Khutbah Idul Fitri 1430 H

Kemenangan Para Pemaaf

Dr. H. Saiful Bahri, MA.

 السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الله أكبر (9  مرات) . الله أكبر كبيراً والحمد لله كثيراً. وسبحان الله بكرةً وأصيلاً. لا إله إلاّ الله والله أكبر، الله أكبر ولله الحمد. حمداً لله الذي أمدّنا بأنواع النعم وفضلنا على سائر خلقه بتعليم العلم والبيان، والحمد لله الذي حبّب إلينا الإيمان وزينه في قلوبنا وكره إلينا الفسوق والعصيان واجعلنا اللهمّ من الراشدين. أشهد أن لا إله إلاّ الله وحده، صَدَقَ وعْدَه ونصَر عبْدَه وأعزّ جُنْدَه وهزَم اْلأحْزَابَ وحدَه، وأشهد أنّ محمدا عبده ورسوله لا نبي بعد، فصلوات الله وسلامُه على هذا النبي الكريم وعلى آله وأصحابه أجمعين. أمّا بعد، فيا عباد الله أوصي نفسي وإياكم بتقوى الله، إنه من يتق ويصبر فإن الله لا يضيع أجر المحسنين. يقول المولى عز وجل: « إِن تُبْدُواْ خَيْرًا أَوْ تُخْفُوهُ أَوْ تَعْفُواْ عَن سُوْءٍ فَإِنَّ اللّهَ كَانَ عَفُوًّا قَدِيرًا» (النساء: 149). طِبْتُمْ وطابَ ممْشَاكُمْ وتَبَوّأتمْ مِن الجنّة منزلاً .

 Allahu Akbar x 3, walillahil hamd

Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah.

Pada pagi hari ini, sebagian besar umat islam merayakan kemenangan. Mereka memang layak untuk berbahagia. Dan Rasulullah saw pun memerintahkan semua orang untuk berkumpul merayakan kemenangan ini. Orang-orang tua, muda, remaja, anak-anak, laki-laki maupun perempuan, bahkan mereka yang berhalangan syar’i pun dianjurkan untuk datang. Karena pada hari inilah kita meraih kemenangan sesungguhnya. Kala cinta mengalahkan iri dan dengki. Ketika dendam dan permusuhan terkikis oleh kasih sayang. Saat kesabaran dan kejujuran menyingkirkan ego dan dusta. Saatnya kita meraih kemenangan cinta dari Sang Pemilik cinta.  Inilah realisasi doa yang sering dibaca oleh Nabi Daud as

اللهم إني أسألك حبك وحب من يحبك وحب عمل يقربني إلى حبك

Ya Allah karuniailah hamba cinta-Mu dan cinta orang-orang yang mencintai-Mu serta segala sesuatu yang mendekatkanku pada cinta-Mu” HR Tirmidzi dari Abu Darda’ ra.

Selama Ramadhan kita benar-benar menyelami dan merasakan apa sesungguhnya arti cinta dan kasih sayang. Apa makna Rahmah yang sebenarnya. Rahmah Allah diturunkan setiap harinya di sepertiga malam terakhir, saat para pelantun istighfar memohon ampunan-Nya. Rahmah, sebagai tanda pembuka bulan Ramadhan yaitu sepertiga pertamanya. Kasih sayang ini pula yang menjadi tujuan pernikahan antara pasangan laki-laki dan perempuan, selain menjadi tanda-tanda kebesaran-Nya. Dan Rahmah inilah yang kita ucapkan sebagai salam pembuka ketika bersua dengan sesama saudara. Dalam al-Qur’an pun surat Ar-Rahman menjadi satu-satunya surat yang diambil dari nama Allah (asmaul husna) yang maha penyayang.

Jika kita ingin tahu bagaimana Allah menyayangi kita dengarkan penuturan Rasulullah saw dalam hadits qudsi berikut:

 عن أبي هُرَيْرَةَ قال قال رسول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِنَّ اللَّهَ قال من عَادَى لي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وما تَقَرَّبَ إليّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إلي مِمَّا افْتَرَضْتُ عليه وما يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إليّ بِالنَّوَافِلِ حتى أُحِبَّهُ فإذا أَحْبَبْتُهُ كنت سَمْعَهُ الذي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الذي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ التي يَبْطِشُ بها وَرِجْلَهُ التي يَمْشِي بها وَإِنْ سَأَلَنِي لأعْطِيَنَّهُ وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لأعِيذَنَّهُ وما تَرَدَّدْتُ عن شَيْءٍ أنا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِي في قبض نفس عبدي الْمُؤْمِنِ يَكْرَهُ الْمَوْتَ وأنا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ ولا بد له منه (أخرجه البخاري في كتاب الرقاق باب التواضع)

Allah berfirman: Siapa yang memusuhi waliku maka aku kumandangkan perang terhadapnya. Tidaklah seorang hamba mendekatiku dengan sesuatu yang aku cintai dari perbuatan yang aku wajibkan padanya dan ia masih terus mendekatiku dengan perbuatan-perbuatan sunnah hingga aku mencintainya. Ketika aku mencintainya, aku menjadi telinganya dengannya ia mendengar; aku jadi matanya dengannya ia melihat; aku jadi tangannya dengannya ia memegang dgn keras; aku jadi kakinya dengannya ia berjalan. Tidaklah Aku ragu-ragu melakukan sesuatu seperti keraguanku ketika hendak merenggut jiwa hambaku yang beriman, dia membenci kematian sedang aku tak suka menyakitinya padahal itu sebuah keharusan” (HR. Bukhori)

Sebuah pertanyaan sederhana: Sudahkah benar-benar kita menjadi seorang yang penyayang? Menyayangi fuqara, anak yatim, janda-janda miskin dan orang-orang lemah serta tertindas juga mereka yang tertimpa mushibah. Sudahkah bibir kita terbiasa menyampaikan pesan kasih sayang melalui senyum dan perkataan yang baik. Sudahkan tangan kita ringan mengulurkan bantuan dan shadaqah sebelum lidah mereka mengirimkan pesan pertolongan.

Benarkah setelah sebulan kita dilatih untuk sabar dalam menahan diri. Rasa kasih sayang dan pemaaf kita bisa kemudian mengkristal dalam diri kita. Mari kita belajar menjadi pemaaf yang baik dari Yusuf Ash-shiddiq as. Saat saudara-saudaranya yang dulu membuangnya ke dalam sumur setelah sebelumnya sempat berniat untuk membunuhnya, kini berada di hadapannya. Ketika beliau sedang berada dalam kemuliaan yang diberikan Allah. Di hadapan Bapak dan Bibinya serta saudara-saudaranya ia pun menyenandungkan syukur.

