tetesan susu itu terhenti. Kedua anak Abdullah lah yang merampasnya.

…Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya…”. (QS. 65:2-3)

*****

Itulah pengalaman Abdullah bin Jad’an seorang hamba-Nya yang bertaqwa. Sarat dengan keikhlasan dan tawadhu’. Sang syeikh kembali melontarkan pertanyaan yang dilontarkannya beberapa saat yang lalu. Kali ini audiens mengangguk-anggukkan kepala. Sungguh ketakwaan itu sangat manis akibatnya. Lantas mengapa kita enggan meraihnya.

Bukankah Allah memberi peluang dengan membuka madrasah pembekalan menuju ketakwaan. Hanya dibuka selama sebulan, tak lebih.

Ada sebuah analog sederhana. Seorang anak yang selalu saja kurang berhasil ditegur oleh orang tuanya.

Sang anak pun berapologi, ”Jika Ayah menginginkanku berhasil, Ayah mesti mendatangkan seorang guru privat yang mengajariku!”

Sang ayah pun mengabulkan permintaan anaknya. Setahun kemudian hasil yang dicapai sang anak tak menunjukkan adanya peningkatan yang berarti.

Dapatkah kita membayangkan apa yang dirasakan oleh sang ayah. Karena sang anak memang pemalas. Ia tak bisa lagi berapologi untuk kedua kalinya.

Walillâhi matsalul a’lâ. Bagaimana ketika kita menginginkan sebuah predikat ketakwaan. Kemudian kita meminta sarana pembinaannya. Allah mengabulkan dengan membuka madrasah-Nya. Apakah kita tak malu ketika usai madrasah ini kita belum menjadi seorang yang bertakwa? Sungguh, betapa lemahnya diri kita berhadapan dengan hawa dan nafsu.

Khalîfah Umâwiyah Sulaiman bin Malik pernah bertandang ke Madinah hanya untuk mencari tahu jawaban dari dua pertanyaannya. Tak dijumpainya sahabat Nabi Saw. satu pun. Yang ada hanya seorang tabi’iy yang sudah lanjut. Satu dari dua pertanyaan tersebut: Mengapa kita sangat betah untuk tinggal di dunia ini?

Sang tabi’iy menjawab, ”Karena kita lebih mencintai rumah yang kita bangun di dunia yang hanya dihuni sementara dari pada rumah kita di akhirat yang kita huni selama-lamanya.”

Jutaan bahkan dengan milyaran, kita bermegah-megahan mengumpulkan harta dan membangun istana. Menghiasnya. Memenuhinya dengan perabot mewah. Supaya terlihat indah dan nyaman. Bagaimana kita tak betah dan mencintainya. Kita tak sadar rumah seperti ini maksimal hanya kita huni selama kurang lebih 60,70,80 tahun.

Kita lupa bahwa kita harus mempersiapkan rumah kita di akhirat dengan tabungan amal shalih. Maka dengan perbandingan seperti ini saja ketika seserang yang cinta dunia ditawari: Maukah Anda menghadap Allah sekarang? Ia pun akan segera mengelak, ”Aduh, saya belum siap!”

Madrasah pembekalan ini belum tutup masih ada waktu untuk memperbaiki diri.

Kembali saya ingin melontarkan pertanyaan,”Maukah kita menjadi orang bertakwa?

SAIFUL BAHRI

One thought on “KETIKA TETESAN ITU TERHENTI

  1. Isman mengatakan:

    Mohon dikirim ke email saya jika ada taushiyah/renungan yang baru lagi, trimakasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s