Saat Jiwa-Jiwa Kembali Bernafas

SAAT JIWA-JIWA KEMBALI BERNAFAS

Saiful Bahri

 

kabahPagi ini terasa spesial. Lelaki berjenggot yang sehari-harinya berjualan sandwich kibdah dan sugu’ itu membacakan surat al-Fajr di rekaat kedua. Saat keluar masjid an-Nur al-Muhammady, saya seolah sudah lama tak mendengar surat tersebut. Sama dengan sebuah kegundahan yang beberapa waktu sempat singgah dalam hati. Ramadhan baru saja berlalu. Baru dua bulan saja. Tapi kadang terasa sangat menjauh dan seolah ada jarak. Dan yang merasakan itu bukan saya seorang. Beberapa kali saya menanyakan dan sekedar berbagi perasaan dengan teman-teman saya. Mereka juga sempat merasakannya demikian.

Bersyukur, Allah kembali memberikan sebuah momentum kebangkitan…

Wahai jiwa yang tenang kembalilah kepada Tuhanmu…. dalam keadaan ridho dan diridhoi…

Demikian bunyi akhir surat al-Fajar ini. Setelah di awalnya Allah menyentak dengan bersumpah ”Demi waktu fajar dan malam-malam yang sepuluh. Dan sebagian besar ahli tafsir menafsirkannya sebagai 10 hari pertama bulan Dzulhijjah.

Itulah sebuah kebaikan yang dimuliakan sebagaimana disitir Rasululullah dalam haditsnya yang diriwayatkan Imam al-Bukhari. Tak ada hari yang lebih baik untuk melakukan kebaikan dibanding hari-hari ini.

Kembali dibuka momentum perubahan. Kebangkitan. Menyadarkan diri dan lingkungan untuk senantiasa menjaga kontinyuitas berbuat baik dan bermanfaat buat sesama. Selain puasa, shalat dan tilawah. Bulan ini dikenal dengan bulan haji dan qurban.

Saat jiwa-jiwa seolah kehabisan nafas dan tercekat oleh kepenatan urusan kehidupan. Saat inilah kita bisa terbang bersama para jamaah haji. Mereka yang berbondong-bondong ke tanah haram. Menekuri ayat-ayat Allah. Menapaki jejak-jejak pengorbanan Nabi Ibrahim as. dan keluarganya sekaligus, melihat dari dekat peninggalan dakwah Rasulullah Saw.

Ibadah haji bukanlah sekedar ritual mengelilingi ka’bah, berpakaian serba putih tak berjahit atau berlari-lari kecil antara shafa dan marwa. Juga bukan sekedar berjejalan di sekitar jamarât untuk melempar tugu “permusuhan” aqabah, ‘ûlâ dan wusthâ, dengan beberapa batu atau berdiam diri seharian di padang arafah. Lebih dari itu Ibadah haji adalah simbol kepasrahan total seorang hamba kepada Rabbnya. Di samping itu sebagai tanda kepedulian sosial yang tinggi dan kemapanan balance seseorang yang matang darajat imannya.

Bukankah syarat kemampuan ibadah ini meliputi berbagai aspek. Kekuatan fisik, kemapanan finansial, keamanan proses dan perjalanan.

Kekuatan fisik tak terelakkan, mengingat ritual ini maraton dan perlu stamina bagus. Apalagi masalah keuangan. Hanya saja, kemampuan keuangan ini bukan sekedar mampu mengumpulkan uang untuk menempuh perjalanan dan bekal. Tapi mesti memikirkan keluarga yang ditinggalkan. Nuansa humanis ini bahkan semakin terlihat manakala haji menjadi tercela ketika ada tetangga yang kekurangan bahkan kelaparan.

Kemudian, harta yang dicari pun mesti dari sumber yang halal. Pakaian yang dikenakan, makanan yang dimakan. Semuanya dari yang halal. Serta cara dan proses yang dijalani, juga halal dan tak menzhalimi orang lain.

Ketika dengan tegas Allah menuturkan: “Barang siapa mengerjakan haji maka tak boleh berbuat keji, fasik dan berbantah-bantahan selama melakukannya.” (QS. Al Baqarah: 197)

Ini mengajarkan bahwa kemampuan fisik dan finansial mesti ditunjang akhlak dan kemampuan menjaga diri dari menzhalimi orang lain. Baik dengan perkataan maupun dengan perlakuan. Tak ada cacian, makian, perbuatan dan perkataan keji. Juga menghindari pertikaian dan berbantah-bantahan. Bukankah ini tujuan humanis haji. Menyimpul pada perhimpunan. Persatuan. Dan keutuhan tautan hati umat Islam.