« وَقَالَ يَا أَبَتِ هَـذَا تَأْوِيلُ رُؤْيَايَ مِن قَبْلُ قَدْ جَعَلَهَا رَبِّي حَقًّا وَقَدْ أَحْسَنَ بَي إِذْ أَخْرَجَنِي مِنَ السِّجْنِ وَجَاء بِكُم مِّنَ الْبَدْوِ مِن بَعْدِ أَن نَّزغَ الشَّيْطَانُ بَيْنِي وَبَيْنَ إِخْوَتِي » (يوسف: 100)

Wahai ayahku, inilah ta’bir mimpiku yang dulu. Sesungguhnya Tuhan telah menjadikannya kenyataan. Dan sesunggunya Tuhan telah berbuat baik padaku, ketika Dia membebaskanku dari penjara dan ketika membawa kalian dari gurun pasir setelah setan merusak hubungan antara aku dan saudara-saudaraku

Sungguh lembut hati dan perasaannya. Beliau tak mengatakan “idz akhrajani minal jubb” (ketika mengeluarkanku dari sumur) tapi yang beliau sebutkan adalah idz akhrajani minassijn (ketika membebaskanku dari penjara). Padahal kesalahan saudaranya sangatlah besar, tapi beliau tak sedikitpun menyimpan dendam, bahkan untuk sekedar menyebut perbuatan jahat itu sekali-kali beliau sangat menghindarinya.

Mampukah kita menjadi seorang pemaaf yang ikhlas & sanggup menjadikan masa lalu seperti debu yang dihembus angin maaf dan komitmen persaudaraan.

إِن تُبْدُواْ خَيْرًا أَوْ تُخْفُوهُ أَوْ تَعْفُواْ عَن سُوْءٍ فَإِنَّ اللّهَ كَانَ عَفُوًّا قَدِيرًا (النساء : 149)

Di akhir ayat ini disebut ”Afuwwan Qadiran”. Ini sangat menarik sekali (kata maaf disandingkan dengan kekuasaan). Imam al-Alusy menyimpulkan pendapat al-Kalby. Allah yang maha pemaaf dan kuasa memaafkan kesalahan kita padahal Dia sanggup berbuat apa saja terhadap orang yang menzhalimi kita demikian terhadap kita.

 Allahu Akbar x 3, walillahil hamd

Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah

Di hari kemenangan cinta ini selayaknya kita senandungkan tahmid, tasbih dan takbir kepada Dzat yang serba maha, dari lubuk hati kita yang terdalam dan diikuti oleh amal perbuatan. (i’malu ala dzawuda syukro) Surat Saba’: 13.

Selesainya bulan Ramadhan bukan berarti misi meraih ketakwaan telah berakhir. Karena justru mempertahankan kualitas ketakwaan ini sangatlah berat. Apalagi jika kita mampu meningkatkannya, tentu merupakan prestasi yang luar biasa. Di bulan Ramadhan sesuatu yang bernilai lebih menjadi patokan dan nilai standar. Lihatlah: puasa, tilawah al-Qur’an, qiyam, menahan diri, mengendalikan nafsu. Ini menjadi standar. Untuk meraih nilai lebih masing-masing kita meningkatkannya dengan kualitasnya. Karena dari segi kuantitas mungkin bedanya tipis. Semua kita diwajibkan berpuasa sebulan penuh. Tapi tak semua kita mampu meraih kualitas yang sama. Demikian pula qiyam (baik tarawih ataupun shalat tahajud). Coba lihatlah masjid dari sejak shubuh sampai shubuh lagi. Jumlah pengunjungnya berlipat dari hari biasa. Demikian juga al-Qur’an, masing-masing berusaha minimalnya mengkhatamkan sekali, ada yang dua, tiga dan seterusnya. Bahkan ada yang baru mulai menghafal atau menambah hafalan. Ada yang menjadikannya momentum untuk belajar membaca al-Qur’an. Di antara 29/30 malam di bulan ini Allah melebihkan nilai satu malam dari nilai 1000 bulan (83 tahu, 4 bulan/30.000 malam). Yaitu malam yang bersentuhan dengan kemuliaan dan keberkahan al-Qur’an.

Tentu orang-orang beriman berlomba-lomba untuk menjadi seorang personal yang prestatif. Lebih baik nilainya dari 1000 komunitas atau melebihi kualitas 30.000 orang yang tak pernah bersentuhan dengan al-Qur’an.

Alangkah indahnya jika nilai standar masyarakat seperti ini. Jujur, sabar, pandai menahan diri dan mengendalikan nafsu, disiplin, dermawan. Maka menjadi orang-orang pilihan dalam masyarakat seperti ini sangatlah luar biasa. Inilah puncak peradaban umat yang digambarkan al-Qur’an, tokoh-tokohnya adalah Ibadurrahman (Hamba-hamba Sang Maha Penyayang) yang sangat mendambakan kondisi ideal tersebut, melalui doa dan pengharapan mereka:

«وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا»

Dan orang-orang yang berkata: wahai Tuhan kami anugerahkanlah kepada kami istri-istri dan keturunan kami sebagai penenang hati dan jadikan kami pemimpin orang-orang bertakwa” (al-Furqon:74). Menjadi pemimpin orang-orang bertaqwa adalah impian setiap kita.

Allahu Akbar x 3, walillahil hamd

Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah 

Karena itu pengorbanan kita di bulan Ramadhan jangan pernah kita sia-siakan. Mata kita, kita biarkan menahan kantuk untuk melakukan shalat malam. Perut kita, tenggorokan, mulut, bahkan nafsu dan syahwat kita. Semua kita tahan dengan baik. Apakah setelah ini kita mencoba untuk melepaskannya kembali?

Tidak sayangkah kita dengan anyaman kesabaran yang kita selama sebulan.  Menahan lapar dan dahaga di musim panas yang cukup melelahkan. Bukankah ini sebuah pengorbanan. Siapa yang tahu kalau kita pura-pura berpuasa padahal bisa saja kita minum di tempat tersembunyi untuk menghilangkan dahaga dan haus kita? Tak salah jika bulan ini disebut dengan bulan Ramadhan. Ibnu Mandhur dalam magnum opusnya ”Lisanul Arab” mengatakan bahwa bulan ini dinamakan Ramadhan sebab tenggorokan orang yang berpuasa terasa kering dan panas karena menahan haus dan dahaga. Akar katanya berasal dari ”ramadha” yang berarti sangat panas. Saat ini kita berpuasa di bulan Ramadhan yang sesungguhnya, meski di penghujung musim panas.

Selama itu pula, di bulan ini kita menganyam kejujuran, kedisiplinan, kepekaan dan solidaritas sosial. Lantas alasan apakah yang membuat kita hendak mengurai anyaman yang mulai menguat? Orang yang melakukan hal ini seperti halnya seorang perempuan bodoh yang mengurai anyamannya.

