MELEPAS TAMU ALLAH

kabah

MELEPAS TAMU ALLAH

 

 

Jam di tangan menunjukkan pukul 09.15 malam. Salah seorang adik kelasku berpamitan, mohon doa restu hendak berangkat ke tanah suci. Aku baru ingat kalau malam ini adalah pemberangkatan terakhir rombongan haji mahasiswa Indonesia di Mesir.

Aku segera turun dari bus 65 yang membawaku dari depan kampus putri, sepulang dari rumah temanku, berdiskusi dan membicarakan beberapa hal di sana. Pelataran yang demikian luasnya itu terlihat menyempit. Meski tidak cukup penerangan tapi semua orang bisa melihat banyak orang di tempat itu. Memang tak sepadat saing hari tadi. Karena setiap Jumat selalu menjadi tempat jualan mobil bekas.

Di pasar mobil itulah sekitar puluhan orang sedang menanti keberangkatannya menjemput panggilan Allah ke tanah haram. Diiringi beberapa teman dekat dan keluarga. Sebagian hendak menitip doa, sebagian lagi membantu membawakan barang bawaan, sebagian lagi sekedar menyapa memberikan doa keselamatan dalam perjalanan.

Di penghujung tahun hijriyah ini, menjelang penghujung tahun masehi, para jamaah haji mengejar maghfirah Allah. Bergabung bersama 210 ribu jamaah haji Indonesia dan kafilah lain dari berbagai belahan bumi.

Mereka akan memaknai arti pengorbanan yang dicontohkan abul anbiya` Ibrahim as. Memerankan kepasrahan ibunda Hajar ketika ditinggal suaminya di tanah kering tak berpenghuni. Menelusuri jejak ketaatan dan ketundukan Ismail muda. Serta berikrar melawan para syetan dengan simbol jamarat. Berputar di depan ka’bah, berwukuf di padang arafah, menyatu dalam pakaian yang sama, dengan bahasa doa yang sama, mengesakan Tuhan yang sama, menyerukan kalimat-kalimat yang relatif sama. Kebersamaan yang melewati berbagai skat ras, suku, bahasa, dan lain sebagainya.

Itulah yang kurasakan saat melepas beberapa temanku yang sempat aku jumpai di depan tanah lapang pasar mobil semalam. Meskipun tak sedikit dari mereka yang harus ”berdarah-darah” untuk mendapatkan visa. Maklum, selain semakin tingginya biaya yang dikeluarkan quota pun makin dibatasi. Semakin jelas buruknya monopoli. Sulit rasanya membayangkan pengurusan haji seperti beberapa tahun lalu. Visa haji yang selalu ditulis ”gratis” itu ternyata hanya simbol basa-basi yang dimanfaatkan oleh salah satu travel saja. Ketika mereka mendapatkan monopoli itu. Maka harga pelayanan jasa ini tak terkendali. Setiap tahun naik dengan pesatnya. Wallahu a’lam. Meskipun demikian memang tak menyurutkan niat orang-orang yang memiliki azam dan tekad lebih kuat dari makhluk angker bernama birokrasi dan monopoli itu.

Sangat tipis memang membedakan antara dua hal. Membantu mereka sekaligus mencari rizki melalui jasa pelayanan pengurusan dan keberangkatan mereka. Hanya Allah yang tahu hakikat kebenaran yang kadang samar di depan hamba-hamba-Nya. Meski aura kezhaliman sudah sering dirasakan tapi seolah tak ada yang mampu menghentikannya.

Semoga Allah membuka jalan kembali bagi mereka yang zhalim untuk menyadari kelakuannya sebelum hukum Allah yang berlaku atas orang-orang zhalim.

Semoga orang-orang mazhlum yang hanya berharap rahmat-Nya, disampaikan pada muara cinta dan rahmat-Nya yang maha luas.

Semoga Allah mengaruniakan haji mabrur kepada mereka. Mengampuni dosa dan kekhilafan mereka. Menjadikan mereka orang-orang yang bermanfaat bagi sesamanya, merefleksikan ruh kemuliaan yang mereka dapatkan dalam jihad di tanah suci.

 

Serambi Cinta, Kampung Sepuluh, Jum’at jelang tengah malam

Cairo, 28.11.2008

SAIFUL BAHRI

LabbaikalLâhumma labbaik… labbaika lâ syarîka laka labbaik… innal hamda wann’mata laka wal mulk lâ syarîka lak…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s