Manasik ini mengingatkan kita pada hari kebangkitan. Hari yang saat itu tak dikenal lagi kasta dan jabatan serta keturunan atau kebanggaan dunia lainnya.

Ketika jamaah haji melakukan wukuf di padang Arafah. Semua orang dari  berbagai jenis dan warna, mengenakan pakaian yang sama. Semua melafazhkan kalimat dan lantunan doa yang sama. Di tujukan pada Tuhan yang sama. Dzat yang selalu berada dalam kesibukan. Dzat yang memberi rizki, menghidupkan dan mematikan serta menjaga alam. Dzat yang meninggikan dan merendahkan. Dzat yang tak pernah bosan mendengar keluh kesah para hamba-Nya.

Dalam surat al-Hajj Allah membuka dengan perintah takwa dan mengingat hari kiamat serta kebangkitan. Setelah berlalu 25 ayat barulah Allah menurunkan perintah haji kepada kita. Hal ini supaya kita mampu menjiwainya. Agar selain kita mendekat dan bermunajat pada-Nya, kita juga berbuat baik dan menebar kemanfaatan bagi sesama.Allah memberi prolog agar setiap jamaah haji menyadari penuh tujuan besar haji.

Secara vertikal haji menjadi kombinasi kebaikan individu setelah bersaksi pada keesaan Allah dan kerasulan Muhammad saw. Kemudian setiap hari ia menyentuhkan keningnya dalam sujud tawadhu’ dan kepasrahan. Setelah minimal selama sebulan pertahunnya ia merasakan lapar dan dahaga seharian penuh. Ia juga menjadi kombinasi kebaikan sosial setelah seseorang ringan mengeluarkan hartanya yang menjadi hak bagi orang-orang yang membutuhkan.

Kombinasi keduanya terkumpul dalam ibadah haji. Dan tak semua orang mampu serta diberi kesempatan meraihnya. Beruntunglah orang yang diberi karunia ini. Sekaligus menjadi ujian, apakah ia mampu menyukurinya. Karena berapa banyak dari mereka yang telah menempuh jarak ribuan mill serta mengeluarkan harta ribuan dinar. Tapi ia hanya mendapatkan kehampaan karena kesalahan niat dan orientasi. Meski ia boleh berbangga dengan gelar haji di depan namanya. Namun, orientasi sesungguhnya adalah sebagaimana sabda nabi yang sangat persuasif “Tiada balasan (yang laik) bagi haji yang mabrur selain (hanya) surga.”(HR. Bukhari, Muslim, Turmudzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Malik dan Ahmad; dari Abi Hurairah ra.)

Bahwa haji mabrur adalah kelahiran kembali seorang muslim dari rahim kesucian. Ia bagai seorang bayi yang keluar dari rahim ibunya. Memulai kehidupan baru.

Haji merupakan titik tolak perubahan seseorang menjadi semakin dekat dengan Allah dengan kepasrahan total dan semakin mempersiapkan pertemuannya dengan Allah. Sebagaimana Allah memerintahkan bertakwa dan mengingat dahsyatnya hari kiamat. Haji juga menjadi titik tolak perubahan seseorang menjadi semakin baik dan bermanfaat buat sesamanya. Ia bukan sekedar tidak menzhalimi orang, namun ia menjadi figur bermanfaat dan menebar kemanfaatan.

Ketika ia melontar jumrah. Ia bukan sekedar mengumandangkan permusuhan abadi dengan setan. Saat itu ia mengatakan bahwa ia akan berubah menjadi lebih baik. Janji itu adalah janji dengan komitmen dirinya. Jika tidak, maka setan akan menertawakannya. Ia takkan sanggup berubah. Ia akan tetap menjadi benalu bagi orang. Juga menjadi orang yang selalu menzhalimi orang lain. Jika demikian maka sia-sialah amalannya. Na’udzubillah.

Saatnya, masing-masing kita bertanya. Baik yang sudah melaksanakan haji ataupun yang belum. Mampukah kita gunakan momentum ini untuk berubah?

 

Serambi cinta, kampung sepuluh

Senin pagi jelang siang, Cairo, 01.12.2008

Iklan