وَلاَ تَكُونُواْ كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِن بَعْدِ قُوَّةٍ أنكاثا …

Janganlah kalian seperti seorang perempuan yang menguraikan benang yang sudah dipintalnya dengan kuat, menjadi cerai berai kembali…” (Surat Annahl: 92)

Lihatlah, para sahabat Nabi saw selama enam bulan pasca Ramadhan selalu berdoa supaya amal yang mereka kerjakan di bulan Ramadhan diterima oleh Allah karena mereka mengetahui kualitas pahala dari Allah serta keberkahan bulan mulia ini. Enam bulan setelahnya mereka pun berdoa dan berharap supaya dipertemukan kembali dengan bulan Ramadhan berikutnya.

Mengapa persiapan tersebut perlu sejauh itu? Pernahkah kita berpikir atau setidaknya terlintas dalam benak kita. Vanus-nanus (lampu-lampu khas Ramadhan) kapan dibuat? Sebagian buatan China? Kapan mereka mengirimnya ke Mesir. Belum lagi sinetron dan film-film yang diputar sepanjang bulan Ramadhan. Kapan dibuat dan kapan disiapkan?

Jika para pedagang, bisnisman dan insan perfilman mempersiapkan dari jauh-jauh hari sebelum Ramadhan, laikkah kita sebagai pelajar/mahasiswa yang mendalami ilmu agama atau pegawai atau pedagang atau siapa saja yang berada di negeri muslim ini bahkan mungkin terlambat menyadari kedatangan bulan suci Ramadhan.

 Allahu Akbar x 3, walillahil hamd

Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah

Bulan Ramadhan adalah benar-benar bulan kemenangan. Perang eksistensi, Perang Badar Kubra terjadi di bulan ini. Demikian juga Bangsa kita memproklamirkan kemerdekaan di bulan Ramadhan. Hal ini menunjukkan bahwa bulan Ramadhan bukanlah waktu untuk bermalas-malasan. Kita juga harus menyadari dahsyatnya konspirasi terhadap Islam. Isu terorisme yang dihembuskan bisa jadi akan berimbas marginalisasi kembali umat Islam yang pelahan mulai bangkit. Stigma negatif ini diharapkan mampu menggertak umat Islam supaya mempersempit makna keberagamaan mereka. Bahwa beragama yang baik berada di dalam masjid saja. Di luar itu agama tak perlu dibawa-bawa. Syubhat dan serangan pemikiran seperti ini akan mengebiri potensi kekayaan alam negeri kita yang sangat luar biasa. Tapi karena para pengelolanya kurang professional dan tidak jujur maka bangsa kita beberapa kali mengalami kebangkrutan. Demikian juga orang-orang pandai dan pintar di negeri kita tidaklah sedikit. Tapi sebagian diantara mereka terserang penyakit pragmatisme yang hanya mau tau diri sendiri dan memikirkan kepentingan pribadi. Dengan tambahan serangan stigma terorisme maka lengkaplah marginalisasi tersebut.

Namun kita tak perlu reaksioner menanggapi hal ini. Yang kita lakukan adalah dengan terus mendalami sekaligus menampilkan Islam sebagai rahmatan lil’alamin. Karena Islam –demikian jug agama yang lain- sangat memerangi kekerasan dan penindasan. Kisah Musa dan Fir’aun yang paling sering diulang dalam al-Qur’an menjadi bukti bahwa Islam sangat anti dengan kezhaliman dan rezim kesewenang-wenangan.

 Allahu Akbar x 3, walillahil hamd

Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah

Di bulan ini kita belajar berbagi. Antara si kaya dan si miskin. Di bulan ini kita dilatih untuk bersatu. Semuanya disuruh untuk membatalkan puasa begitu matahari tenggelam. Dan semuanya diharamkan untuk makan dan minum begitu adzan shubuh dikumandangkan. Maka saatnya kita cari titik-titik yang bisa menyatukan kita dan kita toleran dalam hal-hal yang mengharuskan kita berbeda. Di bulan ini kita kita dididik untuk mi’raj ke langit setelah selama sebelas bulan badan kita lebih menyukai berbaring di atas bumi. Di bulan ini kita perbanyak menengadah dengan penuh kekhusukan. Kepala kita, simbol kemuliaan; dibulan ini kita perbanyak untuk didekatkan ke bumi, bersujud pada Sang Maha Perkasa. Tak lain hanyalah untuk mengingatkan bahwa kelak di hari kiamat tak ada yang bisa kita andalkan selain tabungan amal kita.

Coba kita ambil pelajaran dari kisah Nabi Yusuf ketika menakwil mimpi Raja Mesir, datang 7 tahun kemakmuran yang diikuti 7 tahun paceklik yang akan menimpa negeri Mesir dan sekitarnya. Apa yang diandalkan orang-orang Mesir pada musim paceklik? Tentunya sikap dan pola hidup di 7 tahun yang penuh kemakmuran sangat membantu di masa-masa sulit yang akan datang berikutnya.

Seandainya Allah memberi kita kesempatan untuk hidup 60-70 tahun sanggupkah kita menyiapkan diri untuk menempuh keabadian nasib kita yang tidak kita ketahui di hari pembalasan kelak. Orang yang cerdas akan pandai merencanakan dengan baik dan tidak mudah tergoda oleh hal-hal yang menjauhkannya dari tujuannya yang sesungguhnya.

Untuk memahami singkatnya hidup kita bisa kita lihat dari apa yang kita alami atau kita lihat fenomena di sekeliling kita. Saat sang bayi dilahirkan orang tuanya mengumandangkan adzan dan iqomah di telinga kanan dan kirinya. Saat kemudian ia mati ia dishalatkan orang-orang tanpa didahaului dengan adzan dan iqamah. Jadi ia mengarungi hidup, bagaikan orang yang akan shalat setelah iqamah dan menunggu imam bertakbiratul ikhram. Sungguh sangat singkat.

Dan nanti di hari kiamat tak lagi didengar alas an dan udzur ataupun rasionalisasi kesalahan dan dosa orang-orang zhalim. Karena pintu taubat dan amal telah benar-benar tertutup. Dan saatnya pembalasan akan segera dimulai setelah pengadilan benar-benar ditegakkan dengan transparan.

Maka hari-hari kita di dunia mestilah istimewa dan selalu lebih baik dari hari sebelumnya. Imam Hasan bin Ali mengatakan : من كان يومه كأمسه فهو مغبون

Barangsiapa yang (kualitas) harinya sama dengan kemarin maka ia tertipu

Senada dengan apa yang dikatakan oleh Anthony Robbins “I challenge you to make your life a masterpiece. I challenge you to join the ranks of those people who live what they teach, who walk their talk.” Saat benar-benar kita realisasikan kita akan menjadi manusia yang bermanfaat buat sesama seperti sabdanya ”Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya

Allahu Akbar x 3, walillahil hamd

Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah

Hari ini Bulan Syawal menyambangi kita, artinya bulan Ramadhan telah pergi. Ada banyak materi short course yang kita dapatkan selama sebulan. Jujur, disiplin, sabar, toleran, bersyukur, bersedekah, tekun dan lain sebagainya. Dan satu hal yang menjadi tema pokok kita pagi ini, yaitu belajar memaafkan.

Sebelum khatib akhiri khutbah, sejenak kita simak kisah dua orang sahabat yang sedang bermain dan bercengkrama di tepian sebuah danau. Dalam suatu kesempatan terjadi perselisihan yang berakibat salah seorang diantara mereka menampar sahabatnya. Sang sahabat terkejut, ia kemudian berlari ke arah danau. Kemudian ia menuliskan sesuatu di atas pasir ”hari ini sahabatku menamparku”. Kemudian keduanya asyik dengan diri sendiri. Orang yang menampar segera menjauh, ia mengambil kail dan melemparkan ujung senar ke dalam danau. Pikirannya berkelana ke mana-mana, mungkin ia menyesali perbuatannya. Sementara sahabatnya lebih memilih mendinginkan badan dengan berendam dan berenang di danau. Mendadak kakinya kram, sementara ia semakin ke tengah. Ia hamper tenggelam. Segera ia berteriak minta tolong dengan keras. Tanpa pikir panjang sang sahabat melempar kailnya dan segera meluncur menyelamatkan sahabatnya. Setelah siuman, sang sahabat segera mencari batu yang cukup besar, kemudian ia menuliskan sesuatu di atasnya ”hari ini sahabatku telah menyelamatkanku”. Sambil keheranan ia bertanya pada sahabatnya. Kenapa tadi engkau menulis di atas pasir dan sekarang menulis di atas batu. Sambil tersenyum sahabatnya membalas, ”Tadi, bukan hanya fisikku yang sakit, hatiku juga sangat sedih. Tapi aku ingin segera melupakan mengusir perasaan ini dan melupakannya maka aku tulis di atas pasir. Kuharap bersamaan ombak yang menghapusnya kesedihanku pun sirna. Sementara saat engkau menyelamatku saat aku akan karam aku sangat bahagia dan berterimakasih. Aku ingin mengingatnya sepanjang masa, aku menulisnya di atas batu agar tak hilang”.

Inilah pelajaran berharga yang bisa kita ambil. Sudahkah kita mampu memaafkan dengan baik. InnalLâh kâna afuwwan qadîran.

Karena kemenangan yang hakiki yaitu tatkala kita bisa mengalahkan nafsu dan ego kita. Kemenangan hakiki terjadi ketika kezhaliman tak mendapat ruang di negeri kita. Ketika negeri kita benar-benar terbebas dari segala bentuk penjajahan. Kita songsong kemenangan dengan terus memperbaiki diri dan berkorban.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اللهمّ صلّ على سيّدنا محمّد وعلى آله وصحبه وسَلِّمْ . اللهمّ إنّا نسألُك بأسمائِك الحسنى وصفاتِك العلى ، نسألُك بكلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سمّيْتَ به نفسَك، أو أنزَلته في كتابك، أو علّمته أحداً مِنْ خلقِك، أو اسْتأثرْتَ بِه في علم اْلغيب عندَك أن تجعل القرآن العظيم ربيع قلوبنا وجلاء همومنا. أللهمّ انصر المسلمين وفرّجْ كربَهم واقضِ حاجاتِهم. اللهمّ اغفر لنا ذنوبنا ولوالدَيْنا ولجميع المسلمين والمسلمات. اللهمّ إنّا نسألك فعلَ الخيرات وتركَ المنكرات وحبَّ المساكين. اللهمّ إنك عفو تحب العفو فاعف عنا. اللهمّ آت نفوسنا تقواها وزكها أنت خير من زكاها أنت وليها ومولاها. اللهمّ يا سامع الصوت وياسابق الفوت ويا كاسيَ العظام لحماً بعد الموت، ارحمنا برحمتك إذا صِرنا إلى ما صار الأموات إليه تحت الجَنَادر والتراب وحدنا. اللهّم تقبل منا الصيام والقيام وقراءة القرآن. اللهمّ اعتق رقابنا من النار يا عزيز يا غفار.

Ya Allah, sejukkan dan lembutkan hati kami. Gantikan kesedihan saudara-saudara kami yang tertimpa musibah gempa, banjir, perang serta bencana lainnya. Gantilah  dengan ketenangan. Jadikan pagi ini sebagai kebahagiaan mereka. Sirnakan rasa takut di hati mereka. Dinginkan panasnya kalbu dengan salju keyakinan dan keimanan pada-Mu.

Wahai yang maha agung yang maha mendengar engkau. Engkau yang maha tahu yang apa yang kami perbuat. Ampuni jika selama ini kami tidak mengenal-Mu ya Allah. Ampuni jika kelebihan yang Engkau titipkan membuat kami takabbur. Ampuni jika yang Engkau karuniakan membuat kami riya dan sombong. Bukakan hati kami ya Allah agar kami lebih dapat mengenal-Mu.

Karuniakan kami taubat dan kesungguhan memperbaiki diri. Jadikan kami hamba yang bermanfaat bagi sebanyak-banyaknya makhluk-Mu. Pilihlah kami jadi jalan kecukupan bagi hamba-Mu yang fakir. Tunjuklah kami jadi cahaya bagi hamba-Mu yang kegelapan. Pilihlah kami menjadi jalan kebahagiaan bagi hamba-hamba-Mu yang nestapa. Tunjuklah kami menjadi jalan perlindungan-Mu bagi hamba yang teraniaya. Kami berharap hidup yang sekali-kalinya ini dapat mempersembahkan yang terbaik, semata-mata karena Engkau, bukan karena ingin pujian atau kedudukan di sisi makhluk-Mu. Jangan biarkan kami menipu diri sendiri dengan menshalih-shalihkan diri di hadapan makhluk-Mu. Jangan kau murkai kami karena kelalaian menunaikan hak-hak-Mu

Ya Allah, sirnakan dari kami rasa sedih dan duka, usirlah kegundahan dari jiwa kami.Ya Allah, lindungilah kami dari konspirasi, makar dan tipu daya musuh-musuh-Mu. Tukjukkanlah kekuasaan-Mu dihadapan mereka. Hindarkan-lah kami dari perselisihan, dengki, iri, dan saling menjatuhkan di antara kami. Satukan hati kami, tautkan kalbu kami.

Kami berlindung kepadamu dari setiap rasa takut yang mendera, hanya kepada-Mu kami bersandar dan bertawakkal.

Tuhan yg mendengar jangan Kau biarkan kami terfitnah. Engkau yang meng-genggam diri kami. Selamatkan negeri kami. Pilihlah para pemimpin negeri kami yang menjadi tauladan bagi kami. Para pemimpin yang penuh kasih sayang, tulus dan bening hatinya. Engkau Maha Tahu. Berkahilah pertemuan ini catatlah mereka yang hadir menjadi hamba yang sangat Kau sayangi. Maafkan dosa-dosa kami. Ampunkan kebodohan kami yang tak jemu mendurhakai-Mu. Yang tak jera berbuat dosa.

ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار. والحمد لله رب العالمين

تقبل الله منا ومنكم وكل عام وأنتم بخير وإلى الله أقرب وعلى طاعته أدوم

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

 Cairo, 1 Syawal 1430 H

          20 September 2005 M

KBRI Cairo – Masjid Assalam, Distrik 10, Nasr City-Cairo

SENTUHAN BERKAH

SENTUHAN BERKAH

Sungguh seorang yang menghamba pada Yang Maha Mulia akan ikut mulia. Karena Yang Mulia memberikan kemuliaan-Nya dengan berkah kasih sayang dan cinta serta ampunan-Nya terhadap kesalahan dan kekhilafan.

Di awal bulan istimewa-Nya Allah menurunkan kasih sayang untuk para pemburu cinta-Nya. Saat sepuluh hari pertama lewat dan seandainya Dia mengumumkan daftar nama orang-orang yang dirahmati-Nya, apakah nama kita termasuk di dalamnya? Kita pun segera memasuki peluang hari berikutnya untuk memburu ampunannya, mencari maghfirah-Nya.

Sepuluh hari kedua pun telah lewat. Seandainya Allah mengumumkan list nama-nama yang diampuni oleh-Nya, apakah nama kita ada di sana? Tak ada yang berani menjawabnya.

Saat ini, kita memasuki etape terakhir pembekalan ini. Rute tersulit yang di dalamnya–kadang–orang telah kehilangan konsentrasi. Sebagian justru jauh berpikir duniawi ke depan, bagaimana mempersiapkan keadaan setelah puasa. Padahal Ramadhan belum benar-benar meninggalkan kita.

Ini merupakan babak final yang menjadi akibat dari dua level sebelumnya. Rahmah dan kasih sayang Allah membawa ampunan untuk para hamba-Nya. Seandainya ia merasa belum maksimal merasakannya, ia akan memburu ampunan tersebut. Dan ampunan tersebutlah yang membawa pembebasan dari kemurkaan-Nya yang dahsyat. Pembebasan dari api neraka.

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur’an) pada malam kemuliaan”. (QS. 97:1)

Allah menurunkan Al Qur’an pada sebuah malam yang mulia yang “… lebih baik dari seribu bulan” . (QS. 97:3)

Mengapa Allah begitu mengistimewakan malam itu. Malam yang hanya sebagian saja dari waktunya dijadikan Allah sebagai fasilitator turunnya Kalam-kalam suci itu dari lauh mahfuzh-Nya.

Malam yang hanya bersentuhan sesaat saja dengan Al Qur’an, nilainya digandakan Allah lebih baik dari 30.000 malam yang tidak bersentuhan dengan lailatul qadr tersebut.

Betapa beruntungnya malam itu. Lebih beruntung lagi, bagi mereka yang menggunakan kesempatan ini. Bagi para pemburu kebaikan seribu bulan, pasti dijadikan sebuah peluang emas untuk menutupi keterbatasan dua etape sebelumnya di 20 hari yang telah lewat.

Lantas bagaimana dengan seorang mukmin yang tenggorokannya dilewati oleh huruf-huruf Al Qur’an. Tentu tenggorokan tersebut lebih baik dari tenggorokan-tenggorokan lainnya. Satu hurufnya saja diberi insentif ukhrâwi berupa sepuluh kebaikan. Ada berapa huruf di dalamnya. Telinga yang mendengarkannya, lebih baik dari telinga yang menjauh darinya. Mata yang membacanya, lebih baik dari mata yang menghindarinya. Dan mata ini menjadi akumulasi ketiganya… ia meneteskan air mata karena mendengarkan, melihat dan membacanya. Air mata kesyahduan. Ada ketakutan di sana. Ada pengharapan. Ada kenikmatan. Ada seribu ada, tak terungkap dengan kata-kata. Sungguh, tetesan itu hanya dinikmati oleh mereka yang sanggup meneteskan air mata; sedang orang disekelilingnya keheranan mengapa hal itu bisa terjadi.

Itulah kenikmatan bersentuhan dengan keberkahan. Bagaimana seorang mukmin yang seluruh hidupnya selalu bersentuhan dengan Al Qur’an. Dadanya menjaga dan menghafalnya. Perilakunya mencerminkan keberkahan itu. Sungguh, orang seperti ini lebih baik dari seribu orang yang tak pernah bersentuhan dengan keberkahan itu.

Abu Musa al Asy’ari meriwayatkan sabda Rasulullah Saw. “Perumpamaan seorang mukmin yang membaca Al Qur’an seperti buah Utrujjah, baunya harum dan rasanya enak. Sedang orang mukmin yang tak suka membaca Al Qur’an bagaikan buah Tamr, tak ada baunya dan rasanya manis….” (HR. Bukhari Muslim)

Menurut berbagai riwayat malam keberkahan tersebut terjadi di sepuluh hari terakhir ini, di etape terakhir madrasah pembekalan ini. Ibunda Aisyah binti Abi Bakar Ash Shiddiq ra. meriwayatkan sabda Rasulullah, ”Carilah lailatul qadr pada hari-hari ganjil di sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan” (HR. Bukhari Muslim)

Pada sepuluh hari terakhir, Rasulullah Saw. meningkatkan ibadahnya melebihi 20 hari yang telah lewat. Ali bin Abi Thalib ra. meriwayatkan, “Rasulullah Saw. ketika telah memasuki sepuluh hari terakhir mengencangkan sarung dan membangunkan keluarganya” (HR.Ahmad)

Kegigihan Rasulullah Saw. hendak memberi contoh kepada kita betapa siapapun dia, jika tak menggunakan peluang ini akan sangat merugi dan menyesal di kemudian hari. Apakah dia telah memiliki tabungan yang banyak sehingga ia malas menggunakan peluang yang sulit terulang lagi. Karena tak ada jaminan hal ini akan didapatinya di tahun depan. Semuanya serba ghaib. Atau bagi mereka yang hari-hari sebelumnya penuh dengan kekhilafan dan dosa serta kelalaian. Saat inilah kebangkitan hakiki itu.

Pemburu seribu bahkan tiga puluh ribu keberkahan…

Syeikh Mubarakfuri mempunyai analisis yang bagus, berkenaan dengan malam keberkahan tersebut. Di hari ke berapakah Al Qur’an turun pertama kali kepada Rasulullah Saw.?

Suatu ketika Rasulullah Saw. ditanya, mengapa beliau sering berpuasa pada hari Senin. Beliau menjawab karena pada hari itu aku dilahirkan dan pada hari itu aku menerima wahyu dari Allah untuk pertama kali.

Sudah menjadi kesepakatan ulama, bahwa al Qu’ran diturunkan pada bulan Ramadhan, sebagaimana yang dinashkan Al Qur’an dan Hadits. Allah telah mengabadikan hal itu “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)…”. (QS. 2:185). Berikutnya Allah menegaskan lagi, “Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan”. (QS. 44:3)

Pada bulan Ramadhan tahun itu, hari Senin terulang sebanyak empat kali. Yaitu pada tanggal ke 7, 14, 21, dan 28. Dalam hadits-hadits nabawi dianjurkan untuk mencari lailatul qadr pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Bahkan ada yang lebih spesifik lagi, yaitu pada hari-hari ganjil. Dengan demikian, lailatul qadr terjadi pada malam ke 21. Karena 7, 14 dan 28 tidak memenuhi kriteria sebagaimana yang disebutkan dalam gabungan hadits-hadits yang ada. Lantas benarkah, malam keberkahan tersebut terjadi pada hari itu. Allahu a’lam. Sangat banyak pendapat yang mengatakannya. Ada yang menjadikan bulan Ramadhan secara umum. Ada yang mengkhususkan pada sepuluh hari terakhir. Ada yang mengkhususkan lagi pada hari-hari ganjil di sepuluh hari tersebut. Ada yang berpendapat pada hari 27. Ada ….

Mengapa Allah merahasiakan malam keberkahan itu.

Sungguh hikmah Allah Swt. demi keseriusan hamba-hamba-Nya dalam berusaha. Kesungguhan dalam mencari malam keberkahan tersebut. Seandainya hijab dibuka dan malam tersebut diketahui siapa saja, kemungkinan besar hari-hari dan malam-malam lain akan ditinggalkan mereka yang malas.

Kesungguhan beribadah pada malam keberkahan tersebut tak lain adalah pemaknaan kepasrahan yang dalam dari seorang hamba yang menyerahkan segala-Nya pada Sang Pencipta.

Penghambaan yang terefleksi dalam kesungguhan beribadah dan totalitas penjiwaan di dalamnya. Ada kekhusyukan. Ada ketakutan. Ada pengharapan.

Kepasrahan dalam menerima cinta dan kasih sayang-Nya serta berharap atas keampunan-Nya terhadap kekhilafan manusiawi yang dilakukannya.

Masihkah setelah ini ada keraguan? Atau bahkan keputusasaan?

Sungguh, saatnya lah sekarang bagi kita untuk memburu hari pembebasan kita dari kemurkaan dan kemarahan Allah. Ya, karena kita telah memiliki cinta-Nya. Yakinlah itu. Kita sedang memburu ampunan-Nya. Dan kemudian pembebasan itu benar-benar diberikan kepada kita. Saatnya sudah dekat. Jangan kita jauhkan dengan kelalaian, kesalahan bersikap, keteledoran dan berbagai kebodohan. “Wahai pemburu kebaikan gunakan kesempatan ini, wahai pemburu dosa berhentilah”.

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan”. (QS. 55:13)

SAIFUL BAHRI

KETIKA TETESAN ITU TERHENTI

KETIKA TETESAN ITU TERHENTI

“Maukah kalian menjadi orang-orang yang bertaqwa?” Tanya seorang syeikh kepada audiens yang ada di depannya.

Kontan saja mereka mengiyakan. Hanya saja–entahlah–jawaban itu tak terlihat keluar dari lubuk terdalam. Justru terasa pertanyaan yang aneh. Siapa sih yang tak mau?

Syeikh menuturkan sebuah kisah pengalaman hidup seorang tâbi’iy.

Musim semi telah tiba. Bunga-bunga mekar tersenyum menebar aroma. Sinar matahari menyambangi pelataran rumput menghijau. Banyak sapi dan unta di sana. Ternak milik Abdullah bin Jad’an, salah seorang tabi’in yang shalih, zuhud meski dengan gelimang harta yang cukup melimpah. Ia tersenyum. Kemudian memandang langit. Cerah sekali, sejernih isi hatinya yang melantunkan gema syukur kepada Allah, Sang Pemurah. Sang Pemberi Rizki telah mengaruniainya nikmat yang berbilang namun tak terhitung. Keluarganya sehat wal afiat serta ternaknya berkembang pesat. Bahkan, ia melihat banyak dari unta-unta betina melimpah cadangan susunya.

Pelahan ia mendekati unta terbaiknya. Unta betina yang gemuk dan melimpah susunya itu segera diambil dan diberikan kepada tetangganya yang fakir.

Sang tetangga pun bahagia. Ia dan keluarganya tak hanya bisa meminum susu tapi bisa langsung memerahnya dari sumber aslinya. Bahkan bukan hanya itu, ia pun bisa saja menyembelihnya dan mengambil dagingnya. Hanya saja tetangga tersebut lebih suka memelihara unta pemberian Abdullah. Sebagai bukti dan tanda kasih sayang serta solidaritasnya yang tinggi.

Hingga …

Putaran waktu pun berjalan. Alur dan cerita kehidupan berganti. Musim paceklik dan kekeringan pun datang. Sebagai tanda kekuasaan Allah yang mengganti hari-hari-Nya.

Kedatangan musim ini pun tak pandang derajat dan kedudukan. Ia sambangi semuanya. Tak terkecuali Abdullah bin Jad’an, hamba Allah yang shalih dan zuhud itu.

Suatu ketika ia bersama kedua anaknya berjalan mencari air bersih untuk keperluan keluarganya. Hingga mereka bertiga sampai pada sebuah sumur yang sangat dalam. Abdullah yakin bahwa sumur tersebut masih berfungsi. Ia meyakinkan kedua anaknya, masih ada air dalam sumur itu. Bahkan ia pun yang akhirnya turun untuk mengambil air itu.

Abdullah merasakan bahwa sumur itu sangat dalam. Ia merasakan kegelapan yang sangat. Sesampai di dasar sumur, ia pun meraba-raba seraya menemukan tanah basah yang berair. Meski tak banyak. Namun, apa daya, suasana demikian gelapnya sehingga ia pun tak tahu apa yang ada di sekelilingnya. Sedang jarak ke atas pun sangat jauh. Suaranya tak cukup keras untuk di dengar oleh kedua anaknya. Ia tak mampu lagi meneruskan usahanya untuk mencari jalan kembali ke atas. Kegelapan itu benar-benar sangat pekat. Ia rebahkan badannya di dinding-dinding sumur.

Kedua anaknya yang sudah lama menunggu pun tak sabar. Matahari pun semakin mengecil hendak berpamitan. Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk meninggalkan ayah mereka. Mereka berpikir sang ayah telah meninggal karena tak sanggup kembali ke atas. Mereka segera bergegas kembali ke rumah dan bermaksud menghitung kekayaan ayah mereka; hendak di bagi dua. Namun, mereka mengingat ada seekor unta yang pernah diberikan ayah mereka pada tetangganya. Harta mahal ini–menurut mereka–mesti diambil kembali.

Mereka berdua segera mendatangi tetangga tersebut dan meminta kembali unta pemberian sang ayah. Sang tetangga pun tak terima dengan perlakuan yang tak berbudi tersebut. Bahkan keduanya mengancamnya jika tak mau memberikan unta tersebut.

“Akan kuadukan tingkah laku kalian ini kepada ayah kalian!” sang tetangga mengeluh.

Kedua anak Abdullah tertawa.

“Adukan saja! Bapak sudah meninggal!”

Kontan saja sang tetangga kaget.

“Apa yang kalian katakan?” ia bertanya sekali lagi

“Ya, Bapak sudah meninggal empat hari yang lalu?” keduanya menjawab.

“Tunjukkan padaku dimana ia meninggal dan di mana pemakamannya?”

Keduanya pun segera menunjukkan tempat ayah mereka terjebak. Dalam sebuah sumur yang cukup dalam.

Sang tetangga segera menuruni sumur tersebut. Sesampainya di bawah, ia pun meraba-raba, mencari jasad Abdullah. Ia segera menemukannya. Ia dekatkan lagi telinganya ke jasad tersebut. Ia masih mendengar tanda-tanda kehidupan. Segera… ia pun membawa Abdullah ke atas.

Usbû’ walam tamut… (Seminggu dan kamu belum mati)” tetangga tersebut keheranan.

Abdullah dibawa dan dirawat oleh tetangganya dengan baik. Beberapa saat setelah tubuhnya menghangat dan bangun dari ketidaksadarannya, sang tetangga segera ingin tahu kisah sesungguhnya.

Abdullah bertutur…

“Ketika aku sampai bawah aku menemukan air. Setelah aku meminumnya, aku baru sadar bawa aku harus kembali ke atas dan membawa air itu. Namun, aku tak kuasa melakukannya. Setelah berkali-kali aku mencoba akhirnya aku pasrahkan pada-Nya. Kusandarkan tubuhku di dinding-dinding sumur. Sehari dua hari kucukupkan dengan beberapa teguk air. Hari berikutnya tubuhku sangat lemah.

Tapi ada hal aneh yang ku alami. Aku memohon kepada Allah agar tubuhku kuat menahan semuanya. Ketika aku dahaga kurasakan ada segelas susu yang disodorkan ke mulutku. Aku meminumnya. Dan ketika aku kembali haus, tetesan susu itu sudah ada ditepi bibirku.

Kecuali sehari ini. Tetesan susu itu tak lagi kurasakan. Tetesan susu itu terhenti.”

Sang tetangga pun mengangguk. Tak dirasakannya tetesan air matanya membahasahi pipinya. Ya, ia tahu mengapa tetesan susu itu terhenti. Kedua anak Abdullah lah yang merampasnya.

…Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya…”. (QS. 65:2-3)

*****

Itulah pengalaman Abdullah bin Jad’an seorang hamba-Nya yang bertaqwa. Sarat dengan keikhlasan dan tawadhu’. Sang syeikh kembali melontarkan pertanyaan yang dilontarkannya beberapa saat yang lalu. Kali ini audiens mengangguk-anggukkan kepala. Sungguh ketakwaan itu sangat manis akibatnya. Lantas mengapa kita enggan meraihnya.

Bukankah Allah memberi peluang dengan membuka madrasah pembekalan menuju ketakwaan. Hanya dibuka selama sebulan, tak lebih.

Ada sebuah analog sederhana. Seorang anak yang selalu saja kurang berhasil ditegur oleh orang tuanya.

Sang anak pun berapologi, ”Jika Ayah menginginkanku berhasil, Ayah mesti mendatangkan seorang guru privat yang mengajariku!”

Sang ayah pun mengabulkan permintaan anaknya. Setahun kemudian hasil yang dicapai sang anak tak menunjukkan adanya peningkatan yang berarti.

Dapatkah kita membayangkan apa yang dirasakan oleh sang ayah. Karena sang anak memang pemalas. Ia tak bisa lagi berapologi untuk kedua kalinya.

Walillâhi matsalul a’lâ. Bagaimana ketika kita menginginkan sebuah predikat ketakwaan. Kemudian kita meminta sarana pembinaannya. Allah mengabulkan dengan membuka madrasah-Nya. Apakah kita tak malu ketika usai madrasah ini kita belum menjadi seorang yang bertakwa? Sungguh, betapa lemahnya diri kita berhadapan dengan hawa dan nafsu.

Khalîfah Umâwiyah Sulaiman bin Malik pernah bertandang ke Madinah hanya untuk mencari tahu jawaban dari dua pertanyaannya. Tak dijumpainya sahabat Nabi Saw. satu pun. Yang ada hanya seorang tabi’iy yang sudah lanjut. Satu dari dua pertanyaan tersebut: Mengapa kita sangat betah untuk tinggal di dunia ini?

Sang tabi’iy menjawab, ”Karena kita lebih mencintai rumah yang kita bangun di dunia yang hanya dihuni sementara dari pada rumah kita di akhirat yang kita huni selama-lamanya.”

Jutaan bahkan dengan milyaran, kita bermegah-megahan mengumpulkan harta dan membangun istana. Menghiasnya. Memenuhinya dengan perabot mewah. Supaya terlihat indah dan nyaman. Bagaimana kita tak betah dan mencintainya. Kita tak sadar rumah seperti ini maksimal hanya kita huni selama kurang lebih 60,70,80 tahun.

Kita lupa bahwa kita harus mempersiapkan rumah kita di akhirat dengan tabungan amal shalih. Maka dengan perbandingan seperti ini saja ketika seserang yang cinta dunia ditawari: Maukah Anda menghadap Allah sekarang? Ia pun akan segera mengelak, ”Aduh, saya belum siap!”

Madrasah pembekalan ini belum tutup masih ada waktu untuk memperbaiki diri.

Kembali saya ingin melontarkan pertanyaan,”Maukah kita menjadi orang bertakwa?

SAIFUL BAHRI

PERSIMPANGAN CINTA

PERSIMPANGAN CINTA

Perputaran waktu yang terjadi–sungguh–sangat cepat. Belum lama kita menyambut kedatangan tamu Allah, Ramadhan Mubarak. Kini telah berlalu sepertiga dari waktu yang ditentukan Allah untuk kita menemaninya.

Ya, berlalu sepertiga berarti takkan lama lagi ia akan berlalu. Dan hari-hari indah itu hanya tinggal kenangan.

“Sepertiga pertamanya rahmah” demikian kata Rasulullah Saw. menjelaskan karakteristik bulan barakah ini.

Rahmah menjadi permulaan kebaikan yang kita lakukan “Dengan menyebut asma Allah yang Rahman dan yang Rahim”. Rahmah yang menjadi kata di awal persuaan dua orang mukmin,”Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh”. Rahmah yang menjadi sebab kelembutan Rasulullah Saw. dalam berdakwah. “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka…”. (QS. 3:159) Dalam Al Qur’an pun Ar Rahman menjadi satu-satunya nama surat Al Qur’an yang menggunakan salah satu dari al-`asmâ’ al-husnâ.

Betapa besar nilai sebuah rahmah. Apalagi rahmah dari Allah yang merefleksikan cinta dan kasih sayang-Nya.

Dan hari ini kita berada dipersimpangan cinta dan rahmah-Nya. Marilah kita bersama-sama muhasabah.

Sudahkah kita menjadi orang yang penyayang terhadap yang lemah. Pengasih terhadap yang fakir. Lembut terhadap orang lain. Pemaaf terhadap kekhilafan saudara kita. Mencintai orang-orang yang mencintai kita. Memberikan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, kepada orang-orang yang mencintai-Nya serta segala sesuatu yang dapat mendekatkan kita kepada cinta-Nya. Menebarkan cinta kepada orang-orang yang membenci kita. Menyambung tautan persaudaraan kepada mereka yang memutusnya karena ketidaktahuan atau karena kesalahpahaman yang dibesar-besarkan.

Sudahkah kita mencintai kaum muslimin. Mencintai sesama manusia. Menyayangi makhluk-makhluk Allah. Sekalipun seekor ikan dalam akuarium yang ada di ruang tamu kita. Sekalipun seekor kucing yang berada dalam rumah kita. Sekalipun seekor burung yang ada di depan rumah kita. Atau tanam-tanaman yang menghias halaman rumah kita.

Sudahkah benar-benar kita menghayati sepuluh hari yang penuh cinta ini? Sehingga kita menjadi orang yang benar-benar penyayang dan pengasih terhadap siapa saja. Terutama terhadap saudara kita, sesama kaum muslimin. Masih adakah setelah itu kedengkian. Kebencian. Iri dan dengki. Atau bahkan permusuhan?

Sayangilah orang-orang yang ada di bumi, niscaya engkau akan disayangi oleh mereka yang di langit”… dan malaikat pun akan menyayangi kita.

Barang siapa yang tidak menyayangi takkan pernah disayangi”. Bila kita tak pernah mengasihi dan menyayangi orang lain bagaimana mungkin kita berani ‘mengemis’ cinta-Nya. Sungguh, sangat malu.

Sebelum kita menyayangi dan mengasihi serta mencintai orang lain, kita cintai diri kita sendiri. Mencintai diri sendiri dengan menanamkan kecintaan terhadap cinta. Menanamkan cinta berarti mencabut dengki dan permusuhan. Menyemaikan kasih sayang berarti membuang iri dan buruk sangka. Menyuburkan cinta dan kasih sayang berarti memupuk kebaikan terhadap diri kita untuk mempergunakan waktu yang disediakan Allah dengan mengoptimalkan potensi dan kesempatan. Mentadabburi ayat-ayat-Nya, menyentuhkan kening kita dengan sepenuh cinta, menguraikan air mata cinta pada-Nya, menolong sesama dengan cinta-Nya, bahkan mengeluhkan segalanya kepada Dzat yang selalu memiliki cinta. Dzat yang sayang-Nya takkan berbilang. Dzat yang kasih-Nya tiada pernah pilih kasih. Lautan cinta-Nya tanpa batas dan tak bertepi.

Adakah alasan setelah ini untuk berputus asa?

Hanya mereka yang benar-benar telah kehilangan rasa cinta terhadap dirinya yang berputus asa.

Semua yang ada di langit di bumi selalu minta kepada-Nya.Setiap waktu Dia dalam kesibukan”.(QS.55:29)

Allah selalu sibuk. Setiap detik dan setiap waktu berbagai permohonan diajukan kepada-Nya. Mereka yang memohon ampunan dan cinta-Nya. Mereka yang memohon rizki yang halal dan berkah. Mereka yang memohon anak yang shalih. Mereka yang memohon kelulusan dalam ujian. Mereka yang memohon pekerjaan. Mereka yang mohon dimudahkan jodohnya. Mereka yang memohon kesembuhan dari penyakit. Mereka yang mohon keselamatan dalam perjalanannya. Mereka yang memohon diselamatkan dari mara bahaya. Mereka yang memohon perlindungan dari godaan nafsu dan syeitan. Mereka yang memohon perlindungan dari kejahatan perampok dan tipu daya pencuri.

Dan Allah Maha Mendengar. Selalu mendengar rintihan fakir miskin dan anak yatim. Mendengar keluhan orang-orang tertindas yang dizhalimi. Mendengar kepanikan mereka yang dikejar-kejar kezhaliman. Mendengar keluh kesah orang-orang lemah.

Disamping itu dia tetap menghidupkan dan mematikan, memberi rizki dan menahannya.

Namun, bosankah Allah mendengar itu semua? Pernahkah Dia kuwalahan menerima semuanya? Pernahkah Dia kehilangan stok cinta? Apakah kita belum yakin akan janji-Nya,”… Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”. (QS. 2:186)

Dan karunia berharga berupa bulan Ramadhan ini telah  benar-benar ada di hadapan kita. Bahkan telah bersama kita sepertiga waktunya. Benarkah kita menjadi orang-orang yang dirahmati. Benarkah kita merasakan adanya rahmah Allah dalam diri kita. Bersama, kita renungkan dan bayangkan. Seandainya saat ini Allah menunjukkan kepada kita daftar orang-orang yang bernar-benar dikasihi dan dicintai-Nya selama sepuluh hari pertama di bulan ini, bisakah kita menjawab pertanyaan berikut: Apakah kita termasuk di dalam daftar tersebut. Berada pada urutan berapakah?

Bila kita tak mampu menjawabnya. Takut… sungguh sangat takut kita menjawabnya. Karena keterbatasan kita. Karena kelengahan kita. Maka beristighfarlah. Segera bangun dari kelalaian. Allah telah membuka persimpangan cinta-Nya dengan karunia baru.

“… dan tengahnya adalah maghfirah” demikian Rasulullah Saw. menyambung keterangan beliau tentang karakteristik bulan ini. Ada sepuluh hari berikutnya. Maka segera kita gunakan untuk memperbaiki hari kita yang telah lewat. Dengan sepenuh cinta. Karena tiada jaminan kita akan menyelesaikan sepuluh hari ke depan. Semuanya serba ghaib dan menjadi rahasia Allah.

“Ya Rahman karuniailah kami cinta-Mu. Karuniailah kami kecintaan kepada kebaikan-Mu, kekuatan melakukan kebaikan, serta kemampuan menebarkan kebaikan di sekeliling kami. Ya Ghafur, ampunilah segala kekhilafan kami dalam mempergunakan hari-hari-Mu. Memanfaatkan peluang cinta yang Kau beri. Ampunilah kami dan masukkanlah kami ke dalam golongan mereka yang disayangi dan dicintai serta diampuni dosanya dan dibebaskan dari api neraka-Mu”

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. 55:13)

SAIFUL BAHRI